07-GHOST belongs to Yuki Amemiya and Yukino Ichihara
WARNING!
SEMI-CANON (Cerita ini hanya sekedar imajinasi saya mengenai akhir dari manga 07-GHOST), OOC, TYPO, dan masih banyak kekurangan lainnya
Selamat membaca!
RETROUVAILLES
"Jadi, ini perpisahan?"
"Kenapa? Apa kau sudah merindukanku bocah?"
.
Teito Klein, berusia 15 tahun, anak laki-laki yang terlahir kembali ke dunia setelah mengembalikan sabit Verlolen ke Nirwana. Penerus tunggal Kerajaan Raggs yang hampir punah akibat perang berpuluh-puluh tahun yang lalu. Kini, bocah itu sudah menjalani hari-hari yang bahagia setelah bereinkarnasi. Kehidupannya di-reset total oleh Yang Maha Kuasa. Kehidupan yang ia jalani saat ini seolah merupakan kompensasi untuk semua luka, derita, dan air mata yang telah ia jalani tanpa mengeluh di kehidupan sebelumnya.
Ayahnya memang telah tiada, tetapi Sang Ibu setia mendampinginya, memberinya seluruh cinta yang tidak mampu diberikan di kehidupannya yang dulu. Kreuz, menemaninya siang-malam, seolah menebus semua waktu yang hilang di antara mereka. Ouka, naga kecil Mikage, dan semua pastor dari Gereja Distrik 7, semua adalah keluarga besar yang terus memberikan Teito cinta setiap hari.
Teito Klein tidak bisa merasa kurang ataupun tidak bahagia.
Namun, jauh di sudut hatinya, ia tetap merasa hampa.
Kehidupannya diberkahi dan dipenuhi oleh cinta dari semua orang. Dia tidak pernah mengemis cinta, tetapi ia tetap merasa ada yang kosong. Seperti sebuah gelas kosong yang terus-terusan di isi agar penuh, tetapi isi gelas itu tidak pernah penuh. Selalu kosong. Selalu seperti itu. Teito sampai bertanya-tanya sendiri, tumpah kemana isi dari gelas itu? Apa yang seharusnya menjadi pengisi hati Teito yang saat ini terasa sangat hampa? Dimana ia bisa menemukan isi yang pas untuk kekosongan hatinya?
"Membaca sendirian lagi?"
Pertanyaan itu menyentak Teito dari Kitab yang sedang dibacanya. Father-nya, duduk di depan Teito di perpustakaan megah di Gereja Distrik 7. Wajahnya teduh dan senyumnya lembut. Teito merasa sangat aman hanya dengan berdekatan dengan Uskup tersebut.
"Father, kau mengagetkanku," jawab Teito.
Kreuz hanya tertawa mendengar anaknya berkata seperti itu. Ia mengusap lembut rambut hitam milik Teito. "Kau yang terlalu serius membaca. Ini sudah hampir jam makan malam. Jangan membuat Nyonya menunggumu," katanya.
Teito baru sadar bahwa hari telah berganti ke malam setelah ia melihat ke arah jendela besar di dalam perpustakaan. "Ah," katanya tanpa sadar. Kreuz sudah bangkit dari kursinya. Jubah putih Uskupnya berkibar lembut. Teito ikut bangkit dari kursinya dan menutup kitab yang dibacanya. Dia meletakkan kembali kitab itu ke rak yang seharusnya, lalu bergegas keluar bersama dengan Kreuz ke luar perpustakaan.
Udara malam sudah semakin dingin sampai menembus ke sumsum tulang. Teito sedikit menggigil, tetapi raut wajahnya tidak menampilkan bahwa ia kedinginan. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ruang makan.
Kreuz menanyakan hal-hal remeh pada Teito mengenai kesehariannya dan pelajaran yang sedang ia terima. Teito menceritakan semuanya dengan semangat. Sejak Teito lahir, ia tidak pernah mengenal Ayahnya, jadi Kreuz seperti Ayah baginya, dan memang seperti itu.
Angin kembali berhembus, membuat jubah megah putih Uskup berkibar mengikuti ritme angin, seperti dansa. Di saat itulah, hati Teito seperti dicubit. Sebuah perasaan nostalgia yang asing tetapi sangat familiar menyusup ke dalam hatinya. Jubah yang berkibar, rambut pirang nyetrik yang berantakan, senyuman jahil dan kadang meremehkan, serta sebatang rokok yang selalu terselip di belah bibir... semuanya terasa sangat nyata, sekaligus abstrak. Perasaan itu membuat seluruh tubuh Teito terasa hangat sekaligus merinding.
Perasaan apa itu? Teito sama sekali tidak tahu. Yang ia tahu hanyalah perasaan rindu. Iya, Teito Klein merindu, tetapi pada siapa? Perasaan rindu kepada seseorang yang tidak pernah dikenalnya. Silahkan tertawa, tetapi itulah yang saat ini Teito rasakan.
.
Entah sudah sejak berapa lama Teito Klein punya kebiasaan sebelum tidur. Rosario hitam yang selalu dikalungkan itu akan digenggamnya erat selama ia tertidur. Dia bahkan sudah tidak tahu lagi darimana rosario hitam itu didapatkannya. Apakah diberikan oleh Uskup di Gereja, atau pemberian Ibunya? Yang jelas, rosario itu sangat berharga bagi Teito.
Malam hari ini juga seperti itu. Ia tidur sambil menggenggam erat rosario itu, seolah takut menghilang secara mendadak. Namun, rasanya malam hari ini perasaannya begitu membuncah. Hatinya sangat penuh dengan kerinduan, yang lucunya, ia tidak tahu harus ditujukan kepada siapa. Di dalam heningnya malam, gelapnya kamar Teito, tanpa sadar airmatanya mengalir keluar.
"Aku menangis," gumamnya sambil menghapus airmatanya yang ternyata mengalir semakin banyak. "Kenapa aku menangis? Perasaan apa ini?" tanyanya dalam bisikan untuk dirinya sendiri.
Rasanya Teito telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Begitu berharga, sampai kehidupan Teito Klein tidak bisa menukarnya. Dan entah mengapa, Teito merasa tidak berdaya dan sedih jika berpikir bahwa ia tidak bisa menggapai hal berharga itu lagi.
.
"Aku sudah menunggumu, Teito Klein."
Seorang perempuan yang manis dan cantik sedang berdiri di sebuah padang bunga yang sedang bermekaran dengan indah.
Ini dunia mimpi, pikir Teito.
"Kau siapa?" tanya Teito sambil melangkah menuju perempuan itu. Perempuan itu tersenyum dengan sangat manis dan sangat lembut. Dia menaruh tangannya di atas dadanya sendiri, seolah ingin mengenalkan diri.
"Aku adalah cinta yang bersemayam pada manusia," katanya.
Cinta.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Teito lagi.
"Aku di sini karena cinta. Kau juga seperti itu kan?"
Teito menatapnya bingung. "Maaf, aku tidak begitu paham apa yang kau katakan."
Dia tersenyum lembut. "Tidak masalah. Kau akan segera mengetahuinya," katanya. Perempuan itu menunjuk rosario hitam yang ada di genggaman Teito. "Itu benda yang sangat berharga ya," katanya.
Teito ikut melihat rosario yang masih di dalam genggamannya. Ternyata, ketika ia bermimpi pun, rosario itu hadir bersamanya. Tatapan Teito berubah menjadi lembut dan penuh dengan kerinduan. "Iya. Aku lupa siapa yang memberikannya, tetapi rosario ini selalu menjadi tempatku kembali ketika hatiku sedang merindu."
"Cinta itu memang luar biasa ya. Bahkan, Ayah saja tidak kuasa menghalangi perasaanmu padanya ya."
Teito menatapnya. Dia merasa ada sengatan listrik di sepanjang tulang belakangnya. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak ingin apa yang pernah terjadi padaku, terjadi padamu. Kurasa, kalian berhak berbahagia bersama."
Jantung Teito rasanya diperas untuk mengedarkan darah dengan lebih cepat. Percakapan ini antara ada dan tiada, berada di alam mimpi. Namun, perasaan Teito sangat nyata, seperti sinar matahari.
Perempuan itu mengulurkan tangannya dan menyentuh wajah Teito. Ia masih tersenyum lembut. "Hadiah dariku, untuk kalian berdua. Semoga kalian berbahagia."
.
Frau.
Nama itu muncul begitu saja di dalam ingatan Teito. Dia sudah lupa mimpinya. Yang jelas, nama itu sekarang memenuhi pikirannya. Saat ini, Teito Klein seperti dibanjur oleh air es yang sangat dingin. Sel-sel otaknya kembali bekerja dan melupakan apa yang sempat hilang.
Teito bangkit dari tempat tidurnya. Langit masih gelap dan bintang masih berkelap-kelip. Bulan terlihat sangat cantik dan sangat besar dari kamarnya. Namun, ia tidak peduli itu semua. Jubah tidur dipakainya untuk menghalau angin dingin yang menusuk tulang. Sandal rumah dipakainya dan rosario hitam digenggamnya erat. Mungkin lebih tepatnya, ia mendekap rosario itu dekat dengan jantungnya.
Ia tidak keluar dari pintu kamar, melainkan dari jendela kamarnya yang langsung menghadap ke arah taman Gereja dan langsung tembus ke dalam hutan. Seperti di kehidupan dahulunya, Teito meloncat begitu saja dengan lincah dan dengan langkah cepat ia berlari jauh ke dalam hutan. Kakinya melangkah begitu saja, seolah apa yang sedang ia nantikan berada di ujung hutan.
Semakin Teito masuk ke dalam hutan, semakin rapat jarak antar pohon dan semakin sering ia tersandung. Bagian bawah jubah tidurnya telah basah dan kotor oleh embun dan tanah. Sandal rumahnya sudah dingin dan kakinya terasa dingin dan basah. Teito masih tetap memasuki hutan itu, seperti anak hilang.
Frau.
Kenapa ia bisa melupakan orang yang penting seperti itu? Frau sudah seperti belahan hidupnya. Pertemuan dengan Frau adalah sebuah takdir penting dalam hidup Teito yang membawanya menuju petualangan fantastis untuk menyingkap takdir kehidupannya. Pertemuan dengan Frau adalah harta yang tidak bisa digantikan dengan beragam kehidupan nyaman dan mewah.
Air mata Teito menetes lagi. Kali ini, bukan karena perasaan yang membingungkan. Justru, ia menangis karena akhirnya ia paham. Inilah yang ia cari selama ini. Inilah isi dari gelas yang selalu kosong itu. Frau adalah pemilik dari kekosongan di dalam sudut hati Teito. Jadi, meskipun Teito bereinkarnasi dan kehidupannya di-reset total oleh Yang Maha Kuasa, rupanya, hatinya tetap menyimpan sebuah ruang kosong khusus, yang hanya bisa ditempati oleh Frau. Tidak bisa yang lain. Inilah sebabnya kenapa ia merasa merindu. Ia merindukan Frau. Semuanya telah terjawab.
Akhirnya, di tengah hutan, Teito menyerah. Kakinya pegal dan dingin, serta ada beberapa lecet akibat tersandung akar atau tergores duri. Dia mendongak menatap langit yang bertabur dengan bintang. Pohon-pohon tinggi menjulang, berusaha mengintimidasinya. Namun, ia sama sekali tidak peduli.
"Frau..." bisiknya serak. Suaranya langsung ditelah oleh semilir angin.
"Frau!" serunya lagi, sedikit lebih keras. Daun pun bergeming. Suara jangrik sesekali terdengar dari kejauhan.
"FRAU!" teriaknya. Suaranya bergema di sekeliling hutan. Angin berhembus lembut, lalu meghilang. Tidak terjadi apa-apa. Air mata Teito terus saja mengalir dengan deras. Dia tidak bisa mendeskripsikan apa yang saat ini dirasakannya. Ia senang, sedih, kesal, dan merasa putus asa. Dimana Frau? Dia merindukan Uskup barbar itu dan semua yang ada di dalam dirinya.
"FRAU BODOH! KAU DIMANA?" teriaknya lagi. Rosario digenggam erat. Lalu, mendadak angin berhembus kencang, sangat kencang sampai mengangkat beberapa daun kering yang sudah gugur berputar-putar dan terbang. Teito sampai menutup mata agar matanya tidak kemasukan tanah.
Bau rokok...
Bau itu begitu kental masuk ke dalam indra penghidu milik Teito. Ia sudah hapal bau rokok itu. Aroma rokok itu menemani perjalanannya yang panjang, sama seperti si perokok.
"Dasar. Kalau kau memang ingin aku muncul, panggil namaku dengan lebih seksi lagi dong, dasar bocah!"
Seluruh tubuh Teito bereaksi tanpa perlu disuruh. Ia berbalik badan dan langsung melompat ke arah Frau dan mendekapnya erat-erat. Secara refleks, Frau langsung melingkarkan kedua tangannya untuk membalas pelukan Teito.
Ah, sudah lama sekali ia tidak berkontak fisik dengan manusia yang hangat. Setelah mereka pulang dari Nirwana, Frau menjadi Dewa Kematian dan kerjaannya hanya berkisar orang mati saja atau mengurus Kor-Kor yang berisik bukan main. Kadang, mereka malah mengejek Frau yang bekerja lelet. Dia selalu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan Teito Klein dari dekat. Dia selalu ada di samping Teito, meskipun pemuda itu tidak pernah merasakan kehadirannya. Ya, itu merupakan harga yang harus dia bayar.
Dia pikir dengan melihat Teito Klein tumbuh besar saja tidak jadi masalah. Frau sudah menyiapkan hatinya, karena bocah itu pasti tidak akan ada ingatan apapun tentangnya, begitu pula semua umat manusia di bumi ini. Tidak masalah, selama Teito Klein hidup dengan bahagia dan baik-baik saja. Sudah cukup ia menderita selama ini, ia berhak untuk bahagia.
Namun, rupanya ia masih tetap merindukan bocah itu. Dia rindu bercakap-cakap dengan Teito Klein. Dia rindu petualangan mereka berdua. Dia rindu tatapan Teito Klein yang begitu berbinar dan polos setiap menatapnya. Dia rindu juga tatapan panik dan khawatir Teito Klein ketika ia tidak berdaya. Dia sangat merindukan Teito Klein. Itu tidak bisa dipungkirinya.
"Frau... Frau... Frau..." gumam Teito di dalam pelukan hangat Frau. Ia mengucapkan nama itu tanpa henti, seolah kalau berhenti, maka ia akan lupa lagi dan hatinya kembali kosong. Tidak! Ia tidak mau hal itu terjadi. Dia tidak mau lagi melupakan Frau. Ternyata, melupakan seseorang itu sangat menakutkan.
"Bocah, kau sudah bertambah besar sekarang ya," kata Frau sambil mengusap-usap punggung Teito dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Frau, aku merindukanmu. Sangat!" katanya mantap.
Frau tersenyum. Perasaan mereka sama. "Aku juga merindukanmu, Bocah."
.
SELESAI
