Because You're Not Mine

.

Pairing: Severus Snape × Lily Evans

Timeline: Tahun ketujuh Harry Potter, tahun kelima Severus Snape

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Drama, Sad, Mistery

Disclaimer: Kalo Harry Potter punya aku, pasti aku bakal buat Hermione jadian sama Harry atau Draco. Tapi sayangnya, Harry Potter hanya milik J.K Rowling

.

.

WARNING!

Alur maju-mundur, gaje, garing, OOC, typo, timeline berantakan

.

.

Summary:

Hermione yang baru kali ini mendapat kesempatan untuk memperhatikan cincin warisan Lily Potter, menyadari ada sesuatu yang janggal dan terasa salah. Sampai akhirnya dia dan Harry menggunakan Pensieve agar mengetahui apa yang terjadi...

.

.

.

Happy Reading! ^_^

.

.

"Mione, kau mau mengantarku ke Gringotts?" tanya Harry sambil merapikan kerah bajunya.

Hermione mengernyit. "Boleh. Untuk apa?"

"Mengambil sesuatu yang berharga, of course,"

~oOo~

Harry dan Hermione segera berapparate meninggalkan Hogwarts menuju Gringotts. Kebetulan ini adalah akhir pekan sehingga para murid bebas untuk keluar.

Setelah perang, para murid mengulang kembali tahun pelajaran mereka karena banyak yang harus di renovasi dari Hogwarts. Profesor McGonagall, profesor kesayangan Hermione, diangkat menjadi Kepala Sekolah. Dan berita yang tak kalah menggembirakan, Status darah resmi dihapus! Jadi tak ada lagi yang membeda-bedakan antara Pureblood, Halfblood, ataupun Mudblood. Semua disamaratakan!

"Atas nama keluarga Potter?" tanya seorang Goblin yang memakai kacamata di hidung begitu melihat Harry.

"Yes, sir," jawab Harry.

"Follow me, please," ucap Goblin itu sambil memasuki lorong-lorong di Gringotts. Mereka berbelok, lurus, ataupun terkadang membuka dinding-dinding yang tersembunyi.

Patut diketahui, Hermione yang memiliki memori seperti komputer mencoba menghapalkan jalur-jalur yang mereka lewati. Jadi kalau Harry ingin mengambil sesuatu di Gringotts, tinggal menerobos dan mengikuti Hermione. Tanpa perlu diantar seorang Goblin yang menatap mereka sinis, masih kesal akan pencurian piala Helga Hufflepuff yang lalu.

"Here, sir,"

"Oh, okay," Harry menyahut kaget. Dia tidak sadar mereka sudah sampai. "Bisakah kau menunggu disini? Barang yang ingin kuambil sangat berharga dan rahasia keluargaku,"

"Anda punya waktu tiga puluh menit, sir,"

Tanpa basa-basi mereka segera masuk. Harry segera mencari sesuatu diantara tumpukan peti. Sementara Hermione hanya mengamati dengan kagum ruangan yang dipijaknya. Dia tak menyangka keluarga Potter sekaya ini.

"Ketemu. Ayo, Hermione!" Harry berjalan menuju pintu dengan menenteng sebuah peti segenggaman tangan.

"Hei, sebentar," Hermione menghentikan Harry yang ingin keluar.

"Sebenarnya apa yang kau ambil?" tanya Hermione agak jengkel karena Harry sedari tadi hanya memutuskan semuanya sepihak.

"Sesuatu. We will look at Hogwarts,"

~Because You're Not Mine~

Pemuda itu menghela napas memandangi sebuah peti segenggaman tangan di tangan kanannya. Lalu dengan cepat, pemuda itu berapparate menuju sekolahnya, Hogwarts. Tepatnya kamar di asramanya.

Pemuda itu mengeluarkan sebuah perkamen dan mulai menulis.

'Aku sangat berharap bertemu denganmu

Untuk menebus masa lalu kelamku—'

Namun pemuda itu malah meremas-remas perkamennya gelisah.

"Salah, salah. Terlalu puitis," Dia mengacak rambut hitamnya dan membuang perkamen itu.

Lalu pemuda itu mengulanginya lagi. Berulangkali. Sampai ketika dia menggulung salahsatu perkamen itu dengan pita emas.

Dibayangannya terproyeksi gambaran seorang gadis berambut merah dengan pandangan tajam ke arahnya.

~Because You're Not Mine~

"Cincin?" tanya Hermione kaku. Siapa yang menyangka kalau sesuatu yang sangat berharga dan rahasia bagi Harry Potter adalah sebuah cincin?

"Lihat baik-baik. Ada sesuatu yang menarik disana,"

Hermione mengamati cincin. Membolak-baliknya, meraba-raba, memicingkan mata, dan menggelindingkannya, sudah Hermione lakukan. Tapi tetap tak ada apapun!

Sebenarnya cincin itu sangat indah. Dengan ukiran cantik bertuliskan 'Lily Potter', sudah bisa dipastikan itu punya ibu Harry. Ditambah dengan detil ukiran cantik berwarna di bagian cincin yang kosong.

"Perhatikan detail di sekitar ukiran 'Lily Potter'," ungkap Harry tak menyerah.

"Mmm," Hermione memerhatikan secara seksama. "Nothing. Tak ada yang aneh,"

Harry menghela napas pasrah. "Oke... Tidakkah kau perhatikan kalau tulisan 'Potter' disana sangat berbeda ukirannya dengan ukiran 'Lily'?"

~Because You're Not Mine~

'Lily, aku ingin bertemu. Bisakah kau datang ke Danau Hitam pukul delapan malam? Ada hal penting yang harus kubicarakan. Dan percayalah, ini sangat penting.

Severus'.

. . . .

Lily mendengus membaca surat itu.

"Kenapa, Lils?" tanya Alice Carrol. Dia mengintip kertas yang dipegang Lily. "Severus kah? Ada apa dengan kalian?"

Lily kembali mendengus. Terkadang mengesali penyakit amnesia yang sering menyerang Alice tiba-tiba.

"O-oh. Pasti karena insiden kemarin kan?" tembak Alice.

Insiden yang terjadi kemarin adalah, untuk pertama kalinya, Severus Snape menyebut Lily dengan sebutan 'Mudblood'. Sebutan yang menghancurkan hati Lily dan akhirnya memutuskan tali pertemanan antara dirinya dan Severus.

Lily mengangguk resah. "Menurutmu, apa yang harus aku lakukan jika kau jadi aku, Lice?"

"Kalau aku jadi kau, aku akan menemuinya," tegas Alice mantap.

"Kalau aku jadi diriku dan aku tak mau?"

Alice tertawa. "Kau memang dirimu, Lils. Dengarkan aku, aku tahu Severus orang yang seperti apa. Dia melakukan sesuatu pasti ada maksudnya. Termasuk hal ini. Lagipula kau tak mau kehilangan Severus hanya karena hal ini kan? Dia sahabat pertamamu, sahabat masa kecilmu, kau pernah menceritakannya padaku kau ingat?"

Lily tersenyum kecut. Apa menyebut seseorang dengan 'mudblood' juga mempunyai alasan dan maksud yang baik?

Lily meragukan itu.

~Because You're Not Mine~

"Apa?" Hermione terperangah. Matanya dengan cepat meneliti tempat yang dimaksud Harry.

Dan benar, ada perbedaan diantara kedua ukiran itu. Ukiran 'Lily' dibuat dengan detil yang cantik. Spasi diantara perkatanya diisi dengan aksen huruf itu sendiri, sehingga tidak menyisakan ruang. Sementara dibagian 'Potter' diukir dengan ukiran yang rapat dan simpel tanpa aksen walaupun sama indahnya.

"Yeah. So different,"

"Menurutmu, apa yang terjadi pada dua ukiran berbeda itu, Mione?"

Hermione memandangi cincin di tangannya agak lama. "Err... orang yang mengukir berbeda?"

"Bingo! Aku sudah meneliti ini bertahun-tahun. Apa kau mau tahu alasannya?" tanya Harry lagi.

"Yeah. Kenapa tidak?"

Harry mengeluarkan sebuah botol dan berjalan pergi ke suatu tempat diikuti Hermione.

~oOo~

"Kumohon, profesor," pinta Hermione pada Profesor McGonagall.

"Oh, Miss Granger, kau tahu aku tak bisa bilang tidak padamu..."

Harry menyeringai. Sementara Hermione menahan diri mati-matian untuk tidak melayangkan jitakan ke Harry.

"...jadi kau tahu keputusanku. Silahkan pakai pensieve sesukamu. Namun, ingat, gunakan dengan positive,"

"Baik, Profesor," ucap Hermione.

"Aku pergi dulu. Gunakan ruangan ini dengan baik," McGonagall pun pergi.

Sementara Harry langsung mengeluarkan memori pensieve dari sakunya mengabaikan Hermione yang mencak-mencak karena harus terpaksa membohongi Profesor McGonagall.

Dia menuangkan tinta dari botol itu ke dalam pensieve.

"Ini saatnya kita tahu apa yang terjadi,"

~Because You're Not Mine~

Severus menunggu Lily dengan gelisah. Dia mengedarkan mata hitamnya untuk mengamati sekitar.

"Apa maumu, Snape?" Ternyata Lily sudah berdiri di batu belakangnya dengan mantap.

Severus tersenyum kecut. 'Bahkan dia memanggilku Snape,'

Severus berbalik dan menatap mata hijau Lily langsung. Mata yang memancarkan berbagai emosi—marah, kesal, bahkan... benci.

Severus tahu dia bersalah karena tak dapat menahan emosinya saat itu. Dan kata-kata 'sialan' itu keluar dari mulutnya. Tapi itu karena dia... cemburu.

James Potter, orang yang paling dibenci dan sering diperangi Lily kini malah menjadi kekasihnya. Tentu saja Severus, marah dan cemburu sehingga kata-kata itu keluar tanpa bisa kontrolnya.

Dia bermaksud meminta maaf. "Lils, aku minta—"

"Kalau kau bermaksud minta maaf, Snape. Maaf, aku tak bisa. Itu terlalu menyakitkan," Mata hijau Lily masih menatap Severus dengan tatapan menyakiti.

Severus menghela napas. "Oke. Baik, baik. Jika kau tak mau memaafkanku tak apa. Tapi kumohon, terimalah ini. Setelah ini aku berjanji tak akan mengganggumu lagi,"

Lily menatap kotak yang disodorkan Severus dengan resah. Dia mengulurkan tangan perlahan untuk menerima kotak itu. Lily membukanya. Matanya terbelalak. "I-ini..."

Severus hampir melonjak senang ketika mengetahui cincin darinya berhasil menarik perhatian Lily.

"...indah, Sev," Dahi Lily mengerut ketika membaca sebuah ukiran yang sangat cantik. "Lily... Snape? Apa maksudnya, Sev?"

Cincin yang sangat indah. Namun sayangnya berukir dua kata yang membuat Lily nyaris tersedak. Ukiran 'Lily Snape' terlukis cantik dan elegan di cincin itu.

"Aku... sebenarnya sangat... sangat... sangat mencintaimu, Lils. Tapi aku tak mampu mengungkapkannya sampai ketika berita kau berpacaran tersebar. Dan aku... marah. Juga cemburu. Aku baru menyadari kau sangat penting dalam hidupku, Lils,"

Jantung Lily berdebar. Menunggu Severus mengungkapkan perasaan 'cinta'nya dan memintanya untuk jadi pacarnya. Lily akan dengan senang hati memutuskan James demi Severus.

"Namun aku tahu aku sudah terlambat. Sakit menyadarinya. Tapi, inilah yang terjadi. Aku tak bisa apa-apa," ucap Severus.

"Kenapa... kau berkata seperti itu?" tanya Lily bergetar. Mata hijaunya menggelap karena kekecewaan yang dalam.

Severus tersenyum pahit. "Karena aku merasa kau bukan milikku. Karena itu..." Severus menunjuk cincin yang saat ini dipegang Lily. "...cincin ini bisa kau modifikasi sesuai namamu di masa depan nanti. Namaku yang tertera disitu, mungkin hanya sementara saja, sampai kau bisa menemukan pengganti nama itu dan menggantinya. Dan aku pastikan, orang itu bukan aku," Suara Severus memelan.

"Sev," Suara Lily bergetar hebat. Diikuti oleh bahunya yang kemudian ikut bergetar dan setetes airmata yang jatuh. "Aku memaafkanmu. Tapi... tapi..."

Severus bergeming. Dia menatap tanah disana dengan kosong.

"...tapi kita tak bisa menjalani hidup seperti biasa, bersahabat seperti biasa, dan menjadi sepasang kekasih. Saat ini, semua itu mustahil, Sev," Lily menggigit bibirnya menahan tangis.

Severus tahu kata-kata ini yang akan keluar dari bibir merah muda Lily. Bahkan dia tahu kalau dia tak bisa bersama Lily bukan hanya saat ini, tapi selamanya.

Maka, Severus merengkuh Lily erat. Sementara Lily menahan tangis sekuat yang dia bisa.

"Thanks Lils, untuk semuanya,"

"Me, too,"

Dan mereka bertahan dalam posisi itu selama beberapa menit. Ditengah angin malam yang sejuk. Seolah menemani dan menabahkan hati bagi mereka yang menjalani 'perpisahan' tersebut.

~oOo~

Mereka keluar dari pensieve dengan wajah kusam. Pandangan mata mereka kosong. Bahkan bekas airmata juga masih terlihat di pipi Hermione.

"Harry," "Hermione," Mereka berucap bersamaan.

Tanpa perlu waktu lama, mereka segera berpelukan. Seperti apa yang tadi baru saja mereka lihat di pensieve.

Pensieve memory Lily yang masih disimpan oleh almarhumah ibunda Harry karena dia menganggapnya berharga.

"Aku menemukan memori itu dalam peti kecil ini. Bersama dengan surat, dan secarik kertas tulisan Mum," Suara Harry bergetar. "Aku baru melihat memori itu hari ini. Walaupun aku sudah menebaknya,"

Tangan Hermione mengulur lemah mengambil secarik kertas tulisan Lily Potter nee Evans. Dia menatap sekilas surat itu dan membelalak.

"Dan dua orang yang kau maksud itu mereka? Snape menulis bagian 'Lily', lalu Lily menghapus tulisan 'Snape' menjadi 'Potter'? Karena itukah dua ukiran ini berbeda?"

Harry mengangguk.

Hermione memejamkan matanya. Lalu kembali fokus pada kertas di tangannya.

. . . .

Hari itu, sebenarnya aku sangat ingin memaafkanmu. Dengan menghampirimu dan berkata tulus, 'Aku memaafkanmu, Sev. Sepenuh hatiku.' Namun aku tak bisa. Entah mengapa.

Seperti yang kau bilang. Kita memang tak ditakdirkan bersama.

Namun kau tak bilang, apakah takdir juga tak mengizinkan mencintai? Aku memang mencintaimu. Tapi sejujurnya, hanya Potter-lah yang menempati posisi istimewa di hatiku ini. Dan entah mengapa, aku bahagia.

Aku bahagia dengan semua yang telah terjadi di hidupku.

Cinta tak harus memiliki kan? Aku tak mengatakan padamu karena —aku tahu dan selalu tahu— kau bukan milikku.

Aku menyadari semua itu, Sev.

Lily Evans Potter

~TAMAT~

~Session Talkshow~

Harry: *bolak-balik kertas fanfic. Mia, ini akunya yang lola atau emang fanfic kamunya yang gak jelas?

Author: Mungkin dua-duanya :p. Huhuhu, maaf ya semua, aku bener-bener gak punya inspirasi bagus untuk pairing ini T^T

Draco: Emang sejak kapan Mia punya inspirasi bagus? XD

Mia: *melotot *nangis lagi. Draco jahat! X3

Draco: That's me! *senyum sok cool

All (-Draco): *muntah berjamaah

Author: Pengumuman yang chapter kemarin dulu ya... chapter kemarin yang ngobrol itu ada 3 orang. Dan yang terjadi sama Draco... *ngelirik Draco

Draco: Oke. Kemarin yang terjadi setelah Ron dan Hermione jadian adalah aku merelakan Hermione. Karena cinta tak harus memiliki kan? *eaaa :v

Author: Kok si Ginny, Hermione, sama Ron telat ya?

Harry: Macet kali!

Author: Orang apparate kok! Emang apparate bisa macet?! *kesel sendiri

Harry: *nyengir

Author: Eh, tapi btw, aku merasa istimewa loh! Diantara dua cowok gini... Kayak cinta segitiga! XD

Harry: Maaf Mia. Aku udah punya Ginny.

Draco: *ngacak rambut. Kamu bukan tipeku. So, maaf ya Mia! *muka sok

Author: Yaelah, belom juga nyatain perasaan udah ditolak. Nasibb... T-T

Ginny: Mia! Apa kabar? *tiba-tiba nongol

Author: Baikk. Baiikk... banget. Saking baiknya nungguin kamu sama Hermione aku jadi bulukan! :3

Ron: Hai Mia! Salam kenal!

Author: Eh, ada Ron? Salam kenal juga ya! :) Btw, dimana Hermione?

Ginny: Eh, tadi kayaknya buru-buru gitu dia... *nengok ke Ron

Ron: *mengernyitkan dahi. Tadi kayaknya dia bilang soal ketinggalan-ketinggalan dan dimarahin author.

Author: APA?! HERMIONE LUPA BAWA KERTAS REQUEST?! *murka. (All [-Author]: *ketakutan *ngambil kuda-kuda ngibrit) Ah, yasudahlah! Sambil nunggu Hermione, kita bacain balasan review aja ya!

Ginny: Dari aku ya. Hai, Ley Gatharowl! Makasih buat pujiannya untuk Mia. Tapi jangan keseringan muji ya, entar kepala dia lebih gede daripada badan lagi! XD *author pundung. Ron OOC? Kakakku kan emang labil, jadi yah, begitu XD. Wah, keponakan-keponakanku di masa depan ya? Sip! Kebetulan Mia juga suka sama pair ScoRose kayaknya. Iya kan, Mia? (Author: Yup! *ngangguk girang). Makasih untuk dukungannya buat Mia ya! ^_^

Hemione: Semua! I'M COMING! *nyengir

Author: Kamu telat Hermione! Baca review, langsung! :3

Hermione: Oke! Sayang sekali kamu belum beruntung, Lillyan flo! XD. Sip! Request akan langsung masuk ke daftar!

Harry: Wah, Ariana Rose Riddle —in chapter 2—, ternyata banyak yang kayak kamu! Suka sama chap 2 lalu! Mia harus traktir nih! *ngelirik Mia.

(Author: Tenang aja, aku udah siapin sesuatu untuk kalian yang pernah nongol di fic-ku. Terutama chapter 2.

All (-Mia): Bener, Mia?

Author: Bener dong! *smirk

Hermione: Aku curigation sama Mia. Mia kan ratu pelit dan anaknya gak berperikemanusiaan XD

Mia: *melotot *ngasah golok

Hermione: Tuh kan! X3 *kabur)

Mia bener-bener pingsan loh dipeluk sama kamu! Sampe dia bertanya-tanya apa kamu anak Molly sampe pelukannya bisa bikin orang is dead dengan mudah? XD (Author: Hush, umbar aib aja! -_-). Thanks, pujiannya buat si author-pemalas ini! Mungkin kamu ngerti karena kamu emang cinta sama ToMione? ToMione-lovers sejati? *eaa :v. Mia sukkkaa banget sama ToMione. Kayaknya tuh unik, katanya loh!

Draco: Ariana Rose Riddle in chapter 3, terimakasih karena walaupun gak kuat masih menyempatkan membaca. Sejujurnya, aku terharu! *pura-pura ngelap ujung mata padahal mah ada belek X3. Okay, Mia so excited denger a.k.a baca kata 'duet', jadi katanya BOLEH BANGET! :v. Omong-omong HarMione, sejujurnya Mia nunggu banget orang ada yang request ini. But, Nothing! Mia sampai sedih dan gak mau makan *padahal emang karena lagi puasa :v. Sip! *kedip mata

Ron: Ulilil Olala, wah, kamu suka aku sama Mione ya? *sumringah. Sayang banget di kehidupan nyata dia gak sama aku *lirik Draco. Mia emang agak susah pas bikin scene romance! :v. Thanks, ya!

Hermione: Ini request kalian...!

Request Pairing

1. Lucius × (?)

2. Blaise × Luna

3. Lucius × Narcissa

4. Scorpius × Rose

5. Harry × Ginny

6. Scorpius × Lily

Author: Oke. Kita pamit dulu!

All: See you in next chapter ya! Don't forget review! ^_^