~ Eternal ~

Pairing: Lucius Malfoy x Luna Lovegood

Genre: Romance, Fantasy, Sad, Drama

Timeline: Tahun ketujuh Luna Lovegood, Tahun ketujuh Lucius Malfoy

Disclaimer: J.K Rowling

.

WARNING!

Cerita amat panjang (disarankan membaca sambil tiduran atau melakukan sesuatu), gaje, alur membingungkan, OOC, typo, timeline berantakan, alur maju-mundur

.

Summary:

Luna Lovegood mengambil sebuah barang menarik dari Hermione tanpa menyadari bahwa itu Time Turner. Saat penyelidikan barang itu, dia tanpa sengaja menabrak Lucius Malfoy dan menyadari bahwa sang Malfoy meninggalkan sebuah buku. Dan Luna baru menyadari barang di kantong jubahnya adalah Time Turner. Dan Time Turner itu PECAH! Apa yang akan terjadi pada Luna?

.

.

HAPPY READING!

.

.

(===)

Luna bolak-balik di ruang rekreasi Gryffindor dengan wajah muram. Suasana hatinya sedang buruk.

"Semua ini gara-gara Wrackspurt, Nargles! —Oh, Dad pasti marah besar! —Lagipula kenapa aku tak bisa sih?! —Gara-gara mereka aku jadi lupa mencatat materi! —Kenapa aku belum menangkapnya?! —Hah! Aku harus menguatkan diri walaupun aku bukan Gryffindor! —Hei, Hermione! Apa yang kau bawa?" Perkataan Luna yang melompat dari satu hal ke hal lain terhenti saat Hermione masuk Ruang Rekreasi sambil membawa barang-barang aneh.

Luna memang lupa mencatat di pelajaran Profesor Binns dan dia menyalahkan Wrackspurt juga Nargles karena itu! Oh, ya ampun! Dan karena itulah dia disini —Ruang Rekreasi Gryffindor. Entah darimana dia tahu kata sandinya—, Luna berpikir Hermione pasti akan meminjamkannya catatan materi Sejarah Sihir tadi.

"Hai juga Luna!" Hermione menaruh semua barang di tangannya ke meja Ruang Rekreasi. "Barang-barang ini akan kuselidiki,"

"Bolehkah aku membantumu?" Luna bertanya penuh harap. Dia melupakan catatan Sejarah Sihir milik Hermione yang ingin dipinjamnya.

Hermione menatap Luna yang balas menatapnya dengan puppy-eyes-andalan-Luna-Lovegood. "Oh, baiklah, baiklah. Kau boleh ambil satu dan membawanya untuk diselidiki!"

Hermione menarik sebuah perkamen dan sebuah koin yang biasa digunakan untuk berkomunikasi para Laskar Dumbledore. Sementara Luna mengamati tumpukan barang didepannya. Ada buku, liontin, piala, batu permata, bahkan pedang, dan— SEBUAH KALUNG!

Kalung itu agak aneh. Dengan rantai kalung yang lebih panjang dari kalung biasa —yang mungkin kalau dipakai bisa mencapai perut—, dan liontinnya yang berbentuk seperti jam. Tapi yang namanya Luna Lovegood tentu saja tertarik pada barang yang anti-mainstream (baca: aneh). Segera saja kalung itu menjadi pilihannya.

"Hermione! Aku pilih ini!" seru Luna sambil mengacungkan kalung itu dan Hermione —yang tak mengalihkan pandangan dari perkamen yang ditulisnya— mengangguk acuh.

Luna pergi setelah memasukkan barang pilihannya tersebut ke saku jubah. Gadis itu melangkah keluar dari Ruang Rekreasi Gryffindor dengan riang. Bahkan melupakan catatan Sejarah Sihir itu.

Tujuan Luna selanjutnya adalah: Perpustakaan!

Luna dengan lihai melewati segerombolan anak-anak yang juga sedang berjalan menuju suatu tempat. Namun seperti pepatah: Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga! Begitupun Luna. Alhasil, dia menabrak seseorang saat sedang berjalan di dekat kantor Dumbledore.

Luna akan jatuh terbaring jika saja tak ada sebuah tangan yang menahan pinggangnya. Menghela napas, Luna memantapkan diri melihat orang yang ditabraknya.

Tampan. Kesan pertama yang ditangkap Luna. Ketampanan yang tak akan pudar walau dimakan usia.

"Miss Lovegood, anda bisa segera bangkit dan saya bisa melanjutkan perjalanan saya yang tertunda. Anda sungguh membuang-buang waktu saya yang berharga," Lucius Malfoy berkata dengan angkuhnya.

Luna segera tersadar dan mengutuk dalam hati menabrak orang tak berperikemanusiaan macam Lucius Malfoy. Gadis itu pun berdiri. "Maaf Mr. Malfoy. Saya benar-benar tak sengaja dan tak bermaksud apa-apa. Dan maaf juga karena membuang waktu anda yang sangat berharga,"

Lucius menatap tajam Luna karena menyadari sarkasmenya yang sangat kentara. Sementara Luna menatapnya dengan polos. Tanpa basi-basi Lucius langsung berbelok ke koridor yang menuju kantor Dumbledore.

Luna menghela napas lega karena tak berurusan panjang dengan orang seperti Lucius. Matanya menangkap sebuah buku yang tergeletak di pinggir tembok.

Dengan insting Ravenclaw-nya, Luna mengambil buku itu dan memasukkannya ke kantong jubahnya bersatu dengan barang pilihannya tadi.

Tanpa menyadari ada sesuatu yang salah.

~oOo~

Luna membaringkan diri di tempat tidurnya.

Penyelidikan hari ini tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Tapi setidaknya Luna tahu barang yang ada di kantong jubahnya saat ini.

Time Turner. Baru itu informasi yang dia dapatkan.

Luna merogoh kantongnya hendak mengambil Time Turner itu. Namun yang berhasil tertarik keluar adalah sebuah buku coklat kusam yang tadi ditemukannya.

Merenung sebentar. Luna akhirnya membuka halaman pertama buku itu.

M.A.L

Luna berpikir mungkin ini inisial pemilik buku yang ada di genggamannya. Jadi dia membalik halaman selanjutnya.

(===)

Hogwarts, 1977

Oh, entah apa yang merasukiku untuk membuat catatan harian seperti ini! Sepertinya kehadiran gadis itu didekatku sudah mempengaruhiku. Ini tidak bisa dibiarkan!

Oke, aku akan menceritakannya.

Sudah seminggu ini aku berteman dengan seorang gadis yang katakan saja, aneh. Dia terlalu riang, kurasa. Dan dia tak berhenti tersenyum juga menceritakan hal-hal aneh padaku. Dan sebagai Ketua Murid yang baik, aku meresponsnya dengan senyuman.

Walaupun sebenarnya ini agak aneh. Aku kan tak suka tersenyum pada sembarang orang. Bukannya aku mau bersikap angkuh atau sombong atau apa, aku hanya ingin mereka sadar bahwa level aku dan orang itu berbeda. Tapi jika kau mengatakan itu sombong, terserah. Seperti pada teman sesama ketua muridku.

Kembali ke gadis itu. Namun dia benar-benar menyenangkan! Aku merasa hidup saat berada disampingnya, sungguh! Bahkan aku juga merasakan hal-hal yang tak pernah kurasakan. Dan itu karenanya!

Aku merasa perlu menulis kenangan bersamanya karena kupikir dia akan pergi. Entah kenapa perasaanku berkata seperti itu. Dan anehnya, aku tak mau mengabaikan kata hatiku kali ini! Jadi karena itulah catatan ini dibuat.

Dan siapa nama gadis itu. Tak akan pernah kusebutkan disini.

Sincerely,

M.A.L

(===)

Luna mengerutkan kening membaca lembaran itu.

"Lucu sekali. Dia tak mau menyebutkan nama gadisnya. Bahkan dia tak menulis nama jelasnya! Dasar orang aneh!" Luna merenung lalu mengangkat bahu. Dia kembali membalik halaman selanjutnya.

(===)

Hogwarts, 1977

Aku baru menyadari kalau dia sangat cantik! Bahkan di Pesta Dansa ini banyak cowok yang meliriknya diam-diam. Dan entah kenapa aku ingin melontarkan salahsatu dari Kutukan Tak Termaafkan bahkan mungkin ketiganya ke cowok-cowok yang meliriknya itu. Jadi aku segera menyeretnya ke lantai dansa dan berdansa dengannya.

Dan kurasa jika aku mau, aku bisa menjalin hubungan dengannya. Apalagi saat aku bertanya, dia ternyata Darah-Murni! Jadi Mother dan Father mungkin tak akan melarang hubunganku dengannya.

Aku akan berbicara dengannya tentang ini.

Sincerely,

M.A.L

P.S: Aku berharap dia menjawab dengan positif

(===)

Hogwarts, 1977

Dia mengatakan hal yang berkebalikan dengan apa yang kuharapkan. Apa sih, yang kurang dariku? Er, bukannya aku mau menyombongkan diri. Tapi sebagai salahsatu dari tiga cassanova Hogwarts, tentunya aku memiliki kecerdasan, ketampanan, dan kharisma diatas rata-rata.

Jadi kenapa dia menolakku?

Namun sayangnya, aku tak bisa memaksanya. Dan yang membuatku aneh, kenapa aku merasa sangat tersakiti? Aku belum jatuh cinta padanya kan?

Semoga dia tak menghindar dariku!

Sincerely,

M.A.L

(===)

Luna menepuk dahinya. Hampir saja dia lupa kalau dia harus menyelidiki Time Turner disakunya. Ini gara-gara dia terlalu asyik membaca catatan harian itu.

Masih dengan sebelah tangannya memegang buku. Dia merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan Time Turner.

"Oh, tidak! Ini pasti karena terjatuh tadi," Luna menahan napas melihat Time Turner itu retak. Dia mencari tongkat sihirnya dan mengetukkannya ke benda itu. Hendak memantrainya agar kembali ke semula.

Sayangnya ketukan itu malah memperparah keadaan Time Turner dan membuat pemutarnya berulangkali terputar sendiri.

"Tidak!" Kali ini seruan itu disertai dengan tubuhnya yang menghilang bersama Time Turner juga buku itu.

~Eternal~

Bruk!

Seorang gadis berambut pirang terjatuh setelah ditabrak oleh seorang pemuda berambut platinum.

"Er, aku tak melihatmu," Pemuda berambut platinum itu mengulurkan tangan.

Luna mendongakkan kepala memandang pemuda itu dan tercengang. "Malfoy?!" Tangannya menyambut uluran pemuda itu dengan kaku.

Pemuda itu mengernyitkan dahi namun tangannya tetap membantu Luna untuk berdiri. "Kau tahu namaku? Namaku Lucius Malfoy. Ketua Murid Hogwarts tahun ini. Siapa namamu, Miss?"

Mendengar itu, Luna makin tercengang. Matanya yang bulat membelalak lebar. "Namaku..." Luna berpikir sejenak. "Anna Lynx. Bisakah kau mengantarkanku ke ruang Profesor Dumbledore?"

Lucius terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Ikuti aku,"

Luna mengangguk. Dia mengikuti Lucius ke kantor Dumbledore. Mereka berhenti di depan sebuah pintu mahogani besar yang berukir Gargoyle.

"Permen jeruk," Lucius mengucap dengan malas-malasan. Gargoyle itu melompat kesamping dan pintu terbuka. Dia selalu berpikir bahwa Kepala Sekolah —Albus Dumbledore— membuat lelucon dengan memasang kata sandi seperti itu. "Silahkan masuk, Miss. Saya hanya bisa mengantar sampai sini,"

Luna mengangguk penuh terimakasih dengan riang ke Lucius lalu melangkah senang ke dalam ruangan.

"Er, Profesor?" panggil Luna. Menyadari kantor ini kosong.

GUBRAK! PRANG! KLONTANG!

Luna meringis melihat Dumbledore terjatuh dari atas dan disusul oleh benda yang terbuat dari alumunium.

"Oh, maaf. Aku sedang bereksperimen sedikit," Dumbledore bangkit dan berdiri lalu duduk dikursinya. Dumbledore memicingkan mata. "Ada apa, Miss...?"

Luna tersenyum. "Apa anda mengenal saya, Profesor?"

"Miss Mandy Laurence?"

Luna menggeleng perlahan. "Sebenarnya saya bukan berasal dari zaman ini Profesor,"

"Jadi anda...?"

"Yup. Saya berasal dari masa depan. Tepatnya tahun 1997," Luna kemudian menceritakan asal-muasal mengapa dia terperangkap di zaman ini.

Dumbledore merenung sambil membenarkan letak kacamata bulan separo-nya. "Aku sebenarnya pernah mendengar kejadian semacam ini. Tapi aku tak menyangka bahwa ini bisa benar-benar terjadi. Setahuku memang ada alat yang memungkinkan kita kembali ke masa lalu, namun dalam jangka singkat. Seperti Time-Turner ini, tapi berdasarkan ceritamu, kau terperangkap disini jauh dari masamu? Boleh aku lihat benda itu? Dan namamu, Miss?"

Luna menyerahkan Time Turner di saku jubahnya. "Anna Lynx,"

Dumbledore membolak-balikkan Time Turner lalu menaruhnya sangat perlahan di meja kerjanya. "Sebentar, Miss. Kau butuh ini," Dumbledore mengarahkan tongkatnya ke Luna. Tongkatnya mengeluarkan cahaya biru yang segera menyelubungi tubuh Luna.

Luna merasa tubuhnya lebih ringan. Anting lobak dan kalung butterbeer di tubuhnya menghilang. Cahaya biru pun terserap ke tubuhnya bersamaan dengan menghilangnya cahaya biru di tongkat Dumbledore. "Mantra apa itu, Profesor?"

"Mantra Fidelius. Menyembunyikan apa yang seharusnya tak ada," Dumbledore menyimpan tongkatnya. "Dengar. Untuk sekarang, ini biodata milikmu. Anna Lynx merupakan anak dari John Lynx dan Vione Lynx nee Dìarssè. Pindahan dari Beauxbatons dan terseleksi masuk Ravenclaw. Pintar dalam matapelajaran. Kutu buku. Dia pindah dengan alasan bosan. Lynx merupakan keluarga Pureblood sihir di Perancis. Aku sudah menyematkan mantra-alih bahasa ke dalam Fidelius tadi. Jadi kalau anda ingin berbahasa Perancis, katakan, 'Francais' dan bahasa akan mengalir sendirinya,"

Luna mengangguk mengerti. Untung saja dia termasuk orang yang bermemori kuat dan cepat mengerti. Jadi kata-kata cepat Dumbledore tidak mengalir sia-sia.

"Boleh aku tahu nama aslimu?"

"Luna Lovegood," Luna tersenyum.

"Xenophilius," gumam Dumbledore sambil menerawang. Dia tersenyum mengetahui dengan siapa Xenophilius berakhir.

Tok! Tok! Tok!

"Masuk,"

Kriet... Blam!

"Profesor Dumbledore?" Sebuah suara yang sudah sangat dikenal Dumbledore terdengar.

"Ah, Miss Lily Evans, kebetulan sekali," Dumbledore sengaja menyebut nama panjang Lily.

Luna menoleh dan iris birunya merefleksi pantulan Lily Evans, terutama matanya. Dan itu membuat Luna berjengit. "Potter..." desis Luna tak sadar.

Wajah cerah Lily berubah. Berganti raut wajah kesal yang berusaha dia tahan. Dumbledore mengulum semyumnya.

"Oke. Langsung saja. Aku ingin Miss Lynx sekamar denganmu di kamar Ketua Murid,"

Untungnya wajah Lily berubah. Dia menjadi antusias dan dengan semangat dia mengangguk. "Tentu boleh Profesor!"

(• • • • •)

"Jadi begitu," Luna bergumam pelan begitu mendengar cerita Lily —keluh kesah, lebih tepatnya— tentang James Potter, ayah Harry, yang merupakan pembuat onar, sok cool, sok playboy, sok berkuasa, dan bla bla bla... Juga tentang Lily yang dengan amat sangat terpaksa menerima pernyataan cinta James agar dia berhenti mengganggu Lily dan ya begitulah... "Mungkin kepala James sering dihinggapi Wrackspurt dan Nargles sehingga dia jadi seperti itu," tanggap Luna.

Lily mengernyitkan dahi. "Wrackspurt, Nargles? Apa itu?" Lily yang memang memiliki keingintahuan yang tinggi segera menanyakan hal itu pada Luna.

"Semacam makhluk yang sering mengusili orang dan membuat sebuah kerusakan sementara di kepala seseorang," jawab Luna.

"Oh. Tapi kurasa itu memang sikap alamiah Potter," jawab Lily dengan wajah serius. "Dan, oh ya, kenapa kau memanggilku Potter?" Lily bertanya penasaran. Mata hijaunya berkilau.

"Err, itu..." Luna tergagap. Tidak mungkin kan, dia berkata kalau dia berasal dari masa depan dan mengetahui seorang bermarga Potter yang merupakan anak Lily dan James.

"Evans...?" Suara seseorang memotong perkataan Luna. Membuat Luna diam-diam menghela napas lega.

Wajah Lily kembali berubah. Menjadi keruh dan datar. Dia dan Luna menoleh ke asal suara. "Ada apa, Malfoy?" tanya Lily cuek dan datar pada Lucius Malfoy.

"Aku hanya ingin memberitahumu untuk membuat proposal pesta valentine bersama," Lucius mendongak memandang Lily dan mengernyit melihat Luna yang baru beberapa jam lalu ditemuinya berada disini, Ruang Rekreasi Ketua Murid. "Miss Lynx?"

Perkataan Lucius membuat Lily berjengit. "DEMI GODRIC! Untuk itulah aku datang ke Ruang Dumbledore! Merlin!" Seolah melupakan Luna, dia segera berjalan cepat keluar.

Luna melongo. Lalu meringis. Dia tak menyangka ibu Harry akan seperti ini. Temperamental —sebutlah, sensitif— dan ceroboh.

"Jadi mau menjelaskan kepadaku kenapa kau ada disini Miss?" tanya Lucius dan duduk di sofa seberang Luna. Dia meletakkan perkamen-perkamen yang dibawanya ke meja.

"Begini. Aku murid pindahan dan masuk Ravenclaw. Sayangnya kamar di asrama Ravenclaw sudah penuh. Jadi Profesor Dumbledore menempatkanku di kamar Lily. Dan tolong jangan panggil aku Miss! Aku merasa tua!" Luna mengerucutkan bibirmya.

Lucius menatap Luna aneh, dia menaikkan alisnya namun sedetik kemudian dia menggeleng sambil tersenyum geli. Dan Luna hampir saja jatuh terpana. Demi Merlin, Lucius tersenyum padanya?!

~oOo~

Lily mengerjapkan mata tak percaya. Matanya memelototi tulisan di kertas kecil yang berada disamping bubur dalam nampan di kamarnya.

Tulisan Lucius Malfoy.

Lynx bilang kau sakit. Jadi dia membuatkanmu bubur dan berkata 'Semoga cepat sembuh,' padamu.

Sincerely,

Lnyx & Malfoy

P.S: Aku dipaksa menulis oleh Lynx (Malfoy)

Lily masih ternganga kagum. Jarang sekali Malfoy seperti ini padanya. Bahkan bisa dibilang tidak pernah. Bahkan sikapnya saat pertama kali mengetahui Lily partnernya setahun ke depan sangat buruk. Dia hampir tak pernah tersenyum pada Lily —itupun senyum formal—. Tapi sekarang?

Lily menyeringai.

Well, ini karena Anna Lynx.

Lily baru saja akan menaruh kertas itu dan makan. Namun matanya menangkap surat yang lain. Lily mengambilnya. Dari bau wewangian yang tercium, dia tahu ini dari siapa.

Siapa lagi kalau bukan James Potter. Lily memutar bolamatanya.

~oOo~

Saat ini mata pelajaran di Hogwarts sudah berakhir. Lucius berada di Perpustakaan Hogwarts menulisi sebuah perkamen yang tampaknya merupakan proposal hari valentine tahun ini. Dan Luna sepertinya memerankan perannya dengan baik, dia menjawab beberapa pertanyaan guru dengan —walaupun tidak sebaik Hermione di masanya— baik, dan dia juga sedang membaca sebuah buku tebal tentang makhluk gaib di depannya.

Tadinya. Sebelum dia kemudian menyadari hujan deras turun di luar Hogwarts.

Mata biru laut Luna memandang jendela. 'Hujan, padahal hari sangat cerah', pikirnya.

Luna melirik Lucius di sebrangnya yang sedang tekun menulisi lembaran perkamen. Sebagai Ketua Murid yang merasa harus bertanggungjawab bila terjadi sesuatu apapun pada Luna, Lucius bersedia menemani Luna kemanapun karena merupakan murid baru Hogwarts yang masih belum mengetahui apapun tentang Hogwarts.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Lucius, menyadari tatapan Luna. Dia menggulung perkamen yang baru selesai di tulisnya, mengayunkan tongkatnya dan muncullah sebuah kotak persegi panjang dari udara kosong. Lucius memasukkan pena bulu, tinta, dan perkamen itu kesana sebelum kemudian melenyapkannya kotak itu.

"Kau ada acara sehabis ini?" Bukannya menjawab, Luna malah balas bertanya.

Lucius terlihat berpikir sejenak sebelum berkata, "Selain diskusi nanti malam bersama Evans, aku tak punya kegiatan lain lagi,"

Tanpa berkata-kata, Luna berdiri dari bangkunya dan pergi keluar setelah memberi isyarat yang membuat Lucius mengikuti langkahnya dengan bingung.

Hujan telah reda. Mereka terus melangkah ke belakang Hogwarts dan mendapati padang hijau alami di sana. Dan berhenti.

Luna menoleh ke arah Lucius. "Kau tahu, Malfoy? Ada banyak hal yang terjadi setelah hujan,"

"Apa saja itu?" tanya Lucius cuek, dia tak peduli dengan hal-hal seperti itu.

Luna menatap alam di hadapannya. Dia memejamkan mata dan merentangkan tangannya sambil menghela napas santai. "Pertama, udara lebih segar dan sejuk,"

"Kedua..." Luna mengayunkan tongkat ke kakinya sehingga kini kakinya tanpa alas dan melangkah-langkah kecil. "...air hujan yang terdapat di rumput-rumput dan terinjak kaki membuat kita bebas dan melupakan masalah kita,"

"Ketiga," Luna melirik langit dan mencari-cari sesuatu dan menunjuknya begitu sudah menemukan apa yang dia cari. "...terdapat fenomena sehabis hujan yang cukup langka,"

Lucius melihat ke arah yang ditunjukkan Luna. Pelangi. Dengan warna-warni indah yang samar.

"Aku mempunyai impian mustahil sejak kecil, aku ingin sekali dekat atau menyentuh bahkan berseluncur dengan pelangi di atas sana," Mata Luna menerawang ke angkasa.

Lucius tiba-tiba merasa ingin membantu Luna. Dia terlihat sedih mengetahui impiannya mustahil. Namun kemudian dia mempunyai sebuah ide. Lucius menyeringai, "Memang mustahil untuk menyentuh pelangi. Tapi kurasa, kita bisa berada dekat dengan pelangi itu."

Luna menoleh ke arah Lucius dengan raut bingung. "Maksudmu? Apa bisa?"

Lucius tersenyum misteri. "Tunggu disini," ucapnya dan segera berapparate ke suatu tempat.

Lucius kembali beberapa menit kemudian dengan sapu terbangnya, Nimbus1654. Luna membelalak.

"Tentu saja! Mengapa aku tak terpikirkan hal ini?!" gumam Luna tak percaya.

Lucius menaikkan Luna di belakangnya dan setelah itu Lucius naik ke sapu. Sapu itu pun meluncur ke angkasa.

Luna merasakan adrenalin dalam dirinya semakin kuat dengan semakin dekatnya dia dengan pelangi, sehingga dia merentangkan tangannya lebar sebelum kemudian memeluk pinggang Lucius erat dan menenggelamkan kepala pirangnya di punggung Lucius, yang merasa pipinya memanas begitu menyadari kenyataan bahwa Luna memeluknya dengan erat.

Wusssh! Mereka terbang melewati pelangi.

"MALFOOOY! Iam so excited! Thank you!" Luna berteriak sambil memeluk Lucius lebih erat.

Lucius yang agak terkejut Luna memeluknya lebih erat kehilangan kendali sapunya. Sapu menukik tajam menuju tanah.

"Tidak!" Lucius mencoba untuk memperlambat jatuhnya sapu. Dia mengayunkan tongkat ke sapunya. "Impedimenta!"

Rupanya dia bertindak sangat tepat. Tak lama setelah mantra pelambat diluncurkan, Lucius merasa kakinya memijak tanah. Dia tertegun menyadari bahwa...

...DI BELAKANGNYA TAK ADA ORANG!

"Kemana Lynx? LYNX!" Lucius berseru panik.

"Aku disini!" Sebuah suara samar menyambutnya. Lucius mengikuti suara itu dan sampai di tempat Luna.

Luna terlihat memandang ke depan. Matanya terlihat sedih.

"Kau melihat apa, Lynx?" tanya Lucius bingung.

Luna menoleh ke arah Lucius dengan wajah datar. "Thestral,"

Lucius terperangah. "Bukankah Thestral..."

Luna mengangguk dan memandang lagi ke depan. "Benar. Aku sudah melihat kematian. Padahal... Thestral merupakan hewan yang tidak jahat. Tetapi apa yang membuat orang bisa melihatnya, membuatnya dianggap negatif. Mereka sama seperti makhluk lainnya. Namun karena hal itulah yang membuatnya dirasa berbeda."

Sejenak hening. Sampai kemudian Lucius bertanya lirih, "Kematian siapa yang kau lihat?"

"Ibuku. Namun percayalah aku tak mau menceritakannya,"

Hening kembali. Lucius memandang pemandangan di depannya. Sampai ada sesuatu berwarna coklat dekat pohon menarik perhatiannya.

Sebuah buku.

Tanpa basa-basi, Lucius segera mengambil buku itu. Dia ingin membukanya namun... "Jangan Malfoy!" larang Luna. Dia segera mengambil buku itu lembut dari Lucius.

"Buku ini adalah memo pribadi. Jadi... cuma orang tertentu yang bisa membukanya. Di dunia muggle biasa disebut Diary," jelas Luna. "Tertarik membuatnya?"

Lucius terlihat agak menimbang-nimbang. "Muggle ya? Entahlah,"

Lucius melihat ke arah langit dan menyadari hari sudah sore. "Kita kembali ke asrama. Evans pasti sudah menungguku,"

~oOo~

Lucius POV

"Kau baru datang," Evans bergumam datar. Namun aku tahu dia berusaha menenangkan diri dan tidak meledak.

"Maaf, aku menjaga Lynx, dia masih anak baru," balasku agak pelan. Aku mengucapkan sebuah mantra dan muncul sebuah kotak dari udara kosong. Aku mengambil perkamen dan pena bulu juga tinta dari sana. Aku menyerahkan perkamen pada Evans. "Ini. Aku tahu kau sakit. Jadi, aku sudah membuat semua proyeknya. Tinggal menunggu persetujuanmu,"

Ekspresi keras Evans agak melunak. Dia mengulurkan tangan mengambil perkamen itu tanpa mengatakan apapun. Mata hijaunya memindai perkamen yang kutulis tadi sore.

Sementara dia membaca, aku mengamatinya. Evans sebenarnya cantik sekali. Dengan rambut merah gelap dan mata hijau cemerlang yang menunjukkan kepintarannya. Kini aku mengerti kenapa kebanyakan cowok naksir Evans. Selain cantik, dia juga jenius dan ramah, walau agak tempramental. Jujur, aku sempat suka padanya saat tahun ketiga-ku, tapi ternyata saat yang sama Potter menyukainya. Dan aku paling malas berhubungan apalagi sampai berseteru dengan marga Potter yang terkenal sebagai salah satu Darah Murni berpengaruh selain keluargaku dan Black.

Namun kurasa Lynx juga tak kalah cantik...

Hah? Apa yang kupikirkan?!

"Aku setuju," ucapan Evans membuat lamunanku buyar. Dia mengangkat alis menatapku aneh saat menyadari aku tersentak.

"Semuanya?" tanyaku tak percaya.

Evans mengangguk tak sabar dan meletakkan perkamen itu di meja. "Menurutmu? Walaupun ada beberapa yang tak mungkin, tapi jangan sampai aku berubah pikiran," Dia langsung bergegas menuju kamarnya meninggalkanku yang melongo.

~oOo~

Valentine's Day

Luna mengamati pantulan dirinya di depan cermin. Dia menghela napas. "Kenapa aku masih belum bisa kembali?"

Sudah seminggu lebih dia disini. Tapi tak ada perkembangan time turner apapun dari Dumbledore. Dia berteman dengan Lily dan Lucius, ini menyalahi takdir!

Diam-diam Luna menghela napas lagi.

Mau bagaimana lagi?! Semua anak menatapnya aneh setiap Luna memasuki Aula Besar. Walaupun sikap mereka sudah agak melunak.

"Anna...?" Suara Lily menyentaknya dari lamunan.

"Ya, Lils?" sahut Luna tenang. Samasekali tak terlihat bahwa tadi dia kaget karena suara Lily.

"OH, YA AMPUN! KAU BELUM SIAP-SIAP, ANNA?!" Lily berkata shock melihat Luna hanya berganti baju saja.

Baru saja Luna akan menjawab, Lily sudah menariknya menuju lemari untuk memilih baju.

"Mmm, ini bukan... ini tidak cocok... ini terlalu mencolok... ini... AAH! YANG INI!" Pilihan Lily jatuh pada gaun terusan hijau gelap sampai ke mata kaki. Dengan beberapa ukiran simple yang menghiasinya dan model tangannya yang menyerupai pakaian Princess Belle di Beauty and the Beast.

"Ayo, ganti baju pakai ini! Aku juga mau ganti baju!" Lily memberikan baju itu dan kembali memilih baju.

Luna menurutinya. Dia mengganti gaunnya dengan itu.

Lily juga sudah menemukan gaun yang dia suka. Sebuah gaun dengan warna biru bervariasi, dari biru laut sampai biru ravenclaw. Dengan kerah menggembung melewati bahu yang cantik. Lily segera berganti baju.

Lily kembali tak lama. Luna mengamatinya, sebenarnya saat ini Lily sudah cantik sekali. Lily menarik tangan Luna dan mendudukkannya di meja rias miliknya.

"Tutup matamu. Dengan wajah putihmu, kau sudah tidak memerlukan bedak lagi," ucap Lily sambil mengambil blush-on dengan warna pipi dan menepuknya sedikit dan memutar-mutarnya. Kemudian dilanjutkan dengan membuat bulu mata Luna tampak lentik. Lalu dengan eyeshadow warna kulit di kelopak mata Luna. Ditambah dengan liptint warna fresh pink.

"Sekarang tinggal rambutnya," Lily bergumam pelan. Lily menggelung rambut Luna dan menempatkan rantai mutiara yang cantik di kepalanya. "Selesai, silahkan buka matamu,"

Luna membuka matanya perlahan. Dia terbelalak. "Ini siapa...?"

"Tentu saja kau, Luna!" Lily terkekeh geli. "Sekarang silahkan ke Great Hall untuk berpesta."

"Tidak, tidak. Ini bukan aku!"

Lily mengambil tongkatnya dan menggumamkan 'Confundo' dalam hati. Luna tiba-tiba saja bangun dan beranjak dari tempat duduk rias dan keluar dari kamar. "Maafkan aku, Luna. Tapi kau harus datang untuk membuat Malfoy sadar,"

~In Party~

Lucius mengitari tempat pesta berkali-kali. Bahkan mengabaikan para gadis yang sudah mengantri di depannya. Tak biasanya bagi Lucius yang lebih sering melayani mereka daripada mengabaikan mereka. Namun Lucius melakukan ini juga bukan tanpa alasan.

Tiba-tiba saja sejenak hening. Lucius segera menoleh ke tangga tempat turunnya para peserta pesta dansa.

Seorang wanita cantik berambut pirang keemasan turun dari tangga menuju ke bawah. Gayanya sangat anggun dan aristokrat. Menggambarkan sosok wanita cantik berdarah biru dengan keanggunan tanpa cela. Namun Lucius mendesah kecewa.

Narcissa Black.

Wanita itu bukanlah yang diharapkannya. Black memang amat sangat cantik. Dia juga sangat anggun. Tipe-tipe wanita idaman Lucius Malfoy. Namun yang ditunggunya saat ini bukanlah gadis itu. Terbukti dengan langkah ringan wanita itu menuju Richard Wood, kapten Quidditch Slytherin.

Banyak bisik-bisik terdengar mewarnai setiap langkah gadis itu. Membicarakan betapa cantiknya dia, betapa beruntungnya laki-laki yang bisa memperistrinya, dan lain-lain. Lucius tak peduli karena... OH! Gadis yang ditunggunya sejak tadi sudah datang!

Bisikan itu berhenti serentak menyambut kedatangan gadis itu. Bahkan Narcissa Black ikut memperhatikan kecantikan gadis yang baru menuruni tangga itu. Dia terlihat sangat cantik namun terlihat agak bingung sekaligus.

Oh, bodohnya kau, Lucius! Lucius segera tersadar dan melangkah menuju gadis yang terlihat seperti bidadari malam ini.

Anna Lynx terlihat sangat cantik dengan gaun terusan hijau gelap sampai ke mata kaki. Dengan beberapa ukiran simple yang menghiasinya. Ditambah selop warna senada dan riasan yang sangat cocok untuknya. Luna dengan spontan langsung mengaitkan tangan putihnya ke lengan Lucius.

Tanpa menunggu, Lucius langsung membawanya ke tempat dansa dan mulai berdansa. Dari ujung matanya dia melihat Lily Evans turun bersama James Potter, Kapten Quidditch Gryffindor.

Lucius memperhatikan mata abu-abu Luna yang tadinya kosong menjadi terfokus. Luna tersentak kaget melepaskan genggaman tangannya dan Lucius. Dia kaget kenapa tiba-tiba berada di tempat dansa. Padahal tadinya malah dia berencana tak datang ke pesta ini. Lucius yang melihatnya jelas saja terkaget juga.

"Ada apa, Lynx?" tanya Lucius bingung.

Luna menatap Lucius sejenak dengan mata bulatnya sebelum kemudian menggenggam tangan Lucius kembali ke semula. "Tidak apa, Malfoy. Aku hanya kaget tadi," Luna berpikir tak ada gunanya menceritakan kejadian antara Lily dengannya pada Lucius.

"Karena?" Tampaknya sang Malfoy benar-benar ingin tahu yang membuat Luna gemas setengah mati pada wajah ingin tahunya.

"Sudahlah, tak usah dibahas," Luna menghela napas mencoba mengabaikan pertanyaan Lucius kemudian lega karena Lucius tak bertanya-tanya lagi.

Sejenak hening. Mereka berkutat dengan pikiran mereka masing-masing. Sampai kemudian Lucius-lah yang memecahkan keheningan tersebut.

"Lynx?" tanya Lucius.

"Hmm..." Luna menjawab tenang sambil memperhatikan gerakan kaki mereka secara lekat.

"Maaf menanyakan ini, tapi kurasa..."

"Tanyakan saja," potong Luna. "Tenanglah, aku bukan tipe orang yang mudah tersinggung. Santai saja,"

Mendengar perkataan Luna membuat Lucius lebih memantapkan dirinya untuk bertanya hal yang mungkin cukup riskan ditanyakan pada orang yang baru dikenal.

"Apa status darahmu?"

Luna mengernyit menyadari pertanyaan Lucius. Ternyata Malfoy tetaplah seorang Malfoy. Apalagi yang di hadapannya kini bukanlah Draco Malfoy, kakak kelasnya yang sangat menyebalkan. Melainkan ayah dari Draco Malfoy yang masih dalam bentuk remaja, Lucius Malfoy. Sang Malfoy senior yang baru saja bersitatap dengannya beberapa jam sebelum dia nyasar ke waktu saat ini. Sang Malfoy senior yang arogannya tak usah diragukan lagi.

"Kalau Pureblood kenapa, kalau Halfblood kenapa, kalau Muggleborn kenapa?" tanya Luna usil. Yang membuat Lucius mendengus setengah jengkel. Luna tertawa kecil menyadari tingkahnya di hadapan Malfoy senior ini. "Baiklah, baiklah. Aku Pureblood Perancis. Sudah cukup?"

"Pureblood Perancis ya?" Lucius memikirkan kemungkinan-kemungkinan dari dua kata itu. "Di Perancis, ada beberapa spesies Veela yang tersebar. Apa kau memiliki darah Veela, Lynx? Dilihat dari penampilanmu, mungkin saja kau memang memiliki darah Veela entah seberapa,"

Darah Veela? Luna mempunyai darah Veela? Memikirkannya saja hampir membuat Luna tertawa terpingkal-pingkal jika dia sedang tidak menyadari dimana dia berada. Yang benar saja, orang yang selalu di cap aneh, pengganggu, dan segala hal 'aneh' lainnya mempunyai darah Veela yang notabene populer akan kecantikan dan auranya yang luar biasa?

Sebagai gantinya, Luna tertawa kecil. "Tidak. Tidak sama sekali. Mengapa kau berpikir seperti itu?"

"Karena menurutku kau memiliki daya tarik khusus yang mungkin tak orang lain miliki," Lucius mengendikkan bahu. "Lagipula kau juga sangat cantik. Kurasa tak salah aku berpendapat begitu,"

Luna memerah saat Lucius mengatakan kalimat terakhirnya. Untung saja cahaya yang agak remang-remang ini menutupi ekspresi tersipunya. "Kau lihat Narcissa Black di sana? Dialah tipe wanita cantik sejati,"

Lucius mengiyakannya. "Memang iya. Dia cantik, anggun, berkharisma, dan cerdas. Rasanya dia terlalu sempurna untuk ukuran seorang wanita,"

Luna tak tahu perasaan nyeri apa yang di rasakannya saat mendengar Lucius mengatakan seperti itu tentang Narcissa. Jadi Luna hanya tersenyum menanggapi perkataan Lucius.

"Mau makan dulu?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan

Lucius mengernyitkan dahi. Dia memandang jam besar di Great Hall. "Kau yakin? Ini sudah jam duabelas tepat dan aku tak yakin makanan masih tersisa kecuali kalau kita meminta pada Peri Rumah,"

Luna ikut-ikutan memandang jam besar Great Hall. Dia mengedipkan matanya dengan cepat, tak percaya waktu berjalan cepat sekali. Atau memang waktu disini berjalan lebih cepat bagi orang-orang seperti Luna? Dari masa depan, maksudnya.

"Hahh, lelah sekali ternyata!" Lily menghempaskan diri di sofa merah Gryffindor-nya yang berada di Ruang Rekreasi Ketua Murid.

Sementara Lucius dengan tenang sedang menulis sesuatu di sebuah buku. Laki-laki itu terduduk di sofa hijau Slytherin yang bersebrangan dengan Lily.

"Kau sedang apa, Malfoy? Apa yang kau kerjakan? Tugas ketua murid atau tugas sekolah?"

Lucius mendelik kesal karena diganggu. "Tugas pribadi,"

Lily mengangguk, cukup tahu bahwa Lucius sedang tak mau diganggu saat ini. Kemudian dia bangkit dan berjalan menuju kamarnya sambil membawa sepasang sepatu biru lautnya. Dengan perlahan Lily membuka pintu kamarnya yang dihiasi stiker singa berpita pink yang bukannya menakutkan malah terkesan imut. Dia melihat teman sekamarnya, Luna, sedang membaca sebuah buku bersampul coklat lusuh.

"Selamat malam, Anna," sapa Lily yang hanya dibalas anggukan Luna dan sapaan serupa. Mata gadis itu masih menelusuri buku di hadapannya.

Lily melihat kesamaan identik buku yang dibaca Luna dengan buku yang ditulisi Lucius. Namun Lily tak sempat berpikir apa-apa karena dia sudah terlelap lebih dulu saking lelahnya.

~oOo~

Hogwarts, 1977

Setelah penolakan dia waktu itu, sebenarnya aku ingin frustasi dan menjauh darinya. Aku sangat ingin melupakannya walaupun aku tahu aku tak mungkin bisa melupakannya dalam waktu dekat.

Perlahan namun pasti aku menjauh. Namun berkali-kali usaha itu kurasa gagal.

Sincerely,

M.A.L

(===)

Hogwarts, 1977

Dia terlalu manis. Dia terlalu cantik. Dia sungguh 'terlalu' sampai membuatku tak bisa melupakannya. Tingkahnya yang lucu membuatku tak kuasa menahan senyum mautku.

Sampai kemudian aku menyadarinya. Tak mungkin dia akan terus berada di sisiku. Dia juga mempunyai kehidupan, Demi Merlin! Jadi mungkin suatu hari aku akan berpisah dengannya entah kapan. Walaupun aku tak ingin itu terjadi.

Karena itu aku berpikir, selama aku dan dia disini, aku akan menikmati setiap waktunya. Karena kita tak akan pernah bisa membuat waktu berpihak pada kita.

Sincerely,

M.A.L.

(===)

Luna tersenyum sendiri membaca curahan hati itu. Dia menoleh ke arah Lily dan melihatnya tertidur dengan lelap sekali. Luna menoleh ke jam kuno di dinding kamar Lily.

Jam 12.30.

Jelas saja. Luna tersenyum aneh mengetahui dirinya keasyikan membaca diary itu sampai tak sadar hari sudah larut. Gadis berambut pirang itu bangkit dan menyimpan bukunya. Lalu berjalan menuju Lily, menyelimutinya. Dan ikut berbaring di sebelah Lily.

"Good night, Lils. Have a nice dream!"

"Ada apa, Malfoy?" Luna bertanya pada Lucius yang memang sejak awal mereka disini menatapnya dengan tatapan —entahlah.

Saat ini mereka sedang duduk di bawah salahsatu pohon yang mengelilingi Danau Hitam. Luna berada disini bukan tanpa alasan, melainkan karena setelah jam terakhir Luna sudah habis, Lucius langsung membawanya ke tempat ini. Dan Luna masih bingung apa maksud sang Malfoy senior itu membawanya kesini karena dia pun masih terdiam sambil menatap Luna dengan tatapan yang membuat Luna —mmm, katakanlah— grogi.

Lucius berdeham. "Mungkin akan terdengar lancang sekali saat aku menyampaikan ini. Tapi aku tak ingin kau salah paham dengan apa yang kumaksud, jadi kuharap kau—"

"Katakan saja," sela Luna geli. Baru kali ini dia melihat sang Malfoy senior grogi, di depannya pula!

Lucius menghela napas menyadari tingkahnya yang agak berlebihan. "Jadi... aku, aku..." Bukannya melanjutkan ucapannya, Lucius malah menarik tangan Luna ke dalam genggamannya.

Luna menaikkan alis menunggu Lucius menyampaikan maksudnya. Namun dia tetap menerima tangan Lucius yang menggenggam tangannya.

"...maukah kau menjalin hubungan sepasang kekasih denganku?" Dan saat itu Luna menyadari bahwa Lucius memasangkan sebuah gelang di tangannya, ketika Lucius melepaskan genggaman tangan Luna.

Luna mengamati gelang yang dipasangkan Lucius tadi. Gelang perak dengan beberapa kristal transparan menggantung, dan dengan liontin gambar singa dan ular yang masing-masing memegang huruf 'L', inisial mereka berdua. "Apa kau bersungguh-sungguh, Malfoy?"

"Inilah yang kubilang mengapa kau jangan salah paham dulu. Maksudku adalah, aku samasekali tidak berniat mempermainkanmu jika itu yang kau pikirkan. Aku benar-benar mencintaimu sejak awal aku melihatmu —entah kenapa dan aku ingin setidaknya kepastian dalam hubungan kita. Namun untuk hal itu, aku akan menyerahkannya kepadamu."

Menghela napas, Luna mengambil tangannya dari genggaman Lucius dan membuang muka. "Aku tak bisa," ucap Luna dengan nada suara yang berbeda.

Lucius tercengang, bukan karena harga dirinya sebagai laki-laki terinjak-injak karena ditolak perempuan, namun karena ada sesuatu dalam dadanya yang retak begitu mengetahui orang yang dicintai ternyata tak memiliki perasaan yang sama dengan yang dirasakan dirinya. Lucius berusaha tersenyum maklum, walaupun saat ini dia dilanda keinginan keras untuk memeluk Luna dan menanyakan alasannya. "Oke. Tak apa. Aku... tahu kalau kau tidak akan mencintaiku. Tapi kumohon, terimalah gelang itu, setidaknya jika kau tidak mencintaiku, tapi karena kau menghormati aku," ucap Lucius getir. Dia yakin bila dia seorang perempuan, dia akan menangis sekarang, namun sayangnya, ini terlalu menyedihkan sehingga Lucius bahkan tak bisa menangis. Hanya tatapan matanya yang kosong lah yang dapat membuktikan kepedihan hati Lucius saat ini.

Sejenak hening. Lucius masih menatap Luna dengan kosong, sementara Luna masih memalingkan wajah ke arah lain. Hal yang membuat hati Lucius tersiksa. 'Bahkan untuk melihat wajahku pun dia tak mau,' batin Lucius getir.

"Ayo kita kembali, Lynx. Sebentar lagi waktu makan siang," ucap Lucius mengisyaratkan agar mereka kembali, tak terjebak dengan atmosfer tak mengenakkan disini.

"Kau duluan," Luna kembali menjawab dengan suara yang berbeda, membuat Lucius tersenyum getir.

Namun Lucius tahu Luna mengisyaratkan padanya untuk menjauh. Dan Lucius melakukan itu. Pergi meninggalkan Luna yang masih terpaku memandang langit.

Luna tak percaya. Dia tak percaya bahwa Lucius ternyata...

...memiliki perasaan yang sama seperti yang dimilikinya.

Setetes airmata terjatuh dari mata biru Luna, lalu menyusul setetes lagi, dan makin lama makin deras. Luna menangis.

Bukan menangisi keputusannya menolak pernyataan cinta Lucius. Namun menangisi karena apa yang mereka rasakan adalah salah. Luna menolak, bukan karena dia tidak mencintai Lucius. Luna mencintainya, entah sejak kapan dan karena hal apa. Luna menolak karena dia tak ingin menyakiti Lucius.

Karena pada akhirnya Luna harus pergi. Ini bukanlah tempatnya. Meninggalkan Lucius dan semua yang dia rasakan disini.

Luna kembali tergugu saat membayangkan wajah Lucius yang penuh kepedihan. Dia menatap gelang yang menjadi simbol perasaan Lucius. Dan kembali menangis begitu mengingat hal ini, membuat gelang yang dipegangnya basah terkena airmata.

Luna mencintai Lucius, dan begitupun sebaliknya. Namun takdir membuat mereka salah meletakkan perasaan ini. Sehingga mereka tak akan pernah bisa bersatu.

Setelah kurang lebih sebulan terjebak dalam masa ini, Dumbledore akhirnya memanggil Luna ke ruangannya.

"Maafkan saya karena baru mengabari anda, Miss Lynx. Atau Miss Lovegood?" sapa Dumbledore begitu Luna sudah sampai di hadapannya.

Luna menatap Dumbledore dengan mata berbinar. "Tidak apa. Yang terpenting adalah anda sudah menghubungi saya saat ini, Head Master," ucap Luna pada Dumbledore.

Dumbledore tersenyum senang. Mata biru elektriknya berbinar. "Jadi bisa anda ceritakan apa yang terjadi semasa anda berada disini?"

Luna terkekeh. "Saya menduga anda mengulur waktu saya berada disini karena anda ingin mendengar cerita saya, hm?" Dumbledore ikut terkekeh walaupun Luna tahu maksudnya tak seperti itu. "Banyak yang terjadi, Headmaster. Salahsatunya adalah saya yang mengenal Malfoy yang bisa disebut... agak berbeda? Karena saya mengenal seorang Malfoy dari dunia saya dan sikapnya sangat jauh berbeda dengan sikap Malfoy yang di masa ini." Yang Luna maksud adalah Draco, karena memang Draco tak pernah bersikap manusiawi padanya.

Dumbledore hanya tersenyum misterius dan menyerahkan Time-Turner yang sudah membawanya ke masa ini. Luna menolaknya. "Saya akan kembali. Saya harus mengatakan sesuatu pada seseorang."

Luna berlari keluar dari ruang Dumbledore. Dia harus menemui Lily. Dan yang terpenting, dia harus menemui Lucius.

Luna kembali ke kamarnya dan mengambil buku diary yang masih belum bisa Luna ketahui siapa pemiliknya. Buku lusuh itu dia masukkan ke saku jubahnya – a.n: gak tahu deh ada atau gak – agar tidak terlihat oleh siapapun.

Bruk!

"Anna, kenapa kau terlihat terburu-buru?" Lily bertanya panik karena dia menyangka ada sesuatu yang terjadi karena melihat mobilitas Luna yang tinggi.

"Lily!" Luna memeluk Lily erat. Satu-satunya sahabatnya di masa ini, selain Lucius. "Aku harus pergi saat ini! Mungkin aku tidak akan kembali. Hati-hati ya, Lils. Bila kau punya anak, jangan lupa menjaganya dari makhluk-makhluk jahat yang berusaha mengambil keuntungan darinya," Tanpa sadar Luna meneteskan airmata saat mengatakan ini. Mengingat dia —yang seangkatan dengan Ginny— sok-sok memberikan nasihat untuk anak Lily, yang notabene adalah Harry Potter —kakak kelasnya. Namun memang itulah bentuk perhatian terakhir yang dapat Luna berikan sebelum kembali ke masanya. Sebelum tak bisa bertemu lagi dengan Lily Potter, ibunda Harry Potter yang mengorbankan diri untuk anaknya.

Lily terlihat kebingungan beberapa saat sebelum kemudian mencerna sedikit dari apa yang dikatakan Luna. "Hah? Kau ingin pergi kemana, Anna? Aku boleh ikut? Aku bahkan belum sempat mengenalkanmu pada Alice Carrol, Frank Longbottom, James Potter, Sirius Black, dan yang lain. Bagaimana kau bisa...?"

Luna menggelengkan kepalanya dengan getir, sejujurnya dia juga cukup menyukai zaman ini. Namun apa boleh buat, ini bukanlah tempatnya. "Ada yang terjadi pada keluargaku dan aku harus pergi sekarang. Boleh aku titip sesuatu untuk Malfoy?"

Dengan tatapan mata kosong, Lily mengangguk. Lalu Luna menyelipkan sebuah lipatan perkamen yang diikat dengan pita hitam di tengahnya. "Berikan ini pada Malfoy dan sampaikan maafku karena aku tidak memberikan salam perpisahan padanya. Dan percayalah Lils, walaupun aku belum mengenal Alice Carrol, Frank Longbottom, Sirius Black, dan James Potter yang kamu sebutkan tadi, aku yakin mereka orang yang baik. Sampaikan salamku pada mereka, Lils. Terima kasih."

Untuk terakhir kalinya Luna memeluk Lily yang masih terpaku, mungkin agak shock dengan kenyataan yang baru diterimanya beberapa detik lalu. sebelum kemudian Luna melepaskan pelukannya, tersenyum pada Lily dan kembali menuju Kantor Dumbledore.

Sementara Lily yang baru menyadari hal ini menitikkan airmata tanpa sadar. Luna memang belum lama bersahabat dengannya, namun dengan Luna, Lily tahu dia bisa berbicara banyak hal, bahkan hal-hal yang tidak masuk akal sekalipun.

Lalu Lily menyadari di tangannya ada sebuah perkamen. Perkamen yang harus dia serahkan pada seseorang. Dan Lily segera berlari pergi untuk itu.

~oOo~

"Saya sudah siap, profesor," ucap Luna pada Dumbledore yang sejak tadi menyiapkan mantra-mantra yang ingin diucapkan. Luna melirik Time-Turner yang sudah bersih tanpa retakan apapun —membuktikan bahwa Dumbledore benar-benar menepati janjinya untuk memperbaikinya. "Saya ingin tahu bagaimana cara kerjanya."

Dumbledore tersenyum. "Aku akan menyerahkan Time-Turner ini padamu dan kau harus menggenggam erat-erat satu-satunya barang yang kau bawa—" Dumbledore melirik buku lusuh yang dibawa Luna, yang membuat Luna menyengir. "—supaya tidak terbawa arus. Setelah itu, pejamkan mata karena aku yang akan melakukan sisanya. Abaikan suara-suara yang terdengar dan fokus pada tujuanmu ke Hogwarts di masamu."

Luna menganggukkan kepalanya tanda mengerti, lalu mulai memejamkan matanya seperti perintah Dumbledore barusan. Lalu Luna merasakan, perlahan namun pasti, sebuah energi yang merasukinya.

"Lynx!" Luna mendengar sebuah suara samar yang memanggil namanya, namun Luna berusaha keras mengabaikannya seperti kata Dumbledore tadi dan malah makin menggenggam erat memo lusuh yang sudah bersamanya selama dia terjebak disana —yang Luna masih belum mengetahui siapa pemiliknya.

Walaupun Luna sangat ingin membuka matanya, ingin mengetahui siapa yang memanggil namanya dengan nada sendu dan penuh rindu.

~Eternal~

Luna membuka matanya begitu merasakan dirinya terjatuh di sebuah tempat yang empuk —yang tak lain adalah kasurnya sendiri. Dengan cepat Luna berdiri dan memeriksa keadaan kamarnya, waspada bila dia —alih-alih kembali ke zamannya— malah terperangkap di zaman lain.

Dan Luna menghela napas lega begitu mengetahui bahwa dia sudah kembali ke zamannya. Bau tempat tidur yang khas, aura ruang tidur Ravenclaw yang khas, dan tirai-tirai yang didominasi warna biru dan perunggu perak.

"Aku kembali..." Luna berbicara lega. Dia merebahkan diri kembali ke kasur tempat dia sendiri. Lalu Luna menyadari bahwa tangannya masih menggenggam erat buku lusuh yang berisi memo seseorang yang bahkan tak Luna ketahui.

Luna tahu dia sedang berada di hari Sabtu, jadi kamarnya sepi. Bahkan tidak ada suara langkah kaki di luar sana. Sebagai penghuni Ravenclaw, aneh bila saat hari belajar, tak ada Ravenclaw yang berbolak-balik. Karena jika hari belajar, Ravenclaw adalah salahsatu asrama yang paling sibuk —dalam hal ini, belajar.

Melirik sekali lagi ke buku di tangannya, Luna memutuskan untuk membaca, melanjutkan halaman terakhir yang dia baca.

~oOo~

Hogwarts, 1977

Dia pergi dan aku merasa...

...Hampa.

Rasanya untuk menuliskan kepergiannya saja aku tak mampu. Apalagi mengetahui dia yang menolakku seminggu sebelumnya.

Dia menolakku karena dia tak mencintaiku. Dan aku tahu aku tak pernah pantas untuk mendapatkan hatinya. Dia menitipkanku surat. Namun aku belum membukanya.

Aku tak sanggup.

Sincerely,

M.A.L

~oOo~

Luna tertegun membaca tulisan ini. Hal ini membuat Luna kembali mengingat sesuatu dan hatinya serasa retak.

Mengapa takdir jahat kepada dirinya?

Menghela napas, Luna menyingkapkan jubah Hogwarts-nya dan melirik gelang yang ternyata masih terpasang manis disana. Membuat Luna tertegun dan hampir menangis.

Jika saja tak ada salahsatu teman sekamarnya yang mengabarkan kalau Dumbledore memanggilnya.

~oOo~

"Ada apa, profesor?" tanya Luna begitu dirinya sudah sampai di kantor Dumbledore. Sejujurnya dia juga ingin tahu apa yang terjadi mengingat dia dipanggil secara tiba-tiba, ketika dia bahkan belum sempat merenungkan semua kejadian yang berlangsung padanya.

Mendengar pertanyaan Luna, Dumbledore hanya tersenyum. "Perjalanannya lancar, Luna? Atau bisa kupanggil, Anna Lynx?"

Tercengang, itulah hal yang dirasakan Luna saat ini.

"Sebenarnya sejak pertama kali melihatmu di Hogwarts, aku sudah tahu kalau kau memang Anna Lynx, murid misterius yang datang secara tiba-tiba ke Hogwarts waktu itu. Apalagi setelah mengetahui namamu 'Luna Lovegood', nama yang persis diucapkan murid misterius itu waktu itu. Dan aku tahu kau baru saja pulang dari perjalananmu," Dumbledore melirik Time-Turner yang tergantung di leher Luna. "Anna Lynx sendiri sudah menghilang ditelan bumi semenjak dia menghilang di kantorku waktu itu. Aku memilih untuk membuat identitasnya seolah lenyap ditelan bumi."

Luna mendengarkan itu dengan seksama. Ini adalah sebuah cerita baru untuknya.

"Namun yang harus kau tahu, ada seseorang yang mencarimu terus-menerus semenjak itu. Sampai-sampai dia mengambil jalan yang salah. Semua itu hanya untuk menemukanmu," Ucapan Dumbledore membuat Luna tertegun.

"Siapa orang itu?"

Dumbledore tersenyum misterius. "Temuilah dia, di tempat terakhir kali kalian bertemu."

Mendengar itu, Luna segera berlari keluar kantor guru. Dia tahu siapa yang 'mungkin' mencarinya. Dia tahu siapa yang 'mungkin' akan melakukan sesuatu untuknya. Dia tahu siapa yang 'mungkin' memiliki buku ini.

Buku yang saat ini Luna peluk erat-erat.

Namun setelah sampai di tempat yang ditujunya, Luna terjatuh. Beruntung ada sebuah tangan yang menahan pinggangnya agar tak jatuh.

"Hati-hati, Miss Lovegood..."

Luna memandang wajah di depannya dengan tatapan sendu. Berbagai rasa berkecamuk dalam benaknya.

"...atau Miss Lnyx," ucap Lucius Malfoy dengan wajah yang selama ini tidak pernah diperlihatkannya, wajah sendu penuh rindu. Lucius menggendong Luna dan mendudukkannya di bawah salahsatu pohon di sekitar Danau Hitam.

Mereka masih saling bertatapan. Tatapan penuh kerinduan. Sampai kemudian Lucius yang memutuskan kontak mata dan Luna merasakan kehangatan melingkupi tubuhnya.

Lucius memeluk Luna dengan segenap perasaan yang selama ini dia kunci rapat-rapat dalam dirinya.

"Aku selalu mencarimu," Suara Lucius terdengar bergetar. "Tapi aku tak pernah menemukanmu. Bahkan aku bergabung dengan Voldemort karena aku ingin mencarimu, dan ingin melindungimu. Kau tahu kan, Voldemort punya banyak koneksi akan itu? Tapi sekarang si botak pesek itu sudah mati, karena perjuangan kau dan teman-temanmu. Walaupun aku sedih karena aku justru bukannya melindungimu, malah... malah..."

"Ssst!" Luna menyela ucapan Lucius. "Yang lalu biarlah berlalu, Malfoy."

Lucius memeluk Luna semakin erat. "Kau tahu? Aku merindukanmu. Aku sampai ingin mati karena menahan kerinduan ini. Apalagi saat aku pertama kali melihatmu di Hogwarts. Namun sayangnya kau terlihat samasekali tak mengingatku."

Luna melepaskan pelukan mereka. Dia menyerahkan buku yang sejak awal sudah berada dalam dekapannya pada Lucius. "Milikmu. Kau tahu, kan?"

Lucius mengangguk. "Aku sengaja meninggalkannya untukmu, dengan harapan kau dapat mengingat semuanya," Lucius menghela napas. "Bodohnya, aku baru membaca surat yang kau tinggalkan untukku kemarin, dan tenggelam dalam kesalahpahaman yang aku percayai selama ini."

"Kau bodoh," Luna berusaha tersenyum. "Karena kau bodoh, apakah aku juga harus mengembalikan ini?" Luna menunjuk pergelangan tangannya.

Lucius membelalak. "Kau masih menyimpan itu?"

"Aku bahkan baru mendapatkannya," jawab Luna ringan. "Tapi Malfoy, kau tahu, kita tak akan bisa bersatu. Kau punya Narcissa."

"Ya, Narcissa. Satu-satunya alasan yang membuatku menerima perjodohan dengannya karena dia-lah satu-satunya wanita yang pernah kau bicarakan. Dan aku selalu merasa bersalah padanya karena takkan pernah bisa mencintainya."

Luna tersenyum, berusaha tegar untuk mengatakan apa yang akan menjadi solusinya. Namun ternyata Lucius sudah mengetahui apa yang ingin dikatakannya dan menyela, "Aku berjanji setelah ini kita harus bersikap seperti biasa. Biarlah apa yang terjadi diantara kita selalu menjadi kenangan dan rahasia yang indah. Namun jangan minta aku untuk mencintai orang lain dan melupakanmu. Dan satu lagi, mungkin aku bisa saja melupakanmu suatu saat nanti. Tapi aku takkan pernah bisa melupakan perasaan cintaku padamu. Karena cintaku abadi, dan hanya untukmu, Ann Lynx, atau sekarang Luna Lovegood."

Luna meneteskan airmata mendengar apa yang dikatakan Lucius. "Aku tahu. Dan kau tahu aku juga merasakan hal yang sama."

Mereka saling bertatapan sambil tersenyum dengan perasaan yang campur aduk antara kebahagiaan dan kesedihan. Bahagia karena mereka saling mencintai, dan sedih karena takdir memang tak berpihak pada mereka.

Untuk kesekian kalinya, Luna memandang gelang yang diberikan Lucius padanya dengan senyuman. Ular dan singa itu terlihat berkilauan di mata Luna. Gelang inilah yang menjadi saksi kisah cinta sedih —namun tak berakhir tragis— mereka.

Apanya yang tragis?

Yang terpenting mereka saling mencintai. Dan cinta mereka akan abadi, bertahan selamanya. Bahkan takdir pun tak mampu menghalangi mereka untuk yang satu itu.

~oOo~

Malfoy,

Asal kau tahu, aku tetap memanggilmu 'Malfoy' karena suatu alasan. Alasan yang mungkin hanya aku yang tahu.

Malfoy,

Ada hal yang ingin kukatakan sejak awal kita bertemu. Sesuatu yang mungkin akan membuatmu merasa terkejut bila mengetahui hal ini.

Dan Malfoy,

Kuharap semua yang kutuliskan di surat ini mampu membunuh kesalahpahaman di antara kita selama ini.

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan padamu. Banyak hal, sampai kurasa sepucuk surat ini begitu tidak berguna untuk mewakilkan hal-hal itu. Hal-hal yang mungkin sampai kapanpun tak dapat kuberitahukan secara langsung padamu.

Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu sampai-sampai aku terlalu rapi untuk menyimpan semua ini sendiri. Saat pertama kali melihatmu, saat tahu bagaimana kau memperlakukanmu, saat mengetahui sikapmu padaku, saat mengetahui cara kau menatapku, dan saat-saat momen berharga yang kita lalui bersama.

Saat aku menolakmu waktu itu, sebenarnya aku sangat ingin memelukmu dan menumpahkan kebahagiaanku akan pengakuanmu, karena ternyata kau memiliki perasaan yang sama denganku. Namun sayangnya aku tak bisa, takkan pernah bisa melakukan itu. Ada suatu hal yang membuatku takkan pernah bisa melakukan hal itu.

Namun aku lebih merasa sakit lagi saat melihat tatapan terluka-mu yang menyangka aku tak mencintaimu. Dan di surat ini, kau tentu tahu bahwa aku dilanda keinginan besar untuk membantah itu. Namun seperti yang kubilang, aku tak akan pernah bisa.

Aku baru saja menulis jika aku mempunyai alasan memanggilmu tetap dengan 'Malfoy' dan hanya aku sendiri yang mengetahui alasannya, kan? Aku tarik kata-kataku. Karena alasan ini akan kita ketahui berdua. Yang pertama, kau tak pernah memintaku memanggilmu dengan nama depanmu. Dan yang kedua, untuk menghindari kedekatan berlebihan diantara kita. Karena hal itu hanya akan mempersulit diri kita jika salahsatu dari kita harus pergi.

Ya, aku pasti akan pergi. Namun aku takkan pernah memberitahumu tujuanku. Yang jelas aku akan pergi jauh. Dan mungkin kau akan menemukanku ketika kau sudah memiliki kehidupan baru.

Dan saat kau menerima surat ini, aku pasti sudah pergi.

Always Love You,

'L'

~TAMAT~

~Session Talkshow~

Lily: Hermione, kemana Mia?

Hermione: Kamu gak tahu ya, Ibunya Harry? Mia itu sakit karena dia mengetik banyak banget untuk oneshot kali ini. Disela-sela waktu dia yang —katanya— padat.

Lily: Yaaahh, kan padahal aku ingin berkenalan dengannya... *menghela napas

Hermione: *mendengus jengkel* Iya, padahal dia kan udah janji di chapter lalu kalau bakalan ngasih kita traktiran! Gak tahunya malah sakit!

Pop! Pop!

Harry: Aku datang! Lihat aku membawa siapa?

Hermione: *shocked* HUUAA! MAKHLUK BERHIDUNG BENGKOK!

Lily: MAKHLUK BERAMBUT CEPAK BERMINYAK! *latah.

Snape: *muka datar* 50 poin dari Gryffindor karena menghina guru, Miss Granger.

Hermione: *menyengir* Hehe, maaf profesor! Abis saya kaget! Tapi kok Ibu Harry sama sekali gak dapet sanksi apa-apa? *jahil.

Snape: Dia berbeda. *blushing.

Harry: Oh, kayak film 'Ibu, mengapa ibu berbeda?'? *dijitak Snape dan Lily.

Hermione: *memanyunkan bibir* Oke, karena udah kumpul semua, langsung aja kita—

Harry: Eeeh, bentar dulu, Mione. Mia nitip AUTHOR'S NOTE ke aku, untuk para readers katanya. *ngeluarin kertas titipan author* Pertama, Mia minta maaaaaaaaaff banget karena telat meng-update fic. Yang kedua, Mia sekalian ingin mempromosikan akun wattpad dia, follow dan baca ceritanya di mimiayudia. Dan yang ketiga, request terus berjalan dan Mia akan tetap meng-update fic ini setelat apapun dia. Udah, itu aja.

Hermione: Udah? Oke, langsung saja. Sebagai permintaan maafku, dimulai dari Profesor Snape!

Snape: Yang pertama, untuk WolfShad'z, aku sejujurnya agak dilema ingin memberikan poin atau mengurangkan poin padamu. Aku senang karena kamu menyukai aku dan Lily bersama —diantara sekian banyak orang. Dan kamu benar, AKU BERHAK BAHAGIA! *baper. Sejujurnya aku terharu *ngelap ingus* *berdeham sok cool*. Namun aku agak kurang setuju kalau muridku, Lovegood, dipasangkan dengan Lucius yang agak licik karena selalu merebut cemilanku *nostalgia*, namun memang sih, mereka agak cocok. Karena memang rambut mereka juga sama-sama pirang mungkin? Aku sudah memutuskan, aku akan mengurangi 5 poin dan menambah 15 poin untukmu, dimanapun kamu berada XD.

Yang kedua untuk aquadewi, oke, scorpily langsung masuk daftar. Jangan lupa enjoy reading ya!

Lily: Cie-cie! aquadewi dikasih ucapan sama Sev! Oke, giliranku!

Halo Lillyan flo! Btw, nama kita sama ya, cuma kamu double 'L', hehe. Chapter ini agak berat loh, aku aja bisa ngerti karena otak aku jalan, coba kalo otaknya kayak James, aku gak yakin... *dipelototi Harry.

Untuk Miss Tari-Khai, waah! Akhirnya ada juga yang mengusulkan pair ini. Soalnya kata Hermione, Mia menunggu-nunggu pair request ini. Karena pair favoritnya —ToMione, DraMione— sudah muncul, tinggal ini. Oke, request langsung masuk daftar!

Harry: Giliranku. Hermione lagi break baca balasan review soalnya *evil laugh.

Halo fbrabz! Kita tanyakan dulu ya, apakah ToMione boleh masuk daftar lagi atau gak. Jangan kapok review ya! :)

Hermione: Oke, ini daftar request-nya!

Request Pairing

1. Blaise × Luna

2. Lucius × Narcissa

3. Scorpius × Rose

4. Harry × Ginny

5. Scorpius × Lily

6. Harry × Hermione

Harry: BlaiseLuna lagi progress ya!

All: Jangan lupa review! See you next chapter! :)