Unexpected Love
Pairing: Blaise Zabini x Luna Lovegood slight DraMione dan HarMione (?)
Genre: Romance
Timeline: Tahun ketujuh Harry Potter
Disclaimer: Kalo Harry Potter punya aku, pasti aku bakal buat Hermione jadian sama Harry atau Draco. Tapi sayangnya, Harry Potter hanya milik J.K Rowling
.
WARNING!
Tidak ada Voldemort, OOC, typo, gaje, alur agak kurang jelas (jadi disarankan untuk membaca lebih teliti), kemungkinan beberapa pairing selanjutnya akan menjadi sekuel oneshot ini.
.
Summary:
Akhir-akhir ini saat malam, Blaise Zabini lebih sering bermain ke Menara Astronomi hanya untuk sekedar mengobrol dengan Luna Lovegood. Apakah kebersamaan singkat seperti itu bisa menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka? Disaat yang sama, Blaise akan dijodohkan dengan Pureblood pilihan ibunya. Akankah Blaise menerima perjodohan itu atau tetap menikmati malam yang tenang dengan mengobrol bersama Luna?
.
HAPPY READING!
.
"BUKAN SALAHKU, HARRY! MUSANG INI YANG MENABRAKKU DULUAN!"
"INI SEMUA KARENA RAMBUT SEMAKMU!"
Kedua seruan itu meramaikan Aula Besar yang beberapa menit lagi akan menjadi tempat makan pagi. Banyak koor yang berteriak menyemangati mereka berdua.
'Pagi-pagi sudah berkelahi,' batin Luna sambil menggelengkan kepala. Kaki jenjang yang tadinya ingin bergabung ke meja Ravenclaw segera menghampiri keributan karena dilihatnya Harry kesulitan untuk menenangkan Hermione. Sementara Ron entah dimana adanya.
Ya, siapa lagi penyebab keributan selain dua orang yang tersohor dengan kemampuan sihir mereka yang mengagumkan dan jabatan Ketua Murid yang mereka jabat, Hermione Granger dan Draco Malfoy.
"APA MAKSUDMU, RAMBUT SEMAK?!" Kali ini terdengar suara bass Draco yang terdengar meneriaki Hermione. Dia terlihat ingin bergerak maju namun untungnya tertahan oleh Blaise dan Theo. Blaise terlihat membisikkan sesuatu pada Draco dan membuat Draco tenang. Sementara Theo terlihat mengamati sekeliling kalau-kalau ada guru yang datang, karena ini sangat gawat mengingat status Hermione dan Draco sebagai Ketua Murid. Dan mata Theo menangkap sosok Luna yang mendekat ke arah mereka, membuat Theo menyeringai lalu menyikut Blaise yang ikut tersenyum saat melihat Luna.
Dengan gerakan cepat, Luna mengambil dua pudding yang baru saja dia ambil dari dapur Hogwarts yang tadinya ingin dia jadikan sebagai cemilan. Dan dengan cepat memantrai kedua pudding tersebut untuk...
Plop! Plop!
...masuk ke dalam mulut kedua orang yang sedang terbuka karena perdebatan. Membuat mereka terdiam saat itu juga.
"Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi kurasa hanya masalah yang sepele," Luna melirik Harry yang meringis, Blaise yang menyengir, dan Theo yang menyeringai. "Makan pagi sebentar lagi akan dilaksanakan dan guru-guru sebentar lagi akan datang. Kejadian seperti ini justru membuat kalian cocok di mataku—"
"LUNA!"
"LOVEGOOD!"
Kedua seruan bersamaan itu membuat Luna menaikkan alis namun tetap melanjutkan ucapannya seolah tak terjadi apa-apa. "—sebenarnya. Jika kalian ingin melanjutkan 'ucapan mesra' kalian, lakukanlah setelah sarapan, setidaknya isi lah perut kalian agar kalian bisa lebih terkontrol. Namun satu saranku..."
Hampir semua yang ada di Aula Besar terdiam, ingin menyimak saran apa yang akan diberikan Luna pada dua orang pembuat keributan ini.
"...cobalah sekali-kali bersihkan Wrackspurt dan Nargles dari kepala kalian. Aku melihat cukup banyak mengitari kalian."
Mereka semua mendengus. Luna tetaplah Luna. Gadis cantik dengan segala keanehan yang dimilikinya. Dia memang sudah tak memakai anting lobak dan kalung butterbeer lagi semenjak akhir tahun ke-6 —itu karena dia merasa hal itu tak terlalu berguna membasmi Wrackspurt atau Nargles—, bahkan banyak cowok yang mengejarnya karena dia jauh lebih cantik tahun ini, namun opini-nya tentang makhluk-makhluk aneh semakin menjadi.
Setelah mengatakan itu, Luna berniat melangkahkan kaki ke meja Ravenclaw. Namun Hermione menahan tangannya. "Makan di meja Gryffindor, Luna. Sebagai permintaan maafku."
Luna mengangguk mendengar ucapan Hermione. Jadi dia, Hermione, dan juga Harry melangkah menuju meja Gryffindor. Sementara para Slytherin —Blaise, Draco, dan Theo— kembali ke meja mereka. Blaise menoleh dan mengucapkan 'terima kasih' tanpa suara, dan dibalas Luna dengan senyum menawannya.
"Jadi bisa ceritakan ada apa?" tanya Luna. Hermione mengalihkan pandangan ke arah lain saat mendengar Luna berbicara.
"Sebenarnya seperti yang kau bilang, hanya masalah sepele —err, mungkin tidak sekedar 'sepele'. Mereka saling bertabrakan sehingga tanpa sadar berciuman," Akhirnya Harry yang bercerita karena Hermione tak kunjung membuka mulutnya.
"Bukan masalah sepele, Harry," tanggap Hermione memulai. "Itu ciuman pertamaku dan direbut oleh musang pirang albino itu!" Hermione memandang meja sebrang, untuk melihat Draco yang ternyata sedang melihatnya juga. Hermione segera memotong steak di depannya mengerikan, membuat Luna dan Harry meringis.
"Halo, kami datang," Ron dan Lavender segera menempati posisi di dekat Luna. "Hai Luna, selamat datang di meja Gryffindor."
Kedatangan Ron dan Lavender membuat mereka menghentikan percakapan mereka tentang 'kejadian tadi', yang membuat Hermione diam-diam bersyukur. Dia tak ingin terlihat menyedihkan.
Diam-diam Hermione melirik Harry yang balas meliriknya, mereka saling tersenyum penuh arti satu sama lain.
Sementara Luna mengawasi Hermione dan Harry dengan mata biru cemerlang-nya yang saat ini berkilat-kilat.
Krrsk! Krrsk!
"Kau sedang apa, Blaise?"
"Astaga! Kaget aku!" Blaise berseru kaget saat melihat Luna berdiri di depannya diatas Menara Astronomi ini. "Aku ingin menemuimu, Luna. Jadi aku sengaja bersikap seperti ini."
Luna hanya tersenyum saat Blaise kemudian duduk di sampingnya mengamati rembulan dari atas Menara Astronomi.
"Entah kenapa menghabiskan malam bersamamu di Menara Astronomi sudah merupakan kegiatan wajibku ketika terbangun tengah malam. Seperti ada alarm yang membangunkanku dari tidur lelapku saat tengah malam, hanya untuk bertemu denganmu," Blaise tidak berbohong, entah kenapa setiap tengah malam dia selalu terbangun, seakan ada yang mengingatkannya.
"Sejak dulu, selama berada di Hogwarts, aku selalu kesini jika tak bisa tidur di tengah malam," Luna bercerita tanpa diminta. Mata biru-nya memandang langit penuh bintang dengan senyum. "Mungkin saja kita memang mempunyai kebiasaan yang sama," tanggap Luna dengan positif.
"Mungkin," Blaise menoleh ke arah Luna, tersenyum. Benar-benar tersenyum, bukan menyeringai seperti yang biasa dia lakukan.
Melihat itu, Luna ikut menoleh sambil tersenyum ke arah Blaise, membuat mereka saling bertatapan. Karena begitulah mereka bisa berkomunikasi, hanya setiap malam. Namun setiap malam yang indah, dipenuhi taburan bintang dan obrolan akrab menyelinginya.
Begitulah mereka menghabiskan malam selama lebih dari dua bulan ini.
Rasanya aneh bila Blaise mengingat hal ini. Mengingat pertemuan pertama mereka yang tanpa kesan samasekali, setidaknya menurut Luna. Namun memiliki arti untuk Blaise. Pertemuan yang terjadi jauh sebelum dia memasuki Hogwarts.
~ Unexpected Love ~
[flashback ON]
BRUK!
Seorang anak kira-kira berusia sebelas tahun terjatuh dengan beberapa barang bawaannya. Sementara anak itu mengumpulkan barang-barang kebutuhannya nanti di Hogwarts, orang-orang tetap berlalu lalang tanpa mempedulikan anak itu.
Namun ternyata tak semuanya. Karena ada seorang anak perempuan yang membantu mengambil tongkatnya yang menggelinding agak jauh darinya dan menghampiri anak laki-laki itu lalu mengulurkan tongkat itu begitu sudah cukup dekat dengan anak itu.
"Tongkatmu," kata anak perempuan itu agak malu-malu sambil mengulurkan tongkat kepunyaan anak laki-laki itu.
Blaise —nama anak itu— menatap tongkat yang baru saja dibelinya untuk bersekolah di Hogwarts minggu depan. Lalu beralih menatap sang pengulur tongkat. Dan saat itu Blaise terpana. Gadis yang mengulurkan tongkat padanya adalah gadis tercantik yang pernah Blaise lihat. Kulitnya putih walaupun agak pucat, rambutnya pirang sebahu dan berkilau terkena matahari, bibir mungil, mata bulat berwarna biru laut dengan bulu mata lentik yang berkedip-kedip menatap Blaise, dan juga —yang paling Blaise ingat— anting lobak mungil yang membuat penampilan anak itu terlihat cute.
Blaise yang menyadari anak itu menggaruk tengkuknya canggung karena ulurannya tak kunjung diterima, segera menerima tongkat baru miliknya yang diulurkan anak itu. "Ah, terima kasih."
Gadis kecil itu tersenyum —dan Blaise merasa dunia berkecamuk— lalu berkata, "Kamu pasti akan berangkat ke Hogwarts, ya? Aku juga ingiiiin sekali kesana. Wrackspurt dan Nargles sering menceritakan bahwa Hogwarts sangaaaat indah, aku kan penasaran. Namun sayangnya aku tak bisa," Gadis kecil itu memanyunkan bibir dengan wajah lucunya yang membuat Blaise tanpa sadar tersenyum.
"Kenapa tak bisa?" tanggap Blaise sambil mati-matian menahan senyum lebarnya yang ingin terbit melihat kepolosan anak itu.
"Karena aku masih belum cukup umur untuk kesana, tahun depan nanti baru umurku genap sebelas tahun. Namun kata ayah aku harus menyingkirkan Wrackspurt dan Nargles yang mengitari kepalaku agar aku bisa mendapat surat untuk bersekolah di Hogwarts," Gadis itu menunduk untuk membandingkan pertumbuhan fisiknya dengan Blaise, lalu kembali mendongak. "Tapi tak apa. Aku masih bisa mengunjungi pasar ini dan melihat para calon murid yang mempersiapkan peralatan ke Hogwarts dengan orangtuanya. Aku sampai hafal barang-barang yang ingin mereka bawa," Gadis itu tertawa kecil, membuat Blaise ikut tersenyum. "Tapi, dimana orangtuamu?"
Senyum Blaise memudar. Dia melirik ke arah gadis yang mengedip-ngedipkan matanya ingin tahu, membuat Blaise menyadari bahwa anak itu tak bermaksud menyinggungnya. "Ayahku sudah meninggal. Sementara ibuku sedang ada suatu pekerjaan dan tidak bisa menemaniku," Blaise berusaha tersenyum menghibur dirinya sendiri. Namun dia cukup kaget saat menyadari ada tangan putih mungil menggenggam tangannya.
Blaise menatap gadis di depannya yang sekarang membulatkan matanya penuh simpati.
"Aku minta maaf telah menanyakan itu. Aku juga sendiri kemari kok. Setidaknya kau bukan satu-satunya yang ke Diagon Alley ini sendirian. Jadi kau tenang saja ya," Gadis itu menyelipkan bunga mawar putih ke tangan Blaise — yang tadinya hendak diberikan pada ayahnya sebagai bukti bahwa dirinya bisa ke pasar sendiri. Namun dia tahu kalau laki-laki di depannya ini lebih membutuhkan bunga ini daripada ayahnya, lagipula beliau percaya padanya.
Blaise menggenggam bunga itu dengan wajah kosong. Sementara gadis itu melepaskan tangannya dari Blaise dan hendak pergi sebelum Blaise menarik tangannya. "Siapa namamu?"
Gadis itu tersenyum sebelum menyebutkan namanya, "Kau bisa memanggilku Luna."
Dan gadis itu melepaskan cekalan Blaise di tangannya dan pergi. Tanpa menyadari Blaise yang memandangi bunga mawar putih dan siluet dirinya —yang semakin lama semakin mengecil dan hilang— bergantian dan bergumam, "Luna..."
~oOo~
Satu tahun kemudian...
Blaise menatap bunga mawar putih terakhir kali di kamarnya sebelum kemudian pergi menuju King's Cross dengan wajah ceria. Dia tahu ini adalah saat dimana Luna —gadis yang ditemuinya setahun lalu— memasuki Hogwarts. Dan dia pasti akan melakukan perjalanan dengan Hogwarts Express.
Dan itu berarti... Blaise akan berjumpa lagi dengan gadis itu!
Pemikiran inilah yang membuat Blaise bersemangat menuju Stasiun King's Cross hari ini. Sehingga tanpa sadar dia sudah berada di dinding menuju peron 9 3/4 dan melewatinya dengan ceria.
"Hi, Blaise!" Draco menyambutnya dengan mengulurkan high-five yang segera disambut Blaise.
"Hi, Draco! Dimana Theo?" tanya Blaise, sambil melangkah bersama Draco menuju Hogwarts Express.
"Dia akan menyusul katanya," jawab Draco singkat, matanya terlihat menerawang memikirkan sesuatu.
"Bagaimana kabar perempuan yang bertemu dirimu di Diagon Alley saat membeli perlengkapan setahun lalu?" tanya Blaise iseng.
"Aku sudah bertemu dengannya," Draco berdeham untuk mengurangi kegugupannya akan pertanyaan Blaise. "Tapi aku takkan memberitahumu," Lalu Draco membalikkan pertanyaan Blaise, "Lalu kabar gadis-paling-cantik-yang-kau-temui di Diagon Alley itu bagaimana?"
"Aku belum bertemu dengannya. Tapi aku pasti akan bertemu dengannya," jawab Blaise, berusaha tenang. "Dan aku juga takkan memberitahumu siapa gadis itu."
Draco merengut. Namun tak lama dia menunjuk sesuatu.
"Itu si Lovegood aneh," Ucapan Draco didepannya membuatnya menoleh ke arah yang ditunjuk Draco dan menyeringai, hal yang selalu dilakukannya bila Draco melontarkan sebuah pernyataan apapun. Dia melakukan ini bukan karena dia adalah salahsatu suruhan Draco, tapi karena ibunya yang memintanya untuk menjadi teman Draco sebaik mungkin. Untuk sekali ini saja Blaise akan menjadi anak penurut, lagipula Draco tak terlalu buruk.
"Siapa namanya?" tanggap Blaise singkat, sambil memandang profil gadis yang ditunjuk Draco dari belakang sekilas.
"Kalau tidak salah..." Draco agak ragu-ragu menjawabnya, namun dia tetap menjawabnya juga. "...Luna Lovegood."
Nama yang membuat Blaise menahan napas. Matanya segera mencari sosok wanita itu, sambil mengingat-ingat penampilannya setahun lalu. Berambut pirang, bermata biru laut yang bulat dengan bulu mata lentik, kulit putih yang agak pucat, dan... dan... anting lobak mungil yang menghiasi kedua telinganya.
Namun sosok itu masih membelakangi Blaise. Membuat Blaise berharap dengan cemas agar dia bisa menoleh ke belakang, sebentar. Agar Blaise dapat memastikan apakah itu 'Luna'-nya atau bukan.
"Luna..." Blaise bergumam lirih, agak putus asa.
Dan harapannya terkabul. Gadis itu bukan hanya sekedar menoleh ke belakang, namun juga tersenyum sambil berbicara tanpa suara, 'Wrackspurt dan Nargles tidak ada disekitarku!'
Dengan napas terengah, Blaise tertawa kecil. Pada akhirnya Blaise berhasil menemukan 'Luna'-nya.
Dan Blaise lega karena 'Luna'-nya ke asrama yang netral, Ravenclaw. Jika dia bisa masuk Slytherin, mungkin Blaise akan selalu terlihat gugup setiap saat. Sementara jika memasuki asrama singa —Gryffindor, Blaise yakin tak akan sanggup memusuhi Luna, termasuk asramanya, dan juga tak akan sanggup menimpali kata-kata Draco untuk mengejek Gryffindor lagi. Namun Blaise samasekali tak memikirkan bila Luna masuk Hufflepuff, karena dia tahu itu tak mungkin terjadi. Luna terlalu pendiam, terlalu cerdas, terlalu pemalu, dan banyak terlalu terlalu yang lain di pikiran Blaise sehingga Blaise tentu saja tak akan memikirkan kemungkinan asrama ini akan di tempati oleh Luna nantinya.
Luna yang baru dia tahu bernama Luna Lovegood.
~ Unexpected Love ~
[flashback OFF]
"Aku selalu berpikir bahwa Malfoy dan Hermione itu cocok," Ucapan Luna membuat Blaise membuyarkan seluruh nostalgia-nya.
"Oh ya? Kenapa?" tanya Blaise.
Luna menoleh ke arah Blaise yang sedang menatapnya bingung sekaligus penasaran. "Entah hanya perasaanku atau tidak, tapi tatapan mereka berbeda satu sama lain."
Tapi kau tak pernah memakai perasaanmu saat bersamaku, Luna, kau tak pernah tahu aku menyukaimu. Blaise ingin sekali mengatakan itu, namun tunggu sampai dia gila dulu baru dia akan mengatakannya. Bodoh saja jika dia sudah seakrab ini dengan Luna dan dia mengacaukannya hanya dengan satu kalimat. Jadi dia hanya mengangkat bahu sambil mengatakan, "Entahlah. Aku tak pernah memperhatikan mereka. Mungkin aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri."
Namun anehnya, tak lama Luna kembali menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Dan lagi-lagi mereka melewati malam itu hanya dengan tatapan dan beberapa obrolan. Tanpa ada satu pun dari mereka yang menyatakan perasaannya.
Padahal mereka tak tahu apa yang akan terjadi besok...
Unexpected Love
Blaise melangkah menuju Aula Besar dengan langkah tertatih-tatih karena agak mengantuk. Membuat Draco dan Theo di belakangnya berjaga-jaga bila Blaise tiba-tiba tertidur dan jatuh. Blaise menyalahkan dirinya karena sampai sekarang dia belum melakukan sesuatu yang membuat Luna menyadari dia menyukainya. Entah kenapa Blaise merasa seperti seorang perempuan yang digantungin. Hanya saja, bedanya, Blaise yang harus memberi kode tak tahu apakah Luna tertarik padanya atau tidak? Luna benar-benar tak bisa ditebak. Kan tidak lucu bila dia memberi kode tapi Luna samasekali tak menggubris lalu menjauh?
Katakan Blaise cemen, payah, tidak gentle, atau semacamnya. Tapi sebenarnya Blaise hanya takut bila Luna tiba-tiba menjauh. Hanya itu.
Akhirnya mereka bertiga sampai ke meja Slytherin dan segera mengambil tempat masing-masing.
"Apa yang terjadi pada kalian kemarin? Aku samasekali tak melihat kalian berdua kemarin!" seru Theo, pada Blaise dan Draco yang saling berpandangan, menimbang-nimbang apakah ingin menjawab atau tidak.
"Kemarin ada tugas untuk membuat ramuan," Draco memilih menjawab pertanyaan Theo. "Dan sialnya aku kedapatan kelompok bersama Potter dan Granger. Mereka sangat menyebalkan. Aku tahu aku memang jenius ramuan, tapi aku juga perlu bantuan mereka kan pastinya?! Bukannya membantuku, mereka malah bercanda ria seakan aku tak ada!" Draco menggebrak meja saking kesalnya, membuat beberapa anak tahun kedua terkaget-kaget lalu menatap Draco takut-takut, yang dibalas Draco dengan tatapan tajam.
Mendengar ini, Blaise dan Theo berpandangan sambil tersenyum miring.
"Kurasa kau cemburu, 'mate!" ucap Blaise pada Draco, disertai seringai jahilnya. Namun tak ayal, mata hazelnya melirik ke meja Ravenclaw hanya untuk mendapati Luna duduk membelakanginya.
"Kau tak ada niat lain, Draco?" tanya Theo, memancing. Setelah tahu bahwa Draco menatapnya bingung, Theo melanjutkan, "Maksudku Granger kan sangat cantik, banyak yang menyukainya dan ingin mengencani—"
"Tidak!" Draco menyela Theo, namun matanya memandang Hermione —yang memang sudah sangat cantik dengan rambutnya yang indah sekarang, entah dia melakukan apa pada rambutnya— dengan tatapan aneh ketika gadis itu terlihat tertawa bersama Harry Potter. "Aku tidak akan membiarkan dia mendapat pacar! Biar si berang-berang itu tahu rasa, biar dia —hei, Blaise! Bukankah itu burung hantu keluargamu?"
Blaise mengikuti arah yang ditunjukkan Draco dan mengangguk heran. Dia mengernyitkan dahinya saat menerima surat yang diantarkan burung hantu itu. Blaise melirik sekilas nama pengirimnya dan kembali terkejut, ternyata pengirimnya ibunya. Yang membuatnya menaikkan alis, ibunya merupakan orang yang jarang mengirim surat. Beliau lebih memilih pembicaraan face to face karena katanya surat masih bisa di sabotase.
"Dari ibumu ya, Blaise?" tebak Theo saat melihat raut sahabatnya.
"Yeah, surprise," ucap Blaise tak bersemangat. Karena jika sang ibu mengirim surat padanya, biasanya ada suatu hal mendesak yang harus segera Blaise tahu. Dan kebanyakan hal itu menyebalkan —setidaknya menurut Blaise.
Tanpa membaca surat itu terlebih dulu, Blaise malah memantrai surat itu agar segera tersimpan di lemari kamarnya. Membuat Theo dan Draco melirik Blaise dengan heran.
"Kau tak mau membacanya?" tanya Draco.
"Tak berminat," jawab Blaise singkat. "Kalian pelajaran apa nanti?"
"Astronomi bersama Hufflepuff, kau Blaise?" Theo balik bertanya.
"Herbologi, entah bersama asrama mana."
Jawaban Blaise membuat Draco menyeringai. "Kita mengambil mata pelajaran yang sama Blaise! Herbologi gabungan bersama Ravenclaw."
Mendengar nama asrama Luna disebut, membuat Blaise membalas seringaian Draco.
~oOo~
"Jadi cepat kerjakan sekarang!" Profesor Sprout memberikan perintah mengerjakan setelah beberapa menit sebelumnya menjelaskan apa yang harus para muridnya kerjakan.
Cukup mudah. Setiap kelompok yang terdiri dari dua orang dengan asrama berbeda itu hanya harus memindahkan bayi Mandrake ke pot yang baru, menanamnya kembali, dan memberikan ramuan yang dibutuhkan.
Blaise dan Luna —yang sudah memakai penutup telinga— yang sejak tadi hanya saling menatap sambil tersenyum mulai bekerja.
Blaise memberi aba-aba pada Luna bahwa dia akan mencabut Mandrake, membuat Luna segera menyiapkan pot tempat menaruh Mandrake yang baru. Sambil tersenyum akan kesigapan Luna, Blaise menarik keluar Mandrake dan segera memasukkannya ke pot yang disiapkan Luna.
Setelah Mandrake —yang sedang menggeliat— tersebut masuk ke dalam pot, Luna dan Blaise segera menimbunnya dengan tanah yang tersedia di samping mereka. Luna melanjutkan menimbun Mandrake dengan tanah begitu Blaise memberi aba-aba dia akan menyiapkan ramuan yang dibutuhkan Mandrake untuk berkembang. Blaise selesai menyiapkan ramuan bertepatan dengan Luna yang sudah selesai menimbun Mandrake sehingga terkubur dengan rapi.
Luna mengambil ramuan dari tangan Blaise dan mulai menuangkannya, Blaise yang menyadari hal ini segera mengambil botol berisi air. Jadi tepat ketika Luna selesai menuangkan ramuan, Blaise segera menuangkan air ke pot tersebut. Luna segera memotong perkamen dan menamainya dengan nama mereka beserta kelas dan asrama, lalu menaruhnya di depan dahan Mandrake.
Selesai.
Sambil menyeka dahi mereka dengan punggung tangan, Blaise dan Luna mengalihkan perhatian ke sekeliling mereka. Draco yang kali ini berpasangan dengan Cho Chang terlihat agak kesal dan kerepotan, sementara Cho hanya menunduk. Well, Harry Potter tak akan senang melihat ini. Begitu menyadari baru mereka-lah yang selesai, Blaise dan Luna saling melemparkan cengiran penuh arti.
Baru saja ingin mengamati kelompok yang lain, dia dikejutkan oleh perkamen yang terdorong ke arahnya. Blaise melirik orang yang mendorongnya. Sudah jelas itu dari Luna.
Kau tahu, Blaise? Aku melihat Cho dikelilingi oleh banyak Wrackspurt dan Nargles. Mungkin karena aura menyedihkan yang sedang mengelilingi dirinya? – Luna
Menyadari kesempatan yang tak akan terulang lagi, Blaise segera membalasnya.
Oh ya? Kenapa, Luna? – Blaise
Sudah jelas. Kau tak mendengar kabar bahwa Hermione dan Harry jadian, Blaise? – Luna
Apa? Aku sama sekali belum mendengar itu! – Blaise
Oh? Atau baru aku yang mendengarnya dari Wrackspurt atau Nargles? Entahlah. Tetapi yang jelas mereka sudah jadian. Aku yakin siang nanti semua di Aula Besar akan heboh dengan berita ini. – Luna
Apa? Bukankah mereka sahabat? Lalu, kenapa...? – Blaise
Persahabatan bisa berubah, Blaise. – Luna
Mereka melanjutkan percakapan dengan cara seperti itu sampai Profesor Sprout memberikan aba-aba pada mereka untuk melepas penutup telinga.
"Oke, murid-murid. Bagus. Aku melihat kalian semakin baik menangani Mandrake. Namun aku harus menambahkan 10 poin masing-masing untuk Ravenclaw dan Slytherin, Miss Lovegood dan Mr. Zabini sudah menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat dan paling terorganisir, terima kasih untuk kalian berdua, walaupun setelah itu kalian entah-melakukan-apa namun anggap saja aku tak melihatnya—" Blaise dan Luna tahu maksudnya adalah percakapan melalui perkamen —yang omong-omong sudah dimusnahkan Blaise— barusan. "—Kalau begitu kelas hari ini selesai dan... selamat siang."
Profesor Sprout segera keluar diikuti murid-murid sambil berbincang tentang pelajaran tadi —terutama Ravenclaw. Blaise memiliki kegiatan lain lagi.
"Luna!" Panggilan Blaise membuat Luna mengurungkan langkah menjauh dari samping Blaise. "Aku mau bicara sesu—"
"Blaise!" panggil Draco, namun kali ini nadanya berbeda. Nada Draco kali ini menyiratkan bahwa dia sedang marah, membuat Blaise serba salah apakah ingin langsung menghampiri Draco menghibur hatinya atau melanjutkan apa yang ingin dia bicarakan pada Luna.
Namun Blaise tak perlu khawatir karena Luna menggenggam tangannya dan tersenyum pengertian. "Kau tahu perasaan Draco, Blaise. Kita bisa bertemu nanti malam."
Setelah mengatakan itu, Luna melangkah keluar mengikuti murid-murid lain yang sedang lebih dulu keluar. Dan Blaise segera menghampiri Draco. Sebelum bertanya apa yang terjadi pada sahabatnya yang satu itu, Draco sudah berkata, "Jangan bertanya apapun, Blaise. Perasaanku sedang tak enak sekarang."
~oOo~
Blaise merebahkan diri ke kasur empuknya di asrama Slytherin. Teman sekamarnya, Theo, belum juga datang. Mungkin dia masih memastikan kebenaran tentang berita jadiannya Harry dengan Hermione?
Tersenyum miris, Blaise menyusuri memori tentang kisah cinta kedua sahabatnya. Dia tahu kalau Draco sebenarnya menyukai Hermione —terlihat jelas dari tingkahnya, hanya saja Draco masih menyangkalnya. Sementara Theo... Blaise tahu bahwa dia sudah menyukai Hermione sejak tahun keempat mereka, tepatnya di pesta Yule Ball, ketika Hermione tampil cantik sekali malam itu. Walaupun terlihat bercanda akan perasaannya dengan Hermione, tapi Blaise tahu bahwa Theo serius. Dia hanya mengalah pada Draco, memberikan jalan pada sahabat mereka untuk mendekati Hermione. Namun Blaise tahu, jika Draco tak segera memanfaatkan hal itu, Theo akan menjadi salahsatu batu sandungannya untuk bersatu dengan Hermione.
Menghela napas, Blaise berusaha melupakan kisah cinta kedua sahabatnya yang memusingkan bila dipikirkan lebih lanjut.
Tak seperti percintaan kedua temannya yang lebih dikenal dengan sebutan cinta segitiga, percintaan Blaise akan terdengar jauh lebih simple bila dibandingkan dua orang itu. Namun masalahnya, Blaise tak tahu apakah Luna mencintainya atau tidak. Karena Blaise sadar perasaannya pada Luna bukan lagi sekedar suka, namun cinta.
Pemuda Slytherin itu pernah membaca salahsatu buku muggle yang diambilnya secara random di Flourish and Blotts —yah, semenjak kasta darah penyihir disamaratakan, toko buku penyihir itu juga menjual beberapa buku muggle— bahwa ada beberapa cara menyatakan cinta yang biasa dilakukan muggle. Yang pertama, secara langsung —Blaise tentu langsung mengerti kenapa cara ini disebut 'secara langsung'— dengan ungkapan atau kata-kata. Dan cara kedua, dengan perantara. Seperti misalnya, surat. Muggle mengenal surat ini dengan sebutan 'surat cinta'.
Blaise mengedip-ngedipkan mata teringat sesuatu. Omong-omong soal surat, dia baru ingat surat yang dikirimkan ibunya, Lady-Zabini-yang-anggun-dan-terhormat. Blaise membatin sarkastik dalam hati.
Dengan gerakan malas, Blaise mengayunkan tongkat sehingga membuat surat yang sudah dia simpan di lemari kamarnya itu terbang menuju dirinya. Blaise membuka emblem dengan lambang keluarga Zabini disana, lalu membacanya dengan malas, sebelum kemudian membelalak.
Dear Blaise Zabini,
Karena kau sebentar lagi akan lulus, aku akan menjodohkanmu dengan salahsatu Darah Murni yang kupilih. Datanglah ke Hogsmeade minggu depan dan temui aku di Three Broomstick jam 10.00, Blaise.
Jangan langsung menolak tanpa melihat calonmu ya, Blaise! Kutunggu kedatanganmu!
I'm always yours,
Cellia Zabini
Menggeram karena membaca kata-kata yang tak ingin di baca, Blaise segera menggulung perkamen dengan cepat dan memasukkannya lagi ke lemari.
Untuk mengatasi kedongkolan akan tingkah ibunya yang menyebalkan, Blaise memilih untuk memejamkan mata, berusaha mengendurkan otot pikirannya yang barusan mengencang karena ulah sang ibu.
~oOo~
"Sudahlah, Gin, cowok bukan hanya Harry. Suasana hatimu saat ini hanya karena pengaruh dengan banyaknya Wrackspurt di kepalamu. Nanti juga kau akan tenang seiring menemukan yang baru," hibur Luna pada Ginny.
Sambil tersedu-sedu, gadis berambut merah putri tunggal klan Weasley itu hanya menyahut, "Memang bukan hanya Harry pria satu-satunya di dunia ini, tapi..."
Ginny —yang saat makan malam ini lebih memilih makan di meja Ravenclaw— menatap Harry dan Hermione yang sedang saling berbisik dengan jarak yang sangat dekat dengan tatapan hampa. "...hanya Harry yang aku inginkan. Aku tak pernah menyalahkan Harry atau Hermione. Aku menyalahkan diriku sendiri yang memang tak pernah bisa menarik perhatian Harry. Aku tak secantik Cho Chang, aku tidak secerdas Hermione Granger, aku merasa aku memang bukanlah cewek yang ditakdirkan untuk Harry!"
"Ginny, apa ada hal yang Harry sampaikan padamu sebelum berita tentang mereka menyebar? Atau apa ada yang dikatakan Hermione?" tanya Luna hati-hati. Sahabatnya ini sedang dalam keadaan emosional.
Menatap Luna dengan tatapan aneh, Ginny menyelami memori-memori sebelum berita tidak mengenakkan itu terdengar. Begitu menemukan sesuatu, Ginny membelalak, dia terlalu fokus dengan kesedihan sehingga melupakan sesuatu. "Kau benar, Luna. Harry dan Hermione mengatakan sesuatu padaku. Hal yang sempat terlupakan karena perasaan sedih yang menderaku."
"Apa itu, Gin?" Luna mendekat untuk mendengar dengan jelas apa yang akan Ginny katakan.
"Semula aku benar-benar tidak mengerti apa yang mereka katakan. Tapi aku masih mengingat dengan jelas apa yang mereka katakan..." Dan Ginny mulai menceritakan apa yang disampaikan Harry dan Hermione padanya tepat di hari sebelum berita itu terdengar.
Luna mendengarkan dengan seksama. Walaupun sering dianggap ngawur, dia tetaplah seorang Ravenclaw yang cerdas. Gadis berkulit putih pucat ini menyadari ada sesuatu yang terjadi, dan seiring dengan cerita Ginny, Luna mulai memahami apa yang terjadi.
"Oh ya, Luna. Bagaimana kabar Zabini?" tanya Ginny, sambil mencari-cari sosok yang selama ini selalu memperhatikan Luna. Namun sayangnya sosok itu tak terlihat di meja Slytherin sekalipun. "Aku terkadang merasa bahwa dia benar-benar menyukaimu, Luna."
Mendengar itu, Luna hanya menghela napas. Dia teringat sesuatu. "Entahlah, Gin. Terkadang aku merasa bahwa Blaise tak boleh menyukaiku."
~oOo~
Menggigil kedinginan, Luna menambah dosis ekstra untuk Mantra Penghangat yang saat ini melapisi tubuh rampingnya. Suasana dingin di Menara Astronomi membuatnya tidak nyaman, tapi Luna harus melakukan ini.
Dia ingin menyampaikan sesuatu pada Blaise.
Mencoba untuk menunggu, Luna melayangkan pikirannya ke masa dimana pertama kali pertemuan di Hogwarts dan pada akhirnya rutin menyambangi Menara Astronomi hanya untuk saling berbincang.
~ Unexpected Love ~
[flashback ON]
Tahun pertama Luna Lovegood ; Tahun kedua Blaise Zabini
"Dimana buku itu ya?" gumam Luna sambil mengelilingi perpustakaan untuk menemukan buku yang dia cari.
Saat ini Luna sedang mencari buku favoritnya, 'Hewan-hewan Fantastis dan Dimana Mereka Bisa Ditemukan' karangan Newt Scamander. Kendati buku itu merupakan salahsatu buku pelajaran dan Luna sudah membelinya, namun —seperti kebanyakan barang Luna— buku itu tiba-tiba hilang secara misterius. Tetapi Luna membutuhkan buku itu sekarang karena besok adalah pelajaran yang memerlukan buku itu.
"Ah, itu dia!" seru Luna begitu melihat cover samping buku karangan Newt Scamander itu. Luna sangat menyukai buku itu sampai-sampai sampul depannya saja dia hapal.
Namun Luna melongo. Letak buku itu tinggi, memang sih tidak terlalu tinggi, namun cukup membuat Luna tak bisa menjangkau buku itu.
Luna berdecak pelan. Disaat seperti ini dia melupakan tongkat sihirnya.
Apa aku harus kembali dulu ke asrama? Tapi..., Luna membatin ragu begitu setelah dia melihat sekeliling sama sekali tak ada yang bisa membantunya.
Namun ternyata Luna tak perlu kembali, karena sudah ada seseorang yang mengambilkan buku itu untuknya.
Mendongak untuk melihat siapa penolongnya, Luna tertegun. Sejenak dirinya merasa Wrackspurt dan Nargles mengitarinya saat dia melihat cowok yang menolongnya.
Blaise Zabini. Kakak kelas sekaligus sahabat Draco Malfoy, musuh bebuyutan Harry Potter.
"Ah, t-terima kasih," Akhirnya Luna menemukan kembali suaranya untuk mengucapkan terima kasih secara layak pada Blaise karena telah menolongnya.
Entah itu memang kenyataan atau Luna —yang saat ini merasa dikelilingi Wrackspurt dan Nargles— sedang berhalusinasi, dia melihat mata kelam Blaise berbinar mendengar ucapan Luna. Kelihatannya dia ingin mengatakan banyak hal, namun suara yang memanggilnya membuatnya mengurungkan hal itu.
Akhirnya, Blaise hanya mengangguk singkat pada Luna yang dibalas dengan anggukan kaku Luna, sebelum pergi meninggalkan Luna yang masih terbengong-bengong.
~oOo~
Beberapa minggu yang lalu...
Luna tidak terlalu tahu apa yang terjadi padanya waktu itu, karena begitu membuka mata wajah Blaise sudah berada tak jauh di depannya, dan lebih mencengangkannya lagi, tangan Blaise setengah memeluknya.
"Ada apa denganmu? Apa yang merasukimu untuk meloncat dari Menara Astronomi?"
"Apa?" Walaupun nada Luna terdengar kalem, namun sebenarnya dia terkejut. Luna menatap sekeliling dan menyadari dengan tercengang dia berada tak jauh di lubang Menara Astronomi. "Oh, ini hanya kebiasaan tidurku."
"Kebiasaan tidur?" Blaise Zabini menaikkan alis.
"Kau tahu, ketika aku tidur terkadang aku tanpa sadar, mmm... berjalan-jalan? Yah, seperti itulah," jelas Luna dengan agak —dia tidak tahu kenapa dia merasa— malu.
Mengedip-ngedipkan mata, mulut Blaise terlihat agak terbuka mendengar penjelasan Luna. Yang langsung mengindikasikan bahwa dia agak tercengang dengan penjelasan Luna.
"Duduklah," Blaise mendudukkan Luna. Lalu ikut duduk disampingnya.
Berdua, mereka mengamati bintang yang bersinar terang di angkasa. Indahnya malam yang terkadang mereka lupakan. Tanpa percakapan, tanpa kata-kata. Hanya saling berusaha memahami perasaan mereka masing-masing.
Sampai...
"Aku juga punya kebiasaan tidur. Hanya saja kurasa lebih 'normal' daripada dirimu. Kebiasaan untuk melawan ketika aku merasakan sentuhan fisik saat aku tidur. Jadi aku punya pertahanan diri saat tidur," kata Blaise, memulai percakapan mereka.
"Kurasa itu bagus. Tak ada yang bisa melukaimu saat tidur setidaknya, kan?" sahut Luna dengan suara melamunnya yang khas.
Namun, walaupun terkadang mereka berhasil membuka beberapa percakapan, tetap saja rasanya keheningan lebih menyenangkan. Dan itulah awal dimana mereka rutin menyambangi Menara Astronomi.
~ Unexpected Love ~
[flashback OFF]
Mengamati bintang di langit, walaupun sudah menunggu sekian lama, Luna masih menunggu Blaise dengan setia. Dia ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada Blaise dan rasanya berita ini tak bisa menunggu besok.
Kepala Asrama Ravenclaw —Profesor Flitwick— akan mengadakan Penambahan Materi seputar NEWT khusus untuk kelas 7 dan Penambahan Materi untuk OWL's khusus untuk kelas 6 —kelas Luna— besok. Yang berarti, Luna tak akan punya waktu lagi untuk berbincang bersama Blaise setiap malam seperti kebiasaan mereka.
Jadi, Luna tak akan bisa menyampaikan hal ini besok. Mengingat asrama yang berbeda serta kelas yang juga berbeda membuat mereka akan sulit untuk bertemu. Hell, kecuali kalau ada kelas gabungan seperti tadi siang —di pelajaran Profesor Sprout. Tapi sepertinya tak akan ada lagi kelas seperti itu.
Lagipula dia tak pernah tahu akan kemana Blaise setelah lulus nanti. Obrolan mereka belum terlalu akrab sehingga bisa membicarakan seputar masa depan pribadi.
"Blaise, datanglah. Mungkin saja saat ini adalah terakhir kita bisa bercakap-cakap," desah Luna.
Unexpected Love
Menghela napas, Blaise mengacak rambutnya gelisah. Dia tak menemui Luna tadi malam, hal yang biasa dilakukannya akhir-akhir ini.
Sungguh, Blaise tak tahu bagaimana caranya menemui Luna tanpa mengungkapkan bahwa dirinya telah terikat perjodohan oleh ibunya. NEWT tinggal menunggu hitungan minggu dan Pesta Kelulusan akan diadakan tidak lama setelah NEWT. Itulah saat terakhir dia bisa melihat Luna di Hogwarts!
Rasanya Blaise tak sanggup menatap wajah cantik Luna tanpa disusupi perasaan ingin memiliki dari dalam hatinya. Walaupun dalam hati dia merasa bersalah karena tidak bisa menemani Luna lagi di Menara Astronomi, namun dia harus memilih ini.
Dia mencintai Luna, namun dia tahu kalau Luna tak akan bisa bahagia bila bersamanya...
Berjalan menuju Aula Besar, Blaise menempati kursi bagian tengah yang sengaja di-booking kedua sahabatnya —Draco yang sedang mengamati Meja Gryffindor dengan cemas dan Theo yang sedang membaca Daily Prophet— dan matanya tanpa bisa dihindari mencermati Meja Ravenclaw dan agak khawatir tidak menemukan Luna disana.
"Kau bangun telat? Ada apa, 'mate?" tanya Draco, tak mengalihkan matanya dari Harry dan Hermione yang sedang mengobrol akrab.
"Surat mom," Walaupun singkat, jawaban Blaise menjelaskan semuanya pada kedua sahabatnya. Sahabatnya tak pernah tahu masalahnya secara terperinci, namun mereka tahu kalau surat ibunya kebanyakan membuat Blaise murung.
"Yah, apa yang bisa kau harapkan dari surat ibumu?" gumam Theo. Blaise mengawasi dengan geli bahwa dibalik koran Daily Prophet yang sedang dibacanya, Theo juga mengawasi pergerakan Harry dan Hermione —yang sekarang sedang menggoda Harry dengan acar kodok.
"Jadi desas-desus itu benar?" tanya Blaise sambil mengambil sejumput kentang goreng.
"Apa?" tanya Draco galak, melihat Harry yang sedang mengusap sudut bibir Hermione yang belepotan minyak. Theo juga langsung meremas korannya dan membuangnya ke lantai Hogwarts, cowok yang pernah dikabarkan dekat dengan Daphne Greengrass ini melanjutkan makan dengan hati dongkol.
"Tentang Harry dan Hermione yang pacaran," lanjut Blaise sadis, menyembunyikan kekhawatiran tentang Luna yang belum kunjung terlihat batang hidungnya dengan menggoda dua sahabatnya.
"Melihat kelakuan mereka, mungkin itu benar. Aku tak akan kaget jika di pekan Hogsmead hari ini mereka akan pergi bersama," Theo mengedikkan bahu lemas. Dia memang menyembunyikan perasaannya dengan baik, namun jelas Theo tak bisa berbohong dari Blaise.
"Tidak, itu tidak benar," desis Draco, menghantam Hermione —yang walaupun tidak menyadarinya— dengan tatapan tajam. "Aku yakin."
"Bagaimana kalau kita habiskan pekan Hogsmead hari ini dengan berjalan-jalan bersama? Sudah lama kan, sejak terakhir kali kita melakukan kunjungan Hogsmead bersama-sama?" usul Blaise. Mengingat sepertinya mereka sama-sama sedang patah hati, dan Blaise butuh teman kesana untuk menemui ibunya.
Sejenak kedua temannya menatap bingung sebelum Draco akhirnya berkata, "Tidak buruk. Kurasa boleh juga. Lagipula tugas Ketua Murid-ku sudah selesai."
Dan Theo menanggapinya dengan, "Ayo kita berburu permen dan coklat di Honeydukes!"
~oOo~
"Jadi, Mother. Mana orang yang mau dijodohkan padaku itu?" tanya Blaise setelah duduk di depan ibunya yang masih saja memandangi interior Three Broomstick dengan tatapan mencela.
"Lihat, Blaise. Harusnya disebelah sana lebih baik didominasi oleh warna coklat pucat sehingga lebih kelihatan elegan," Bukannya menjawab pertanyaan putra semata wayangnya, Cellia Zabini malah menunjuk salahsatu sudut tempat minum sederhana itu dan mengomentarinya.
Melihat perilaku ibunya yang tak mengindahkannya sama sekali, Blaise menghela napas. Dia tahu bahwa akhir-akhir ini ibunya sangat menyukai desain interior, karena kesukaan ibunya itulah yang membuat Zabini Manor akhir-akhir ini terlihat lebih elegan daripada Malfoy Manor ataupun manor keluarga Pureblood yang lainnya, namun Blaise tak punya waktu untuk berbasa-basi mengingat dia mengendap-endap pergi dari Honeydukes ketika Draco dan Theo sibuk memburu banyak coklat dan permen untuk persediaan di asrama. Jadi Blaise memilih untuk berkata, "Mother, aku berbicara padamu!" Dengan ketegasan yang langsung membuat ibunya menolehkan kepala padanya.
"Katakan dimana wanita yang ingin kau jodohkan padaku atau aku akan membatalkan perjodohan sekarang juga!" sambung Blaise dengan nada yang sama tegasnya.
Menyeringai angkuh, wanita yang kecantikannya sudah tersohor ini menatap Blaise dengan santai. "Sayangnya dia tak bisa datang hari ini, Blaise. Dia masih belum siap bertemu denganmu."
"Kalau begitu aku membatalkan perjodohan itu," sahut Blaise singkat. Dia ingin melihat wanita itu sekarang juga karena dia ingin cepat-cepat membatalkan perjodohan.
"Kau tidak boleh melakukannya," Kali ini Lady Zabini yang berbicara dengan tegas. "Seperti perjanjian kita, kau tidak boleh membatalkan perjodohan sebelum kau bertemu dengan wanita itu!"
Blaise menyunggingkan seringai mengejek. "Perjanjian kita? Aku tak merasa pernah membuat perjanjian atau kesepakatan apapun denganmu, Mother. Itu hanya keputusan sepihakmu."
"Kalau begitu kau tidak boleh membatalkannya. Gadis itu sudah berjanji akan menemuimu bersamaku saat Pesta Kelulusanmu nanti," putus Lady Zabini sambil memalingkan wajah angkuh.
Dan Blaise tahu dia tidak akan bisa menolak keputusan ibunya.
~oOo~
Dengan lesu, Blaise melangkah menuju Honeydukes setengah hati. Walaupun sudah menduganya, Blaise samasekali tak menyangka dirinya benar-benar akan kembali ke Hogwarts dengan tangan hampa. Dia menatap toko permen yang didominasi dengan warna coklat lembut —warna yang cocok, menurut ibunya— dengan pandangan mata kosong.
Well, tentu dia tak bisa menceritakan ini pada kedua temannya, bukan?
Mata hitamnya yang kosong mendadak membelalak begitu melihat pemandangan di depan toko Honeydukes.
Siapa yang tidak terkejut melihat kedua teman yang baru saja dipikirkannya sedang saling terlibat baku hantam di gang samping Honeydukes.
Blaise melangkah dengan cepat menuju kedua temannya dan berseru, "Hei! Draco Malfoy! Theodore Nott! What's going on?!"
Seruan Blaise membuat kedua pemuda itu menoleh. Saling baku hantam memang kerap terjadi diantara mereka jika mereka sedang frustasi, persahabatan yang aneh memang. Tangan kekar Blaise baru saja ingin menghantamkan kedua kepala bebal sahabatnya, namun tangannya terhenti di udara begitu melihat tatapan mata mereka.
Tatapan yang berbeda. Mata hijau Theo serta mata abu-abu Draco berwarna lebih kelam dari biasanya. Dan Blaise baru menyadari bahwa udara sesak dipenuhi sihir pekat mereka berdua yang menarik-ulur dengan murka.
Tangan yang terhenti di udara segera digantikan dengan acungan tongkat sihir yang dengan efektif langsung memisahkan mereka dan membawa mereka keluar gang.
"Apa yang sebenarnya merasuki kalian?!" Blaise bertanya geram. Menatap tegas pada Theo yang sedang membersihkan ujung bibirnya yang berdarah dan Draco yang sedang menatap Theo tajam.
"Silahkan tanya pada sahabat kita, Blaise!" Setelah mengucapkan ucapan sinis itu, Draco langsung melangkah dengan tegas meninggalkan Honeydukes.
Mendengar itu, Blaise menaikkan alis dan menatap Theo menuntut. Namun Theo —yang masih berwajah keras— hanya menaikkan bahu dan ikut pergi, namun ke arah yang berlawanan dengan Draco.
Blaise menatap kepergian mereka berdua dengan bingung. Namun Blaise tahu pribadi kedua sahabatnya. Draco yang tenang dan sabar. Juga Theo yang semangat dan agak cerewet.
Bila Draco tiba-tiba kehilangan kesabaran dan Theo kehilangan minat untuk berbicara, Blaise tahu terjadi sesuatu. Dan sesuatu itu Blaise rasa bukanlah hal yang baik bagi persahabatan mereka.
~oOo~
"Ada apa, Blaise?" tanya Luna menjelang akhir pelajaran gabungan, mengetahui suasana hati Blaise yang murung di pelajaran Sejarah Sihir pagi ini. Mengabaikan Profesor Binns yang sedang menjelaskan tentang Perang Dunia.
Sebenarnya ini adalah pertama kali dalam pagi ini Luna berbicara pada Blaise. Dia marah karena Blaise sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya di Menara Astronomi malam itu. Dia ingin menghindari Blaise. Namun seperti tak mengerti suasana hatinya, Blaise datang dan langsung duduk disampingnya dengan wajah linglung. Membuat Luna mau tak mau melihat wajah mendungnya dan tak tahan untuk bertanya.
"Entahlah, Luna. Aku hanya merasa..." Blaise tidak melanjutkan kata-katanya, melainkan hanya menatap Theo —yang hanya mengangguk-angguk ketika Daphne Greengrass berbicara padanya— dan Draco —yang sedang menatap tongkat sihirnya yang dia letakkan di atas meja dengan tatapan kosong— dengan tatapan gelisah.
Sampai saat ini, Blaise belum mendapatkan keterangan apapun dari mereka berdua. Bahkan saat sarapan tadi pun, Theo sengaja pindah duduk di ujung meja —yang jauh dari jangkauannya— sementara Draco malah sama sekali tidak datang ke Aula Besar untuk sarapan.
Luna yang sepertinya mengerti apa yang terjadi berkata, "Kalau yang kau maksud kau mengkhawatirkan mereka, untuk sementara aku rasa biarkan mereka sendiri untuk menata perasaan dan amarah mereka. Pertengkaran memang wajar terjadi dalam setiap persahabatan, namun kusarankan agar kau tidak membiarkan ini berlarut-larut."
"Aku—"
"Sekarang, Blaise," sela Luna. "Tidakkah kau berpikir bahwa lebih baik kita membicarakan masalah kita?"
Perkataan Luna membuat Blaise langsung tersadar dengan langkah salahnya untuk duduk bersama Luna saat ini. Dia tahu bahwa Luna lama kelamaan akan bertanya soal ini. Namun dia menjawab dengan gugup, "K-kita tidak punya masalah, Luna."
"Kita punya, Blaise " Luna berkata tegas. Mata birunya menatap mata kelam Blaise. "Kenapa malam itu kau tidak datang ke Menara Astronomi, Blaise?"
Blaise tidak bodoh dan tentu dia menyadari apa yang dimaksud Luna. 'Aku tidak datang karena aku ingin menghindarimu, aku akan dijodohkan, Luna!' Ingin sekali Blaise menjawab seperti itu, namun sayangnya dia tak bisa. Jadi dia hanya menjawab, "Apa maksudmu?"
"Aku tahu kau tidak bodoh," sambar Luna cepat. "Sejujurnya aku kecewa, Blaise. Mungkin saja itu adalah malam terakhir kita bertemu. Aku juga ingin menyampaikan berita penting untukmu, yang kupikir perlu kau tahu. Tapi ternyata kau tidak datang."
"Aku akan datang nanti malam, Luna," sahut Blaise terlalu cepat. Hatinya merasakan adanya alarm begitu mendengar kata 'penting' yang keluar dari bibir tipis Luna. "Apa yang ingin kau sampaikan?"
Terbentuk seulas senyum yang tidak pernah Blaise lihat dari Luna, bahkan Blaise sangsi bahwa Luna bisa melakukannya. Senyum yang menimbulkan kesan sinis, getir, dan sendu bersamaan.
Saat Blaise ingin menanyakan alasan Luna memberikan senyum itu padanya, bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Membuat Blaise merutuk keras-keras dalam hati, melirik Luna yang membereskan peralatan tulisnya dengan cepat.
Mau tak mau, Blaise ikut membereskan peralatan tulisnya. Namun sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar. Suara yang sangat dingin.
"Tidak usah mengharapkan aku ada disana, Blaise. Jika kau memang ingin menghindariku, tidak usah repot-repot. Aku yang akan melakukannya untukmu."
Blaise menoleh terkejut dan mendapati punggung Luna yang sedang berjalan pergi, meninggalkan tanda tanya besar akan perkataan terakhir Luna.
Sayangnya Blaise tak bisa memikirkan itu untuk saat ini, begitu melihat kedua sahabatnya sedang berjalan cepat menuju ke luar kelas yang mulai sepi ini, seakan kelas Sejarah Sihir adalah tempat yang menjijikkan.
Melihat itu, Blaise langsung buru-buru bertindak. Dia mengacungkan tongkat sihirnya pada pintu kelas Sejarah Sihir.
"Colloportus!"
Pintu bergerak menutup dan terkunci tepat sebelum dua orang incaran Blaise keluar. Mereka menatap pintu kaget lalu menoleh ke belakang, langsung bertatapan dengan Blaise yang segera melanjutkan aksinya.
Sebelum mereka sempat berbicara, tubuh mereka sudah melayang dan terduduk di kursi terdekat.
"Petrificus Half-sense!" Blaise mengayunkan tongkat bergantian pada Theo dan Draco yang menatapnya murka.
Dengan Mantra Pengadaan, Blaise memunculkan dua cangkir teh yang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Sebelumnya, aku minta maaf Theo, Draco. Karena sudah memperlakukan kalian seperti ini. Tolong jangan membenciku, aku hanya ingin persahabatan lama kita kembali. Dengan kalian bersikap seperti ini, aku sama sekali merasa tidak nyaman."
Dengan cepat, Blaise menerbangkan salahsatu cangkir dan menuangkannya ke mulut kedua sahabatnya masing-masing.
Mata kelabu Draco dan mata hijau Theo yang menggelap karena murka tiba-tiba saja menjadi terang-benderang.
"Jawab pertanyaanku sejujur-jujurnya," ucap Blaise. Sementara Theo dan Draco mengangguk agak antusias, berada dalam pengaruh Veritaserum yang baru saja diberikan Blaise.
"Apakah kalian ingin menceritakan apa yang terjadi kemarin, padaku?" Begitu mendengar pertanyaan Blaise, kedua sahabatnya langsung menggeleng serempak.
Blaise menghela napas. Ternyata sampai kapanpun dia tak bisa membuat kedua sahabatnya membuka mulut selain dengan paksaan. Jadi Blaise berkata, "Ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin!"
Cerita pun mengalir dari mulut mereka masing-masing.
Unexpected Love
Malam ini adalah malam kelulusan di angkatan Blaise.
Pemuda bermarga Zabini ini lega karena walaupun perselisihan antara Draco dan Theo belum berakhir, setidaknya mereka berdua masih bisa bersikap layaknya sahabat. Dia juga lega karena Draco Malfoy dan Hermione Granger bersikap profesional sehingga malam kelulusan tahun ini merupakan hadiah terindah bagi para alumni Hogwarts di angkatan Blaise.
Blaise menyaksikan dansa satu lagu antara Hermione dan Draco yang sebagai Ketua Murid akan meletakkan kembali lencananya pada McGonagall selaku kepala sekolah Hogwarts saat ini. Blaise menyaksikan dengan geli bahwa Draco terlihat sekali menatap Hermione dengan tatapan berbeda, apalagi mantan Ketua Murid perempuan itu tampil cantik sekali malam ini. Bahkan mengalahkan penampilan Ginny Weasley dan Cho Chang, kedua sahabat Luna—
Nama itu membuat Blaise teringat kembali apa yang akan terjadi juga malam ini. Hal yang membuat Blaise harus melepaskan Luna Lovegood, cinta pertamanya.
Malam ini dia akan bertemu perempuan yang akan dijodohkan ibunya padanya.
Kelegaan Blaise menghilang. Digantikan dengan perasaan kalut karena harus meninggalkan Luna.
Blaise bergerak-gerak gelisah dalam duduknya. Berkali-kali dia berusaha meyakinkan bahwa ini yang terbaik. Luna tak akan bahagia bila bersama orang sepertinya.
Dia menyaksikan pengumuman peringkat tiga besar dengan raut wajah tidak fokus. Bahkan samasekali merespons biasa saja akan wajah shock Harry Potter karena tidak menyangka cowok itu meraih peringkat tiga, padahal semua yang berada disana tertawa melihat ekspresi Harry. Dia tidak ikut bertepuk tangan saat Hermione Granger selesai membawakan pidato sebagai peringkat satu dengan lugas dan berwibawa.
Pikirannya masih dipenuhi ibunya dan... Luna.
Namun sayangnya orang pertama yang dipikirkannya melangkah menghampirinya dengan gaya santai seolah dia tidak mempunyai masalah atau beban di dunia ini.
"Blaise!" Cellia Zabini memanggil anaknya dengan suara khas-nya. Suara yang terkadang membuat Blaise malu sebagai anaknya.
Ini aneh, pikir Blaise sambil menghentikan langkah menunggu Cellia. Ibunya dikenal angkuh, jadi beliau sangat jarang mengeluarkan ekspresi-ekspresi yang tak perlu kecuali saat beliau sedang senang berlebihan. Satu-satunya orang yang dikenal Blaise selalu mengeluarkan ekspresi ceria seperti itu adalah Melanie Greengrass, ibunda Daphne dan Astoria Greengrass.
Blaise mengangkat bahu acuh, perasaan gelisah masih menguasai hatinya. Mungkin saja ibunya terlalu banyak bergaul dengan Melanie Greengrass atau memang ibunya sedang over-happy karena menemukan suami yang berpotensi untuknya. Tapi jujur, Blaise lebih suka jika ibunya ceria seperti ini dibanding angkuh seperti dia biasanya. Walau tidak mau mengakuinya, Blaise sangat menyayangi orang yang dia panggil 'Mother' itu.
Mata coklat gelap Blaise membesar. Apa mungkin ibunya ingin menjodohkannya dengan salahsatu putri keluarga Greengrass?
Oh, NO WAY! Itu tidak akan terjadi!
"Blaise! Calon istrimu sudah menunggu," Cellia berucap bersamaan dengan Blaise yang ingin menanyakan padanya sesuatu.
"Mother, aku ingin bertanya sesuatu padamu sebelum menemui orang yang ingin kau jodohkan denganku."
"Apa? Cepat katakan!" Sepertinya Cellia memang sudah tidak sabar mempertemukan Blaise dengan orang yang dia yakin akan menjadi 'calon istri' Blaise nanti, karena dia mengucapkan kalimat itu dengan nada bossy.
"Orang yang ingin kau jodohkan denganku bukanlah salahsatu gadis bermarga Greengrass kan, Mother?"
Cellia melongo sesaat sebelum kemudian berbicara dengan nada misterius, "Temui dia dulu, Blaise. Baru kamu akan tahu siapa dia."
"Mother!" Blaise berseru kesal karena keingintahuannya tidak terjawab. Padahal ini adalah hal yang penting untuknya. Kenapa? Karena kedua bersaudara Greengrass itu terjebak dalam percintaan masa kecil. Jadi percuma saja sebenarnya jika Cellia menjodohkan Blaise dengan salahsatu putri keluarga Greengrass.
Wajah Cellia berubah garang. "Jangan berbicara dengan nada seperti itu padaku, Blaise Zabini!"
Blaise belum sempat menyahut apa-apa karena ibunya langsung menarik tangannya menuju suatu tempat yang sangat Blaise kenali.
"Bye! Good luck, Blaise!" Tak lupa Cellia meniupkan ciuman jarak jauh yang membuat Blaise semakin yakin bahwa ibunya memang benar-benar senang saat ini.
Hal ini membuat Blaise bertanya-tanya. Walaupun sebenarnya, dia tak perlu seperti itu karena alasan ibunya menjadi abnormal —dimata Blaise— berada di hadapannya saat ini.
"Blaise Zabini," Suara halus itu membuat Blaise memusatkan perhatian pada sumber suara dan terbelalak. "Senang bisa bertemu lagi denganmu."
~ Unexpected Love ~
[flashback ON]
Gadis itu menghela napas dan membaca kembali surat yang dikirimkan ayahnya. Mencoba mencari kata-kata yang mungkin saja terlewatkan oleh mata birunya.
Dear Luna,
Bagaimana kabarmu? Wrackspurt dan Nargles tidak lagi mengganggumu, kan? Kalau mereka mengganggumu jangan lupa usir dengan mantra yang saat liburan musim panas lalu aku ajarkan padamu. Kau tentu masih ingat.
Aku menemukan relasi bisnis baru yang cukup ternama, Luna! Oh, aku sangat senang. Apalagi kelihatannya dia sangat antusias sekali dengan desain interior klasik perusahaan kecil kita.
Tapi sebenarnya, bukan karena itu aku mengirim surat padamu. Maafkan aku, ada Wrackspurt dan Nargles yang membuatku sedikit ngawur. Tapi aku sudah mengusirnya, kok.
Ada hal penting yang akan kusampaikan padamu dan kuharap kau tidak terlalu kaget.
Aku menjodohkanmu dengan seseorang, Luna. Aku tidak sempat menanyakan hal ini padamu. Tapi aku yakin kalau kau akan menyetujuinya (kau tahulah, terkadang Wrackpurt dan Nargles suka memberikan info-info yang tidak terduga).
Kita akan bicara saat kunjunganmu selanjutnya ke Hogmeade di Madam Puddifot's jam 10.00.
See you later, dear!
Tertanda,
Xeneophillius Lovegood
PT. Lovegood Design
(Terima kasih sudah memakai stempel kami. Jika anda menginginkan stempel seperti ini silahkan usap tiga kali kalimat ini.)
Surat yang bodoh. Luna tahu itu. Apalagi ayahnya masih bersikeras menggunakan jasa perusahaan stempel sihir abal-abal yang —jujur saja— terlihat sangat memalukan.
Tapi surat itu jugalah yang membuat Luna membeku.
Luna membaca ulang kembali paragraf lima. Dan dengan ngeri menyadari bahwa dia samasekali tidak salah membaca satu huruf pun.
Mendesah lesu, Luna melenyapkan perkamen surat dari ayahnya menuju kamarnya dan samasekali tidak berniat membalas.
Sambil berjalan menuju Aula Besar, Luna memantapkan diri supaya dia tidak menangis menyesali keputusan sepihak ayahnya. Dia bukan tipe cewek yang melankolis kok.
Dasar ayah, enak sekali mengambil keputusan! Mungkin Wrackspurt dan Nargles sudah menginvasi sebagian besar otak ayah! Luna membatin kesal.
Luna baru saja mendudukkan dirinya di kursi Aula Besar dan masih memikirkan apa yang akan dia bicarakan bersama ayahnya pekan Hogmeade nanti, saat Ginny Weasley menghambur memeluknya. Dari tarikan napas gadis itu yang tersengal-sengal, jelas sekali bahwa salahsatu sobat terbaiknya di Hogwarts itu menangis.
"Hei, Ginny," Luna mengendurkan pelukan Ginny dan menuntunnya untuk duduk di sebelahnya. Gadis ini benar-benar heran kenapa putri keluarga Weasley yang terkenal tegar dan pemberani itu menangis. Tapi kemudian dia teringat hal yang dibicarakannya dengan Blaise saat pelajaran Herbologi tadi pagi.
Blaise...
Luna memejamkan mata dan bergumam pelan, "Apa ini tentang Harry?"
Ginny mengangguk patah-patah dan Luna menghela napas. Padahal baru saja tadi sore dia menghibur Cho Chang, sahabat sekaligus cewek yang terkenal bukan hanya karena kecantikannya tapi juga karena ke-melankolis-annya. Tapi setidaknya dengan begini dia tidak akan bisa menangis karena perannya adalah menghibur orang yang menangis tersebut.
~oOo~
Luna menatap datar surat baru yang sampai padanya.
Kepada seluruh kelas 6 Hogwarts Ravenclaw
di tempat
Mulai malam Sabtu besok, aku mengadakan pelajaran tambahan untuk kalian pada:
Tempat: Ruang Rekreasi Ravenclaw
Waktu: Setiap malam, 21.00 – 22.00
Hal ini dilakukan guna untuk meningkatkan nilai Ordinary Wizarding Levels (OWL) kalian dan mempersiapkan Nastily Exhauting Wizarding Test (NEWT) yang akan kalian hadapi tahun depan.
Semua siswa WAJIB HADIR atau kalian akan mendapat detensi mengerikan.
Kepala Asrama Ravenclaw,
Fillius Flitwick
Gadis berambut pirang itu memandang murung pemandangan gunung indah dari jendela Ruang Rekreasi Ravenclaw.
Yah, sepertinya dia tak bisa berbuat apa-apa kali ini.
Mungkin dia bisa membicarakan hal ini dengan Blaise malam nanti di Menara Astronomi. Kakak kelas Slytherin-nya itu pasti bisa memberikan saran-saran yang masuk akal.
Apalagi mungkin ini adalah kesempatan terakhirnya ke Menara Astronomi.
~oOo~
"Oh, oh, Luna. Dua orang di pojok sana dikelilingi berbelasan Wrackspurt dan Nargles," Xenophillius Lovegood menunjuk dua orang di pojok ruangan. "Wralesfors!"
Kilatan tipis cahaya kuning dari tongkat Xenophilius menghantam kedua orang itu.
"Hentikan itu sebelum kita diusir, Ayah," Luna menggumam bosan dan melirik sekilas pada dua orang yang dimaksud Xenophilius. "Lagipula sepertinya mereka hanya ingin berciuman, kok."
"Kau mengatakan itu seolah kau sudah terbiasa dengan itu, anakku," Mata biru Xenophilius menyipit menatap putri satu-satunya.
"Kau bereaksi seperti itu seolah kau belum pernah melihat orang berciuman, Ayah," balas Luna halus. Dia segera mendorong agar percakapan ini menuju ke arah yang diinginkannya. "Jadi bagaimana soal perjodohan itu, Ayah?"
"Oh iya," Ayahnya memasang pose berpikir yang agak aneh; tangan kiri memegang ubun-ubun dan badan condong ke kanan. Sebelum kemudian berkata, "Tidak bagaimana-bagaimana. Aku tetap yakin kau akan bahagia dengan seseorang yang akan kujodohkan padamu itu."
"Dan siapa seseorang itu, Ayah?"
Kali ini Xenophillius Lovegood menyunggingkan senyum lebarnya yang tak kalah aneh. "Kalau itu rahasia. Kau akan terkejut saat mengetahuinya nanti."
Luna hanya meringis pasrah pada Xenophillius yang saat ini sedang memesan dengan bahasa yang tidak dikenalnya —namun dia tahu bahwa itu Bahasa Indonesia karena ayahnya bersikeras belajar bahasa yang katanya fenomenal tersebut.
Yah, mungkin dia nanti bisa membujuk ayahnya untuk memberitahukan siapa orang yang dia jodohkan padanya.
~oOo~
Salah. Dugaan Luna salah.
Apa-apaan ini?! Luna membatin senewen. Kenapa dia tidak bisa mengorek informasi siapa yang akan dijodohkan padanya nanti?! Dan sejak kapan ayahnya bisa berahasia padanya?!
Luna teringat pada surat ketujuh yang dikirimkan ayahnya sore ini. Yang hanya berisi satu kata: RAHASIA.
Dan yang lebih buruk,
Ada kelas gabungan lagi. Kali ini Sejarah Sihir. Bersama dengan Slytherin.
Tapi sayangnya Luna tak lagi mengharapkan ini terjadi. Dengan lesu dia mengambil tempat di depan sambil menunggu Cho Chang. Namun alih-alih mendapati Cho Chang, malah Blaise Zabini yang menempati kursi disampingnya.
Luna marah pada pemuda disampingnya ini. Tentu saja. Akhir-akhir ini Blaise tidak datang ke Menara Astronomi, justru disaat dia ingin membicarakan banyak hal bersama Blaise. Dia tidak tahu kenapa dia seperti ini, karena mereka bertemu setiap malam juga karena ketidaksengajaan kan?
Kau bohong, Luna. Kau sengaja bangun lebih awal dan menuju Menara Astronomi hanya untuk bertemu Blaise Zabini kan?
Gadis itu menggeleng cepat. Menyingkirkan suara yang berasal dari pikirannya tersebut.
Jadi selama pelajaran, Luna menolak untuk menoleh dan berbicara pada Blaise. Walaupun sebenarnya tak perlu indra keenam untuk mengetahui bahwa Blaise juga sedang lesu hari ini.
Tapi tetap saja dia tak bisa membendung perasaannya pada Blaise sehingga membuka suara lebih dulu.
Dia memberikan saran pada Blaise dan mendorong percakapan menuju percakapan tentang mereka.
Walaupun tak berhasil dengan baik karena dia menyadari dengan getir bahwa Blaise ingin menghindarinya.
~oOo~
Sampai pada hari sebelum kelulusan, setelah beratus-ratus surat dan howler yang membujuk ayahnya, akhirnya Luna tahu siapa yang akan dijodohkan padanya.
~ Unexpected Love ~
[flashback OFF]
"L-Luna?" Blaise bertanya tak percaya dengan wajah bodoh yang membuat Luna diam-diam menahan tawa.
"Iya. Ini aku Blaise, Luna Lovegood, adik kelasmu."
"Jangan-jangan..." Mata coklat gelap Blaise berpijar. "Kamu adalah perempuan yang ingin dijodohkan padaku?"
"Menurutmu?"
Blaise maju dan menggenggam kedua tangan Luna perlahan, seolah memastikan bahwa yang dihadapannya ini adalah Luna. Lalu dia memeluk Luna dengan perasaan lega yang tidak terkira. "Kamu bukan Luna adik kelasku..."
Luna mengernyit dalam pelukan Blaise.
"...Tapi kamu adalah Luna, gadis yang kucintai."
Pelukan Blaise mengendur dan matanya menatap lurus mata biru Luna yang saat ini terbelalak. "Ya, Luna. Entah sejak kapan, aku tertarik padamu. Dan rasa tertarik itu semakin berevolusi menjadi cinta. Aku mencintaimu, Luna."
"Blaise, aku..." Luna menghela napas. "Aku tak menyangka. Ternyata..."
Blaise menatap mata biru Luna yang saat ini bercahaya dengan waswas.
"...kau mempunyai perasaan yang sama denganku."
Sejenak Blaise mengernyit.
Yang sama...
Perasaan yang sama...
Mata kelam Blaise kembali bersinar. Saking senangnya, dia kembali memeluk Luna. Lebih erat. "Terima kasih, Luna. Kurasa nama Luna Zabini cocok juga."
"Hei, kata siapa aku akan menerima perjodohan itu?" goda Luna.
"Kau pasti menerimanya. Aku yakin."
Mereka saling tersenyum beberapa saat sebelum Luna meletakkan jari di bibir dan mengeluarkan tongkat sihir. Blaise yang bingung hanya mengamati Luna dengan penasaran. Luna mengayunkan tongkat beberapa kali sebelum mengarahkannya menuju lantai dibawah mereka.
Lantai dibawah mereka seolah transparan sehingga mereka bisa melihat apa yang terjadi dibawah walaupun itu hanya beberapa detik sebelum lantai berubah seperti semula.
"Mantra ajaran ayahku. Percayalah, walaupun agak aneh, tapi terkadang ajarannya bisa sangat membantu," ucap Luna sambil menyimpan kembali tongkatnya dan tersenyum lebar. "Benar kan kataku?"
Sementara Blaise masih ternganga mengingat pemandangan setelah lantai yang dipijaki mereka terlihat transparan.
Bagaimana tidak? Mereka melihat Draco dan Hermione sedang berciuman dibawah sana secara live.
Sebelum kemudian Blaise tersadar dan berkata, "Well, aku rasa tidak baik mengintip orang yang sedang 'berpacaran', Luna."
"Aku tidak bermaksud mengintip, kok," bantah Luna.
"Yah, tapi kau harus tetap dihukum."
"Hukum ap—mmft."
Ucapan Luna takkan pernah selesai karena Blaise sudah menutup bibir Luna dengan bibirnya sendiri.
Perjodohan yang tak diduga
Dengan calon yang tidak disangka-sangka
Dan ketika ternyata mereka saling mencinta
Cinta yang tidak terduga
TAMAT
~ Session Talkshow ~
Luna: Mia, kenapa otakmu berasap?
Hermione: Wah, otak Mia berasap! *ngambil air
BYUR!
Author: *tersadar* Eh, kenapa aku basah begini?! *kabur ke backstage buat ganti baju*
Lucius: *menaikkan bahu* Mia sih emang gak melankolis, tapi tragis.
Draco: Omong-omong, sejak kapan di Hogwarts ada kelas gabungan?
Author: *nongol* Ya suka-suka aku dong. Di sekolahku aja ada, masa di Hogwarts gak ada? XD
Lily: Yah, Hogwarts dan sekolahmu kan beda level, Mia XP
Author: Ibunya Harry tegaaa X3
Draco: Udah ah, review dulu deh. Dari aku ya. Oke, Miss Tari-Khai, request masuk daftar. Eh omong-omong, disini juga ada slight HarMione kok, walaupun gak sebanyak DraMione XD. Untuk expuulsoh, request masuk daftar.
Lucius: WolfShad'z, aku gak narsis loh X3. Aku adalah cowok paling cool yang pernah ada di HarPot *di death-glare Draco. RanaKim9382, Draco emang gak bisa jaim dikit kayak ayahnya ini XD.
Luna: Guest, HarMione dan JamesLily masuk daftar request! ^_^ Aliza858, Mia usahain buat bisa bikin ToMione lagi, syukur-syukur DraMione juga kayaknya *wink.
Lily: Ariana Rose Riddle, kita doakan saja supaya Mia bisa membuat ToMione seperti di chapter 2 lagi XD
Author: Hermione, tunjukkin daftar request-nya!
Hermione: Oke, Mia!
Request Pairing
1. Lucius × Narcissa
2. Scorpius × Rose
3. Harry × Ginny
4. Scorpius × Lily
5. Harry × Hermione
6. Remus × Tonks
7. James × Lily
8. ToMione (?)
Author: Semuanya, atur posisi. Jangan lupa seperti yang kita latih kemarin... *aba-aba*
All: SELAMAT LEBARAN BAGI YANG MERAYAKAN! ^_^
Author: Dan jangan lupa review *tambahan* XD
All (-Author): See you next chapter! ^_^
Author: Eh, kenapa aku ditinggal? T^T
