Disclaimer: Vocaloid milik Crypton maupun Yamaha Corp
Warning: ada beberapa urban legend, mungkin typo juga, horor ga ngena
Happy Reading!
=o^o=
Dua wanita dengan wajah yang memerah itu berjalan bersama di jalan gelap dengan tertawa-tawa hampir histeris, di tangan masing-masing ada botol sake yang hampir habis. Mereka melangkah sempoyongan sambil merangkul satu sama lain, tak ada seorang pun selain keduanya.
"Meiko kau tahu sesuatu tidak?" satu dari mereka berbicara—Haku, ketika mereka memasuki toilet umum di sana.
"Hm? Apa, apa?" Meiko bertanya antusias.
"Katanya," Haku berkata sebelum dia meminum lagi sake langsung dari mulut botol, "kalau kau mengetuk pintu bilik ketiga kamar mandi lalu bertanya ada orang atau tidak, akan ada hantu muncul!"
Meiko menahan tawa, "Kau percaya dengan itu? Hah! Takhayul saja!" Dan dia tidak kuasa akhirnya tergelak kencang, menggema di kamar mandi yang temaram tersebut.
"Sst jangan tertawa keras-keras!" Haku menegur sambil memukul bahu temannya.
"Atau apa? Hantunya muncul?" Meiko kembali tertawa keras setelah mengatakannya. "Sudahlah," Meiko mengibaskan tangan dan berjalan ke arah salah satu bilik, "aku kebelet. Tunggu sini."
Dia mau membuka pintu bilik toilet, tapi terkunci. Meiko mengerutkan kening sebentar, padahal tidak ada siapa-siapa di sini selain mereka berdua, dia melirik Haku yang sibuk berkaca sebentar lalu kembali mencoba membuka pintu. Hasilnya nihil. Terkunci. Meiko berdecak kesal, lalu mengetuk pintu toilet.
Tok!
Tok!
Tok!
Tak ada jawaban, Meiko bertanya. "Apa ada orang di dalam?"
Lampu di sekitarnya tiba-tiba mati, Meiko terkejut dan segera menolehkan kepala—Haku tidak ada di sana. Dia mulai ketakutan, tubuhnya terasa membeku dan tak bisa digerakkan seiring suara pintu yang terbuka menderit menyeramkan dalam jangka panjang, hingga benar-benar terbuka penuh.
Satu hal yang Meiko lihat sebelum penglihatannya hilang adalah seorang anak muncul dengan keadaan yang mengerikan dengan darah-darah di sekujur badannya.
.
Yuuma memasuki kamar mandi dengan tergesa-gesa, dan membuka asal salah satu kubikel toilet dan masuk, lalu menguncinya rapat setelah mengetahui kunci toilet itu hampir rusak. Entah bagaimana caranya dia melakukannya—tapi panggilan alam yang Yuuma alami sudah di ambang batas. Kapan-kapan dia tak mau menerima makanan dari Piko lagi, masakan pemuda itu tidak dipercaya.
"Untung saja Sensei baik hati memperbolehkanku ke toilet," Yuuma menggerutu pelan, tangannya ingin menggapai ke arah tisu yang tergantung di sana lalu mengambil selembar tisu—
"Eh? Habis?" dia berkata kaget, sontak mengerang malas, "sial sekali sih."
Di kala dia merenungkan apa yang harus dia lakukan karena tisu habis, Yuuma mendengar langkah-langkah kaki yang keras—dihentakkan. Yuuma merinding tiba-tiba, tapi dia tak bisa kemana-mana sekarang.
"Kau mau tisu?"
Apa orang itu mendengar gerutuannya tadi? Yuuma menghela lega. "Ya—"
"Merah atau biru?"
Yuuma tak menjawab, dia merasa—
Kebingungan.
"Kuning saja," dia menjawab, mencoba melawak tapi suasana yang benar-benar hening sangat tidak mengenakkan bersamaan dengan hawa dingin.
"Merah atau biru?"
"Ungu, tolong," Yuuma membalas lagi, kali ini ingin sekali melarikan diri.
"Merah atau biru?"
Sekarang rasa takut mulai menyelimuti Yuuma. Apakah ada yang terjadi kalau dia memilih salah satu warna? Atau ini hanya termasuk rasa paranoid Yuuma saja hingga berpikiran macam-macam sekarang? Kenapa orang itu menawarkan tisu dengan warna merah atau biru kepada Yuuma secara mendadak? Yuuma dilanda kengerian mendalam.
"Merah atau biru?"
Pertanyaan itu kembali dilontarkan, dan Yuuma merasakan jemari tangannya bergetar hebat karena hawa yang sangat dingin mencekam toilet tanpa ampun. Yuuma tak tahu harus apa.
"Merah atau biru?"
Pintu kubikelnya mulai digedor, Yuuma sangat panik dan kalut.
"Merah atau biru?"
"M-merah! Merah!"
Pintu menjeblak terbuka dengan keras dan sebuah sabit tajam langsung menggorok leher Yuuma saat itu juga.
.
Miku membuka jendela lebar-lebar dan membiarkan angin malam masuk ke kamarnya begitu saja, sedangkan dia malah menikmati dinginnya angin tersebut. Miku memangku dagunya dengan bosan, matanya menelusuri pemandangan halaman rumah. Buku-buku yang tadi dibuka dengan niat belajar, malah terbengkalai lantaran gadis tersebut fokus menatap ke luar.
"Hm?" Miku menautkan alis bingung dengan dahi yang berkerut saat netranya menangkap gerak-gerik mencurigakan dari semak belukar.
Suara gesekan daun di semak-semak itu makin terdengar, seakan ada yang mengendap-endap di baliknya. Membuat Miku mulai waspada, jantungnya mulai berdegup kencang. Tanpa sadar dia menggenggam penanya begitu erat, tubuhnya seakan tak bisa digerakkan—kaku. Suara itu semakin dekat, selayaknya akan keluar dari persembunyiannya di antara pohon dan semak. Miku tak mau menantinya, tapi dia terpaku di tempat, bahkan tak bisa menggerakkan tangannya yang gemetaran.
Dia menahan napas, keringat dingin mulai meluncur dari keningnya, menyiapkan diri untuk segala apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Sampai—
"UWAHH!"
Miku terjungkal jatuh dari kursi.
Dia meringis sakit sebentar, lalu Miku kembali berdiri dengan agak susah payah, dan memandang ke luar lagi. Miku menertawakan kebodohannya menyadari itu hanyalah seekor kucing hitam melintas dengan tikus di mulutnya, sepertinya Miku terlalu paranoid malam ini. Miku tersenyum geli, memutuskan menutup jendela dan kembali fokus belajar dengan headphone di telinga untuk mendengarkan musik.
Tanpa tahu, bayangan hitam bermata merah terang mengawasinya dari pepohonan yang sama.
.
"Duh, sial, sial!"
Gakupo menekan-nekan tombol elevator dengan tidak santai, dia sangat tergesa-gesa saat ini. Bagaimana bisa dia bangun terlambat padahal hari ini ada rapat di kantornya? Gakupo mengumpat lagi, lebih pelan sambil menunggu pintu lift terbuka. Pria itu mengetukkan ujung sepatunya beberapa kali, berharap elevator segera terbuka dan membawanya turun dari lantai 9, lantai kamar apartemennya.
TING
Senyum kecil merekah di wajahnya, dan segera Gakupo masuk ke dalam elevator. Hanya ada satu orang bersamanya, orang yang tidak dikenal oleh Gakupo—tapi Gakupo memilih mengabaikan orang tersebut mengingat dia memang sedang terburu-buru bahkan untuk basa-basi kecil. Tapi aneh, Gakupo merasa hawa dalam elevator tidak terlalu mengenakkan, padahal biasanya tidak seperti ini.
Hawa yang dingin dan agak mencekam.
Gakupo merasa bulu kuduknya berdiri, dia mengelus tengkuk sebentar dengan ragu—memastikan apakah perasaannya memainkan dirinya sendiri. Sekali lagi, Gakupo mengabaikannya.
Tidak terlalu lama.
Segera, dengan segera dan cepat, Gakupo memencet-mencet tak sabar tombol lantai 4 dengan panik, sangat panik. Gakupo tidak ingin berada di elevator ini lagi. Pas setelah elevator membuka pintu, Gakupo langsung melangkahkan kaki keluar dan berlari ke arah tangga dan turun lewat sana dengan perasaan ngeri, sangat ngeri.
Menyadari bahwa orang bersamanya tidak memiliki wajah lewat pantulan dinding elevator.
.
IA melayangkan tatapannya ke kucingnya yang sibuk bermain dengan bola benang di sudut kamar, dia tersenyum geli melihat tingkah lucu kucing tersebut. IA merebahkan badan di atas ranjang dengan buku di tangan, dan membacanya sambil berbaring. Selama beberapa saat dia khusyuk untuk membaca, tapi juga rasanya ada yang hilang.
Tidak ada suara apapun.
Sunyi.
Gadis tersebut menoleh lagi ke arah sang kucing, agak berpikir apakah kucingnya ternyata memilih tidur daripada bermain lagi. Dan yang dia temukan adalah kucingnya sibuk menatap langit-langit kamarnya. IA tak berpikir macam-macam, mungkin ada cicak atau serangga lain di langit kamar yang mengalihkan atensi si kucing.
IA memilih tak peduli dan melanjutkan kegiatan membacanya yang sempat tertunda.
Tapi ketenangan ini agak mengusiknya.
Dia seakan tak bisa untuk tidak penasaran, saat IA juga memandang langit-langit untuk mencari hewan apa yang dilihat oleh kucingnya, hanya kosong yang dia temui. Melihat lagi ke arah binatang berbulu lebat itu, mata kuning kucingnya masih terarah ke atas, dan kucing itu mulai mengeong.
IA menghela kecil, membuka bukunya yang sempat tertutup dan membaca ulang paragraf pertama. Tapi dia sedikit mengintip, dari samping bukunya untuk kembali melihat ke langit-langit kamarnya lagi.
Masih tidak ada apa-apa.
Jantungnya terasa berdebar sebentar, IA mengelus lengannya sendiri untuk mengurangi rasa gugup yang muncul entah dari apa. Meongan kucingnya membuatnya agak terganggu sekarang, menambah perasaan aneh dalam dirinya. Mendadak suasana menjadi dingin, tapi IA tak terlalu memperhatikan. Dibuka bukunya lagi, kali ini lebih pelan. IA membaca sebaris kalimat, tapi dia tak bisa fokus. Rasanya dia bisa mendengar degup jantungnya sendiri.
Lagi, IA mengintip ke arah langit-langit kamar.
Dan seketika dia menangkap sosok mengerikan merangkak terbalik di sana.
Dengan mata yang tertuju lurus pada IA.
Halo semua! Sudah lama sekali saya ga bikin fanfic di fandom ini, suer deh bertahun-tahun saya ga bikinnya!
Ini horror challenge bareng author Clarabell Azuzaka! Dan karena saya ga terlalu bisa bikin horor, jadi dimaklumi saja kalo ga horor, minna =w=
Last!
Review please?
Love,
Fictoire.
