Disclaimer: Vocaloid milik Crypton maupun Yamaha Corp
Warning: ada beberapa urban legend, mungkin typo juga, horor ga ngena
Happy Reading!
=o^o=
"Lalu kau tahu? Kaito-nii langsung membuat wajah seperti ini!" Rin menirukan ekspresi ketakutan Kaito ketika tadi pagi dia berhasil mengerjai pemuda itu.
"Ahaha—benarkah? Sayang sekali aku tidak melihatnya," Len tertawa melihat ekspresi lucu yang dibuat oleh Rin.
Rin nyengir, "Kapan-kapan kita kerjain bare—"
"Eh Rin," tiba-tiba Len memotong perkataan saudarinya, "lihat deh, di sana." Len menunjuk ke arah selatan, membuat Rin ikut melihat ke arah di mana Len menunjuk.
Dan mereka melihat seorang anak di sana.
Rin langsung menghampiri anak tersebut, dan tersenyum ramah. "Halo Dik, lagi sendirian?"
Anak itu mengangguk pelan, "Uhm," dia menjawab dengan suara kecil.
"Mana orangtuamu?" gantian Len yang bertanya, dan dia mengusahakan wajahnya terlihat ramah seperti Rin.
"Tidak tahu," anak itu menggeleng sambil curi-curi pandang ke arah mereka berdua, karena dia agak menunduk.
Len dan Rin saling menukar pandang sebentar, anak tersebut masih saja memandang mereka berkali-kali, lalu menunduk setelah terkesiap kecil tiap kali si kembar tak sengaja mendapatinya memandang mereka.
"Bareng Kakak dulu yuk," ajak Rin nyengir lebar, "lalu kita cari orangtua—"
"Tidak mau."
Rin meringis sebentar saat anak itu mengatakannya setelah menatapnya dengan aneh, Rin menyikut Len. Len akhirnya membungkukkan badan untuk menyamakan tingginya, "Ikut kita cari orangtuamu, oke?" Len tersenyum, "Kakak tak menggigit kok, nanti Kakak belikan permen. Bagaimana?"
Anak itu masih menggeleng, malah makin menundukkan kepala. "Aku takut.."
"Kau ngajaknya seperti mau culik anak saja," bisik Rin sweatdrop, lalu buru-buru Rin juga menyamakan tingginya dengan bocah itu, "kenapa takut? Kakak ini 'kan kece loh~"
Jawaban yang meluncur dari anak tersebut mau tak mau membuat Len dan Rin bergeming di tempat dengan jantung yang berpacu cepat.
"Aku takut sama perempuan di belakang Kakak."
.
"Kau tunggu di sini saja," ujar Akaito pada pemuda bersurai teal tersebut, "aku tidak lama kok ke toilet." Akaito masuk ke dalam toilet umum setelah Mikuo memberinya anggukan—agak bersyukur Mikuo tidak ikut ke dalam, bisa-bisa Mikuo jail.
Akaito tidak masuk ke satu pun ke kubikel toilet, hanya bercermin di wastafel yang kebetulan menyediakan cermin. Akaito memang ingin berkaca untuk memperbaiki penampilannya yang sedikit acak-acakan karena telah bermain rollercoaster tadi. Dia agak menghela kecil, melepas syal merahnya dan menaruhnya di dekatnya.
Dia membuka salah satu keran wastafel, ingin membasuh tangan—tapi kegiatannya sempat terhenti lantaran Akaito menoleh ke belakang untuk mengecek. Tapi Akaito tak menemukan siapa-siapa selain dirinya sendiri, lantas mengapa dirinya mendengar suara pintu terbuka dari salah satu bilik?
Memilih tidak peduli, Akaito mulai membasuh tangan. Kemudian dia mendekatkan wajah dengan wastafel—berniat mencuci wajah sekalian. Dan lagi-lagi gerakannya terhenti, saat Akaito mendengar keran lain menyala sendiri. Akaito memandang lagi sekitarnya, dan tetap masih tak ada siapa-siapa. Mengerutkan kening, Akaito mematikan keran tersebut. Walau sekarang Akaito agak was-was, tapi dia tak mau rasa takut menghampirinya.
Dan suara air yang mengalir kembali terdengar.
Akaito mengerang kesal—dia bahkan belum sempat menyentuhkan air ke wajah dan keran yang sama kembali menyala. Dia mengumpat kecil sebagai pelampiasan sebal, lagi-lagi mematikan keran itu. Akaito tidak akan membiarkan sesuatu yang lain mengganggunya lagi.
Dia akhirnya bisa memasuh muka, masih terasa aneh—rasanya dingin. Mungkin karena tidak pakai syal, ujar Akaito dalam hati mencoba berpikir jernih. Sekali lagi, Akaito mendengar suara air dari keran yang sama, tapi Akaito akhirnya mengabaikannya. Akaito mengusap wajahnya yang masih basah lantaran terkena air, dan sedikit mengerjapkan mata. Penglihatannya memburam karena bulir air yang jatuh dari ujung rambut dan mengalir ke wajah, tetapi Akaito tak mungkin salah lihat kalau—
Di belakangnya ada seseorang.
Sejenak Akaito terdiam, tak menggerakkan badan sama sekali. Saat dia mengerjap lagi, sosok itu menghilang.
Ah, mungkin halusinasi.
Akaito tertawa dalam hati, kembali cuci muka untuk yang terakhir kalinya. Tangannya mulai meraba di mana syalnya berada, matanya terpejam karena tadi tak sengaja kemasukan air dan Akaito mencoba meredam perihnya. Merasakan tekstur dari sebuah kain, Akaito langsung menariknya dan mengelapkan wajah ke kain yang dia kira adalah syalnya.
Padahal bukan.
Akaito terkesiap dan langsung melempar kain itu saat dia tersadar bahwa bukan syal yang dia pegang. Kain berwarna putih kotor yang muncul entah darimana, dengan noda-noda merah gelap yang Akaito kenal sebagai darah. Rasa takutnya mulai membesar, Akaito tak menyangkal bahwa dia ingin cepat-cepat pergi sekarang. Dia memandang ke arah belakang lagi dengan gelisah, masih tak ada siapa-siapa di belakangnya. Akaito membuang napas, mencoba menenangkan diri.
Dia mengusap wajahnya gusar, dan agak menunduk. Akaito menutup wajah untuk mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan, dia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berpacu kian cepat, bulu kuduknya berdiri.
Membuka lagi matanya, Akaito hampir menjerit kaget ketika sosok dengan wajah yang hancur itu muncul di pantulan cermin.
Tapi hanya untuk sedetik, sosok itu menghilang.
Akaito tanpa basa-basi langsung mengambil syalnya dan menuju ke arah pintu keluar toilet umum, lalu langkahnya terhenti begitu saja saat tak sengaja matanya melirik keran yang sedari tadi selalu menyala. Keran yang kini mengalirkan darah, bersamaan dengan keran-keran lain yang hidup begitu saja. Akaito tak tahu, kenapa sekarang dia tak bisa menggerakkan badan. Lalu dia memandang ke bawah, di mana air kotor bercampur darah mengalir di bawah sepatunya.
Napasnya tersengal, Akaito merasakan suasana makin dingin dan mencekam. Akaito ingin pergi dari sana, Akaito ingin sekali mengangkat kaki dan segera keluar dari toilet terkutuk ini. Dia berharap sosok tadi tak menampakkan dirinya lagi. Sudah cukup dengan semua ini.
Akaito menegang di tempat mendengar suara kikikan pelan nan mengerikan di belakangnya, dia takkan menolehkan kepala lagi ke arah belakang seperti tadi.
Tidak akan.
Demi apapun, biarkan Akaito lepas dari situasi ini.
"Akaito? Kau sudah selesai belum? Lama sekali." Mikuo mendadak masuk dengan membuka pintu lebar-lebar, membuat Akaito langsung terlepas dari semua itu.
Akaito akan berterima kasih pada Mikuo nanti.
"Ayo pergi," Akaito tanpa segan segera menarik tangan Mikuo untuk keluar dari sana dengan buru-buru, "aku tak ingin di sini lagi."
Mikuo menautkan alis bingung mendengar ucapan Akaito, tapi memilih tak bertanya lebih lanjut. Terakhir sebelum Mikuo menutup pintu toilet umum, Mikuo hanya memandang ke kubikel paling ujung, dan dia langsung menutup pintu keras-keras.
Sosok itu melambai ke arah mereka dengan senyum menyeramkan.
Silahkan tinggalkan review kalau kalian mau, terima kasih.
Love,
Fictoire.
