Dua orang tengah berada di taman rumah sakit ternama yang ada di Jepang. Salah satunya berdiri tegap di balik kursi roda. Pakaian putih khas seorang dokter berkibar kala angin meniupnya dengan kencang. Kalau dipikir ini sudah memasuki musim gugur wajar saja angin tak akan senggan menapar mu dengan begitu keras dan seorang lagi duduk di kursi roda. wajahnya yang damai menatap lurus ke depan. sorotnya yang penuh dengan cahaya harapan serta impian berbinar dengan sendu.

Dilain sisi taman rumah sakit ini tidak begitu memiliki pemandangan yang bagus, sejauh mata memandang hanya ada taman biasa seperti pada umumnya. Hanya saja sebagai pembeda, taman ini kebanyakan pengunjungnya pasien sama sepertinya, suasana lelah dan penat pun cukup kental di sini.

Kedua pria itu memilih area di bawah pohon rindang, dan dari sana mereka dapat melihat seisi taman. Itu merupakan tempat yang strategis, dari sana banyak hal yang dapat mereka tangkap.

Pandangan pria yang berada dikursi roda, semakin menerawang jauh entah sampai kemana. Hari ini sama seperti sebelumnya, ia tengah mengingat hal apa yang telah ia lalui dan akan seperti apa akhir darinya.

Oh itu sesuatu yang sulit dimingerti, bagaimana ia yang tabah dan bagaimana kehidupannya yang kian terkisis masih ia pertahankan.

Tanpa sadar tangannnya bergerak ke atas, mengusap kepala yang tak memiliki mahkota lagi. Mengetahui hal itu sudut bibirnya terangkat ke atas, senyum kecil nan pilu terpampar dengan bebas. Dulu masih ingat benar kala rambutnya yang hitam nan lebat menghias kepala, rambutnya yang orang bilang seperti pantat ayam selalu ia banggakan. Sekarang semua tidak ada yang tersisa hanya ada kepala dengan kulitnya yang halus.

"Dokter, jika Tuhan memberikan sebuah permohonan apa yang akan dokter pinta?" Pemuda itu berbicara dengan orang yang berada di belakannya.

Mereka berdua adalah pasien dengan dokternya dan sang pasien yang berucap barusan bernama Tetsuro Kuroo, ia melupakan pasien penderita kanker, dimana Tetsuro telah melakukan kemoterapi yang menyebabkan ia harus kehilangan surainnya dan dokter yang mengurusnya, dia bernama Kei Tsukishima, seorang dokter muda dengan pengalaman yang tak perlu diragukan lagi.

"Kalau aku, aku ingin memiliki kesempatan kedua. Jika aku meninggal dan jika aku dilahirkan kembali, aku ingin lebih cepat bertemu dengan mu tentunya dengan kondisi yang sehat tidak seperti ini. Lemah dan buruk." Tetsuro tersenyum parau, pandangnnya menerawang penuh pengandaian selayaknya seorang anak perempuan yang menghayal negeri dongeng berserta pangeran tampan.

Mendengar apa yang diucapkan pasiennya, Dokter Kei menaikan salah satu alisnya. Raut dokter itu terlihat bingung. Mengapa permintaan Tetsuro ini begitu muluk-muluk? bukankah seharusnya ia hanya perlu memohon untuk diberikan kesembuhan? Itu lebih mudah dan biasanya orang yang sakit akan berharap demikian.

"Mungkin dokter akan berpikir, mengapa saya tidak mengharapkan kesembuhan.."

Pikirannya telah terbaca, Kei memilih diam mendengarkan. Jika pun ia ingin menjawab, hal apa yang harus diucapkan? Di suasana seperti ini, bibirnya kelu dan lidahnya terasa kaku.

"Seberapapun menyiksanya itu, sebenarnya aku menikmati apa yang tengah terjadi padaku. Tuhan sedang memberikan cobaan, dan aku pikir jika aku kuat akan cobaan ini, Tuhan pasti akan memberikan aku hadiah, akan memberikan kehidupan yang layak di kehidupan selanjutnya." Tetsuro berucap seraya tersenyum, matanya yang indah menyimpit membentuk bulan sabit. Benar-benar kesabaran dan keikhlasan yang tulus.

"Apa kau percaya dengan apa yang namanya kehidupan kedua? Aku percaya itu dok, dan harapku penuh dengan kebahagiaan."

Kei tahu jika ia tak pandai mengotrol diri, mungkin titik air akan mulai meluncur tanpa izin darinya. Selama dirinya menjadi seorang dokter, ia telah banyak menemui berbagai penderitaan dan kematian. Lantas yang ia lihat sekarang tak berbeda jauh dengan apa yang ia alami sebelumnya. Seseorang terlahir untuk mati namun perpisahan itu, Kei sendiri belum terbiasa dan lagi kali ini ada yang sedikit berbeda. Orang yang duduk di kursi roda bukan sekedar pasien biasa, ah dia itu orang yang dia cinta.

Kalau diingat bagaimana yah ia bisa jatuh cinta pada pria itu. Kei tidak ingat dengan pasti tetapi sedut memorinya mengenang dengan tajam setiap hal yang berhubungan dengan Tetsuro, itu termasuk raut kesakitan dan penderitaan yang Tetsuro tunjukan kala ia melakukan pengobatan dan ketika itu rasanya Kei ingin lari meninggalkan Tetsuro meminta orang lain untuk menggantikan posisinya. Dia tak tega betul dengan apa yang diderita Tetsuro.

Aah.. Benar karena itu. Kei mengetahui alasannya mencintai Tetsuro. Pria itu sangat mempesona dalam ketabahannya dan wajahnya tak bisa dipungkiri jika ia tampan serta kebersamaan diantara keduanya membuat benih cinta itu tumbuh lebih tinggi dan membesar. Kei mengasiani Tetsuro tetapi Tetsuro terlihat kuat hanya untuk sekedar dikasihani karena itu Kei menjadi kagum karena kekutan dan ketabahan Tetsuro yang pada akhirnya mendatangkan rasa cinta.

Rasa cintanya itu diketahui oleh Tetsuro karena Kei tak pernah sekalipun berusaha menutupinya. UntukTetsuro sendiri ia juga suka akan Kei tetapi rasa itu tak bisa ia kembangkan. Perasaan itu akan berakhir sia-sia, sungguh kisah cinta yang singkat dan pilu.

Itu kenangan yang masih teringat dengan jelas bagaimana obrolan singkat mereka disubuah taman belakang rumah sakit. Ingatan yang begitu segar seakan baru kemarin tetapi siapa yang menyangka jika setahun telah berlalu dan selama itu Tetsuro sudah meninggalkan rumah sakit. Pria itu sudah pergi, dia pulang kembali ke Tuhannya.

Sudahlah tentang pria itu dan tentang cintanya, semua hanya tinggal kenangan. Kei membalikan badan, meninggalkan taman belakang rumah sakit itu. Cinta mudah datang dan pergi selayaknya angin dikala musim gugur.

100 tahun yang lalu pernah ada cinta diantara seorang pasien penderita kanker stadium akhir dengan seorang dokter yang dua tahun lebih muda darinya. Cinta yang tak pernah dibagikan sebagai sebuah cerita namun diketahui dengan nyata karena ada yang menyaksikan.

Dan pelakunya telah lama tiada di muka bumi. Itu hanya tentang kisah yang lama dan sekarang mungkin lembar baru akan tercipta, mungkin permohonan dari sang pasien akan terwudut. Tuhan mungkin benar mengabulkannya sebagai kado dari kesabaran dan ketabahan sang pasien.

Dan setelah itu siapa yang tahu pasti bahwa seorang wanita tengah menahan rasa sakit di ruang bersalin, rintihan dan nafas terengah-engah memburu disekitar ruangan. Lalu tak lama setelahnya suara tangisan bayi pecah bersamaan dengan perasaan lega dari semua orang yang berada disana.

Seorang perawat membawa bayi itu setelah dibersihkan dan dibalut dengan selimut, perawat itu menyerahkan sang bayi kepada ibunya. Dapat dilihat tangis haru mulai membanjiri pipinya. Bayinya telihat begitu tampan dan menggemaskan.

"Aku akan menamakannnya Kuroo Tetsuro" ucap wanita itu sembari mengusap pipi anaknya yang baru lahir di dunia ini.

Dengan begitu, untuk sekali lagi Tetsuro Kuroo terlahir kembali dengan nama yang sama namun dengan orang tua dan lingkungan yang berbeda. Jika memang benar begitu, harapannya telah terkabul dan ia hanya perlu menunggu Kei untuk terlahir ke dunia ini, menunggu waktu dimana keduanya akan dipertemukan.

Seorang bayi yang terlahir dengan membawa suratannya sendiri, serta seorang bayi yang terlahir dengan doa-doa yang menyertai. Semoga di kehidupan kali ini lebih baik dari kehidupan sebelumnya.

_END_