Normal POV

Ketika Dabi membuka pintu, suasana yang terlihat sangatlah membuat bingung.

Suasana bar yang tampak ditinggalkan. Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, mengartikan bahwa sudah saatnya tidur dan pergi menuju alam mimpi. Baginya, orang yang terlelap di jam segini merupakan manusia lemah tak berarti. Tidak ada penolakan. Tidak ada hal yang membuat runyam. Dia hanya ingin merasakan ketenangan. Karena itulah, menemukan bar tua dengan jendela setengah hancur merupakan sebuah keberuntungan.

Dabi menyukai hal jahat sekaligus tak gemerlap.

Cahaya lampu di bar tersebut berwarna emas, memberikan kesan klasik namun sangat sederhana. Ada lima meja mengundang candu; satu telah terisi oleh pasangan yang dikuasai nafsu; berciuman dengan penuh gairah, desahan sang jalang tak dikenal ketika paha disentuh kasar, juga selangkangan mereka yang saling bergesekan. Hal menjijikkan yang sedang terjadi tidak membuat pria itu berhenti dan berbalik pergi tanpa arah.

Dabi menutup pintu, membiarkan lonceng di atasnya ikut berdengung.

Dia ingin bersenang-senang, namun sepertinya meminum beberapa botol bir untuk menenangkan pikiran adalah sebuah pilihan. Lelaki dengan rambut mencuat berwarna hitam memutuskan untuk duduk di salah satu kursi bar, menatap pria muda sedang meracik sesuatu di depan sana. Tangan sedikit terlentang, meminta untuk segera diberikan pelayanan. Penjaga bar menghampirinya, tersenyum seolah mengucapkan selamat datang.

"Vodka." — datar, singkat, memerintah.

"Segera datang." — hangat, ramah, cekatan.

Dabi pun ditinggalkan. Dia menopang dagu, melamun. Ada beberapa konflik di dunia yang membuat hatinya terus berkecamuk. Kerinduan akan sang ibu yang tidak bisa dijenguk adalah salah satu hal yang membuat hati menjerit pilu. Keberadaan sang ayah yang membuat kesal sampai ingin membunuh. Keadaan para adik yang saat ini membuatnya ingin memeluk.

Permasalahan keluarga adalah hal yang biasa, namun untuknya, itu adalah sesuatu yang luar biasa.

Dabi mendelik ke kanan, mendapati seseorang yang baru dia sadari hingga menit kelima. Dia sama sekali tidak sadar akan seseorang yang duduk di sana, bersamanya. Jarak mereka hanya terpaut dua bangku merah, benar-benar minim sekaligus membuat heran. Lelaki bermata biru seketika berkilat, menatap suatu atensi berupa pria muda dengan beragam emosi sembari meminum satu gelas tequila.

"…Aku membencimu."

Telinga Dabi dapat mendengar gumaman.

"—aku membencimu," Lagi, untuk kedua kali. Dabi menarik satu spekulasi. "Aku sangat membencimu … Kurogiri."

Satu nama berupa afeksi telah terdengar melalui bibir pucat penuh luka. Lelaki berambut hitam menaikkan sebelah alis tanda sedikit kebingungan.

.

.

ONCE UPON A NIGHT

My Hero Academia by Horikoshi Kouhei

Once Upon A Night by stillewolfie

Dabi/Touya T. & Tomura/Tenko S.

OOC, alternate universe, typos, etc.

.

.

Setelah menerima satu botol vodka dari penjaga bar, kedua mata biru kembali memperhatikan.

Dabi tidak tahu bagaimana lelaki aneh dengan tubuh kurus dapat menarik perhatian begitu saja. Namun ketika melihat dari samping, ia tahu bahwa kondisi mereka sama-sama berada di ambang kebodohan. Dabi dengan konflik dunia yang memuakkan, lelaki tanpa nama yang sepertinya telah ditinggalkan oleh sosok istimewa. Helai abu-abu tampak berantakan, ia mampu menebak kalau rambut tersebut sudah dijambak berkali-kali tanpa sebuah alasan. Kedua mata merah terlihat semakin merah, seperti habis menangis selama berjam-jam. Bibir terus mengucapkan sumpah serapah terhadap manusia yang eksistensinya tidak jelas.

Dabi menyeringai.

— dia suka.

— dia menyukai hal-hal berupa kejahatan dan siksaan.

Dabi beranjak sembari membawa botol vodka yang telah dipesan. Ia menggeser tubuh dan duduk di sebelah lelaki yang menarik perhatian. Kedua mata merah lantas mengerjap, menoleh ke atensi berupa lelaki tinggi berambut gelap; menatap dirinya dengan rasa penasaran. Dabi semakin melebarkan senyum ketika melihat mata merah semakin memicing, menatapnya dengan tatapan menusuk sekaligus membuat ngeri.

"Jangan dekat-dekat," Tidak ada senyuman ramah, melainkan geseran badan dengan arti menolak. "Siapa kau? Datang dari mana?"

"Kau terlalu memikirkan si Kurogiri itu sampai tak menyadari keberadaanku," Dabi mencelos, mengaduk vodka di dalam gelas. Iris biru berpendar kala melihat perubahan emosi yang tercipta. "Patah hati, eh?"

"Jangan sok tahu. Pergi, aku membencimu." Dabi hampir tertawa lepas. Mereka baru bertemu sekali dan orang ini sudah menarik kesimpulan kalau dia membencinya? Luar biasa. "Kau membuatku muak, orang asing."

"Jangan memanggilku begitu, kita belum berkenalan." Iris merah bertemu dengan miliknya. Warna biru adalah salah satu fenomena yang menenangkan, namun untuk Dabi fakta itu adalah sebuah pengecualian. "Namaku Dabi. Kau?"

"Jelek sekali." Komentar lelaki muda berambut keabuan.

"Terima kasih atas pujiannya."

"…kau benar-benar membuatku muak."

Dabi mendekat, menggeser tubuhnya. Kedua mata merah melotot marah. Jarak menipis, bahu mereka bersentuhan akibat keisengan dari pria berambut hitam. "Kau belum menjawab pertanyaanku."

"Apa?"

"Beritahu aku namamu."

"Itu bukan pertanyaan."

"Baiklah," Bibir membentuk lengkungan. "Boleh aku tahu siapa namamu?"

Dabi mendapatkan sebuah keraguan. Kedua mata merah terkesan kesal luar biasa. Entah mengapa, dia menyukainya. Dia senang mengganggu pria tak dikenal dengan kesan misterius yang membuatnya merasakan gejolak.

"Shigaraki," Dia berbisik. Mata biru melebar, berpendar, bercahaya. "Shigaraki Tomura."

"Namamu lebih keren," Dabi bermaksud menarik hati dengan cara memuji. "Tidak sepertiku yang membosankan."

"Enyahlah," Shigaraki benar-benar kesal. Dia sengaja memilih tempat terbuang seperti bar ini agar mendapatkan ketenangan. Nyatanya, ia malah menemukan manusia tidak waras dengan jahitan di bawah mata. Hari ini dia benar-benar sial. "Brengsek, kau tidak dengar aku? Enyahlah!"

"Bar ini bukan milikmu, Shigaraki-kun," Dabi dapat menangkap bahwa tangan lelaki itu gemetar, mencoba bertahan akan sifat emosi yang terkesan bimbang. "Aku juga tidak tega meninggalkanmu di sini, merenungi nasibmu yang telah ditinggalkan oleh sang mantan kekasih."

"Bangsat." Dabi tersenyum semakin lebar. Intinya, dia memang benar."Kau tidak tahu apa-apa. Haruskah aku menghajarmu agar kau pergi dari hadapanku?"

"Kau bisa memberikan satu ciuman kalau begitu."

"Aku benar-benar akan memukulmu."

"Aku menawarkan bantuan di sini," Dabi mengambil gelas Shigaraki. Tequila tampak terasa di bibir; rasa panas, manis, pahit itu bercampur menjadi satu; sangat cocok untuk lelaki berambut abu yang kini terlihat setengah mabuk. "Kau membutuhkan seseorang, Shigaraki."

Shigaraki memicingkan mata. Kilatan pada biru membuatnya terkesan waspada. Dia mencoba untuk merebut kembali gelas berisi tequila, namun hal tersebut adalah sebuah kesalahan. Keinginan untuk menghajar sesuatu semakin bergejolak ketika lengan kanan direbut paksa, menarik dirinya menuju tatapan menusuk yang terkesan dominan. Dabi berhasil menciptakan celah, senyuman muncul kala dia mendapatkan kecupan akibat tingkahnya yang kurang ajar.

"Breng—" Shigaraki beringsut menjauh. Dia bersumpah akan menghancurkan pria ini sekarang juga! "Apa yang kau lakukan, Sialan!?"

"Kenapa?" Kedua mata biru menggelap. Dia tidak menyangka kalau lelaki dengan luka di kulitnya ini memiliki bibir ranum yang amat menggoda. "Aku yakin kau sudah sering berciuman, apalagi bercinta."

"Lepaskan tanganmu," Shigaraki mengabaikan godaan, ia memilih untuk berusaha kabur dari jangkauan. Dabi mengunci pinggang dan menahan lengan, bermaksud tidak melepaskan dalam waktu dekat. Gelas tequila telah tumpah, vodka pun mulai terlupakan, penjaga bar yang menghilang entah ke mana, pasangan di ujung masih saja bercumbu dengan pakaian dalam terlepas; suasana yang sangat tidak menguntungkan. "Dabi, lepaskan aku!"

"Kau mabuk, Shigaraki." Dabi mengerjap, masih tersenyum. "Aku yakin kau tidak mau bertemu dengan si Kurogiri itu lagi. Jadi, aku menarik kesimpulan," Bibirnya mengecup daun telinga berkulit pucat, mata merah memicing lagi akibat sensasi hangat karena pinggang disentuh tanpa aba-aba. "—saat ini kau tidak punya tempat untuk berpulang."

"…lepas," Shigaraki tidak mau menjawab spekulasi yang terdengar sembarangan. Dabi memiliki opini berupa fakta; tidak ada hal yang salah. "Lepaskan aku."

Semakin Shigaraki menolaknya, semakin kencang pula Dabi menginginkannya.

Ciuman tidak terelakkan. Dabi mencium Shigaraki. Tanpa persiapan, tanpa perizinan, tanpa hal yang bersifat memaksa. Bagaimana bibir penuh jahitan mengecupi bibir penuh luka berkali-kali. Bagaimana lidah mulai masuk ke permukaan dan mengajak untuk bermain. Bagaimana kaus lusuh Shigaraki perlahan mulai terangkat dengan telapak tangan mulai menggelitiki. Desahan dapat terdengar. Permulaan untuk bercinta mulai terlihat di depan mata.

Posisi mereka membuat Shigaraki tidak nyaman, Dabi menyadari hal tersebut dan melepaskan ciuman mereka. Napas beradu, berdebar-debar, terdengar pilu. Kedua mata biru terlihat bercahaya ketika melihat lelaki di pelukannya tak mampu lagi untuk mengelak. Pinggang ramping milik Shigaraki semakin dieratkan. Lidah mendarat pada leher jenjang berkulit pucat, menciptakan beberapa tanda yang membuat sang pemilik mengernyit tidak suka.

"Apa ini yang sering kau lakukan?" Dia mengerang. Bercak pada pundak telah terlihat. "Berciuman dengan seseorang yang belum pernah kau temui, hm?"

"Tidak juga. Aku melakukan ini hanya denganmu." Dabi adalah pria tak tahu malu. Shigaraki yakin satu miliar persen walau mereka baru kali pertama bertemu. "Kau membutuhkanku. Aku pun tertarik padamu. Tidak ada salahnya, menurutku."

"Kau benar-benar brengsek." Erangan tercipta. Dabi kembali mengecupi lehernya. "…kau harus tanggung jawab, Dabi-teme."

Sejak awal, Dabi tidaklah salah; Shigaraki memang membutuhkan sebuah pelampiasan.

Seringai tercipta. Dabi mengambil uang dan meletakkannya di atas meja; bayaran untuk minuman mereka.

Kemudian, Dabi membawa Shigaraki; tangan mereka bertaut, pergi menjauhi bar, melewati jalan setapak, menyebrangi jalan, menaiki tangga, memutar kunci, pintu dibanting, berciuman lagi.

— ciuman penuh gairah, ciuman emosi akibat perasaan putus asa.

Dabi memojokkan Shigaraki ke atas karpet. Dia mencium lelaki itu seolah tiada kesempatan untuk melihat hari esok. Bagaimana dia merasakan sensasi terbakar ketika sadar bahwa Shigaraki tidak lagi brengsek seperti sebelumnya, melainkan menautkan kedua tangan di leher dan menerima ciuman mereka. Bagaimana tangan Dabi mulai berani menjamah, mengelus perut rata yang terkesan tak terawat namun lembut luar biasa. Bagaimana Shigaraki mendesah, mendesah, mendesah, mendesah, dan terus mendesah ketika tubuh mereka saling bertaut dan membuat dirinya bergerak ke sana ke mari, bergoyang-goyang, menciptakan irama yang membuat tubuh keduanya berkeringat.

Dabi adalah salah satu pria yang hebat ketika bercinta; lelaki itu membiarkan Shigaraki merasakan kenikmatan yang benar-benar mengerikan, memaksanya untuk terus mendesah dan meneriakkan satu nama yang berhasil membuat dirinya menggelinjang tidak tahu arah. Dabi adalah pria brengsek kurang ajar yang senang sekali menggoda; bagaimana dia sengaja berhenti dan meminta Shigaraki untuk bergerak dari atas, memberikan sensasi malu namun emosional. Dabi adalah pria bangsat tak tahu arah tapi sangat mempesona; bagaimana dia menciptakan suasana haru ketika dia mulai bergerak pelan dan penuh cinta saat mereka hampir menuju puncak.

Shigaraki tidak mampu berkata-kata.

Karena keesokan harinya, dia tetap menemukan Dabi di sana; tertidur lelap, memeluk pinggangnya, memaksanya untuk tidak pergi setelah melakukan cinta satu malam.

Persetan dengan Kurogiri. Persetan dengan pertemuan mereka yang baru saja terjadi.

Bolehkah Shigaraki memulai lembar baru dengan pria tak tahu diri namun berhasil membuatnya kembali jatuh hati?

.

.

ended

.

.

A/N: saya yakin tentang satu spekulasi; dabi adalah salah satu todoroki.

mind to review?