Daiya no Ace Fanfiction

Miyuki-san and His Tsundere Boyfriend

Enjoy the story okay~

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"MIYUKI KAZUYA!!!"

Teriakan yang menggelegar hingga ke seluruh penjuru ruangan apartemen itu berhasil mengusik kedamaian yang sedari tadi tercipta di pagi hari ini. Sang pemilik kamar apartemen nomor 218, Miyuki Kazuya yang sedari tadi sibuk di dapur menyiapkan sarapan sontak menoleh kala mendengar nama lengkapnya diteriaki dengan lantang. Lalu sepersekian detik kemudian muncul pemuda manis berambut cokelat gelap dari balik kamarnya lalu menghampiri Miyuki di dapur dalam keadaan nyaris telanjang jika saja tak ada handuk putih yang melingkar di pinggulnya. Ekspresinya tampak terlihat kesal kala mata bulat keemasannya menangkap sosok Miyuki.

"Hoo... Ohayou, Sawamura," sapa Miyuki. Tak lupa ia tampilkan seulas senyuman menawan yang menghiasi paras tampannya hingga sempat membuat Sawamura terpana sesaat.

"Jadi, ada apa hm?" Tanya Miyuki ketika menyadari Sawamura yang gagal fokus.

"Ugh-TANGGUNG JAWAB KAU MIYUKI KAZUYA!!!" Pekik Sawamura.

Pisau yang sedari tadi digunakan Miyuki untuk memotong bahan salad mendadak terlepas begitu saja dari tangannya. Netra hazelnya membelalak tak percaya.

"Sawamura..." gumamnya sembari menghampiri pemuda itu dan memegang kedua pundak telanjangnya. Netra hazelnya menatap lekat pemuda dihadapannya.

"...KAU HAMIL?!" Tanyanya dengan lantang.

"BUKAN BEGITU BODOH!" Amuk Sawamura yang mulai hilang kesabaran sembari menepis tangan Miyuki.

"Eh tapi-"

"AKU INI LAKI-LAKI, MANA BISA HAMIL!"

"Lalu kenapa-"

"MAKSUDKU TANGGUNG JAWAB SOAL INI NIH!" Sawamura menunjuk ke arah lehernya.

Leher jenjang itu saat ini tampak penuh dihiasi oleh bekas-bekas gigitan yang kemerahan bahkan nyaris ungu. bekas-bekas itu tampak menyebar hingga ke tulang selangka Sawamura.

"Aah... itu ya," gumam Miyuki sembari tanpa sadar menyeringai. Dalam kepalanya kembali terputar ingatan akan malam panasnya bersama Sawamura beberapa jam yang lalu.

"YA INI! BAGAIMANA CARA MENGHILANGKANNYA?!"

Miyuki memandang Sawamura heran, "Dibiarkan seperti itu pun tak masalah kan?" Ujarnya sembari mengambil pisau yang tergeletak di lantai lalu mengelapnya. Kemudian dilanjutkannya aktivitas yang sempat terhenti tadi.

"Mana bisa! Pagi ini aku ada kelas," sanggah Sawamura.

"Ya bolos saja kalau begitu," celetuk Miyuki sambil terus memotong tomat untuk salad.

"Ini kelasnya Kataoka-sensei!"

"Oh ya sudah, tutupi pakai plester saja."

"Mana cukup! Banyak begini."

"Kalau begitu perban saja."

"Kau kira aku tetangga sebelah yang maniak bundir itu?!"

"Ck kalau begitu pakai koyo."

"Tapi-"

TAK

"Sawamura... kalau kau terus protes akan kuhiasi setiap inchi tubuhmu dengan bekas-bekas kemerahan hingga kau merasakan malu yang luar biasa sekalipun kau mengenakan hoodie dan celana panjang di kamarmu sendiri."

Satu kalimat dari Miyuki yang disertai tatapan tajamnya berhasil membungkam mulut cerewet Sawamura.

Melihat Sawamura yang membeku di tempat membuat Miyuki menghela napas seraya tersenyum lembut. Kemudian ia menghampiri dan membelai lembut pipi kemerahan yang agak tembam milik Sawamura.

"Di laci lemariku ada koyo, kau bisa memakai itu kalau mau, mengerti?"

"U-un." Sawamura mengangguk.

"Bagus."

"Omong-omong, Sawamura," lanjut Miyuki dengan suara rendah yang entah kenapa terkesan menggoda, "kau sedang menggodaku ya?"

"Eh?"

Jari telunjuk Miyuki menunjuk ke arah 'sesuatu' yang tengah ditatapnya lekat-lekat saat ini.

"Handukmu... melorot tuh."

Pandangan Sawamura sontak teralih ke bagian tubuh bawahnya. Dan benar saja! Handuk putih yang sedari tadi menutupi bagian bawahnya itu entah sejak kapan sudah tergeletak di lantai. Menyebabkan area yang seharusnya ditutupi itu terekspos jelas.

"GYAAAAAAA!!!"

Miyuki menyeringai seraya berbisik tepat di telinga Sawamura,

"Aku tak keberatan kalau kau ingin 'main' di dapur~"

"Geh-OGAH!!!" Pekik Sawamura. Wajahnya kini tampak memerah parah. Hampir sama merahnya dengan bekas kemerahan yang di lehernya.

Kemudian didorongnya dada bidang Miyuki dengan kencang sembari melesat kabur. Meninggalkan pemuda berkacamata itu dan juga handuk putihnya yang tergeletak di lantai.

"Dasar... padahal kalau memang mau tinggal bilang saja," gumam Miyuki sembari menjilat bibirnya sensual kemudian melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti sembari terus menyunggingkan seringaian.

おわり?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Author Note:

Halloooooow!

Vreya balik lagi wkwk

dah lama juga ga upload, akhirnya sempet juga

Well, akhir-akhir ini ku keasyikan nge-game jadi mager nulis :v

terus tiba-tiba tadi iseng buka draft ff dan nemu harta /plak

Ternyata ada banyak juga project ff yg dah lama ga kesentuh, salah satunya ini. Yeah sebenernya project awal ff ini oneshot gitu, cuma karena plotnya lumayan bagus buat dibikin drabble multichap ya akhirnya kubikin begitu aja. Lumayan buat penetralisir isi kepalaku yg ngebet bikin angsty mulu beberapa bulan ini :'v, soalnya cerita ini penuh dengan yg fluffy-fluffy dan sweet (mungkin :v) wkwk. Jadi... selamat menikmati berbagai kisah si tsundere uke dan seme ga tahu malu ini wkwk

Yosh, kore de owari! sampai jumpa di chapter selanjutnya~ (kalau inget :v /plak)