What He Truly Wants, What He Craves For

(first published at AO3, november 1 2019)

an USHIOI [Ushijima Wakatoshi x Oikawa Tōru] oneshot

haikyū! credit goes to the amazing Furudate Haruichi-sensei

WARNINGS: boys loving boys, semi canon dengan alternate ending, typo(s) yang terlewat, EYD tidak beraturan, alur kecepatan dan hal-hal absurb lainnya; sudah yang ke sekian kalinya diedit dan berakhir dengan 4k+ kata!moga2 jauh lebih menghibur!


"To get a hold of 'the insensitiveness and dull heart of Ushiwaka-chan' is what he truly wants, what he craves for"

Kapten VBC Seijō, yang dikenal karena ketampanan, cool aura, kebucinannya pada milkbread serta commanding position-nya dalam tim, rupanya punya sisi lemah, juga; Walaupun tidak pernah ditunjukkan.

Tōru Oikawa sedang galau. Sangat sangat galau!Jika ada kata yang melebihi makna kalimat tersebut, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.

Karena tidak ada kegiatan klub sebagai distraction, jalan-jalan adalah pilihan utamanya. Tōru butuh penyegaran; Sendirian dan tanpa tujuan tapi. Siapa tahu udara sore bisa membuatnya merasa lebih baik.

Niatnya memang ingin merelaksasikan pikiran dan hatinya,

Namun…

'Dimana aku sekarang? Sejauh mana aku berjalan?'

Saking tidak tentu arah, langkah kakinya malah membawanya menuju Akademi Shiratorizawa, lebih tepatnya menuju tempat latihan klub bola voli putra.

Apa mungkin hari ini adalah hari sialnya? What the hell!

Bukan saja sudah berjalan terlalu jauh, hari juga sudah malam. Kancing jaket yang terlepas mengenai sepatunya yang menyadarkannya.

Bertepatan dengan tibanya di sana, klub terpandang tersebut baru juga selesai latihan.

Buru-buru bersembunyi di balik tanaman hias di taman, Oikawa tentu tidak ingin dianggap stalker.


"Ahhh aku hampir mati kewalahan!" Suara keluhan Satori Tendō terdengar setelah pemuda berambut merah itu muncul dari balik pintu gedung olahraga. Sambil meregangkan otot lengannya, dia melanjutkan, "Beruntung latih tanding kali ini tidak selama biasanya! Mandi dan makan setelahnya tidur, yay, aku akan kembali ke 100% diriku!" Diakhiri dengan creepy smile andalannya.

Di belakangnya, Kenjirō Shirabu, dengan tatapan dan nada suara datarnya, menyindir senpai-nya, "Tendō-san, jujurlah! Senpai masih begadang memainkan game aneh itu!"

"Shirabu, aku tidak bilang begadang! Aku juga tidak pernah memainkan game yang aneh-aneh!" Bantah sang middle blocker seraya meyakinkan, "Aku hanya kesulitan tidur beberapa hari ini!"

Kenjirō ber-hm kecil. Dia bisa menangkap ekspresi kebohongan dari seniornya. "Wajahmu justru lebih jujur dari perkataanmu, senpai."

Satori masih juga membantah. "Aku tidak bohong, tahu! Lagipula tidak ada salahnya memainkan game seperti itu!" —Online dating games Wajar saja pemuda yang dijuluki guess monster itu sampai begadang menanti balasan fakelover-nya. Wajarlah waktu istirahatnya jadi berkurang.

"Tendō-san, wajahmu memerah..." Taichi Kawanishi yang menangkap ekspresi malu dari kakak kelas yang yang digoda balas menggoda. "Akui saja..."

Satori mengepalkan jari-jarinya yang masih berbalut selotip. Bantahannya terdengar satu oktaf lebih tinggi. "Apa yang harus kuakui?!" Karena sudah tidak bisa lagi menyembunyikan wajah merahnya, dia mempercepat langkahnya agar sesegera mungkin menghilang dan tidak lagi digoda oleh junior serta rekan yang lain.

Menyaksikan semua itu, sang libero, Hayato Yamagata, menarik nafas panjang. Kenapa juga malu mengaku? Padahal sudah sering kedapatan sampai hampir subuh. "Sudah! Sudah! Kalian tentu tahu Satori tidak akan pernah mau mengakuinya!"

Di samping mereka, Eita Semi, the second setter, berujar mengganti topik pembicaraan. Mengingat kembali kelakuan pelatih mereka, Tanji Washijō, yang lebih diam dari biasanya. "Ngomong-ngomong, apa kalian menyadarinya? Pelatih tidak banyak berteriak hari ini. Sepertinya beliau sedang tidak enak badan."

"Benar. Sebagian dari kita tidak diteriaki ataupun ditampar." Reon Ōhira yang mendapati wajah bahagia the Next Ace of Shiratorizawa bertanya, "Jadi Tsutomu, apa itu alasannya kau terus tersenyum dari tadi?"

"Reon-san, aku sungguh bersyukur aku tidak dihajar! Wajahku pasti sudah babak belur!" Ujar remaja yang biasa dipanggil Goshiki berlinang air mata kebahagiaan atas keberuntungan yang berpihak padanya hari ini; Faktanya, dia lebih sering dihajar bahkan diteriaki habis-habisan daripada anggota lain. Sambil menyeka air mata, si kepala mangkuk melanjutkan, "Aku harap pelatih akan terus baik seperti hari ini!"

Saat itu para anggota VBC Shiratorizawa terlihat tengah berjalan bersama menuju gedung asrama. Masih ada latihan bersama walaupun sudah bukan anggota lagi, powerhouse memang beda…


Tōru memperhatikan dengan saksama, orang-orang yang keluar dari gym, satu per satu. Tapi orang itutidak ada; Orang yang (dia yakini adalah penyebab) kekacauan yang beberapa minggu ini membuatnya frustrasi, tidak bisa tidur, gelisah, galau, merana, dan istilah serupa lainnya...

Siapa lagi kalau bukan the Lefty Ace, Wakatoshi Ushijima.

Tōru masih merasa kesal. Semenjak ancaman-kerasnya-mengenai-harga-diri-tidak-berdasarnya, pemuda kidal itu bahkan tidak merespon. Jengkel, terluka, terguncang, tersakiti, APAPUN! Tōru ingin sekali melihat semua ekspresi itu.

Tapi tidak ada yang ditunjukkan. 'Ushiwaka-chan' tetap saja dengan wajah expressionless khasnya.

Tetapi setelah kejadian itu, Ushijima tidak lagi mengganggunya.

Di hari berikutnya saat mereka berpapasan selesai pertandingan final Shiratorizawa melawan Karasuno, Ushijima tidak lagi menghampirinya. Begitu juga di hari-hari berikutnya saat ada latih tanding ataupun pertukaran pemain biasa. Juga saat mereka tanpa sengaja bertemu di kamar kecil atau di kota saat berbelanja, Wakatoshi terus menghindarinya seolah mereka tidak pernah kenal satu sama lain.

Tōru Oikawa seharusnya bahagia. Sepantasnya lega karena terbebas dari obsesi Ushiwaka-chan yang bersihkeras agar dirinya masuk Shiratorizawa ketimbang Seijō. Seharusnya gembira karena ancamannya berhasil.

Tapi ada yang berbeda.

Rasanya ada yang hilang saat dia diacuhkan.

Rasanya… sakit karena sekarang dia hanya bisa memandang punggung Ushijima yang terus berjalan menjauh.

Ushijima menghindari kontak mata, lebih memilih berdiri di tempat yang tidak bisa Oikawa lihat, dan hal-hal lain yang si brunette sadari semua itu adalah usaha menghindar diri.

Beberapa hari lalu, mereka sempat berpapasan di toko buku.

Tōru jelas menyapanya. Wakatoshi tidak berbalik, malah secepat hembusan angin keluar dari toko dan menghilang.

Tōru merasa semakin terganggu.

Walaupun tetap fokus pada pelajaran dan kegiatan klub—di hari-hari terakhir mereka, saat sendiri, pemikiran tentang punggung Wakatoshi Ushijima yang semakin menjauh terlintas lagi dan itu menyakitinya. Dia tidak bisa menerimanya.

Niatnya sudah bulat.

Dia harus menemui Ushiwaka untuk bicara.

Dengan paksaanpun tak apa asalkan orang itu mau bicara. Bagaimanapun caranya, dia harus secepatnya mengakhiri susah tidurnya, untuk menenangkan batinnya, untuk mengeluarkan ganjalan di hatinya, untuk memperjelas segala sesuatu di antara mereka.

Dan akhirnya… yang dinanti-nanti muncul juga!

Wakatoshi baru keluar dari dalam gym, hampir setengah jam, diikuti beberapa orang pelatihnya, setelah semua anggota VBC Shiratorizawa menghilang dari pandangan.

'Apa dia selalu ditahan selama ini setelah selesai latihan? Super ace memang beda!' Gumam Tōru, antara kasihan dan tertegun.

Diperhatikannya saat sang kapten membungkuk dan kelima orang itu mulai berjalan terpisah. Dua orang pelatih serta dua orang yang tidak dia kenali berjalan berbanding arah dengan Ushijima yang melangkah menuju gedung asrama.

Inilah kesempatannya! Oikawa-san harus menggunakan kesempatan dimana Ushijima terlihat seorang diri saja untuk bicara.

Dengan gusarnya, atlet bola voli penyuka roti susu itu keluar dari tempat persembunyiannya seraya melemparkan kancing baju dalam genggamannya ke arah belakang kepala Ushijima—nice aimed!—dengan cukup keras sehingga si super ace sukses mengusap kepalanya.

Sekilas pemuda tinggi itu menoleh ke arah datangnya benda itu. Dia yakin yang mengenai kepalanya bukan serangga liar. Bukan juga batu, tapi… kancing jaket? Kira-kira siapa yang berani sekali melemparinya?

Oh…?

Bukannya yang berdiri di hadapannya adalah Tōru Oikawa? Apa yang dilakukannya di sini? Kenapa sampai melemparinya?

Mendapati wajah gusar Oikawa dengan tangan bersilang di depan dada membuat iris Wakatoshi sedikit melebar. Untuk menyembunyikan keterkejutannya, pemuda penyuka hayashi rice itu memutar tubuhnya untuk melangkah ke arah yang sama dengan yang dilewati pelatihnya, bertingkah seolah ingin menanyakan hal penting yang belum kesampaian.

Tōru tidak tinggal diam. Kapten Seijoh dengan mantapnya menghentikan pemuda olive itu dengan pertanyaan-to-the-point-nya, "Mau lari lagi? Sampai kapan kau akan terus seperti itu, Ushijima?!" Yang lebih seperti sindiran. Gerak-gerik Ushijima bisa dengan mudah ditebak. Rupanya masih belum jera juga usaha menghindarnya.

Wakatoshi yang terhenti langkahnya, mencoba mencari alasan seolah namanya tengah dipanggil. "Pelatih, tadi anda ingin bilang apa?" Namun gagal karena suaranya bergetar, petanda sedang berbohong.

"Kau jelas beralasan, bodoh!" Suara Oika-san meninggi. Yang Mulia Baginda Raja Agung murka! Kilatan dari bola mata dan nada bicaranya mempertegas kemurkaannya. Ushijima sungguh tidak pandai berbohong, sangat kentara! Justru lari dari kenyataan tidak akan menyelesaikan masalah. Di akhir kalimatnya, Baginda menegaskan, "Aku ingin bicara! Kau dan aku! SEKARANG!"

Beberapa butir keringat muncul di pelipis Wakatoshi. Suara Oikawa yang meninggi membuatnya semakin gugup. The farmboy segara berbalik badan menghadap Your Majesty dengan bahasa tubuh, 'Hamba pantas mati!', setelahnya berdiri kaku.

Tanpa bicara lagi, Tōru langsung mendekat dan memeluk Wakatoshi. Cukup erat. Dari jarak sedekat ini dia bisa merasakan sesuatu di dalam dada pemuda itu berdebar. Sambil berusaha menenangkan diri, Tōru berbisik, "Kenapa… Kenapa kau menghindariku? Seolah kau tak mengenalku!"

Lambat laun dirasakannya debaran di dalam dada pria besar dalam dekapannya semakin cepat.

"…Karena… kau membenciku…" Wakatoshi menjawab singkat, refleks melingkarkan satu tangan pada bahu Tōru saat dia dipeluk. "Sifat kekanak-kanakan, memaksakan kehendak, egois… Oikawa, aku sadar, kau membenciku! Aku pikir dengan menghindar kau akan terbebas!"

"Aku tidak membencimu…" Tōru tetap berbisik dengan suara lembut. "Dulu... Mungkin..." Amarahnya perlahan menghilang. Entah mengapa aroma yang menguar dari tubuh Ushiwaka seakan menenangkannya. Dia mengeratkan pelukannya. "Memang benar kau terlalu kekanak-kanakan! Terlalu memaksa! Kau seharusnya tahu aku juga punya alasanku sendiri!"

Bukannya membenci, Tōru hanya tidak suka dengan cara Wakatoshi merendahkannya. Tatapan mata itu seperti dia adalah makhluk paling hina di dunia ini—yang tentu saja berjuta kali lebih menyakitkan daripada nama panggilan yang Iwaizumi berikan padanya. Ataupun saat menerima kenyataan pahit kekalahan mereka dari kumpulan gagak liar di pertandingan terakhir beberapa pekan lalu. Tōru hanya ingin untuk 'menang', meskipun hanya sekali dalam hidupnya, selama masih berada di Aoba Jōsai, selama masih bersama teman-teman—keparat yang tidak pernah menghargainya—beserta adik kelasnya. Ingin untuk mengetahui seperti apa rasanya berada satu tingkat lebih tinggi dari orang yang selama ini menista dirinya.

"Sebesar apapun aku mencoba, kau tetap tidak bisa kulampaui! Tembok tinggi yang tidak bisa kulewati, itu kau Ushijima!" Tōru tersenyum di akhir kalimatnya. Matanya sudah terbuka. Yang kalah dalam permainan 'Tembok Tinggi' yang mereka mainkan adalah dirinya sendiri; Sedari mulanya, dia sudah menginginkan orang ini. Lantas saat Ushijima tidak lagi muncul di sekitarnya, dia merasa hampa. Sebagian dirinya hilang dan terkubur entah dimana saat orang itu tidak ada.

Kenapa baru sekarang dia menyadarinya? Kenapa selama ini tangan Ushijima yang terulur padanya selalu dia tolak? Dia terlanjur menyesal. Seharusnya tangan itu sudah ia genggam erat tanpa takut disakiti.

'Semua latihan… pengalaman… strategi kami… dihancurkan hanya dengan kekuatan...' Ingatan tentang perkataannya di babak penyisihan Interhigh muncul lagi—pertandingan terakhir mereka melawan Shiratorizawa dan tidak pernah satu kalipun menang barang satu setpun; Ya, 'kekuatan!' Itulah jawabannya! Kekuatanlah yang mengalahkan segala usahanya, bahkan harga diri tidak berdasar yang begitu dia junjung tinggi—serta hati yang kian dingin dan membeku—sekalipun sudah diruntuhkan, berujung menginginkan 'sang pemenang' menempati ruang hampa dalam hatinya.

"Aku yang kalah! Aku yang selamanya kalah!" Tuturnya mengukir senyuman lain. Wajahnya dia sembunyikan pada dada bidang orang yang-terlambat-dia-sadari ikut memenangkan hatinya itu. "Karena itu, jangan lagi berbuat seenaknya! Jangan lagi menghindariku! Tak apa kau terus menatapku dengan tatapan nistaanmu itu! Asalkan kau tetap menemuiku dan bicara padaku! Asalkan kau tidak menjauh! Tetaplah bicara padaku! Tetaplah muncul di hadapanku! Aku membutuhkanmu, Ushijima!"

Karena malu mengakui perasaannya dengan kata-kata suka, Oikawa mengutarakannya dengan kata-kata lain. Rasanya dia jadi begitu sentimental hari ini, dia bukan dirinya. But well, at least you tried! Setidaknya beban di pundaknya sudah terangkat! Ditolak pun tidak apa, jawaban apapun akan dia terima.

"…" Ushijima yang terdiam hanya bisa berdiri kaku menyimak pengakuan Oikawa. 'Tidak perlu kau akuipun, kau akan selalu kalah, Oikawa.' Inginnya menjawab begitu. Mendapati si brunette yang sepertinya sedang mencurahkan isi hatinya membuat Wakatoshi berpikir keras untuk menangkap arti kata-kata sebanyak itu. Kapten Shiratorizawa tidak paham maksud kata melampaui. Yang dia pahami, melampaui berarti melebihi, Tōru berusaha mengunggulinya—walaupun yang Oikawa maksud sebenarnya adalah ingin menyentuh hati si tidak peka Ushijima-san!

Kerutan di dahi Wakatoshi semakin menjadi.

Dan lagi kata membutuhkan. Mungkin dia harus mengurus surat pindah sekolah ke Seijō agar sekiranya bisa selalu berada bersama Oikawa? Jika itu yang dimaksudkan Tōru, toh mereka masih punya waktu beberapa bulan sebelum lulus. Wakatoshi tidak keberatan ditransfer. Dia rela melakukan apa saja yang nantinya membahagiakan Oikawanya. Tapi apa benar itu yang sebenarnya diinginkan setter pujaannya?

Lima menit… Sepuluh menit… Hampir duapuluh menit…

Tōru melepas pelukannya karena tidak mendengar jawaban apapun dari pria yang lebih tinggi darinya itu.

Shit!

Ada apa dengan wajah Ushiwaka? Tōru bisa menangkap ekspresi bingung dari sana.

Jangan bilang confession-nya gagal!

Oh yang benar saja! Tōru sudah bersusah payah menyiapkan hatinya untuk mengakui perasaannya-yang-baru-dia-sadari-dengan-kata-kata-sebanyak-itu-yang-kelewat-sentimental, sudah susah payah menunjukkan kelemahannya-yang-tiada-satu-orangpun-yang-tahu yang selalu dia sembunyikan, tapi orang beruntung yang ditembak tidak tahu arti semua itu.

Setidakpeka itukah Ushijima-san mengenai perasaan orang lain? Masa kalimat sebanyak itu tidak membuatnya mengerti?

Kesal luar biasa, Tōru menarik kerah baju Wakatoshi dan menyatukan bibir mereka. Bukan ciuman kasar tapi berlangsung cukup lama dan berulang sampai mereka terpaksa melepas diri karena butuh udara.

Mungkin dengan cara ini Ushiwaka-chan akan mengerti.

Sekilas wajah Tōru memerah, tidak berbeda jauh dengan Wakatoshi setelah ciuman pertama-kedua-ketiga-keempat-kelima mereka. Dai Ōsama kemudian mengalihkan pandangan untuk menghilangkan debaran jantung yang menggebu yang menghampirinya.

Wakatoshi sendiri baru menangkap maksud perkataan Tōru beberapa saat setelah bibir mereka terpisah. Yang dia tahu—dari ulasan singkat yang dia baca dari majalah Satori—ketika seseorang mencium seseorang berarti mereka memiliki perasaan khusus. Dan Tōru baru saja menciumnya. Jadi maksud ungkapan 'Aku membutuhkanmu!' tadi karena Tōru memiliki perasaan khusus terhadapnya? Otaknya tidak berpikir sampai di sana; Dibesarkan dari kedisiplinan super keras keluarga Ushijima serta kehilangan sosok ayah sebagai tempat mencurahkan isi hati membuatnya tidak pernah tahu adanya perasaan 'kagum, suka, cinta, sayang', sampai dia bertemu Tōru Oikawa.

Rasa ingin memiliki dan dimiliki… Itukah yang sebenarnya Tōru rasakan terhadapnya? Rasa yang membuat dua orang memutuskan untuk terikat menjadi sepasang kekasih?

"Oikawa, kau menyukaiku?" Tanyanya dengan begitu polosnya; Memastikan kalau renungan serta ulasan dari artikel yang dia baca memang ada benarnya.

Action speaks louder than words it seems. Mencuri ciuman dari the super ace ternyata membuahkan hasil. Bukan hanya tidak peka, Ushijima memang tumpul jika itu menyangkut perasaan. Dengan kata-kata saja tidak akan cukup. Tōru harus memberi aksi untuk membuatnya mengerti.

Yang tetap saja, dilihat dari sisi manapun, 'memberi aksi pada pasangan yang tidak peka' merupakan suatu hal yang lebih memalukan dibanding flirting. Memikirkannya saja sudah membuat Tōru malu. Dia berusaha menyembunyikan wajah semerah tomatnya dengan terus mengalihkan mata dan melangkah mundur. "BERISIK! Jangan besar kepala dulu! Bukan berarti aku menyukaimu, baka! Baaaaka!"

"Lantas kau menciumku..." Wakatoshi yang sudah terbiasa dengan openly-overreacting sang idola sekolah hanya bisa memiringkan kepala. Alisnya kembali berkerut. Artikel yang dia baca ternyata 50/50. Seharusnya tidak mudah percaya-percaya saja. "Aneh… Bukannya ciuman bibir itu sesuatu yang istimewa? Orang-orang tidak akan melakukannya kalau tidak didasari rasa suka…"

'Benar-benar pemikiran yang sempit sekali!' Pipi Tōru menggembung. Kesal sekaligus malu. "Kau sebut itu ciuman? Bibir kita hanya saling berbenturan! Itu bukan ciuman!" —Menurutnya! Walaupun yang tadi dia lakukan adalah–uhuk-french-kiss-cukup-antusias. Si setter tukang ngambek mulai berjalan menjauh. "Lagipula ciuman bibir itu hal biasa! Bisa saja berciuman dengan orang asing! Dunia sudah tidak sesempititu lagi, Ushibaka!"

"Kalau begitu..." Wakatoshi berjalan mengikutinya dari samping. "Boleh kita lakukan lagi? Maukah kau mengajariku?" Tentu saja Tōru berpengalaman menyangkut hal membahagiakan pasangan. Pemuda populer sepertinya pasti sudah masternya, Ushijima berpikir demikian.

"Hah? Apa kau bercanda? TIDAK AKAN, USHIBAKA! TIDAK AKAN PERNAH!" Semburat merah mulai menyebar hingga ke ujung telinga dan leher Tōru. Cara bicara Ushibaka yang selalu mengarah pada inti permasalahan—tanpa disaring dahulu—membuatnya semakin malu saja. Dadanya tidak pernah berdetak sebrutal ini saat bersama kekasih-kekasih sebelumnya; Ushibaka-chan harusnya bersyukur, dialah orang pertama yang membuat Tōru seperti ini. Setter tidak jenius itu kemudian mempercepat langkahnya.

"Oikawa..." Wakatoshi sedikit kesulitan mengejar karena yang dipanggil bukan lagi melangkah melainkan racewalking. Lupakan urusan membahagiakan pasangan, ada hal lain yang jauh lebih penting yang harus dia ungkapkan, sebelum terlambat dan yang tinggal hanyalah penyesalan; Bukan sekadar tertarik, perasaannya lebih dalam dan kuat. Wakatoshi yakin perasaan mereka sama.

"Oikawa!" The lefty ace menghentikan langkah mereka dengan melingkarkan lengannya pada tubuh Tōru, membawanya dalam dekapan hangat dari belakang. "Terima kasih, Oikawa! Perasaan kita sama! Aku senang kau tidak benar-benar membenciku!" Tuturnya kaku dengan suara bergetar. Wajahnya dia benamkan dalam-dalam pada ceruk leher orang yang diam-diam dia sayangi itu sambil meremas jaketnya dengan lembut. "Aku juga selalu menyukaimu! Maaf jika selama ini aku terus menyakitimu!"

Mungkinkah Oikawa akan menolak jika diperlakukan selembut ini? Tersentuh, Oikawa tidak pernah merasa setenang ini, dia memang berharap dipeluk tapi tidak menyangka Ushijima akan mengakui perasaannya. Aroma rambut Ushijima menyadarkannya kalau dia tidak sedang bermimpi. Ini nyata! Ushiwaka-chan juga merasakan hal yang sama. Tōrupun merapat manja mencari kehangatan lain. Satu tangannya menangkap tangan kiri Waka-chan—tangan yang selama ini terulur padanya—dalam genggamannya. "Aku yang seharusnya bilang begitu! Terima kasih, Ushijima! Aku juga menyukaimu!"

Oikawa tahu Ushijima bersungguh-sungguh dan tulus menyayanginya; Walaupun tidak peka dan sedikit berpikiran sempit, selalu berwajah serius dan tidak bisa berbohong, dari dasar hatinya Ushijima adalah seorang yang peduli. Alasan orang itu menghindar agar dirinya tidak lagi terbeban dengan semua sifat menyusahkannya itu. Di balik wajahnya tersimpan rasa peduli. Perasaan yang tulus, bukan obsesi belaka.

Keduanya kini bergeming. Saling mendalami perasaan terpendam-yang-akhirnya-terucap dalam diam.

Oikawa tidak menyangka dekapan Ushiwaka-can akan sehangat ini.

Hembusan angin yang menerpa beriringan dengan suara serangga yang mengisi kesunyian malam itu menyadarkan mereka; Waktu terus berjalan, tidak berhenti di situ saja.

Tōru yang memecah keheningan dengan membuka suara, "Hei, Ushijima… Aku lapar... Carikan aku makan malam…"

"Tentu." Sahut Wakatoshi segera setelah mendengar permintaan—titah Yang Mulia. Dia masih mendekap Tōru namun memastikan genggamannya tidak menyakiti pujaannya. "Aku tahu tempat yang enak di sekitar sini."

"Aku butuh makanan yang berkelas!" Tambah Tōru. Wajah Wakatoshi yang masih tenggelam di lekuk lehernya membuat semangatnya naik. What a big baby! Diapun melanjutkan, "Tenagaku harus dipulihkan karena belakangan ini aku suka pilih-pilih! Selera makanku hilang! Apa bisa kau pastikan rasanya sesuai dengan seleraku?" Nada bicara manja sekaligus sinis, tampaknya Tōru Oikawa sudah kembali menjadi dirinya.

"Memang benar kau terlihat tidak sehidup biasanya tapi aku jamin enak." Wakatoshi ikut prihatin. Tōru terlihat lebih lemas seperti orang yang kehilangan semangat hidup—he has been this way because of you dude gezzz… Khawatir memang, Wakatoshi berencana mentraktir Tōru sesuatu.

"Kau yakin? Bukan soal rasa tapi kandungan gizi tiap sajiannya! Karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral…" Tōru mulai bicara tanpa henti. "Bagaimana kalau aku alergi? Bagaimana kalau aku tidak cantik lagi?"

"Kau akan tetap cantik walaupun tubuhmu dipenuhi ruam."

Skakmat!

Tōru menahan nafas. Berusaha untuk tidak mengeluarkan kata-kata makian melainkan menyentuhkan kepala mereka seketika. "Terserah!" Debaran jantungnya membuatnya kehilangan keinginan untuk adu mulut.

"Tapi sebelum kita pergi, aku harus minta izin keluar. Aturan tinggal di asrama tida—"

"—Ya! Ya! Aku tahu!" Oikawa melepas pelukan mereka dan menghadap Ushijima. Tidak ingin membuang lebih banyak waktu, Bagindapun memberi titah, "Pergilah! Kutunggu di gerbang depan! Waktumu hanya lima menit, Kapten!" —Hanya gertakkan, percayalah! Dia akan setia menanti meski beribu tahunpun!

"Aku tidak akan lama!" Ushijima mengangguk patuh sambil melayangkan satu senyuman lembut.

Senyuman-sangat-jarang-yang-mempesona-siapa-saja…

Oikawa tidak bisa merasakan perasaan lain selain kebahagiaan karena senyuman menawan itu. Dia lalu balas tersenyum sambil melambai mengiringi kepergian kaptennya.

Setelah Waka-kun menghilang di balik gedung, Tōru-kun mulai berteori sendiri. 'Bapak lu sok mengintimidasi! Ternyata hanya wajahnya sajayang seperti itu! Mr. Lefty si big baby! Aku ingin semakin mengenalnya!'

Wakatoshi Ushijima sungguh berbanding terbalik dengan semua prasangka dan pemikirannya selama ini. Orang ini terlalu polos yang justru membuatnya terlihat sangat manis. Oikawa tidak akan malu lagi memperlihatkan semua rasa sayangnya, bahkan saat mereka berada di tempat umum sekalipun.

Mulai saat ini...


Sayangnya mereka tidak tahu ada yang sedari tadi mendapat tontonan boyxboy gratis.

Satori Tendō menyeringai rendah dari balik pohon di pekarangan. Dia sudah merekam semua yang dia saksikan antara kaptennya dengan setter tim Aoba Jōsai. Menyaksikan bagaimana rival—sepihak—itu resmi menjadi sepasang kekasih serta first kiss mereka. "Jangan khawatir, Wakatoshi-kun! Rahasiamu akan aman!"


Beberapa ratus meter dari halaman sekolah,

Sebelum membuka tirai untuk masuk ke kedai, Wakatoshi bersin beberapa kali. Lekas menutup hidung dan mulutnya agar tidak mengganggu sekitarnya, dia berujar, "Sepertinya aku masuk angin!"

Tōru yang menyodorkan sapu tangan menoleh sekeliling, sedikit lebih waspada kalau-kalau ada orang-tak-terduga yang membuntuti, namun genggamannya pada lengan Wakatoshi tidak dia lepaskan, malah semakin dieratkan karena rasanya udara malam semakin dingin. "Nah... Seseorang pasti sedang membicarakanmu, Ushiwaka-chan!"

"Oh..." Wakatoshi mengikuti arah pandang Tōru. "Aku yakin yang lainnya (anggota timnya) pasti sedang mencemaskanku."

Tōru mengangkat bahu. Matanya kembali dia fokuskan pada wajah Wakatoshi. "Jadi mereka mengkhawatirkan kapten mereka yang bepergian sendirian sehabis latihan, eh? Beritahu saja kau sedang ada kencan denganku, dengan The Famous Oikawa-san!" Tegasnya menyombongkan diri. Mencoba menggoda Ushiwaka-chan lagi dan lagi.

"Baterai ponselku habis."

Tōru langsung terkekeh. 'Tidak perlu kau ditanggapi juga, Ushibaka!Itu jelas candaan!'

Ada tanda tanya besar di kepala Wakatoshi melihat Tōru yang tertawa sendiri. Mungkin karena si cantik ini bahagia dengan status mereka sekarang. Wakatoshi-kun kini mencoba untuk lebih terbuka. "Ngomong-ngomong…"

"Hm?"

"Maukah kau berhenti memanggilku dengan sebutan itu? —chan—. Konyol rasanya aku dipanggil begitu!"

"Hehhh... Memangnya kau ingin kupanggil apa?" Goda Tōru. Mereka sudah resmi pacaran beberapa saat lalu. Mungkin Ushijima mencoba untuk lebih mendekatkan diri dengan memintanya memberi nama panggilan baru? Kali ini Oikawa berusaha berpikir dengan otaknya. Panggilan unik tapi tidak lebay yang cocok dengan wajah dan kepribadian Wakatoshi Ushijima? 'Anata; Love; Aa' mungkin? Ah tidak, terlalu formal! Oikawa belum siap menggunakan sebutan itu. Bagaimana dengan 'Babe?' Tidak, tidak cocok dengan tampang-selalu-serius Ushijima! 'Baby bala-bala? Darling? Boo? Hun?' Panggilan sayang lainnya?

Buntu. Tōru membatu di tengah pemikirannya.

Mendesah pasrah, dia kembali ke keputusan pertamanya. "Menurutku 'Ushiwaka-chan' tidak terlalu buruk..."

Wakatoshi yang menanti diberi new petname terlihat ingin protes tapi tidak jadi. Sebelum mereka masuk kedai, seperti biasa 'asal nyeplos; speak whatever comes into his mind', the lefty memberi usul, "Bagaimana kalau nama depanku?"

Tunggu! Tunggu! Nama depan?

Ushijima baru saja memintanya untuk (mulai sekarang) memanggilnya Wakatoshi?

Oikawa tidak jadi melangkah masuk melainkan freezing. Bukan hanya wajah dan telinga, Tōru yakin seluruh tubuhnya sudah memerah. Rasa panas sudah menjalar hingga tulang belakangnya.

Gawat! Kepolosan nan imut ini bisa membuatnya gila!

Nampaknya Tōru akan benar-benar membutuhkan senam jantung setelah memulai hidup barunya bersama orang ini.

Niat ingin menggoda tapi salah tingkah sendiri, bisa-bisa stroke dini!

"Ushibakayarō!"—Nama panggilan baru kesayangannya :3

Adalah satu kalimat tanpa jeda yang dia tegaskan sebagai jawaban. Dengan geraman dia meninju perut Ushijima sambil berderap memasuki kedai tanpa hentinya menghina kekasih barunya itu. "Baka! Bakayarō!"

Ushijima yang masih di tempat menautkan alis. Tidak ada rasa sakit sejujurnya. Heran saja. Kenapa Oikawa marah? Padahal dia hanya ingin mendengar namanya dipanggil oleh suara merdu itu.

Sebelum menyusul, saat mendapati kancing bronze bermotif dan sapu tangan Tōru di tangannya, wajah Wakatoshi ikut memerah.

Baru sadar rupanya…

Mereka bukan lagi musuh—sepihak—melainkan sepasang kekasih; Tōru Oikawa, OIKAWA kekasihnya, seseorang yang akan menemani hari-harinya, orang yang akan berdiri di sisinya berbagi berbagai pengalaman.

Wakatoshi tidak pernah berpikir hidupnya akan sesempurna ini…

Fin.


fluffy oneshot yang gagal! selebihnya semoga suka! terima kasih sudah membaca! akhirnya... lanjut atau...? up to you folks ;3


[…OMAKE…]

"Selamat datang! Silahkan duduk di mana saja yang adik berdua sukai!"

"Terima kasih!"

Di dalam kedai, Ushijima membiarkan Oikawa memilih tempat duduk untuk kencan pertama mereka.

Setelah menemukan tempat yang sesuai, ace Shiratorizawa bertanya, "Oikawa, apa aku salah bicara?" Belum puas. Tōru masih saja cemberut padahal usulan nama panggilan tadi tidak seharusnya dimasukan ke hati.

Selesai memesan tiga mangkuk ramen, Tōru menjawab ketus, "Tanpa bicarapun melihat wajahmu saja sudah membuatku muak!" Dia tidak memandang langsung iris zaitun Ushijima melainkan memajukan kakinya. Di bawah meja, lutut mereka bersentuhan. Oikawa bergeser maju mengaitkan kaki mereka.

Wakatoshi tidak protes lagi; Secara Oikawa memang gemar menghina, dari sononya sudah begitu. Bisa gawat kalau usulan tadi diungkit lagi. Bisa-bisa Tōrunyan ngambek sampai besok!

Wakatoshi tahu Tōru sering ngambek; tipikal ambekan kecil-kecil. Bertahun-tahun membuntuti membuatnya hafal betul sifat-sifat dominan setter yang satu itu. Dari sisi tersembunyinya, the Great King ternyata suka akan sentuhan. Caranya memperlihatkan perasaannya adalah dengan memberi sentuhan. Setelah mengeluarkan kata-kata sarkastisnya, sentuhan adalah permintaan maafnya.

Ushijima muda lalu membenarkan posisi duduknya agar Tōru bisa lebih leluasa mengaitkan kaki mereka. Sedikit berharap emosi Baginda akan surut, dia berdehem, "Gadis-gadis di belakangmu sedang menatapmu. Berbalik dan sapalah mereka."

Tōru tidak berbalik. Si setter justru membantah, "Buat apa aku melakukannya?"

"Mereka pasti penggemarmu. Kau cukup popular di sekolah. Mereka sedang menanti sapa—"

Tōru menyergah, menatap langsung iris Wakatoshi. "Aku sudah bersamamu, buat apa melihat orang lain?"

Butuh beberapa saat agar Ushijima bisa menangkap maksud kata-kata itu.

Hal kedua yang dia ketahui, Oikawa adalah seorang tsundere akut. Tidak mau mengaku dan selalu berbicara banyak tapi tidak ada kepalsuan dari kata-katanya.

Hari-hari Ushijima terasa lebih berwarna.

Tanpa sadar senyuman lain.

Ushijima kembali berdehem seraya menggenggam tangan setternya dengan erat. "Ah… Kau benar-benar menyukaiku rupanya…"

Oikawa balas menggenggam, balas berdehem, meniru gaya bicara Ushibakayarō-nya, "Ah… Aku benar-benar benci padamu rupanya…"

Merekaterkekeh pelan.

Hari-hari mereka baru saja dimulai.

"I'm the one who lost in the game of tag 'High Walls'. From hate to love, enemy to lover, I was yours from the beginning."

[March 15 2020, Reuploaded]