Di sini mereka berumur 7 tahun, maklum sikapnya kanak2 bgt. Memang saya pengen genre chapter pertama seperti ini. Ini oneshoot dan seterusnya akan oneshoot (?)Bukan milik saya karakternya, saya hanya membuat fanfic. Terima kasih. Btw rated M.

Hari telah menuju malam, namun orang yang sedari tadi ditunggu Tsukasa belum menampakkan wajahnya. Kesal. Tsukasa kesal karena harus menunggu di rumah karena Otousan nya mengajak Amane kesayangannya pergi untuk membeli sebuah teropong untuk melihat bintang. Menyebalkan! Dirinya jsdi tidak bisa memeluk Amane sampai saat ini.

"Tsukasa makan makananmu sekarang juga!" teriak Okasan entah ke berapa kalinya.

"Aku tidak mau sampai Amane datang membujukku untuk makan."

Sudah susah jika seperti ini seorang Tsukasa. Terkadang okasan nya heran, siapa sesungguhnya peran Okasan di rumah ini. Di rumah ini hanya Amane yang bisa membuat Tsukasa menurut. Otousan dan Okasan saja tidak bisa.

Buru buru Okasan menelepon Otousan untuk segera pulang. Tidak kuat Okasan melihat anak manisnya itu harus sakit esoknya.

Di lain tempat

"Amane, mari kita pulang," ajak Otousan. "Tsukasa sudah menunggumu di meja makan."

Dengan lesuh Amane meninggalkan tempat yang penuh dengan buku tentang rasi bintang. Otousan segera memegang tangan mungil Amane supaya tidak tersesat di tempat ramai.

"Otousan apa kita akan ke sini lagi?" tanya Amane penuh harap.

"Tentu saja jika Otousan ada waktu. Jika Amane ingin datang di saat Otousan sibuk, Amane bisa mengajak Tsukasa, ne. Tsukasa tahu menuju tempat ini."

Mata Amane berbinar terang dan segera melompat ke pelukan Otousan. "Arigatou. Otousan."

"Tadaima."

Tsukasa yang mendengar itu buru buru langsung menuju ruang tamu. Di sana terlihat Amane memeluk teropong yang pas di pelukannya. Entah kenapa Tsukasa marah melihat benda itu, padahal itu hanya benda mati. Tapi, siapa pun yang menghalangi dirinya untuk memeluk Amane adalah musuhnya. Sekarang benda itu adalah musuhnya. Tanpa pikir panjang, Tsukasa segera menarik teropong itu dari pelukan Amane lalu melemparnya ke sofa. Amane yang mau berteriak langsung bungkam karena Tsukasa segera memeluk Amane erat sampai sampai sulit berbicara.

"Amane hanya boleh memeluk diriku! Tidak ada boleh yang lain!" bentak Tsukasa pada Amane.

Amane yang mendengar itu menahan tangisnya. Tangan mungil memeluk erat tubuh Tsukasa. Amane merapatkan wajahnya ke dada Tsukasa guna menutupi tangisnya. Namun semua itu percuma, pada akhirnya tubuh Amane bergetar.

Otousan yang melihat Amane sedang berusaha menahan tangisnya, langsung mengambil Amane dari pelukan Tsukasa lalu mengendongnya. Tsukasa kesal langsung menatap tajam Otousannya. Sedangkan Otousannya hanya menatap datar Tsukasa. Suara tangis Amane perlahan membesar sampai Okasan datang dan memarahi Tsukasa dan Otousan.

"Kalian ini bisa tidak jaga Amane! Sudah berapa kali dibilang, jangan membuat Amane menangis!" marah Okasan. "Otousan juga! Mengapa membiarkan Tsukasa bersikap seperti itu?!"

Hening...

"Maaf," sesal Tsukasa dan Otousan bersama.

Okasan pun mengambil Amane dari gendongan Otousan. Amane berhenti menangis lalu memeluk erat Okasan nya. "Okasan, ayo makan malam~~"

"Ne, ayo kita makan. Kalian berdua juga ayo!"

Melihat tatapan Okasan yang begitu seram, Tsukasa dan Otousan meringis melihatnya. Mereka lebih memilih melihat Amane marah daripada Okasan.

Saat sudah sampai di meja makan, Tsukasa melihat Amane yang memilih untuk duduk di samping Okasan. Sedikit sebal juga, padahal dirinya yang menunggu kedatangan Amane sedari tadi, tapi bukan dirinya yang duduk di samping Amane.

Mereka makan dalam hening. Sesekali Tsukasa mencuri pandang ke Amane, dirinya tak tahan melihat Amane yang begitu imut makannya. Otousan yang melihat Tsukasa seperti itu hanya bisa menghela napas, 'Aku berharap Tsukasa tidak terobsesi terhadap Amane.' pikir Otousan resah.

"Terima kasih atas makanannya. Aku duluan ke kamar." Amane segera mengambil teropongnya lalu menuju kamarnya di lantai 2. Dirinya sudah sangat tidak sabar ingin mencoba benda itu dari tadi.

Aku menatap takjub lewat celah seukuran mataku. Biarpun hanya celah untuk melihat bintang hanya seukuran mataku namun aku bisa melihat bintang dengan jelas. Mereka sangat berkilau dan bersinar terang.

Clekkk...

Aku segera menoleh ke belakang dan melihat Adikku - Tsukasa - sedang menatapku kesal. Aku hanya bisa menundukkan kepala menghindari tatapannya.

Suara langkah kaki begitu menggema di ruangan ini, hingga langkah itu tak terdengar karena sudah berada tepat di depanku.

"Amane." panggilnya. Suaranya terdengar berat membuat tubuhku sedikit menengang.

Perlahan aku mengangkat wajahku lalu tatapan kami bertemu. Untuk beberapa saat aku mengagumi mata yang dimiliki Tsukasa, padahal jika dipikir pikir mataku dan Tsukasa itu sama. Namun entah kenapa aku hanya mengagumi mata Tsukasa. Tanpa sadar jarak mengikis bibir kami, hingga kecupan itu terwujud.

Aku mengecup Amane. Ya, INI SUNGGUH HEBAT. Tapi, Amane hanya menatapku polos, seolah olah ini bukanlah perkara besar.

Tapi bukankah itu bagus? Jadi aku bebas mencium bibirnya setiap hari. Aku pun menjauhkan wajahku darinya 5cm.

"Tsukasa kenapa senyumanmu menyeramkan?" tanya Amane polos.

Buru buru aku tersenyum manis seolah olah seperti biasa. Sepertinya tadi senyum jahatku keblablasan.

"Ne, Amane. Aku akan melakukan seperti tadi, tapi kali ini membuat Amane senang." bisikku di telinganya.

Aku pun melihat mata Amane yang menyiratkan ketidaktahuan itu. Dengan perlahan aku mengikis jarak yang sempat terbuat tadi.

Cup...

Rona merah menjalar di pipi Amane dan itu berhasil membuat naik libidoku. Lalu perlahan aku melumat bibir bawahnya pelan. Lenguhan pertama berhasil lolos.

"Emmhh..."

Melumat bibir atasnya.

"Eunghh..."

Mengigit pelan bibir bawah lalu dengan cepat memasuki lidah. Rasa hangat menjalar terus menerus. Manis. Bibir manis, ciuman ini makin gila.

"Eummhh... Eungghh... Tsu.. Kha... Saaahh.."

Menyesap lidah Amane lebih dalam, lalu dengan penuh nafsu tanganku memasuki tubuh mungil Amane dan mencubit nipple pink mungil itu. Badannya melonjak kaget akibat perlakuanku.

"Aaahh..."

Ciumanku turun dan mengigit leher putih mulus itu. Menciptakan beberapa kissmark yang begitu kentara. Setelah puas membuat tanda kepemilikan aku langsung mencium bibirnya lagi. Amane hanya bisa meremas rambutku. Tubuhnya yang lemas kugendong dan mendorongnya ke belakang agar menciuminya lebih dalam lagi.

"Eungh.. Kasa... Tsukasa... AHH..."

Amane mengeluarkan spermanya. Padahal aku hanya menciuminya saja, bagaimana kami melakukannya nanti, pasti Amane akan terus mengeluarkan terus menerus.

Amane tertidur dalam gendonganku, sedangkan diriku masih dalam keadaan tegang, mungkin lain kali dia yang akan membuat Amane seperti keadaannya sekarang.

Aku pun meniduri Amane di kasur dengan pakaian yang baru. Sangat bahaya jika dia masih pakaiannya yang tadi. Aku menidurkan diri di samping Amane lalu mengecup telinganya.

"Selamat tidur, Amane. スキダ、アマネ."

終わり。。。Kritik dan saran diterima. Cemoohan ditolak. Terima kasih.Tolong dukungannya. よろしくお願いします