Terlihat Amane yang sedang bertarung dengan Minamoto Teru, kakak Minamoto Kou.

Dengan lincah Amane menghindari beberapa tebasan dari Teru, namun sesekali Ia mendapati goresan karena dirinya tidak fokus karena Shounen (Kou) terus berteriak meminta menghentikan ini.

Sebenernya di dalam pikiran Amane, dia benar-benar ingin menghentikan pertarungan ini. Dan pertarungan ini dimulai karena kebodohan dia yang menggoda Kou sampai sampai Nii-san nya marah...

"Ne.. Shounen, kau tahu, aku pernah melihatmu tubuhmu yang seperti tengkorak itu, sama sekali tidak berisi. Bagaimana kau mau mengalahkanku jika badanmu seperti itu."

Tiba-tiba saja wajah Kou memerah sambil memeluk tubuhnya sendiri. "H-Hanako, k-kau sangat lancang!!" teriak Kou kesal.

Amane berpose memikir, tangan telunjuknya tepat di bibirnya. "Memangnya seperti itu lancang?! Lagipula kan aku berada ruang ganti olahraga karena ada makhluk makhluk yang melanggar peraturan."

Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahu Amane dari belakang, badannya tiba-tiba menengang kaget akibat sentuhan itu. Di belakang Amane bisa merasakan aura ini, aura itu Minamoto Teru.

"Tentu saja itu lancang, tuan terhormat 7." desis Teru.

Amane perlahan lahan memutar kepalanya ke belakang dan ekspresi seram, kejam Minamoto Teru terpampang jelas.

Dan setelah itu Amane berlari kencang untuk menghindari Teru. Tapi gagal dan berakhirlah Amane dan Teru bertarung.

"Ne, Minamoto-kun, mari kita hentikan pertarungan tidak jelas ini. Lihat adikmu bukankah sedari tadi suaranya sangat mengganggu? Lebih baik kita hentikan saja dan dia akan diam." Amane berusaha bernegosiasi dengan Teru tapi gagal, bukannya berhenti tapi malah tambah jengkel.

"Maksudmu suara Kou sangat cempreng?! Berani beraninya kau!" geram Teru.

Tiba-tiba saja Teru membuat gerakan di titik buta Amane, luka itu bergaris panjang di tubuh Amane. Dia sempat menghindari tapi tidak sepenuhnya. Aliran listrik dari pedang itu menyiksa Amane.

"ARGGHH... HENT--BERHENTII." Amane mengerang kesakitan hebat. Kou yang melihat itu hanya pun langsung berlari mendorong Teru-nii.

"Apa yang kau lakukan Kou!" Teru pun mendorong Kou hingga terpendal cukup jauh. "Kau tahu sebenarnya tidak sepenuhnya karena itu, tapi karena kau roh jahat yang harus dimusnahkan. Cukup sudah sampai sini kehidupanmu, Yugi Amane."

Teru memposisikan pedangnya tepat di dada Amane, sedikit dorongan akan tertancap sempurna, namun itu gagal.

Aura hitam mengelilingi sekitar mereka. Haku jodai berwarna hitam itu membuat lingkaran besar untuk mencegah siapa pun yang mau keluar dari tempat ini. Dan Tsukasa yang sedang memegang pedang Teru. Darahnya mengucur perlahan dari sela sela jarinya.

Keadaan yang awkward. Hening menyelimuti semuanya. Tatapan saling membunuh beradu. Teru pun menarik pedangnya hingga darah di tangan Tsukasa berceceran di mana mana.

"Aku tidak menyangka akan ada kedatang satu lagi roh jahat. Bukankah ini sangat bagus? Aku akan menidurkan kalian dengan tenang jika kalian bersedia."

Tsukasa tersenyum. "Kau bisa melakukannya pada yang lain, tapi tidak dengan Aku dan Amane."

Tiba tiba saja Tsukasa muncul di dekat Teru dan mengambil alih pedangnya. Teru kaget karena semua terjadi dalam sekejap mata. Sekarang Tsukasa berada di dekat Amane kembali sembari melihat lihat pedang tersebut.

"Bukankah pedang ini terlalu bagus untukmu, Minamoto - San? Ehhahahahahaha... Tapi tetap saja aku menyukai pisau yang Amane punya. Lebih baik aku patahkan saja ini?"

Teru menyeringai. "Silakan jika bisa."

Dengan bantuan haku jodai, Tsukasa mematahkan pedang tersebut.

Krakk...

Semua mata di sana melebar, terkejut. Tsukasa hanya tersenyum lebar lalu melempar pedang itu. Tsukasa pun mengendong Amane dengan gaya bridal style, lalu menoleh ke arah Teru dan Kou.

"Berurusan dengan Amane sama dengan berurusan denganku. Ku harap kalian mengerti itu."

Tsukasa dan Amane pun menghilang dari tempat itu. Kou buru buru berdiri dan memarahi Kakaknya habis habisan.

"Amane," Tsukasa menyentuh pelan pipi Amane. Menciumnya secara perlahan seolah olah Amane akan pecah begitu saja. Tali saliva terpampang jelas karena usainya ciuman panas dan lembut itu. "Suki da yo, Amane."

Dengan wajah yang memerah sempurna Amane membalas perkataan Tsukasa. "Watashi mo, aku mencintai Tsukasa."

Tsukasa tersenyum lembut lalu mengecup kening Amane. "Kau tidak akan hilang dari pengeheliatanku, sampai kapan pun."

Amane pun jatuh dalam tidur. Dalam dekapan Tsukasa membuatnya merasa hangat.

Dan...

Orang orang semuanya melihatnya, semua berwajah pucat setelah melihat adegan itu.

'Sebenarnya mereka ini kenapa?! Hubungan yang aneh!' Batin mereka semua.

Vote dn Coment ya... Apa cerita ini unpublish ajj??