"Enaknya jadi Sasuke." Kiba berceloteh dengan nada iri. Ia terus memperhatikan Sasuke yang dikerumuni gadis-gadis cantik. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa Sasuke sepopuler itu dengan sikap dinginnya.
"Hei, Sai!" Kiba mengangkat tubuhnya dari bangku. Ia meraih buku di tangan Shikamaru dan mengabaikan protes dari teman sebangkunya itu. Musim panas benar-benar membuat keringatnya tidak berhenti keluar "kau kan sepupunya Sasuke, bisa tanyakan resepnya?"
Seperti biasanya, Sai hanya tertawa kecil yang menyebalkan, "kenapa tidak meminta Naruto-kun?"
Yang namanya disebut langsung menatap Sai tajam lalu mendelik. Tidak terima dimasukkan kedalam obrolan yang selalu sama.
"Oh iya, Kalian tinggal satu rumah, kan?" Kiba begitu antusias hingga tanpa sadar menaikkan suaranya, membuat Shikamaru sedikit terkejut karena baru saja tidur.
"Aku hanya menumpang, bagaimana bisa aku melakukan hal selancang itu?"
Kiba mendesah putus asa. Ia akan membuka bibirnya sebelum Shikamaru menghentikan, "Kiba diamlah, jika tidak-"
"Kenapa 'jika tidak'?" Kiba agak kesal. Semua orang mendapatkan berkah tapi tidak dengan kelahirannya. Dia merasa Tuhan tidak adil. Sasuke terlahir seperti pangeran, dari kalangan konglomerat dan cerdas. Bahkan ketiga temannya juga tidak jauh-jauh dari hal tersebut. Sementara dia hanyalah rakyat jelata.
"Aku akan membuatmu tidak akan bicara bahkan sampai besok."
Kiba bangkit dari kursi dengan kasar, "Jangan coba-coba!"
"Kubilang diam, bukan?" Shikamaru meraih tangan Kiba hingga pemuda itu kembali duduk. Iris matanya melebar ketika Shikamaru membungkam bibirnya tanpa ampun.
Kiba memberontak sementara Naruto dan Sai hanya bisa menggeleng. Dan manik hitam itu diam-diam mencuri pandang ke arah si pirang
.
.
.
Naruto fanfiction
Present:
Naruto © Masashi Kishimoto
The Day You Went Away © Ran Hime
Uchiha Sasuke, Namikaze Naruto,
Uchiha Itachi, Namikaze Deidada
Drama, Hurt/Comfort
M rated
AU, OOC, Shonen ai, Typo, Slince of Life
.
.
.
Chapter 2
.
"Itachi-san, kemana mobilmu?" Deidara menatap mobil yang dibawa Itachi. Mobil itu terlihat agak usang. Bukan mobil merah yang nampak terawat dimana selalu menemani Itachi pergi.
"Apa kau keberatan naik?"
Deidara tertawa kecil menanggapi pertanyaan konyol itu. Dia kembali berjalan mendekati Itachi, "kenapa aku harus keberatan?" Ia masuk ke dalam mobil setelah Itachi membukakan pintu.
Deidara menarik syal yang melilit di lehernya. Musim panas kali ini agak berbeda. Keringat keluar agak banyak dari biasanya. Di tambah mobil yang dibawa Itachi tidak terpasang AC. Sesekali Deidara mengusap wajahnya yang kembali berkeringat.
"Kau baik-baik saja?" Itachi bertanya sambil fokus membawa mobilnya. Meski ia tahu bahwa pemuda itu tidak sedang baik-baik saja dengan kondisi mobil yang mereka tumpangi.
"Agak lelah." Deidara tersenyum kecil. Lalu mulai menutup matanya.
Sekali lagi Itachi mencuri pandang pada Deidara. Ini lebih baik daripada Deidara harus menaiki angkutan umum.
.
"Kunci apartemen dan jangan biarkan siapapun masuk." Itachi memberi peringatan kesekian kali kepada Deidara, "jangan menungguku untuk makan malam."
Deidara hanya tersenyum tanpa semangat menanggapinya.
"Dei?"
"Lakukan semaumu." ucap Deidara setelahnya menutup pintu mobil lalu melenggang pergi menuju apartemen milik Itachi.
Itachi hanya bisa menghela nafas. Ia tidak berniat membuat Deidara kecewa untuk kesekian kalinya. Tapi ia bisa apa jika pekerjaan yang menumpuk membuatnya harus pulang telat. Dan ketika ia bisa menemani Deidara untuk makan malam, tiba-tiba Kisame- temannya menghubunginya. Dia tidak mempunyai pilihan lain.
.
.
The Day You Went Away
.
.
"Hey, mau pergi ke Game Center?"
Naruto mencoba mencari kegiatan lain agar ia tidak harus pulang. Ia tidak menyukai rumah di mana ia harus berakhir karena keputusan pengadilan. Meski Uchiha Fugaku menyambutnya dengan baik, namun hatinya tidak cukup baik untuk melihat ibunya dan juga saudara tirinya itu.
"Ada Les musik." suara Shikamaru terdengar malas.
"Sai?" Naruto menatap Sai dengan penuh harap.
Sai tertawa kecil, "Maaf, ada kegiatan klub."
Naruto menghela nafas dengan kasar. Seolah memperlihatkan kepada teman-temannya itu tentang betapa kejamnya mereka membiarkan dirinya sendirian di rumah.
Naruto tersenyum lebar dan melirik Kiba yang sedang berjalan di samping Sai. Pemuda itu benar-benar tidak mau berbicara dengan Shikamaru setelah ciuman saat jam kosong tadi, "Ki-ba. Temani aku ya?" Naruto berjalan mendekati Kiba. Lalu merangkul tubuh yang tingginya hampir sama dengannya itu. "Aku traktir."
Kiba menurunkan lengan Naruto di bahunya, "Oh maafkan kelancangan saya, Pangeran." Kiba memulai drama seolah dia adalah pelayan kerajaan, "Saya hanyalah pelayan yang harus bekerja demi bisa makan."
Naruto berhenti berjalan dan menghela nafas dengan berat. Kenapa dia selalu berakhir sendirian? Apakah takdirnya memang harus seperti itu? Kau terlalu berpikir berat, Naru.
"Lalu ajak aku kerja bersamamu." dengan cepat suasana hati Naruto berubah. Ia mulai mendekati Kiba lagi.
"Mempekerjakanmu?" Kiba memutar bola matanya dengan malas, "suatu penghinaan jika ada yang tahu tuan muda ini bekerja di kedai kecil."
Naruto tidak mampu membalas. Itu memang benar. Siapa yang berani mempekerjakan Namikaze Naruto. Semua orang tahu reputasi keluarga Uzumaki. Jika ia melakukan hal tersebut, itu bisa mencoreng reputasi keluarga ibunya. Yang lebih parah, nama besar keluarga ayah tirinya pun bisa tercemar.
Tanpa sadar Naruto tertawa layaknya iblis. Pikiran gilanya mulai bekerja. Kenapa tidak mencoba hal itu. Coba lihat seberapa banyak yang peduli terhadapnya.
.
.
SasuNaru
.
.
Itachi menatap koper di depannya. Di dalam sana mobilnya telah dihargai. Bagaimana ia bisa menerima uang sebanyak itu? Meskipun mobilnya masih bagus, tidak mungkin akan ada orang yang membelinya dengan harga dimana mobil itu dibeli dulu. Mobil itu sudah lama dipakai, dan kini dihargai layaknya mobil baru? Rasanya Itachi ingin menertawai hal tersebut. Orang gila mana yang rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk mobil bekas.
"Kakuzu tidak bisa membocorkan informasi tentang pembeli itu." Kisame mengambil minumannya dan meneguknya hingga setengah.
Itachi masih terdiam. Tidak tahu harus bersyukur atau merasa khawatir terhadap uang dihadapannya. Ia agak curiga ketika Kakuzu tidak mau berbagi informasi tentang pembeli tersebut. Bukankah seharusnya Itachi mempunyai hak untuk sekedar tahu nama sang pembeli?
"Haruskah kau bertindak sejauh ini?" Kisame kembali berbicara.
Itachi tahu apa maksud dari perkataan teman lamanya itu. Itachi menghargai kecemasan Kisame tentang keadaannya. Namun ia tidak mempunyai pilihan lain. Deidara membutuhkan banyak uang. Dan menjual mobil pemberian Minato adalah jalan yang terbaik. Meski itu adalah mobil kesayangannya, namun Deidara adalah segalanya. Ia akan melakukan apapun untuk pemuda itu. Ia lebih rela kehilangan mobil itu ketimbang harus melihat Deidara menderita lagi.
"Pernahkah kau berpikir tentang perasaan bocah itu ketika tahu apa yang kau lakukan?"
Itachi masih belum juga berbicara. Dia benar-benar mendapati jalan buntu untuk masalah kali ini. Deidara akan marah ketika tahu bahwa mobil kesayangan Itachi telah beralih tangan demi dirinya. Deidara akan bertindak nekat karena merasa telah menjadi beban orang lain. Deidara telah menerima keadaan hidupnya setelah Minato meninggal, namun Itachi masih saja memperlakukan dirinya layaknya pangeran.
"Kau bahkan tidak punya kewajiban untuk kelangsungan hidupnya."
Itachi menutup matanya. Mereka tidak terikat darah, bahkan juga kekeluargaan. Hari itu dia hanyalah remaja yang begitu mengagumi Minato. Lalu perlahan waktu membawanya bertemu dengan pria itu. Lambat laun Minato juga kagum atas kinerja Itachi di perusahan Uchiha. Hingga suatu hari pertemuannya dengan Deidara pun terjadi. Dia ... Tidak bisa kehilangan Deidara.
"Sekali lagi, aku hanya bisa meminta tolong padamu. Bujuk Kakuzu untuk memberikan identitas pembeli itu."
Itu adalah kalimat terakhir yang Itachi ucapkan sebelum ia mengakhiri pertemuannya dengan Kisame. Bagaimana pun juga ia harus mengetahui siapa orang itu.
.
.
ItaDei
.
.
Naruto memandangi foto besar di dinding kamarnya. Dimana ia masih mempunyai rambut sepanjang Deidara. Seperti tahun-tahun yang telah berlalu setelah keluarganya berantakan, ia akan menatap foto dirinya dan Deidara setiap kali ia merindukan kebersamaan mereka. Dulu, hidupnya tidak sekosong sekarang. Ia selalu merasa senang mesti ibunya tidak pernah sekalipun memberi perhatian. Ia bahkan tidak peduli bagaimana ibunya memberikan seluruh waktunya untuk gadis itu. Ia telah merasa cukup hanya dengan Deidara yang menemaninya bermain.
Tapi wanita itu - ibunya telah menghancurkan segalanya setelah gagal mendapatkan kehidupan untuk putrinya. Ia bahkan tidak habis pikir dengan apa yang dipilih ibunya. Setelah belasan tahun mengabaikannya, sekarang mengambil dirinya dengan egois.
Naruto mengalihkan pandangannya ketika terdengar suara pintu diketuk. Ia bangkit dengan kesal. Hari itu Naruto telah memperingatkan Sasuke agar tidak mengganggu dirinya. Namun kakak tirinya terlihat bebal. Alih-alih menurut, pemuda itu tidak berhenti menguji kesabarannya.
"Apa?" Naruto menatap Sasuke dengan ketus.
"Kau harus mengisinya." pemilik suara berat nan dingin itu menyodorkan sebuah kertas ke arah Naruto.
Naruto mendengus. Itu bukan pertama kali Sasuke menyuruhnya untuk mengisi formulir pendaftaran klub. Betapa egois ibunya. Setelah menyeretnya ke kediaman Uchiha kini ia pun dipaksa untuk mengerjakan apa yang Sasuke lakukan. Ibunya benar-benar ingin merantainya dan menjadikan dirinya seperti apa yang ibunya inginkan.
"Katakan pada Kushina jika aku bukan bonekanya." Naruto hampir saja kehilangan kontrol emosinya. Ia benar-benar telah berada di ambang batas kesabarannya.
"Tidak bisakah kau menjaga sopan santunmu?" Sasuke masih menatap Naruto dengan dingin, "Kau pikir ini dimana? Patuhi aturan di rumah ini."
Naruto tertawa dengan keras. Sasuke berbicara tentang aturan bahkan ketika pemuda itu sering kali pulang pagi setelah bersenang-senang di luar sana.
"Siapa yang tidak tahu Istana Uchiha ini?" Naruto mencibir. Matanya menatap Sasuke dengan remeh.
"Cukup sudah!" Sasuke mengangkat kedua tangannya dan mendarat di baju depan Naruto. Ia meremas kaos itu dengan kuat dan mendorong Naruto hingga memasuki kamar besar itu. Ia selalu mencoba bersabar ketika berbicara dengan Saudara tirinya. Namun Naruto tidak juga berhenti membuatnya kesal.
"Oh ... Ingin memukulku, Tuan muda?" Naruto masih juga tidak berhenti memancing emosi Sasuke, "Betapa menyedikan orang-orang yang memujamu."
"Kau ..." Sasuke mengangkat tangannya hendak memukul wajah menyebalkan di depannya. Hingga sebuah foto besar yang tidak sengaja tertangkap matanya menghentikan gerakannya.
"Kau ..." Sasuke menatap Naruto dengan penasaran, "bagaimana bisa kau mengenal pemuda itu?"
Wajah murka Naruto keluar begitu saja ketika mendengar Sasuke menyebut kakaknya. Dia melepas cengkeraman tangan Sasuke dengan kasar lalu mendorong Sasuke hingga keluar dari kamarnya. Dengan keras ia membanting pintu dan menguncinya. Sementara teriakan Sasuke semakin keras di luar sana. Naruto tidak akan peduli. Ia benar-benar tidak akan peduli akan rasa penasaran yang muncul di wajah Sasuke. Akan lebih baik jika Sasuke hidup seperti itu daripada Naruto harus kehilangan kemanusiannya dan berakhir dengan membunuh Sasuke.
.
.
.
To be continue ...
Hai Hai saya balik lagi setelah sekian lama.
Saya baik-baik saja. Terima kasih atas do'a dan support-nya. Untuk ke depannya saya akan berusaha untuk lebih sering ke sini
:)
