Normal POV
Hari sudah menunjukkan waktu tengah malam.
Terlalu fokus dengan adonan kuning yang sedang diaduk menggunakan kedua tangan, Kanao menoleh ke belakang. Tatapan tanpa makna dapat terlihat di sana. Jam dinding telah menunjukkan pukul sebelas malam, mengartikan bahwa hari sudah berada di ujung jalan. Gadis itu mengerjap, menatap meja panjang yang saat ini penuh dengan tepung yang tumpah serta kocokan telur yang masih belum sempurna. Ia melirik ke samping kanan, mendapati jendela telah menunjukkan kegelapan tanpa bintang.
Tsuyuri Kanao adalah salah satu siswi kelas tiga yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler tata boga. Walau belum terlalu ahli seperti Kanzaki Aoi yang merupakan sang sahabat dalam berbagi cerita, ia selalu berusaha dan mampu menciptakan suatu kemajuan yang signifikan. Kanao ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik seperti dua saudara perempuan yang dirinya miliki. Ia bisa membuat kue bolu dengan beraneka warna, biskuit cokelat dalam beragam bentuk, serta mengembangkan kreasi permen berupa pelangi.
Kanao menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan manis, meski dirinya kurang percaya diri jika di hadapkan makanan yang berkaitan dengan nasi.
Kedua mata ungu terang, lebar, cantik, gemerlap, manis, sekaligus mengandung berbagai misteri; menatap jam dinding dengan penuh spekulasi. Dia bimbang. Dia heran. Dia berada di tengah-tengah. Kanao meyakini diri jika harus tidur di sekolah adalah salah satu syarat untuk menyelesaikan sebuah karya, namun ia paham bahwa Shinobu telah menghubungi sebanyak lebih dari kali delapan. Ponsel telah menunjukkan beberapa pemberitahuan, memaksanya secara langsung untuk menghadapi sebuah kenyataan.
Kanao harus pulang.
Cekatan, ia membereskan permukaan meja. Kedua mata mengawasi dengan teliti mengenai segala sesuatu yang harus dibersihkan. Toples yang disusun di samping lemari, mangkuk beragam ukuran telah dicuci sampai mengkilap, serta adonan yang masih berupa proses tampak dimasukkan ke kulkas dalam satuan derajat. Bibir masih terkatup, tidak berbicara apapun.
Kanao mengambil tas dan keluar dari ruangan.
Pukul dua belas lewat satu, gadis itu berhasil menciptakan langkah yang dapat terdengar sampai ke ujung.
.
.
.
DANCE AT YOUR PACE
Kimetsu no Yaiba by Koyoharu Gotouge
Dance at Your Pace by stillewolfie
Tanjirou K. & Kanao T.
OOC, Alternate Universe, typos, etc.
.
.
Dedicated for Monthly FFA (Monthly FanFiction Addict) March on 2020
Theme – Horror
.
.
.
Kanao mempunyai mata yang istimewa sejak ia dilahirkan.
Memiliki kedua mata dengan keunikan yang luar biasa adalah salah satu kelebihan. Ketika kau menatapnya, dirimu akan tersadar mengenai fakta bahwa gadis itu adalah anugerah; sebuah mahakarya, sebuah kecantikan, sebuah wujud yang tidak mampu dijelaskan oleh kata-kata. Kesederhanaan adalah istilah yang melekat. Memiliki kecerdikan dalam diam berupa kelebihan. Ketenangan pada saat genting merupakan suatu hal yang cukup hebat. Gadis yang memiliki kesan misterius sekaligus istimewa ini telah melalui beragam cobaan, karena itulah mental kuat telah melekat ketika dirinya tahu akan kekerasan dunia.
Langkah kaki tetap membawanya lurus, menuju lorong gelap karena lampu temaram yang akan dipadamkan secara otomatis ketika waktu menunjukkan angka satu. Akademi Kimetsu adalah suatu perguruan yang cukup hangat, yang diisi oleh orang-orang berbakat sesuai dengan bidang yang membuat mereka terkenal. Kanao dengan bakat memasak adalah salah satu contoh yang dapat diberikan.
Melihat dalam gelap bukanlah masalah, penglihatannya merupakan dasar dari segala sikap waspada yang selama ini dilakukan akibat nasihat sang kakak tertua.
— hingga ia mendengar sebuah suara.
Kanao hanya memiliki mata dengan daya penglihatan di atas normal, namun ia yakin kedua telinga telah mendengar sesuatu di lantai bawah. Waktu menunjukkan pukul dua belas lewat enam, gadis itu tidak pernah tahu bahwa ada siswa lain yang betah mengikuti kegiatan hingga larut malam. Dia mencoba untuk tidak mengganggu dan lekas menuruni tangga guna untuk sampai ke depan gerbang.
— suara tersebut kembali terdengar, lebih jelas.
Kanao menolehkan kepala.
Itu bukan suara manusia, melainkan benda berupa lonceng-lonceng yang digerakkan secara sengaja.
Kanao telah sampai pada lantai dua. Ia terdiam di depan tangga, menghadap ke lorong gelap dengan pintu-pintu tertutup rapat. Langkah kaki kembali bergerak, menatap pada eksistensi berupa pintu yang menjadi sumber lonceng itu berada. Kedua telinga kembali menegak ketika mendengar sebuah decitan, diikuti dengan gerakan lonceng yang menciptakan irama, serta rintihan asing yang mampu membuatnya mengerutkan alis sedikit lama.
Kanao terdiam. Kembali, dia bimbang.
Tangan terlentang, menggeser pintu. Kedua mata diperlihatkan oleh gelap, gelap, gelap, hingga lirikan mencapai suatu atensi yang berasal dari tengah kegelapan. Permata ungu mendadak berkilat, lesu menjadi bersemangat, misterius seolah menghilang. Dia mendapati seseorang sedang berdiri tegap, menggunakan ujung kaki sebagai tumpuan dengan tongkat kecil yang dihiasi oleh delapan lonceng berwarna emas.
Di antara hitam, Kanao menemukan sebuah cahaya kemerahan, berkobar layaknya matahari yang bersinar dalam kegelapan malam.
Segalanya dapat terlihat dan dirasakan; bagaimana langkah kaki yang berputar, berdecit, melompat hingga menciptakan suatu tarian dengan ratusan makna, bagaimana pakaian berwarna terang itu ikut berkibar namun membuat jatuh cinta, bagaimana irama lonceng dengan kesan mistik namun tetap mempesona. Suara hentakan tidak membuat kesal, melainkan hentakan-hentakan tersebut mampu membuat nyanyian tanpa suara. Perasaan gundah yang selalu dirasakan oleh sang perempuan perlahan sirna, digantikan beragam sentak yang dapat membuat hati bergejolak luar biasa.
Kanao memperhatikan semuanya, bibir tetap terkatup walau ia ingin melontarkan suatu pujian.
Kobaran merah yang menerjang bagai api yang bergejolak. Kegelapan yang seolah hilang digantikan dengan perasaan hangat. Degupan tidak menentu perlahan muncul dengan beragam spekulasi tak bermanfaat. Kanao terdiam di depan pintu ruangan yang merupakan tempat di mana kegiatan ekstrakulikuler tari tradisional dilakukan. Dia tidak pernah tahu bahwa tari tradisional masih ada dan terdaftar, mengingat semua siswa lebih tertarik dengan sesuatu yang bersifat keren akibat perkembangan zaman.
— namun, tidak; opini tersebut adalah sebuah kesalahan.
Kanao tidak tahu ketika tarian tersebut telah sirna. Ia mulai tersadar saat ada sepasang mata yang terasa asing mengadah, mengetahui keberadaannya. Tarian tanpa nama telah membuat gadis itu terbang entah ke mana, namun iris merah yang sedang menatap dirinya mampu membuat tubuh seolah ditusuk oleh ribuan makna.
"Bagus—" Kanao menelan ludah. Ia bukan manusia ekspresif, tapi dirinya paham bahwa apa yang orang itu lakukan merupakan sebuah anomali. "—bagus sekali."
Mata merah seketika berpendar, bercahaya. Pakaian tradisional berwarna merah dengan corak emas tampak terlihat di segala sudut tubuhnya. Bawahan putih yang hanya menutupi sampai lutut tampak bergerak—menoleh sepenuhnya. Anting hanafuda ikut bergerak saat dirinya menoleh ke belakang. Lonceng berbunyi, menciptakan suara berisik yang memekikkan telinga.
Kanao dan orang itu, bersama, berhadapan.
Senyum terukir, kesan menawan bukanlah sebuah opini. "Terima kasih."
Kanao mengerjap. Entah mengapa, ia merasa malu. Dia tidak pernah berbicara spontan; seperti memuji, mengkritik, menghina, atau menyindir. Kanao adalah perempuan yang tidak akan mengeluarkan perasaan yang dia miliki, berbeda dengan Kanzaki Aoi yang jauh lebih ceria serta kesan emosi. Ini adalah pertama kali dirinya menjadi lepas akibat seseorang yang belum dikenal secara pasti.
Udara malam terasa melalui punggung, mengenai tengkuk, namun menciptakan keringat dingin yang turun hingga ke dagu. Kanao merasa gugup. Dia tidak sadar bahwa tas sekolah telah melorot hingga ke siku. Dirinya terlalu sibuk akan suatu hal yang mampu membuat semua orang mengernyit bingung. Permata ungu melirik malu-malu, menatap satu anak laki-laki yang belum melunturkan senyum.
Kanao masih membeku dengan segala pemikiran. Ia tidak menyadari bahwa lelaki dengan tinggi beberapa senti telah ada di depannya, di depan wajahnya, menunduk, menatapnya sembari membawa kursi kelas yang dari awal terletak di pojok ruangan. Suara napas yang menenangkan membuat segalanya semakin runyam. Gadis berambut hitam dengan pesona hampir memekik ketika mendapati pria asing telah berada di dalam jangkauan.
"Duduklah." Kursi tua berpindah arah. "Kau ingin melihatnya lagi?"
Kanao mengerjap. Namun, ia mengangguk mengiyakan.
Lelaki dengan pakaian asing menjauh, menjaga jarak. Kanao memutuskan untuk menarik kursi itu dan duduk tegap. Dia menatap dirinya, pemuda berambut merah kehitaman, bersiap melakukan ancang-ancang.
Kemudian, terjadilah.
Kanao dibuat terpesona untuk kedua kalinya.
Tidak ada musik yang mengiringi, namun dengan melihatnya saja, ia sudah tahu musik jenis apa yang dapat menaungi. Kanao adalah salah satu sosok yang tidak mengerti mengenai melodi, tapi alunan indah yang berasal dari lonceng kecil dapat tercipta di dalam kepala ketika melihat sosok asing tengah menari. Tidak ada perasaan yang membuat gundah, melainkan perwujudan dari kata indah. Tumpuan kaki yang menari ke sana ke mari, menciptakan gerakan lebih lambat yang berderu nyaman di atas lantai yang berdecit; seperti desiran pasir di ujung ombak, suara tekukur burung yang melewati malam, dan hempasan angin melalui udara. Kesimpulan telah didapat; tarian tersebut adalah sesuatu yang disebut luar biasa.
Kanao hampir lupa cara bernapas, mengingat ia terlalu terpaku dengan pernapasan yang dibuat oleh lelaki di depan sana.
Hingga akhirnya, suara gemerisik lonceng tersebut telah berhenti. Orang itu terpaku, membelakanginya, sebelum kepala menoleh dan senyum didapat oleh dua permata ungu yang melebar.
"Pulanglah," Lonceng berbunyi sekali lagi ketika dia sepenuhnya berbalik. "Hari sudah larut."
Kanao mengerjap sekali. Dia melirik jam dinding; pukul setengah tiga pagi.
— kenapa terasa cepat sekali?
Kanao lekas berdiri ketika orang itu berbalik dan bermaksud pergi. Langkah kaki terdengar dua kali, ia ingin menghampiri. Kepala merah menoleh perlahan, menyadari bahwa satu-satunya penonton ingin mempersempit jarak. Seketika, Kanao terdiam di tempat. Gadis dengan ikat satu ke samping terlihat menelan ludah, kesan ragu namun yakin tercetak di kedua mata yang bercahaya.
"N-Namamu," Kanao ingin tahu—tidak, dia harus tahu. "Siapa … namamu?"
"Namaku?" Gurat keterkejutan dapat terlihat. Wajahnya sempat ragu, namun senyum kembali terlintas dalam wujud. "Tanjirou. Kamado Tanjirou. Salam kenal, Kanao."
Entah mengapa, kelegaan mampu meruak di dalam dada; siswi tersebut merasa yakin kalau mereka akan kembali bertemu dalam waktu dekat. "S-Salam kenal, Tanjirou."
Lelaki bernama Tanjirou itu mengangguk, sebelum berjalan menjauhi Kanao dan menghilang ditelan kegelapan. Namun setelah itu, Kanao merasa bodoh luar biasa karena tidak mengajak Tanjirou untuk pulang bersama. Memutuskan untuk bertemu dengannya lagi di tempat yang sama, perempuan itu berjalan menuruni tangga lantai dua dan menemukan seseorang di sana, menatapnya dengan kesan mengerikan.
"T-Tomioka-sensei?" Kanao tidak tahu apa yang sedang dilakukan Guru Olahraga malam-malam begini. "Selamat malam—"
Tomioka Giyuu dengan segera menarik lengan salah satu anak didiknya dan membawa gadis kecil itu ke dalam satu-satunya mobil yang ada di lapangan. Kanao menggigit bibir, bertahan untuk tidak menjerit. Mengapa gurunya ini tiba-tiba membawanya ke mari?
"Tomioka-sensei—"
"Kochou meneleponku, Tsuyuri. Dia mencemaskanmu."
Alasan tersebut lantas membuat gadis yang dimaksud tersentak, dengan segera ia merogoh tas dan mendapati ponsel yang memiliki pemberitahuan akan dua puluh panggilan dari sang kakak. Ia menelan ludah, merasa bersalah; karena sudah berpikir macam-macam sekaligus membuat saudaranya khawatir luar biasa.
"Katakan padaku," Suara Giyuu tetap terdengar datar, namun ada perasaan gentar yang terasa. Kanao dapat menangkapnya secara jelas. "Apa yang kau lakukan di sana? Di ruangan itu?"
"…ah," Kanao mengangguk-angguk, paham akan pertanyaan tersebut. "Saya bertemu seseorang, dia sedang berlatih—mungkin untuk festival budaya nanti, Sensei."
"Lalu?"
"Kami berkenalan," Kanao menundukkan kepala, malu-malu. "Dia bernama Kamado Tanjirou. Kami belum pernah bertemu sebelumnya, tapi dia menari dengan sangat hebat."
Giyuu hampir menahan napas ketika mendengar lantunan lembut yang berasal dari adik sang kekasih. Segera, lelaki itu menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Giyuu tidak peduli dengan Kanao yang terkejut. Mereka pergi dari area sekolah tanpa penjelasan lebih lanjut.
.
.
ended
.
.
A/N: saya tahu ini aneh, lol.
mind to review?
