Drabble, AU. The characters taken from FATE/GRAND ORDER GAME. Melin X Arthur
"Coklat dari Lucius-senpai?" Ucap pemuda berambut blonde dengan ahoge menjawab ucapan dari salah satu butler di rumahnya.
"Iya, dan jangan kau makan itu!" Jawab lelaki berambut putih dengan seragam khas butlernya.
"Kenapa?"
"Sangat beracun." Ucapan itu membuat pemuda itu memincingkan mata ke lelaki itu.
.
CHOCOLATE
.
"Begitu katanya." Ia membuka kotak bekal makan siangnya.
"Uaaaa.. Lalu siapa yang makan coklat itu, Arthur?"
"Merlin-san. Ku harap dia baik-baik saja setelah memakan coklat itu. Apa aku harus meneleponnya ya?"
"Aku juga mendengar gossip-gosip kalau lelaki yang mendapat coklat itu juga yang tampan. Untung aku biasa.
"Kau.. kau pikir, aku tampan?"
"Kenapa kau bertanya lagi? Hei! Kau Arthur Pendragon, terlahir dari keluarga kaya dan tampan.
"Itu bukan pembenaran Arash. Aku bilang aku dapat coklat dari Lucius-senpai." Pemuda disamping pemuda blonde bernama Arthur itu menatapnya sinis. "Agar tidak dicurigai ada yang ingin meracuniku lagi."
"Ide mu tidak buruk kok."
.
"Kau dapat coklat lagi Arthur?" padahal dia sudah berjalan sepelan mungkin, kok tetap terdengar suara langkah kaki-nya oleh butlernya itu.
"Tidak, tapi Arash tidak mendapatkannya."
"Karena kau tampan. Benarkah?"
"Merlin-san, jangan kau memperkeruh keadaan." Pemuda berambut blonde bermata teal itu menatap lelaki berambut putih itu. Dia terlihat pucat. "Kau pucat? Kenapa?"
"Hanya kelelahan saja. Rapikah baju sekolahmu dulu aku akan—" lalu Marlin pun pingsan.
"MARL--"
.
"Keracunan makanan."
Ucap seorang dokter kepadanya. Arthur menatap seperti tak percaya. "Tidak terlalu parah kok, tenang saja."
"Bagaimana bisa dok?" tanyanya.
"Coklatmu Arthur" Arthur menatap Merlin yang berangsur bangun dari tidurnya. "Sepertinya. Sengaja aku mengambilnya dari tas mu karena curiga. Bukan dari Lucius kan?" Arthur membeku. Wajahnya bingung mau berkata apa.
"Seorang gadis kelas sebelah memberikan coklat itu kepada ku kemarin. Arash tidak dapat tapi. Dia bilang kalau--HANYA YANG TAMPAN YANG DAPAT." Merlin speechless, suara Arthur terdengar cukup keras ditelinganya. Merlin lalu terkekeh pelan.
"Ohh, Valentine Day ya. Pantas.. mereka berlomba-lomba memberikan coklat untuk yang tampan. Dan kau salah satunya." Pemuda di depan Merlin terlihat gusar. "Aku gak apa-apa kok. Kemarilah.. ku berikan kau sesuatu."
Arthur mendekatinya, Marlin merogoh sesuatu dari kantung celananya, menyerahlan itu ke pemuda yang lebih pendet darinya. Tapi—
Marlin mengecup puncak kepalanya dan mengusap puncak kepala majikannya itu. Wajah Arthur langsung memerah.
"MARL--"
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." Marlin lalu memeluknya erat.
.
END
