oiya, disini ffnya akan ada yang aku ubah, jadi keknya gak sama persis ama yang di watty yaaa.. anggep aja yang disini tuh another story nya wkwkwk

.

.

.

Naruto memang seorang playboy. Ia selalu mengencani gadis, kemudian memutuskannya beberapa hari atau minggu kemudian.

Seperti saat ini, setelah 3 minggu berpacaran, Naruto memutuskan Hinata secara sepihak, mengabaikan Hinata yang menangis di taman belakang sekolah dan meninggalkannya begitu saja. Jangan salahkan Naruto, para gadis itu lah yang mendekatinya, jika sudah begitu mana bisa Naruto menolak?

Naruto bersiul sambil berjalan dengan tenang menyusuri lorong bersama Shikamaru dan juga Kiba, tidak terlalu ramai mengingat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore yang artinya sekolah telah di bubarkan sejak setengah jam yang lalu.

"Aku rasa kau harus mengurangi kadar kebrengsekan mu itu Naruto." Celetuk Kiba yang langsung di hadiahi pukulan di belakang kepalanya oleh Shikamaru, "Sakit bodoh!" Kiba berusaha membalas namun bisa dihindari oleh Shikamaru.

Naruto memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana "Kenapa memang?"

Kiba mendelik pada Naruto, "You're really fucking shit! Kau tidak kasihan pada mereka? Memberi harapan lalu menghempaskannya begitu saja."

"Kiba, kau terlalu melankolis."

"Diam kau rusa sialan."

Naruto tersenyum menanggapi ucapan Kiba, membuat wajahnya yang tampan terlihat semakin tampan, para gadis yang mereka lewati pun menahan napas melihat Naruto seperti itu.

Naruto berhenti berjalan tepat ketika sampai di halaman depan sekolah, membuat kedua sahabatnya ikut berhenti di sampingnya. Naruto memandang langit biru yang telah berubah warna menjadi jingga, kemudian beralih memandang segelintir siswa yang berjalan keluar area sekolah, "Kau tahu kenapa melakukannya?." Tanya Naruto sambil menampilkan seringainya.

"Ya, untuk mencoba lubang mereka satu per satu, kau kan penjahat kelamin." Sahut kiba sukses membuat dua tangan mendarat di belakang kepalanya dengan keras.

"Sakit brengsek!" Kiba berjongkok sembari mengelus belakang kepalanya

.

.

.

Dalam mobil pribadi milik Neji, Sasuke memperhatikan Neji yang sibuk menenangkan tangisan Hinata sambil mengemudi. Tadinya Ia dan Neji berniat pulang bersama, namun mereka dikejutkan oleh Hinata yang menangis sambil berlari kearah Neji dan langsung memeluk pemuda bersurai panjang itu erat, mengatakan bahwa ia baru saja diputuskan oleh Naruto.

Sontak saja saat itu juga Neji marah dan ingin menghampiri si pemuda pirang untuk memberikan beberapa pukulan sebagai balasan karena telah menyakiti adiknya, namun Hinata mencegah hal tersebut dan mengatakan pada Neji jika ia ingin segera pulang, mau tak mau Neji pun mengurungkan niatnya dan menuruti permintaan Hinata.

Sasuke kemudian mengalihkan perhatiannya keluar mobil, trotoar terlihat ramai sore ini karena banyaknya orang yang berlalu lalang. Telinganya masih menangkap isakan kecil dari Hinata.

Sasuke heran, apa yang dilakukan Naruto pada para gadis yang ia kencani sehingga mereka akan berakhir menyedihkan ketika telah diputuskan oleh pemuda itu.

"Sasuke." panggilan dengan suara bariton menyapa pendengaran Sasuke yang sontak menolehkan kepalanya, menyahut tanpa suara.

"Aku pikir kau mau ke rumahku terlebih dahulu, aku harus segera membawa Hinata pulang, setelah itu aku akan mengantarmu. Kau tidak keberatan kan?" tawar Neji masih dengan mengelus punggung Hinata menggunakan salah satu tangannya, sedangkan tangan lainnya memegang kemudi mobil.

"Kalau begitu aku bisa turun disini, nanti aku akan naik bis saja."

Neji menggeleng pelan, "Tidak bisa, aku yang mengajakmu pulang bersama, mana mungkin aku menurunkanmu ditengah perjalanan." Neji menoleh sekilas pada Sasuke yang berada di jok belakang, melihat wajah pemuda raven sesaat sebelum kembali fokus pada jalanan di depan. "Hanya sebentar, tidak akan lama." sambungnya ketika tidak mendapati jawaban dari Sasuke.

"Hn, baiklah."

Neji pun menghela napas lega.

Begitu pula dengan Sasuke yang semakin merasa kagum pada tuan muda Hyuuga itu.

Beberapa menit kemudian mobil Neji memasuki pekarangan luas milik keluarga Hyuuga. Terlihat jelas kediaman Hyuuga memiliki desain arsitektur tradisional yang kental dengan pepohonan dan juga taman bunga yang terletak di samping kolam ikan dengan air yang jernih. Sungguh kediaman yang hangat.

Mereka bertiga turun dari mobil, Neji membimbing Sasuke masuk kedalam rumahnya sedangkan Hinata langsung berlari masuk tanpa memerdulikan apapun.

Kesan Sasuke ketika pertama kali memasuki rumah keluarga Hyuuga adalah, luas dan hangat. Ia tak akan heran apabila seluruh penghuni rumah dengan luas ratusan meter persegi itu begitu betah berada di dalam.

Neji mempersilakan Sasuke menunggu di ruang tamu, duduk diatas lantai kayu berlapis tatami dengan sebuah meja pendek yang terletak ditengah ruangan, tak berapa lama sepeninggal Neji, beberapa pelayan datang menghampiri Sasuke dengan membawa sebuah ocha hangat dan juga beberapa macam camilan untuk dinikmati.

Sasuke benar-benar merasa dimanjakan.

Lima menit kemudian Neji menghampiri Sasuke, mengajak sang raven untuk mengantarnya pulang.

Suasana hening kembali menyelimuti ketika Sasuke dan Neji berada dalam mobil. Sedikit canggung membuat Sasuke terkadang bergerak tidak nyaman diatas kursinya.

Neji yang menyadari tingkah Sasuke lantas meliriknya sejenak sebelum bersuara, "Ada apa Sasuke? Butuh sesuatu?" Neji menaikkan sudut bibirnya, menyadari tingkah tak biasa dari sang Uchiha. Ia ingin tertawa geli melihat Sasuke yang menoleh padanya dengan memasang wajah tidak mengerti, menurutnya wajah Sasuke sangat lucu.

"Tidak."

Setelah itu hening kembali menyapa, Sasuke masih berusaha mengalihkan perhatiannya dari Neji dan juga debaran-debaran di jantungnya.

.

.

.

Naruto yang baru saja turun dari lantai atas untuk makan malam dikejutkan oleh sang ayah yang ikut bergabung bersama ibunya yang telah berada disana terlebih dahulu. Ia segera menarik kursi yang berhadapan dengan sang ibu.

"Sejak kapan Ayah sampai?" Tanya Naruto seraya menuangkan segelas air putih untuk dirinya sendiri. Meneguknya sedikit sebelum menatap sang ayah.

Pria yang mempunyai perawakan sama dengan Naruto itupun tersenyum sedikit mendengar pertanyaan Naruto, "Sekitar dua puluh menit lalu."

"Tumben sekali, pesawatnya tidak delay? Biasanya ayah menyuruhku menunggu berjam-jam di bandara." Ujarnya setengah menyindir, sudah menunuggu lama ternyata pesawatnya delay. Serius, ayahnya ini adalah tipe orang tua yang suka sekali menyusahkan anaknya.

Pernah suatu hari Minato meminta Naruto untuk mengambil berkas penting yang katanya tidak sengaja tertinggal di kantor pada jam 11 malam, tentu saja Naruto terpaksa menyanggupinya setelah berbagai macam alasan yang ia gunakan tidak mempan. Setelah 1 jam mencari, Minato tiba-tiba menelepon dan mengatakan jika berkasnya ternyata sudah ada pada Iruka. Bisa bayangkan bagaimana kesalnya Naruto?

Kenapa Minato tidak menyuruh anak buahnya saja? Kenapa harus Naruto?

"Ayah dijemput Iruka tadi. Bisa kita mulai makan malamnya? Ayah sudah lapar, kau jangan mengajak berdebat."

Naruto mendengus, begitulah ayahnya. Menyebalkan.

Kushina tersenyum melihat tingkah anak dan juga suaminya, hatinya menghangat mengetahui fakta bahwa keluarga kecilnya masih sama seperti dulu, penuh dengan cinta walaupun jarang sekali berkumpul bersama seperti ini karena kesibukan masing-masing.

"Bagaimana sekolahmu Naruto?" Tanya Kushina seraya mengambilkan sepiring nasi untuk Minato.

"Baik-baik saja."

"Ayah harap setelah lulus sekolah kau bisa mengambil alih pekerjaan Ayah." Ujar Minato tanpa melihat raut wajah kesal Naruto. "Lalu bagaimana dengan calon menantu Ayah? Apa hubungan kalian baik-baik saja?"

"Baik, kami sering jalan bersama." Jawab Naruto seadanya.

"Hanya jalan?" sahut Kushina.

"Memangnya ibu mengharapkan apa?"

"Ibu pikir hubungan kalian sudah jauh."

Naruto menghentikan gerakannya, memandang sang Ibu dengan dahi mengerut "Jauh bagaimana maksud ibu?"

Minato tahu dengan jelas apa yang dimaksud oleh istrinya itu, namun ia memilih diam dan tidak berkomentar, takut salah bicara dan membuat istrinya balik badan semalaman.

"Ish, kau tidak tahu maksud ibu? Kau belum melakukannya?"

Minato yang tengah menelan makanannya pun sontak tersedak. Naruto semakin mengerutkan dahinya.

"Kau memang benar-benar payah dalam masalah yang dewasa"

Tunggu, apa ibunya ini sedang meragukan hasil dari bibit unggul milik ayahnya?

.

.

.

Tbc

Hai haiii, maap ya lama update, soalnya akun aku ketahuan sama pacar, takut si doi tau klo aku ternyata suka ama homoan wkwkwk :3

maap gak bisa reply comment, ini aku yang gak tau caranya apa emang gak ada fitur buat reply comment? :v

Mind to review?

7!! – Orange

DLDR!