" KAU BISA BEKERJA TIDAK HAH ? " bentaknya.
Astaga ! Jantungku !
Dia, dia adalah atasanku. Presdir Park Group, Park Chanyeol. Dia datang ke mejaku dengan map di tangannya. Lalu membanting map tersebut ke wajahku. Seketika aku diam membatu layaknya keledai bodoh. Menunggu kata - kata kasar terucap dari bibirnya yang sayang nya begitu seksi dimataku.
"Jawab pertanyaanku, Byun Baekhyun !" Dia mendesis. Oh tidak ! Ini sungguh menakutkan.
"I-iya Mr. Park," jawabku. Menelan ludah.
"KAU BISA BEKERJA TIDAK ? BYUN BAEKHYUN ? KENAPA KAU BODOH SEKALI ? HAH ? " Aku memundurkan wajahku, memejamkan mata saat bentakan itu terdengar lagi.
Tangan kanannya membuka lembaran map yang berisikan dokumen - dokumen penting. Surat perjanjian kerja dengan perusahaan Wu Corp asal China rupa nya. Tapi, rasanya aku tidak membuat kesalahan pada dokumen tersebut. Sumpah ! Aku sudah memeriksanya ribuan kali sebelum aku menaruh surat perjanjian itu di atas meja kerja Presdir Park, atau si Park-sialan-tampan-Chanyeol.
Aku bangkit, membungkukkan badan ku sebagai rasa hormat dan sedikit penyesalan karena sudah mengumpat di dalam hati.
"Maafkan kesalahanku, Mr. Park." ucapku.
"Bereskan masalah yang kau perbuat, Tuan Byun." ucapnya.
"Y-ya. Dimengerti, Mr. Park" aku membungkukkan badan dan menghirup udara sebanyak - banyaknya kemudian menghembuskannya secara perlahan.
Jantungku! Berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
Bekerja bersama Park-sialan-yang-terlalu-tampan-Chanyeol seperti menggali kuburanmu sendiri. Aku masih terlalu muda untuk mati. Tapi rasanya jantungku takkan bisa bertahan lebih lama jika berdekatan dengan pria itu, maksudku Chanyeol. Bisa - bisa aku terkena serangan jantung dadakan yang disebabkan oleh bentakan nya yang menggelegar. Apalagi suara Chanyeol yang low bass itu. Ish, mengerikan sekali.
Aku meraih lembaran surat perjanjian perusahaan dengan Wu Corp yang tersebar di sekitar mejaku. Memungutnya satu persatu tanpa ada satu lembar yang menghilang dari bagian dokumen penting itu. Menyusunnya dan merapikannya. Membaca dengan teliti dan mulai mencari dimana letak kesalahan yang kuperbuat.
Alisku saling bertaut. Dokumen ini bukan aku yang buat. Sungguh, tulisan ini, bukan aku yang membuatnya.
"Ini bukan milikku," beralih pada komputer, mencari salinan surat perjanjian kerja sama dengan Wu Corp yang asli, yang aku buat kemarin malam.
Mencocokkannya dengan surat yang saat ini berada di tanganku.
"Benar ini bukan ketikanku." Seruku.
Jahat sekali mereka yang mensabotase pekerjaanku. Ekor mataku menangkap senyuman itu. Ya, dia pasti yang berani berbuat sejauh ini. Tetapi, mengapa harus aku? Apa salahku padanya sehingga dia, dia, Lee Su Bin bisa berbuat nekat seperti ini? Hah ! Jika memikirkan itu memang tidak ada habisnya ! Wanita itu ular. Sebutan yang diberikan dari beberapa atasanku dulu.
Su Bin sunbae - dia yang menginginkan panggilan seperti itu. Ehm, katanya aku harus selalu menghormati senior - seniorku yang sudah bekerja lebih dulu. Dia tergila - gila dengan rasa hormat. Mungkin lain kali jika aku bertemu dengannya di jalan aku harus memberinya hormat! Ide yang bagus sepertinya. Haha.
Jadi, sekarang lupakan masalah Lee Su Bin sunbae! Lebih baik aku mulai mencetak surat perjanjian kerja sama Wu Corp yang sudah kubuat. Sebelum si wanita ular itu melakukan hal yang lebih parah lagi.
Tak sampai 10 menit surat perjanjian kerja sama Wu Corp sudah dicetak, kurapikan, dan sudah diperiksa dua kali, tidak sudah lebih dari sepuluh kali aku membacanya. Aku yakin ini pasti akan diterima Presdir Park.
Aku menyusun lembaran awal surat perjanjian hingga lembaran terakhir. Memaksakan tersenyum sebelum mengetuk pintu ruangan Singa Galak.
Tok ! Tok ! Tok !
"Permisi, Mr. Park" ucapku menekan knop pintu, kemudian mendorongnya.
Berjalan dengan langkah besar menuju singgasana Singa Galak. Tampaknya dia tidak memperdulikan kedatanganku baguslah.
"Ini revisi surat perjanjian dengan Wu Corp, Mr. Park", ucapku, menaruh map berwarna putih di sudut meja nya.
Aku berbalik dan bermaksud ingin meninggalkan ruangan si Singa-Galak-Tampan Chanyeol. Suara deheman keras dari belakangku menghentikan gerakan tubuhku dan langsung memutar tubuhku kembali menghadap Chanyeol. Jujur saja, jantungku dari tadi sudah tidak bekerja dengan normal. Degup jantungku meningkat seratus kali lipat setiap masuk ke dalam ruangan Neraka yang menakutkan. Ruangan Presdir Park.
Chanyeol mengambil map putih membukanya dan membacanya dengan teliti. Dia mendongak menatapku. Tatapan matanya yang tajam seolah mengintimidasiku, memojokkanku, menyudutkanku, dan aku benci tatapan matanya.
"Lebih baik dari yang tadi," ucapnya.
APA ? Katanya lebih baik ? Astaga !
Aku mengedipkan mataku sebagai respon atas pujian sekaligus celaan yang Chanyeol berikan. Memaksakan wajahku tetap tersenyum ramah di depannya. Padahal dalam hati ingin sekali aku mencakar wajah yang sialnya tampan.
"Terima Kasih, Mr. Park," aku berbalik, ingin cepat - cepat pergi dari ruangan Chanyeol.
"Baekhyun" panggilnya yang sukses menghentikan langkah kaki ku lagi.
"I-iya Mr. Park" sahutku. Membalikan badanku lagi.
"Sebentar lagi jam makan siang. Apa kau punya rencana pergi makan siang dengan teman atau pacar mu?" Tanya nya.
Aku memiringkan kepala menatap heran wajah Chanyeol yang kini terlihat serius saat membaca berkas - berkas penting.
"Uhm, tidak. Mr. Park," jawabku.
"Bagus." Ucapnya. Oh aku melihat sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang jarang sekali diperlihatkan di depan umum.
Astaga! Tampannya.
Aku menggelengkan kepalaku mencoba mengusir setan yang menghasut diriku untuk memuja wajah tampan atasanku sendiri.
"Ada apa Baekhyun?" Dia menatapku. Mata kami bertemu dan aku sibuk menyelami mata hitam kelamnya.
"Ti-tidak ada apa - apa Mr. Park. Kalau begitu saya permisi." Kataku pamit undur diri.
.
.
.
Aku melirik pada jam yang berada di sudut ruangan sudah menunjukan pukul 12.30 siang, beberapa dari karyawan sudah banyak yang pergi meninggalkan kantor demi mengisi cacing - cacing di perut yang sudah meronta minta diisi. Aku membereskan barang - barangku. Menaruh dokumen - dokumen penting yang nanti akan kuserahkan kepada Chanyeol ke dalam laci demi menyelamatkan nyawaku agar Su Bin sunbae tidak menyabotase dokumenku lagi dan aku yang berakhir mendapatkan bentakan serta kata - kata kasar dari Chanyeol.
"Kau akan makan siang ?" Aku mendongak, mendapati Chanyeol berdiri di depan meja ku dengan tangan berada di saku celana.
Aku mengangguk. "Iya," jawabku. Bingung.
"Kalau begitu cepat bereskan barangmu,"
"HAH ?"
"Cepat bereskan barangmu ! Sebelum kita kehabisan waktu makan siang," kata Chanyeol dengan intonasi penuh penekanan. Dan apa - apaan itu, matanya mendelik padaku ? Sungguh tidak sopan.
Menarik kunci laciku, setelah kupastikan bahwa laciku terkunci dengan benar. Berdiri, lalu mengambil dompet serta ponselku. Chanyeol sudah lebih dulu berjalan di depanku. Aku hanya mengikutinya dengan jarak dua langkah di belakangnya.
Dia Presdir dan aku adalah Sekretarisnya.
Bukankah makan siang bersama atasanmu sendiri adalah hal yang wajar ? Kami sering melakukannya, aku dan Chanyeol. Meski hobi Chanyeol adalah memarahiku, dan membentakku serta jangan lupakan kata - kata kasar yang selalu diucapkan saat sedang marah padaku. Jika di luar dari urusan kantor Chanyeol adalah pria yang menyenangkan, menurutku. Dia baik dan juga perhatian. Tapi ya tetap saja di mataku dia itu menyeramkan baik di dalam maupun di luar urusan kantor. Auranya terlalu mendominasi auraku. Padahal kami sama - sama pria tapi saat kami jalan bersama selalu saja yang mendapatkan pekikan heboh dari gadis - gadis adalah Chanyeol. Sementara aku selalu mendapatkan lirikan mau dari para seme. Menyebalkan bukan ?
Lanjut ?
Kasih aku 7 review coba,
