" Bagaimana kabar Paman dan Bibi ?"
Chanyeol duduk di depanku. Dikarenakan jam makan siang yang hanya tersisa 15 menit lagi akhirnya kami memutuskan untuk makan - makanan cepat saji. Syukurlah restoran ayam yang mendunia itu berada tiga blok dari kantor kami.
"Ayah dan Ibuku baik - baik saja, lalu bagaimana dengan Tuan dan Nyonya Park, hmm, Mr. Park ?" Alisnya menukik tajam, yah Chanyeol tidak suka di panggil Mr. Park saat kami berada di luar kantor.
"Ah- maksudku, hm Chanyeol", ralatku, lihat saja mata bulatnya menatapku eh,, apa dia tidak takut matanya akan jatuh keluar jika ia tetap menatapku seperti itu?
"Mereka baik", sahut Chanyeol cepat. Tangan besarnya mengambil tiga potongan kentang goreng yang mana langsung masuk ke dalam mulutnya.
Sementara aku meraih colaku, menyedotnya pelan.
"Nuna kapan pulang ?" Tanyaku, membuka percakapan agar tidak terlalu canggung bersamanya.
"Yoora akan kembali beberapa bulan lagi."
Aku ber-oh' ria sembari manggut-manggut. Chanyeol mulai membuka burgernya, menggigitnya, mengunyah, menelan, lalu mengambil beberapa potong kentang goreng dan melahap nya.
"Aku lapar Baek", eluh nya. Ya tanpa kau memberitahu pun aku sudah tahu Chanyeol.
"Kenapa kau tidak makan ?", Chanyeol menyedot colanya hingga setengah gelas.
Aku menggeleng, dan mulai memakan paket panasku.
"Sial, aku masih lapar."
Bahkan saat aku sedang makan pun Chanyeol masih sempat - sempatnya mengumpat. Aku mendongak menatapnya, saat Chanyeol bangkit dari duduknya.
"Aku ingin memesan beberapa burger dan kentang goreng lagi mungkin kau ingin menambah sesuatu seperti ice cream atau coffee float kesukaanmu? " Tanya Chanyeol, aku berpikir cepat. Dan tersenyum setelah memilih mocca float.
"Aku mau mocca float…" Chanyeol mengangguk dan segera melesat pergi menuju konter.
10 menit berlalu…
Chanyeol datang dengan nampan penuh berisikan burger, kentang goreng, dan dua mocca float. Mulutku sukses menganga, apakah dia sungguh - sungguh kelaparan ? Hanya saja baru kali ini aku melihat Chanyeol mau memakan makanan fast food dalam jumlah banyak.
"Chanyeol kau tidak salah memesan itu semua ?" Keningku berkerut saat Chanyeol duduk dan meletakkan segelas mocca float di hadapanku.
Dia meringis dengan cengiran nya, seolah merasa tak bersalah. "Sudah kubilangkan tadi. Aku kelaparan Byun Baekhyun",
"Ya, ya baiklah. Kau jangan terlalu kebanyakan makan makanan cepat saji itu tidak baik untuk kesehatan tubuhmu Mr. Park", aku mengingatkan. Dia mendelik tak suka.
"Hey, aku begini juga karenamu Baek !" Aku menatap matanya tajam.
"Apa ? Kau menyalahkan aku Mr. Park," tanyaku? Dengan cepat dia menelan sisa makanannya, meminum cola nya, lalu menatapku dengan tatapan serius.
Mati aku. Dewa batinku mengkerut di dalam sana.
"Baekhyun !", Suara low bass itu memanggil namaku.
Tanda peringatan akan bahaya berbunyi. Aku waspada akan sikap si Singa Galak di depanku ini.
"Y-ya", aku mencicit seperti mong - mong anjingku saat ekornya terjepit pintu.
"Diam," katanya penuh penekanan.
"Ya !" Sahutku. Melanjutkan makan siangku.
.
.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk ruangan yang bertuliskan "Presdir Park Chanyeol" selanjutnya mendorong troli masuk ke dalam ruangan.
Chanyeol dengan seorang pria berperawakan tinggi dan rambut berwarna blonde sedang duduk di sofa di kedua tangan masing - masing memegang lembaran kertas putih. Mereka dalam perbincangan serius.
"Maaf mengganggu, Mr. Park", aku datang mendekat dengan troli berisikan dua set gelas, satu poci keramik, dan beberapa piring berisikan camilan.
"Ya," sahut Chanyeol.
Langsung saja aku menata gelas dan menuangkan teh hijau dari poci keramik kecil berwarna hijau. Pria rambut blonde itu melirik ke arahku, tersenyum ramah padaku dan aku membalasnya tak sampai ke hati. Setelah teh, aku menyajikan camilan di meja. Lalu pamit undur diri. Membawa troli itu keluar bersamaku dari ruangan Chanyeol.
.
.
Dua jam berlalu. Hari sudah mulai sore, beberapa karyawan juga sudah ada yang pulang menyisakan orang - orang terpenting di perusahaan seperti aku, Presdir yang masih berada di ruangannya bersama orang berambut blonde itu, Kyungsoo dan divisi marketing dan keuangan.
Dua divisi yang selalu pulang terakhir.
Krining ~ Krining ~ Krining ~
Telepon bagian sekretaris berbunyi. Aku dan Kyungsoo saling berpandangan. Eh ? Kyungsoo. Do Kyungsoo, pria manis bermata bulat dengan bibir berbentuk hati jika sedang tertawa. Dia adalah sekretaris. juga. Kami berdua adalah sekretaris. Hanya saja aku adalah sekretaris pribadi Chanyeol yang kadang - kadang juga terjun membantu pekerjaan Kyungsoo. Aneh ? Memang ! Tapi setidaknya pekerjaan kami menjadi lebih mudah. Contohnya saat Chanyeol sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri dan aku yang menemani maka aku lah yang mengatur jadwalnya, sedangkan Kyungsoo yang menerima laporan dariku, mencatatnya, kemudian membuatkan laporan hasil dari perjalanan bisnis kami. Yah, seperti itulah. Tapi intinya pekerjaan kami menjadi lebih ringan.
" Kau yang mengangkat saja, Kyung ~" rengekku.
"Tapi Baek-" ucapnya. Aku memotong.
"Kalau Mr. Park mencariku katakan bahwa aku sudah pulang. Ibuku bilang hari ini aku harus pulang cepat ada yang ingin beliau sampaikan padaku." Ucapku cepat. Memberitahu Kyungsoo dengan kedipan mata nakalku.
" YAK ! BYUN BAEKHYUN ! " pekik Kyungsoo memekakan telingaku. Mata bulatnya mendelik, menyeramkan. Bibirnya maju lima senti, dan aku di buat gemas ingin mencubit bibir itu.
Jari telunjuk ku berada di depan bibir ranum nya.
"Sssttt, pelankan suaramu. Dan lebih baik segera angkat teleponnya sebelum Park Sialan itu mengamuk", mataku memberi isyarat pada telepon yang sudah berdering 7 kali.
Dengan kasar Kyungsoo meraih gagang telepon dan menaruhnya ke telinga.
"Ya Mr. Park," ucap Kyungsoo dingin tanpa ekspresi.
"Baekhyun sudah pulang ?", Kyungsoo melirik ke arahku. Aku memelototinya.
"Sudah Mr. Park. Anda memerlukan sesuatu ?" Tanya Kyungsoo.
"Ah ! Aku tidak memerlukan sesuatu." Ada jeda begitu lama. Kami saling berpandangan.
"Kyungsoo-ssi."
"Ya Mr. Park"
"Tolong hubungi Baekhyun. Katakan padanya untuk bersiap. Pukul delapan malam aku akan menjemputnya." Kyungsoo melirikku lagi.
"Anda akan melakukan perjalanan bisnis, Mr. Park?"
Helaan nafas terdengar dari gagang telepon, "Ya, ke China bersama Tuan Wu Yifan."
"Baiklah. Saya akan menghubungi Baekhyun secepatnya." Kyungsoo meletakkan kembali gagang telepon. Wajahku berubah masam, niat hati ingin beristirahat batal sudah.
"Baek kau dengar sendirikan ?" Tanya Kyungsoo. Aku mengangguk lemah.
"Ya. Tidak usah kau jelaskan lagi. Aku akan pulang dan membereskan keperluanku." Ucapku lesu.
"Dan tolong tanyakan pada Mr. Park berapa hari aku berada di China?" Pintaku. Kini berganti giliran Kyungsoo yang mengangguk paham. Aku membereskan barang - barangku seperti dokumen yang berada di meja kini sudah tersimpan rapi di dalam lemari kerjaku. Flashdisk juga, kemudian charger ponsel kucabut dan memasukan benda berharga itu ke dalam tasku. Memberikan kunci laciku kepada Kyungsoo takut - takut dia membutuhkan sesuatu saat aku tak ada.
.
.
.
Chapter 2 akhirnya selesai. Ish, gemes akutuh. Chanyeolnya galak - galak tapi cinta.
