" Menjauh dari Baekhyun Tuan Wu " aku memejamkan mata, ketakutan dan juga kedinginan, Chanyeol datang dengan mata berapi - api menahan emosi. Ia menarikku sampai hidungku bertabrakan dengan dada bidangnya.
.
.
Chanyeol mendekapku erat seolah aku akan dibawa pergi oleh Tuan Wu.
"Jangan mengusik punyaku," ucapnya penuh dengan penekanan di setiap kata.
"Aku tidak mengusik punyamu. Lagi pula Baekhyun-ssi memang bukan milikmu, Park!" Sahut Tuan Wu dengan nada mengejek.
"Dia milikku! Dia sekretarisku! Jika kau berani menggodanya sama saja kau memukul bedug peperangan di antara kita."
Tuan Wu mengangkat sebelah alisnya, masih dengan senyum mengejek. "Kau terlalu serius bung." Tangannya menepuk-nepuk bahu Chanyeol.
"Maksudmu?" Tanya Chanyeol. Ia semakin mengeratkan lilitan tangannya yang berada di bahuku.
"Aku hanya bercanda kawan." Ujarnya. Tuan Wu berdiri tepat di samping Chanyeol dan tangannya masih berada di bahu Chanyeol. "Tapi Baekhyun-ssi memang lelaki cantik dan… manis." Lanjutnya.
Entah aku tak mengerti apa yang sedang terjadi antara Tuan Wu dan Chanyeol. Aku hanya bisa merasakan hawa dingin semakin menusuk ke tulangku. Ah~ dan hidungku tiba-tiba gatal. Aku memalingkan wajah ke samping…
Hatchi ~
Suara bersin ku mengalihkan perdebatan mereka yang tidak aku mengerti sama sekali. Hm, jujur saja belakangan ini aku jadi sering telat dalam berpikir tapi semua itu karena aku terlalu stress. Selain stress aku juga belum mendapatkan libur selama dua minggu. Ditambah Chanyeol mengajakku ikut dalam perjalanan bisnisnya. Huft… sungguh melelahkan.
Hatchi ~
Aku mendorong tubuh Chanyeol hingga tubuhku terbebas dari dekapannya dan aku bisa leluasa dalam bersin.
Hatchi ~
Saat bersin yang ketiga aku langsung memunggungi kedua pria di dekatku. Aku hanya ingin cepat sampai ke kamar ku, mandi dengan air hangat lalu istirahat. Tapi, dua pria berstatus presdir di belakangku ini benar-benar menjengkelkan. Mereka mendebatkan hal aneh. Aish…
"Aku akan mengantarmu ke kamar. Ayo Baekhyun," Chanyeol menyeretku menuju lift terdekat.
Aku sempat membungkukkan badan kepada tuan Wu sebelum Chanyeol menyeretku masuk ke dalam lift.
"Sssttt dingin sekali" eluhku sambil mendekap tubuhku sendiri.
Aku melirik Chanyeol dengan ekor mataku. Dia sedang membuka mantel yang kemudian dipindahkan ke tubuhku. "Aku tak ingin kau sakit," ucapnya. Tangan besarnya mengelus-elus kepalaku memberikanku rasa nyaman yang luar biasa. Elusan di kepalaku membuatku sedikit mengantuk ditambah wangi aroma tubuh Chanyeol yang begitu menenangkan menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku.
Mataku semakin lama semakin memberat. Aku ingin cepat-cepat sampai ke kamar dan tidur. Kepalaku juga sedikit pusing.
"Kau mengantuk hem?" Tanya Chanyeol. Aku mengangguk.
Tiba-tiba saja aku merasakan tarikan ke samping. Chanyeol menarikku mendekat ke tubuhnya. Ia mendekapku lagi. Tidak! Ini semakin nyaman dan mataku semakin berat. Aku tak mampu lagi bertahan melawan rasa kantuk ku. Aku jatuh terlelap dalam dekapan Chanyeol, bosku.
~ My Boss, My Boyfriend ~
Aku terbangun ketika mendengar suara sendok terjatuh membentur ke lantai keramik, suaranya begitu nyaring. Ingin bangun dan melihat apa yang terjadi tapi kepalaku rasanya berat sekali.
"Eoh! Baekhyun kau sudah bangun?" Tanya seseorang.
Mataku kabur, aku mencoba mengerjapkan mataku berkali-kali berdoa agar aku bisa melihat dengan jelas orang yang sedang bertanya kepadaku.
"Hyung," tapi penglihatan ku tampak meragukan masa sih aku melihat wajah hyungku yang jelas-jelas tidak mungkin berada di dalam gedung Park Group.
"Ini aku Minseok," katanya. Oh minseok…
"Hyung kepalaku pusing sekali," eluhku. Masih mencoba untuk bangun namun Minseok hyung menahanku agar tetap terbaring diatas tempat tidur.
Minseok hyung menaruh punggung tangannya di dahiku, "Kau masih demam Baekhyun," ucapnya. Kemudian berlalu begitu saja.
Sekelebat memori tentang kejadian semalam terlintas di kepalaku. Aku teringat saat Tuan Wu memintaku menjadi kekasihnya. Aku takut sekali. Untung saja Chanyeol datang dan menolongku. Sejujurnya aku memang mempunyai ketertarikan kepada sesama jenis daripada lawan jenis. Aku pernah memiliki seorang kekasih dia seorang pria bukan wanita. Hubungan kami berjalan selama kurang lebih dua tahun dan berakhir karena dia lebih memilih menikahi wanita yang telah dijodohkan orang tuanya dibandingkan bersamaku.
Aku memejamkan mata, dadaku terasa sesak ketika mengingat dirinya.
"Baekhyun," Minseok hyung memanggilku. Aku bergumam tak jelas, menyahutnya. "Ya! Baekhyun! Baekhyun!," Aku mendengar minseok memanggil namaku, tampak panik.
"Hyung… aku baik-baik saja," aku mencoba berbicara walau tenggorokanku terasa sakit.
Minseok menaruh handuk yang sudah dibasahi di atas dahi ku. Haus aku ingin minum.
"Hyung haus," ucapku, dengan sigap Minseok hyung menyodorkan sedotan ke mulutku, memudahkan aku minum tanpa harus bangun.
"Baekhyun kau harus makan ya, setelah itu baru minum obat dan kau bisa tidur lagi," aku menggeleng.
"Aku mau tidur saja hyung."
"Tidak! Kau harus makan," tiba-tiba suara berat khas seorang Park Chanyeol ikut bergabung dalam pembicaraan kami.
"Sajangnim," Minseok bangkit dan membungkukkan badan. Sementara Chanyeol berjalan mendekati ranjang ku.
Tatapan matanya tajam menatapku. Aku memalingkan wajah. Aku benci sekali kalau ada seseorang yang memaksaku saat sedang sakit seperti ini. Hingga aku tak sadar kalau aku mulai menangis dalam diam.
"Hei… hei Baekhyun mengapa menangis?" Ia duduk di bangku yang tadi minseok hyung duduki.
Aku menggeleng pelan meski kepalaku sakit sekali ketika di gerakan. Hiks… satu isakan lolos dari bibirku.
"K-kenapa menangis hey, Baekhyun," kata Chanyeol dengan nada lembut.
"H-hiks kepalaku sakit sekali, perutku mual, aku tidak mau makan aku takut muntah," aku ku.
"Tapi kalau kau tidak makan bagaimana kau bisa minum obat?" Ucapnya tegas.
"Iya Baek- makan ya, aku suapi," sambung Minseok hyung.
"Dua suap saja," bujuk Chanyeol.
"Ya, ya, ya mau ya dua suap saja setelah itu minum obat dan tidur lagi," sahut Minseok.
"Hiks, tapi dua suap saja ya," ucapku, keduanya mengangguk bersamaan.
Chanyeol membantuku bangun, menyandarkan punggungku pada kepala tempat tidur. Lalu Minseok Hyung menyuapi ku bubur yang rasanya pahit. Satu sendok bubur yang masuk ke dalam mulut kutelan tanpa ragu. Kemudian sendok kedua juga berhasil kutelan. Aku menggeleng pelan ketika Minseok menyodorkan sendok ketiga.
"Sedikit lagi Baek, satu sendok lagi saja," bujuknya.
"Ehm.. ehm," aku membekap mulutku sendiri.
"Aku akan memberimu cuti kerja selama seminggu jika kau berhasil menghabiskan bubur itu," celetuk Chanyeol di angguki minseok.
Aku menatap Chanyeol dengan mata berbinar. "Janji ?" Ucapku menunjukan jari kelingking.
"Ehm, janji," Chanyeol menautkan jari kelingkingnya.
"Tapi harus aku yang menyuapi," aku mengerang ketika melihat Chanyeol merebut mangkuk bubur dari tangan minseok.
"Aku harus memastikan dengan benar bahwa kau memang menghabiskannya." Aku mengangguk, kemudian membuka mulutku.
"Aaaa,"
terima kasih atas respon nya~
Jangan lupa review ya!
