"Aaaa,"
Ini sudah suapan ke enam. Chanyeol menyuapiku dengan sabar. Dia terus menatapku dan aku sedikit merasa risih. Baru kali ini kami saling bersitatap. Mata hitam bulat pekat terasa mengintimidasiku.
Aku membuka mulut. Menerima suapan ketujuh. Tapi kurasa perutku bergejolak seperti diaduk-aduk. Aku meringis membekap mulutku sendiri.
"Sajangnim," panggilku.
"Panggil aku Chanyeol," ralatnya.
"Sajangnim… aku ingin mun—tah," ucapku. Masih membekap mulut.
Chanyeol tampak panik. Ia segera menaruh mangkuk bubur di atas nakas. Matanya berputar mencari sesuatu benda yang bisa dijadikan untuk muntahku.
"Chan… hoek—" terlambat aku memuntahkan makanannya ke atas selimut. Beruntung muntahanku tidak mengenai Chanyeol.
Pria itu menatapku—menjijikan mungkin. Tapi masa bodoh yang terpenting perutku lega setelah mengeluarkan semuanya.
"Sudah—?" Tanya nya. Aku mengangguk menatap muntahanku… iyuh menjijikan…
Mataku membulat ketika Chanyeol menyingkirkan selimut dari tubuhku tanpa rasa jijik. Ia membuangnya ke lantai kemudian membantu membaringkan tubuhku. Aku merasa semuanya berputar—aku ketakutan hingga tanpa sadar aku menggenggam tangan Chanyeol begitu erat.
"Sajangnim—semuanya berputar!" Pekikku.
Semuanya berputar seperti sedang menaiki komedi putar hanya saja putarannya terlalu kencang. Ini menakutkan—begitu juga perutku yang terasa seperti di aduk-aduk.
"Tenang Baekhyun!" Ucapnya. Ia menggenggam tanganku, erat.
"Jangan memejamkan mata atau kau akan merasa lebih parah," ucapnya memperingati.
Chanyeol membantuku menyandarkan punggungku di headbed. Aku menatapnya, dia menatapku khawatir.
"Chanyeol—,"
"Tenang Baekhyun. Aku akan memanggilkan dokter untukmu. Sepertinya sakitmu semakin parah—maafkan aku seharusnya aku memanggil dokter bukan malah menyuruh minseok untuk mengurusmu."
Air mataku mengalir. "Ssssstttt—tenanglah." Ia menghapus air mataku.
Mual itu datang lagi. Wajahku pasti sudah sangat pucat aku yakin itu. Tanganku dingin dan berkeringat. Aku ingin berteriak kenapa semuanya berputar tapi jika aku bergerak itu akan membuatku bertambah buruk.
Chanyeol menggenggam tanganku, dia berteriak memanggil-manggil Minseok hyung yang kebetulan masih berada di luar kamar. Ia meminta Minseok segera memanggilkan dokter perusahaan. Beruntung Chanyeol menaruh klinik di setiap anak cabang perusahaan nya sehingga memudahkan bagi para pegawai yang sakit di tempat kerja. Sama seperti aku saat ini.
Selang sepuluh menit Xi Luhan—seorang dokter umum asal China—masuk ke dalam kamarku. Aku memang mengenalnya. Kami sudah beberapa kali bertemu. Menurutku dia seorang pria yang manis.
"Apa yang terjadi pada Baekhyun, Chanyeol?" Tanya Luhan. Luhan mendorong tubuh Chanyeol ke samping membuat tautan tangan kami terlepas. Dan aku segera mencari sesuatu yang bisa kupegang. Tangan besar Chanyeol menarik tanganku, kami saling berpegangan lagi.
"Baekhyun apa yang kau rasakan—?"
"Hyung—semuanya berputar, mual, aku ingin muntah… hooekkk" kali ini tidak seperti tadi. Aku muntah tapi tak ada yang keluar. Itu semakin membuat tenggorokan ku terasa sakit.
Luhan memeriksaku, "Apa sebelumnya Baekhyun mempunyai riwayat penyakit vertigo Chanyeol?"
"Tidak—" jawab Chanyeol tegas.
"Ini pertama kalinya ?" Chanyeol mengangguk.
"Baiklah—kurasa Baekhyun harus banyak beristirahat." Ucap Luhan.
Aku melihat semuanya namun aku tak bisa berbuat apapun. Luhan memanggil namaku, menyuruhku membuka mulut, ia menaruh satu butir pil di dalam mulutku. Tak lama aku merasakan sebuah sedotan—dan aku juga mendengar suara Chanyeol yang menyuruhku menyedot air mineral agar obat yang di dalam mulutku ikut tertelan. Aku melakukan apa yang diperintahkan Chanyeol—setelahnya semua berangsur-angsur membaik dan mataku terasa berat hingga aku memutuskan untuk memejamkan mataku.
~ my boss my boyfriend ~
Ketika aku membuka mata hal pertama yang kulihat adalah Chanyeol yang tertidur disampingku. Ia masih menggenggam tanganku. Aku meringis tanganku terasa kebas.
"Sajangnim—" aku memanggilnya. Aku tak tega melihat Chanyeol tertidur dengan posisi duduk seperti itu.
"Hem… " ia berdehem.
Matanya merah menandakan bahwa Chanyeol sudah kelelahan. "Kau sudah bangun ? Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya. Ia mengusap wajahnya berusaha menghilangkan rasa kantuk.
"Sedikit lebih baik," jawabku.
"Bagus."
"Apa kau lapar ?" Tanya Chanyeol setelah tersadar.
Aku mengangguk. "Sedikit lapar,"
"Kau harus makan yang banyak agar cepat sembuh dan tidak menyusahkan aku," katanya.
Menyusahkan… aku memang menyusahkan. Maafkan aku.
Aku menunduk… aku merasa bersalah. Aku memang tidak seharusnya sakit saat dalam perjalanan bisnis. Benar kata Chanyeol kalau aku memang menyusahkan.
"Hem, maafkan aku sajangnim. Aku memang menyusahkan." Ucapku.
"Ya! Kau baru sadar itu? " Chanyeol berkata dengan nada mengejek dan aku tak berani menatapnya.
Aku mengintip dari celah poniku. Aku melihatnya berdiri. Chanyeol juga melepaskan genggaman tangannya dan aku merasa sesuatu yang hangat menghilang.
"Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali" ucapnya sebelum menutup pintu.
Sementara aku hanya menatap pintu kamarku yang sudah tertutup rapat. Chanyeol telah pergi. Menyisakan aku sendirian di dalam kamar.
whoa~ terima kasih dari Chapter 1 sampai Chapter 5 ternyata ada 1.104 views!
Sekali lagi terima kasih jangan lupa tinggalkan jejak ya hehehe
