Chanyeol, pria itu kembali masuk ke dalam kamarku. Membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih hangat.

"Kau harus makan dan minum obat," ucapnya tegas.

Ku mengangguk pasrah. Dia duduk di pinggir tempat tidur lalu meletakkan nampan di atas nakas. Kemudian meraih mangkuk bubur itu. Tangan kanannya memegang sendok berisi-kan bubur, lalu meniupnya secara perlahan.

Aku mengerjapkan mataku. Tak percaya benarkah yang di hadapanku ini adalah bosku sendiri? Jika dilihat dari segi manapun dia tetaplah Park Chanyeol—bosku yang suka marah, membentak, jika aku melakukan kesalahan, walaupun cuma sedikit.

"Buka mulutmu," perintah Chanyeol. Seketika aku tersentak dari pemikiranku hm… tentang Chanyeol.

Aku membuka mulutku lalu Chanyeol menyuapiku bubur yang sudah ia dinginkan tadi.

Adegan suap menyuapi terus terjadi sampai mangkuk berisi bubur telah habis kusantap meski ada sedikit rasa mual namun bisa kutahan.

"Nah sekarang waktunya kau minum obat. " Chanyeol mengambil bungkus obat yang berada di samping gelas. Membukakan beberapa butir obat setelahnya ia berikan kepadaku.

Tatapan mataku berubah horor ketika mendapati adanya sebuah pil besar di antara pil - pil kecil.

"Ada apa ?" Tanya Chanyeol. Seolah dia bisa membaca kegelisahanku.

Ragu-ragu aku mengembalikan satu butir pil yang besar itu ke tangan Chanyeol.

"Aku tidak mau minum yang ini. Pil itu besar pasti tidak akan tertelan olehku" ucapku sambil memasukan 3 butir pil kecil ke dalam mulut setelah itu aku menelannya bersamaan dengan air putih yang kuminum.

Tatapan mata Chanyeol berubah menjadi tajam setelah mendengar ucapanku barusan. Ia memasukan pil tersebut ke dalam mulutnya, faktanya itu membuatku hampir tersedak air yang kuminum.

Ia menarik tengkukku—mengikis jarak di antara kami. Nafas hangat Chanyeol menerpa wajahku. Aku membulatkan mataku saat merasakan benda kenyal hangat menempel di bibirku.

Mataku mengerjap beberapa kali. Chanyeol mencium bibirku—suatu kenyataan yang harus aku terima. Tangannya menekan tengkukku, guna memperdalam ciumannya. Lidah Chanyeol menyapu permukaan bibirku seolah memintaku membuka mulut. Tetapi aku terdiam, tidak merespon permintaannya hingga ia menggigit bibir bawahku…

"Agh… " rintihku.

Chanyeol melesakan lidahnya kedalam mulutku bersamaan dengan pil besar itu.

Lidah Chanyeol terus mendorong pil itu saat aku berusaha menolaknya. Rasanya pahit sekali karena pil itu sudah tercampur saliva kami. Tanganku mengepal dan memukul-mukul dada Chanyeol namun tertahan karena Chanyeol langsung menahan kedua tanganku dengan satu tangan lainnya.

Gluk…

Uhuk… uhuk… uhukk…

Aku terbatuk setelah menelan pil super pahit itu. Mendorong tubuh Chanyeol hal pertama yang kulakukan kemudian meraih gelas air yang sialan nya sudah kosong.

"Kau—" mataku menatap tajam ke arah Chanyeol.

Apa-apaan itu dia masih bisa-bisanya tersenyum mengejekku seperti itu. Dasar pria tidak tahu diri. Dia adalah pria yang paling menyebalkan yang pernah aku temui selama riwayat hidupku yang bekerja dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

"Manis," ucap Chanyeol sambil tersenyum.

Aku mendelik ketika mendengar ucapannya tadi. Apa manis? Manis pantatmu. Dasar lelaki brengsek—bajingan—kurang ajar. Aku membenci dirimu Park! Batinku memaki.

Punggung tangan Chanyeol membelai pipiku, ibu jarinya mengusap lelehan saliva yang sempat merembes saat terjadinya tolak-menolak obat. Ugh… aku malu sekali.

"Tunggu disini aku akan kembali." Ucapnya.

Aku memperhatikan Chanyeol. Lelaki itu membereskan bekas makan ku—whoa dia benar benar bos yang baik hati. Dia membawa mangkuk serta gelas kotor keluar dari kamarku. Membiarkan aku sendirian bersama sekelumit bayangan tentang kejadian yang baru saja kami lakukan.

Mengingat kejadian tadi membuat pipiku terasa panas. Aku menepuk-nepuk pipiku sendiri. Menggeleng-gelengkan kepalaku seperti orang gila. Tidak mungkin—

Aku baru menyadari sesuatu…

CIUMAN PERTAMAKU TELAH HILANG!

"Arrghhhhh….. " teriakku setelah kehilangan sesuatu yang menurutku berharga.

"Bodoh… bodoh… bodoh…" aku merutuki diriku sendiri.

"Lihat betapa bodohnya dirimu Byun Baekhyun" ejekku pada diri sendiri.

Mataku memanas, air mataku menggenang. Ini memalukan bagaimana bisa Chanyeol melakukan itu terhadapku. Bahkan saat kau pacaran dulu kami tak pernah sampai ke tahap seintim itu, kami hanya melakukan hal-hal biasa seperti pergi berkencan, makan, menonton, dan hal-hal yang berbau positif pastinya.

"Hiks… Chanyeol menyebalkan," aku menangis ini benar-benar memalukan… merebahkan tubuhku kemudian menelusupkan kepalaku ke bawah bantal.

.

.

Ketika aku terbangun kembali. Aku melihat segelas susu strawberry dan sepotong cake dengan topping buah strawberry di atasnya. Itu pasti dari Chanyeol, bosku.

Ngomong-ngomong tentang Chanyeol, aku belum melihatnya lagi. Ini adalah hari keduaku di China. Kalau menurut agenda kami—Chanyeol dan aku—seharusnya menghadiri rapat negosiasi ulang bersama Tuan Wu Yifan.

Tetapi karena aku sakit, Chanyeol pasti datang ke rapat itu sendirian tanpa seorang sekretaris yang mendampingi.

Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang, seharusnya Chanyeol saat ini sedang makan siang bersama Tuan Wu. Seharusnya, begitu. Ah… lebih baik aku menyantap cake yang Chanyeol tinggalkan daripada harus memikirkan lelaki menyebalkan itu.

Setelah makan dan minum susu strawberry favoritku itu, aku ingin sekali membersihkan diri. Aku merasa lebih baik dari sebelum-sebelumnya ini semua berkat obat manjur dari Luhan hyung. Dia memang dokter terbaik yang pernah aku temui.

Acara membersihkan badan ku berlangsung selama 30 menit. Eh—jika kuingat-ingat aku belum mandi dari kemarin. Datang ke china langsung jatuh sakit, huft… sepertinya dewa keberuntungan sedang tidak berpihak kepadaku.

Karena merasa baik aku memutuskan untuk bekerja. Aku tak mau membuang-buang waktuku karena sakit, percuma kalau begitu aku ikut ke China bukan? Berdiri di depan cermin—menatap pantulan bayanganku yang sudah rapi dengan setelan jas hitam berbalut kemeja putih di dalamnya. Celana bahan hitam ketat membalut bagian tubuh bawahku, sepatu pantofel super mengkilap akan menemani langkahku memulai hari kerjaku.

"Tampannya kau Byun Baekhyun…" banggaku pada diri sendiri.

Sudah ini bukan waktunya membuang-buang menit berharga hanya untuk membanggakan dirimu sendiri, suara hatiku dan aku membenarkan.

Sesaat aku ingin keluar dari kamarku, pintu kamarku terbuka.

"Baekhyun kau sudah baikan?" Oh itu minseok hyung yang datang.

Ku anggukan kepalaku, "Sudah, hyung. Aku ingin bekerja saja." Jawabku.

"Syukurlah… " Minsok menepuk-nepuk bahuku, "Tapi jangan dipaksakan jika badanmu terasa tidak enak" sambungnya.

"Ya, hyung."

"Apa sajangnim masih berada di ruang rapat?" Tanyaku.

Minseok hyung menghela nafas, "Ya, Baek. Mereka masih berada di ruang rapat. Oh ya aku kesini sebenarnya ingin menanyakan menu makan siang yang biasa sajangnim pesan."

"Biar aku saja yang memesankannya, hyung." Tawarku. Minseok mengangguk dan tersenyum padaku.

"Silahkan, memang itu tugasmu Baekhyun." Ia merangkul pundakku sambil terkekeh. Kami bersiap untuk turun, ketempat kerja.


maaf kalo kurang memuaskan, ini pertama kalinya aku bikin ff ada adegan kisseu nya, jadi kalo aneh mohon maaf ya...

Bisa tolong di review, mungkin masukan atau saran ? Terima kasih ...