Aku mengetuk pintu ruangan rapat, mengetuknya sebanyak tiga kali. Di belakangku ada Minseok hyung yang membawakan beberapa bungkus kotak makan siang untuk para pegawai yang mengikuti rapat negosiasi, aku sendiri kebagian membawakan beberapa gelas cups ice americano, minuman kesukaan Chanyeol.

Sejujurnya, aku masih belum siap untuk bertemu dengan Tuan Wu Yifan semenjak kejadian kemarin. Apalagi bertemu dengan Chanyeol, mengingatkanku adegan pagi tadi. Itu sungguh memalukan.

"Eoh! Baekhyun-ssi kudengar kau sakit?" Pertanyaan itu berasal dari Tuan Wu yang melihat kedatanganku dengan raut wajah bingung bercampur khawatir.

"Selamat siang Tuan Wu," ucapku santai. Aku menaruh satu cups ice americano di hadapannya. Lalu Minseok meletakan bento di samping minuman hitam pekat itu.

"Ya, dia memang sedang sakit. Tapi memaksakan bekerja." Sahut Minseok, sepertinya hyungku yang satu ini mengerti keadaan.

Posisi kami hampir mencapai tempat duduk Chanyeol, ah namja itu dari tadi menatapku tajam.

"Selamat siang sajangnim, selamat menikmati makan siang," kataku ketika menaruh ice americano di samping botol air mineral.

"Kenapa kau berada disini," ucap Chanyeol dengan nada setengah berbisik namun tajam.

Aku tersenyum padanya, "Terima kasih, Aku sudah baik-baik saja sajangnim." Jawabku, mencoba meyakinkan.

"Wajahmu masih pucat! Minseok segera antarkan Baekhyun ke kamar. Jangan biarkan dia bekerja sampai kesehatannya kembali pulih." Kata Chanyeol mutlak.

Minseok memandangku, berjalan ke arahku, meraih sisa cups ice americano yang berada di tanganku, menaruhnya di atas meja. Ia menyuruh Jongin yang kebetulan ada di dalam ruang rapat untuk melanjutkan kegiatan kami, membagikan makan siang. Lalu menarik pergelangan tanganku keluar dari ruangan tersebut.

"Hyung…" cicitku ketika kami berada di depan lift.

"Apa ?" Minseok menoleh, menatapku bingung.

"Aku sudah baik-baik saja hyung," protesku.

"Sudahlah Baek turuti saja keinginan sajangnim. Lagipula, sepertinya Tuan Wu mempunyai maksud tertentu padamu," ucap Minseok.

Mengerutkan dahi setelah mendengar ucapan Minseok. Masa sih Tuan Wu mempunyai maksud tertentu padaku? Memangnya ada apa denganku? Aku cuma seorang sekretaris biasa, sama seperti orang lain.

"Maksud hyung?" Tanyaku, kebingungan.

Tring!

Pintu besi itu terbuka, lift yang kupakai ini dibuat khusus untuk sajangnim, karena kamarku berada di samping kamar sajangnim, makanya kami menaiki lift ini.

"Ayo Baek," Minseok menarikku masuk ke dalam lift, sementara aku cuma bisa pasrah.

Ketika pintu tertutup, aku bisa melihat pantulan bayangan kami dari besi berbentuk kotak itu.

Minseok berdehem menghilangkan kecanggungan diantara kami, "Emm, jujur saja Baek, aku mengira Tuan Wu menyukaimu."

"Mwo?" Aku menoleh, menatapnya tak percaya.

"Aku bisa melihatnya dari tatapan mata Tuan Wu ketika melihatmu tadi, dan aku juga bisa merasakan kecemburuan yang mendalam pada Park Sajangnim. "

Cemburu pantatmu, umpatku dalam hati. Namja itu sudah mengambil ciuman pertamaku asal kau tau. Ugh! Menyebalkan.

"Eum, Hyung, aku tidak menyukai keduanya," sahutku.

Minseok membelalakan matanya ketika mendengar ucapanku barusan. Sepertinya kaget karena kejujuranku. Aku memang tidak menyukai keduanya, yang satu mesum, yang kedua juga mesum. Kalo boleh memilih aku lebih menyukai Sehun si pilot berwajah dingin itu.

"Hyung tadi kau menyuruh Jongin?" Tanyaku ragu. Tapi karena rasa keingintahuanku besar makanya aku bertanya.

"Kenapa memangnya?"

Bukankah Kim Jongin itu wakil copilot, kenapa bisa orang yang tidak ada urusannya dengan rapat negosiasi bisa berada di dalam ruangan rapat ? Itu membingungkan ?

"Kim Jongin itu copilot bukan?" Aku balik bertanya, minseok mengangguk. "kenapa bisa namja berkulit tan itu bisa berada di ruang rapat?" Sambungku.

"Untuk berjaga-jaga, eum, Jongin itu pintar bernegosiasi Baek," jawab Minseok, oh aku paham.

Tring~

Pintu lift kembali terbuka, lagi-lagi Minseok menarikku keluar dari kotak besi. Lelaki berwajah cantik itu menggandeng lenganku sampai ke depan pintu kamar yang kutempati.

"Sudah sana istirahat nanti sajangnim marah loh~" Goda Minseok.

Sementara aku mempoutkan bibir, sambil mendumal masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat dan menguncinya, sebelum akhirnya aku merebahkan diriku di atas ranjang empuk.

"Haaahhh…." Aku menghela nafas, kemudian memejamkan mata, berusaha jatuh kedalam mimpi.

.

.

"Ugh…" rengekku ketika merasakan sesuatu yang hangat membelai kepalaku.

"Baekhyun~ah bangun! Ini sudah sore eum," bahkan sekarang aku malah mendengar suara berat menyebalkan khas seorang Park Chanyeol.

Aku merubah posisi, menarik lengan itu kemudian memeluknya erat, ini terasa jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Belum lagi belaian tangan di kepalaku membuatku semakin jatuh ke dalam mimpi.

"Bangun Baek! Kau harus makan," suara berat itu muncul lagi, mengusik ketenangan tidurku.

"Mom, biarkan aku tidur eoh," rengekku dengan mata terpejam.

Aku semakin merapatkan diri, tapi aku semakin merasa aneh. Dia bukan ibuku! Aroma tubuh ibuku tidak semaskulin ini. Mengendus itulah yang aku lakukan, sampai kepalaku menabrak dada bidang orang itu.

Karena penasaran aku meraba dada bidang itu, yang mana sang empu langsung menangkap tanganku, menciumi jemariku dengan lembut.

"Kau suka bauku eoh?" Tanyanya dengan nada menggoda.

Apa? Bau? Suka? Aku?

Perlahan tapi pasti aku membuka kedua mata sipitku. Membiarkan pantulan cahaya masuk ke dalam retina mataku. Mataku membulat, bibirku menganga tak percaya, orang yang berada di depanku ini adalah Chanyeol! Lelaki itu bagaimana bisa masuk kedalam kamar ku?

Aku mendorong tubuhnya, berusaha keluar dari dekapannya. Namun sayang bukan terlepas aku justru semakin dekat dengannya.

"Sa-sajangnim," kataku gugup.

Chanyeol tersenyum padaku, membuatku mengerjap beberapa kali. "Bangun, kita makan."


gimana gimana ?

Review ? Follow ? Favorite ?