"Bangun, kita makan." Ajak Chanyeol.
Aku terdiam, membisu cuma bisa memandang pria yang berada dihadapanku ini. Jantungku berdetak kencang, berdebar-debar layaknya orang sehabis lari. Aku tak tahu mengapa? Tapi aku menyukai debaran ini.
Chanyeol membantuku bangun, saat ini kami duduk di ranjang.
"Apa tidurku sangat lama?" Tanyaku ketika menyadari langit diluar sana sudah menggelap.
Chanyeol mengangguk, tangan namja itu terulur menyelipkan rambut ku ke belakang telinga. "Kau tertidur sejak aku mengusirmu dari ruang rapat" jelasnya, singkat.
Benar juga, setelah Chanyeol mengusirku dari ruang rapat lalu aku kembali ke kamar bersama Minseok hyung, kemudian aku merebahkan tubuhku di ranjang dan tak mengingat apapun setelah itu.
"Sekarang makan ya, tadi aku sudah memesankan makanan," arah pandangan ku mengarah pada troli yang berada di samping ranjang.
Aroma khas steak merasuki indra penciumanku, membuat cacing di perutku meronta, minta diberi makan.
"Mau disuapin atau makan sendiri," tawar Chanyeol menaik turunkan alisnya.
"Aku masih bisa makan sendiri sajangnim," sahut ku cepat.
Lalu Chanyeol berdiri, tangannya terulur memegang pisau dan garpu. Aku memiringkan kepala, menatapnya dalam kebingungan. Dia tersenyum sebelum gerakan tangannya tersinkron memotong daging steak menjadi bagian kecil - kecil. Setelahnya, dia menaruh pisau tersebut di tempatnya, membawa piring berisi steak, serta garpu di atasnya.
"Makanlah," aku menyambut piring itu dengan antusias, aku kelaparan, jadi aku harus makan.
Tak butuh waktu lama untukku menghabiskan sepiring steak, Chanyeol tersenyum padaku, dia memberiku sepiring makanan penutup, strawberry cheesecake salah satu cake favorite ku tersaji di atas piring kecil berwarna keemasan.
Aku menatapnya dengan mata berbinar, dan mulutku berliur.
"Terima kasih, untuk semua sajangnim," ucapku sambil menyuap sesendok penuh cheesecake favoritku.
"Sama - sama, aku juga senang jika kau merasa senang," katanya, lalu duduk di pinggir ranjang.
Aku menatapnya, "apa sajangnim sudah makan malam?" Tanyaku diliputi sedikit rasa khawatir.
Ia menggelengkan kepala, sebagai jawaban atas pertanyaanku.
"Kenapa?"
"Karena aku sudah kenyang saat melihatmu makan dengan lahap," ugh, jantungku rasanya semakin berdetak tak karuan.
Aku menundukan, tak berani menatap wajahnya. Entahlah, aku juga tidak mengerti. Kurasa kedua pipiku menghangat, senyumku juga ikut mengembang. Sebelumnya, aku tak pernah seperti ini.
"Ini, minumlah." Aku menerima segelas air mineral darinya, meminumnya hingga isinya berkurang setengah gelas.
"Terima kasih," ucapku sekali lagi.
"Sama - sama, ini minumlah," Chanyeol memberikan beberapa butir obat, melihat obat itu mengingatkan aku tentang kejadian siang tadi.
Tiba - tiba saja aku bergidik, menatap Chanyeol kemudian obat itu.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Tidak ada," jawabku cepat.
Setelah itu aku memutuskan untuk meminum semua obat baik yang kecil maupun yang besar, aku tidak ingin kejadian siang tadi terulang kembali ugh, rasanya malu sekali.
"Waeyo, wajahmu memerah apa kau demam lagi?" Chanyeol meraba dahi juga leherku.
Bodoh! Aku sedang blushing~
"A-ani, aku baik - baik saja," sahut ku cepat.
"Kau sungguh manis jika sedang merona seperti itu Baekhyun," Chanyeol menggoda ku.
Pria itu mendekatkan wajahnya, hingga jarak wajah kami kurang dari seinchi. Bahkan aku bisa merasakan deru nafas Chanyeol yang begitu hangat. Matanya menutup seraya bibir tebal itu mendarat dengan mulus di bibir tipisku, menyesap seakan-akan dia tak pernah merasakan bibirku.
Chanyeol melumat bibirku, ciuman kali ini tidak seperti siang tadi yang begitu, basah. Rasanya lebih lembut, dan manis.
Ia mengecup bibirku singkat sebagai penutup dari ciuman lembut itu.
Cup
Ia mengecup keningku
Cup
Kedua pipiku
Cup
Daguku juga
"Manis," ia tersenyum sambil menatapku.
Aku menatapnya, aku bingung, mengapa aku hanya terdiam, pasrah. Ketika pria ini mulai melecehkan bibirku, lagi.
"Sajangnim, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menciumku?" Tanyaku, linglung.
Aku melihat Chanyeol mengedikan bahu santai, "Aku tidak tahu, mungkin karena bibirmu terlalu manis untuk seorang laki-laki," jawabnya.
Rasanya rahangku ingin jatuh mendengar jawabannya, aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tak tahu, perasaanku merasa kalau Chanyeol telah menyakiti ku, dia telah melecehkan bibirku sebanyak dua kali.
"S-sajangnim," lirihku.
Chanyeol menatapku, "Wae?"
"Bisakah sajangnim keluar dari kamarku? Aku ingin tidur," usirku halus,
Chanyeol menaikan sebelah alisnya, "Wae?" Ulangnya.
Membaringkan tubuhku, menarik selimut hingga sebatas hidung, aku memejamkan mataku, mencoba untuk kabur dari tatapan mata Chanyeol yang begitu mengintimidasiku, terlalu tajam hingga terasa menusuk ke hatiku, yang mendadak sakit.
jangan lupa tinggalkan jejak,
Terima kasih, 2k nya.
Maaf kalo kurang ngefeel:(
