Ranjang terguncang pelan.

Aku tau Chanyeol tidak beranjang dari tempatnya, kurasa saat ini dia sedang ikut membaringkan tubuh di sampingku.

"Baekhyun dengarkan aku." Pintanya. Chanyeol mencoba membalikkan tubuhku menghadap dirinya.

Tatapan mata kami bertemu, dia tersenyum lembut. Salah satu tangannya terangkat ke kepalaku, mengelus pelan bahkan merapikan anak rambutku, menyelipkannya ke belakang telingaku.

"Sajangnim, kenapa kau menciumku?" Kuulangi pertanyaanku yang belum sempat dia jawab tadi.

"Karena aku menyukaimu… tidak lebih tepatnya aku mencintaimu." Ucapnya lembut sambil terus mengelus-elus rambutku.

"Kau… a-apa?" Mataku melotot tak percaya atas pengakuan Chanyeol.

"Dengarkan aku baik-baik Baekhyun. Sebenarnya aku tau siapa dirimu, kau putra bungsu dari perusahaan sainganku bukan?"

Seketika tubuhku menegang setelah mendengar ucapan Chanyeol. Heol, apakah dia menyelidiki latar belakangku? Lantas, jika sudah tau mengapa dia tidak memecatku?

"Starlight co, kau putra bungsu Byun Yunho dan Im Yoona. Kau mempunyai seorang kakak lelaki, bernama Byun Baekbeom yang saat ini sedang menjalankan bisnis di China. Benar bukan?" Lanjut Chanyeol.

Aku mengangguk bagai robot rusak. Dan sedikit kesusahan menelan ludah, karena gugup.

"Aku tau… semuanya tentang dirimu." Dia tersenyum lagi.

Aku masih belum mau memberikan respon apapun, karena aku masih ingin mendengarkan penjelasan Chanyeol.

"Lalu…"

"Lalu… " Chanyeol terkekeh, menarikku kedalam dekapannya.

"Lalu aku mencintaimu begitu saja…" sambung Chanyeol. Ia memberikan kecupan singkat pada pucuk kepalaku, begitu dalam dan lembut.

Sepertinya Chanyeol ingin memberitahu kepadaku bahwa dia telah lama menyimpan perasaannya, pantas saja Chanyeol selalu memperhatikan semua kebutuhanku. Menjagaku dari orang-orang seperti Kris Wu.

"Jadi, maukah kau menjadi milikku Byun Baekhyun?" Tatapan Chanyeol berubah menjadi sendu ketika dia memintaku menjadi miliknya.

Aku terdiam, aku terkejut. Jika aku menerimanya aku tau kisah cinta kami tidak akan semulus jalan tol menuju jeju—jangan berburuk sangka itu hanya perumpamaan ku saja.

Kedua orang tua kami sedari dulu tidak pernah akur dalam dunia bisnis, hingga mereka saling bersaing, namun tetap saja keluarga Park lah yang pertama, dan aku akui sendiri bahwa Park Group memang pantas mendapatkannya mengingat semua pegawai memiliki royalitas yang tinggi pada perusahaan tersebut, dan mampu bertahan terhadap tekanan yang diberikan dari Chanyeol.

Maka, dari itu aku berusaha mati-matian bekerja dengan sangat keras di perusahaan Park Group agar aku sendiri tahu riwayat perjalanan bisnis Park Group.

"Tapi sajang—" ucapan ku terpotong.

"Kau tau kan Baekhyun aku tak suka menerima penolakan." Tutur Chanyeol.

"Ya—baiklah." Jawabku.

"Iya apa Baekhyun. Kau harus jelas dalam menjawab sebuah pertanyaan." Kata Chanyeol.

Kurasa saat mengatakan itu dia sedang tersenyum.

"Yes, i'm yours."

"Terimakasih" Chanyeol mendekap erat tubuhku, sampai aku merasa sesak.

Hidungku bahkan terbentur dada bidangnya.

"Maaf sajangnim—aku tidak bisa bernafas." Kataku sambil memukul bahunya pelan.

Chanyeol tertawa, menarik tubuhku dari dekapannya. "aigoo—Baekhyun aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu"

Chanyeol mengecup bibirku sekilas, cepat namun tetap membuat jantungku berdebar tak karuan.

"Aku tau, hubungan kita tidaklah mudah… kumohon apapun yang terjadi tetaplah disampingku, percaya padaku maka semua akan baik-baik saja." Aku mengangguk pelan, mengiyakan permintaannya.

"Aigoo—terima kasih banyak" Lalu Chanyeol mendaratkan bibirnya pada keningku, setelahnya ia tersenyum senang.

Jujur aku sendiri masih tidak percaya apakah ini mimpi atau kenyataan, karena aku masih merasakan bahwa aku masih berada di alam mimpi.

"Kau masih mau melanjutkan tidur atau ingin berjalan-jalan?" Tawar Chanyeol.

Mataku berbinar mendengar kata jalan-jalan kepalaku mengangguk dengan penuh antusias.

"Aku mau jalan-jalan sajangnim, dan eskrim stroberi ukuran besar." Sahutku.

"Tapi bisakah kita ke restoran terlebih dulu, sajangnim belum makan bukan?" Pintaku.

Chanyeol hanya terkekeh, kemudian beranjak dari posisinya. "Kau mengkhawatirkan aku?"

Aku mengangguk malu-malu, "Iya."

"Aigoo—manisnya." Rasanya pipiku panas, bahkan menjalar sampai ke telinga.

"Permintaanmu terkabul, baekkie~ya"

tbc


selamat siang/?

Masih ada yg nunggu kelanjutan ff ini?

Review?