::Prologue::

.0.

.

.

.

Hujan turun, rintik-rintik di musim gugur. Angin memberikan sentuhan menggelitik yang hampir sedingin es. Bergidik karena udara juga sesuatu yang lain—yang mengintai—memberikan sikap awas dengan punggung tegak pada Rukia. Gadis itu menghentikan langkahnya, memegang erat pegangan payung putih transparannya. Dia perlahan berbalik dan menatap pada jalanan sisi kota Tokyo yang tampak lenggang. Tiga hingga empat orang pejalan kaki berjalan menunduk melewati tempatnya terpaku. Rukia terdiam, masih merasakan rasa ganjil itu di belakang punggungnya.

Dia yang tak tahu apa yang sedang terjadi, namun panggilan pada kata hatinya membangunkan seluruh indera sensitifnya. Rasa dingin menggelitik di ujung jari-jari, siap untuk dilepaskan.

Kekuatan itu seakan memanggil, kali ini lebih kuat.

"Rukia?"

Gadis itu bergidik, mendapati pria jangkung itu berdiri di belakang tubuhnya. Rambut jingganya sedikit basah karena air hujan. Pria itu tidak membawa payung, atau lebih tepatnya dia lebih suka berjalan di bawah rintik hujan yang menyegarkan. Insting di dalam dirinya selalu memanggil kepada alam.

"Ichigo," gumam Rukia, mendesah ringan. "Hei."

"Jangan hanya 'hei'," balas Ichigo gusar. "Aku menunggumu di depan gerbang sekolah dan kau tidak kunjung datang. Kau membuatku hampir mengitari beberapa blok di tengah hujan."

"Tapi kau bisa menemukan bauku—maksudku, indera penciumanmu tajam, bukan?"

"Bukan itu masalahnya. Setidaknya kabari aku atau berikan pesan singkat."

Entah apa yang memanggil kakinya untuk segera melangkah keluar tanpa menunggu Ichigo. Gadis itu hanya ingin berjalan, mengitari blok dan terbangun ketika sesuatu yang ganjil itu mengikuti dari belakang. Dia tidak tahu apa itu, tapi terasa sangat familier.

Sesuatu yang dingin dan sangat dikenalnya. Tapi Rukia terlanjur melupakannya.

"Mengapa kau terus melihat ke belakang?"

Rukia menegang, bahkan suara Ichigo membuatnya sedikit panik.

Gadis itu mengedikkan bahunya, berusaha untuk tersenyum. "Entahlah, ada sesuatu—mungkin."

Ichigo mendengus, mengerutkan dahinya. Jelas terlihat dia tidak suka dengan kata-kata Rukia. "Apa maksudmu? Seseorang mengikutimu? Penguntit?"

"Bu-bukan itu," sanggah Rukia. Dia yang tidak ingin kebebasannya terengut seandainya Ichigo menunjukkan sikap protektifnya hanya karena perasaan ganjil yang dirasakan setiap kali sore hari menjelang. "Hanya saja, mungkin ini efek dari kekuatanku."

"Kekuatanmu," ulang Ichigo. Rambut di keningnya semakin basah dan menempel pada dahinya. Mata tajamnya begitu cemerlang seperti bongkahan batu topaz. "Apa itu membuatmu tidak nyaman?"

"Tidak, hanya saja aku masih belum terbiasa. Rasanya jari-jariku begitu dingin di saat tertentu dan ada sesuatu yang kurasakan di dalam diriku, seperti memanggil," ungkap Rukia. Dia mengulurkan payungnya ke atas kepala Ichigo dengan berjinjit. Tubuhnya terlalu mungil bila dibandingkan dengan Sang Beta. "Kau kehujanan."

"Hujan tidak akan membuatku sakit," kata Ichigo, setengah menyeringai.

Rukia mendengus, mulai berjalan lagi dengan payungnya tanpa memedulikan Ichigo. Terkadang beberapa kelebihan Ichigo membuatnya iri tanpa sebab jelas.

Ichigo dengan cepat menyamai langkahnya. Sebelah tangan terulur untuk meraih tangan Rukia, menjalin jari-jari mereka untuk saling menggenggam. Rasanya hangat, bahkan Rukia bisa merasakan debaran jantungnya meningkat. Dia tahu eksistensinya tetap bertahan karena pria itu. Bahkan, senyum bodohnya saja terlihat memikat.

Untuk sesaat Rukia merasa aman. Dia yang merasa dilindungi oleh setengah dari bagian dirinya—setengah hatinya. Dan untuk sesaat dia bisa melangkah ringan, menapaki jalanan yang memiliki beberapa genangan air. Gemericik riak air hujan menjadi melodi ketenangan itu sendiri.

Cha… cha… cha… cha….

Bayang-bayang bersembunyi di belakang punggung, memerhatikan dengan terlalu berhati-hati. Sepasang mata yang muncul dari pergerakan di masa lalu. Sedikit demi sedikit cerita di masa kecil mulai terungkap, mengantarkan pada sebuah tragedi yang kemungkinan besar akan terulang kembali.

Ketika bulan purnama mulai menunjukkan bentuk penuhnya di malam tanpa bintang.

::The Dark Legacy— Full Moon::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story

.

.

.

Author's note:

Long time no see! Yeah, akhirnya seri kedua The Dark Legacy dimulai! Sempat bingung saat menyusun plot karena ini lebih rumit (konfliknya) dibanding seri sebelumnya. Lebih banyak kisah masa lalu, terutama dari Kerajaan Winter Fairy. Di seri ini lebih fokus ke masalah Rukia dan para fairy, Ichigo masih akan ada kok tapi tidak terlalu membahas seputar werewolf, dan membahas konflik dengan Quincy juga. Yhwach akan segera muncul di chapter ini dan peperangan melawan pangeran kegelapan akan dimulai.

Maaf bagi yang sudah menunggu terlalu lama, yang selalu bertanya kapan fic ini akan dilanjut, karena author tidak bisa fokus lagi dengan fanfiction (banyak kerjaan di duta) jadi maaf baru dilanjut sekarang. Kuharap kalian masih bisa menikmati fic ini. Thank you so much! Luv you!

Referensi lagu: Flux oleh Ellie Goulding (ini lagu baru banget). Aku selalu dengar Ellie di saat mengetik beberapa fic Bleach sebelumnya. Dan kebetulan Ellie akhirnya comeback dengan lagu baru, membangkitkan perasaan nostalgia saat mengetik prolog.