::The Dark Legacy— Full Moon::

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story

.

.

.

Chapter 1: The Shadow Behind Me

.

.

.

Suara bel berdenting beberapa kali ketika matahari senja terlihat semakin menguning di ufuk barat. Murid-murid yang selesai melakukan kegiatan ekskurnya mulai berjalan menuju gerbang sekolah. Langkah ringan ketika akhirnya mereka bebas dari tugas sekolah dan beban di kepala yang penat. Tidak bagi satu orang murid yang baru saja mengganti sepatunya di loker penyimpanan sepatu.

Rukia memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket hangatnya. Ketika angin musim gugur terasa semakin dingin dan dirinya mulai khawatir untuk menginjakkan kakinya keluar dari gerbang.

Seakan di mana dirinya sekarang berpijak adalah area aman baginya.

Beberapa hari terakhir dalam minggu ini dirinya seakan mendapat perhatian berlebih dari sesuatu. Mungkin seseorang. Dia yang selalu mengintai punggung Rukia setelah jam sekolah usai.

Ichigo masih bekerja paruh waktu di bengkel dekat apartemennya. Lagipula, bergantung selamanya kepada sang Beta membuat Rukia semakin merasa bersalah. Melihat Ichigo yang mengekorinya hampir setiap saat terkadang membuat dadanya terasa sesak. Kebebasan dan waktu pria itu hanya ada untuknya seorang.

Apakah ini bisa dinamakan dengan sebuah keegoisan?

Gadis itu berjalan dengan langkah gontai. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai macam ekspetasi, kemungkinan, juga pilihan rumit. Dahinya berkerut ketika dia berjalan melewati jalanan yang lebih ramai ke arah stasiun bawah tanah. Para pekerja yang baru saja pulang atau murid-murid yang masih berlalu lalang menghabiskan waktu sorenya menjadi latar belakang yang menutupi tubuh ringkih Rukia.

Hingga langkahnya terhenti di depan sebuah kafe sebelah pintu masuk stasiun. Kafe manis dengan jendela kaca besar yang memantulkan dirinya. Rukia melihat ke sana, bukan pada dirinya yang berdiri mematung seperti seekor rusa di depan lampu mobil. Tapi jauh di belakangnya, di seberang jalan yang dipadati mobil juga bus umum melintas.

Seseorang yang berdiri di sana menatap dirinya, di antara pejalan kaki lainnya.

Rasa dingin menjalar di punggung Rukia, matanya terbelalak. Jari-jarinya membeku dan langsung dikepalkannya kuat-kuat. Kekuatannya hampir saja keluar karena lonjakan emosi.

Rukia berusaha menenangkan detak jantungnya, bernapas lebih pelan. Seperti apa yang diajarkan Ichigo untuk melatih konsentrasinya. Kata hatinya berteriak untuk segera pergi dari tempat itu.

Dan opsi kedua adalah lari.

Rukia berusaha untuk tetap terlihat normal—setengah berlari melewati kerumunan orang yang memadati pintu masuk stasiun bawah tanah. Kakinya berderap melewati anak tangga sambil berusaha mengatur napasnya tetap stabil.

Hingga dia hampir menubruk seseorang setelah menempelkan kartunya di mesin otomatis.

Tubuh jangkung pria itu seperti tembok kokoh yang berdiri di depan Rukia. Gadis itu menghela napas lega, seakan habis berlari satu kilometer dengan kecepatan penuh.

"Officer!"

Renji mengerutkan keningnya, memerhatikan Rukia dari atas ke bawah. "Rukia, kau habis berlari? Terburu-buru?"

"Ah ya, itu…." Rukia sulit merangkai kata-kata ketika kepalanya masih tak bisa berpikir jernih. "Aku mau pulang … ke rumah."

"Ya, aku bisa melihat itu. Kau baru pulang dari sekolah."

"Ahh, bukan itu maksudku. Officer—kurasa mungkin kau tahu sesuatu?" Perlahan suaranya berubah berbisik.

"Mengenai apa?" Renji kembali mengerutkan keningnya. "Kau kehilangan sesuatu? Dompet? Ponsel?"

Rukia menggeleng keras. Matanya memerhatikan ke sekeliling, mencari-cari tanda keganjilan yang memberikan rasa dingin pada tenguknya. "Lebih tepatnya, apakah kau melihat orang yang mencurigakan di sekitar sini?"

Renji terdiam, melipat tangannya di depan dada. Dia berusaha menyusun penjelasan Rukia dalam benaknya. Hingga akhirnya Renji menyadari apa yang dimaksud gadis itu. Matanya terbelalak besar.

"Kau diikuti? Penguntit? Apa dia menyerangmu?"

Kepanikan Renji membuat Rukia menyesal untuk bertanya kepadanya di tempat umum. Ketika beberapa pasang mata mulai memerhatikan mereka dengan lebih spesifik.

"Tidak sejauh itu. Hanya saja akhir-akhir ini aku merasakan hal aneh di sekitar sini, setiap jam pulang sekolah. Seperti seseorang yang mengikuti dari belakang."

"Belum ada laporan penguntit di area ini. Kau yang pertama dan ini harus segera diselediki," ujar Renji, merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Dia mulai menulis, "Kapan dan di mana terakhir kali kau melihat orang ini mengikutimu?"

Rukia berharap melapor pada Renji adalah pilihan terbaik. Untuk saat ini.

"Hampir seminggu ini dan setiap kali jam pulang sekolah. Kurasa hanya di daerah ini, terutama di sepanjang sekolah ke arah pemberhentian bus. Hari ini aku memilih naik kereta bawah tanah untuk menghindarinya."

"Baiklah, bisa kau jelaskan seperti apa ciri-cirinya? Misalkan apakah dia tinggi, atau apa warna rambutnya, perawakannya, kisaran umurnya?"

Rukia tak bisa mendapatkan petunjuk apa pun. Setiap kali dia berusaha mencari orang itu—bayangan itu menghilang dengan sangat cepat. Hanya sepasang mata tajam yang bisa diingatnya jelas. Seakan menatap hingga ke dalam diri Rukia. Membangunkan kekuatannya untuk bersikap defensif.

"Matanya tajam. Aku hanya bisa mengingat itu."

Renji tetap menulisnya, bersikap profesional sebagai petugas keamanan. "Baiklah. Kusarankan kau tidak pulang terlalu malam atau bisakah kau pulang bersama temanmu untuk beberapa hari ke depan?"

Rukia mengedikkan bahunya. Bibirnya mengerucut. "Ichigo terkadang sibuk dengan pekerjaan paruh waktunya. Aku tidak bisa menyibukkannya dengan hal ini."

"Ichigo? Ichigo—werew—ahh, Ichigo yang itu ada di sini?" tanya Renji yang lidahnya kelu. "Kupikir dia berasal dari Amerika."

"Ceritanya cukup panjang." Rukia menebak Renji masih tak begitu suka dengan Ichigo. Terlihat dari ujung bibirnya yang menukik ke bawah dan sesekali dia mendesah.

"Dia. Kau dan dia ada hubungan, huh?"

"Apa sekarang kau juga sedang bertanya?"

Renji terdiam, mengamati raut wajah Rukia lebih lama dan dia kembali mendesah. Bekerja di kepolisian membuatnya lebih unggul untuk menilai raut wajah seseorang. Dan Rukia salah satu yang tak bisa berbohong.

"Berandal itu, seharusnya dia melindungimu lebih baik. Tenang saja, aku akan menyelidiki masalah ini secepat mungkin."

"Ichigo, dia sudah melakukan lebih dari yang dibayangkan," gumam Rukia yang tak setuju ketika Renji mengungkapkan isi hatinya. Perasaan yang lebih personal.

Renji mendengus, menggaruk belakang lehernya ketika merasa bersalah. Dia menepuk bahu Rukia dan meminta gadis itu untuk naik ke kereta. Renji masih harus melakukan tugasnya, berpatroli hingga malam menjelang.

Rukia tak bisa berbohong bahwa dia merindukan sosok Renji. Ketika officer itu mengunjunginya beberapa kali di toko musik tempatnya dulu bekerja. Renji adalah pria yang baik dan gadis itu tak bisa menyangkalnya.

Kelegaan bisa dirasakan Rukia ketika pintu kereta menutup di depannya. Dia duduk di sisi pintu, berada di dekat akses keluar sedekat mungkin dan menghindari kontak mata dengan penumpang lainnya. Matanya menatap sepatunya selama perjalanan hingga pemberhentian ke stasiun berikut. Jantung yang berdegup kian cepat ketika pintu akhirnya terbuka dan gadis itu akhirnya benar-benar terbebas.

Berada jauh dari jangkauan si pengintai ketika dia mulai menyusuri area yang selama ini dikenalnya. Pulang ke rumah. Rukia berjalan memutar, melewati beberapa blok hingga akhirnya menemukan sebuah bengkel kecil di ujung jalan.

Ichigo baru keluar dari sana, berjalan santai dengan tas selempang di bahunya. Dia memakai jaket kulit kali ini dan berhasil membuat Rukia terkesiap. Pria itu terlalu menawan dengan kaki jenjangnya yang melangkah mantap. Penuh percaya diri. Aura sang Beta begitu kuat dan bahkan hampir serupa dengan Alpha itu sendiri.

Rukia mematung hingga Ichigo menyadari dirinya dari kejauhan. Kerutan tajam terbentuk di dahi Ichigo, sekaligus garis senyum yang perlahan terbentuk. Pria itu mempercepat langkahnya untuk segera sampai di depan mate-nya berada.

"Hei, kau sudah pulang? Aku baru saja akan menjemputmu."

"Hari ini kegiatan Osis lebih cepat dari biasanya. Tidak perlu, Ichigo. Kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu di bengkel."

Pria itu mendengus, "Jangan katakan kau tidak ingin membebaniku, huh?"

Terkadang Rukia meragukan apakah sang Beta memiliki keahlian untuk membaca pikiran.

"Aku bisa pulang sendiri. Bahkan, sebelum bertemu denganmu, aku selalu melakukannya sendiri setiap hari. Aku bukan anak kecil," gerutu Rukia.

"Tapi sekarang situasinya berbeda. Kau adalah perwakilan winter fairy dan bahaya akan datang sepuluh kali lebih banyak dari sebelumnya. Hollow bahkan Quincy. Mereka sedang mengincarmu, Rukia"

"Nii-sama sudah memperkuat barikade, tidak akan mudah untuk menghancurkan pertahanan spring fairy. Apa kau meragukan kakakku?"

Ichigo hanya bisa memutar bola matanya. Sang Beta masih tak begitu suka ketika Byakuya sudah turut campur. Di samping kekuatannya yang tak lagi diragukan, sikap protektif Byakuya semakin menjadi. Sulit untuk mencuri waktu bersama dengan Rukia lebih lama ketika jam malam gadis itu makin dibatasi.

Rukia mendekat ke arah Ichigo, menyentuh tangannya dan memeluk tubuhnya. Ichigo terbelalak dengan sikap Rukia yang terbilang berani. Gadis itu tidak begitu suka menunjukkan afeksi di tempat umum.

"Hei, ada apa kau memelukku?" tanya Ichigo, sebelah tangannya membelai rambut Rukia. Ada sesuatu yang salah—ikatan mate bisa mengatakan hal itu. Tapi, Ichigo tak bisa menebaknya.

"Bi … bisakah kita ke tempatmu sekarang?" bisik Rukia.

Ichigo tertawa geli, raut wajahnya sedikit gusar. "Ke tempatku? Apa yang akan dikatakan Byakuya bila kali ini dia mengetahuinya—"

"Ini bahkan belum jam enam!" potong Rukia sengit. Kali ini gadis itu menatap wajah Ichigo di atasnya. Matanya seakan memberikan jawaban.

Ichigo mendesah, menyerah pada situasi. Dia tidak bisa menolak ketika Rukia memberikan tatapan itu. "Baiklah, asal kau berjanji akan menceritakan apa yang terjadi. Tidak ada rahasia, Rukia." Ichigo mengulurkan jari kelingkingnya.

Rukia mengerutkan dahinya, menatap jari Ichigo di depan wajahnya seakan candaan ringan. "Serius? Kau melakukan ini?"

"Bukankah ini yang selalu orang Jepang lakukan? Janji jari kelingking, bila kau berbohong maka kau akan menelan seribu jarum."

"Itu hanya lagu anak-anak. Aku tidak percaya kau bahkan melakukan hal ini—"

"Lakukan saja." Ichigo meraih tangan Rukia dan mengaitkan jari mereka. "Karena aku tahu kau akan tetap diam bila aku tidak bertanya."

Rukia terpaku, menatap Ichigo yang tersenyum lebar seperti orang bodoh. Setidaknya orang bodoh yang memesona.

Bibir gadis itu mengerucut dengan kerutan di dahinya yang semakin kentara. Ichigo melihat itu sebagai ekspresi yang menggemaskan. Dia menunduk dan mengecup kening Rukia sebagai perwakilan hatinya yang berdebar. "Mengapa kau terlalu manis, huh?"

Wajah Rukia tersipu kali ini. Sebelah tangannya menutupi kening yang dikecup Ichigo barusan. "Ichigo!"

Rukia berjalan meninggalkan Ichigo yang tertawa lepas di belakangnya. Langkah Beta terlalu lebar dan dengan cepat menyamai langkah kaki Rukia. Menautkan jari-jari mereka adalah sebuah kebiasaan yang tak bisa disingkirkan. Rukia menikmatinya ketika rasa hangat itu menjalar di kuku-kukunya yang terkadang membeku.

Ichigo adalah mataharinya—belahan jiwanya.

Memasuki apartemen Ichigo adalah hal yang paling disukai Rukia di saat sore menjelang. Senja yang lembut dari sinar mentari memantul melewati kaca jendela dan sebentar lagi malam akan segera tiba. Warna putih di dalam apartment seakan berkamuflase menjadi dunia lain. Tempat pelarian bagi Rukia yang ingin mencari udara segar. Ini mengingatkannya akan hutan di kediaman werewolf Amerika Utara. Akan bulu werewolf Ichigo di genggaman tangan gadis itu di saat mereka berlari melewati pepohonan tinggi yang berubah buram di sekeliling, angin menampar wajah begitu lembut.

Alam liar. Wangi itu tercium jelas dari tempat ini.

Rukia hendak duduk di kursi counter ketika Ichigo meraih pinggangnya—memeluk gadis itu agar tak lari dari sisinya.

"Oke, janjimu," ucap Ichigo. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Tidak bisakah kita duduk dulu?" tanya Rukia, memberengut. Menatap Ichigo yang berubah serius terkadang membuatnya jengah. Pria itu tak akan melepaskannya hingga dia puas dengan jawaban yang diberikannya.

Ichigo mendesah, melepaskan Rukia dan membiarkan dia duduk. Pria itu duduk di sampingnya dengan tangan terlipat di depan dada. Dia serius menunggu—menginterogasi.

"Tidak ada rahasia," celetuk Ichigo ketika keheningan terasa begitu ganjil di antara mereka berdua.

Rukia mendesah. Dia tak bisa menyembunyikan apa pun dari hidung tajam sang Beta. Itu sebuah perumpamaan, Ichigo tidak benar-benar mengendus dari hidung werewolf-nya.

"Kurasa ada yang mengikutiku akhir-akhir ini," ujar Rukia dengan suara kecil. Ichigo bisa mendengarnya jelas. Bila dia sedang dalam wujud serigalanya, telinga besarnya akan langsung berdiri tegak. "Aku tidak tahu tapi aku bisa merasakannya. Setiap sore saat pulang sekolah, ada sesuatu—seseorang yang menatapku dari belakang."

"Siapa? Kau melihatnya? Manusia?" Suara Ichigo hampir berdeham berat. Geraman tertahan di ujung tenggorokannya.

Rukia menautkan jari-jari tangannya, berusaha menekan kegugupannya. Dia yang tidak bisa lepas dari tatapan tajam Ichigo. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa melihat wajahnya atau seperti apa orang itu. Yang kurasakan, ini bukan dari seorang manusia."

"Quincy," bisik Ichigo tajam, matanya terbelalak lebar. "Mereka melewati perbatasan spring fairy—"

"Ini belum pasti, bukan? Pertahanan kakakku kuat dan dia tidak akan melepaskan pandangannya dari satu Quincy sekalipun," debat Rukia sengit.

"Lalu siapa lagi, huh? Selain Quincy yang mengincar dirimu, Rukia, bisakah kau melihatnya lebih logis sekarang?"

"Dan kau menarik sebuah kesimpulan terlalu cepat!" Rukia mengepalkan tangannya, menahan diri agar tidak kehilangan emosinya. Ichigo benar-benar marah dan dia tak ingin membuat sang Beta semakin tersulut.

Tidak ketika kalung di leher Ichigo mulai berderak ringan.

"Ichigo … tenangkan dirimu…."

"Bagaimana aku bisa tenang ketika ada seseorang yang mengincarmu?!" Ichigo merutuk, giginya menggertak. "Dan ketika kau jauh dari jangkauanku. Aku tidak bisa membiarkan situasi ini begitu saja—mulai sekarang aku yang akan mengantar dan menjemputmu. Kau harus mengirimkan pesan kepadaku satu jam sekali—"

"Ichigo! Aku bisa menjaga diriku sendiri dan sudah melaporkan hal ini kepada Renji. Kau bersikap terlalu berlebihan."

"Renji? Polisi itu? Kau memercayainya tapi tidak denganku?" protes Ichigo sengit. "Dan darimana aku bersikap berlebihan ketika mate-ku berada dalam bahaya? Kau tidak sedang berada dalam dunia manusia, Rukia. Lihat dirimu sekarang—seorang penerus winter fairy yang menyimpan kekuatan besar di dalam tubuhmu. Jangan pernah mengatakan semuanya baik-baik saja!"

Rukia kehilangan kata-kata. Dia tidak bisa menyangkal ketika dunia di sekelilingnya sekarang sudah sangat jauh berbeda. Dia bukanlah lagi gadis manusia normal yang melihat ujian akhir semester sebagai rintangan tersulit dalam hidupnya. Quincy mengincar dirinya dan orang-orang di sekitarnya sedang berjuang keras untuk melindungi dirinya.

Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan sekarang? Rukia tak bisa menjawab itu dan hanya bisa terdiam dengan perasaan getir.

Ichigo menggeram, berdiri dari duduknya dan berjalan cepat ke lantai dua. Dia yang menengadah ke langit-langit, berusaha menetralkan napasnya yang memburu. Rukia semakin khawatir ketika amarah sang Beta belum kunjung mereda.

"I … Ichigo…. Aku baik-baik saja."

"Jangan katakan kau baik-baik saja ketika aku belum bisa membaca situasinya, Rukia!"

Rukia menelan ludah gugup. Dia tidak tahu apakah harus mendekat atau menjauh dari Ichigo sekarang. Tidak ada Isshin ataupun Kensei yang akan menahan tubuh Ichigo seandainya dia lepas kendali. Rukia hanya seorang diri dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Ichigo, tenangkan dirimu," bisik Rukia, memilih untuk mendekat ke arah pria itu. Ichigo menyandarkan keningnya di tembok dengan tangan terkepal erat. Buku-buku jarinya memutih dan urat tangannya menonjol seakan hampir meledak.

Sebuah langkah yang salah ketika tangan Rukia terulur oleh suara hatinya. Dia yang menyentuh lengan atas Ichigo, berusaha untuk menenangkan pria itu. Namun tak berhasil. Tangan sang Beta bergerak cepat seperti ular yang menyambar.

Tubuh Rukia membentur tembok, terperangkap oleh tubuh besar Ichigo. Gadis itu mengernyit saat genggaman kuat pria itu di tangannya mulai terasa menyakitkan. Ichigo bergeming dengan rahang menggertak. Sorot matanya tajam dan warnanya berubah lebih terang. Hazel yang tak lagi lembut.

"Kau tidak tahu apa yang sedang kauhadapi, Rukia. Jangan memerintahku untuk menjauh darimu!"

"Ichigo…."

"Kau adalah mate-ku! Tidak ada yang boleh menyentuhmu seujung jari pun!"

"Ichigo … kau menyakitiku—"

Ichigo terkesiap. Seakan tertampar oleh apa yang dilihatnya di depan mata—ketika kabut kemarahannya mulai tersingkap—pria itu mengambil langkah mundur dari Rukia. Sang Beta terlihat terluka—hatinya.

Rukia hanya bisa memerhatikan ketika Ichigo terduduk di ujung ranjangnya dengan kedua tangan menggenggam rambutnya frustrasi. Pria itu menunduk, tak ingin melihat Rukia di hadapannya.

Tak ada kata yang terucap bahkan ketika langit sudah mulai gelap. Hanya suara napas Ichigo yang semakin stabil sebagai penanda bahwa situasi sudah berubah rumit. Ruangan gelap memberikan siluet yang tajam juga menegangkan. Di antara keduanya, tak ada emosi yang terlontar kecuali rasa takut.

Rukia yang perlahan lebih dulu mendekat, mencari-cari raut wajah sang Beta yang tertutup oleh tangannya.

"Ichigo," panggilnya lembut. Hatinya seakan tertusuk ketika Ichigo masih enggan mengangkat wajahnya. "Hei, aku baik-baik saja."

"Jangan katakan itu setelah apa yang sudah aku lakukan barusan. Aku menyakitimu."

Rukia tak menepis tangannya berdenyut, tempat di mana cengkraman Ichigo berada satu menit sebelumnya. Warna merah mulai muncul pada permukaan kulitnya, seperti ruam.

Gadis itu menolak untuk menjauh atau menyalahkan Ichigo karena situasi yang rumit ini. Mereka sama-sama terjebak dalam luapan emosi yang tak terkendali.

Rukia mengulurkan tangannya dan memeluk kepala Ichigo dalam dekapannya. Pria itu masih terdiam, tak merespon saat jari-jari tangan Rukia membelai rambutnya.

Hati Rukia seakan berteriak untuk menjangkau belahan jiwanya, menenangkan hati yang terluka itu. Mengatakan kata-kata lembut di telinganya. Membagi perasaan bersalahnya agar tidak ditahan seorang diri.

Karena mereka bukan lagi dua pribadi yang berbeda. Mereka adalah mate. Sehidup semati. Walau kata itu masih terasa asing bagi Rukia—tidakkah terlalu berlebihan?

"Aku membuatmu marah, maaf," gumam Rukia.

"Mengapa kau yang meminta maaf?"

"Seharusnya aku tidak mendorongmu jauh. Aku tahu kau khawatir padaku, tapi … Ichigo, aku tidak ingin membebanimu."

Ichigo akhirnya menengadah, menatap Rukia dengan tatapan nanar. Mata hazel-nya kembali dan itu semakin menyakiti Rukia. Tatapan itu, seperti anak berumur sepuluh tahun yang kehilangan arah.

"Mengapa kau mengatakan itu? Sudah seharusnya aku melindungimu, Rukia. Aku adalah pelindungmu, mate-mu. Kau sama sekali tidak membebaniku."

"Karena aku juga memiliki kekuatan, walaupun aku masih tidak tahu bagaimana cara menggunakannya dengan benar."

"Jangan," ucap Ichigo, memeluk pinggang Rukia untuk mendekat. "Jangan hanya mengandalkan dirimu seorang. Kau tidak sedang menghadapi ini seorang diri."

Kata-kata yang ingin diucapkan kini tertahan di ujung mulut. Rukia tahu sejauh apa Ichigo sudah berkorban. Mengucapkannya lagi dengan lantang akan semakin membebani pria itu. Rasa bersalah dan keterpurukan. Rukia tidak ingin Ichigo merasakan perasaan kelabu itu.

Rukia hanya bisa mengangguk pasrah dan membiarkan Ichigo memeluk tubuhnya. Pria itu mengucapkan kata maaf berulang kali, mengecup memar merah di tangan Rukia sebagai obat darinya. Rukia merasakan jantungnya berdegup kian cepat. Merasakan perhatian sang Beta selalu membuat perasaannya meluap tak tertahankan.

Dan ketika Ichigo mengecup pipinya, rahangnya. Membisikkan janji manis dan hanya untuk Rukia seorang.

Bukankah Rukia adalah gadis yang paling beruntung di dunia? Bukankah seharusnya dia merasakan itu sekarang?

Ponselnya berdering dari jaket hangatnya. Rukia terkejut dan hampir melompat di tempat. Nama Byakuya tertera pada layarnya.

"Nii-sama…."

Ichigo mengerang rendah, membenamkan wajahnya pada bahu Rukia karena frustrasi.

Rukia mengangkat panggilan sambil berusaha terdengar tenang.

"Ha-halo?" Atau dia gagal.

Jeda sesaat sebelum Byakuya menjawab. "Ini hampir jam makan malam, Rukia."

Rukia menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah. "Ya, nii-sama. Aku sedang dalam perjalanan pulang."

"Bersama Ichigo?"

"Hmm … ya."

"Bawa dia kemari untuk makan malam."

"Ya?"

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Perasaan tak nyaman menggelayuti dada Rukia. Gadis itu tak bisa menolak bahkan setelah sambungan telepon terputus. Ada sesuatu yang salah dan dia tak tahu itu apa.

"Akhirnya dia memintaku datang untuk makan malam," ucap Ichigo.

"Kau menguping."

"Aku bisa mendengarnya jelas dari jarak sedekat ini. Salahkan telingaku yang terlalu sensitif."

Rukia tak tahu lagi apakah situasinya bisa berubah semakin canggung lebih dari ini. Bahkan saat melihat Ichigo sekarang, dia merasakan ikatannya sedikit melonggar. Ikatan mate yang sebelumnya terikat sangat kuat itu.

Apakah ada yang salah dengan dirinya atau ini akibat dari teror si penguntit?

..~*(to be continued…)*~…..

.

.

.

.

.

.

.

Author's note:

Chapter pertama akhirnya dirilis dan konflik ringan sudah dimulai di awal chapter. Terlalu banyak hal yang ingin kujelaskan bahkan posisi Ichigo yang sekarang menemani Rukia di Jepang. Ini tidak mudah baginya yang seorang Beta dan jauh dari kelompok. Werewolf akan sulit beradaptasi bahkan mengontrol diri ketika jauh dari kelompoknya karena serigalah terbiasa untuk hidup berkelompok. Di sisi lain, Rukia merasa akan membebani sang Beta padahal dia sendiri punya kekuatan Yuki no Crystal. Ceritanya akan cukup kelam untuk buku kedua ini. Dan werewolf akan sangat teritorial pada mate-nya.

Total words chapter ini sekitar 3000 dan aku tidak ingin membuat buku kedua ini memiliki words lebih dari 5000 setiap chapternya. Alasannya aku memilih ini karena aku tidak ingin terbebani dalam menulis. Menulis 6000 words itu sangat lama untukku sekarang dan kurasa isinya jadi tidak begitu terpusat dalam satu konflik. Aku ingin merubah sedikit gaya menulisku dan ingin fokus dengan kata-kata yang kurangkai. Kuharap kalian yang membaca bisa memahaminya.

Terima kasih bagi kalian yang sudah membaca buku dua ini! Cerita akan semakin menarik kuharap dan semoga kalian juga menyukainya. Terima kasih bagi yang sudah meninggalkan komentar di kolom review dan maaf bila aku ga bisa membalas satu per satu. Butuh waktu untuk membalas review yang setting nya masih tergolong setting lama, tak secepat dan secanggih wattpad atau sistem komen FB. Dan terkadang aku lupa sudah bahas review sampai mana T_T. Maaf sekali. Tapi review kalian selalu kubaca satu per satu. Terima kasih banyak bagi yang sudah mendukung hingga sejauh ini. I love you all!

Thanks to Febrihana, ningKyu, Rinda Kuchiki, Azura Kuchiki, Rukichigo, Arya U Dragneel, Allen Walker, Izumi Kagawa, Leticia Gonalves, Azzura yamanaka for leaving reviews! Love you!

Bagi ada yang ingin bertanya seputar fanfic ini atau hal lain, bisa langsung ke FB ku atau wattpad, karena aku lumayan aktif di sana. ^^

Aku mendengar playlist spotify Acoustic Spring. Ini playlist pilihan spotify, lagu-lagu menenangkan dan aku suka banget suasananya. Dan di bawah beberapa playlist tambahan yang juga bisa mendukung:

Alec Benjamin- Let Me Down Slowly

Billie Eilish, Khalid- lovely

Lauv, Troye Sivan- i'm so tired…

Marshmello, CHVRCHES- Here With Me

These songs don't belong to me…