Naruto © Masashi Kishimoto
(I don't take profit by publishing this fict)
SasuHina
Alternate Reality/Parallel Universe/Multiverse/Marriage/Canon Compliant
Parallel Mom
Boruto menyesal.
Seharusnya dia mendengarkan nasehat ayahnya untuk tidak pergi keluar Konoha tanpa pendamping. Dia harusnya sadar bahwa sebagai anak seorang hokage, apalagi anak sosok luar biasa semacam Uzumaki Naruto, ada banyak mata yang mengincarnya.
Bocah berambut kuning itu sekadar iseng ketika memutuskan untuk keluar dari gerbang Konoha. Dia hanya ingin pergi berkeliling. Ini hari liburnya dan dia tidak bisa bermain bersama Inojin yang harus membantu toko bunga ibunya atau bersama Shikadai yang menemani ibunya kembali ke Suna. Mengunjungi Sarada, rupanya gadis berambut hitam itu sedang bergosip ria dengan beberapa perempuan lain. Ugh! Tentu saja Boruto tidak ingin ikut-ikutan bergosip juga. Dia ini lelaki jantan, tahu! Di mana harga dirinya jika ada yang tahu dia ikut acara bergosip anak perempuan akademi.
Kejenuhan itulah yang membuat dia kembali ke rumah, memasukkan beberapa camilan ke dalam tasnya, sebelum pergi menuju gerbang.
Di luar dugaan, penjagaan di gerbang tidak semengerikan yang orang bicarakan. Ketika mereka lengah, Boruto bisa menyusup dan berlari pergi. Dalam hitungan detik, dia sudah menginjakkan kaki di lokasi penuh pepohonan besar. Boruto memutar tubuh sembari mendongak, menyaksikan seekor gagak yang tengah terbang di atas sana. Cengiran membusur di bibir Boruto sebelum dia kembali memulai sebuah perjalanan.
Sialnya, di tengah jalan, dia dihadang beberapa ninja tanpa ikat kepala. Sudah jelas mereka ini buronan.
"Hei, lihat! Sepertinya dia anak orang kaya. Pakaiannya bagus!" Seru seorang ninja yang tengah menghadang Boruto.
Sang pemuda mendengus puas. Tentu saja! Selera berpakaiannya bagus! Beda jauh dengan selera berpakaian sang ayah yang serba oranye sampai Boruto tidak bisa membedakan sang ayah ketika kecil dengan buah jeruk.
"Kalian ingin jaket ini? Akan kuberikan, asalkan kalian membiarkan aku lewat. Aku juga akan memberikan tas ini untuk kalian asal kalian membiarkan aku lewat."
Para ninja berpandangan sebelum akhirnya berkedik.
Sebelum Boruto membuka jaket, salah seorang dari mereka menginterupsi.
"Tunggu sebentar! Lihat bocah itu! Tidakkah kalian berpikir bahwa dia sangat mirip dengan seseorang?"
Alarm pertanda bahaya di otak Boruto berbunyi. Tiap kali dia mendapatkan masalah besar, semuanya pasti berawal dari kata "mirip seseorang". Boruto merutuki kenapa sang ibu melahirkan dia dengan wajah amat mirip sang ayah.
"Dia anak hokage! Dia anak Naruto!"
"Kita tangkap dia dan kita jadikan tawanan! Kita bisa menggunakannya untuk mengancam Naruto!"
Kini, sasaran mereka bukanlah lagi harta berharga yang Boruto bawa, melainkan dirinya! Jika dirinya dijadikan sandera, masalah akan semakin rumit.
Boruto memasang kuda-kuda. Tak ada pilihan lain selain melawan mereka di sini.
Begitulah niatnya. Namun, kenyataan berkata lain.
"Lepaskan aku!" Teriak Boruto ketika ninja-ninja itu mengikatnya ke pepohonan dengan tali chakra. Sial! Boruto belum mempelajari cara melepaskan diri dari jerat chakra. Anko sudah memberitahukannya kemarin, tapi Boruto justru sibuk membicarakan permainan yang baru saja dirilis dengan Inojin. Dia tidak menyimak penjelasan sang guru gembil dengan seksama!
"Heh! Kau adalah sandera berharga kami. Tentu saja kami tidak akan melepaskanmu begitu saja!"
Salah seorang dari mereka hendak mendekat sembari mengeluarkan kunai, tapi beberapa shuriken yang menancap tepat di depan sandal sang buronan membuatnya terpaku seketika.
"Dasar bocah merepotkan ..." Keluh seseorang dari balik pohon besar.
Boruto yang sudah hafal benar suara tersebut menoleh antusias.
"Sasuke!"
Sosok sang mentor muncul di hadapannya, memandang dingin beberapa ninja buronan tersebut.
"Siapa dia?" Salah seorang buronan keheranan. "Apa dia ninja? Dia tidak memakai ikat kepala."
Sasuke menarik napas lelah. Dia tidak perlu menjelaskan pada ninja buronan di depan sana bahwa dia pun mantan buronan, bukan? Buang-buang waktu saja.
"Kalian tidak sadar? Pria di depan kalian adalah Uchiha Sasuke. Ninja buronan yang menggemparkan seantero desa ninja beberapa tahun lalu."
Dari belakang sekumpulan ninja buronan, muncul sosok menjulang dengan kepala pelontos dan yukata berwarna merah dengan aksen naga berwarna kuning. Bahkan dari jarak sekian meter, Sasuke bisa mengendus aura membunuh dan chakra yang luar biasa.
Pria botak itu ketua mereka.
Sadar bahwa sosok Boruto yang terikat di pohon hanya menjadi pengganjal, Sasuke membuka lubang dimensi dan melemparkan sang bocah ke dalam sana.
"Ke dimensi mana aku melemparkan bocah itu, ya?" Gumam Sasuke mengerutkan dahi. Benar-benar merepotkan.
Setelah semua ini beres, dia harus mencari Boruto di setiap dimensi. Kenapa dia harus bertemu bocah Uzumaki itu di sini? Tentu saja Sasuke tidak bisa membiarkan muridnya kesusahan meskipun membantu sang murid hanya akan menyeretnya dalam kesusahan yang lebih parah.
Boruto berteriak ketika tubuhnya dilemparkan ke dalam lubang dimensi dan melewati lorong waktu. Ke mana sebenarnya Sasuke melemparkan dia? Jatuh di atas permukaan yang keras. Boruto mennyernyitkan dahi sebelum membuka mata. Sebuah patung membuatnya mengerjap berkali-kali. Patung ini ... patung hokage ayahnya, bukan?
"Haaah? Apa ini? Jadi Sasuke melemparkan aku ke dalam Konoha? Dasar!" Boruto menepuk-nepuk celananya untuk membersihkan debu yang menempel sebelum melompat ke bawah sana, berniat kembali ke rumah sebelum sang ibu menyadari ada sesuatu yang menimpanya.
Sang pemuda berkepala pisang yakin benar dia seharusnya sudah berada di depan rumahnya. Namun, kenapa yang berdiri menjulang di sana justru penginapan, ya? Apakah kepalanya tadi terbentur sampai lupa arah pulang?
Tidak.
Kondisi sekitarnya memang aneh. Rasanya, ada beberapa bangunan yang sebelumnya tidak ada di sana. Boruto tidak ingat kapan tempat karaoke dua blok dari rumahnya dibangun. Boruto juga yakin kedai di pertigaan tadi seharusnya tidak ada.
Boruto melangkahkan kaki sampai ke depan kedai ramen yang, syukurlah, masih ada di sana seperti biasa.
"Bibi!" Panggil Boruto. Sang pemuda masuk ke dalam dan menemukan Ayame tengah mengangkat mie dari panci untuk ditiriskan.
"Bibi! Apa kau tahu apa yang terjadi dengan Konoha? Aku mencari rumahku, tapi tidak ketemu. Aku yakin rumahku ada di blok itu!"
Alis Ayame terangkat.
"Kau siapa?"
Boruto terbelalak. Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin Ayame tidak tahu siapa dia. Dia Uzumaki Boruto! Meskipun tidak sesering sang ayah, Boruto pun sering ikut makan di kedai Ichiraku. Bagi Teuchi, Boruto ini sudah seperti cucu sendiri!
"Aku Boruto, Bi! Uzumaki Boruto! Anak Uzumaki Naruto!"
Ayame tertawa dan menepuk bahu Boruto, menjelaskan bahwa tidak mungkin Naruto sudah memiliki anak sebesar ini. Dia baru saja menikah satu tahun yang lalu.
Mulut Boruto menganga.
Ada yang aneh dengan tempat ini!
"Kalau begitu, bisakah Bibi beritahu di mana tempat tinggal Hyuuga Hinata?"
Ayame menunjuk beberapa jalan dan memberikan patokan yang akurat agar Boruto tidak tersesat. Usai mengucapkan terima kasih, sang pemuda pun segera pergi ke alamat yang ditunjukkan Ayame.
Teuchi yang baru saja menggoreng katsudon di dapur keluar dan menghampiri sang anak.
"Ada apa?"
Ayame menyentuh dagunya sendiri. "Tadi ada anak yang mengaku sebagai anak Naruto. Jika dilihat, dia benar-benar mirip dengan Naruto. Tidak mungkin Naruto memiliki simpanan. Namun, yang membuatku heran, kenapa dia justru menanyakan alamat Hinata?"
Tawa Teuchi sontak terdengar nyaring. "Hahaha! Tidak mungkin, tidak mungkin. Naruto itu 'kan ..."
"Setelah melalui pertigaan, aku masih harus lurus. Ada kotak surat di sebelah kiri. Itu berarti, aku harus berbelok ke kanan, menaiki anak tangga, dan ah! Inikah rumah ibu?"
Boruto memandang tak percaya kediaman dua lantai di hadapannya. Sang pemuda membuka pintu pagar yang tidak dikunci itu dan melangkah ke dalam. Andai saja lebih cermat, Boruto akan menyadari papan nama yang terpasang di sisi pintu pagar.
Boruto mengetuk pintu kayu di depannya dengan gelisah.
"Permisi! Ini Aku Boruto! Halo? Apa ada orang di dalam?"
Pintu terbuka dan menampakkan sosok wanita berambut panjang yang familiar bagi Boruto. Meskipun merasa ganjil karena rambut sang ibu kelihatan lebih panjang dari biasanya, Boruto mengabaikan rasa herannya. Baru saja sang pemuda hendak mendekap sosok tersebut, sebuah pertanyaan terlontar dari sang wanita.
"Kau siapa, Nak? Ini sudah nyaris malam. Apa yang kau lakukan di rumah kami?"
'Kami'? Boruto seakan mendapatkan secercah harapan. Itu tandanya ada kemungkinan ayah dan ibunya pun sudah menikah di sini.
Namun, belum sempat Boruto membeberkan bahwa dia adalah Uzumaki Boruto dan merupakan anak Hinata dengan Naruto di masa depan, sosok lain muncul dari belakang Hinata.
"Hinata? Kau sedang berbicara dengan siapa?"
Mata biru Boruto seolah hendak mencuat keluar melihat sosok Sasuke yang berdiri di belakang Hinata. Seolah sangat akrab, tangan Sasuke menyentuh bahu ibunya tanpa basa-basi. Apa yang Sasuke lakukan di rumah ibunya? Waktu sudah nyaris malam! Untuk apa Sasuke bertamu ke rumah ibunya? Ke mana ayahnya? Kenapa Sasuke ada di rumah saat sosok ayahnya tidak ada?
Tidak. Jangan bilang bahwa Sasuke dan ibunya berselingkuh?
"K-kenapa kalian tinggal bersama?" Pertanyaan itulah yang bisa Boruto keluarkan susah payah dari kerongkongannya setelah banyaknya pertanyaan bergulat di benak.
Sasuke dan Hinata saling bertukar pandangan. Tangan Sasuke lantas menelusup di antara tangan Hinata.
"Dia istriku. Kami suami-istri. Tidakkah kau melihat papan nama 'Uchiha' di pagar sebelum memutuskan bertamu ke rumah kami? Lagipula, kau ini siapa?"
Hinata sontak menyadari sesuatu dan berlutut di depan Boruto untuk menyamakan tinggi badan.
"Kau mirip sekali dengan Naruto-kun! Apakah kalian bersaudara?"
Sial, batin Boruto. Sepertinya gurunya itu sudah melemparkan dia ke tempat yang mirip Konoha tapi bukan Konoha. Pertama, ayahnya baru menikah satu tahun yang lalu. Kedua, ayah dan ibunya tidak menjadi sepasang suami-istri di sini. Ibunya justru menikah dengan Sasuke! Ketiga, Boruto tidak mungkin mengatakan bahwa dia adalah anak Naruto dan Hinata. Informasinya itu bisa dengan instan merusak rumah tangga Hinata dan Sasuke yang ada di hadapannya sekaligus merusak rumah tangga Naruto dan istrinya yang entah siapa.
"A-aku saudara jauh Naruto. A-aku mencari rumah Naruto tapi tidak ketemu. A-aku tidak tahu harus bermalam di mana," bohong Boruto. Ya, mau bagaimana lagi. Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus merahasiakan siapa dirinya di tempat ini.
"Sasuke-kun? Bagaimana jika anak ini menginap di sini? Besok kita bisa mengantarnya ke kediaman Naruto-kun."
Sasuke menghela napas, memandangi Boruto penuh curiga, sampai akhirnya mengangguk. "Baiklah."
Hinata tersenyum senang. "Siapa namamu? Aku sudah memasak makan malam. Bagaimana jika kita mengobrol sambil menyantap hidangan bersama? Ayo, masuk!"
Boruto harus menahan diri untuk tidak bersikap terlalu familiar dengan sosok ibunya di sini. Namun, ada rasa syukur di hatinya ketika dia dipersilakan menginap. Paling tidak, dia memiliki tempat bermalam dan di tempat itu ada sosok ibunya.
Boruto memberitahukan namanya pada Sasuke dan Hinata. Dia, tentu saja bohong, bercerita bahwa dia datang ke Konoha setelah tahu bahwa dia memiliki saudara sesama Uzumaki di desa ini. Sasuke tak memberikan tanggapan apa pun. Namun, Hinata mengangguk-anggukkan kepala.
"Pantas saja kalian mirip. Meski begitu, matamu tampak lebih biru dibanding mata Naruto-kun, Boruto-kun."
Ah, andai saja wanita ini tahu bahwa gen dalam tubuhnya sebagian adalah miliknya. Siapa yang pernah mengatakan hal ini kepadanya, ya? Bahwa matanya lebih biru dibanding sang ayah? Oh iya. Sarada.
"Sasuke-kun? Kau mau salad tomat? Aku membuatnya dan kumasukkan ke dalam kulkas."
"Ah, terima kasih, Hinata."
"Hari ini ada acara komedi kesukaanmu. Kita menonton bersama, ya."
Boruto memperhatikan keduanya. Inikah yang terjadi jika ibunya menikah dengan sang mentor? Mereka terlihat sangat serasi luar dalam.
Dari perbincangan mereka, Boruto sadar bahwa dia berada di dimensi paralel. Dimensi yang nyaris serupa dengan dimensi tempat dia tinggal. Di dimensi ini, Naruto menikah dengan Sakura dan menjadi hokage sebelum mereka menikah. Di luar dugaan, Sasuke dan Hinata menikah lebih dahulu dibanding Naruto. Usia pernikahan mereka sudah satu setengah tahun. Di dimensi ini, Hinata tetap memanjangkan rambut. Mereka tidak memilih tinggal di kompleks klan Hyuuga atau klan Uchiha. Mereka memilih tinggal berbaur dengan penduduk. Selain dari itu, tidak ada perbedaan mencolok di antara dimensi ini dengan dimensinya. Sai masih menikah dengan Ino. Shikamaru masih menikah dengan Temari. Hal lain selain hal yang menyangkut orangtuanya tetap sama.
Usai menyantap makan malam. Boruto diantar ke kamarnya. Kamar kosong yang berada di lantai atas. Kamar ini akan menjadi kamar anak mereka kelak dan Boruto sudah pernah mencicipi rasanya tidur di kamar ini duluan. Betapa beruntungnya dia.
Mengamati langit-langit kamar, Boruto merasa tidak mengantuk sama sekali. Dia yakin benar bahwa Sasuke akan menemukannya di sini dan membawanya pulang ke rumah. Namun, sampai berapa lama dia harus menunggu? Bagaimana reaksi sang ibu jika tahu dia terlempar ke dimensi lain? Bagaimana reaksi sang ayah? Akankah ayahnya meninggalkan urusan pekerjaan demi menjemputnya di sini?
Bermaksud mengambil segelas air minum di dapur, Boruto dikejutkan dengan suara tawa dari ruang tengah. Tanpa bermaksud tidak sopan karena sudah mengintip seenaknya, Boruto menyembulkan sedikit kepala, menyaksikan Sasuke dan Hinata yang tengah tertawa sembari berbincang di depan TV.
Sasuke tengah melingkarkan tangannya di belakang tubuh Hinata dan sang wanita menyandarkan kepala ke dada Sasuke.
"Ayo, tidur. Ini sudah malam."
"Aku masih ingin menonton acara setelah ini."
Sasuke memandang wajah Hinata sebelum mengecup dahi sang istri. "Kau harus istirahat, Sayang."
Hinata tersipu malu, mendorong tubuh Sasuke perlahan. Namun, setelahnya, sang wanita mengecup pipi pria di hadapannya. Sasuke beranjak bangun terlebih dahulu sebelum mengangkat tubuh istrinya untuk dibopong.
Tubuh Boruto mematung. Dia dan Sasuke saling pandang begitu canggung.
"Apa yang kau lakukan, Bocah? Kau mengintip kami?"
Boruto mengangkat tangan panik. "T-tidak! Bukan begitu! Aku tidak bermaksud—"
Sasuke berdecak, memotong ucapan Boruto. Sebelum masuk ke dalam kamar yang terletak di sebelah kiri Boruto, Sasuke memberikan tatapan tajam, seakan mengancam Boruto untuk tidak berbuat macam-macam selama berada di sini. Hinata meninju bahu Sasuke pelan, menyuruh sang suami untuk tidak mengintimidasi Boruto.
Tubuh Boruto kontan merosot terduduk. Baru kali ini sang mentor memandangnya begitu tajam. Baru kali ini sang ibu tidak membelanya mati-matian.
Untuk kali pertama, Boruto ingin pulang. Dia menyesali tindakan bodohnya. Hanya karena ingin lebih diperhatikan, dia menjerumuskan dirinya sendiri ke keadaan ini.
"Boruto-kun?"
Sang pemuda mengucek mata. Pandangannya masih buram, hanya bisa menangkup siluet seorang wanita dan suara lembutna.
"Ibu? Jam berapa ini?"
Suara sang wanita terdengar heran.
"Ibu?" Suara wanita itu membeokan Boruto. "Boruto-kun? Ini aku."
Seketika, Boruto bersumpah serapah dalam hati, mengingat kembali bahwa dia sedang terjebak di dimensi lain dan sosok di depan adalah sosok paralel ibunya. Kontan saja Boruto menyibakkan selimut.
"Hinata-san? Maafkan aku. Aku mengigau!"
Sang wanita hanya terkekeh. "Tidak apa-apa. Aku paham sekali jika kau merindukan ibumu. Aku sudah menyiapkan sarapan pagi. Kutunggu kau di bawah, ya."
Boruto membungkukkan tubuh berterima kasih. Hinata mengangkat tangan, berkata bahwa Boruto tidak perlu berterima kasih sampai membungkukkan badan seperti itu.
Sepeninggal Hinata, tubuh Boruto kembali terhempas ke atas futon. Ah, hampir saja dia melupakan bahwa dia masih berada di dimensi ini. Hari ini, Hinata dan Sasuke akan mengantarkannya ke kediaman Naruto. Apa yang harus dia katakan di depan Naruto? Akankan sang ayah di dimensi lain ini memercayai bualannya?
Boruto bergegas turun, mencuci muka dengan kasar, dan melenggang ke ruang makan merangkap dapur. Hinata dan Sasuke telah duduk menantinya. Hinata menyapanya meskipun sang wanita sudah memberikan sapaan tadi. Sasuke hanya mengerling sebentar sebelum kembali fokus dengan beberapa gulungan jurus ninja.
Setelah Boruto menarik kursi dan duduk di sana, Sasuke lekas membereskan gulungan tersebut.
Mereka bertiga memulai perjalanan ke kediaman Naruto dalam diam. Hanya ada Hinata yang sesekali menyapa penduduk dan mengajak Boruto bercengkerama. Meski begitu, Boruto menyadari satu hal. Setiap kali ada penduduk yang menghentikan perjalanan lantaran ingin mengobrol dengan Hinata, Sasuke akan berdiri di sisi sang istri dan ikut menimpali sapaan penduduk. Boruto juga sadar bahwa sejak berangkat, Sasuke tidak melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Dalam hati, Boruto mulai berpikir, inikah kehidupan yang akan dijalani ibunya jika menikah dengan sang mentor?
Boruto tahu ayahnya tidaklah romantis. Boruto tahu bahwa seluruh hidup Naruto didedikasikan untuk penduduk dan Konoha. Terlebih, Naruto adalah pemimpin aliansi ninja. Kesibukannya jelas bukan main. Waktu untuk pulang ke rumah saja langka. Hal paling romantis yang sang ibu pernah ceritakan adalah ciuman pertama di bawah bulan purnama. Hanya itu.
Boruto kira, gurunya adalah tipikal yang akan cuek dalam hubungan. Boruto seringkali mendapati Sakura dan Sarada bertahan hidup berdua saja di rumah dua lantai mereka yang berada di pinggir jalanan pertokoan. Boruto selalu berpikir bahwa Sasuke dan ayahnya sama saja. Sama-sama terobsesi dengan pekerjaan dan urusan dunia ninja. Namun, di dimensi ini Boruto harus menarik kembali ucapannya karena Sasuke tidak terlihat sering meninggalkan kediaman. Dia memang menjalankan banyak misi rahasia, tapi masih ingat pulang. Bahkan dari perbincangan Sasuke dan Hinata tadi malam, Boruto mengetahui bahwa Hinata sering diajak ikut menjalankan misi bersama Sasuke.
"Kita baru kembali dari misi luar desa seminggu lalu. Rumah ini ditinggalkan kurang lebih satu bulan. Ketika kembali, kita harus segera membersihkan lantai yang berdebu, mencuci pakaian kotor yang masih menumpuk di keranjang, dan mencuci piring yang tidak sempat dicuci."
"Kau ikut dengan Sasuke-san, Hinata-san?"
"Iya." Hinata melirik Sasuke. "Suamiku selalu mengajakku juga. Kami selalu menunaikan misi bersama. Rasanya seperti sedang berbulan madu bersama."
"Kau tidak takut Hinata-san terluka dalam misi bersamamu?" Boruto menoleh pada Sasuke.
"Kenapa aku harus takut?" Sang pria menyeringai. "Hinata adalah wanita yang kuat dan juga partner tim yang hebat."
"Sasuke-kun juga partner yang bisa diandalkan. Setelah sampai di rumah, kami akan membagi tugas mengurus rumah. Sasuke-kun akan mencuci piring, sedangkan aku akan mencuci baju. Dia membuat tugasku terasa lebih ringan."
Rasa percaya, kerja sama, dan cinta. Itu yang Boruto lihat dari pancaran mata keduanya. Jika Sasuke sedang menjalankan misi solo, Hinata akan menanti dengan setia, menjaga rumah tetap bersih dan terjaga. Sasuke di luar sana akan menjaga diri baik-baik sehingga pulang tanpa membawa oleh-oleh luka.
Boruto tersenyum lega.
Meskipun sudah pasti di dimensi ini dia tidak akan lahir (atau mungkin akan tetap lahir menjadi anak Naruto saja), dia tidak keberatan. Hinata berada di tangan yang benar dan bisa melindunginya, memperlakukannya dengan baik tanpa perlu menganggapnya seperti benda pecah belah.
"Hinata—"
Suara ledakan di sisi kiri nyaris menghempaskan tubuh Hinata jika saja Sasuke tidak segera membopong tubuh sang istri dan melompat ke atas bangunan. Boruto memandang nyalang ke arah kiri. Nyaris saja. Nyaris saja Hinata terluka. Meski Hinata di dimensi ini bukanlah ibunya, Boruto tetap merasa sayang pada sosok tersebut.
Tiga sosok manusia yang berpakaian chuunin keluar dari dalam reruntuhan bangunan. Mereka berniat menghunuskan senjata ke arah Boruto.
"Boruto!" Teriak Sasuke. Usai lekas menurunkan Hinata, Sasuke melesat ke arah Boruto dan menghadang ketiganya.
Hinata ikut turun setelahnya.
"Aliran chakra mereka berantakan. Mereka dikendalikan seseorang! Berhati-hatilah!" Sang gadis mewanti-wanti.
"Kau juga berhati-hatilah, Hinata," sahut Sasuke.
Boruto mengedarkan pandangan. "Sasuke-san, Hinata-san, orang yang mengendalikan mereka berdiri searah jarum jam satu."
Sasuke dan Hinata lekas menatap arah yang Boruto tunjukkan. Sebelum Sasuke pergi mengejar sang dalang dan menyerahkan tiga chuunin untuk dibereskan Hinata, sang pria sempat melirik pada Boruto dan terkesiap. Namun, Sasuke tahu, ada hal yang lebih penting untuk diatasi sehingga sang pria tetap beranjak pergi.
Hinata terbelalak. Tangannya menyentuh pipi Boruto.
"Boruto-kun? Matamu ... Kenapa kau memiliki byakugan?"
Boruto menunjukkan sebuah cengiran. Dari cengiran itu, Hinata yakin benar bahwa Boruto benar-benar mirip dengan Naruto. Namun, kenapa dia memiliki byakugan.
"Aku janji akan menceritakan hal sesungguhnya setelah ini, Hinata-san."
Dengan itu, keduanya berkonsentrasi untuk melumpuhkan tiga musuh di depan mata. Setelah ketiganya tidak sadarkan diri, Boruto berdiri di sisi Hinata yang tengah memandangi sang suami dari kejauhan.
"Boruto-kun," panggil sang wanita lembut. "Ketika melihatmu, aku sudah mulai menyadari siapa kau. Aku sadar bahwa kau tidak jujur. Kau bukan saudara Naruto-kun, bukan? Naruto-kun tidak memiliki saudara lain. Karin-san satu klan dengannya dan mereka tidak mirip."
Sebelum Boruto menanggapi ucapan sang wanita, Hinata terlebih dahulu mengusap kepala Boruto pelan tanpa memandangnya.
"Sasuke-kun, dia sering bilang bahwa ada dimensi di luar sana yang mirip dengan dimensi kita. Kau datang dari sana, bukan? Semalam, Sasuke-kun berkata bahwa ada kemungkinan kau terlempar kemari dari lubang dimensi. Sasuke-kun kemarin merasakan lubang dimensi terbuka di Konoha tepat beberapa jam sebelum kau tiba di depan rumah kami. Namun, baik Sasuke-kun maupun aku sama-sama tidak yakin karena kami kekurangan bukti. Namun, setelah melihat byakugan-mu tadi, kami jadi yakin."
"Hinata-san, maafkan aku. Aku mungkin seharusnya tidak menunjukkan diriku di hadapanmu."
Hinata menoleh, memandang Boruto sebelum mengulaskan senyuman lembut.
"Jangan minta maaf. Aku pun tidak akan minta maaf padamu soal hubunganku dengan Sasuke di dimensi ini. Aku tidak akan minta maaf karena telah mencintai Sasuke-kun."
Boruto menarik napas lega. Sasuke mendarat di hadapan mereka setelah berhasil membekuk musuh dan menyerahkan mereka pada ANBU.
Mata oniks itu terarah lurus pada sepasang mata biru milik Boruto.
Dia berdecih kemudian sebelum berkata, "Kau benar-benar mirip dengannya."
Setelah menimbang-nimbang, ketiganya membatalkan perjalanan ke kediaman Naruto dan memilih untuk kembali ke rumah. Namun, sialnya, sosok yang tidak jadi mereka kunjungi justru ada di sisi jalan. Sosok itu tengah berdiri di samping wanita berambut merah jambu.
"Oi, Sasuke! Kebetulan sekali kita bertemu di jalan seperti ini!"
"Sasuke-kun, Hinata! Selamat pagi," sapa Sakura.
Hinata membalas sapaan Sakura, sedangkan Sasuke menghampiri Naruto.
Boruto hendak bersembunyi di balik tubuh Hinata. Namun, Naruto terlebih dahulu mengetahui eksistensinya.
"Hei, siapa yang bersama kalian? Keluarlah. Jangan bersembunyi!"
Dengan canggung, Boruto menunjukkan dirinya. Sakura kontan menutup mulut.
"Naruto!? Kenapa dia sangat mirip denganmu?"
Sakura sontak menyikut perut sang suami dan mengancam, "Dia bukan anak simpananmu, 'kan?"
"Tentu saja bukan, Sakura-chan!"
Sasuke dan Hinata menggunakan kesempatan Naruto yang tengah adu mulut dengan Sakura untuk membawa Boruto pergi bersama mereka.
Ketiganya terengah-engah usai setibanya di teras rumah. Jika Naruto dan Sakura tahu bahwa Boruto adalah anak Naruto dan Hinata (meski berbeda dimensi) akan menjadi hal gawat, bukan? Segala kenangan lama, keputusan lama, dan kisah cinta lama yang tak ingin mereka bahas lagi akan kembali muncul ke permukaan.
Sebuah ketukan pintu terdengar dan Sasuke bergegas bangkit untuk membukakan pintu.
Boruto mendongak, melihat seringaian di wajah Sasuke saat dia memandang tamu mereka.
"Akhirnya kau datang juga."
Seorang pemuda dengan wajah sama persis seperti Sasuke melangkah masuk. Boruto memekik girang.
"Sasuke!" Teriaknya. Sasuke yang berada di dimensi ini memandangnya dengan dahi berkerut. Boruto memanggil dirinya di dimensi lain tanpa embel-embel? Benar-benar bocah tidak sopan.
Sasuke memijat kepala. "Setelah berkeliling dimensi, akhirnya aku menemukanmu di sini, Boruto. Ayo pulang. Si Dobe sudah menyadari bahwa kau menghilang dan mulai gelisah."
Boruto mengangguk penuh semangat.
"Sasuke-san, Hinata-san. Terima kasih sudah menjamuku selama berada di sini. Sudah saatnya aku kembali ke rumah. Namun, sebelum itu ..."
Boruto berjinjit, menarik sosok Sasuke dan Hinata untuk didekap berbarengan.
"Aku tidak seharusnya bilang begini, tapi semoga hubungan kalian langgeng. Aku akan datang ke sini lagi untuk melihat kelahiran anak pertama kalian. Sasuke-san, jaga Hinata-san baik-baik. Bagaimanapun, dia ibuku di dimensi lain. Hinata-san, tetaplah setia pada Sasuke-san. Tatapan matanya sangat jujur mengatakan bahwa dia sangat tergila-gila padamu."
Wajah Hinata kontan bersemu merah, sedangkan Sasuke mengarahkan kepalan tangannya untuk menjitak pelan kepala Boruto.
"Aku pamit!"
Dengan itu, Boruto turut masuk ke dalam lubang dimensi setelah Sasuke masuk terlebih dahulu.
"Sasuke? Kau tidak ingin tinggal lebih lama di sini dan mengobrol dengan dirimu dan Hinata yang lain?"
"Kami tidak seharusnya berkomunikasi satu sama lain. Itu akan membuat pendirian kami berubah. Kami akan mulai berpikir 'bagaimana jika kami ada di posisi mereka?' dan akhirnya, membandingkan di dimensi mana kami lebih bahagia. Karena itu, aku tidak pernah berlama-lama berada di dimensi ini sebagaimana Sasuke di dimensi ini tidak pernah berlama-lama berada di dimensiku."
Sasuke dan Hinata memandang lubang dimensi yang mulai menghilang dari hadapan mereka. Sampai akhirnya, keadaan kembali seperti semula. Ketika Hinata akan mengajak Sasuke masuk ke dalam, sang pria masih menatap lurus ke depan.
"Hinata, apakah kau yakin dengan hubungan ini? Di dimensi lain, kau bisa menikah dengan Naruto, orang yang kau cintai sejak kecil. Apakah kau tidak ingin mencoba mengejar cintanya di sini?"
Sasuke merapatkan bibir. Meski dia telah bicara seperti itu, sesungguhnya Sasuke ingin memohon agar Hinata tidak berubah pikiran setelah melihat sosok Boruto. Sasuke ingin berkata bahwa Sasuke akan membahagiakan Hinata.
Namun, Boruto adalah bukti, bukan? Bukti bahwa Hinata bisa bahagia saat bersama dengan Naruto.
Bukankah itu berarti Hinata yang ada di dimensi ini pun memiliki kesempatan yang sama?
Oniks membulat ketika merasakan dua tangan melingkar ke perutnya. Sasuke bisa merasakan Hinata menyandarkan dahi ke punggungnya.
"Sasuke-kun bodoh! Aku mencintaimu. Karena itu, aku menerima lamaranmu. Karena itu, sekarang aku menjadi istrimu dan aku bahagia! Jangan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan mereka yang berada di dimensi lain! Aku bahagia bersamamu. Aku bahagia menjadi istrimu dan itu tidak akan pernah berubah sekalipun aku melihat Boruto-kun."
Sasuke berbalik, memandang penuh kasih wajah istrinya.
Jemari Sasuke menyentuh pipi Hinata, menangkup wajah bulat sang istri.
"Kau benar. Kau benar, Hinata." Bisik Sasuke tepat di telinga Hinata.
Keduanya masuk ke dalam rumah. Ada hal yang harus mereka lakukan.
Pada akhirnya, meski mereka telah mengetahui sebuah kenyataan di dimensi lain, hal itu tak akan mengubah pendirian mereka berdua.
Fin
Cokelat Abu
Thank you.
