"Mulai sekarang, aku akan menjadi mata, telinga, dan mulutmu."
.
.
.
.
.
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any credit for writing this fiction at all.
SasuHina
Romance, supernatural, AR, friendship
.
.
.
.
Yours
Gelap dan sunyi. Itulah yang Hinata rasakan semenjak dia lahir ke dunia. Setiap hari, pandangannya diisi warna hitam dan tak ada suara apa pun yang dia dengar. Hinata tak bisa melihat, tak bisa mendengar, dan tak juga bicara. Namun, Hinata masih bisa berjalan ke mana pun, berbekal sebuah tongkat dan dua tangan yang dia pakai untuk meraba dinding demi dinding.
Hinata bisa tersenyum. Ketika kecil, Hinata selalu meraba wajah seseorang. Rambutnya panjang, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis. Bibir itu selalu melengkung dan yang Hinata tahu, perasaannya bahagia ketika merasakan lengkungan tersebut. Ada pula saat Hinata merasakan pipi sosok tersebut terasa basah. Hinata berusaha menghapusnya sembari bertanya kenapa sosok tersebut mengeluarkan air dari matanya. Hinata lalu paham bahwa air yang mengalir ke pipi sosok tersebut adalah air mata. Sosok itu tengah menangis dan menangis adalah pertanda kesedihan. Itulah kenapa Hinata pun merasa dadanya berdenyut nyeri. Itulah kenapa, air mata yang sama meleleh ke pipinya.
Hinata merasakan sakit ketika usianya dua tahun. Dia belajar berjalan dan terjatuh. Lututnya mengenai sebuah kerikil. Hinata meraba lututnya dan merasa ada cairan yang tidak kunjung berhenti keluar dari sana. Tak lama, Hinata merasakan tubuhnya dibopong dan lututnya diikat oleh sesuatu.
Gadis yang perlahan tumbuh remaja itu sadar kelahirannya hanya menjadi beban. Apa yang bisa diharapkan dari sosok yang bahkan tidak bisa berbuat apa pun dengan benar sepertinya? Hinata tak bisa membuatkan secangkir teh untuk sang ayah. Tak bisa ikut memasak bersama sang ibu. Yang bisa dia lakukan hanya duduk di dekat pintu ketika sore dan mendekap sosok yang baru saja pulang ke rumah. Tiap kali Hinata merasa dekapan yang begitu erat di sekujur tubuhnya, Hinata tidak bisa tidak menangis.
Ketika beranjak dewasa, Hinata sadar tubuhnya mengalami perubahan bentuk dan rambutnya semakin panjang. Seseorang selalu hadir di belakang Hinata dan menyisir rambutnya tiap pagi hari. Kadang, Hinata merasa rambutnya seperti tengah dipilin dan Hinata tahu setelahnya bahwa itulah yang mereka sebut dengan "mengepang rambut". Hinata menyukainya. Hinata suka tiap tangan-tangan familiar itu menyentuhnya. Mereka menyentuh Hinata tanpa meninggalkan rasa takut. Meski demikian, Hinata pernah merasakan sentuhan tangan-tangan asing yang membuatnya merasa takut dan jijik.
Sudah seminggu, Hinata tidak bisa keluar rumah. Tiap kali dia berjalan menuju teras, dua tangan mencegahnya. Hinata keheranan. Sampai dua tangan itu menuntun Hinata ke dekat pintu dan membawa telapak tangan Hinata untuk bersentuhan dengan butiran air yang berjatuhan dari angkasa. Ah, hujan rupanya. Hinata ingin melihat awan mendung. Ingin merasakan sentuhan hujan membasuh tubuhnya. Namun, dua tangan itu menarik Hinata kembali masuk ke dalam dan membawa Hinata ke kamar.
Musim hujan masih berlangsung dan Hinata hanya bisa duduk di dekat teras. Berharap butiran air yang menciprat roknya berhenti. Hinata merasakan sesuatu menyentuh punggung tangannya. Berbalik, Hinata merasa seseorang tengah memberikan sesuatu untuknya dan kembali membalikan badan Hinata ke depan. Hinata mematung kebingungan dan sosok itu mendorong Hinata maju perlahan. Ah, benda yang diberikan kepada Hinata untuk dia genggam itu membuat tubuhnya tak lagi kebasahan walaupun hujan.
Hinata tersenyum. Dia bisa bepergian kendati hujan masih memandikan bumi.
Hinata pikir, menjadi gadis dengan kemampuan yang berbeda dari orang lain tak akan membuatnya dibenci. Namun, Hinata keliru. Ketika usianya menginjak delapan belas tahun, Hinata sering mendapat perlakuan kasar dan tangan-tangan asing. Mereka mendorong tubuh Hinata kasar hingga menabrak dinding. Mereka menjambak rambut Hinata hingga sebagian rambutnya tercerabut. Mereka bahkan menampar pipi Hinata.
Benda tajam dan dingin menyentuh tengkuk Hinata acapkali. Gadis itu gemetaran. Rambutnya berjatuhan, dipotong oleh entah siapa. Hinata berusaha meraba-raba, menahan tangan demi tangan yang ingin berbuat jahat terhadapnya, tapi gagal. Tangan-tangan itu lebih kuat dan lebih banyak. Hinata tahu betapa lembut tangan wanita. Hinata tahu, yang memotong rambutnya tanpa belas kasih adalah sesama wanita.
Semenjak hari itu, Hinata enggan beranjak keluar kediaman. Hinata ketakutan. Dunia ini bukan tempat bagi manusia serba kekurangan sepertinya. Dunia ini tempat mengerikan. Tempat berkumpulnya manusia yang bisa melakukan apa pun semena-mena. Kendati ada tangan-tangan lembut yang senantiasa menopangnya, seperti saat ini, di luar sana, Hinata tak tahu nasib tragis seperti apa yang akan menimpanya. Memeluk
Kini, gadis malang itu hanya bisa bergulung dalam selimut, berusaha menghangatkan perasaan yang tak kunjung berubah. Perasaannya menggigil. Perasaannya kedinginan. Kosong dan dingin. Apakah hidupnya akan seperti ini terus selamanya? Untuk apa sebetulnya dia terlahir ke dunia ini jika sekecap pun wujud bumi tak dia ketahui? Bagaimana dia bisa mengapresiasi kehidupan yang diberikan jika hingga saat ini Hinata tak benar-benar merasa hidup?
Gadis itu tersedu cukup lama, menjejakkan isakan demi isakan yang tak keluar sempurna. Suara yang terdengar seperti alunan napas dengan ritme cepat.
"Hinata?"
Hinata terbelalak dan beranjak duduk. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan. Apa itu barusan? Telinganya tidak salah tangkap, bukan? Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin dia bisa mendengar sesuatu. Dia tuli.
Apakah Hinata tengah berhalusinasi? Apakah pikirannya tengan mempermainkan gendang telinganya?
"Hinata? Aku di depanmu."
Hinata mendongak. Tangannya terangkat, berusaha menyentuh apa pun yang ada di depan sana. Seulur tangan menangkap tangan Hinata, mengarahkan jemarinya pada paras seseorang. Pipi yang tirus, bulu mata yang lentik, hidung yang lancip, dan bibir tipis yang kini mendaratkan kecupan di jemarinya.
Bagaimana dia bisa mendengar? Namun, selain dari suara yang memanggilnya, Hinata tak bisa mendengar suara apa pun.
"Kau hanya bisa mendengar suaraku. Aku bisa mendengarkan isi pikiranmu. Karena itu, mulai saat ini, aku akan menjadi mata, telinga, dan mulutmu."
Siapa? Siapa orang ini? Siapa pemuda dengan rambut sebahu di depannya ini? Siapa pemuda yang mengenakan mantel panjang di depannya ini? Hinata terus meraba tubuh tegap itu. Namun, jemari Hinata, indera perabanya, tidak merasakan familiar dari sosok yang tiba-tiba muncul ini.
Hinata. Itukah namanya? Hinata tak pernah mendengar suara siapa pun memanggilnya sebelum ini. Andai pemuda itu tak meyakinkan, Hinata tak akan sadar bahwa namanya yang tengah dipanggil dengan suara bariton itu.
Siapa? Siapa namanya?
"Kau ingin tahu namaku? Aku Sasuke. Uchiha Sasuke."
Hinata menggenggam tangan sang pemuda, menitikan air mata dengan arti yang berbeda. Hinata lalu belajar bahwa air mata tak hanya menjadi simbol kesedihan karena saat ini dia tidak sedang bersedih. Gadis itu kini bersyukur. Ada suara yang bisa dia dengar. Ada orang yang bisa "mendengarnya".
Sasuke. Hinata masih mempertanyakan siapa pemuda ini. Pemuda yang kini menuntunnya berjalan-jalan berkeliling kota. Pemuda itu membawanya ke banyak lokasi yang sebelumnya belum pernah dia jamah.
"Saat ini, kita berada di depan kedai mochi. Kau ingin mencobanya? Ada beberapa pengunjung di dalam. Ah, ada seekor kucing putih di dekat kakimu. Hati-hatilah jika melangkah."
Begitulah. Pemuda bernama Sasuke akan menjadi "mata" Hinata. Dia juga akan menjelaskan lagu apa saja yang dimainkan oleh seniman jalanan di dekat kedai, bahkan bersiul menirukan nada-nada tersebut sehingga Hinata bisa tahu semerdu apa lagu yang mengisi sore hari di sana. Sasuke membacakan isi menu, menggambarkan tiap mochi yang dihidangkan dengan sangat detail. Pemuda itu menggambarkan kondisi di sekitar tempat duduk Hinata, bahkan menyodorkan vas berisi bunga mawar untuk Hinata cium aromanya.
Sasuke tak pernah diam.
Pemuda itu seolah muncul untuk menjadi penuntunnya. Pemuda itu seolah membiaskan warna hitam yang setiap hari menggelayut hari-hari Hinata. Pemuda itu mencetuskan banyak imajinasi di kepala Hinata, mengulas banyak warna. Hinata kini mengetahui bentuk bunga, mengetahui banyak suara (Sasuke bahkan menirukan suara kucing dan suara mobil penjual ubi bakar), dan gadis itu tak lagi merasakan kesepian.
Sasuke selalu mengantar Hinata hingga dia sampai ke depan kamar. Pemuda itu menggambarkan kediaman Hinata. Satu hal yang membuat jantung Hinata berdebar kencang adalah ketika Sasuke menggambarkan rupa orangtua Hinata, rupa yang tak pernah bisa Hinata lihat dengan kedua bola matanya. Pemuda itu memvisualisasikan mereka sebagai orangtua penyayang dan pasangan berparas tampan-cantik sehingga dari mereka tak heran lahirlah gadis secantik Hinata.
Hinata seringkali dibuat tersipu malu oleh setiap kebaikan Sasuke. Kini, Hinata diajak ke perpustakaan di pusat kota. Pemuda itu membacakan beberapa puisi sesuai permintaan Hinata. Hinata menopang dagu. Menikmati semilir angin sembari mendengarkan syair demi syair yang sang pemuda Uchiha lantunkan.
Sang pemuda bahkan mengajarkan Hinata menulis dan membaca huruf braille. Pemuda itu menaruh sesuatu dalam diri Hinata. Dia menaruh sebuah impian, sesuatu yang tak pernah tercetus dalam benak sang gadis sebelumnya.
"Di depan sana ada tiga orang gadis. Mereka membicarakanmu. Sepertinya, merekalah yang telah mencukur rambutmu setengah bulan lalu."
Tubuh Hinata membatu mendengar penuturan Sasuke. Tubuhnya bersembunyi di balik tubuh menjulang Uchiha. Gadis itu panik. Bagaimana jika hal yang sama terulang kembali? Bagaimana jika tubuhnya didorong lagi hingga menabrak dinding? Bagaimana jika rambutnya dipotong sembarangan? Bagaimana jika bajunya dirobek?
"Tenanglah. Ada aku ..."
Kalimat dari Sasuke membuat napas Hinata tak lagi menderu. Gadis itu menggenggam tangan Sasuke erat, menyelipkan tiap jemarinya ke sela jemari Sasuke. Tak lama, Hinata sekilas merasa rambutnya dijambak sebelum suara teriakan Sasuke terdengar memenuhi kepalanya.
"Mereka sudah kubuat diam," ucap Sasuke.
Rupanya, Uchiha itu memukul tengkuk tiga gadis tersebut dan membuat mereka kehilangan kesadaran. Sang pemuda menjamin mereka baik-baik saja dan berani menjamin, mereka akan jera karena berusaha mencelakakan Hinata.
Sasuke berbisik, "Mereka hanya iri karena kau jauh lebih cantik dari mereka."
Pipi Hinata dibuat panas oleh Sasuke seketika.
Hinata masih terlelap. Gadis itu tersenyum dalam mimpinya. Seolah diajak ke dunia fantasi, Hinata tak hanya melihat kegelapan dalam tidurnya. Kembang mimpinya kini beragam. Di sisi sosok yang terlelap itu, sosok Sasuke tengah berdiri. Mata gulitanya menatap Hinata dengan sendu. Pemuda itu bertekuk letut, menyetarakan tinggi badannya, berusaha sejajar untuk membingkai wajah tidur sang gadis dalam ingatannya erat-erat.
"Hinata, kurasa, sebentar lagi tugasku di sini selesai. Kita harus berpisah."
Tentu saja, kalimat getir itu tak bisa Hinata dengar. Namun, pipi yang hangat seakan ada bibir yang mengecupnya terasa begitu nyata, membuat gadis itu keheranan ketika terjaga.
Sasuke selalu membaca isi pikiran Hinata dan menjawab pertanyaan yang Hinata lontarkan. Sasuke selalu bicara. Namun, ada pertanyaan-pertanyaan yang akan mengunci rapat bibir Sasuke. Pemuda itu tak akan menjawab dari mana dia berasal, siapa dia sesungguhnya, atau kenapa dia tiba-tiba muncul di hadapan Hinata. Pemuda itu sangat misterius walaupun banyak bicara.
Belakangan ini, Hinata merasakan kejanggalan dari sosok sang pemuda. Pemuda itu banyak melamun, membuat Hinata harus mengulang pertanyaan yang sama untuk membuyarkan lamunan sang pemuda. Kemarin, sesaat sebelum pamit, Sasuke bahkan mendekap tubuh Hinata. Dekapan yang begitu erat dan hangat, membuat Hinata merasa aman ketika menyandarkan dahinya ke dada bidang yang pemuda.
Kemudian, topik perpisahan muncul ke permukaan.
Hinata bertanya berulang kali, apakah perjumpaannya dengan Sasuke akan berakhir kelak? Akankah Sasuke mendampinginya hingga akhir hayat?
Sasuke merapatkan mulutnya, menjahit bibir dan diam seribu bahasa. Pemuda itu hanya menempelkan kepalanya di pundak Hinata, menghirup aroma lavandula yang familiar.
Hinata berdehem untuk sekian kalinya. Entah kenapa, pagi ini lehernya terasa sakit. Hinata merasa ada garis lurus di sepanjang lehernya yang tidak dia ketahui. Tenggorokan, mata, dan telinganya terasa sakit. Sesekali, Hinata bahkan bisa merasakan telinganya berdenging hingga dia harus menyernyit.
Kini, Hinata dan Sasuke tengah berjalan di stasiun setelah usai mengunjungi banyak lokasi bersejarah di Hiroshima. Sasuke melepaskan genggaman tangannya dari Hinata.
"Hinata, aku memiliki kado istimewa untukmu," ujar sang pemuda tiba-tiba.
Hinata baru saja hendak mengajukan pertanyaan, tapi sepasang telapak tangan Sasuke menutup matanya.
"Aku akan menghitung satu sampai tiga dan kau akan tahu apa kado dariku."
Hinata kebingungan. Apa yang Sasuke sebenarnya telah siapkan untuknya?
Namun, Sasuke tak memberi kesempatan untuk menyela.
"Satu ... Dua ... Tiga!"
Hinata menutup telinga. Seketika, suara keriuhan di stasiun memenuhi indera pendengarannya. Seakan sumpalan di dalam telinga terlepas, Hinata bisa mendengar hiruk-pikuk stasiun. Suara celotehan pengunjung, tangisan bayi, dan ah! Hinata terkejut ketika mendengar suara kereta api yang melintas. Membuka mata, Hinata merasakan kemilau putih sebelum akhirnya dia bisa melihat sosok demi sosok berhamburan di depannya. Hinata bisa melihat kursi-kursi panjang yang terisi penuh, kereta api yang tengah berhenti, dan monitor di atas dinding.
Jantung Hinata seolah hendak mencuat keluar saking kagetnya.
Hinata berbalik, hendak bertanya pada Sasuke mengenai hal mengejutkan ini. Namun, tak ada sosok siapa pun yang berdiri di belakangnya. Sang gadis membuka mulut.
"S-Sa ... Sasss ... Sassukhe. S-Sasuke? S-Sasuke-kun?" Mata sang gadis lembap. Air mata berjatuhan begitu deras. Itukah suaranya sendiri? Dia bisa bicara?
"S-Sasuke-kun? K-kau di mana?" Hinata bicara terbata-bata.
Satu jam, dua jam, dan berjam-jam kemudian, Hinata tak lagi tahu waktu. Dia terus duduk menanti sosok sang Uchiha datang dan memberikan penjelasan. Dia terus duduk menanti sosok itu hadir dan menyambut genggaman tangannya. Namun, hingga lampu-lampu stasiun dimatikan, hingga tak ada pengunjung lain selain dirinya, hingga petugas stasiun menegurnya untuk pergi, sosok itu tak kunjung datang.
Hinata kembali ke rumah membawa kabar membahagiakan bagi orangtuanya. Mereka sontak mendekap Hinata dan bersyukur kepada Tuhan berkali-kali karena telah memberikan keajaiban bagi anak mereka. Hinata turut larut dalam tangisan, berpadu dengan tangisan dua orang lainnya. Namun, tangisan Hinata memiliki arti yang berbeda. Tangisannya adalah tangisan kesedihan.
Butuh waktu bertahun-tahun bagi Hinata untuk bisa memulihkan rasa sedihnya. Aneh memang. Dia hanya melewatkan kebersamaan bersama Sasuke kurang lebih dua bulan. Namun, sosok pemuda itu terasa begitu berkesan, terasa begitu berharga, sampai-sampai di awal kepergian Sasuke, Hinata memilih mengurung diri.
Hinata sadar, Sasuke pergi dengan menitipkan pesan bagi Hinata. Pesan itu adalah masa depan yang tak pernah Hinata sangka sebelumnya. Kini, dia mulai menjajaki masa depan yang Sasuke janjikan padanya. Hinata kini menjadi seorang penyair. Buku syairnya laris di pasaran dan menjadi trend. Ada banyak muda-mudi yang menggunakan syairnya untuk menyatakan cinta dan melamar pasangan mereka, yang terjamin lancar.
Hinata pernah bertanya pada teman-temannya, apakah mereka mengenal Uchiha Sasuke atau tidak, yang dibalas teman-temannya dengan tawa geli. Mereka menertawakan Hinata dan menganggap Hinata tengah berhalusinasi.
"Hinata, apa kau bercanda? Sasuke? Uchiha Sasuke? Dia itu tokoh sejarah zaman dahulu kala! Mana mungkin dia masih hidup di era kita?" seorang gadis bahkan memukul-mukulkan tangannya ke meja saking kegelian.
Setelahnya, Hinata menyambangi perpustakaan dan di sanalah dia bertemu kembali dengan Sasuke ... di dalam sebuah buku sejarah di era ninja zaman dahulu. Uchiha Sasuke. Putra kedua Uchiha Fugaku dan Uchiha Mikoto. Tak ada foto atau ilustrasi sang pemuda. Namun, entah bagaimana, Hinata merasa bahwa Sasuke yang pernah muncul dalam hidupnya memang Sasuke yang dituliskan dalam buku tersebut.
Jemari Hinata membalik kembali lembar buku. Matanya tertuju pada nama lain. Hyuuga Hinata. Anak pertama pasangan Hyuuga yang dibekali byakugan. Hyuuga Hinata? Kenapa nama itu membuat dadanya berdenyut? Namun, namanya bukanlah Hyuuga Hinata. Namanya adalah Ichikawa Hinata.
Hinata memejamkan mata dan membiarkan air mata meleleh ke pipinya, menelusuri lekuk dagunya, dan menetes di atas buku sejarah yang tengah dibacanya. Kenapa tiap kali dia membaca deretan nama yang ada di dalam buku sejarah itu, perasaanna menjadi membuncah?
Cerita ini mungkin akan dibawanya sampai mati sebagai pertanyaan yang tak akan pernah terjawab. Siapa sesungguhnya Sasuke yang muncul di hadapannya? Kenapa Hinata mendapatkan kembali panca indera yang sempurna?
Hinata meremas bajunya sendiri. Jika kelak bertemu kembali, Hinata akan mendesak Sasuke untuk menjawab semua pertanyaan itu, termasuk pertanyaan apakah Sasuke-lah yang telah mengecup pipinya diam-diam?
Fin
Omake:
Sebagai ninja yang bebas tanpa terikat misi-misi formal dan memiliki sharingan-rinnegan sekaligus, Sasuke bisa pergi ke berbagai dimensi, bahkan menjelajahi waktu. Suatu hari, pemuda itu tanpa sengaja datang ke masa depan ketika ninja adalah cerita usang. Era ketika chakra tak lagi bisa dimanfaatkan siapa pun dan hanya menjadi bagian dari manusia untuk melakukan meditasi. Di sanalah Sasuke melihat sesosok gadis yang tak asing lagi baginya. Hyuuga Hinata. Gadis itu tengah mengelus seekor kucing, bahkan ketika Sasuke mengetahui fakta bahwa Hinata di era ini tidak bisa melihat, mendengar, dan berbicara.
Awalnya, Sasuke tak bermaksud untuk mengintervensi masa depan. Sasuke tak tahu hal apa yang akan menanti jika dia berani mengubah masa depan atau masa lalu. Namun, saat melihat tangan-tangan asing mendorong kasar gadis itu, kepala Sasuke terasa mendidih. Sang Uchiha membulatkan tekad untuk mendampingi sang gadis sementara waktu.
Chakra Sasuke tak cukup banyak untuk memulihkan panca indera Hinata. Namun, setidaknya, pemuda itu bisa membuat sang gadis berkomunikasi dengannya, dengan mengaktifkan rinnegan. Sasuke perlahan-lahan justru lupa tujuannya sendiri. Dia ingin berlama-lama di sana, menuntun Hinata yang tampak sangat rapuh ini untuk lebih kuat, sekuat Hinata yang ada di dunianya.
Sasuke tahu, ada saatnya dia tidak boleh menetap terlalu lama di dunia ini. Dia harus kembali ke dunianya. Namun, Sasuke tak rela meninggalkan Hinata. Itulah saat ketika sang pemuda pergi ke suatu masa ... saat dunia shinobi musnah dan Hinata gugur dalam pertempuran. Sasuke meninggalkan dunia itu dengan sebuah kain bundar di tangan, berisikan kepala Hinata untuk ditransplantasikan. Malam harinya, Sasuke dengan nekat melakukan teknik yang sering dipraktikkan gurunya, Orochimaru, ketika dia masih menjadi bidak pria ular itu.
Sasuke ingin Hinata bahagia. Sasuke tidak tahu Hinata mana yang menarik hatinya. Namun, yang terpenting, dia harus segera menyudahi perjumpaannya dengan Hinata di dunia ini dan ini adalah saat yang tepat.
Hinata di dunia ini akan mengepakkan sayap. Dia tak perlu lagi dituntun Sasuke. Gadis itu akan bisa menjelajahi dunia, melihat, mendengar, dan bicara dengan inderanya sendiri. Walaupun menyakitkan, itulah akhir perjumpaan mereka berdua.
.
.
.
.
.
Sasuke keluar dari portal dimensi dengan leher ditekuk. Matanya masih terasa basah. Tubuhnya jatuh terduduk, entah karena kelelahan atau karena rasa kehilangan. Ada rasa sepi yang menganga. Uchiha muda terus tertunduk sampai seulur tangan menyentuh dahinya.
"Sasuke-kun? Kau tidak enak badan?"
Menengadah, Sasuke berserobok dengan mata mutiara yang tak asing. Mata yang melihatnya dengan pancaran kelembutan yang sama. Mata yang menunjukkan kekhawatiran yang senada.
"Hinata?"
"Kau bisa berdiri? Berpeganglah padaku. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
Sasuke terkekeh. Ditariknya kepala Hinata sehingga menubruk bahunya. Sasuke mendekap sang gadis, mengabaikan tangan demi tangan yang meronta. Sampai akhirnya, Hinata tak lagi melakukan perlawanan.
"Biarkan aku begini sebentar saja, Hinata," bisik Sasuke.
.
.
.
.
.
Cokelat Abu, 2020.
