Tuhan mengirim seseorang tidak untuk selalu tinggal disisimu, terkadang mereka berlalu dan meninggalkan pelajaran berharga untuk kita. Tetapi tidak saat ia pergi, semua yang tersisa padaku hanya luka yang sayangnya tak bisa diobati siapapun.

Pada akhirnya, janji bersama selamanya itu hanyalah kepalsuan karena dunia tak sebaik itu untuk membiarkan kami bersama. Bahkan jika kami bertemu di kemudian hari, aku harap ia hanya menganggapku bayangan masa lalunya saja karena aku tak pantas mendapatkan senyumnya yang begitu polos.


Suasana ruang latihan itu begitu mencekam dan menjadi satu-satunya orang yang tak mengerti keadaan membuat semuanya semakin canggung untuk Yoongi.

Jungkook dan member baru yang ia tahu bernama Taehyung itu telah pergi lebih dari dua jam yang lalu namun suasana yang mereka tinggalkan tidak juga berubah, muram dan berat. Seokjin yang biasanya selalu berisik bahkan tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.

"Hyung..."

Panggilan yang terdengar tanpa semangat itu berasal dari Namjoon, satu hal tak biasa dengan nada suaranya yang begitu percaya diri.

Seokjin berbalik menghadap Namjoon lalu menghela napas, ia menghampiri Namjoon yang duduk bersandar pada kaca ruang latihan lalu ikut duduk bersamanya. Suasana hening kembali terjadi, Yoongi semakin kesal dibuatnya.

"Ya! Bisa seseorang menjelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Suasana ini lama-lama membuatku ingin meledak."

Yoongi berujar dengan suara cukup kencang karena kesal, dia sudah cukup menjaga kesabaran dan menunggu mereka membuka mulut sejak tadi. Tapi sepertinya memang tak ada yang mempunyai niat untuk menjelaskan padanya, bahkan setelah ia melampiaskan amarahnya mereka masih terlihat mengabaikannnya.

"Keure, abaikan saja aku. Terserah kalian saja, aku pergi!" Yoongi melangkah pergi keluar ruang latihan dan membanting pintu cukup keras.

Semua orang menghela napas, Namjoon terlihat memijat kepalanya sejenak.

"Jiminie, kejar Yoongi hyung." Ujar Namjoon seraya menatap Jimin yang kelihatan tidak fokus.

"Eoh?" Jimin mengangkat kepalanya saat tangannya ditepuk pelan oleh Hoseok yang duduk di sebelahnya.

"Sebaiknya kau saja yang menjelaskannya pada Yoongi hyung." Ujar Hoseok singkat, pandangannya bahkan tak tertuju pada Jimin yang jadi lawan bicaranya.

"Huh? Wae?"

"Sudah pergi saja, Yoongi akan lebih tenang kalau kau yang menjelaskan." Ujar Jin yang terlihat sangat serius.

"Baiklah, baiklah."

Jimin bangkit dari duduknya malas-malasan, jujur saja ia tak ingin menjadi yang menjelaskan hal ini pada Yoongi. Masalah ini bukan sesuatu yang ingin dia bicarakan lagi, tapi cepat atau lambat Yoongi memang harus mengetahui hal ini agar BTS tetap harmonis.


Yoongi terlihat menutup lokernya, wajahnya masih menunjukkan rasa kesal yang begitu kentara.

"Hyung!"

Panggilan itu membuatnya berbalik, seseorang yang memiliki suara yang begitu familiar itu berlari ke arahnya. Jimin terlihat terburu-buru menghampiri Yoongi yang masih berwajah masam.

"Wae?"

"Hyung, jangan pergi dulu." Jimin terengah-engah, namun Yoongi hanya menyilangkan tangan dengan wajah ketus.

"Wae?"

"A-aku akan menjelaskan padamu."

"OK, coba jelaskan padaku." Ujar Jimin angkuh.

"Tapi hyung harus mendengarkan aku sampai selesai."

"Jelaskan saja, aku ingin dengar kau mengarang cerita apa demi Jungkook."

"Maksud hyung?"

"Tak ada, katakan saja apa yang ingin kau katakan selagi aku masih ingin mendengarkanmu." Yoongi memalingkan wajahnya saat mengatakan itu.

"Baiklah, tapi kau harus mendengarkan aku hyung."

"Hmm.."

"Ayo cari tempat lain untuk bicara."


Entah siapa yang menyadari bahwa hari ini mulai beranjank petang, tapi yang jelas bukan Jungkook orangnya. Seorang diri berdiri memeluk tubuhnya yang mulai merasa dinginnya angin, ia tak peduli akan semua orang yang memerhatikannya dengan pandangan tertarik.

"Apa yang kau lakukan disini?"

Jungkook yang berujar, walau pandangannya masih terarah pada matahari yang mulai terbenam.

Sesosok manusia terlihat mendekatinya, Jungkook masih tak memberikan respon. Terlihat abai dan tidak peduli, tapi saat sosok itu menyelimutinya dengan selimut tipis Jungkook sama sekali tak menolak.

"Apa kau tidak kedinginan berdiri disini?" Tanya orang itu seraya mengeratkan selimut pada Jungkook.

Jungkook masih tak bersuara dan sama sekali tak menolak perlakuan orang itu bahkan saat tubuhnya dipeluk begitu erat. Jungkook menghela napas lelah, ia menyentuh tangan sosok itu sejenak sebelum bicara.

"Bisa kau lepaskan aku sekarang?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Aku tidak bisa."

Jungkook tertawa sarkastik, ia menghempaskan pelukan orang itu dengan paksa. Ia tersenyum singkat pada sosok yang memandangnya memelas.

"Jangan kekanakan begini, Taehyung-shi. Katakan saja apa yang ingin kau katakan setelah itu kau boleh pergi."

"Jungkook-ah, maafkan aku."

Taehyung mencoba menggenggam tangan Jungkook, namun dihempaskan begitu saja setelahnya.

"Itu saja? Kalau begitu aku akan pergi."

"Jungkook.."

"Ada lagi yang ingin kau bicarakan?"

"Bisa kau tinggal disini beberapa waktu, hanya sebentar saja."

"Maaf aku tidak bisa, jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan lebih baik kau cepat katakan sekarang."

"Jungkook-ah.."

"Taehyung-shi, aku tidak memiliki banyak waktu untuk omomg kosong dan tolong jangan memanggilku begitu karena seingatku kita tidak sedekat itu."

Wajah Jungkook begitu datar tanpa ekspresi, sangat berbeda dengan wajah lawan bicaranya yang terlihat begitu kacau karena emosinya.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan disini, seharusnya kau ada di Jepang sekarang bersama kekasihmu itu."

"Jungkook, ku mohon dengarkan aku kali ini saja. Kau bisa pergi saat kau telah mendengarkan semua penjelasanku."

"Tidak perlu, omonganmu hanya berputar di tempat, tak ada perkembangan sama sekali."

Jungkook berbalik hendak pergi dari hadapan Taehyung, wajahnya mengeras, tangannya mengepal keras hingga terlihat kemerahan.

"Dengarkan aku, aku mengejarmu sejauh ini hanya agar kau mendengarkan aku sekali ini saja."

Kata-kata itu tak juga menghentikan langkah Jungkook yang semakin menjauh, Taehyung mengejarnya dengan lelah. Lelah hatinya karena terluka, tapi Jungkook seperti menganggap ia tak punya hati.

"Aku menyayangimu."

Akhirnya Jungkook berhenti di tempatnya berdiri, terlihat wajahnya yang tertegun. Taehyung memanfaatkan itu untuk menghentikan pergerakan Jungkook, mengunci dengan kedua tangannya yang melingkar erat.

"Aku mencintaimu."

Suasana hening sejenak hingga tawa Jungkook menghentikan keheningan itu. Jungkook melepaskan pelukan itu seiring tawanya yang berhenti terdengar.

"Ah, lucu sekali." Ujar jungkook pelan, ia menghapus tetesan kecil air matanya. Hanya Jungkook yang tahu arti air matanya itu.

"Taehyung-shi, apa kau ingat apa yang aku katakan saat kita pertama kali bertemu tujuh tahun yang lalu?"

"..."

"Kau tidak ingat, aku bilang kau terlihat seperti pangeran baik hati dari negeri dongeng. Lucu sekali karena sekarang kau adalah orang yang paling tidak ingin aku temui di dunia ini, di kehidupan ini aku berharap bisa menghindari takdirku untuk bertemu denganmu."

"Jungkook.."

"Jungkook, Jungkook.. Apa kau tidak punya hal lain yang bisa kau ucapkan?"

"..."

"Kalau begitu biarkan aku mengucapkan sesuatu. Selamat atas pertunanganmu, Tzuyu gadis yang hebat dan terlalu sial karena mendapatkan orang sepertimu."

Taehyung terhenyak ditempatnya, sejujurnya ia hanya menyerah untuk menjelaskan semuanya pada Jungkook. seperti apapun ia bicara dan menjelaskan semuanya pada Jungkook, ia tahu semua itu hanya akan berlalu. Ia tahu betul bagaimana sifat lawan bicaranya.

"Huh..Aku pergi, kali ini jangan coba-coba menghentikan aku dengan omong kosongmu."

Kali ini Taehyung tak menghentikan Jungkook, pandangannya mengikuti setiap jejal yang Jungkook tinggalkan. Hingga akhirnya Jungkook menghilang dari pandangannya, Taehyung tak juga memalingkan wajahnya. Hanya menatap bayangan Jungkook yang menghilang dalam diam.

Laut yang terlihat begitu biru sore itu seolah mengejek hatinya yang juga biru. Taehyung hanya tak tahu seseorang kehilangan tetesan air matanya saat ia pergi.


"Lalu, apa kau akan tetap diam?"

Jimin dan Yoongi terlihat duduk berhadapan, satunya tertunduk danbyang lain menyilangkan tangan dengan angkuh. Kalian bahkan tak butuh bantuan hanya untuk mengidentifikasikan siapa yang melakukan apa.

"Jimin, apa tak ingin mengatakan apapun?"

"Hyung.."

"Lupakan saja, aku terlalu bodoh hingga mau mengikutimu kemari. Kalian bisa simpan rahasia kalian dan tak perlu menganggapku bagian dari BTS setelah ini."

Yoongi bersiap beranjak tapi tangan kanannya ditahan diatas meja dengan kedua tangan Jimin. Wajah Jimin terlihat memelas dan bingung.

"Hyung, aku hanya tak tahu harus menjelaskannya darimana. Masalah Jungkook dan Taehyung begitu rumit, biarkan aku menyusun kata-kataku sebentar."

"Hah.. Kau ingin aku menunggu sampai kapan? Kau tahu sudah berapa lama kita disini? Orang-orang bahkan memandang aneh padaku."

"Hyung, abaikan mereka. Aku akan mengatakan semuanya padamu tapi biarkan aku tenang sebentar."

Jimin menarik dan menghela napas berulang-ulang, Yoongi hanya memerhatikan dengan pandangan kurang nyaman.

"Cepat jelaskan." Ujar Yoongi dengan pandangannya yang menusuk.

"Ba-baiklah, ini semua dimulai tujuh tahun yang lalu saat mereka bertemu."


Hai, hai...

Terima kasih yang sudah memberi respon cerita abal-abalku ini.

Maafkan diriku yang lambat update, sejujurnya bahkan aku hampir melupakan alur cerita yang ingin aku buat sebelumnya. Tapi demi kalian, aku menggali ide-ide lama yang hampir aku lupakan..

(Aku yakin sekarang ada yang bilang "Ah, Authornya lebay." Maafkan kelebayan diriku, OK? )

Untuk chapter kedua ini, aku memutuskan untuk memakai nama asli member BTS. Maafkan diriku jika namanya ada yang salah.

(I'm newbie ARMY, aku bahkan tak punya album mereka... Tolong jangan bashing diriku.)

Semoga kalian menyukai ceritaku ini dan jangan lupa komentar, kritk membangun dan sarannya. Aku sangat menantikan respon kalian..

ps. Aku tak ikhlas menggunakan Tzuyu sebagai orang ketiga, tapi waktu buka Utube Tzuyu adalah idol cewek yang sering ship sama Taehyung. Maafkan aku Tzuyu-ah.. (I'm ONCE too)

Lots of LOVE

Usosutki-chi