Beberapa manusia, Laki-laki dan perempuan, percaya pada kata-kata optimistis di dalam hati mereka. Percaya bahwa semuanya akan tercapai asal mereka tetap berusaha. Bekerja keras di siang hari dan berbisik penuh harap di malam hari.

Siapa yang tahu apakah mereka benar-benar percaya pada sekadar kalimat kosong agar mereka bisa bertahan.

Bertahan dari keburukan.

Bertahan dari kesedihan.

Bertahan dari pengkhianatan.


tap tap tap

Suara langkah halus pemuda yang mengenakan seragam itu berpencar di udara. Lorong sekolah yang kosong semakin menegaskan suara yang terkesan malu-malu.

Pemuda itu, Jungkook, berjalan dengan kepala tertunduk. Seluruh ruangan kelas tertutup dan tak terdengar suara dari dalam sana. Ia hanya bisa menghela napas, meredakan kepanikan yang ia rasakan karena terlambat di hari pertamanya sekolah.

Jungkook tetap melangkah ke kelasnya yang terdapat di ujung lorong, walau dengan sangat berat hati. Ketika ia sampai ke kelas tujuannya, ia hanya bisa berdiri diam di depan pintu dengan hati gelisah. Ia bisa merasakan kedua tangannya yang basah karena keringat, rasa cemas tidak membantunya untuk tenang sama sekali.

knock knock

Jungkook memberanikan diri untuk mengetuk pintu kelas itu dan menunggu dengan kesepuluh jari yang berkait satu sama lain. Lama ia menunggu tapi ia tak mendengar sahutan dari dalam kelas, sehingga Jungkook mengetuk pintu itu beberapa kali lagi. Tapi tidak juga ada jawaban sehingga akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka pintu.

"Permisi." Ujar Jungkook yang terdengar seperti berbisik.

Saat kedua matanya menelusuri isi kelas, ia hanya menemukan ruangan kosong tanpa penghuni. Jungkook terlihat bingung karenanya, kenapa kelasnya bisa kosong di hari senin. Ia mengecek tanggal yang ada di smartphone-nya tapi ia tidak menemukan kesalahan sama sekali. Ini memang hari senin dan bukan tanggal merah, jadi kenapa kelasnya kosong.

"Apa aku salah ruangan?" Gumamnya lalu melihat papan penanda ruangan yang ada di atas pintu, "Tidak salah."

Jungkook bersiap berbalik pergi saat suara keras kursi yang jatuh terdengar, sontak saja Jungkook berbalik badan mencari asal suara.

Dipojokan kiri kelas, tempat suara keras itu berasal, seseorang terlihat menunduk memegang kepalanya nampak kesakitan. Jungkook bisa mendengar orang itu mengumpat beberapa kali hingga Jungkook merasa takut untuk menegur. Orang itu tampak membersihkan pakaiannya, seragam yang sama seperti yang dipakai Jungkook.

"Eoh? Apa kami sekelas?" Pikir Jungkook saat itu, ia sama sekali tidak memperhatikan gaya berpakaian orang itu sama sekali.

Walaupun orang itu memakai seragam yang sama dengan Jungkook, tapi ia kelihatan urakan. Banyak anting yang ia pakai, salah satunya berbentuk salib yang menjuntai panjang di telinga kirinya. Singkat cerita, Orang-orang akan melabelinya sebagai preman sekolah.

"Permisi." Ujar Jungkook namun orang itu sama sekali tak menanggapinya.

"..."

"Eh, kenapa dia menatapku begitu?" Jungkook bergumam, reflek ia memeriksa dirinya sendiri. Bertanya-tanya apakah dia memakai sesuatu yang tidak benar.

Mata orang itu seperti menelusuri seluruh tubuhnya, tak berkedip sama sekali. Jungkook merasa sangat tidak nyaman tapi tak berani untuk menegur orang itu, takut-takut kalau ia menyinggung orang yang salah.

Senyum canggung muncul diwajahnya, Jungkook berbalik pergi dari ruang kelas. Lebih baik ia kembali ke kantor guru untuk bertanya daripada menjadi manequin di depan orang ini. Lagipula, orang ini sepertinya tak berniat menjawab pertanyaannya sama sekali.

"Menyebalkan." Ujar Jungkook seraya meninggalkan orang asing itu.

Sama sekali tidak menyadari seringai kecil yang muncul dari orang yang ditinggalkan.


Saat Jungkook sampai di ruang guru, ia melihat ruangan yang lengang tanpa penghuni. sebenarnya tidak juga, ada bibi yang sedang menyapu lantai dengan rajin. Setelah menimbang-nimbang, Jungkook menghampiri bibi itu untuk bertanya.

"Permisi." Ujar Jungkook penuh sopan santun.

"Ya, ada apa?" Pandangan bibi menatapnya sinis, nyali Jungkook ciut seketika.

"Maaf, boleh saya menanyakan sesuatu?" Jungkook bisa mendengar suaranya yang gugup.

"Iya, mau nanya apa?"

Napas Jungkook tertahan seketika, "kenapa bibi ini sinis sekali?" Pikirnya.

"Maaf bibi, kemana semua guru hari ini? Aku murid baru disini dan aku berniat untuk melapor." Ujar Jungkook panjang lebar, ia berharap bibi mengurangi sedikit rasa permusuhan padanya.

"Eoh, murid baru?" Seketika wajah bibi itu menjadi ramah. Jungkook menjawab pertanyaan itu dengan anggukan keras, bersyukur karena ia tak dimusuhi lagi.

"Sedang ada pemeriksaan di aula, semua murid dan guru sedang ada di sana. Kamu bisa menunggu di ruang guru sampai urusan selesai atau kamu bisa menyusul ke aula jika ingin diperiksa juga." Ujar bibi itu panjang lebar, caranya bicara juga tak sinis seperti Jungkook menyapanya sebelumnya.

"Tidak, bi. Aku akan menunggu di ruang guru saja." Jawab Jungkook, sebenarnya ia hanya tak ingin ikut diperiksa juga. Para guru itu terkadang terlalu berlebihan saat menangani kerapihan siswa, salah sedikit mungkin ia akan kena tempeleng.

Seketika Jungkook merinding, mengingat semua hukuman yang ia terima di sekolahnya dulu. setelah membungkuk hormat pada bibi itu, ia bergegas ke ruangan guru. Ia tak bertanya arah karena ia ingat saat ia melewati ruangan guru sebelumnya.

Sampai di ruangan guru, ia mencari-cari tempat duduk untuk menunggu. Senyum cerah tanpa sadar terkembang saat ia menemukan satu kursi di dekat pintu ruang guru. Ia duduk di sana sebentar saat tiba-tiba bel sekolah berbunyi nyaring dan mengagetkan Jungkook.

Tak lama, terdengar suara-suara orang mengobrol cukup ramai. Beberapa siswa melewati ruang guru dan menatap Jungkook heran hingga Jungkook merasakan rasa malunya memuncak dan dia hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang sedikit merah.

"Kenapa kamu disini?" Ujar seseorang dengan suara dalam, saat Jungkook mengangkat wajahnya ternyata salah satu guru dengan kumis tebal dan wajah galak.

"Itu... Sa-saya murid baru, pak." Ujar Jungkook seraya berdiri tiba-tiba, ia merasa takut berhadapan dengan guru ini.

"Murid baru?" Jungkook mengangguk keras membenarkan pertanyaan itu.

"Datang terlambat?" Jungkook juga mengangguk walau kecil.

Jungkook bisa merasakan pandangan guru ini memperhatikannya lekat-lekat, dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. Tiba-tiba pundak kanannya ditepuk cukup keras, membuat Jungkook semakin menegang karena takut.

"Ayo masuk ke ruangan sebentar, nanti bapak atar kamu ke kelas. Hahaha..." Ujar guru itu membuat Jungkook memaksakan senyum saat melihat wajah bapak guru memasang senyum ceria.

"Perkenalkan nama saya Park Jin Young, kamu bisa memanggil saya Park Saem." Ujarnya masih dengan wajah ceria.

"Hahaha... Iya, Saem. Saya Jeon Jungkook."

"OK, Jungkook. Ayo ikuti saya ke ruangan."

"Siap, Saem."

Kemudian keduanya tertawa lagi, satu dengan tawa cerianya dan yang lain dengan tawa paksa yang canggung.

Tak jauh dari sana, berdiri dua orang yang nampak mengamati gerak-gerik Jungkook sedari tadi.

"Kau mengenal anak baru cupu itu?"

"Tidak juga, hanya bertemu dengan dia sekali tadi."

"Oh! Calon makanan baru?"

Orang yang ditanya terkekeh karena pertanyaan itu, ia sama sekali tak menjawab pertanyaan itu dan hanya berbalik meninggalkan temannya.

'Mainan baru'


MAAF...

Sebelumnya saya kena WB dan enggak bisa nulis sama sekali, terus lupa sama password account...

Tapi akhirnya kemarin jam 11 malam saya ingat password dan langsung nulis ini sebagai permintaan maaf, akhirnya selesai dan langsung di post...

Sekali lagi, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.

Lots of LOVE

Usotsuki-chi

ps. Alasan saya enggak bohong sama sekali...

pss. seketika saya nyesal make Usotsuki-chi sebagai nama pena..