Baekhyun menghela nafasnya, menatap rumah besar bercat kuning dengan campuran oren di hadapannya pasrah. Di tangannya sudah ada kotak Tupperware berwarna hijau yang isinya mie goreng special buatan sang mama. Baekhyun kembali menghela nafasnya, menatap bel rumah itu dengan ragu-ragu, antara ingin menekan dengan tidak. Jika ia tidak menekan bel maka mie goreng special buatan sang ibu tidak akan dapat ia berikan pada si pemilik rumah. Tetapi jika ia menekan bel, ia akan masuk ke dalam rumah dan akan bertemu dengan bocah gendut yang mesumnya luar biasa.
Baekhyun masih ingat kejadian minggu lalu di mana dirinya disuruh untuk menemanis bocah gendut itu pergi ke kelas aneh malah berakir dengan dirinya yang dikejar oleh bocah-bocah sinting. Baekhyun lagi-lagi menghela nafasnya, ia bersumpah bahwa dia tidak akan pergi ke tempat pembesaran pisang itu lagi. Bahkan hanya melewati gedungnya Baekhyun tidak sudi.
"Huh! Baiklah Baekhyun, positive thinking saja! Siapa tahu Chanyeol sedang tidak ada di rumah? Siapa tahu dia sedang bermain ke rumah temannya? Ya benar! Dia pasti sedang bermain ke rumah temannya, jadi ia tidak ada di rumah!"
Baru saja jari telunjuknya yang lentik itu akan menekan bel, ia dikejutkan dengan suara anak kecil. Suara anak kecil yang sangat ia kenal, suara yang menurutnya, seperti panggilan untuk dirinya masuk ke dalam neraka.
"Hyung sedang apa di depan rumahku? Merindukan ku ya?" sontak itu membuat Baekhyun membalikkan tubuhnya. Dapat dilihatnya bocah laki-laki dengan tubuh yang super makmur tengah menggenggam sebatang es krim berwarna coklat.
"Mimpi saja sana!" Baekhyun menjawab dengan suara yang ketus, namun bukannya kecewa, bocah laki-laki dengan es krim di tangan itu malah melompat riang. Membuat lemak pada tubuhnya ikut melompat.
"Bagaimana bisa hyung tahu jika aku sering memimpikan hyung? Apa jangan-jangan kita memang ditakdirkan untuk bersama? Ya Tuhan, ya Tuhan! Aku sungguh senang!" tubuh gempalnya itu bergoyang kekiri dan kekanan karena terlalu senang.
Dahi Baekhyun mengernyit, jijik melihat es krim yang meleleh hingga ke lengan baju Chanyeol. "Es krim itu meleleh bodoh!" sontak Chanyeol langsung menjilat lelehan es krim yang mengotori tangannya dan itu kembali membuat Baekhyun menyerngit jijik. "Hey, omong-omong ibumu ada kan?"
Mata bulat itu dengan cepat memicing, menatap curiga remaja laki-laki di hadapannya. "Kenapa hyung mau bertemu dengan ibuku? Ibuku sudah punya ayahku, hyung tidak boleh mengambilnya!" Baekhyun memutar bola matanya, rasanya ia ingin melempar Tupperware milik mamanya ini ke kepala Chanyeol. Siapa tahu jika ia melakukannya pikiran Chanyeol kembali waras seperti anak umur 6 tahun pada umumnya.
"Bukan bodoh! Aku ingin mengantar ini," Baekhyun mengangkat Tupperware berwarna hijau yang ada di tangannya. "Ibuku membuat mie goreng dan ingin memberikannya pada ibumu," sejujurnya Baekhyun bisa saja memberikannya melalui Chanyeol, tetapi mamanya itu mengancam akan membuang komik-komik miliknya jika ia tidak memberikan mie goreng itu langsung pada ibunya Chanyeol. Jadinya ketika Chanyeol tersenyum cerah sambil membuka pintu pagar, ia terpaksa untuk ikut masuk ke dalam.
"Tenanglah Baekhyun, ini hanya sebentar. Berikan mie goreng ini lalu pamit pulang, ya! Benar!" gumamnya dalam hati.
PERJANJIAN
.
By Bunnie B
.
boyXboy, TYPO
Baekhyun mengernyitkan dahinya ketika melihat Chanyeol yang tengah duduk manis di sampingnya. Maksudnya duduk manis itu benar-benar manis, kaki di rapatkan, kedua tangan bertumpu pada paha, pipi yang merona dan poni rambut diselipkan di belakang telinga. Baekhyun bertanya-tanya, kenapa Chanyeol bersikap menggelikan seperti itu? seperti seorang gadis yang sedang dipersunting oleh calon suaminya.
Tunggu!?
Di persunting!?
Apa jangan-jangan bocah bertubuh sangat makmur itu berpikir jika Baekhyun akan mempersunting Chanyeol? Jika ia yang mempersunting Chanyeol maka ia yang akan menjadi seme kan? Ia sih mau-mau saja, tetapi jika ukenya seperti Chanyeol? Baekhyun lebih baik menjadi straight dan menikah dengan Sora. Menyadari jika ia sudah berpikiran gila seperti Chanyeol, Baekhyun menggelengkan kepalanya. Otaknya sepertinya sudah rusak karena terlalu sering berdekatan dengan Chanyeol.
"Baekhyun ini," Nyonya Park kemudian datang sambil menyerahkan Tupperware hijau milik mamanya. "Bilang terima kasih pada ibumu ya, bibi sudah mencuci bersih kok tempatnya." Tambahnya.
Baekhyun tersenyum, ia bangkit dari duduknya lalu mengambil Tupperware milik ibunya. "Kalau begitu Baekhyun pamit ya bibi, sudah sore." Nyonya Park menganggukkan kepalanya, ini memang sudah sore jadi ia tidak berhak untuk menahan Baekhyun lebih lama apa lagi mengajak kecengan buah hatinya itu untuk ikut makan malam bersama. Bisa habis ia dibunuh oleh Nyonya Byun, wanita paruh baya itu paling tidak suka jika acara makan malam bersama keluarganya dikacau oleh orang lain.
"Bibi juga tidak bisa menahanmu sampai makan malam, hati-hati di jalan ya Baekhyun."
Baekhyun menganggukkan kepalanya, baru saja dirinya akan membuka pintu, seseorang menarik ujung kaosnya kuat. Hampir saja ia terjungkal ke belakang jika ia tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya sendiri. Baekhyun menggeram, menahan amarah. Ia yain 100 % jika yang melakukanny adalah Chanyeol. Memangnya siapa lagi yang akan melakukan? Nyonya Park? tidak mungkin! Untuk apa wanita itu menarik kaos nya?
Ketika Baekhyun membalikkan tubuhnya, ia benar-benar mendapati Chanyeol berdiri di belakangnya dengan wajah sedih. Baekhyun akan memarahi si bocah bertubuh sangat makmur itu alih-alih berjongkok menyesuaikan tingginya dengan Chanyeol sambil memasang senyum semanis mungkin. Bukan karena wajah sedih Chanyeol yang membuatnya iba, melainkan kehadiran Nyonya Park yang mengurungkan niatnya untuk memarahi putranya.
"Kenapa Chanyeol?" Baekhyun bertanya dengan nada dibuat selembut mungkin. "Kau hampir membuat hyung jatuh, jangan lakukan itu lagi ya?"
"Tapi jika aku tidak melakukannya, hyung akan pulang," wajah bulatnya semakin terlihat sedih. "Aku tidak ingin hyung pulang. Hyung bahkan belum bertemu dengan ayah mertua."
Baekhyun menghela nafasnya, "Ayah mertuaku itu bukan ayahmu Chanyeol dan aku bukan kekasihmu," ucapan itu membuat Chanyeol mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk. Wajahnya memerah lantaran kesal karena Baekhyun mengatakan jika dirinya bukan kekasih dari remaja laki-laki di hadapannya.
"Baekhyun hyung kekasihku! Kekasihku!"
"Bukan! Kau itu masih kecil! Jangan beprikir yang aneh-aneh, belajar saja yang benar!" Baekhyun sudah tak perduli lagi dengan Nyonya Park yang ada di belakang mereka menatapnya dengan pandangan melotot. Chanyeol itu jika dibaiki akan semakin menjadi-jadi.
Sementara Chanyeol, si korban bentakan kesal dari seorang Byun Baek Hyun mencerna kalimat bentakan Baekhyun dengan maksud yang lain. Chanyeol mengira Baekhyun mengatakan jika pisang yang ada dibalik celana iron man yang dipakainya ini masih kecil. Begitu juga Nyonya Park yang tengah melotot di belakang mereka, wanita yang telah melahirkan Chanyeol itu juga mengira jika Baekhyun mengatai pisang milik anaknya kecil.
"Ji-jika sudah besar! Apa aku akan menjadi kekasih hyung!?"
Sebenarnya Baekhyun ingin menjawab tidak, karena belum tentu juga ketika Chanyeol tubuh besar ia akan jatuh hati padanya. Tetapi mengingat jika semakin Baekhyun menjawab tidak Chanyeol tetap akan menahannya, Baekhyun akhirnya memilih menganggukkan kepalanya. "Ya, kau bisa menjadi kekasihku jika kau sudah besar, dan jangan temui aku hingga kau besar! Mengerti?" tepat setelahnya Baekhyun langsung pergi, menyisakan ibu dan anak yang salah mengartikan maksud dan kalimat dari Baekhyun.
"Chanyeol," wanita itu berjalan menghampiri putranya yang masih diam di tempat. "Kau harus bisa membesarkan pisangmu! Enak saja dia sudah menghina putraku! Dasar si Byun itu!"
Chanyeol menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan sang ibunda. "Benar bu! Aku tak terima! Akukan masih kecil makanya pisangku kecil! Ibu bantu aku ya, buat pisangku lebih besar!" Nyonya Park menganggukkan kepalanya, matanya berkilat-kilat semangat. Ia akan melakukan berbagai cara untuk membuat pisang putranya besar dan ketika si Byun itu melihatnya ia akan terkejut dan berlutut pada putranya.
"Pasti nak! Ibu akan membantumu!"
TBC
[A/N]
Hai ketemu lagi bersama saya yang janjinya akan fast up, hehe, keasikan liburan jadi ide gak ada semua. BTW maap kalo Chapter yang ini garing gak lucu. Yak! Berhasilkah Chanyeol membuat Baekhyun tesepona ketika "BESAR" nanti? :D yak kita tunggu saja kelanjutanya! BTW mulai Chap depan Chanyeolnya udah gede ya, gak umur 6 tahun lagi. Sebenarnya masih sayang sih Lsaya kepinginnya Chanyeol tetep 6 tahun biar rasa polos plus mesum tapi untuk kelangsungan jalan cerita gak mungkin dia tetep umur 6 tahun.
BTW BTW BTW, mau nanya nih. Kalo Daily Life di up di wattpad juga gimandos? Gak ada maksud lain sih, cuman lebih gampang buat update aja.
Sekian, terima kasih^^
Jangan lupa review^^
Special thanks for,
veron2291, socloverqua (punya Baek apa? Hayo apa? Yakin punya Baek kecil juga?), sherli898, shinshiren, sashakim61 (Kalo terlalu panjang entar lecet :(, sakit loh. Makasih ya^^ kalo ratenya M entar Chanyeolnya ena Baekhyunnya sakit :(), XianLie92, Ellaqomah, LyWoo, BaekHill, beecikifly (chapter depan udah "besar" kok), Boo614, caned, BAEKBAEK04, myzmsandraa99, ChanlovesBaek (ini ceritanya sampe Chanyeol dewasa kok), Nikeisha Farras (hehe itu sih belum tau, belum memutuskan bakalan mpreg atau kagak.), byankai, Baeka (diusahakan ya, gak pande buat fluff soalnya.), riririi, Bbasjtr, GENDUT, PRISNA CHO, icing, randomaddy.
