Masih ingat dengan anak laki-laki yang berusia 15 tahun dengan tubuh kerempeng dan pendek? Anak laki-laki itu sudah berubah menjadi pria dewasa. Usianya sekarang sudah 26 tahun, ia sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Tidak banyak yang berubah darinya, seperti badannya yang tumbuhnya tidak terlalu tinggi, tubuhnya yang tetap kurus padahal banyak makannya.

11 tahun yang lalu, Baekhyun adalah anak SMP dan sekarang ia adalah pegawai kantoran dengan gaji pas-pasan, pas untuk makan, pas untuk bayar uang sewa rumah, pas untuk bensin mobil, pas juga untuk traktir minum teman-teman. Baekhyun sendiri tidak menyangka bahwa ia bekerja menjadi pegawai kantoran padahal cita-citanya adalah seorang guru. Baekhyun sangat mencintai anak-anak, tetapi gaji menjadi seorang guru di Korea tidaklah sebesar gaji seorang pegawai kantoran. Belum lagi biaya kehidupan di Seoul sangat mahal. Saat usianya menginjak 17 tahun ia sudah malu untuk meminta uang pada kedua orangtuanya. Menurut pemikiran logisnya, dari pada ia tidak makan dan berujung kembali tinggal bersama orangtuanya lebih baik ia mencari pekerjaan yang dapat mengisi dompetnya. Lupakan anak-anak untuk sejenak, isi dompet lebih penting di kehidupan sekarang.

Bicara soal anak-anak, jika dihitung sudah 11 tahun juga Baekhyun tidak pernah bertemu dengan Chanyeol. Di satu sisi ia merasa sangat lega, kehidupan normalnya kembali seperti sediakala. Tetapi, di sisi lain ia curiga sekaligus takut. Setiap kali Nyonya Park datang ke rumahnya—katanya main arisan—ia selalu mendapatkan tatapan maut dari wanita berwajah awet muda itu. Selama tiga tahun berturut-turut ia selalu mendapatkan tatapan maut. Jika melalui tatapan ia bisa mati, mungkin tidak ada Byun BaekHyun usia 26 tahun saat ini. Namun yang membuatnya curiga adalah ketika Baekhyun akan pindah ke apartement-nya sendiri, Nyonya Park datang ke rumahnya—sendrian tanpa Chanyeol, katanya ingin memberikan ucapan perpisahan sementara. Baekhyun ingat sekali saat itu untuk pertama kalinya Nyonya Park tidak menatapnya dengan tatapan maut, ia bahkan memberikannya sebuah senyuman manis dan bahkan memeluknya sambil membisikkannya sesuatu. Baekhyun tidak mengerti, ibu dari Park ChanYeol itu hanya mengatakan tiga kata. Tiga kata itu berhasil membuat Baekhyun curiga, dan menjadi misteri yang tidak pernah terpecahkan oleh otak cerdasnya.

'sudah besar, loh'

Terkadang jika Baekhyun duduk sendirian di apartement-nya, kembali mengingat masa lalunya yang aneh, ia kembali memikirkan perkataan Nyonya Park. Memikirkan apa yang dimaksud Nyonya Park, apanya yang sudah besar? Tetapi memikirkan hal itu membuatnya sakit kepala, dan berakhir dengan dirinya berasumsi bahwa Nyonya Park mengatakan bahwa ialah yang sudah besar karena sudah bisa tinggal tanpa orangtua. Walaupun berakhir dengan pemikiran positif, tetap saja Baekhyun merasa tiga kata itu hal yang masih menjadi misteri yang akan menganggunya suatu saat nanti. Bagaimanapun yang kita bicarakan saat ini adalah Nyonya Park, ibu dari si aneh dan si mesum Park ChanYeol. Hal-hal aneh dan berbau mesum bersumber dari keluarga mereka.

"Benar juga!" seru Baekhyun, wajahnya terlihat sedikit berbinar seperti baru saja mendapatkan sebuah inspirasi. "Itu pasti berkaitan dengan si gendut mesum itu, benar! Pasti berkaitan!"


SUDAH BESAR

By Bunnie B

.

Byun Baekhyun (26 y/o)

Park Chan Yeol (17 y/o)

Kim (Oh) Se Hun (17 y/o)

Do Kyung Soo (18 y/o)

Kim Jong In (26 y/o)

Kim Jong Dae (26 y/o)

.

.

.

Happy reading


Baekhyun terus menatap layar komputernya, hanya untuk memastikan jika komputer itu benar-benar mati. Ia tidak terlalu perduli dengan pencuri file, karena pegawai di kantor ini benar-benar sudah ia percayai semuanya. Hanya saja, komputernya ini sering bertingkah aneh. Dua minggu yang lalu ketika Baekhyun menekan tombol shut down, berakhir dengan komputer itu melakukan restart, padahal dirinya tidak menekan tombol restart dan ini sudah terjadi tiga kali. Pernah juga, ketika ia menekan tombol restart yang terjadi adalah sleep.

Ketika ia berkonsultasi pada bagian teknisi perusahaan, Kim JongDae, ternyata banyak komputer yang mengalami hal yang sama. Beberapa pegawai sudah mengusulkan untuk membeli komputer baru, tetapi atasan mereka melarang. Katanya komputer itu sudah ada bahkan sebelum para pegawainya bekerja di perusahaan dia. Baekhyun sih menduga jika ia pelit, atau mungkin perusahaan tempat ia bekerja benar-benar bangkrut seperti yang digosipkan oleh Kim JongIn, temannya sekaligus bagian pemasaran.

"Hoi! Berhenti menatap layar komputermu seakan dia kekasihmu Baekhyun-ah."

Baekhyun mendesah kesal, ia kenal suara itu, itu milik Kim JongIn, temannya sejak SMP. Banyak perubahan yang terjadi pada Jongin, suaranya semakin berat, tubuhnya semakin tinggi, bahunya lebar dan kulitnya semakin eksotis—hanya saja Baekhyun tidak mengatakannya secara langsung, takut jika pria itu menjadi besar kepala. Ia selalu mengatakan bahwa kulit Jongin semakin hitam, lebih hitam dari kulitnya ketika SMP.

"Apa yang kau inginkan Jongin? Aku tidak punya uang lagi untuk mentraktirmu makan ayam," katanya dengan nada sedatar mungkin. Jongin adalah teman baiknya yang paling sering minta traktir, ia sebenarnya bisa saja menolak tetapi mengingat Jongin dan segala kebaikan yang ia berikan untuk Baekhyun selama Baekhyun hidup jauh dari orangtua. Membuatnya tidak tega dan mengikhlaskan uangnya untuk mentraktir Jongin.

Kini giliran Jongin yang mendengus kesal, belum apa-apa sudah dituduh minta traktir. Walupun di luar kelihatannya ia adalah orang tidak berdaya dengan dompet selalu tipis. Tetapi Jongin adalah makhluk hidup dengan dompet tebal, bahkan apartementnya lebih mewah dari punya Baekhyun yang kelihatan dari luar lebih bekelas dari Jongin.

"Aku tidak minta traktir," kata Jongin.

"Lalu apa?" tanya Baekhyun malas, sebenarnya hari ini ia ingin langsung pulang ke apartement-nya dan tidur. Tubuhnya lelah karena duduk berjam-jam di kursi yang tidak empuk sama sekali, belum lagi otaknya panas karena bekerja membuat laporan yang tiada habisnya, ditambah ceramah dari atasannya karena ia salah meletakkan tanda koma dalam laporan terbarunya.

"Adikku ulangtahun, aku ingin mengundangmu makan di rumahku."

"Keluargamu sedang berada di Seoul?"

Jongin menggelengkan kepalanya, mana mau ayah dan ibunya datang ke Seoul malam-malam begini. Jika siangpun sepertinya mereka tidak mau, orangtuanya pernah mengatakan bahwa mereka alergi dengan udara di Seoul. Aneh memang tetapi itulah hidup.

"Hanya adikku dan kedua temannya, kupikir akan meriah jika kau dan Jongdae juga ikut," katanya, seketika wajahnya berbinar, "bukankah ideku itu cemerlang?"

"Sama sekali tidak."

"Kenapa? Kau tidak bisa ikut? Ayolah Byun Baekhyun, kau temanku bukan," Jongin memohon dengan wajah memelas yang bikin mual.

"Baiklah, dan berhentilah memasang wajah memelas, bikin mual saja!"

Jongin mengganti ekspresinya, ia tersenyum senang sambil melompat-lompat seperti anak kecil. Sebelum keluar dari ruangan Baekhyun, Jongin menyuruh pria itu untuk mengemasi barang-barangnya sementara ia pergi ke ruangan Jongdae. Baekhyun sebenarnya hampir saja lupa jika Jongin memiliki adik, pria itu sangat jarang menceritakan tentang adiknya semenjak kejadian di pantai…

…kedua bola mata Baekhyun membulat, tiba-tiba ingatannya tentang pantai dan Jongin beserta adiknya kembali berputar di kepalanya, pangkuan, susu, tiang listrik, gigi maju, dan CHANYEOL! Kenapa ia bisa melupakan fakta bahwa Chanyeol adalah teman adiknya Jongin. Rasa panik menjalas di tubuhnya, dengan tergesa-gesa ia memasukkan seluruh berkas dan barang-barangnya yang lain ke dalam tas ransel hitam miliknya. Ia harus cepat-cepat pulang sebelum Jongin kembali bersama Jongdae ke ruangannya. Namun tampaknya nasib sial berpihak pada Baekhyun hari ini, karena ketika ia akan mengunci ruangannya Jongin dan Jongdae sudah ada di belakangnya menatapnya heran.

"Kau baik-baik saja, baek?"

"Jika aku jawab tidak apa kau mengizinkanku untuk tidak ikut acara ulangtahun adikmu?"

Jongin menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin membiarkan kawannya ini pulang dengan perut kosong sementara ia tahu kalau Baekhyun sedang krisis moneter. Teman macam apa ia, lagi pula siapa tahu Baekhyun terhibur dengan acara kecil-kecilan itu, toh Baekhyun juga lagi stress dengan pekerjaannya.

"Kau tetap ikut, kau adalah tamu VIP kami."

"VIP apanya yang VIP," gumam Jongdae, "inikan hanya acara ulangtahun anak 17 tahun," katanya lagi dan mendapat tatapan maut dari Jongin.

"Jangan banyak bicara! Ayo berangkat, kasihan adikku dan temannya, mereka sudah menunggu lama."

Berakhirlah dengan Baekhyun yang diseret oleh Jongdae serta Jongin untuk masuk ke dalam mobil Jongin. Untuk sesaat Baekhyun menyesal karena tidak pernah ikut ke gym ketika diajak oleh Jongdae, setidaknya walaupun badannya kecil ia bisa melawan dua makhluk hidup yang menyeretnya ini.

"Jadi, apakah ada teman perempuannya, Jongin?" tanya Jongdae ketika mereka bertiga berhasil masuk ke dalam lift yang ada di gedung apartement Jongin.

"Aku tidak tahu," jawab Jongin, "mereka baru datang saat kita sibuk bekerja di kantor, aku juga tidak bisa memastikan siapa saja teman yang dibawanya," tambahnya.

Diam-diam baekhyun mendesah lega, setidaknya ada kemungkinan untuk ia tidak bertemu dengan Chanyeol. Tiba-tiba ia menjadi penasaran dengan bentuk Chanyeol yang sekarang. Apakah ia semakin gendut? Apakah tubuhnya semakin bergelimangan lemak? Apakah otaknya semakin mesum atau, sebaliknya? Lamunannya itu terhentikan ketika pintu lift terbuka.

"Sebelah sini, para gentleman," kata Jongin sambil memperagakan gaya bicara pemandu wisata. "Di sebelah ini," katanya sambil menunjuk kearah pintu bernomor 402, "adalah kamar seorang janda dengan body aduhaiii~ aduh seksinya, membuat jantungku berdebar-debar," Baekhyun memuta bola matanya malas ketika melihat kedua temannya memasang wajah mesum. "Sayangnya ia sudah memiliki 2 anak, dan keduanya seperti setan kembar—setan satu saja sudah susah apalagi setan kembar—dan di sebelah sini," katanya lagi ketika mereka berhenti tepat di depan kamar bernomor 404, "adalah apartementku, mari masuk."

Baekhyun sudah berpuluh-puluh kali masuk ke dalam apartement Jongin, tetapi tetap ia terpesona dibuatnya. Kamar ini benar-benar terlihat elegan, dengan nuansa abu-abuh putihnya. Seluruh ruangan tertata rapi, barang-barang disusun berdasarkan tempatnya. Baekhyun heran sebenarnya, saat kalian melihat meja kerja Jongin kalian akan langsung berasumsi bahwa Jongin adalah orang yang sangat berantakan. Tetapi ketika kalian melihat kondisi apartementnya, kalian akan langsung berasumsi bahwa dia adalah orang yang mencintai kebersihan dan barang-barang mewah.

Baru saja Baekhyun akan duduk di sofa yang ada di ruang tamu, Jongin mencegahnya, mengatakan bahwa adiknya sudah menunggu di ruang makan. Jantung Baekhyun berdegub semakin kencang setiap kali kakinya melangkah mendekati ruang makan. Ia tidak tahu apakah ini efek karena sebentar lagi ia akan melihat Chanyeol si bocah mesum, atau memang ia memiliki penyakit jantung. Tetapi terakhir kali ia melakukan medical check tidak ada tanda-tanda bahwa ia memiliki penyakit jantung.

Ruang makan Jongin nuansanya lebih hangat dari pada ruang tamu, dindingnya di cat berwarna peach dengan meja serta kursi kayu berwarna putih, terdapat bunga di tengah-tengah meja dan sebuah kue coklat dengan lilin angka 17 di atasnya. Empat dari kursi yang mengelilingi meja makan diduduki oleh 3 orang remaja laki-laki. Remaja laki-laki yang duduk di tengah dan berhadapan langsung dengan Baekhyun—yang kebetulan berdiri antara Jongin dan Jongdae—memiliki warna kulit lebih pucat dari remaja yang ada di kiri dan kanannya. Rambutnya berwana hitam legam, wajahnya lonjong mengingatkan Baekhyun pada bentuk wajah Jongin, dagunya juga tajam dan ekspresinya sangat datar. Jika ingatan Baekhyun bagus, maka si pucat itulah adik dari temannya. Mereka memang memiliki warna kulit yang kontras tetapi keduanya adalah adik kakak kandung. Selanjutnya remaja laki-laki yang duduk di sebelah kanan si pucat—Baekhyun lupa namanya, jadi ia memanggilnya si pucat—adalah remaja laki-laki dengan mata paling bulat di antara mereka berenam. Bagian hitam padanya kecil dan bagian putihnya lebih mendominasi, bibirnya juga berbentuk hati, ibunya pernah mengatakan bahwa bibir wanita yang seperti itu adalah bibir yang paling disukai pria. Tetapi masalahnya saat ini laki-laki lah yang memiliki bibir seperti itu.

Terakhir, remaja laki-laki yang duduk di sebelah kiri si pucat—Baekhyun masih berusaha mengingat namanya—wajahnya familiar, terlebih lagi telinga berbentuk peri itu. Hanya saja ia lupa pernah melihatnya di mana. Di antara ketiga remaja itu, hanya dia yang sejak awal menatap Baekhyun dengan senyum sangat senang. Senyumnya benar-benar mereka menunjukkan semua gigi-giginya yang kecil dan rapi. Aneh memang tapi Baekhyun lega, ia benar-benar lega ketika tidak mendapati Park ChanYeol di ruangan ini. Rasanya ia ingin memeluk Jongin sebagai bentuk terima kasihnya karena tidak melihat Chanyeol.

"Temanku," kata Jongin tiba-tiba, "itu adik, Kim Sehun dan ini dua temannya, oh kalian bisa perkenalkan diri kalian."

Remaja bermata bulat dengan cepat berdiri dari duduknya, ekspresinya masih datar namun nada bicaranya tidak terlalu datar seperti ekspresinya. "Namaku Do KyungSoo, aku…."

Baekhyun bersumpah bahwa ia pernah mendengar nama itu, di suatu tempat. Nama itu berkaitan dengan si gendut dan si mesum Chanyeol. Ia ingat sekarang, remaja bernama Kyungsoo itu adalah anak laki-laki yang menjadi mentor Chanyeol di kelas pembesaran 'pisang'. Mendadak Baekhyun merasa perutnya mual, ia gugup memikirkan bahwa Chanyeol juga ada di rumah Jongin tetapi sedang bersembunyi di kamar mandi.

Terlalu asik dengan lamunannya, Baekhyun tidak sadar jika Kyungsoo sudah selesai memperkenalkan dirinya dan kini sudah berganti pada remaja satunya yang ternyata sangat tinggi. "…ya, jadi aku Park ChanYeol kekasih dari Baekhyun hyung. Lama tidak berjumpa."

Baekhyun membulatkan mata sipitnya yang mana tetap saja sipit tetapi setidaknya lebih besar dari mata adik Jongin. Ia ingin menangis juga ingin berkagum ria, pasalnya Chanyeol sudah tidak gendut lagi ia sudah menjadi remaja yang tampan dan lemak di tubuhnya hilang. Tetapi walaupun begitu tetap saja ia ingin menangis, mengingat bagaimana tingkah laku Chanyeol ketika ia berumur 6 tahun. Bocah yang terobsesi dengan Baekhyun dan bagaimana caranya untuk membesarkan 'pisang' agar Baekhyun suka.

"Ah," Jongin tertawa canggung, melihat temannya itu mendadak menjadi patung ia menggantikan Baekhyun untuk berbicara, "Chanyeol, lama tidak bertemu. Kamu sudah besar ya, sudah kurus juga."

Chanyeol menganggukkan kepalanya dengan semangat, senyumnya yang sebelumnya menunjukkan bahwa ia adalah remaja polos sekarang berubah menjadi seringai, pandangannya hanya tertuju pada Baekhyun seorang—masih setia menjadi patung, "yang bawah juga semakin besar loh," katanya dan ini sukses untuk membuat wajah Baekhyun memerah seperti tomat, Jongin yang memasang wajah canggung, dan Jongdae yang sebelumnya bingung menjadi semakin bingung.

"Baekhyun, kau pacaran dengan anak SMA?" tanya Jongdae tiba-tiba.

"YAK! Aku sudah mengatakan padamu, aku bukan pacarmu!" teriak Baekhyun.


TBC


Note:

Idk what to say, this is awkward, pardon me.

Jadi ini udah lama sekali, saya hiatus lama sekali dan sekalinya comeback bawa cerita garing. Benar-benar udah lama banget, di wattpad yang kemarin janjinya mau lebih sering update juga tidak ya. Kalau dibilang writer block juga tidak karena saya masih tetap menulis, hanya saja ceritanya berbeda lebih serius dengan bahasa yang kaku, konfliknya juga. Mungkin karena itu juga, saya ngerasa tulisan saya sedikit berbeda kali ini, lebih boring? Saya sudah terbiasa menulis dengan setting-an abad ke 19, Victorian era, Greco-roman, yunani dan mythologynya, dan yang jadul-jadul.

Saya mengucapkan terimakasih juga pada teman-teman yang sudah memberikan komentar, dan menyuruh saya untuk update, saya benar-benar kenak terror ya di akun wattpad saya, pada suruh update semua dan saya berterimakasih, karena itu bikin saya semangat. Oleh karena otak saya sudah fresh jadi saya mulai untuk nulis lagi, tetapi tetap tidak bisa dibilang saya aktif karena pasti updatenya butuh waktu juga karena saya sudah mulai KKN (semester tua ), udah mulai ngajar.

Terimakasih loh yaaa~

Sampai jumpa di cerita selanjutnya.