V
Janji
Baekhyun demam, ia tidak masuk kerja. Semua itu dikarenakan kunjungannya saat ke rumah Jongin. Bertemu dengan Chanyeol setelah sekian lama membuatnya terkejut dan akhirnya tubuhnya lemah hingga ia demam. Jongin menelponnya ketika pria itu berada di kantor dan tidak menemukan sahabatnya di mejanya, mengatakan bahwa ia berlebihan. Mungkin memang berlebihan, jika dilihat dari sudut pandang Jongin. Tapi tidak berlebihan ketika dilihat dari sudut pandang Baekhyun.
Bertemu dengan Chanyeol itu sama seperti bertemu dengan hantu, kata orang dari suku nun jauh di sana tesampok. Maksudnya, ketika seseorang melihat hantu kemudian anggota tubuhnya seperti tidak bisa digerakkan dan pandangannya kosong. Sama seperti dirinya ketika bertemu dengan Chanyeol untuk pertama kalinya. Baekhyun bukan hanya terkejut karena Chanyeol ada di sana, tetapi juga melihat perubahan bocah menyebalkan itu. Dia, berubah menjadi lebih kurus, lebih tinggi, dan yang paling penting lebih tampan.
"Ayolah Baekhyun," rengek Jongin di seberang sana.
Baekhyun segera menjauhkan ponselnya dari telinga, "serius Jongin, itu menjijikkan," katanya. "Tapi aku berterima kasih padaku karena membuatku mual, sejak tadi pagi aku ingin muntah tapi tidak bisa."
Jongin mendengus kasar, "kau pikir suaraku menjijikkan begitu? Ha!" teriaknya.
"Tidak, tapi rengekkanmu iya. Sudahlah, aku sedang sakit dan kau sibuk mengajakku untuk makan di luar! Kerja sana, jangan mengangguku!"
"Tidak asik sekali! Sudahlah sana tidur, kalau perlu tidak usah bangun lagi!"
"Ya tentu! Lihat saja besok, jika aku tidak bangun maka kau akan dicari polisi. Karena kau orang terakhir yang menghubungiku dan menyumpahiku."
Baekhyun secepat mungkin mengakhiri panggilan sebelum telinganya mendengar ocehan Jongin yang tidak bermakna. Ia melengung ketika membaringkan tubuhnya, tubuhnya pegal-pegal dan kepalanya berdenyut hebat. Baekhyun sudah memakan sarapannya, ia juga sudah meminum obatnya namun tubuhnya masih saja tidak nyaman. Baekhyun mendesah lelah, ia melirik ponsel putih yang tergeletak di atas meja nakas, lalu kembali mengeluh. Setelah terdiam—berpikir—cukup lama, akhirnya ia meraih ponselnya lalu menghubungi ibunya.
"Halo bu, aku sakit," ucapnya.
###
Niat hati menghubungi ibunya agar dapat dilayani dengan baik, bukannya malah menganggunya. Ibunya tidak menganggu sebenarnya, wanita paruh baya itu malah memijat kepalanya membantu menghilangkan rasa pening yang menderanya. Orang yang menganggu adalah dua manusia yang ikut bersama ibunya. Baekhyun melupakan fakta bahwa hari ini adalah hari Sabtu, yang berarti anak sekolahan sedang libur. Ia juga lupa bertanya apakah ibunya sedang menerima tamu atau tidak.
"Ibu, bisakah ibu menyuruh Bibi Park dan Chanyeol untuk pulang. Kepalaku sakit sekali mendengar ocehan keduanya," keluhnya ketika ibu Chanyeol dan putranya sibuk menyiapkan makanan untuk dimakan.
Ibunya hanya tersenyum maklum, masih terus memijit kepala Baekhyun. "Sayang, mereka kan hanya ingin menjengukmu. Bersikap baiklah, karena mereka sudah bersikap baik padamu."
Baekhyun menghela nafasnya, memang susah bicara dengan ibunya jika itu menyangkut bibi Park dan putra semata wayangnya yang menyebalkan. Mengabaikan ibunya, Baekhyun memilih untuk memejamkan matanya. Berusaha untuk menidurkan dirinya, agar tidak berhadapan dengan dua makhluk penganggu yang datang ke apartemennya. Tapi lagi-lagi ia salah memilih langkah. Karena ketika ia bangun—Baekhyun pikir ia hanya tertidur beberapa menit—ia hanya mendapati Chanyeol duduk di pinggir kasurnya menatapnya kagum.
"Di mana ibuku?" Tanya Baekhyun.
"Sudah pulang bersama ibuku 1 jam yang lalu, hyung," jawabnya dengan senyum lebar.
"Lalu, mengapa kau tidak ikut pulang, bocah?"
"Aku ingin menemani hyung cantik, sudah lama kita tidak bermain bersama ya."
Kepalanya kembali terasa pusing, Baekhyun mengeluh lelah. Jika ia tahu ini semua akan terjadi lebih baik ia tidak menyuruh ibunya datang. Mengusir Chanyeol dari rumahnya akan sangat sulit, ia paham betul bagaimana sifat bocah di hadapannya.
"Oh ya, hyung," panggilnya, "aku ke sini juga ingin menagih janjimu."
Dahi Baekhyun mengkerut, mencoba mengingat kejadian semalam. Seingatnya ia tidak menjanjikan apapun pada Chanyeol, bahkan ia pulang duluan sebelum Sehun—adik Jongin—sempat meniup lilin di kuenya. Baekhyun terlalu shock untuk berlama-lama di apartement Jongin.
"Aku tak ingat menjanjikan sesuatu padamu semalam," ucap Baekhyun.
"Oh, tenang bukan semalam kok," ucap Chanyeol, ia memberikan Baekhyun senyuman paling manis yang ia miliki, berharap Baekhyun terpesona dengannya. "Janji lama. Baekhyun hyung mengatakan jika sudah besar, hyung akan menjadi kekasihku."
Kini Baekhyun mengingatnya, perkataan asal-asalannya yang ia anggap tidak penting dan tidak ada pengaruhnya. Sekarang ia menyesal mengapa ia pernah berkata demikian.
"Hyung, milikku sudah besar sekali loh, panjang juga. Karena perkataan hyung waktu itu aku jadi giat membuatnya tumbuh sehat. Hyung mau lihat tidak? Kan sekarang hyung adalah kekasihku."
Melihat Chanyeol yang berdiri dan hendak membuka resleting celananya, Baekhyun dengan buru-buru bangkit dari tidurnya. Ia langsung mencegah tangan Chanyeol untuk menurunkan resleting celananya. "Bocah bodoh! Apa yang akan kau lakukan!?"
"Menunjukkan pisangku tentu saja, aku ingin membuktikan padaku bahwa ia sudah besar!"
"Gila! Kau gila Chanyeol! Mati saja sana!" teriak Baekhyun seperti orang gila.
