Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 2 — First Day of Hell
Angka di jam digital berganti dari 05:59 menjadi 06:00 dan alarm melengking keras, bergema di dalam apartemen kecil itu. Hal ini juga membuat putri tidur terbangun dari tidur REM nya. Sakura membuka matanya dan mencoba menyesuaikan lingkungan di sekitarnya. Sebuah bayang-bayang buram dari tirai jendela abu-abu, dan meja kayu kecil di samping tempat tidur tergambar di benaknya.
Sakura mengerang saat alarm terus berbunyi. Ia menekan keras tombol snooze dan berguling untuk menemukan posisi nyaman di atas bantal. Ia bergumam dalam tidurnya sambil menutup matanya lagi dan mencoba untuk kembali menyulap mimpi yang ia dambakan. Menjadi sosok bersinar dan piala emas terbayang di benaknya dan ia tersenyum bahagia.
"Sepertinya aku tidak ada jadwal pergi ke sekolah atau melakukan sesuatu," gumamnya pada diri sendiri.
Akhirnya, ia kembali tertidur sementara pikirannya menghilang di dalam dirinya. Tapi bukannya bermimpi tentang Grammy dan Billboard Music Awards, ia menemukan seseorang yang mirip dengannya. Satu-satunya perbedaan adalah ada kata-kata berukuran besar di dahi orang itu. Sakura sedikit gemetar ketika sosok dalam mimpinya mulai membesar dan menjulang tinggi.
Di dalam mimpi itu, Sakura versi mimpinya yang memiliki tulisan 'inner Sakura' di dahinya sayup-sayup bersuara.
"Sakura!" teriak Inner Sakura. Sakura asli menatap Inner Sakura dengan mata ngeri. "A-apa?" ia tergagap.
"Angkat pantatmu dari tempat tidur dan pergi ke sekolah! SHANNARO!" Inner Sakura berteriak.
"Sekolah?" Sakura bergumam pelan sementara kepalanya tenggelam lebih dalam di bantal yang empuk.
Tiba-tiba, gadis berambut merah muda itu duduk tegak sambil meraih jam alarm di meja samping tempat tidur dan menatap angka digital yang tertulis di sana. Sekarang jam 06:32. Sakura menatap ngeri angka di jam itu.
"Aku akan terlambat pada hari pertama sekolah!" ia berteriak dan tersandung dari tempat tidurnya.
Selimut menyangkut di kaki Sakura saat ia mencoba bangkit dari tempat tidur dan keluar kamar. Ketika ia berhasil membebaskan diri dari selimut itu, dengan kikuk ia berlari ke pintu kamar tidurnya dan berjalan keluar. Ia masuk ke kamar mandi dan dengan cepat menggosok gigi juga membasuh air ke wajah mengantuknya.
Sakura berlari keluar kamar mandi dan kembali ke kamar tidurnya, ia dengan cepat menganti baju tidurnya menjadi seragam sekolah yang terdiri dari blus putih lengan pendek dengan sweater rompi kuning pucat. Ia memakai ikat pita hijau yang berada di bagian depan bajunya. Dengan cepat ia memakai rok kotak-kotak hijau sebelum duduk untuk memakai kaus kakinya. Kaus kaki putih itu kendor dan turun di sekitar pergelangan kakinya. Kaus kaki itu menolak untuk tetap naik. Sakura mendengus frustrasi sebelum membiarkan kaus kakinya seperti itu.
Meraih tas sekolahnya di kursi, Sakura bergegas keluar dari kamarnya yang kecil. Di dapur, ia meraih sepotong roti dan menahannya dengan mulut sambil meraih kunci rumahnya di meja. Dengan cepat ia memakai sepatu hitamnya sebelum pergi dan menutup pintu apartemen.
Menyisir rambut cherry-nya dengan jari, Sakura terus berlari menyusuri lorong dan turun ke lantai satu. Ia buru-buru mengikat rambutnya ekor kuda. Ia menatap sekilas jam digital ditangannya, lalu buru-buru berjalan karena jam menunjukkan pukul 6:51.
Sial. Sembilan menit lagi sebelum bel berbunyi. Aku tidak boleh terlambat di hari pertama sekolah! Terutama sekolah ini..
Sakura meraih sepotong roti di mulutnya tadi dan menggigitnya sambil berlari secepat mungkin ke sekolah. Sebuah akademi besar menjulang tinggi di depan dan Sakura menatap gedung akademi yang megah namun menakutkan itu dengan kagum. Ia berlari melewati gerbang dan menaiki tangga utama. Arlojinya menunjukkan pukul 07:03 saat ia berlari menyusuri lorong mencari ruangan yang tercantum di jadwalnya.
Kelas 2-A, kelas 2-A. Di mana kelas 2-A?
Sakura akhirnya menemukan kelas 2-A lalu membuka pintu dan menemukan kerumunan siswa di dalam. Sebagian besar siswa saling berbicara dan bercanda. Sakura diam-diam masuk ke dalam ruangan yang seperti kebun binatang itu. Tidak ada yang memperhatikan dirinya dan Sakura senang akan hal itu. Ia menemukan tempat duduk yang bagus dengan jendela di urutan kursi ke empat dari barisan depan. Sakura duduk dan meletakkan tas sekolahnya di meja. Ia mencari-cari sesuatu di tasnya sampai ia menemukan tempat kacamatanya. Meskipun Sakura tidak membutuhkan kacamata untuk melihat, kacamata itu berguna untuk menyembunyikan mata hijaunya yang tidak biasa. Ia meraba rambutnya. Warna seterang bunga sakura terlihat di rambutnya dan Sakura menghela napas. Meskipun ia tidak bisa menyembunyikan rambut merah mudanya, setidaknya ia bisa menutupi mata hijaunya yang tidak normal.
Sakura melirik arlojinya lagi dan pandangannya beralih pada jam di atas pintu. Jam itu sama-sama menunjukkan pukul 7:15. Sakura mengerutkan kening. Gurunya terlambat. Aku pikir itu bagus. Jika tidak, aku mungkin sudah dimarahi tadi.
Sakura mengambil kacamata dari tempatnya lalu memakainya. Ia menutup tempat kacamatanya dan memasukkannya kembali di tas lalu menaruh tasnya di lantai. Sakura tersenyum saat ia teringat kembali percakapannya dengan Idate pada Sabtu malam setelah penampilannya.
Idate meletakkan minuman di depannya dan Sakura menatapnya dengan heran. "Traktiranku," kata Idate dengan senyum sambil menatap wajah terkejut Sakura. Sakura tersenyum dan menyeruput minumannya melalui sedotan. Idate berbalik dan mulai membuat lebih banyak minuman untuk pelanggan yang menunggu.
"Jadi," Idate menuangkan cairan bening ke dalam gelas. "Aku dengar kau mulai sekolah Senin ini."
Sakura menjawab ya sambil terus meminum minumannya. "Bukannya kau memulai sekolah tahun terakhir di SMA Konoha minggu depan juga?"
Idate mengangguk sambil berbalik dan menyerahkan minuman untuk wanita yang duduk di sebelah Sakura. "Ya. Di mana sekolahmu nanti?"
"Konoha Academy."
Idate menatap Sakura dengan penuh rasa terkejut di matanya. "Oh, tapi bukankah itu sekolah mahal? Semua anak yang kaya sekolah di sana."
Sakura mengangguk sambil memutar-mutar sedotan nya. "Ya, tapi aku mendapat beasiswa musik dan mendapat akses untuk sekolah di sana."
"Itu mengesankan."
Sakura tertawa. "Tidak juga. Tapi karena semua orang yang bersekolah di sana berasal dari keluarga kaya, aku akan menonjol karena aku tidak memiliki pakaian dan tas desainer mahal seperti mereka." Sakura menarik-narik rambutnya. "Belum lagi, warna rambut yang tidak biasa dan mata hijauku."
Idate tertawa. "Yah, aku pikir kau memiliki mata yang sangat indah."
Sakura tersipu ketika Idate mengatakan itu. "Terima kasih, tapi aku tidak akan mau menjadi bahan obrolan semua orang. Lebih baik aku menyembunyikan warna mata dan rambutku."
Sakura mengeluarkan sepasang kacamata. "Dan dengan ini, aku bisa menyembunyikan warna mataku! Kacamata ini hampir membuat mataku tampak seperti berwarna kecokelatan ketika memakainya dan ketika aku berada di bawah sinar matahari, lensa fotosensitif akan menjadi lebih gelap dengan adanya sinar ultraviolet!"
Idate tertawa. "Kau terdengar seperti iklan-iklan di televisi saat tengah malam. Tetapi selain kacamata, apa yang akan kau lakukan dengan rambutmu?"
Sakura menghela napas. "Tidak ada. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Jika aku menggunakan wig, akan menjadi tidak nyaman ketika berolahraga karena kemungkinan besar aku akan berkeringat akibat memakai wig yang membuat panas. Dan aku tidak akan bisa memakai wig-ku atau melepasnya seenaknya. "
"Bagaimana jika mengecatnya?" Idate menyarankan.
Sakura menatapnya dengan ekspresi ngeri. "Meskipun aku tidak menyukai rambutku, aku harus belajar untuk mencintai itu. Lagipula, hal itu yang akan menciptakan jati diriku." Sakura menatap pangkuannya sebelum berkata, "Dan itu mengingatkanku pada orang tuaku."
Idate diam. Setelah beberapa saat, ia memecahkan keheningan dengan berkata, "Yah, aku tidak masalah tentang kau pergi ke sekolah dengan rambut merah muda dan kacamata sunglasses." Idate mengacak-acak rambut merah muda Sakura sambil menyeringai. Sakura mengangkat tangannya sambil protes. "Ini bukan kacamata sunglasses! Ini kacamata dengan lensa fotosensitif yang akan—"
Idate tertawa dan berbalik, menunjukkan ia mengakhiri pembicaraan pada saat itu.
Sakura menjulurkan lidahnya di belakang Idate. "Aku lihat itu," kata Idate saat ia mulai membuat minuman lain.
Pikiran Sakura buyar ketika pintu terbuka dan seorang pria berambut perak berjalan masuk. Kelas mulai tenang dan semua siswa berlari ke tempat duduk mereka. Sakura melihat ke arah jam. Pukul 07:29. Sakura memandang guru itu dengan shock. Bagaimana bisa dia berjalan santai seperti dia tidak datang terlambat. Memang benar guru tidak akan membuat ekspresi kalau ia pernah terlambat. Pria berambut perak itu meletakkan tasnya di atas meja lebar dan mulai menulis sesuatu di papan tulis di belakangnya.
Hatake Kakashi.
Itulah yang dia tulis di papan tulis. Sakura menatap nama itu dan menatap gurunya bergantian. Dia tersenyum pada seluruh murid dan mulai memperkenalkan diri. "Pagi, semuanya. Namaku Hatake Kakashi, kalian semua bisa memanggilku Kakashi-sensei. Guru kalian sebelumnya dari semester pertama sudah pindah jadi aku akan menggantikannya dan menjadi wali kelas kalian. Aku harap kita akan saling mengenal satu sama lain dengan baik. Aku tahu banyak dari kalian sudah mengenal satu sama lain dari awal tahun sekolah sehingga kalian harus membuat trimester kedua ini selesai dengan cepat."
—Song of a Cherry Blossom—
Sasuke menyeringai. Ia tidak percaya bahwa Hatake Kakashi akan menjadi wali kelasnya semester ini. Meskipun Kakashi adalah salah satu guru terbaik di sekolah, ia lebih dikenal sebagai guru yang suka terlambat. Sasuke menguap saat Kakashi melanjutkan perkenalan. Ia bersandar di kursi yang khusus disediakan untuknya. Itu adalah kursi di barisan paling belakang urutan kelima dari depan dan ada jendela sehingga ia bisa memperhatikan gadis-gadis yang sedang berolahraga. Sasuke melirik ke luar jendela. Sejauh ini, gadis-gadis itu tidak terlihat.
Sasuke mengalihkan pandangannya ke depan dan terkejut melihat rambut merah muda. Ia tidur sepanjang waktu sampai guru masuk dan tidak melihat gadis yang duduk di depannya. Ia menatap rambut warna merah muda yang tidak biasa itu. Aku tidak pernah melihat seseorang dengan rambut merah muda.
Sasuke duduk tegak di kursinya dan mendengar Kakashi mulai mengabsen para murid. Sasuke tidak akan disebut karena ia tidak akan muncul dalam daftar untuk sementara. Lagipula, namanya ada di urutan U. Sasuke menyentuh lembut rambut merah muda di depannya sehingga gadis itu tidak mengetahuinya. Ketika gadis itu tidak membuat reaksi apapun, ia terus memeriksa warna rambut itu. Ia mengangkat satu helai rambut dan memperhatikannya dari dekat.
"Haruno Sakura," sebut Kakashi sambil mendongak dari daftar absen. "Ah, sepertinya kau murid baru untuk semester ini."
Sakura mengangkat tangannya perlahan dan merasakan punggungnya bersentuhan dengan tangan seseorang. Ia berbalik dan terkejut melihat seorang laki-laki memainkan rambutnya. Laki-laki itu menyeringai saat ia ketahuan. Sakura tersipu dan kemudian berbalik kembali.
Kakashi tersenyum. "Aku kira aku tidak akan menjadi satu-satunya orang baru di kelas ini," katanya. Sakura tersenyum malu-malu sambil menunduk. Para siswa di sekelilingnya memberi tatapan penasaran sambil berbisik satu sama lain.
"Hyuuga Hinata." Seorang gadis pemalu dari kursi kedua di barisan dekat jendela mengangkat tangannya. Dia sedikit tersipu saat orang-orang menatapnya.
"Nara Shikamaru," Kakashi memanggil. Seorang pria di kursi ketiga baris kedua yang menaruh kepala di atas meja dan memiliki wajah cepat tertidur, mengangkat tangannya beberapa saat.
"Uchiha Sasuke," Kakashi mengabsen sambil terus membaca daftar. Ia mendongak dan melihat sekeliling ruangan. "Uchiha Sasuke," ia berseru lagi sambil mencari tangan yang terangkat.
Sakura melihat ke sekeliling ruangan untuk melihat apakah orang dengan nama itu akan mengangkat tangannya. Ia terkejut ketika tangan orang di belakangnya mulai naik. Beberapa gadis di kelas mulai menjerit tapi seorang gadis pirang yang duduk beberapa kursi di belakangnya melotot pada mereka dan gadis-gadis yang memekik akhirnya berhenti bersuara. Sakura memandang Sasuke dari sudut matanya saat ia sedikit berbalik untuk melihat penampilan laki-laki itu. Dia tampan, itu sudah pasti. Tidak heran gadis-gadis mengincar dia seperti itu. Tapi dia agak aneh juga, Sakura teringat saat kepala raven itu sedang memainkan rambutnya.
Sakura berbalik lagi saat mendengar Kakashi mulai mendesah. "Uchiha Sasuke, bukan? Dari apa yang aku dengar, kau akan jadi orang yang sulit diurus."
Pria berambut hitam yang duduk di belakang Sakura menyeringai dan tetap bersandar di kursinya. Gadis-gadis di kelas mulai terpesona lagi. Sakura tertawa pelan melihat reaksi gadis-gadis itu pada Sasuke.
Dipikir-pikir, aku duduk di depan orang penarik perhatian ini. Dia mungkin hanya terlihat tampan tapi tidak punya otak.
Kakashi melanjutkan absen hingga perhatian Sakura kembali dan ia mengamati ruangan untuk melihat siapa yang dipanggil.
"Uzumaki Naruto," panggil Kakashi. Laki-laki pirang yang duduk di depan Sakura melompat berdiri dan mengangkat tangannya liar. "Di sini! Aku di sini, Kakashi-sensei!"
Beberapa gadis terkikik melihat ledakan semangat Naruto dan beberapa anak laki-laki menyeringai. Sakura bisa mendengar Sasuke menguap dan kemudian berkata pada Naruto, "Duduklah bodoh. Berhentilah bersikap bersemangat dalam semua hal."
Si pirang itu memutar kepalanya dan menunjuk si kepala raven. "Kau tidak perlu memberitahuku apa yang harus kulakukan!" Naruto berteriak pada Si Uchiha sebelum akhirnya duduk.
Kakashi menghela napas. Ini pasti salah satu hal menyulitkan dari sebuah kelas, pikir Kakashi. Kakashi melihat nama terakhir dalam daftarnya.
"Yamanaka Ino," ia berseru. Seorang gadis dengan rambut pirang yang duduk di kursi kedua dari baris ketiga mengangkat tangannya. Telinga Sakura terasa senang saat mendengar nama barusan. Yamanaka Ino? Kenapa nama itu terdengar familiar?
Kakashi menutup buku absen dan mengambil sebuah kapur lalu mulai menulis pelajaran hari itu. Sakura harus melupakan gadis pirang tadi, ia membuka buku catatan barunya dan mulai menyalin catatan di papan tulis.
Bel berbunyi dan Sakura mendongak dari buku catatannya. Jam menunjukkan persis waktu siang hari yang berarti sudah waktunya untuk makan siang. Kakashi meletakkan kapurnya dan menghentikan pelajaran. Sakura menutup buku catatannya dan memasukkannya ke dalam tas. Para siswa mulai berdiri dan mengobrol satu sama lain.
Sakura melirik guru berambut perak itu. Ia melihat guru itu duduk di kursinya dan membaca beberapa jenis buku. Sakura meringis ketika ia melihat guru perak itu membaca beberapa novel dewasa. Cover bukunya menunjukkan judul buku itu—Icha Icha Paradise. Sakura tidak tahan untuk tidak mengerang.
Aku tidak percaya guruku sendiri membaca novel sampah Jiraiya-sama. Dan dipikir-pikir, Jiraiya-sama menamai klubnya sama dengan nama buku ini. Rasanya memalukan sekarang untuk menyadari aku bekerja di sana.
Sakura menghela napas, merasa malu untuk pria berambut putih yang memberinya uang untuk biaya sewa dan makanan itu. Aku tidak tahu bagaimana Tsunade-sama bisa terus bersama dengan dia. Bahkan, aku tidak tahu bagaimana aku bisa ikut bersamanya.
Sakura meringis saat ia ingat bagaimana Jiraiya mencoba menggoda para lelaki yang datang ke klub. Sakura bisa mengingat begitu jelas seolah-olah hal itu baru terjadi kemarin. Salah satu perkataan Jiraiya mengakibatkan Tsunade memukul kepalanya dan berteriak padanya untuk mencoba memanfaatkan gadis itu. Hari itu berakhir dengan seorang gadis merah muda yang bingung, seorang wanita pirang yang marah, dan seorang pria tua mesum dengan benjolan besar di kepalanya.
Sakura terkikik saat ia mengingat memar di kepala Jiraiya. Ia tahu Jiraiya sebenarnya baik dan dia tidak akan menempatkan Sakura di posisi yang sulit. Meskipun dia agak bodoh soal perempuan, tapi Jiraiya masih memperlakukan Sakura seperti putrinya sendiri meskipun ia kurang pengertian soal anak laki-laki.
Sakura mengumpulkan barang-barangnya dan berjalan keluar dari kelas menuju halaman di mana para siswa sudah keluar untuk makan siang. Ia menemukan tempat yang bagus di bawah dua pohon dogwood besar, dengan bayangan dari terpaan cahaya matahari. Ia mengaduk-aduk tas sekolahnya dan menemukan bekal makan siang lalu menatapnya sebentar. Sakura bisa melihat ada sandwich ham dan keju yang masih utuh. Ia membuka bungkus plastik sandwich-nya dan menggigit kecil sandwich itu. Setelah berada cukup lama di dalam tas, sandwich itu jadi memiliki rasa yang aneh tapi Sakura kelaparan karena pagi ini ia hanya makan sepotong roti.
Ia menggigit sandwich-nya dan mengeluarkan buku catatan dari dalam tas. Sakura membalik beberapa halaman dan menemukan halaman yang dicarinya. Itu adalah buku catatan musik untuk menuliskan lirik lagu dan pikirannya. Buku itu juga ia gunakan untuk menuliskan ide-ide untuk lagu baru. Buku itu juga menjadi buku jadwal kesehariannya. Di atas halaman, di sudut kanan, ia menulis "hari pertama di sekolah baru".
Sakura bersandar di batang pohon dan menatap sekolahnya. Ia menatap gadis-gadis di sekelilingnya dan tidak terkejut saat melihat banyak dari gadis-gadis itu mengenakan perhiasan dan jam tangan mahal. Sangat berlebihan untuk seragam sekolah. Sakura melihat sebagian besar mobil yang ada di tempat parkir adalah mobil mewah. Sakura bersandar di batang pohon sambil mendesah. Semua orang di sini seperti mesin uang. Mungkin tidak ada satu pun dari mereka pernah bekerja.
Bel berbunyi dan Sakura mengumpulkan barang-barangnya lalu berdiri. Ia membuang semua sampah ke dalam tong sampah terdekat sebelum menyadari buku catatannya jatuh dalam tong sampah bersama dengan sisa sampahnya.
"Oh tidak!" seru Sakura. Dengan cepat ia mencoba untuk menangkap bukunya namun buku itu tetap masuk ke dalam tong sampah. Sakura mengerang saat tangannya ia masukkan dalam tong sampah dengan terpaksa untuk mengambil buku catatannya.
Beberapa gadis yang berjalan melewati Sakura berhenti dan mencibir. "Aku pikir orang miskin bahkan harus mencari makanan di tempat seperti itu," salah satu dari mereka berkata sambil menunjuk Sakura. "Menjijikkan melihat mereka begitu merendah dan pergi ke tong sampah agar mendapat sesuatu untuk dimakan." Mereka semua mulai tertawa sambil berjalan pergi dari sana.
Sakura melototi punggung mereka. Maafkan aku karena aku tidak dibesarkan dalam buaian berlian yang banyak.
Sakura menarik buku catatannya dari dalam tong sampah dan berjalan pergi ke kelas berikutnya dengan kesal. Ia berjalan terburu-buru ke dalam gedung olahraga. Saat ia memasuki gedung olahraga yang besar, ia melihat desain interior state-of-the-art. Di sekeliling gedung, ring basket menjulang di atas lantai gedung olahraga yang mengkilap. Ia hanya pernah ke gedung olahraga sekolah sekali saat masa orientasi siswa baru sebelum sekolah dimulai. Sakura berjalan menuju pintu yang mengarah ke ruang ganti perempuan dan buru-buru mengganti seragam sekolahnya menjadi seragam olahraga.
Sakura berjalan kembali ke gedung olahraga. Murid kelasnya sedang menunggu Kakashi. Akhirnya, pria berambut perak muncul dengan seragam training. Kakashi mulai mengoper bola basket ke beberapa siswa dan siswi. "Silakan bermain basket. Aku akan mengawasi kalian sambil membaca," kata Kakashi. Sakura menghela napas. Jadi dia tidak akan melakukan apa-apa kecuali hanya membaca buku?
Pikiran Sakura buyar karena bola meluncur ke arahnya. Sakura menangkap bola basket oranye itu dan menatapnya seolah-olah itu adalah benda aneh. Ia melihat ke sekeliling gedung. Sebagian besar siswa mulai bermain sementara para siswi berdiri dan mengobrol dengan teman-teman mereka. Sakura menghela napas. Apa yang akan kulakukan?
Sakura memegang bola oranye di tangannya dan menatap pertandingan yang dimulai antara beberapa anak laki-laki. Sorakan keras terdengar dan Sakura berjalan sedikit lebih dekat untuk melihat hal apa yang sedang diributkan.
—Song of a Cherry Blossom—
Sasuke mengertakkan gigi saat ia men-dribble bola basket. Salah satu orang di tim lawan datang ke arahnya dan mencoba mencuri bola. Sasuke dengan cepat menghindar ke samping dan ia mengoper bola pada Naruto yang ada di timnya. Naruto menangkap bolanya lalu ia dan Sasuke mulai mengoper bola bolak-balik satu sama lain. Sementara Sasuke menangkap bolanya, anak laki-laki lain dari tim yang berlawanan mencoba memblokir Sasuke agar tidak bisa men-shooting bola.
Sebuah seringai berkelebat di wajah Sasuke. Kepala raven itu berpura-pura menghindar ke kanan kemudian men-dribble bola melewati lawan. Berdiri di luar garis three point, ia men-shoot bola dan bola melayang di udara. Bola melewati net dan membuat gempar para gadis yang sedang menonton pertandingan di pinggir lapangan. Mereka mulai bersorak dan menjerit pada Sasuke. Sasuke menyeringai dan tersenyum tipis pada gadis-gadis itu. Akibatnya para gadis menjerit lebih keras.
Sakura, yang sedang menonton seluruh pertandingan menyaksikan dengan kagum saat para siswa bermain. Ia melihat bagaimana dengan sempurna Uchiha berkepala raven itu melakukan shooting kemenangannya dan dia bahkan tidak berkeringat. Dia berbakat.. untuk menarik perhatian.
Sakura memandang sekeliling sambil mengamati kerumunan penggemar berkumpul di pinggir pertandingan. Tenggelam dalam pikirannya, Sakura tidak melihat bola menuju ke arahnya.
"Awas!" suara seseorang berteriak. Sakura memutar kepalanya ke arah teriakan itu. "Huh?" katanya kebingungan. Sebelum ia tahu, bola datang dan bersentuhan dengan wajahnya. Semua hal yang Sakura bisa lihat setelah itu hanya berwarna hitam. Semua mejadi gelap saat ia jatuh tak sadarkan diri di lantai gedung olahraga. Sakura bisa mendengar jeritan dan langkah kaki berjalan ke arahnya tapi sesaat kemudian yang ia dengar hanya keheningan karena semuanya berubah menjadi gelap gulita.
—Song of a Cherry Blossom—
A/N:
Halo lagi~
Akhirnya chapter dua update hihi. Maaf ya agak lama, soalnya Yuki abis edit chapter 1-nya, ditambah lagi melakukan persiapan buat lebaran /yeay\ XD
Oke, Yuki mau balas satu per satu review di sini.
YuraLa: Makasih ya udah mau ngasih tau kesalahanku hehe^^ Kata-katanya udah diubah kok, silahkan dilihat di chapter 1 ya;)
Calista569: Arigatou ne, bakal diusahain update kilat deh^-^)b
98— IndahP — vondr4wij4y4 — hanazono yuri — beautifullcreature: Arigatou udah read&review^^ Ini udah dilanjut ya, semoga suka;)
ironira — Niwa-chann: Hmm memang bener sih, author juga agak kelabakan ngubek-ngubek kamus waktu translate fic ini XD Chapter 1-nya itu sebenernya masih jelek mungkin karena efek baru pertama kali translate fic ditambah buru-buru sih._. Eh btw author nggak anggap review ini nyebelin/flame kok, arigatou gozaimasu udah mau kritik kesalahan author, jadinya author bisa lebih baik lagi saat melakukan penulisan fic ini^-^
Oke, author pamit lagi~ Jaa di chapter berikutnya^^
P.S: BIG THANKS TO DIANA-SAN, AND ALL OF U WHO READ & ADD THIS FANFIC TO UR FAVORITE/FOLLOW LISTˊ3ˋ
