Naruto © Masashi Kishimoto

Song of a Cherry Blossom © Diana-san

Indonesian Ver. © Yuki Kanashii

Chapter 3 — Waitress Sakura

Sakura membuka matanya perlahan, ia memandang langit-langit putih yang terlihat. Huh? Dimana aku? Sakura mencoba memutar otaknya untuk menemukan jawaban tapi hasilnya nihil dan ia merasa sakit kepala. Sakura menarik rambut merah mudanya sambil mencoba mengingat apa yang terjadi padanya. Mari kita lihat. Aku bangun terlambat. Datang ke sekolah. Mengetahui guruku adalah seorang pria mesum. Sudah makan siang. Pergi ke gedung olahraga. Pergi ke gedung olahraga dan? Dan mendapat..

Sakura menggaruk kepalanya. Ia tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah ia pergi ke gedung olahraga. Kakashi-sensei sedang membaca buku mesum itu. Dan dia menyuruh kami.. bermain basket! Dan kemudian.. apa yang terjadi ketika kami bermain basket?

Sakura berguling ke samping dan menyadari ia berada di atas tempat tidur. Ia meletakkan tangannya di atas kasur dan merasakan tempat tidur yang nyaman di bawahnya. Sakura mendongak dan memperhatikan sekelilingnya. Tirai putih menghalangi pandangannya ke ruangan kecil itu. Sakura mengibaskan lengan kanannya di sisi tempat tidur dan terkejut ketika lengannya mengenai sesuatu. Ia cepat-cepat duduk tegak sambil berbalik dan melihat ke samping.

Seorang laki-laki dengan rambut pirang berantakan sedang tidur dengan kepala bersandar di tepi tempat tidur. Sakura menatap si pirang. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia menarik kain sprei tempat tidur sampai ke dagu sambil menarik kakinya ke dalam dan duduk dalam posisi berjongkok.

Gerakan Sakura menyebabkan si pirang kehilangan keseimbangan karena lengannya terselip keluar dari bawah kepala dan dia terjatuh dari kursi. Sakura meringis saat ia melihat laki-laki itu tersentak dari tidur siangnya. "Maaf!" Sakura meminta maaf karena ia melepas sprei tempat tidur lalu mencoba menangkap laki-laki itu agar tidak jatuh. Meskipun hal itu sedikit lucu untuk ditonton.

Si pirang itu mengedipkan matanya lalu menguap lebar. Sakura menahan tawa saat si pirang itu tampak bingung di mana dia berada. Sadar apa yang terjadi, dia tersenyum pada Sakura. "Kau akhirnya sadar! Aku sangat khawatir bola basket yang mengenaimu membuatmu pingsan selamanya."

Apa itu yang terjadi? Sakura bertanya-tanya. Ia menyentuh wajahnya saat merasakan sebuah sengatan sedikit bergetar di seluruh pipinya.

Si pirang itu menggaruk-garuk kepalanya malu-malu. "Kau Haruno Sakura, kan?"

Sakura mengangguk. Si pirang tersenyum lebar. "Aku Uzumaki Naruto!"

"Aku tahu kau. Kau ada di kelasku. Kau duduk di depanku, kan?"

Naruto mengangguk. "Ya."

"Jam berapa ini?"

Naruto melirik arlojinya. "Sekolah berakhir sekitar satu jam yang lalu."

Ugh, aku melewatkan semua kelas sore ku. Sakura melirik sekitar tempat tidurnya. "Eh, di mana aku?"

"Kantor perawat," jawab Naruto.

"Kantor Perawat?" ulang Sakura.

"Ya. Kau terbentur di wajah cukup keras dan kemudian pingsan. Aku mencoba memperingatkanmu tapi aku kira sudah terlambat. Tentu saja, idiot yang melakukan itu padamu—Sasuke, begitu bodoh dan melempar bola pada seseorang yang sedang tidak melihatnya hingga bola memukul wajah cantikmu.. "

Cantik? Dia pikir aku cantik? pikir Sakura. Ia sedikit tersipu.

Naruto terus berbicara sambil menyadari ada sedikit warna merah muda di wajah Sakura. "...Dan kemudian kau ambruk di lantai dan kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan. Tapi aku datang untuk menyelamatkan dan membawamu lalu berlari sepanjang jalan ke kantor perawat. Jadi di sini kita sekarang," jelas Naruto. Si pirang itu membungkuk dan memperhatikan Sakura. "Bagaimana kepalamu?"

"Eh? Aku rasa baik. Selain gegar otak ringan, aku merasa hebat," canda Sakura.

Naruto tertawa. "Kau terdengar seperti dia," katanya.

"Siapa?"

"Sasuke," jawabnya sambil tersenyum.

Sakura mengerutkan kening. "Kumohon. Jangan bandingkan aku dengan orang itu."

"Apa? Kau membencinya atau kenapa?"

"Mengingat bagaimana dia memberiku cedera kepala, perasaanku padanya lebih negatif daripada positif."

Naruto tertawa. "Dia memang sulit sama seperti kepribadiannya." Dia mulai bangkit dari tempat duduknya. "Karena kau sudah sadar, aku harus membawa barang-barangmu ke sini."

Sakura melirik pakaiannya. Ia masih memakai seragam olahraganya. Sakura menunduk jijik pada kaos putih dan celana pendek hijau itu. "Terima kasih, tapi aku pikir aku bisa mengurusnya sendiri," Sakura berkata sambil mulai turun dari tempat tidur. Sebelum ia berhasil turun, Naruto mendorongnya kembali ke kasur. "Aku bilang aku akan pergi mengambilnya. Setelah semuanya, seperti yang kau bilang, kau hampir mendapat cedera otak jadi kau harus beristirahat di sini," kata Naruto padanya.

Sakura menghela napas. Sulit baginya untuk berdebat dengan laki-laki ini. "Baik," ia setuju sambil menaruh kakinya kembali di bawah sprei putih. Naruto menyeringai. "Baiklah kalau begitu. Aku akan segera kembali," katanya sambil pergi ke luar.

Sakura duduk kembali di kepala tempat tidur dan menyadari sesuatu. Jika aku terbentur di bagian wajah, maka berarti..

Sakura menaruh tangannya di wajah dan meraba bagian matanya. "Kacamataku," gumamnya. Ia mengamati sekeliling ruangan dan akhirnya melihat kacamatanya tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Sakura mengambil kacamatanya dengan pelan dan mengerutkan kening saat melihat kondisinya. Lensa yang retak dan tampak sulit diperbaiki. Sakura mengutuk pada dirinya sendiri dalam hati dan tenggelam dalam kemarahan. Ia meletakkan kacamatanya kembali di atas meja. Hanya hari keberuntunganku. Satu demi satu kesialan. Semua berkat si penarik perhatian.

Suara pintu terbuka membuat Sakura menoleh untuk melihat sosok bayangan di balik tirai. "Sudah kembali?" tanya Sakura. Tirai ditarik dan terbuka, memperlihatkan seorang laki-laki pemberontak dengan rambut hitam spike bukan pirang.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Sakura bertanya dengan nada kesal dalam suaranya.

"Senang bertemu denganmu juga," kata si kepala raven sinis. "Apakah itu penting?"

Sakura merengut. "Ya, faktanya itu penting." Ia sangat jengkel mengingat kacamatanya rusak dan fakta bahwa ia melewatkan sisa waktu di sekolah.

"Man, apa kau suka menggerutu saat bangun."

Kepala Sakura sakit saat ia mengusap pelipisnya. "Diam, kepala ayam."

Sasuke menatap Sakura dengan ekspresi terkejut di wajahnya. "Kau memanggilku apa?" geramnya.

Sakura tersenyum puas. "Aku memanggilmu kepala a-yam," kata Sakura sambil menekankan setiap kata. "Itu berarti aku pikir kau memiliki rambut pantat ayam dan otak ayam juga."

Sasuke geram. "Kau beruntung kau seorang gadis atau aku akan memukulmu sekarang."

Sakura mendengus. "Apa itu ancaman? Kau bisa maju ke depan wajahku dan coba memukulku.. kalau kau bisa."

Sasuke mengutuk pelan. Ia melotot pada gadis berkepala merah muda itu. "Apa kau tahu dengan siapa kau bicara? Aku orang yang sangat besar dan penting di Jepang."

Sakura tertawa. "Satu-satunya hal yang besar tentangmu adalah egomu."

"Dengar, woman. Aku datang ke sini hanya karena beberapa alasan aneh, aku tidak bisa menghilangkan perasaan gelisah ini jadi aku datang untuk melihat bagaimana keadaanmu."

Sakura mendengus. "Jadi, maksudnya kau ingin memberitahuku bahwa kau benar-benar merasa bersalah?" tanyanya.

Laki-laki berambut hitam itu mendengus. "Jadi itu sebutannya?"

Sakura menyeringai. "Jadi, ini perasaan bersalah pertamamu?"

Sasuke mendengus lagi. "Apa perasaan itu bisa hilang?"

"Mungkin, kalau aku memaafkanmu. Tapi itu tergantung bagaimana perasaanku tentangmu dan sekarang itu bukan perasaan yang sangat positif."

Sasuke melotot pada Sakura dan Sakura juga melotot. Tirai dibuka dan Naruto melangkah masuk. Dia melihat dua orang di depannya melotot satu sama lain.

"Uh, Sakura? Sasuke? Apa aku mengganggu sesuatu?" Tanya Naruto.

Sakura dan Sasuke berbalik lalu berteriak serempak, "Dengan orang itu?!" Mereka menunjuk dan menuduh satu sama lain. "Apa maksudmu dengan AKU?!" mereka berteriak satu sama lain.

"Kau harus merasa terhormat karena memiliki nama dengan kalimat yang hampir sama denganku!" Sasuke berteriak pada gadis berkapala merah muda itu.

"Oh silahkan Tuan Maha Tinggi dan Hebat. Tunjukkan lagi padaku tindakan dramatismu."

"Siapa yang kau sebut dramatis, dasar gadis jidat!"

"GADIS JIDAT?" Sakura berseru keras. "Dasar babi dramatis!"

Mereka melotot marah satu sama lain. Naruto berdiri tercengang karena ia tidak yakin apa yang harus ia lakukan.

"Aku membuang-buang waktuku berdebat denganmu," gumam Sakura.

"Aku sangat setuju," balas Sasuke.

Sakura mengalihkan pandangan dari Sasuke dan melirik ke luar jendela, masih penuh amarah. Langit mulai gelap dan bulan purnama terang mulai muncul di balik awan gelap.

Apa benar sudah satu jam sejak sekolah berakhir?

Sakura melompat dari tempat tidur dan memakai sepatu lalu berlari ke Naruto yang membawa pakaian dan tas sekolahnya. Ia meraih lengan Naruto dengan tegas dan melirik jam digital yang dikenakan di pergelangan tangannya. Angka 06:24 tertulis di sana. Sakura terbelalak. "Ya Tuhan," gumamnya pelan.

Sakura mengambil barang miliknya dari tangan Naruto yang terkejut dan sambil memegang semua barangnya di lengan, ia mengambil tangan Naruto dan menjabatnya cepat. "Terima kasih untuk segalanya tapi aku harus pergi," kata Sakura buru-buru. Si pirang menatap kembali gadis berambut merah muda itu dengan bingung dan rona samar di pipinya ketika Sakura meraih tangannya.

Sakura tersenyum minta maaf dan dengan cepat membuka tirai lalu berlari keluar. Kedua laki-laki itu menatap sosok gadis itu saat ia berlari keluar pintu. Sesaat kemudian, Sakura kembali dan meraih jam yang ada di atas meja samping tempat tidur dan berlari kembali tanpa melirik dua laki-laki itu lagi.

Ketika pintu tertutup, Sasuke menggaruk kepalanya dan mengerutkan kening. "Dia pergi sementara kita berdebat satu sama lain," gumamnya.

Naruto tetap tenang tapi warna kemerahan samar masih tetap ada di wajahnya saat ia menatap pintu yang telah Sakura lalui. "Dia memegang tanganku," katanya dengan suara bingung.

Sasuke mendengus. "Siapa yang ingin memegang tangan gadis seperti itu?"

Naruto mendesah gembira. "Aku mau," katanya dengan tatapan menerawang di matanya.

Sasuke memukul belakang kepala si pirang. "Bodoh! Jangan terlihat bodoh dan memiliki mata bodoh tentang gadis bodoh itu."

Naruto mengusap kepalanya dan menggeram pada laki-laki berambut hitam itu. "Sialan! Jangan menghina Sakura-chan atau aku akan memukulmu."

Sasuke menyeringai. "Kau tidak pernah mampu mengalahkanku sekali pun saat kita mengambil pelajaran karate."

Naruto hanya menanggapi dengan geraman lain. "Itu karena kau selalu memiliki guru yang baik."

Sasuke berjalan ke pintu. Ia membukanya dan kembali menatap Naruto saat ia berjalan keluar. "Itu disebut keterampilan." Ia melangkah keluar dan pintu ditutup.

Naruto merengut pada pintu yang tertutup. "Sialan," gumamnya.

—Song of a Cherry Blossom—

Sakura berlari secepat yang ia bisa saat angin sejuk malam bertiup melalui rambut berwarna cherry-nya. Ia menyelipkan tali tas ke bahunya dan dengan cepat mengambil pakaiannya di dalam. Angin dingin bertiup di kakinya dan ia menggigil dalam balutan seragam olahraganya. Sakura berlari lebih cepat dan akhirnya berhenti di depan klub malam. Ia melirik jam tangannya. Dalam cahaya redup dari lampu jalan, tertulis pukul 06:58 pada jam tangannya. Sakura menghela napas lega. Sepanjang hari ini tampaknya ia terus berlari.

Aku tepat waktu.

Sakura mendorong pintu yang berat di depannya dan melangkah masuk klub. Tsunade berjalan keluar dari balik tirai panggung sambil bergegas menuju Sakura.

"Sakura! Kau terlambat!" Tsunade berteriak.

Sakura menunjuk jarinya ke jam tangannya dan protes. "Aku dua menit lebih awal! Beri aku istirahat."

Tsunade memutar matanya. "Kau setengah jam lebih lambat dari biasanya."

Sakura tersenyum malu-malu. "Maaf, Tsunade-sama. Aku dilempar bola basket oranye oleh si sombong, arogan brengsek itu lalu hilang ingatan tentang siapa aku dan kemudian harus dibawa ke sini dengan ambulans merah-putih dengan sirene keras yang gila sehingga aku bisa ke sini tepat waktu."

Tsunade mengerutkan kening. "Sakura, aku minta maaf, tapi bahkan Jiraiya datang dengan alasan yang lebih baik daripada kau."

Sakura menyeringai. "Setidaknya bagian yang pertama itu benar."

Wanita pirang itu mendesah. "Baiklah kalau begitu. Pergi dan ganti pakaianmu. Pelanggan akan datang ke sini segera dan dua pelayan kami sakit jadi kau akan memiliki sedikit pekerjaan di depanmu."

Sakura mengerang. "Dan aku pikir aku akan memiliki malam yang mudah hari ini."

Tsunade tersenyum. "Yah, Jiraiya akan membayarmu tiga kali lipat untuk malam ini."

Wajah Sakura cerah. "Itu bisa diatur!" Sakura mengetuk jarinya di dagu. "Tapi bukannya sekarang hari Senin? Seharusnya tidak terlalu sibuk di sini jadi tidak perlu banyak pelayan."

Wanita pirang itu tertawa. "Kami membuat pertunjukan baru hari ini dan tempat ini mungkin akan cukup penuh sesak. Ini semua bagian dari inisiatif Penyambutan Musim Gugur agar siswa datang ke sini saat weeknight!"

Sakura mengangguk. "Oh benar, aku ingat selebaranmu yang aku tempel di sekitar kota."

Sakura menuju ke belakang panggung dan berjalan menyusuri lorong pendek ke ruang ganti. Ruang pertama adalah ruang ganti Sakura saat ia memiliki pertunjukkan sebagai Nona Saki. Tapi Sakura menggunakannya selama weekdays untuk berganti pakaian. Sakura menjatuhkan tasnya di lantai dan menaruh pakaian biasa nya di sofa kecil. Ia membuka lemari kecil yang berisi banyak pakaian yang berbeda untuk pertunjukan. Ia mengurutkan pakaiannya dan menemukan seragam pelayannya di paling akhir. Sakura mengambilnya dan dengan cepat memakainya. Jari Sakura meraba-raba kancing putih kecil di lengan panjang blus berwarna kremnya. Ia selesai mengancingkan baju dan kemudian memakai rok hitam di atas lutut. Sakura melihat cermin sambil membetulkan dasi pita hitam kecilnya dan menjepit name tag-nya yang bertuliskan 'Sakura'.

Sakura menyisir rambut merah mudanya. Ia dengan cepat mengambil karet gelang dan mengikat tinggi rambutnya menjadi ekor kuda sehingga mata hijau emerald-nya terlihat dengan jelas. Ia melepas sepatu dan kaus kakinya lalu memakai sepatu hak hitam. Tumitnya naik beberapa inci dan membuat roknya terlihat lebih pendek. Ia menarik ujung pada roknya agar menutupi lututnya, tapi rok itu menolak melakukannya. Sakura menghela napas. Baiklah.

Sakura memeriksa penampilannya sekali lagi untuk melihat apa penampilannya sudah rapi. Ia melihat jam tangannya. Jam tujuh lewat sedikit. Sakura berjalan keluar dan menutup pintu ruang ganti lalu berjalan ke bar. Area remang-remang menjadi terang tanda klub mulai buka. Beberapa orang datang dan menemukan kursi di meja dan sofa. Sakura berjalan ke meja bar di mana Idate sedang membuat beberapa minuman.

"Sepertinya hari ini akan menjadi malam yang sibuk," kata Sakura sambil duduk di bangku.

Idate tidak berbalik tapi mengangguk. "Ya, bagi kita berdua. Yang lain sedang sakit dan aku harus mengganti shift-nya."

Sakura tertawa. "Kita yang tidak beruntung, atau apa?"

Idate tersenyum dan berbalik. Ia meletakkan nampan minuman di depan Sakura. "Ini untuk meja di sana," katanya sambil menunjuk ke meja jauh di bagian belakang klub. Sakura mengangguk dan mengambil nampan yang berat. Dengan hati-hati ia menempatkan nampan di tangan kanannya dan berjalan ke meja.

Sakura meletakkan minuman di depan tiga orang yang duduk di meja. Satu di depan seorang gadis dengan rambut berwarna cokelat, satu di depan seorang laki-laki dengan mata putih dan yang terakhir di depan seorang laki-laki dengan alis tebal yang tidak biasa.

"Terima kasih," kata gadis itu sambil mengambil minumannya. Dia tersenyum pada Sakura dan Sakura tersenyum ke arahnya.

Laki-laki bermata putih tidak mengatakan apa-apa tapi mengangguk singkat. Sakura memeluk nampan di dadanya dan hendak berbalik ketika seseorang meraih tangannya dari belakang. Sakura berbalik kaget. Laki-laki alis tebal memegang kuat tangan Sakura dan menatap tajam gadis berkepala merah muda itu. Gadis berambut cokelat tertawa melihatnya. Laki-laki bermata putih memasang wajah stoic seperti biasa tapi tetap mengamati situasi.

"Um, maaf tuan. Tapi kau sepertinya memegang tanganku.." kata Sakura.

"Nona Sakura-san?" Laki-laki alis tebal itu bertanya sambil membaca name tag di baju Sakura. Sakura mengangguk pelan. Ada apa dengan orang ini? Pikir Sakura.

"Nona Sakura-san, akankah kau menghormatiku dengan sebuah tarian?" Dia bertanya.

Sakura menatap laki-laki di depannya dengan tatapan terkejut. Ia ternganga padanya dan tidak yakin apa yang harus dikatakan. Untungnya, ia mendengar Idate memanggil. "Sakura, ada nampan lain untukmu."

Sakura mengambil tangannya cepat dari genggaman pria itu. "Eh, aku harus pergi bekerja. Maaf!" ia berkata cepat sambil bergegas pergi.

"Namaku Rock Lee!" seru laki-laki alis tebal itu. "Jangan lupakan aku, Nona Sakura-san!"

Sakura membanting nampan kosong di atas meja dan mengambil napas dalam-dalam. Ia kehabisan napas karena ia lari secepat yang ia bisa.

Idate menatap gadis berkepala merah muda yang terengah-engah itu sambil mengatur minuman di nampan lain di atas meja.

"Sakura, kau baik-baik saja? Kau terlihat seperti habis lari maraton."

Sakura menatap pria berambut hitam itu dan tersenyum malu-malu. "I-itu, tidak ada. Hanya beberapa pelanggan aneh."

Ia mengambil nampan yang penuh dengan minuman dan dengan senyum ia bertanya, "Jadi, nampan ini diantar ke mana?"

Idate menunjuk jarinya ke beberapa orang yang duduk di sofa. Sakura mengangguk dan membawa minuman ke orang-orang itu. Selama setengah jam berikutnya, Sakura sibuk bekerja membawa minuman dan makanan pembuka ke pelanggan juga mengambil gelas kosong dan piring untuk dicuci.

Sakura membawa nampan gelas kotor ke meja bar dan memberikannya pada orang yang sedang sibuk mencuci gelas dan piring. Ia berjalan ke sisi lain dari meja bar di mana Idate sedang membuat beberapa minuman lebih. Sakura duduk kelelahan di atas bangku sambil menunggu nampan berikutnya.

Idate berbalik dan meletakkan lima minuman di atas nampan. "Ini untuk meja di sana," kata Idate sambil menunjuk ke sebuah meja. Sakura menoleh ke meja dan melihat gadis dengan rambut berwarna cokelat dan laki-laki bermata putih. Laki-laki alis tebal itu tidak terlihat. Sebaliknya, ada dua orang yang baru duduk dengan mereka. Sakura tersentak. Seorang gadis berambut pirang panjang dengan Sasuke. Mereka duduk berdampingan di samping dua lainnya.

Oh bagus. Itu dia.

Sakura mengerang. "Aku tidak mau."

Idate menyeka tangannya di handuk kecil. "Kenapa tidak?"

"Jangan tanya."

"Tapi kau harus," kata sebuah suara dari belakang Sakura. Sakura berbalik dan melihat Anko duduk di bangku sambil makan Dango.

"Anko!" Sakura berseru terkejut. Anko menyeringai sambil mengunyah Dango nya. Dia memakan Dango terakhir dan membuang tusuk Dango di atas meja. Wanita berambut ungu gelap itu mengambil nampan dan menyerahkannya pada Sakura. "Lihat, ada seorang laki-laki imut duduk di sana."

Sakura mengerutkan kening. "Aku tidak melihat ada sesuatu hal yang imut tentang laki-laki itu."

"Aku tidak pernah bilang laki-laki yang mana yang imut."

Sakura tersipu malu. "Yah, aku masih tidak mau."

Anko mendorong kasar nampan itu ke tangan Sakura. "Sayang sekali. Itu tugasmu."

"Aku tidak pernah menyukai pekerjaan ini," Sakura menggerutu sambil berbalik dan berjalan perlahan ke meja dengan enggan.

Anko berteriak di belakangnya, "Cepatlah Sakura! Bisakah kau lebih lambat lagi?"

"Diamlah," gumam Sakura. Sakura mencapai meja itu dan meletakkan minuman dengan cepat tanpa membuat kontak mata dengan Sasuke. Semua orang asyik mengobrol dan mereka sepertinya tidak melihat Sakura yang menaruh minuman di depan mereka. Sakura meletakkan minuman terakhir dan berbalik cepat. Ia mendesah lega saat Sasuke tidak melihatnya. Ia baru akan berjalan pergi ketika sebuah suara memanggilnya.

"Apa itu kau? Gadis jidat?" Sasuke memanggil dengan nada tanya.

Sakura tidak berbalik dan hanya menggeleng. Sangat jelas ia tidak bisa menyembunyikannya karena rambut merah mudanya. Ia mendesah dan berbalik.

Sasuke menyeringai saat melihat dirinya. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada mengejek.

Sakura mendelik ke arahnya, "Aku bekerja di sini, jelas." Ia menunjuk seragamnya.

"Seorang gadis yang bekerja, ya? Baik untukmu."

Ino meringkuk pada Sasuke. "Sasuke-kun, siapa dia?"

"Beberapa gadis menyebalkan di kelas kami," Sasuke menjawab.

Sakura melotot. "Kau juga tidak lebih baik." Setelah berkata seperti itu Sakura berbalik dan berjalan pergi.

Ino melihat kembali sosok gadis berkepala merah muda itu. Dia tampak familiar, pikir Ino.

Gadis pirang itu menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke. "Aku tidak percaya gadis itu berbicara padamu seperti itu."

Sasuke mendengus. "Ya, dia aneh. Dia bahkan tidak tahu siapa aku."

Tenten tertawa. "Aku menyukainya. Dia punya keberanian."

Tenten melihat ke Neji. "Benar?" tanyanya sambil menyikut laki-laki bermata putih. Neji mengangguk perlahan. "Tidak ada gadis yang pernah berbicara ke Uchiha seperti itu, sudah pasti."

Tenten duduk kembali di kursinya. "Aku ingin mengenalnya dengan baik."

"APA?" Seru Sasuke. "Kenapa kau ingin bertemu dengan gadis seperti itu? Dia tidak menghormati orang lain."

Tenten mendengus, "Aku yakin dia bahkan menghormati orang lebih darimu, Uchiha Sasuke."

Ino mengibaskan jarinya Tenten. "Jangan jahat pada Sasuke-kun, Tenten."

Tenten memutar matanya. "Aku jujur."

Sasuke menggerutu pelan, "Bertemanlah dengan dia jika kau mau. Aku tidak peduli. Aku tidak ada hubungannya dengan gadis-gadis seperti itu."

Tenten membalas, "Aku tidak pernah meminta persetujuanmu jika aku ingin berteman dengan seseorang."

Ino mendesah. "Tenten, Sasuke-kun tidak bermaksud seperti itu." Ino memeluk lengan Sasuke sambil memiringkan kepalanya untuk melihat Sasuke. "Dan kau lebih baik tidak ada hubungannya dengan gadis itu. Selain itu, kau milikku."

"Hn," jawab Sasuke.

Neji menghela napas. "Kalian bertiga terlalu banyak bicara."

—Song of a Cherry Blossom—

Sakura berjalan kembali dan duduk merosot di bangku yang ada di depan Idate. Idate menaruh minuman di depan Sakura. Sakura menghela napas. "Untuk siapa ini?" ia bertanya.

Pria berambut hitam itu menyeringai. "Ini untukmu. Aku traktir."

Mata Sakura menjadi cerah. "Benarkah? Untukku?"

Idate mengangguk. "Setelah melihatmu bekerja begitu keras, aku pikir kau pantas minum."

Sakura tersenyum. "Terima kasih, Idate-san," katanya gembira sambil meneguk minumannya.

Sakura meletakkan nampan di atas meja dan menatap band. Lagu mereka berakhir saat gitaris mengakhiri lagu dengan penuh gaya halus. Para penonton mulai bertepuk tangan dan Sakura juga bertepuk tangan untuk band.

Para anggota band melambai ke penonton dan mulai mengemasi instrumen dan peralatan mereka. Sakura bersandar di meja dengan kecewa. "Aku hampir tidak mendengarkan mereka karena semua pelanggan," kata Sakura kecewa.

Band meninggalkan panggung dan musik mulai mengalun dari sound system. Sakura mengulurkan tangan dan melirik jam tangannya. Jam 9:30.

"Setengah jam sebelum penutupan hari ini," Sakura berkomentar.

Idate—yang sedang membersihkan meja, meletakkan handuknya dan meraih tangan Sakura. "Kalau begitu mari kita berdansa."

"Ap—? Tapi pelanggan.." Sakura protes.

Idate mengabaikan protes nya. "Ada seseorang yang menggantikanku dan orang-orang mulai sepi karena band sudah selesai, tidak akan ada banyak pesanan minuman."

"Tapi, tapi—"

Idate menaruh jarinya di bibir Sakura. "Shh, kau terlalu banyak berpikir."

Sakura diam ketika jari Idate menekan bibirnya. Ketika Idate menarik kembali jarinya, Sakura diam-diam menjawab, "Jangan."

Idate tertawa. "Ayo," katanya sambil menyeret Sakura ke lantai dansa.

Wilayah ini lebih kosong dari sebelumnya karena sebagian besar orang sudah pergi. Beberapa tetap bertahan di sana dan perlahan menari saat lagu slow diputar dari sound system.

"Aku tidak benar-benar ingin menari. Selain itu, aku tidak baik dalam menari," Sakura protes.

"Bohong. Aku tahu kau mengambil kelas tari sebelumnya."

Sakura mengerutkan kening. "Ingatkan aku untuk tidak pernah mengatakan apa-apa tentang diriku lagi."

Pria berambut gelap itu tertawa. "Tentu, tapi pertama-tama kau harus rileks dan berhenti kaku."

"Siapa bilang aku kaku?" balas Sakura.

Idate menekan bahu Sakura. "Bahumu sangat tegang dan sekarang jariku terluka karena menekannya."

"Aku tidak bertanggung jawab atas kerugian fisik yang mungkin kau dapat karena kontak denganku."

Sebuah lagu upbeat dimulai dan Sakura tidak bisa menahan dirinya dan mulai mengetuk tumitnya di atas lantai dansa. Perlahan ia menggerakan kepalanya dan pinggulnya mulai bergoyang. Idate menatap Sakura dan tersenyum.

"Itu terlihat seperti sifat keduamu bukan?" tanyanya lembut.

Sakura melirik Idate. "Apa maksudmu?"

"Kau mulai menari," jawab Idate.

"Aku hanya memastikan sendiku bekerja dengan baik," Sakura menjelaskan. Sakura mengalihkan pandangannya dari Idate. "Dan untuk informasimu, itu sebenarnya sifatku yang pertama."

Idate tertawa dan Sakura tersenyum. Gadis berkepala merah muda itu meraih tangan Idate. "Kalau begitu, ayo kita menari." Idate mengikuti Sakura dan mereka mulai menari. Gerakan Sakura mengalir seirama dengan musik saat ia menutup matanya. Ia bisa merasakan lagu menyelimuti sekelilingnya dan mengambil alih tubuhnya. Ia membuka matanya dan menatap wajah Idate yang tersenyum. Sakura mulai menyanyikan lembut sebuah lagu dan terus menari sepanjang lagu. Idate bergerak ke arah Sakura dan melepas karet gelang yang mengikat rambut merah mudanya tinggi-tinggi. Rambut merah muda mengkilap Sakura jatuh ke bawah dan tergerai di atas bahunya.

Sakura melakukan gerakan memantul kepalanya lalu meraih kepala Idate agar dia melakukan hal yang sama. Sakura terkikik melihat tarian canggung Idate. "Aku pikir kau harus melakukan tarian robot."

"Aku tidak bisa. Aku dilarang melakukan tarian itu."

Sakura tertawa. "Tidak mengherankan."

Sasuke mengangkat gelasnya sambil membiarkan cairan minumannya berdesir di kaca. Melalui kaca yang bening, ia bisa melihat gadis berambut merah muda menari dengan seorang pria berambut gelap. Hn.

Sasuke nembanting kasar gelasnya di atas meja. "Ayo kita tinggalkan tempat ini," gumamnya sambil meraih mantelnya dan berjalan keluar pintu. Ino berlari keluar menyusul dengan gaun strapless birunya dan meraih tangan Sasuke.

"Sasuke-kun, kenapa kita pergi tiba-tiba?" Ino mengeluh.

Sasuke menoleh pada Ino dan menjawab dengan tenang, "Kau bisa tetap di sana jika kau mau. Aku tidak peduli." Laki-laki berambut hitam itu memasukkan tangannya ke saku celana dan berjalan pergi meninggalkan wanita berambut pirang yang berdiri dalam dingin.

"Sialan," Sasuke bergumam pada dirinya sendiri. Dia merasa lebih kesal dari biasanya hari ini. Hari ini memang bukan 'hari'-nya.

—Song of a Cherry Blossom—

A/N:

Oke, ini dia balasan untuk review yang ada^^

Rhein98: Ini udah dilanjut^.^ Maksudnya menggoda itu ya digoda yang genit-genit gitu lho._.

chika kyuchan: Iya kasian Saku-nya:" Btw arigatou udah mau read&review^^

hanazono yuri: Ini udah dilanjut ya;3

black cherry fanfic: Arigatou ne^3^ Udah dilanjut nih;)

AAAlovers: Haha ini semangat kok ngelanjutinnya^O^

pinktomato: Sip ini dilanjut yawˊ▽ˋ

Niwa-chann: Sama-sama;D Iya ini karya Diana-san yang udah tamat^^

Yosh, sekian AN dari Yuki. Gomen ne kalau masih ada kata/kalimat yang ngawur.-. Maklum Yuki bukan orang yang pro bahasa Inggris, ditambah fic ini ditranslate tengah malem jadi ngantuk2 dikit XD

Reminder: This fanfiction belongs to Diana-san ^_^