Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 4 — Past Memories
Sakura mengambil napas dalam-dalam saat ia berdiri di depan pintu kelas. Ugh. Aku tidak ingin melihat si brengsek. Kenapa ia harus duduk di belakangku sih?
Sakura menghela napas, ia membuka pintu dan masuk ke dalam kelas. Ruang kelas sama kacaunya seperti kemarin, para siswa berkeliaran dan mengobrol. Beberapa anak laki-laki melempar penghapus dan benda-benda kecil satu sama lain. Sakura memperhatikan sekeliling ruangan dan melihat tidak ada tanda-tanda dari si kepala raven menyebalkan. Sakura menyeringai sambil duduk di kursinya. Ia meletakkan tas sekolahnya di lantai dan mengambil sebuah buku.
"Selamat pagi, Sakura-chan!" Sebuah suara ceria berteriak pada Sakura.
Sakura mendongak dari bukunya dan menatap wajah ceria Naruto. "Pagi Naruto," balas Sakura.
Naruto duduk di kursi depan Sakura dan melirik buku yang Sakura pegang. "Apa itu?" tanyanya sambil menunjuk buku itu. Sakura membalik buku itu ke arah wajah Naruto sehingga ia bisa membaca judul bukunya. "PR kita," Sakura menjelaskan. "Apa kau tidak mengerjakannya?" Sakura bertanya.
Naruto mengerjap dua kali. "Ada PR untuk kita?" Dia bertanya.
Sakura tertawa. "Ya, kau tidak membaca papan tulis waktu itu?"
Naruto menggaruk kepalanya. "Aku pikir aku sedang tidur saat itu."
Sakura menghela napas. "Yah, silangkan jari-jarimu supaya Kakashi-sensei tidak memanggilmu untuk menjelaskan tentang buku itu."
Naruto mengerang. "Bahkan jika aku tahu tentang tugas itu, bagaimana bisa aku selesai membaca buku dalam waktu sehari?"
"Itu hanya sebuah cerita pendek, Naruto."
"Membaca adalah hal yang membosankan."
Sakura menggeleng. "Tapi kadang-kadang kau harus melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan." Seperti melayani minuman untuk si brengsek arogan.
"Oh baik. Aku akan melakukan sesuatu jika aku dipanggil oleh Kakashi-sensei," kata Naruto sambil tersenyum. Naruto berpikir sejenak sebelum berkata, "Beri tahu aku, nanti kau makan siang dimana?"
"Makan siang?" Tanya Sakura. Naruto mengangguk. Sakura melihat ke luar jendela. "Yah, aku duduk di daerah teduh di bawah pohon yang ada di halaman."
"Baiklah. Aku akan datang ke sana."
"Huh?"
Naruto menyeringai. "Ayo kita makan siang sama-sama!"
Sakura menatap wajah tersenyum Naruto dan tidak bisa menahan senyumnya. Sakura mengangguk. "Baik."
Tiba-tiba beberapa jeritan terdengar di dalam ruangan dan Sakura mencari tahu sebab keributan itu. Ia mengerutkan dahi ketika melihat siapa orang itu. Ia menatap laki-laki berambut hitam spike dengan poni yang menggantung di atas matanya. Hanya berpikir tentangnya membuat kepala Sakura sakit.
Sasuke berjalan ke kursi di baris terakhir dan melewati Sakura tanpa berkata apapun lalu duduk di kursinya.
Kakashi berjalan masuk kelas dan menaruh tasnya di atas meja. "Baiklah, anak-anak! Ayo kita mulai kelas hari ini!"
—Song of a Cherry Blossom—
Bel berbunyi menandakan kelas berakhir. Sakura mengemasi barang-barangnya cepat lalu meraih tas sekolahnya dan menyampirkan tasnya di atas bahu.
"Sakura-chan! Aku akan menemuimu di halaman nanti!" Kata Naruto.
Sakura mengangguk. "Baiklah kalau begitu."
Sakura berjalan keluar dan pergi ke halaman. Ia berjalan di rerimbunan pohon lalu duduk. Di bawah daun pohon yang rindang, ia bersandar di salah satu batang pohon dan menutup matanya. Meskipun saat itu musim gugur, cuaca masih terasa seperti musim panas. Angin berhembus menggelitik bagian belakang leher Sakura saat ia mengikat rambutnya menjadi sanggul berantakan. Sakura membuka tasnya dan mengeluarkan makan siangnya. Ia membuka bento yang berisi makan siangnya. Daging dan ikan dengan sayuran yang dimasak diletakkan pada satu sisi bento dan sisi lain bagian nasi. Sakura menggunakan sumpitnya dan memikirkan apa yang harus ia makan dulu. Ia mendongak dan menatap siswa yang sedang makan siang di kejauhan dan terus memperhatikan mereka sambil makan.
Sakura tersenyum saat melihat si kepala pirang yang familiar berjalan ke arahnya. Ia melambaikan tangan padanya dan si pirang dengan cepat berlari menghampiri.
"Hei," kata Sakura saat Naruto duduk di sampingnya. Ia melihat sesuatu di tangan Naruto dan menatapnya dengan penasaran. "Apa itu?" tanyanya sambil menunjuk benda itu.
Naruto membuka tangannya dan memperlihatkan semangkuk ramen instan. Sakura menatap Naruto. "Bagaimana caramu makan itu?" ia bertanya.
Naruto mengambil sebuah termos. "Aku hanya perlu menuangkan air panas di atasnya dan menunggu tiga menit. Tapi aku selalu benci menunggu tiga menit."
Sakura tertawa pelan. Ia mengambil sayuran dengan sumpitnya dan menggigitnya. "Kau tampak berbeda dari anak-anak lain."
Naruto mendongak dari mangkuk ramen, dan sumpitnya terangkat ke udara. "Huh?" Naruto berbicara dengan mulut penuh. "Apa maksudmu?"
"Yah, kau tampaknya tidak terlalu terobsesi dengan uang seperti anak-anak kaya lainnya. Kau benar-benar tampak.. yah.. normal."
Naruto menurunkan sumpitnya. "Itu karena aku tidak kaya."
Sakura menatap Naruto dengan penuh kebingungan di mata emerald-nya. "Apa maksudmu? Apa itu berarti kau dapat beasiswa?"
Naruto hampir tersedak ramen. "Yah, orang bilang aku jenius," ia berbohong. "Tapi aku bukan jenis murid beasiswa."
"Orang-orang bilang kau adalah seorang jenius?" Tanya Sakura.
"Oke, mereka tidak."
Sakura memutar matanya. "Lalu apa?"
Naruto menaruh mangkuknya di rumput dan meletakkan sumpitnya di atas mangkuk. "Yah, pertama, Sasuke dan aku adalah teman."
Sakura hampir tersedak makanannya. "Kalian berdua? Teman? Kalian berdua tidak terlihat seperti memiliki ikatan persaudaraaan yang ramah."
"Orang tuaku dan orang tuanya adalah teman jadi Sasuke dan aku kenal satu sama lain. Setelah orang tuaku meninggal, para Uchiha itu membawaku dan memperlakukanku seperti anak mereka yang lain. Karena ayah Sasuke pemilik sekolah ini, tentu saja aku sekolah disini juga. "
"Tunggu sebentar. Sasuke memiliki sekolah ini?"
"Sebenarnya, ayahnya pemiliknya."
"Dia MEMILIKI sekolah ini?"
Naruto mengangguk. Sakura menatap tidak percaya ke kejauhan. "Ya Tuhan. Uchiha Sasuke.. Uchiha Corporation." Sakura mengatakannya dalam penuh kesadaran. Sakura memukul kepalanya dengan tangan. "Aku tidak percaya aku menyebut pewaris Uchiha Corporation kepala ayam," gumamnya.
Naruto tertawa. "Aku suka nama itu. Itu selalu membuatnya kesal ketika kami masih muda." Naruto berhenti tertawa dan menatap Sakura dengan kening berkerut. "Tapi, kau tidak tahu dia adalah seorang Uchiha?"
"Ya. Tapi otakku pasti ada di tempat lain."
"Apa kau pernah menonton berita? Perusahaan ini berkembang ke negara-negara lain dan semakin besar setiap tahun. Ketika Sasuke berumur delapan belas tahun, dia akan menjadi presiden baru Uchiha Corporation."
Sakura tertawa gugup. "Yah, aku tidak benar-benar menonton berita. Atau membaca koran dalam hal ini."
Naruto tertawa. "Jadi bagaimana denganmu?"
"Hah? Bagaimana denganku?"
Naruto bersandar pada pohon. "Kau tahu.. Hidupmu. Kau seorang mahasiswa beasiswa, kan?"
Gadis berkepala merah muda itu mengangguk. "Sebuah beasiswa musik." Sakura menekuk lututnya hingga dagu dan memeluknya. "Hidupku?" Tanya Sakura pelan.
Naruto mengangguk pelan. Sakura menatap pohon-pohon. Angin bertiup dengan cepat, ranting dan daun melayang perlahan ke tanah seperti seharusnya pada musim gugur. Sebuah daun hijau kecil jatuh ke telapak tangan Sakura dan ia mencengkeramnya erat-erat. "Aku adalah anak tunggal. Orang tuaku sangat menyayangiku. Mereka akan selalu menempatkan kebutuhanku di atas kebutuhan mereka sendiri. Mereka adalah dua orang yang paling egois yang pernah aku tahu dalam hidupku," kata Sakura pelan saat ia memainkan daun di tangannya. Naruto duduk diam dan mendengarkan Sakura dengan penuh perhatian. Sakura memandang lapangan sekolah dengan tatapan menerawang di mata emerald-nya. Air mata menggenang di matanya tapi mereka bertahan untuk tidak jatuh.
Sakura menutup matanya. "Rasanya begitu lama.. Sejak kecelakaan itu.." suara Sakura tersendat tapi ia melanjutkan, "Aku sedang mengepak barang-barangku karena kami akan pergi ke rumah kakek-nenekku.."
"Sakura! Cepat! Kita harus pergi ke rumah nenek," ibu Sakura berteriak sambil menjulurkan kepalanya dari balik pintu.
"Baik, baik," gerutu Sakura sambil melompat dari kopernya. "Aku tidak melihat ada alasan kenapa kita harus mengunjungi mereka. Mereka mungkin bahkan tidak ingin melihat kita. Ini hanya salah satu pertemuan keluarga dimana semua orang memasang senyum palsu dan berpura-pura tidak ada yang salah."
"Sakura, mereka kakek-nenekmu dan mereka adalah orang tuaku. Kita harus pergi dan mengunjungi mereka."
"Kenapa? Kenapa kita harus pergi mengunjungi mereka? Mereka selalu memandang rendah ayah hanya karena dia berasal dari kalangan yang lebih rendah. Tapi ibu maju ke depan dan menikah dengannya karena ibu tidak peduli apa yang mereka pikirkan. Sekarang, mereka selalu mendorongku dan ingin aku menikah dengan laki-laki dari sebuah keluarga kaya sehingga aku tidak akan jadi seperti putri mereka. Aku benci mereka meremehkan ayah dan aku benci cinta palsu mereka. Mereka tidak peduli tentang aku. Mereka hanya ingin aku menikah dalam sebuah keluarga yang baik sehingga aku bisa membuat mereka bangga, "Sakura meludah dengan jijik.
"Sakura," kata ibunya dengan nada peringatan. "Mereka adalah.."
Sakura menyela. "Ya, aku tahu. Mereka adalah kakek-nenekku," ia menirukan nada ibunya. "Tapi jika mereka benar-benar kakek-nenekku, seharusnya mereka tidak memperlakukan ayah seperti itu. Kadang-kadang aku bahkan merasa mereka melihatku sebagai hasil dari orang rendahan dan aku bukan cucu mereka."
"Sakura, sayang. Mereka mencintaimu. Mereka sangat mencintaimu dan sangat peduli tentangmu. Mereka bahkan membayar semua biaya pelajaranmu."
Sakura menatap ibunya. "Mereka membayar semua pelajaranku hanya karena mereka merasa bersalah karena tidak ada di sana saat aku masih muda. Ketika ibu dan ayah menikah, mereka menutup kalian berdua dari kehidupan mereka karena mereka tidak setuju, kan? Kemudian mereka tahu ibu punya anak tapi aku sudah dua belas tahun saat mereka mengetahuinya. Untuk menebus waktu yang hilang denganku sebagai cucu mereka satu-satunya, mereka sepakat membayar semuanya untukku. Pelajaran piano, pelajaran gitar, pelajaran tari, dan kelas bela diri. Tapi selain itu, cinta apa yang benar-benar mereka tunjukkan padaku?"
Sakura menutup resleting tas ranselnya. "Aku tidak tahu apa yang kakek-nenek lakukan tapi semua orang memberitahuku cerita tentang nenek mereka akan memanggang kue lezat dan merajut sweater yang tidak pernah mereka pakai di depan umum. Kakek mereka akan pergi memancing bersama mereka dan saat makan malam, memberitahu mereka lelucon perang jaman dulu biarpun semua orang sudah mendengarnya satu juta kali. Meskipun semua orang mengeluh karena harus mengunjungi kakek-nenek mereka, aku tahu mereka menyukai ikatan waktu yang mereka miliki dengan kakek-nenek mereka. Sesuatu yang tidak akan pernah aku bisa alami.. "
"Sakura.."
Sakura menatap ibunya dengan senyum ceria. "Lupakan saja bu. Aku akan berperilaku baik ketika kit sampai di sana, oke?"
Ibu Sakura mengangguk dan mereka berdua berjalan keluar. Sakura menyeret kopernya dari kamar dan membawanya turun. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursinya. Ia menyalakan CD player dan menggunakan headphone di telinganya. Sakura menaikkan volume-nya dan menutup mata. Ini akan menjadi sebuah perjalanan panjang.
Saat Sakura membuka matanya, ia melihat mobilnya sudah terparkir di depan rumah kakek-nenek nya. Rumah itu dikelilingi oleh beberapa pohon-pohon tinggi. Rumah itu ada di pinggiran kota kecil yang 40 mil jauhnya dari Konoha.
Sakura pergi ke bagian belakang mobil dan mulai membongkar bagasi. "Jangan khawatir, aku bisa melakukannya, ayah," kata Sakura saat ayahnya mencoba membantunya.
Ketika Sakura yakin orang tuanya sudah di dalam rumah, ia menghela napas lega. "Sekarang, aku hanya harus berpikir berapa banyak waktu yang bisa kubuang dengan berdiri di sini untuk mengurus bagasi sebelum mereka memberitahuku untuk masuk ke dalam," Sakura bergumam pada dirinya sendiri.
Sebelum waktu berakhir dengan lama, Sakura sudah diperintahkan masuk dan dengan enggan ia melangkah ke dalam rumah besar itu. Nenek Sakura berlari dan memberi Sakura pelukan. Sakura membalas pelukannya sedikit dan mencoba untuk tidak tercekik karena pelukan erat neneknya. Kakeknya datang dan mengacak-acak rambutnya. Sakura tersenyum ringan.
Setelah orangtua dan kakek-neneknya melakukan beberapa obrolan ringan, mereka duduk untuk makan malam. Di piring Sakura ada sebuah steak yang terlihat mewah. Sakura mengambil pisau steak dan menyentuh sepotong daging.
"Ini terlihat seperti karet," gumamnya pada dirinya sendiri.
"Sayang, kau mengatakan sesuatu?" Tanya ibu Sakura.
Sakura mendongak dengan tatapan terkejut. "Oh tidak, aku hanya bilang betapa enaknya steak ini," dia berbohong.
Kakeknya melambaikan garpu di depan Sakura. "Kau harus makan banyak, Sakura. Kau tampak kurus." Dia berkata pada ibu Sakura. "Sayuri," dia memanggilnya. "Apa kau tidak pernah memberi makan gadis itu?" cacinya.
"Kakek," Sakura menyela sebelum ibunya bisa mengatakan sesuatu. "Ibu sudah memberikan perawatan yang sangat baik untukku."
"Baiklah, jika kau bilang begitu Sakura," katanya sambil memotong steak-nya.
Sakura melirik sekilas ibunya dan melihat ekspresi sedih di wajah ibunya. Sakura menghela napas dan mulai memotong kecil sepotong steak. Terus terang, ia tidak bisa menikmati makanannya karena ia akan terlihat seolah-olah nyaman dengan gaya hidup kaya seperti mereka. Sakura mengangkat garpu dengan sepotong steak yang melekat di garpunya lalu memasukkannya ke mulut dan menatap semua orang yang duduk di meja. Sakura merasa seolah-olah mereka semua mengawasinya makan meskipun setiap orang khawatir dengan makanan mereka sendiri. Sakura memakan sepotong steak dan mengunyahnya tanpa berpikir. Rasa gurih dari steak dibalut saus meleleh di mulutnya, tapi semua yang ia bisa rasakan hanyalah kekeringan. Ia merasa tidak nyaman di meja itu karena semuanya diam dan hanya ada suara dari dentingan garpu yang mengenai piring makan.
Keheningan itu akhirnya pecah ketika neneknya mulai berbicara. "Sakura, kau sudah punya ketertarikan pada seorang pria muda yang baik?"
"Nenek!" Seru Sakura dengan rona samar di pipinya.
"Ibu! Sakura baru enam belas tahun," ibu Sakura berseru setelah putrinya.
"Hah! Para gadis menikah pada usia enam belas tahun dan aku menikah saat berumur enam belas tahun," balas nenek Sakura.
"Nenek, mereka perlu izin orang tua untuk menikah pada usia enam belas tahun," jawab Sakura dingin.
"Yah, aku memberikan izin 100 persen," jawab nenek Sakura.
"Kau bukan ibuku."
"Itu benar," kata ibu Sakura. "Aku ibunya dan ibu tidak seharusnya mendorong Sakura untuk menikah dengan sangat cepat. Ia masih enam belas tahun dan masih menyelesaikan sekolah tinggi."
Nenek Sakura hanya memandang putrinya, Sayuri. "Apa aku meminta pendapatmu? Aku hanya sekedar menanyakan apa Sakura sudah bertemu dengan orang yang dia suka atau belum."
"Ibu! Demi Tuhan! Satu-satunya alasan kau bertanya adalah karena kau ingin dia menikah."
"Dan kenapa jika aku melakukannya? Dia seorang gadis yang cerdas dengan masa depan yang cerah. Aku tidak ingin kau merusak masa depannya dengan membuat dia menikahi orang miskin."
Ibu Sakura berdiri dengan marah. "Dan apa artinya itu semua? Apa kau masih menahan sesuatu padaku setelah bertahun-tahun? Apa ibu masih tidak menyetujui pilihan yang aku pilih?"
Nenek Sakura berdiri. "Tentu saja tidak. Aku tidak pernah melakukannya. Bagaimana mungkin aku menyetujui sesuatu yang kupercayai sepenuhnya pergi? Aku membesarkanmu sebagai seorang wanita baik jadi kau bisa memiliki hal yang terbaik. Aku mengutusmu untuk pergi ke sekolah yang terbaik dan akhirnya kau akan menikah dengan pria dari sebuah keluarga yang baik. Tapi sebaliknya, kau melakukan hal yang tak terduga. Kau putus kuliah karena bertemu seseorang dan kemudian memutuskan untuk menikah. Kau tahu aku tidak menyetujuinya dan sekalipun begitu, kau tetap pergi dan kawin lari!"
"Tapi kau tahu apa? Aku memiliki yang terbaik!" Ibu Sakura berteriak. "Aku memiliki suami yang penuh kasih dan seorang putri cantik. Aku akhirnya menemukan kebahagiaan yang tidak pernah aku alami di rumah ini saat tinggal dengan ibu dan ayah. Aku selalu sengsara di sini, di rumah ini! Aku benci di sini dan sampai sekarang masih!"
Sakura berdiri. "Hentikan! Kalian berdua! Aku sudah cukup dengan semua teriakan ini." Sakura membanting tangannya di meja yang menyebabkan gelas anggur dan sari buah apel Sakura terguncang. "Aku sudah cukup! Kalian semua membuatku sakit! Aku benci kalian semua!"
Sakura meraih jaket yang tergantung di kursinya dan bergegas pergi. Semua orang dewasa berdiri dan memanggilnya tapi ia mengabaikan setiap jeritan mereka.
Sakura membuka pintu dan berlari keluar. Saat itu hari belum gelap dan langit hanya berwarna biru gelap redup. Sakura memasukkan tangannya ke saku jaket dan berjalan pergi ke hutan. Ia tidak tahu berapa lama ia berjalan tapi bau segar cedar dan pinus membuatnya merasa nyaman saat kakinya menginjak daun yang berderak. Angin dingin bertiup melalui rambutnya dan mendera wajahnya.
Gadis berkepala merah muda itu mendesah. "Aku kira aku harus kembali sekarang," gumamnya. Langit mulai gelap dan bintang-bintang mulai bertaburan di langit malam. Saat ia berjalan mendekat kembali ke rumah, ia mendengar teriakan keras dan banyak suara berteriak. Sakura mulai berlari dan ketika ia sampai ke tepi hutan, ia berdiri dengan kakinya terpaku kuat di tanah sambil menatap shock ke depan.
Rumah megah itu sekarang meledak dalam api dan asap membubung ke langit malam. Dua mobil pemadam kebakaran diparkir depan rumah dan petugas pemadam kebakaran sibuk berusaha memadamkan api. Beberapa orang lain yang melaju dalam mobil berhenti dan menatap ngeri situasi itu.
Sakura berlari dari tempatnya dan sampai pada salah satu petugas pemadam kebakaran. Ia mencengkeram kerah jaketnya dan mengguncang keras petugas itu. "Orang tuaku," ia berteriak. "Di mana mereka?!"
Pemadam kebakaran menaruh tangannya dengan tenang di atas tangan Sakura. "Apa ini rumah Anda?" ia bertanya dengan tenang.
Sakura menarik tangannya dari jaket petugas itu. "I-itu rumah kakek-nenekku."
Beberapa orang keluar dari rumah yang terbakar dan datang pada orang yang Sakura tarik. "Ketua," salah satu dari mereka berbicara. "Tampaknya tidak ada yang selamat."
Sakura menatap tanah dengan ekspresi tertegun di wajahnya. Ia tenggelam dalam kata-kata barusan dan berlari menuju rumah yang terbakar.
"Nona! Menjauh!" beberapa petugas pemadam kebakaran berteriak. Sakura mengabaikan teriakan mereka dan terus berjalan. Sebelum ia bisa sampai ke pintu, dua orang meraih masing-masing lengannya. Sakura mencoba melepaskan diri dari cengkeraman mereka.
"Biarkan aku pergi!" ia menjerit. "Aku harus pergi. Aku harus menyelamatkan mereka."
Dua orang itu masih memegang lengan Sakura dan Sakura ambruk di tanah dengan air matanya yang tumpah. "KENAPA?" ia berteriak sebelum kepalanya jatuh ke lantai tanah. Ia membiarkan air matanya jatuh dan menyaksikan kekacauan di sekelilingnya.
Dua petugas pemadam kebakaran yang memegang lengan Sakura melepaskannya dan berdiri di sampingnya. Sakura meraba tanah di lantai dan air mata terus jatuh membasahi pipinya. "Aku tidak pernah.. Aku tidak pernah meminta maaf.. Karena mengatakan semua hal-hal itu.."
Sakura menutup matanya dan sirene, jeritan, teriakan, dan semuanya menghilang dalam keheningan.
"Nona," kata seseorang pelan dan mengguncang bahu Sakura dengan lembut. Mata Sakura bergetar terbuka. Seorang pria dengan rambut abu-abu dan mata cokelat lembut menatapnya. Itu adalah orang yang sama yang Sakura cengkram kerah bajunya.
"Nona," ia melanjutkan. "Apa Anda memiliki tempat untuk pulang?"
Sakura menggeleng. "Ti-tidak," katanya serak.
Hal berikutnya yang Sakura tahu, ia berada dalam ambulans. Ia memejamkan mata sambil memeluk selimut yang diberikan padanya sebelum melakukan perjalanan. Ia menolak untuk menangis lagi. Ia sudah menangis sepenuh hati dan jiwa.
"Aku turut berduka cita," kata Naruto pelan.
Sakura berbalik untuk melihat si pirang. Ia tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku berhasil melewatinya. Aku baik-baik saja sekarang."
Mereka terdiam dan Naruto memperhatikan saat gadis berkepala merah muda itu menatap ke angkasa. "Ini bukan apakah kau jatuh atau tidak, tapi apakah kau memilih untuk bangun ketika kau jatuh," Sakura menggumamkan kalimat yang sering ibunya bilang padanya.
Bel berdering menandai waktu makan siang berakhir. "Ayo kita ke kelas, Naruto."
Naruto mengangguk dan membantu Sakura berdiri. Sakura tersenyum. "Sudah cukup semua pembicaraan sedih ini. Ayo kita pergi belajar."
Naruto mengerang. "Itu sama saja membicarakan hal yang lebih sedih lagi."
Sakura memutar matanya dan menyeret Naruto dengan kerah kemejanya. "Ayo. Aku tidak ingin terlambat."
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura selesai mengikat tali sepatu kets-nya dan bersiap-siap untuk kelas berikutnya. Kelas olahraga sudah selesai dan ia hanya memiliki satu kelas lagi sebelum sekolah berakhir. Sakura melirik jadwalnya. Ini adalah kelas yang aku lewatkan kemarin.
Sebuah napas panjang keluar dari bibirnya saat ia menyadari kelas apa itu. Aku tidak percaya aku melewatkan hari pertama kelas yang paling aku suka.
Menyandang tas sekolahnya di bahu, ia berjalan menyusuri lorong lantai tiga gedung sekolah. Ia berbelok di ujung lorong dan kemudian berbelok lagi di koridor. Sakura berhenti di depan pintu dengan nomor 300. Bel berdering lambat dan Sakura mendorong pintu agar terbuka.
Sakura mengedipkan matanya dua kali untuk memastikan apa yang ia lihat benar. Sedikit berdebu di dalam kelas dan ruangan itu terlihat lebih seperti bagian dalam lemari daripada sebuah kelas musik. Tidak ada satu pun jiwa yang terlihat.
"Dimana semua orang?"
—Song of a Cherry Blossom—
