Naruto © Masashi Kishimoto

Song of a Cherry Blossom © Diana-san

Indonesian Ver. © Yuki Kanashii

Chapter 5 — Music Class 101

Sakura melangkah masuk. Ruangan itu sepi dan tidak ada seorang pun yang terlihat. "Dimana semua orang?" gumamnya. Ia menjatuhkan tasnya di lantai dan duduk di salah satu kursi. Ia menatap sekeliling ruangan.

Aneh. Ada begitu sedikit kursi di ruangan ini. Apa yang lain berdiri?

Sakura berdiri dan melihat ke sekeliling ruangan. Di belakang ruangan ada piano dan juga beberapa music stand. Sebuah rak buku ditempatkan di beberapa sisi dan ada banyak buku musik juga lembaran musik di situ. Sakura mengambil sebuah buku dan membalik-balik halaman buku itu.

"Hei!"

Sakura menjatuhkan buku dengan kaget dan berbalik. Seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang bergelombang berdiri di pintu. "Apa yang kau lakukan?" dia bertanya.

"Eh? Aku sedang menunggu kelasku?" Sakura menjawab.

"Kelas? Apa kau gadis beasiswa itu?"

Sakura mengangguk. "Ya. Apa kau tahu dimana guruku?"

Wanita itu tersenyum. "Aku gurunya."

Mulut Sakura menganga. "Ka-Kau?"

"Ya. Kau terkejut?" Wanita itu berjalan ke dalam kelas dan duduk di kursi di depan ruangan dan menjatuhkan sebuah buku di meja.

Sakura berdiri tegak dan berdehem. "Terkejut? Tentu saja tidak."

Wanita itu tertawa. "Jadi, kau siswa yang tidak muncul kemarin?"

Sakura tersipu. "Aku terkena bola basket."

"Aku mendengarnya. Perawat sekolah, Shizune, mengirimkan laporannya padaku."

Sakura berjalan ke depan ruangan dan berdiri di depan meja. "Sensei.."

"Aku Yuhi Kurenai."

"Aku Haruno Sakura." Sakura melirik pintu. "Um, Kurenai-sensei, jika siswa lain belum muncul, apa itu berarti kau tidak akan memulai kelas ini?"

"Siswa lain? Apanya yang lain?" Tanya Kurenai.

Sakura menatap kosong pada gurunya. "Eh? Bukannya seharusnya ini menjadi sebuah kelas?"

"Ya, tapi kau satu-satunya siswa di kelas ini."

Sakura menunjuk dirinya sendiri. "Sa-satu-satunya siswa?" ulangnya. "Bagaimana bisa?"

Kurenai melipat tangannya dan menyandarkan kepalanya di atas tangan. "Kelas ini dibuat secara khusus untukmu," dia mulai menjelaskan.

"Tunggu, tunggu," kata Sakura sambil memegang tangan Kurenai. "Secara khusus? Untukku?"

Kurenai tersenyum. "Program seni kami sedikit kurang jadi kami berusaha mengubah itu dengan menambahkan kelas baru ini. Jujur, aku tidak berpikir itu mungkin untuk membuat sebuah kursus dalam waktu singkat." Kurenai berjalan ke jendela dan membuka tirai. Cahaya sore masuk dan membuat ruangan tidak sesuram sebelumnya. "Maaf tentang kekacauan ini. Ini lebih seperti sebuah kelas one-on-one karena kami sedang mencoba sesuatu yang baru. Kami belum pernah memiliki lulusan seni terkenal dari sekolah ini lebih dari dua dekade. Lagipula, kami tidak bisa melewatkan kesempatan memiliki bakat sepertimu di sekolah kami. Setelah mendengarkan CD demo milikmu, tidak ada keraguan tentang hal itu. Suaramu memiliki potensi. "

Sakura tertegun. "Apa kau yakin itu benar-benar aku saat kau sedang mendengarkannya?"

Kurenai memiringkan kepalanya ke samping. "Apa kau tidak percaya?"

"Tidak juga."

Wanita berambut hitam tersenyum. "Jika kau tidak percaya pada diri sendiri, maka pada siapa lagi?"

Sakura menggaruk kepalanya. "Yah, aku suka menyanyi dan lainnya tapi aku tidak berpikir aku baik dalam hal-hal itu. Aku tahu aku tidak buruk soal itu, tapi.."

Kurenai mendesah. "Tidak ada tapi-tapian. Jika aku bilang kau baik maka kau memang baik. Dan aku tidak mengatakan tentang hal itu pada banyak orang."

Sakura mengangguk cepat. "Oke," katanya pelan.

Kurenai berdiri. "Kau menuliskan bahwa kau bisa memainkan dua instrumen?"

Sakura mengangguk. "Piano dan gitar," jawabnya.

Kurenai berjalan mengitari meja dan memandu Sakura untuk duduk. Dia memberi isyarat pada Sakura agar duduk dan gadis berkepala merah muda itu segera duduk. Kurenai berjalan ke belakang ruangan dan membuka pintu lain yang mengarah ke ruangan lain. "Maaf segalanya belum siap karena kami tidak memiliki kelas musik sejak lama."

"Oh, tidak apa-apa," jawab Sakura. Ia mencoba mengintip ruang sebelah tapi dia tidak bisa melihat apa-apa karena pintu menghalangi pandangannya. Ada jendela besar sepanjang setengah ruangan tapi tirai menutupinya dari dalam ruangan lainnya. Ia bisa melihat cahaya di ruangan misterius itu dan Sakura berdiri dari tempat duduknya untuk mencoba melihat lebih dekat. Ketika ia melihat gurunya berjalan keluar kembali, ia duduk kembali di kursi dengan cepat. Sakura hampir jatuh dari tempat duduknya karena ia duduk sangat tiba-tiba di kursi.

"Ini," kata Kurenai sambil menyerahkan mikrofon pada Sakura. Sakura meraih mikrofon itu dan melirik Kurenai.

"Eh? Apa yang harus aku lakukan dengan ini?" ia bertanya. Kurenai menatap Sakura seperti ia sudah gila. "Aku percaya kau bernyanyi dengan benda itu," Kurenai menanggapi.

"Sekarang?" Tanya Sakura. Kurenai mengangguk. Sakura berdiri dan memegang mikrofon dengan erat. Ia membuka mulutnya dan Kurenai menunggu Sakura untuk mulai bernyanyi. Keheningan muncul di antara keduanya karena tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Sakura yang terbuka.

"Sakura," kata Kurenai sambil menjentikkan jarinya pada pandangan kosong Sakura. "Apa kau memiliki demam panggung atau lainnya?"

Sakura menggeleng. "Kita bahkan tidak berada di atas panggung."

Kurenai tertawa. "Apa kau pernah menyanyi di depan orang?"

Gadis berambut merah muda itu mengangguk. "Ya, saat aku masih kecil."

"Lalu apa yang salah?"

Sakura tersenyum malu-malu. "Aku tidak yakin lagu apa yang harus aku nyanyikan," akunya." Maksudku, apa yang ingin kau dengar? "

"Bagaimana kalau lagu yang kau nyanyikan di CD demo?" Kurenai menyarankan.

"A cappella?" Tanya Sakura.

Kurenai menyilangkan kakinya. "Ya, aku ingin mendengar suaramu tanpa gitar."

"Oke," kata Sakura. Ia berdeham sebelum memulai. Sakura memegang erat mikrofonnya dan menutup mata saat ia membiarkan kata-kata mengalir keluar dari bibirnya. Saat selesai, Sakura membuka matanya. Kurenai duduk di sana dengan senyum lalu dia berdiri dan bertepuk tangan. Sakura tersenyum dan membungkuk canggung.

"Terima kasih," kata Sakura sopan.

"Itu indah. Aku dengar kau menulis lagu itu," kata Kurenai. Sakura mengangguk.

Kurenai tersenyum. "Itu bakat." Dia melirik jam tangannya. "Bel akan berbunyi beberapa menit lagi jadi tadi itu cukup untuk hari ini. Besok, kita akan mulai bekerja serius."

Sakura menyeringai. "Baiklah kalau begitu."

—Song of a Cherry Blossom—

Sakura mengulurkan tangannya saat ia berjalan keluar melalui pintu akademi. Hari kedua sekolah telah resmi berakhir. Sakura kelelahan. Ia merasa lelah karena hampir tidak tidur tadi malam. Ia terjaga sampai jam satu di pagi hari untuk menyelesaikan semua PR-nya. Ketika ia berhasil menyelesaikan PR, ia mengalami insomnia. Semua yang ia lakukan sepanjang malam hanya menghempaskan diri dan berguling di tempat tidur kecilnya.

Sakura mendesah saat ia membiarkan mulutnya menguap. Kenapa hidupku begitu memyebalkan?

"Sakura-chan!"

Suara nyaring menembus telinga Sakura dan membangunkannya dari keadaan mengantuknya. Ia berbalik dan melihat Naruto berlari ke arahnya. Dengan setengah hati Sakura melambai padanya dan ketika Naruto sampai padanya, dia membungkuk dan memperhatikan wajah Sakura.

"Kau tampak lelah. Apa kau tidak cukup tidur?" ia bertanya dengan prihatin.

Sakura menggeleng. "Aku merasa lelah."

"Kau tampak baik-baik saja saat makan siang."

"Itu pasti efek secangkir kopi ekstra sebelumnya. Itu membuatku terjaga sepanjang hari. Sekarang efek kafeinnya sudah memudar, aku merasa seperti neraka."

Sakura mengerang saat ia mencoba untuk tetap terjaga. Ia mulai berjalan ke gerbang sekolah dimana semua mobil sedang berjalan.

"Hati-hati! Sakura-chan!" Naruto berteriak tiba-tiba.

Sakura segera berhenti dan kakinya membeku di udara. Sebuah Porsche hitam berhenti di depan Sakura, sisi mobil itu nyaris menyentuh kaki Sakura.

Sakura ambruk di tanah. Jantungnya berdebar cepat seolah hidupnya baru saja melintas di depan matanya. Ia baru saja nyaris tertabrak mobil hitam itu. Naruto berlari ke Sakura yang menggigil ketakutan. Naruto membungkuk dan menatap Sakura dengan tatapan khawatir.

"Sakura-chan! Apa kau baik-baik saja?" Naruto bertanya sambil mengguncang pelan bahu Sakura.

Sakura tidak mengatakan apa-apa tapi ia mencengkeram tali tas sekolahnya lebih erat dan buku-buku di tangannya berubah putih karena memegang tas terlalu erat. Ia menutup matanya. Rasa ketakutannya hampir sama persis saat ia pertama kali mendengar orangtuanya telah meninggal. Rasanya terlalu nyata.

Untuk berpikir, bahwa hidup bisa berakhir begitu saja. Hanya dalam sekejap, kau dapat kehilangan segalanya.

Sakura membuka matanya saat mendengar suara jendela dari mobil sport hitam itu turun. Jendela itu mulai turun dan memperlihatkan rambut hitam gelap Sasuke. Sasuke menengok dari jendela.

"Apa yang kau lakukan di tanah, Pinky?" Kata Sasuke dengan seringai.

Suara Sasuke menggema di seluruh pikiran Sakura. Pinky, Pinky, Pinky. Kata itu terdengar berulang-ulang di kepalanya. Sakura menyipitkan mata. Ia melompat dari tanah dan berjalan dengan terguncang menuju mobil sport. Ia menunjuk jarinya dengan penuh ancaman pada laki-laki berkepala gelap itu.

"BAGAIMANA BISA KAU BERANI MEMANGGILKU PINKY SETELAH HAMPIR MEMBUNUHKU DENGAN MOBIL BODOHMU INI!" Sakura berteriak padanya. Untuk membuktikannya, ia menendang pintu mobil di depannya dengan keras.

"HEI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA MOBILKU?" Sasuke berteriak sambil menjulurkan kepalanya untuk melihat kerusakan di pintu mobilnya. Ia menghela napas lega ketika melihat tidak ada penyok yang terlihat.

"AKU MELAKUKAN APA YANG LAYAK KAU DAPAT, BRENGSEK! AKU NYARIS TERBUNUH OLEH MOBIL BODOHMU! AKU BENCI KAU! AKU BENCI UANGMU DAN AKU BENCI WAJAH BODOHMU!"

Sakura melotot pada Sasuke sebelum pergi melewati gerbang sekolah.

"Ya ampun, apa masalahnya?" Sasuke menggerutu.

"Bajingan!" Naruto berteriak. "Kenapa kau tidak minta maaf pada Sakura-chan?"

"Kenapa aku harus minta maaf padanya? Dia itu orang yang barusan menendang mobilku."

"Sasuke-teme! Kau nyaris membunuhnya dengan mobil sialanmu ini."

"Aku berhenti tepat waktu, bukan?" Kata Sasuke dengan wajah tanpa emosi.

"Kau tidak tahu apa yang dia alami. Kehilangan semuanya sekaligus dan memulai semuanya dari awal dengan dirinya sendiri. Dia mengalaminya lebih buruk daripada aku," Naruto mendesis marah lalu pergi.

"Apa yang kau bicarakan?" Sasuke bertanya jengkel. Dengan marah, Sasuke menekan tombol dan jendela mulai meluncur ke atas. "Aku tidak melakukan kesalahan dan semua orang pergi dengan marah padaku," gumamnya sambil menginjak pedal gas.

—Song of a Cherry Blossom—

Sakura berjalan susah payah di sepanjang trotoar. Ia menendang sebuah batu kecil ke samping.

"Dasar brengsek bodoh," gumamnya sambil terus berjalan dan menendang batu ke samping.

"Ugal-ugalan, bodoh, sombong, pretty boy egois." Sakura mencengkeram tasnya erat. "Brengsek bodoh."

Sakura sibuk mengutuk sasaran kebenciannya sehingga tidak menyadari ada seseorang yang mengikutinya. Sakura berhenti berjalan. Ia melirik tanda yang tergantung di atas klub malam.

Aku mungkin pergi ke klub terlalu awal. Aku tidak bisa konsentrasi pada hal lain.

Sakura berjalan ke dalam klub. Ia melirik jam tangannya. Pukul dua lewat tiga puluh.

"Tsunade-sama? Jiraiya-sama?" Sakura memanggil sambil masuk ke dalam klub yang gelap. "Kenapa di sini begitu gelap?" gumamnya.

Ia tersandung saat berjalan dalam gelap. "Sialan, dimana tombol lampu?" Sakura meraba-raba dinding sampai tangannya menyentuh sesuatu yang berbentuk seperti tombol lampu. Ia menyalakannya dan tempat mulai terang. "Itu lebih baik," katanya pada dirinya sendiri.

"Tsunade-sama? Jiraiya-sama?" Sakura berseru sekali lagi. Sakura berjalan ke depan panggung dan naik. Ia berjalan ke belakang panggung dan pergi ke balik tirai. "Dimana semua orang?" gumamnya pada dirinya sendiri.

Bau samar tercium oleh hidung Sakura. Sakura menyipitkan matanya sambil mengikuti bau itu ke sebuah ruangan. Ia berhenti di depan pintu dan bisa melihat cahaya yang keluar melalui celah di bagian bawah. Sakura meletakkan tangannya di gagang pintu dan memutarnya. Ia mendorong pintu agar terbuka dan tiba-tiba lampu mati. Kaki Sakura membeku di udara saat ia hendak melangkah masuk ruangan. Sakura melihat ke sekeliling ruangan yang gelap dengan bingung. Kemudian ia melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya. Saat pintu tertutup, Sakura membukanya lagi dengan cepat.

"AHA!" dia berteriak. Tsunade, Jiraiya, Anko, Dosu, Kin, Zaku, dan beberapa pelayan juga pekerja yang bekerja di klub semua membeku. Sakura menangkap basah tindakan mereka semua. Banyak dari mereka tampak mabuk dan Tsunade dan Jiraiya yang paling buruk.

Sakura melangkah masuk dan mengambil botol sake yang tinggal setengah dari tangan Tsunade. "Tsunade-sama! Berapa kali aku harus memberitahumu untuk tidak banyak minum sake?"

Tsunade menatap gadis berambut merah muda itu dengan senyum mabuk. "Sekali lagi?"

Jiraiya tertawa mesum dan ia meraih tangan Sakura. "Sakura, sayang, kau tampak begitu cantik," katanya mabuk. Alis Sakura mengejang dan ia meninju kepala Jiraiya.

"Kau seburuk Tsunade," Sakura memarahi.

Jiraiya menyusut kembali dan menunduk malu.

Sakura meletakkan tangannya di pinggul dan melotot pada kelompok itu. "Malu pada kalian semua! Minum lagi? Berapa lama ini sudah terjadi di belakangku?"

Anko melambaikan botolnya di udara. "Tenanglah, Sakura," kata Anko dengan suara mabuk. Anko merosot dan tertidur di atas meja di depan mereka. Botol jatuh dari tangannya dan isinya mulai tumpah keluar.

Sakura mendesah sambil memijat pelipisnya. Kelompok di depannya itu semua mabuk dan kebanyakan dari mereka mulai tertidur atau sudah tertidur pulas.

"Ini menyedihkan," gumamnya pada dirinya sendiri.

Sakura berjalan keluar ruangan. "Bagus. Benar-benar bagus," gumamnya. "Band-nya mabuk. Bagaimana aku mau berlatih sekarang?"

Sakura berjalan ke ruang ganti dan masuk ke dalam. Ia menyalakan lampu dan tatapannya jatuh pada gitar yang tersandar di dinding. Ia berjalan ke gitar itu dan berjongkok. Sakura menyentuh permukaan halus gitar itu dan mengangkatnya di tangan perlahan. Ia memetik jarinya sepanjang senar gitar dan tersenyum kecil. Gitar itu sama berharganya seperti hidupnya. Gitar itu diberikan dari orang tuanya sebagai hadiah ulang tahun saat berumur ke sepuluh tahun. Ia belajar sendiri cara bermain gitar dan kemudian mengambil kurus untuk memperbaiki cara bermainnya. Sakura memeluk gitar itu di dadanya. Itu satu-satunya hal yang membuatnya dekat dengan orangtuanya. Ia akan mati jika sesuatu terjadi pada gitar itu.

Sakura berdiri dan membawa gitar itu. Ia pergi ke atas panggung dan membawa bangku sehingga ia bisa duduk. Sakura memetik beberapa senar gitar dengan pick untuk menguji suaranya dan kemudian menutup mata sambil memainkan sebuah lagu familiar. Lagu pertama yang Sakura belajar mainkan. Ia bersenandung dengan iringan musik sambil duduk di bawah lampu panggung yang menerangi rambut merah mudanya. Kemudian ia mulai bernyanyi. Nada yang menggetarkan jiwa dipadu suara merdunya terdengar saat ia bernyanyi.

Sakura tiba-tiba berhenti di tengah-tengah lagu saat ia mendengar sebuah suara. Ia mendongak dan tersentak. Pick gitar Sakura jatuh dari tangan kanannya ke lantai panggung tanpa suara. Orang yang sangat familiar berdiri di depannya dan menatapnya dengan pandangan heran. Matanya menatap mata emerald Sakura.

"Kau Saki?" ia menghela napas.

—Song of a Cherry Blossom—