Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 6 — Secrets and Kisses
"Sakura adalah Saki. Saki adalah Sakura," katanya dalam keadaan linglung. Berdiri di depan Sakura yang menatap Naruto dengan kebingungan tergambar di wajahnya.
"Bukan, aku bukan," kata Sakura cepat.
"Ya, kau!" Dia meraih dagu Sakura dan memperhatikan sekitar wajahnya. "Tanpa kacamata hitam dan rambut pirang, kau terlihat persis seperti dia."
Sakura mendorongnya. "Aku terlihat seperti banyak orang. Kakekku pernah berpikir aku adalah ibuku."
"Kau Saki," katanya.
Sakura mendesah saat ia membiarkan keheningan terjadi.
"Jadi sekarang kau tahu," akhirnya dia berkata.
"Kenapa kau menjaga rahasia besar seperti ini dari semua orang?"
Sakura menggigit bibir bawahnya. Ia melompat dari panggung. Ia meletakkan gitar di atas panggung dengan perlahan dan merapikan rambutnya. "Karena, aku tidak ingin diperlakukan beda karena aku bisa menyanyikan beberapa lagu dan bermain gitar."
Naruto memasang wajah bingung. "Kenapa tidak?"
Sakura menatap lampu-lampu terang di atas panggung. "Mimpiku adalah menjadi seorang penyanyi terkenal. Tapi, aku harus menyelesaikan sekolahku dulu. Aku tidak ingin diperlakukan lebih baik daripada orang lain. Aku ingin dibiarkan sendirian saat di sekolah sehingga aku bisa berkonsentrasi pada sekolah dan musikku. Aku tidak punya waktu untuk laki-laki, tidak punya waktu untuk popularitas, dan tidak punya waktu untuk berteman."
Sakura menyentuh gitarnya dan merasakan permukaan halus dari gitar mengkilap di bawah tangannya. "Tidak ada di dunia ini yang penting bagiku kecuali musik. Hanya itu satu-satunya hal yang membuatku tetap hidup. Laki-laki bisa mematahkan hatimu, popularitas bisa menghancurkanmu, dan teman-teman bisa mengkhianatimu."
"Tapi—"
Sakura berbalik dan mata hijaunya menatap mata biru langit dari pirang di depannya.
"Aku pernah punya sahabat di sekolah dasar. Kami akan selalu melakukan segalanya bersama-sama. Dia adalah teman terdekatku. Tapi ketika kami ditempatkan di kelas yang berbeda, dia menjadi populer dan kami tumbuh terpisah. Dia mengabaikanku di sekolah dan bahkan tidak mengakui keberadaanku. Seperti kami tidak pernah berteman." Sakura mendengus. "Dengan teman-teman seperti itu, siapa yang membutuhkan musuh?"
"Tapi tidak semua orang seperti itu," seru si pirang.
Sakura menatap Naruto sedih. "Tapi bukannya begitu? Selain itu, kita semua tidak sempurna dan bisa saja melakukan sesuatu untuk menyakiti seseorang. Bagaimana bisa semua orang mempercayai siapa pun?"
"Apa kau benar-benar mempercayainya?"
Sakura menghela napas. "Aku tidak tahu apa yang aku percaya lagi."
"Sakura-chan.."
"Naruto," Sakura menyela. "Kumohon berjanjilah kau tidak akan memberitahu siapa pun di sekolah tentangku."
"Tapi, Sakura-chan, aku tidak pandai menyimpan rahasia dan—"
Sakura meraih pergelangan tangan Naruto. Ia memohon dengan mata hijaunya. "Kumohon, Naruto. Ini satu-satunya hal yang aku minta padamu. Tolong jangan biarkan rahasia ini ketahuan."
Naruto mulai tersenyum. "Baiklah, aku tidak akan membocorkannya."
Sakura tersenyum lega.
"Aku tidak akan membocorkannya.." kata Naruto lagi. "...Karena kau adalah temanku."
Sakura membeku.
"Ne, Saku-chan, ayo kita jadi teman."
Seorang gadis kecil berkepala merah muda melirik melalui air matanya saat seseorang mengulurkan tangan padanya.
"Teman?" katanya sesenggukan sambil mengeringkan matanya.
"Ah, teman selamanya."
"Teman?" ulang Sakura.
Naruto tersenyum dan mengacungkan jempol. "Kita berteman kan? Dan aku tidak akan mengkhianati salah satu temanku."
Sakura menatap kakinya. Teman? Dengannya?
Gadis berambut merah muda itu menatap Naruto dan tersenyum.
Naruto melirik arlojinya. "Aku harus pergi sekarang, jadi aku akan melihatmu besok di sekolah, oke?"
Si pirang berbalik untuk pergi, tapi Sakura mencengkeram lengannya. Naruto berbalik kaget. Sakura menatap sepatunya. "Um, hari Jumat, aku akan tampil di atas panggung lagi.. Aku akan senang jika kau datang dan menonton penampilanku."
Naruto menyeringai. "Tentu!"
Sakura mendongak dan tersenyum. "Baiklah kalau begitu." Sakura melepaskan tangannya dari lengan Naruto. "Aku akan melihatmu kalau begitu," katanya.
Sebuah suara datang dari belakang dan Sakura berbalik. "Sepertinya semua orang di belakang sana mulai bangun," katanya. Sebuah pertanyaan terlihat dari wajah Naruto dan Sakura berbalik padanya dan tersenyum. "Aku harus pergi berlatih dengan band-ku sekarang," Sakura menjelaskan.
Naruto mengangguk. "Kalau begitu aku akan meninggalkanmu untuk latihan." Dia melambaikan tangan dan berlari keluar pintu.
Jiraiya mendatangi Sakura. "Apa yang terjadi?" tanyanya mengantuk.
"Kau mabuk itulah yang terjadi!" Sakura berseru.
Jiraiya tertawa dan merosot di kursi. Sakura menghela napas. Ini akan menjadi malam yang panjang. Ia melirik ke luar jendela dan tersenyum. Mungkin tidak sepanjang malam sebelumnya.
—Song of a Cherry Blossom—
Jumat malam
Sakura memakai wig pirang itu sampai benar-benar menutup rambut merah mudanya. Ia memeriksa bayangannya di cermin dan memastikan bahwa contact lens-nya terpasang. Setelah apa yang terjadi dengan Naruto, ia memutuskan ia perlu melakukan penyamaran yang lebih baik dalam menyembunyikan identitasnya. Tsunade sudah memberinya sepasang contact lens biru yang mengubah mata hijau jade Sakura menjadi warna biru langit. Sakura mengambil kacamata hitamnya dan berpikir apa ia harus memakainya atau tidak.
Mungkin iya. Tidak ada salahnya mencari aman.
Sakura merapikan gaun biru langit yang Tsunade pakaikan padanya setengah jam lalu. Gaun biru di atas lutut dan sepasang sepatu hak, hal lain yang juga terpaksa Sakura pakai. Sakura harus mengakui meskipun, ketika dia melihat ke cermin, gaun itu terlihat bagus dengan wig pirang dan mata biru palsu. Ketukan terdengar di pintu.
"Siapa?" Sakura berteriak.
"Ini aku," jawab suara wanita yang familiar. Pintu terbuka dan Anko menyembulkan kepalanya. "Sudah waktunya," katanya.
Sakura mengangguk dan mengambil mikrofon. "Ayo kita rock and roll," kata Sakura dengan senyum sebelum keluar pintu.
Lampu di klub redup saat lampu panggung berubah menjadi warna biru tua. Semua orang mulai tenang dan seolah sehening malam. Sakura berjalan di atas panggung dengan hati-hati sambil menmperhatikan langkahnya dalam kegelapan.
Di kerumunan, Naruto bisa melihat siluet gelap Sakura atau yang orang lain pikir Saki. Dia meringis sambil mendengarkan musik yang mulai berputar.
Musik dimulai dengan lembut seperti derai hujan di jendela mobil. Kemudian mulai keras dan lampu biru gelap di panggung mulai berubah menjadi cahaya biru dan kemudian putih biasa. Kecerahan yang tiba-tiba membuat penonton bersemangat dan beberapa mulai bersorak. Musik berlanjut perlahan dan kemudian lampu sorot tunggal bersinar ke Sakura.
Ia mengangkat mikrofon ke bibirnya dan mulai menyanyi. Sakura mengambil mikrofon dari holder-nya saat musik berubah menjadi lebih cepat. Lampu mulai bersinar di sekitar dan menerangi daerah itu.
Lagu terakhir dari malam itu berakhir saat Sakura menurunkan mikrofon. Kerumunan masih bersorak dan berteriak sepanjang lagu. Sakura tidak bisa menahan senyum. Ia melambai dan berjalan dari panggung ke belakang tirai hitam di panggung.
Sakura bersenandung saat berjalan ke ruang gantinya. Ia melihat banyak wajah-wajah dari murid sekolahnya dan terkejut orang-orang yang tidak pernah memperhatikannya di sekolah itu sekarang memperhatikannya sebagai Saki.
Itu menunjukkan bagaimana rahasiaku harus tetap rahasia.
Sakura duduk di kursinya dan menguap. Ia lelah setengah mati dan senang ia tidak akan sekolah besok. Sakura melepas kacamata hitamnya dan terlihatlah mata biru langit palsunya. Sakura baru saja akan melepas wig saat ia mendengar suara ketukan di pintu. Merasa was-was, Sakura berjalan ke pintu dan mendengarkan suara di luar. Ketika ia tidak mendengar apa-apa lagi, perlahan-lahan ia membuka pintu dan mengintip keluar. Lorong tampak kosong dan ia masih bisa melihat lampu dari panggung dan penonton masih menari sepanjang malam.
Aneh, pikirnya.
Sakura mulai menutup pintu ketika sebuah tangan menahan pintunya. Sakura membeku di tempat. Matanya melihat ke lengan laki-laki itu lalu ke wajah Uchiha Sasuke. Ia mencicit diam-diam dan terengah.
"A-ap-apa yang kau lakukan?" ia tergagap.
"Aku datang untuk melihatmu," jawabnya seperti mereka adalah teman lama.
"A-aku?" ia mencicit.
"Ya."
"Yah, kau sudah melihatku. Sekarang saatnya kau pergi," kata Sakura sambil berusaha menutup pintu.
"Tidak secepat itu," Sasuke berkata sambil meletakkan kakinya di depan pintu. Sasuke menyeringai dan mengelus pipi Sakura. "Bagaimana kalau kencan antara kau dan aku?" katanya dengan suara rendah.
Mata Sakura menatap kosong ke arahnya. Kencan? Kau pasti bercanda.
Sakura tidak yakin apa yang harus dikatakan. Ia benar-benar terkejut dan tercengang. Ia kehilangan kata-kata. Untuk berpikir Sasuke Uchiha akan memintanya berkencan benar-benar adalah sebuah mind blowing. Tentu saja, dia tidak tahu siapa Saki sebenarnya tapi hal itu tetap sangat mengejutkan bagi gadis berambut merah muda atau lebih tepatnya pirang itu.
Sakura membuka mulutnya dan berharap agar sebuah kata-kata akan keluar dari mulutnya dan hal itu akan membuat Sasuke pergi. Semua yang keluar dari mulutnya hanya suara tak terdengar yang lebih mirip sebuah cicitan tikus. Sasuke menatap Sakura atau yang dia pikir Saki dengan ekspresi geli di wajahnya yang tampan.
Kemudian, tiba-tiba, Sasuke membungkuk dan mencium bibir Sakura. Sakura berkedip beberapa detik sebelum bibir Sasuke bertemu bibirnya sendiri dan ia terus membiarkan bibirnya terbuka lebar saat pikiran Sasuke menciumnya sedang diproses di otaknya.
Ya. Tuhan.
Sakura mengangkat tangannya sambil mengepalkannya. Ia tidak percaya apa yang terjadi. Ia menutup matanya dan masih bisa merasakan bibir Sasuke menekan lembut bibirnya sendiri. Memanggil kekuatan dalam dirinya, Sakura mendorong Sasuke menjauh. Sakura langsung mengangkat tangannya ke mulut saat ia masih bisa merasakan ciuman tadi di bibirnya. Pipinya memerah dan ia menatap canggung Sasuke yang sedang menatap tepat ke arahnya.
Sakura meraih gagang pintu ruang gantinya. "Maaf, tapi kau harus pergi," katanya dengan suara gemetar. Ia cepat-cepat menutup pintu di depan wajah Sasuke yang membuat sang Uchiha terkejut. Ia menyeringai di depan pintu. Menarik, pikir Sasuke sambil berjalan menjauh. Dia puas dengan ending malam ini.
Sementara itu, Sakura bersandar di pintu dan mengambil napas dalam-dalam untuk mengontrol pikiran dan emosinya. Barusan itu apa?
Pikiran itu terus berlalu di pikirannya. Sakura melepas wig pirang dan melemparnya dekat kacamata hitam yang ada di atas meja riasnya. Ia juga melepas contact lens-nya sambil berjalan ke kursi dan duduk di atasnya sambil menatap bayangannya.
Sakura segera memberi beberapa tamparan pada dirinya sendiri untuk menjaga kewarasannya. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Pikiran itu berulang kembali dalam diri Sakura. Ia benar-benar bingung kenapa ia hanya jadi boneka beberapa saat lalu. Sialan Sakura. Kau harus berada di bawah kendalimu sendiri. Bagaimana bisa kau membiarkan dia menciummu dengan mudah? Sial!
Sakura mengerang. Ciuman pertamanya dicuri oleh si brengsek sombong itu. Dan itu bukan ciuman untuknya pula. Hal itu dimaksudkan untuk Saki dan bahkan bukan untuknya.
Tunggu sebentar. Apa itu berarti dia menyukai Saki?
Sakura menepuk dahinya. Ia mulai merasa sakit kepala. "Aku benci dia," gumamnya. Bagus. Saat aku sudah lupa kejadian dengan mobil bodohnya yang hampir menabrakku, dia pergi dan melakukan sesuatu seperti ini. SIALAN UCHIHA ITU!
Penyanyi berambut merah muda itu mengerang frustasi. "Dia mungkin masih ada di luar," gumamnya. Sakura bangkit dari kursi dan mendengarkan suara di balik pintu. Tidak ada suara tapi Sakura mengenalnya dengan baik.
Dia mungkin mencoba serangan lain. Lebih baik aku mencari cara lain.
Sakura memandang sekeliling ruangannya. Haruskah aku menelepon seseorang? Omong kosong, aku meninggalkan teleponku di luar. Tiba-tiba, ia melirik sebuah jendela kecil di sudut ruangan. Sakura berjalan ke jendela dan menatapnya. Itu bukan jendela yang besar dan tinggi sehingga ia tidak bisa melihat ke luar tapi Sakura tahu ia bisa melalui jendela itu. Sakura melompat-lompat mencoba meraih ke jendela. Jari-jarinya hampir menyentuh jendela namun ia jatuh kembali ke bawah dan mendarat di lantai. Sakura meniup sehelai rambut di wajahnya sambil mendesah frustrasi.
Melihat sebuah kursi, ia menarik dan menyeret kursi itu ke tempat di bawah jendela. Sakura naik dan sekarang ia bisa mengintip ke luar jendela. Di luar gelap dan bisa dibilang tempat itu mungkin gang di dekat tong sampah besar di luar klub.
Sempurna!
Sakura melompat dari kursi dan meraih kunci apartemennya sebelum kembali naik ke kursi. Gadis berambut merah muda itu mengangkat badannya dan merangkak keluar dari jendela. Sakura menunduk dan memperkirakan tinggi tanah di bawahnya beberapa kaki dari jendela. Sakura menghela napas. Ia tidak akan bisa mendarat di tanah dengan aman jika mengenakan sepatu hak. Sakura melepas sepatu dengan cepat dan menjatuhkannya di tanah di bawahnya. Sakura melompat dan mendarat dengan telapak kakinya. Ia meraih sepatunya dan memakainya dengan cepat. Gang itu dingin dan gelap, membuat Sakura menggigil dalam gaun biru mudanya.
Aku hanya harus mengenakan gaun yang tidak memiliki lengan. Tsunade-sama tidak bisa memilih sesuatu yang lain. Hanya harus gaun ini, pikir Sakura sambil menggerutu tanpa suara.
Gadis berkepala merah muda itu keluar dari gang dengan bahu membungkuk sambil membuat kutukan pada Sasuke dan seluruh dunia.
"Membuatku harus melakukan ini semua hanya supaya aku bisa menghindari si mesum itu," Sakura bergumam.
Sakura mencapai ujung gang dan menjulurkan kepalanya keluar untuk memastikan Sasuke tidak ada. Ketika ia melihat tidak ada seorang pun di luar klub dan semua orang tampaknya masih di dalam klub mendengarkan musik dari sound system, Sakura melangkah keluar dari bayang-bayang gelap gang ke lampu jalan yang bersinar di atas trotoar yang sepi.
Sakura memeluk dirinya agar tetap hangat sambil mulai berjalan menuju apartemennya.
"Eh, Sakura-chan?"
Sakura berbalik kaget. Naruto berdiri di depannya dengan ekspresi terkejut.
"N-Naruto," Sakura tergagap. "A-apa yang kau lakukan di sini?"
Naruto menatap gadis berkepala merah muda itu dengan ekspresi geli di wajahnya. "Kau mengundangku untuk datang, ingat?"
"Aku melakukannya?" kata Sakura bingung. Tiba-tiba, ia ingat. "Oh benar, aku melakukannya."
Sakura tersenyum pada Naruto. "Aku senang kau datang."
Naruto menyeringai. "Aku tidak akan melewatkannya. Kau mengagumkan malam ini."
Sakura tertawa. "Terima kasih." Ia mengusap bahu saat angin dingin bertiup melewatinya.
"Apa kau kedinginan?" Naruto bertanya.
"T-tidak," ia berbohong. Ada keheningan sesaat. Aku pembohong yang buruk, pikir Sakura.
Naruto melepas mantel hitamnya dan menyerahkannya pada Sakura. "Ini," katanya.
Sakura menatap mantel itu. "Naruto.." Sakura melambaikan tangannya dan menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja, sungguh. Setelah aku sampai rumah, aku akan baik-baik saja. Kau benar-benar tidak perlu menawarkanku jaketmu," kata Sakura.
Naruto memiringkan kepalanya ke samping. "Apa kau yakin?"
Sakura mengangguk. "Sungguh, aku baik-baik saja."
"Baiklah kalau begitu." Naruto menyampirkan jaketnya di bahu sambil membawanya dengan satu tangan. "Yah, aku pergi ke luar untuk mencari Sasuke-teme." Naruto melirik lewat bahunya ke pintu klub yang terbuka. "Dia mungkin sedang mencariku sekarang."
Sakura tersentak. Sentakannya agak terlalu keras dan Naruto menatapnya dengan tatapan bingung di wajahnya. "U-uh," Sakura terbata-bata. "Aku baru sadar aku benar-benar harus pulang sekarang."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengantarmu pulang," si pirang itu menawarkan.
"Tidak, tidak perlu. Aku akan baik-baik saja. Aku berjalan pulang sendiri sepanjang waktu."
"Tapi sekarang sudah malam dan tidak aman kalau kau pulang sendiri."
"Tidak, sungguh—" Sakura mulai berbicara tapi ia berhenti saat mendengar suara familiar.
Sasuke.
"Naruto!" Suara Sasuke memanggil.
Sakura melihat sekelilingnya. Orang-orang mulai keluar dari klub dan tumpah ruah ke jalan. Sakura mencengkeram gaunnya. Oke, itu akan baik-baik saja. Jika aku melihat dia, maka aku hanya perlu bertindak alami. Hanya bertindak alami, pikir Sakura berbasa-basi pada dirinya sendiri. Ia melirik gaunnya. Astaga! Jika dia melihatku maka dia akan tahu! Aku lupa mengubah pakaianku saat aku mencium—koreksi, saat dia mencuri ciuman pertamaku, pikir Sakura panik.
Sakura menatap Naruto yang memperhatikan kerumunan. Ia menatap mantel hitam di atas bahu Naruto. Tanpa pikir panjang, ia menyambar mantel itu dari tangan Naruto.
"Kau tahu? Aku pikir aku akan mengambil tawaran jaketmu," kata Sakura sambil menyelipkan tangannya ke dalam mantel. Ia memeluk jaket itu dengan erat dan puas karena ia berhasil menutupi hampir seluruh gaunnya.
Naruto berdiri memandang Sakura dengan ekspresi tercengang. "Uh, oke.." kata Naruto canggung.
"Hei," terdengar suara dari belakang Naruto. Naruto berbalik dan melihat Sasuke berdiri di depannya dengan ekspresi puas.
"Kenapa kau memasang tampang bodoh di wajahmu?" Naruto bertanya sambil menyeringai.
Sasuke menyeringai kembali. "Bagaimana aku tahu? Mungkin karena melihat wajah bodohmu sepanjang waktu."
Naruto merengut pada Uchiha itu. "Bajingan," gumamnya.
"Hn. Bodoh." Sasuke melirik gadis yang bersembunyi di balik Naruto. Sasuke memiringkan kepalanya dan melihatnya lebih dekat.
Dia melihat seikat rambut merah muda dan menyeringai. "Jadi apa yang kau lakukan di sini, Pinky?"
Sakura memelototi Sasuke dengan mata hijaunya. Lalu, ia berbalik dan berjalan cepat ke arah lain.
"Sakura-chan!" Naruto berseru setelah gadis berkepala merah muda itu pergi. Ketika gadis itu tidak berbalik, Naruto berbalik pada Sasuke.
"Sialan kau! Kau masih tidak minta maaf padanya karena kau mencoba menabraknya dengan mobil bodohmu, kan?" Naruto berteriak pada si kepala raven.
Sasuke menatap stoic punggung gadis berkepala merah muda itu. "Dia tampaknya lupa tentang hal itu saat aku melihatnya di sekolah."
Naruto mengerutkan kening. "HANYA karena alasan itu kau memutuskan untuk tidak minta maaf? Hell, dia hanya pandai menyembunyikan sesuatu dan tidak menunjukkan emosinya saat di sekolah—" seru Naruto. "—atau saat ada di sekitarmu," tambahnya muram.
Sasuke melirik Naruto. "Hn. Apa yang artinya?"
"Kau benar-benar bodoh soal perempuan," ujar Naruto.
"Bicaralah untuk dirimu sendiri," kata Sasuke sebelum memasukkan tangannya ke kantong celana. "Ayo, kita masih memiliki beberapa rincian untuk dikerjaan besok," katanya sambil berbalik dan menuju arah lain di mana mobilnya diparkir.
Naruto menghela napas. Ia melirik kembali ke arah Sakura pergi. Itu tempat gelap dan sepi. Naruto menatap cemas kegelapan di depannya. Sakura-chan. Tolong pulang dengan selamat.
Dengan pikiran terakhirnya, ia berbalik dan berjalan ke arah lain di mana Sasuke menunggu dengan mobilnya.
—Song of a Cherry Blossom—
