Naruto © Masashi Kishimoto

Song of a Cherry Blossom © Diana-san

Indonesian Ver. © Yuki Kanashii

Chapter 7 — Sakura Pendant

Sakura bangun awal di pagi hari yang cerah. Sinar matahari pagi masuk melalui tirai jendela.

Sakura menguap saat ia membuka mata mengantuknya. Ia mengedipkan mata saat sinar matahari yang hangat menerpa tubuhnya. Sambil menguap, ia berguling dari tempat tidurnya. Sakura memakai sandal berbulu halus miliknya dan berjalan ke kamar mandi.

Setelah memercikkan air dingin di wajah mengantuknya dan melakukan rutinitas pagi sehari-hari, Sakura pergi ke dapur dan mulai membuat sarapan yang terdiri dari pancake dan jus jeruk.

Saat adonan pancake mendesis di wajan, Sakura pergi mengganti piyamanya. Sakura memilah pakaiannya di lemari kecil dan mengeluarkan sebuah baju atasan.

Ibu membeli ini untukku di hari 'itu'.

Sakura meraba bahan ringan bajunya. Itu adalah sebuah baju lengan lebar bergaya kimono yang indah. Warnanya pink mencolok dan oranye terang, terlihat mengalir bersama-sama seperti dua sungai yang terjalin menjadi satu. Baju itu terbuat dari kain tipis yang sangat ringan sehingga perlu memakai tank top sebagai lapisan dalamnya. Sakura melirik ke luar jendela dan melihat bahwa hari itu adalah hari musim gugur yang indah. Matahari bersinar cerah seperti saat itu masih musim panas. Sakura tersenyum sambil memegang baju di dadanya dan memperhatikan dirinya di cermin.

Baju ini sempurna untuk hari seperti ini.

Sakura memutuskan pemikirannya sambil meletakkan baju itu di atas tempat tidur. Sakura mengaduk-aduk lacinya dan mengambil sebuah tank top putih polos dan melemparnya di tempat tidur. Ia mengeluarkan sepasang celana capri denim dan meletakkannya di samping pakaian yang lain.

Sakura mendesah sambil duduk di tempat tidur. Tapi aku akan bekerja hari ini jadi tidak ada gunanya memakainya. Sakura berdiri dan memandangi pakaiannya.

"Oh, what the hell," katanya akhirnya sambil mengganti pakaian.

Sakura melirik dirinya di cermin dan terkejut baju atasan itu terlihat bagus pada dirinya. Warna pada baju atasan itu cocok dengan rambutnya yang berwarna cherry blossom pink dan warna hijau terang mata emerald-nya. Crop top itu memperlihatkan bahunya sehingga kulit putih creamy-nya terlihat.

Sakura menyeringai pada bayangannya di cermin. "Aku tidak akan membiarkan Si Bodoh Sasuke menghancurkan hari ini. Aku akan pergi keluar dan menikmati hari yang indah daripada memikirkan tentang dia mencuri ciuman pertamaku," kata Sakura percaya diri.

Sakura menghela napas. "Apa aku bercanda? Aku lebih sering kesal dan muram."

Ia mengerutkan kening dan menggeleng. "Tidak! Aku harus menyingkirkan pikiran-pikiran ini dari kepalaku!"

Sakura mengangguk seolah-olah ia setuju dengan dirinya sendiri. Ia mulai menyisir rambutnya ketika bau terbakar mencapai hidungnya. Sakura tersentak sambil menjatuhkan sisirnya. "Pancake-nya!"

Sakura bergegas keluar dari kamar tidurnya dan pergi ke dapur. Ia mematikan kompor dan mengintip ke bawah pancake. Pancake-nya sedikit gosong di pinggir tapi selain itu, pancake-nya tampak bisa dimakan. Sakura menusuk pancake dengan garpu dan memandangnya hati-hati. Ia memotong kecil pancake-nya lalu mengangkatnya dengan garpu dan melihat dari dekat untuk memeriksa potongan pancake-nya. Perlahan-lahan, ia menggigitnya dan mengunyahnya sambil berpikir. Puas dengan itu, ia meletaktan pancake di atas piring dan menuang sirup maple di atasnya.

Setelah sarapan, Sakura melirik arlojinya dan di sana tertulis hampir pukul 10:00. Aku harus pergi ke klub. Aku meninggalkan gitarku di sana, pikirnya. Sakura meraih kunci dan memakai sepasang sandal jepit. Ia meninggalkan apartemennya dan berlari ke klub yang beberapa blok jauhnya dari apartemen.

Sakura terengah-engah saat ia berhenti di depan klub malam. Ia menyadari bahwa berjalan dengan sandal jepit itu bukan ide yang bagus. Sakura mendorong pintu klub dan melangkah ke dalam klub yang redup.

"Jiraiya-sama? Tsunade-sama? Anko?" ia berteriak.

Seorang pria berambut putih melangkah keluar dari balik tirai dan ke atas panggung. "Sakura!" ia berseru gembira sambil melompat dari panggung dan berlari ke Sakura. Gadis berambut merah muda itu menjerit saat Jiraiya meraihnya dan memberinya pelukan erat beruang raksasa.

"J-Jiraya-sama," Sakura tersedak. "K-kau m-membunuh k-ku."

Jiraiya melepaskan Sakura. "Oh maaf."

Sakura menarik napas panjang. Lalu ia melayangkan tinjunya ke kepala Jiraiya. "Apa kau mencoba membunuhku sepagi ini!"

Jiraiya merintih, "T-tapi Sakura.."

"Dia hanya mencoba menemukan cara terbaik untuk memberitahumu idiot seperti apa dia," kata Tsunade sambil berjalan dari belakang Jiraiya.

"Tsunade-sama?" Kata Sakura.

Tsunade menghela napas. "Apa Jiraiya memberitahumu tentang hari liburmu?"

"Hari libur? Hari libur apa?" Tanya Sakura.

Tsunade menghela napas. "Jiraiya.." kata Tsunade dengan nada peringatan.

Jiraiya tersenyum malu-malu. "Yah, kau lihat.. ah.. setiap orang memiliki hari libur hari ini.. dan aku tidak memiliki kesempatan untuk memberitahumu.. Sakura."

Sakura mengalihkan tatapannya dari Tsunade ke Jiraiya. "Jadi kau mengatakan bahwa aku bangun pagi hari ini hanya agar aku bisa datang bekerja di saat tidak ada pekerjaan," Sakura berkata dingin.

Jiraiya menggaruk dagunya. "Itu sekitar intinya," katanya serius. "Aku baru akan memberitahumu semalam tapi kau tak bisa ditemukan! Dan kau meninggalkan ponselmu di klub."

Sakura hanya bisa menghela napas. "Aku kira itu kesalahanku. Aku kesulitan tadi malam jadi aku pergi lebih awal tanpa memberitahu siapa pun."

Tsunade mengeluarkan ponsel kecil dan menyerahkannya pada Sakura. Gadis cherry blossom itu merosot di kursi. Tsunade duduk di kursi sebelah Sakura. "Aku menyesal kau harus bangun pagi-pagi di akhir pekan. Aku harusnya tahu aku tidak bisa percaya Jiraiya bisa melakukan sesuatu dengan benar."

Jiraiya menunduk. Sakura menghela napas. "Tidak apa-apa. Lagipula aku tidak mendapat banyak tidur dengan semua pekerjaan sekolah yang kumiliki."

Tsunade tersenyum pada gadis itu. "Tapi kau masih bisa terlihat cantik dalam pakaian itu."

Sakura tersenyum. "Terima kasih."

Tsunade tersenyum. Wanita pirang itu bangkit dari kursi dan menarik Sakura berdiri. "Baiklah, seorang gadis sepertimu harus keluar di bawah sinar matahari dan menikmati diri sendiri, bukannya terkurung di sini."

"T-tapi—"

Tsunade mengibaskan jarinya di depan Sakura. "Tidak ada tapi-tapian. Pergi dan nikmati harimu." Tsunade mendorong Sakura keluar pintu dan menutup pintu di belakang gadis berkepala merah muda itu.

"Tapi aku harus mengambil gitarku," kata Sakura pada pintu yang tertutup. Ia mendesah sambil menatap lantai beton trotoar.

"Sakura?" Sebuah suara memanggil.

Sakura segera mendongak dari lantai. Mata jade hijaunya melesat ke kiri dan ke kanan saat ia mencari orang yang menyebut namanya.

Sebuah tangan menepuk bahunya, membuat Sakura melompat sedikit sambil berbalik.

Seorang laki-laki berambut gelap berdiri di depannya dengan senyum di wajahnya. "Idate-san!" Sakura berteriak kaget.

Idate memiringkan kepalanya. "Panggil saja aku Idate."

Sakura menyeringai. "Oke, Idate, jadi apa yang kau lakukan di sini?"

Idate menggaruk kepalanya. "Alasan yang sama kau berada di sini?"

Sakura memutar matanya. Idate tersenyum dan meraih pergelangan tangan Sakura. "Bagaimana jika kau menemaniku hari ini karena kita berdua memiliki hari libur?"

"Tapi—"

"Tapi apa?" Tanya Idate. "Kau harus lebih sering pergi keluar dan menikmati hidup saat masih muda."

Sakura mengernyitkan alisnya. "Apa kau menyindir bahwa aku semakin tua?"

Idate menyeringai. "Yah, kau berumur enam belas hanya sekali. Selain itu, aku membutuhkan seseorang yang cantik untuk membuat semua laki-laki iri."

Sakura mengerang. "Kau tidak akan berhenti sampai aku setuju kan?"

"Ya, itu benar."

"...Baiklah..."

—Song of a Cherry Blossom—

Angin meniup rambut kemerahan Sakura yang baru saja ia ikat cepol berantakan. Sakura berusaha menyeimbangi langkah Idate di jalan yang berliku dan penuh dengan orang-orang.

"IDATE!" Sakura berteriak saat ia mencoba menghampiri laki-laki di depannya agar melambat. "Aku tidak bisa mengikutimu. Tidak dengan sandal jepit bodoh di kakiku ini."

Idate berhenti dan Sakura menabraknya. Sakura terguncang saat ia mencoba menjaga keseimbangan. Ia mengerutkan kening. "Oke, bilang padaku lain kali ketika kau ingin berhenti di tengah jalan tanpa peringatan apapun."

Idate tersenyum malu-malu. "Maaf."

Sakura mengusap kakinya. "Kakiku membunuhku. Kita sepertinya sudah berjalan hampir ke seluruh penjuru kota."

Idate berjongkok sambil menawarkan punggungnya pada gadis berkepala merah muda itu. Sakura menatapnya seperti dia gila. "Apa yang kau lakukan?" ia bertanya.

"Menawarkanmu agar ku gendong," kata Idate sambil tersenyum.

Sakura menggeleng keras. "Tidak! Aku tidak bisa membiarkanmu—"

Protesnya berhenti ketika Idate menggendongnya di punggung. "Hei! Hei, turunkan aku!"

Idate berdiri dengan Sakura di punggungnya. Dia menatap Sakura dari sudut matanya. "Kenapa? Kau lelah bukan?"

Sakura protes lagi, "Ini memalukan."

"Tidak, ini tidak memalukan."

"Ya, ini memalukan," Sakura berpendapat. "Orang-orang akan menatap kita."

"Tidak, mereka tidak. Bahkan tidak ada orang yang menatap kita."

"Ya mereka menatap kita." Sakura menjulurkan kepalanya sehingga ia bisa melihat wajah Idate. "Mata mereka menonton kita!"

Idate tertawa. "Biarkan mereka menonton kalau begitu," katanya sambil mulai berjalan.

"Aku membencimu," kata Sakura dengan suara bosan.

Idate menyeringai. "Aku juga menyukaimu."

Sakura melingkarkan lengannya di leher Idate dengan erat agar ia tidak jatuh.

"Kau pasti mendapat sebongkah batubara dariku Natal ini."

"Pastikan itu dibungkus dengan baik," kata Idate dengan senyum.

Sakura menjulurkan lidah padanya.

"Jadi, bagaimana keadaan di sekolah baru?" Idate bertanya sambil mengubah topik pembicaraan.

Sakura menatap langit biru yang jernih. "Tidak ada masalah."

"Mendapat teman?"

Gambaran dari Naruto muncul di kepala Sakura. Ia tersenyum. "Ya, aku punya," katanya lembut. Tiba-tiba, sebuah gambaran dari Sasuke datang ke kepalanya. "Sasuke," geram Sakura.

"Siapa dia? Pacarmu?" Tanya Idate.

Sakura mendengus. "Seolah-olah."

"Aku yakin kau sangat tidak menyukainya."

"Tidak perlu seorang jenius untuk mengetahuinya," kata Sakura sinis.

Idate tertawa. "Itu buruk, ya?"

Sakura mengangguk. Gadis berumur enam belas tahun itu mendesah sambil melirik jendela toko. Saat mereka berjalan melewati toko-toko, sebuah barang yang dipamerkan di sebuah toko kecil tertangkap oleh mata Sakura. Sakura memberi isyarat pada Idate agar menurunkannya dan dia melakukannya. Sakura berlari ke jendela toko dan menekan tangannya pada jendela kaca bening sambil mengintip benda itu. Idate berjalan di belakangnya dan melihat juga. "Apa yang kita lihat?" tanya Idate saat matanya mencari benda yang Sakura tatap dengan intens.

Sakura tidak mengatakan apa-apa tapi ia menunjuk benda itu. Idate mengikuti arah jari Sakura dan matanya mendarat pada liontin berbentuk cherry blossom. Liontin ini memiliki lima kelopak yang berkilau di bawah sinar matahari sore dan di tengahnya ada batu berlian jernih yang tampak bersinar dengan warna pelangi. Liontin itu tergantung pada rantai perak yang memiliki pengait kecil. Idate kemudian bersiul rendah ketika melihat label harga yang ditempatkan di samping kalung itu.

"Itu salah satu mahal—" Idate berhenti ketika ia melihat Sakura menghilang. Idate melihat sekelilingnya tetapi tidak ada tanda-tanda gadis berkepala merah muda itu. Saat itulah dia melihat Sakura di dalam toko lewat kaca jendela. Idate tersenyum geli. "Gadis itu.." katanya lalu tertawa rendah sambil membuka pintu yang mengarah ke dalam toko.

Lonceng angin terdengar saat Idate berjalan ke dalam dan suara denting mengisi toko kecil itu. Sakura sedang berbicara dengan pemilik toko dan kemudian menunjuk ke etalase di mana liontin tadi diletakkan.

Idate berjalan ke Sakura. "Kau tidak serius berpikir membeli kalung itu kan?" tanyanya sambil menggaruk kepala.

Sakura menatap Idate. "Aku tidak yakin," katanya lembut. Ia berbalik kembali pada pemilik toko yang mulai mengambil satu set kunci dan kemudian pergi ke etalase tempat ia membukanya. Pemilik toko kemudian mengambil kalung itu dan menyerahkannya pada Sakura.

Sakura memegang kalung itu saat sentuhan dingin dari liontin menyentuh kulitnya. Ia mulai menelusuri berlian yang ada di tengah liontin dan kulitnya terasa menggelitik ketika ia merasakan kesejukan dari permata. Dengan cepat Sakura membalik liontin atas lalu melihat belakang liontin itu. Ada ukiran huruf kecil tapi rapi, itu namanya. "Sa-ku-ra," ia membaca keras-keras pada dirinya sendiri saat mengucapkan setiap suku kata dengan jelas. "Ini dia," gumamnya.

"Apa?" Tanya Idate.

"Kalungku," jawab Sakura dengan suara melamun.

"Kalungmu?" Tanya Idate.

Sakura mengangguk. "Ya. Liontin ini dari ibuku untuk ulang tahun keenam belas. Aku pikir ini hilang saat aku pindah dari rumah tuaku tapi itu ternyata muncul di toko ini." Ia menatap sayang pada liontin di telapak tangannya. Sakura berbalik pada pemilik toko. "Berapa ini?" Tanyanya cepat.

"¥3.000," kata pemilik toko. Mulut Sakura menganga. Sakura memasukkan tangannya ke saku celana dan mengeluarkan beberapa tagihan kusut dan koin. Ia menaruhnya di atas meja dan menghitung jumlah uangnya.

"¥2.000," kata Sakura frustrasi saat ia menghitung koin terakhir. "Kurang ¥1.000," katanya sedih. Sakura kembali menatap liontin di tangannya dan menatapnya sedih. Sebuah tangan menghantam meja dan Sakura melompat kaget. Idate meletakkan ¥3.000 di meja sebelah tumpukan uang Sakura.

"Idate.." kata Sakura lembut.

Idate menatap Sakura dan tersenyum. "Ini dari ibumu bukan?"

Sakura mengangguk sambil menggenggam erat kalung itu.

"Kalau begitu jangan khawatir tentang membayarnya kembali padaku. Anggap saja hadiah." Idate mengambil uang Sakura dan menyerahkannya pada Sakura.

"T-tunggu," Sakura protes. "Kau tidak harus membayar semuanya! Aku bisa membayar sisa—"

Sakura berhenti protes ketika Idate meletakkan jarinya ke bibir Sakura dan menekannya lembut. "Jangan konyol. Kau tidak boleh kehilangan uang untuk biaya sewamu."

Sakura menggeleng dan menyingkirkan jari Idate. "Aku bisa membayar sewa dan bahkan membayarmu kembali kalau aku dimasukkan ke dalam beberapa jam tambahan di klub dan—"

Idate menggeleng. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu." Idate meletakkan uang di tangan Sakura yang bebas dan menutup jari-jarinya di atas uang.

"Kau memaksakan diri terlalu keras. Kau tidak seharusnya lebih mengkhawatirkan pekerjaan dan sewamu. Kau harus lebih fokus pada tujuanmu," kata Idate sambil menatap mata Sakura.

Sakura menutup matanya. "Tujuanku?"

"Untuk menyelesaikan sekolah dan—"

"—menjadi penyanyi," Sakura menyelesaikan kalimat Idate.

Sakura membuka matanya. "Itu benar. Aku harus menyelesaikan pendidikanku sebelum menjadi orang terkenal."

"Itulah yang ibumu katakan padamu, kan?"

Sakura mengangguk. "Benar," katanya. Sakura tersenyum tapi kemudian senyumnya berubah menjadi cemberut. "Tapi aku masih tidak bisa membiarkanmu membayarnya."

"Ini bukan aku yang membayar. Ini uang kakekku," Idate menanggapi.

Pemilik toko berdiri di depan meja dan melihat pada dua remaja itu. "Jadi, kau akan membeli kalung ini?" dia bertanya.

Sakura menatap Idate dan dia tersenyum. Sakura tersenyum kembali dan kemudian mengangguk pada pemilik toko. Pemilik toko mengambil uang tunai itu dan kemudian menyerahkan tanda terima kecil untuk Idate.

Idate mengucapkan terima kasih pada pemilik toko dan mengikuti Sakura keluar toko. Setelah di luar, Idate beralih pada Sakura. "Apa kau memerlukan bantuan untuk memakainya?" Dia bertanya.

Sakura mengangguk dan menyerahkan kalung itu pada Idate. Dia mengambilnya dan Sakura berbalik sehingga punggungnya menghadap Idate. Idate melepas kalung itu dan mengangkatnya di atas kepala Sakura lalu memasangnya di sekitar leher Sakura. Ketika suara klik terdengar, ia meletakkan tangannya kembali ke sisinya.

"Terima kasih," kata Sakura lembut.

"Sama-sama," kata Idate menanggapi. "Meskipun aku butuh waktu lama untuk mengaitkan itu kembali."

"Tidak, maksudku terima kasih. Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku."

Sakura menggenggam kalung itu. "Karena kau, aku sanggup melupakan."

Idate menatap langit. "Lupa?" ulangnya. "Aku tidak berpikir ada hari dimana kau melupakan."

Sakura tetap tenang. Mata hijaunya beralih dari Idate dan ia menatap pemandangan gelombang laut biru.

"Pantai," bisiknya.

Idate tampak kebingungan. "Huh?"

Sakura menunjuk dan tersenyum. "Laut ada di dekat sana."

Idate mengikuti pandangan Sakura. "Kau benar. Kita pasti ada di dekat laut sekarang."

"Ayo kita pergi," kata Sakura.

"Sekarang?"

Sakura tidak mengatakan apa-apa dan mulai berjalan secepat mungkin. Rasanya seakan Ibu ada di sini di sampingku dan membimbingku padanya.

Sakura memperlambat langkahnya saat ia mendekati pantai. Sakura melepas sandal jepitnya dan membawanya dengan satu tangan sambil berdiri di depan gelombang laut yang datang. Sakura menghirup bau khas laut saat melihat burung-burung camar terbang di atas kepalanya dan berkicau. Matahari mulai terbenam di cakrawala dan Sakura tersenyum saat ia tenggelam dalam pikirannya sambil menatap ke laut.

Sakura berumur delapan tahun berjongkok sambil menepuk tangannya di atas pasir. Ia menggali ke dalam pasir basah sambil mencari permukaan halus dari kerang laut. Tangan kecil Sakura memegang kerang merah muda lalu ia menariknya keluar dengan gembira dan kagum dengan warna cantik yang sama seperti rambutnya.

"Ibu!" serunya sambil melambaikan kerang di udara sehingga ibunya bisa melihat. Ibu Sakura berjalan menuju Sakura dengan senyum lebar di wajahnya. Ibu Sakura berjongkok di samping gadis kecil itu dan mereka menatap keindahan kerang itu.

Sakura terkikik saat ia meletakkan kerang itu bersama dengan kerang cantik lain yang ia temukan sebelumnya. Sakura merasa bahagia saat ia duduk di sana—di pasir dengan ibunya sambl menyaksikan matahari turun dan tenggelam di bawah laut. Mata Sakura mulai merasa lelah saat ia menahan menguap. Ia menatap ibunya sekali lagi sebelum tidur.

Sakura memecah konsentrasinya di laut dan menatap pasir di bawah kakinya. Sebuah bayangan pink tertangkap matanya. Ia membungkuk lalu menggali pasir ke samping dan memperlihatkan kerang merah muda yang indah. Sakura mengangkat kerang itu lembut dan memeriksa seluruh sisi kerang.

Ini terlihat mirip dengan kerang yang aku temukan delapan tahun lalu, Sakura merenung.

Sakura tertawa kecil. "Aku harap kau bisa berada di sini bersamaku sekarang, Ibu," kata Sakura sedih sambil menggenggam kerang di tangannya dengan lembut. "Aku harap Ibu bisa berada di sini bersamaku setiap hari.."

Idate berjalan di belakang Sakura dan berjongkok di sampingnya. "Itu kerang yang indah."

Sakura hanya mengangguk setuju. "Ya."

Idate memandang matahari terbenam. "Sudah hampir waktu makan malam. Langit akan gelap sebentar lagi. Kita harus pulang sebelum terlalu larut."

Sakura mendongak dari kerang dan matahari terbenam. "Begitu cepat?" gumamnya. "Ayo kita setidaknya jalan-jalan di pantai."

Idate mendesah. "Baiklah." Dia berdiri dan membantu Sakura berdiri. Sakura membungkuk lalu mengambil sandal jepit nya dan membawanya di satu tangan lalu menggenggam kerang merah muda di tangannya yang lain. Mereka mulai berjalan bersama di sekitar laut saat Sakura mengayunkan lengannya malas.

Hening terjadi selagi dua remaja itu berjalan tenang di pantai. Tiba-tiba, perut Sakura memberi geraman keras. Sakura dengan cepat memegang perutnya malu dan Idate tertawa. Tapi, perut Idate juga memberi geraman dan wajahnya berubah merah sedikit.

"Sepertinya kita berdua kelaparan," canda Sakura.

"Yah, kita hanya makan siang dengan burger," Idate berkomentar.

Sakura mengangguk. Sebuah aroma yang menyenangkan sampai di hidung dan Sakura menghirupnya. "Apa kau mencium itu?" tanya Sakura.

Idate mengerang. "Sakura, aku sudah kelaparan. Jangan mencoba membuatku lebih lapar dengan menceritakan kau mencium aroma yang menyenangkan dari hot dog yang dimasak dan.."

Sakura mendongak ke depan dan melihat api unggun besar di kejauhan. "Ini bukan mimpi. Sepertinya ada cookout dan kita mencium bau hot dog dan semua makanan lain yang mereka memasak," kata Sakura bersemangat.

Ia bergegas ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Idate mengerang sambil segera mengikutinya. "Kau tidak berpikir mereka akan memberi kita makanan gratis, kan?" Dia bertanya tapi Sakura sudah terlalu jauh untuk mendengarnya.

Sakura memperlambat langkahnya ketika pandangan yang jelas dari api unggun terlihat. Ia bisa melihat kerumunan besar berkumpul di sekitar api dan menari dengan iringan musik yang dimainkan oleh DJ. Idate muncul di belakang Sakura.

"Sepertinya ada pesta," Idate berkomentar.

Sakura mengangguk. "Ya, sepertinya begitu."

Keduanya berjalan menyusuri pantai dan lebih mendekat ke pesta. Sakura menyipitkan matanya. Ia tampak mengenali beberapa wajah di sana.

Sakura berjalan di antara kerumunan orang sambil menatap piring makanan yang mereka pegang. Ia pasti linglung karena ia berjalan tepat ke arah seseorang. Sakura mengusap kepalanya di mana benjolan mulai terbentuk sambil mendongak ke orang yang ia tabrak.

"Naruto!" Sakura berseru.

Naruto memiringkan kepalanya ke samping. "Sakura, apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku baru akan menanyaimu hal yang sama."

Naruto menyeringai. "Yah, aku sangat senang kau di sini," ia berteriak dengan suara gembira sambil memberi Sakura pelukan erat. "Aku mencoba meneleponmu di rumah, tapi tidak ada yang menjawab."

"Yah, aku keluar sepanjang hari." Kata Sakura. Ia mendongak dari bahu Naruto dan mata giok hijaunya bertemu dengan mata onyx gelap yang familiar. Sakura menyipitkan mata saat melihat Sasuke berdiri di belakang Naruto. Sakura ingin berteriak padanya dan menyiksanya karena mencuri ciuman pertama miliknya, tapi kemudian Sakura menyadari ia masih berada di pelukan erat Naruto.

Akhirnya, Naruto melepas Sakura dan gadis berkepala merah muda itu mengambil napas pertama kehidupannya. Sasuke mulai berjalan dan berdiri di samping Naruto. Idate memberi kerutan kecil dan berjalan protektif di belakang Sakura.

Sakura melotot pada Sasuke. Kilas balik ciuman menghebohkan terlintas dalam pikiran Sakura saat punggungnya menggigil naik dan turun. Sakura mengertakkan gigi dan mengepalkan tangannya.

Uchiha Sasuke. Aku akan membuat kau membayar hari ini.

—Song of a Cherry Blossom—

A/N:

Halo minna~

Maaf ya Yuki lama banget update-nya:( Abis udah mulai masuk sekolah, Yuki harus siap-siap UN mulai dari sekarang huhu3

Oke, mungkin chapter ini agak mengecewakan karena gak ada SasuSaku nya. Tapi chapter berikutnya dijamin bakal seru loh~ Jadi stay tune ya hihi ;D

Oh ya, sankyu juga buat yang udah review dan add fanfic ini ke favorite/following list kalian^^ Yuki jadi tambah semangat deh:3

Jaa ne minna~