Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 8 — Beach Party
Sasuke menyeringai sambil berdiri menantang Sakura. Sakura balas melotot menantang ke arahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini—di pestaku?" Tanya Sasuke. "Pinky?" Tambahnya. Hal itu menyebabkan bahu Sakura tambah menurun karena marah dan matanya seperti mampu mengubah orang menjadi batu. Terutama mengubah orang-orang seperti Sasuke.
"Siapa yang ingin pergi ke pestamu?" Sakura mendecih kesal.
Sasuke berpikir sejenak. "Uh, semua orang?" ia menjawab sambil menunjuk ke kerumunan. "Seluruh sekolah diundang." Sasuke mengerutkan kening sambil menepuk kepalanya. "Aku kira undangan untukmu terlewatkan."
Sakura merengut. "Wah, sayang sekali. Siapa yang tahu apa yang bisa terjadi jika aku menerimanya?" sindir Sakura. Sakura menutup matanya dan mengambil napas dalam-dalam. Ketika membuka matanya, Sakura menatap langsung ke mata Sasuke seakan matanya berbicara.
"Tapi kau tidak perlu khawatir soal aku masuk tanpa diundang ke pestamu karena aku dan Idate akan PERGI," kata Sakura dingin sambil menekankan kata 'pergi'. "Bukankah itu benar, Idate?" Sakura bertanya sambil menoleh pada Idate untuk meminta dukungan. Apa yang Sakura harapkan tidak terjadi. Sakura berbalik dan mencari tanda-tanda Idate. "Idate? IDATE?" Sakura berteriak ke kerumunan.
Sasuke menyeringai. "Sepertinya temanmu menikmati pestanya," ia berkomentar sambil berjalan di belakang Sakura dan menundukkan kepala untuk menyamai tinggi Sakura. Sasuke menunjuk Idate di keramaian.
Sakura mengikuti arah jari Sasuke dan menemukan Idate di keramaian. Idate melambai pada Sakura dan tersenyum. "Makanan di sini LUAR BIASA. Kau harus datang!" Idate berteriak pada Sakura dari dalam kerumunan.
Gadis cherry blossom itu mengerang sambil membenamkan wajahnya di tangan dengan malu. Kau menjualku Idate. Bagaimana bisa kau memihak mereka dan masih tidak menyadari fakta bahwa kau melakukannya?
Sasuke berdiri tegak dan menyeringai. "Jadi apa yang kau katakan lagi?"
Sakura mengangkat kepalanya dan menurunkan tangannya ke sisinya. Ia menarik napas dan memasang senyum palsu di wajahnya sebelum berbalik lalu menghadap Sasuke.
Sakura memberi Sasuke senyum manis dan kemudian mengganti senyumnya menjadi cemberut. "Jadi bagaimana jika pestamu mengambil alih temanku untuk sedikit berpihak pada sisi jahatmu? Aku masih tidak akan menyetujui apa pun yang kau lakukan, termasuk ini.. ini.." Sakura melihat ke sekeliling dan melambaikan tangannya di keramaian di depannya. "...Orang-orang yang penuh kepalsuan dan terobsesi!"
Sasuke berpura-pura memberi ekspresi sakit. "Ouch!" serunya dramatis. "Itu menyakitkan."
Sakura memelototinya. Sasuke meletakkan lengannya di Sakura dan tersenyum ke arahnya. Sakura menatap lengannya dan kemudian menatap penuh ejekkan ke wajah Sasuke. "Apa?" Tanya Sakura datar.
Sasuke menghela napas. "Jika kau benar-benar ingin tetap di sini maka kau bisa tetap di sini. Ini tidak seperti aku tidak mampu melayanimu dengan makanan dan hiburan."
Sakura berkedip sekali dan kemudian dua kali dan kemudian beberapa kali lagi. Ia menggeleng seolah membersihkan kepala dan mungkin indranya. Ia mengetuk telinganya beberapa kali untuk memastikan ia mendengar dengan benar. "Permisi?" Sakura mempertanyakan. Sakura tertawa setengah hati. "Apa kau mengatakan bahwa aku benar-benar INGIN datang ke pestamu?"
"Yah, kau sudah ada di sini bukan?" Sasuke berkomentar.
Sakura kehilangan kata-kata. "T-ta-tapi. Maksudku.. Tunggu!" Sakura mendorong lengan Sasuke menjauh darinya dan berlari beberapa kaki menjauhkan dirinya dari Sasuke. Sakura memeluk lengannya seolah-olah melindungi dirinya sendiri. "Oke," kata Sakura. "Apa kau mendengar yang aku katakan sebelumnya? Aku bilang aku tidak akan datang bahkan jika kau mengundangku."
Sasuke memutar matanya. "Perempuan sepertimu sulit ditebak."
Sakura memberi kerutan kecil. "Apa maksudmu perempuan sepertiku? Aku akan memberi tahumu bahwa perempuan sepertiku—"
Sasuke berjalan ke Sakura dan meletakkan jarinya di bibir Sakura untuk membungkamnya. "Shh," kata Sasuke pelan. "Aku tidak ingin ada ceramah panjang dan membosankan darimu pada Sabtu malam seperti ini." Sasuke menatap Sakura dan menunjuk ke perutnya dengan tangannya yang bebas. "Ini sedikit melewati jam makan malam, kau mungkin belum makan apa-apa. Aku yakin kau lapar—"
Sakura mendorong jari Sasuke dan membalas, "Aku TIDAK lapar. Bahkan, aku—"
Omongan Sakura terputus ketika perutnya menggeram keras. Sakura tersipu dan mencengkeram perutnya sambil meringis. Sasuke tertawa. "Perutmu berkata lain dengan apa yang mulutmu katakan."
Sakura melototi perutnya dan mengutuk diam-diam. Sialan. Dikhianati oleh rasa laparku sendiri. Lupakan fakta bahwa aku berencana melakukan lima puluh sit up untukmu, perut.
Naruto melangkah. "Ayo, Sakura-chan. Kau bisa makan semua makanan gratis yang kau inginkan dan itu semua dibayar oleh Sasuke!"
Sasuke menatap Naruto. "Dobe, kau lebih baik tutup mulut."
"Hei, kau tidak ingin dia tetap di sini?" Tanya Naruto.
"Aku tidak peduli," kata Sasuke sebelum pergi dan menghilang di kerumunan.
Naruto menghela napas. "Jangan khawatir tentang dia. Dia hanya menjadi kesal seperti biasanya," Naruto menjelaskan pada Sakura.
Sakura mendengus. "Khawatir? Siapa bilang aku khawatir?"
Naruto berkedip. "Oke, lupakan."
Sakura menyeringai sambil menggulung lengan baju khayalannya. "Oke! Aku akan pergi dan makan semuanya dan membuat dia datang menangis padaku karena semua uangnya habis."
Sakura menyeringai nakal pada rencana jahat brilian miliknya sementara Naruto menatap kosong pada gadis berambut merah muda itu. "Uhh, Sakura-chan. Apa kau merasa baik-baik saja?"
Mata Sakura bersemangat. "Aku akan menunjukkan padanya! Tunjukkan meja makanannya padaku," tuntutnya.
Naruto menunjuk ke meja jamuan gaya lama yang ada di satu sisi di kerumunan besar. Sakura berjalan dan berdiri di salah satu ujung meja panjang. Mulutnya menganga sambil menganga. Ada lebih dari tiga puluh jenis makanan hidangan berbaris satu di sebelah yang lain. Sebuah air mancur berukuran mini ditempatkan di tengah meja prasmanan panjang. Air mancur itu memiliki tiga lapisan dan setiap lapisan memiliki berbagai jenis minuman. Senampan besar ayam barbeque ditempatkan di tengah dan kemilau mengkilap terlihat dari saus barbeque yang berkilau. Lima jenis pizza yang berbeda berada di nampan berputar dan diletakkan di sebelah soda dan sari apel.
Sakura tercengang sambil menatap semua makanan yang indah. Perutnya menggeram dan mulutnya meneteskan air liur. "Wow," desahnya. "Kalian benar-benar MAKAN makanan normal."
Naruto tertawa. "Apa yang kau harapkan? Bahwa kami akan menghidangkan caviar dengan sedikit cracker persegi?"
Sakura menatap Naruto sekilas sebelum berbalik. "T-tentu saja tidak," ia berkata pelan. Sebenarnya, ya aku berpikir begitu, pikir Sakura.
Sakura mengerang. "Aku tidak akan bisa menyelesaikan semua makanan ini sendiri."
"Kau tidak akan bisa menyelesaikannya bahkan jika itu hanya satu pizza yang disajikan," kata Naruto.
Sakura menjulurkan lidah. "Oh, lihatlah. Jika rencanaku adalah untuk sukses maka aku hanya perlu makan sampai aku tidak bisa makan lagi."
Naruto menghela napas. "Jika kau akan melakukan sesuatu maka setidaknya buat itu menjadi realistis," jawab Naruto tapi Sakura tidak mendengar perkataannya lagi.
Sakura bersenandung sambil meraih piring paling atas dari tumpukan piring perak. Ia mengerutkan dahi sambil mengernyitkan hidung. Apa yang salah dengan hanya menggunakan piring kertas? Sakura berdiri di depan baki pertama dan mulai meletakkan semua jenis makanan ke piringnya. Ia terus mengambil makanan lain sampai piringnya menumpuk begitu tinggi sehingga ia mulai keberatan. Remaja berkepala merah muda itu mengambil garpu dan melirik piringnya. Ini akan memakan waktu.. pikir Sakura sambil mendesah.
Sepuluh menit kemudian..
Sakura mengerang. Piring yang ia pegang bahkan hampir tidak seperempat habis dan masih tampak seperti belum tersentuh.
Sepuluh menit lain kemudian..
Sakura bersandar di kursi. Ia sekarang duduk di kursi sebelahnya. Sakura membiarkan kepalanya menghadap keatas sehingga ia sedang menonton semuanya terbalik.
Dua puluh menit kemudian..
Sakura turun dari kursi dan merosot pada kaki kursi sementara garpunya menggantung di mulut. Piring makanan masih tergeletak di kursi sebelah Sakura. Piringnya (masih) tampak seperti belum di makan meskipun Sakura menghabiskan dua puluh menit untuk menghabiskan lapisan atas dari tumpukan makanan di piringnya.
Lima menit kemudian..
Naruto berjalan ke Sakura dan membungkuk. Sakura sekarang merosot di atas pasir dengan garpu tergeletak di pasir. Naruto mencolek pelan Sakura dan Sakura berguling sambil mengerang. "Tidak ada lagi makanan," keluhnya dengan mata tertutup.
Naruto tertawa. "Bahkan dessert?"
Sakura langsung duduk. "Dessert?" Sakura berkata penuh semangat. Sakura melompat berdiri dan berlari ke meja makanan penutup. Mata jade-nya berbinar saat ia memandang kue, cookies, dan gula-gula. "Semuanya terlihat bagus," gumamnya pada dirinya sendiri. Ia meraih piring dessert kecil. Lalu menuju meja dessert. Sakura memeriksa setiap dessert yang diletakkan di depannya dengan hati-hati. "Lemon bar, macarons, krim puff, gelato.." Sakura menghitung semua makanan itu. "Terlalu banyak untuk dipilih," kata Sakura sedih sambil menempelkan tepi piring di tepi dagunya. "Bagaimana memutuskannya.."
"Mengapa kau tidak mengambil sedikit dari setiap makanan itu?" kata sebuah suara yang dalam.
Sakura melompat kaget saat berbalik. "K-ka-kau orang itu."
Laki-laki stoic bermata putih itu mengerutkan kening. "Orang itu? Apa itu bagaimana caramu mengingatku?"
Mata Sakura melebar. "Aku sangat menyesal. Aku tidak bermaksud menjadi kasar begitu," kata Sakura cepat sambil membungkuk.
Sakura mendengar tawa ringan dan ia mengerutkan kening. Dia tidak seharusnya menertawakan aku seperti itu. Tunggu sebentar, dia tertawa?
Sakura mengangkat kepalanya dan menemukan dirinya berhadapan dengan seorang gadis yang mengamati wajahnya. Sakura melompat terkejut lagi dan melongo. "Kau laki-laki tadi bukan?"
Gadis itu tertawa sambil berdiri kembali. "Aku selalu tahu ada sesuatu tentang kau yang membuatmu berbeda dari semua gadis-gadis lain," katanya. Dia mengulurkan tangan untuk membantu Sakura berdiri. Sakura sedang duduk di tanah dengan ekspresi kaget di wajahnya.
"Aku Tenten," gadis berambut cokelat itu memperkenalkan dirinya. "Dan.. ini pacarku, Neji," lanjut Tenten sambil menarik laki-laki bermata putih tadi dari belakangnya. Neji mengangguk singkat dan memutar kepalanya.
Sakura melirik Neji lalu ke Tenten. "Uhh, aku Sakura, aku kira," gumam Sakura. Sakura masih sedikit bingung apa yang terjadi.
Tenten tersenyum. "Kau kerja di Icha Icha kan?"
Sakura menggaruk kepalanya. "Yah.. Ya aku ker—"
Tenten menyela, "Aku sudah lama ingin bertemu denganmu! Kau punya keberanian dan aku suka itu. Lanjutkan seperti itu!"
Sakura berkedip. "Terima kasih.. kupikir."
Tenten tersenyum. "Aku setahun lebih tua darimu tapi aku harap kita bisa jadi teman baik. Kau tahu, aku bisa menunjukkan bagaimana cara agar kau benar-benar dapat mengganggu Sasuke. Apa kau tahu?"
Neji menyela, "Tenten, aku tidak berpikir kau harus mencoba menggunakan Haruno-san untuk membuat hidup Uchiha menjadi neraka."
Tenten cemberut. "Tapi aku masih harus mengalahkannya untuk semua hal yang sudah dia lakukan."
Neji menghela napas. Sakura memberi pandangan kosong. "Memenangkan skor? Apa yang kau lakukan dengan Sasuke?" Sakura bertanya pada Tenten.
Tenten menjelaskan, "Sejak kecil, Sasuke dan aku berbuat jahil satu sama lain dan sekarang dia memimpin dengan 108 kemenangan dan 107 kekalahan. Satu lagi kekalahan dan kami akan seimbang."
Neji menghela napas dan menyilangkan lengannya. "Tenten, kau akan lulus tahun ini jadi mungkin kau hanya harus membiarkannya—"
"TIDAK! Jangan katakan itu! Aku tidak bisa membiarkannya pergi! Aku akan membuat anak itu menderita satu juta kali lebih buruk dari apa yang dia lakukan padaku di saat 108 kemenangan yang lalu," Tenten berseru keras.
Sakura tergoda untuk bertanya apa yang terjadi saat 108 kemenangan yang lalu tapi melihat raut wajah Tenten ia berubah pikiran. Sakura mengambil piringnya dan menunjukkan bahwa ia akan pergi.
"Oke, aku pikir aku akan pergi ke sana dan makan dessert—"
"Tunggu!" Tenten memanggil sambil meletakkan tangannya di bahu Sakura untuk menghentikannya. "Kenapa kau tidak menari dengan Neji?"
"APA?" Neji dan Sakura berseru.
Tenten tersenyum. "Ayo, kalian berdua harus menari. Tidak menyenangkan kalau hanya makan di sebuah pesta."
"Tidak benar, aku benar-benar di sini hanya untuk makanan. Aku tidak ingin menari sekarang," kata Sakura cepat.
Tenten meraih tangan Neji dan Sakura. "Ayo kalian berdua. Pergi dan menari."
Tenten berbisik di telinga Neji. "Dan coba untuk membuat dia dekat dengan Sasuke saat aku memberikan sinyal."
"Sinyal? Sinyal apa?" Tanya Neji.
"Kau akan segera tahu. Hanya lakukan saja apa yang harus kau lakukan," bisik Tenten sebelum pergi.
Neji diam-diam mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana aku bisa terlibat dalam kekacauan ini? pikirnya muram.
Sakura bergoyang pelan dengan dirinya sendiri. Neji menghela napas sambil berjalan ke Sakura. Dia mengulurkan lengan pada Sakura. "Maukah kau berdansa denganku?"
"Apa aku punya pilihan?" Tanya Sakura.
"Tidak."
"Baiklah," Sakura menjawab sambil mengaitkan lengannya pada Neji. "Menari denganmu tidak akan menyakitkan."
Sebuah lagu slow diputar dan Sakura dengan canggung menempatkan tangannya di atas bahu Neji. Neji terus menjaga jarak aman dari gadis berkepala merah muda itu sambil melirik Tenten. Tenten tersenyum dan melambaikan tangan lalu menunjuk Sasuke yang sedang bersama Ino. Neji menghela napas sambil memandu Sakura sedikit ke kiri dan lebih dekat dengan Sasuke. Sakura dengan kaku mengikuti Neji tapi bertanya-tanya apa jenis tarian yang dia coba lakukan.
Dia lebih tampak seperti menarikku daripada menari. Tenten malang. Dia mungkin tampan tapi dia buruk dalam menari, Sakura berpikir pada dirinya sendiri saat ia setengah diseret. Sakura merasakan tepukan di bahunya dan berbalik untuk melihat seorang laki-laki di belakangnya. Dia memiliki rambut gelap bergelombang yang menutupi bagian matanya dan ketika ia tersenyum, sebuah lesung pipi muncul.
"Bolehkah aku memotong?" Dia bertanya.
Sakura melirik Neji yang tampaknya tidak terlalu senang. Ini adalah kesempatanku untuk pergi, pikir Sakura. Ia berjingkat ke telinga Neji dan berbisik, "Aku pikir kau harus pergi menari dengan Tenten. Dia tampaknya sedikit kesepian."
Sakura dengan cepat melontarkan senyum pada Neji sebelum benar-benar memisahkan diri dari sisi Neji. Gadis berkepala merah muda itu mengambil tangan laki-laki berambut gelap itu dan menghilang ke kerumunan. Neji memberi kerutan suram. "Tenten akan membunuhku karena ini," gumamnya.
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura menuangkan secangkir punch dan meminumnya rakus. Menari membuatnya haus dan butuh waktu selamanya untuk melewati kerumunan dan sampai ke meja minuman. Sakura berbalik untuk mengamati seluruh pesta. Banyak gadis-gadis mengenakan gaun mewah seperti mereka sedang menghadiri homecoming bukan pesta di pantai. Ya ampun. Apa mereka harus memamerkan kekayaan mereka di pantai umum? Sudah cukup buruk mereka melakukannya di sekolah, tetapi di pantai?
Sakura melirik beberapa laki-laki. Sebagian besar dari mereka berpakaian cukup santai namun beberapa berpakaian sedikit lebih formal.
Sakura mendesah sambil menatap adegan di depannya. "Seorang gadis sepertiku tidak cocok," katanya linglung.
"Kau benar," kata sebuah suara dari belakang Sakura.
Sakura berbalik. Ia membuat wajah jijik ketika melihat siapa orang itu. "Oh, itu kau."
Sasuke menyeringai. "Kenapa kau tidak terdengar senang melihatku?"
Sakura berpikir sejenak. "Aku tidak tahu. Mungkin karena aku memang tidak senang?"
Gadis cherry blossom itu meraih minumannya. "Sekarang jika kau akan mempersilahkan aku—"
Sebelum Sakura bisa menyelesaikan kalimatnya, DJ mulai berbicara dengan mikrofon.
"ALRIGHT YOU PARTY-GOERS! KITA AKAN SEDIKIT BERMAIN SEKARANG. INI CARA KERJANYA. SEMUA ORANG MEMILIH SATU KRAYON DARI KOTAK YANG TENTEN DAN NEJI PEGANG. ADA DUA SET KRAYON DAN PEREMPUAN AKAN MEMILIH SATU DARI BOX TENTEN DAN LAKI-LAKI DARI NEJI. BAGAIMANA CARA KERJANYA ADALAH ADA SATU KRAYON YANG SAMA DENGAN KRAYON KALIAN SENDIRI DAN SIAPA ORANG YANG SAMA DENGAN KALIAN ADALAH ORANG YANG HARUS BERDANSA DENGAN KALIAN UNTUK LAGU SLOW TERAKHIR DARI MALAM INI."
DJ melangkah turun dari mikrofon dan orang-orang mulai berbicara penuh semangat.
"Oh my gosh. Aku harap aku mendapatkan krayon yang sama dengan Sasuke-kun. Kyaa!"
"Tidak adil. Aku ingin Sasuke!"
"Aku harap aku bisa menari dengan Neji!"
Sakura menghela napas. Ini buruk, Sakura merenung sambil tertawa. Sakura melirik Sasuke yang sedang menatap ke kejauhan. Sakura menyeringai. "Pesta ini akan jadi menarik."
Sakura mulai berpaling dari keramaian saat seseorang mengulurkan sekotak krayon di depan wajahnya. Sakura menatapnya selama beberapa detik sebelum melihat ke atas. Wajah emosi Sakura bertemu dengan senyum cerah Tenten. Tenten tersenyum sambil mengulurkan kotak krayon lebih dekat ke wajah Sakura.
"Tidak," kata Sakura tegas.
Tenten mengerutkan kening dan memindahkan kotak krayon dekat dengan Sakura. Gadis cherry blossom itu menggeleng tapi Tenten tetap gigih. Gadis berkepala cokelat itu mengambil satu krayon dari kotak dan menaruhnya di telapak tangan Sakura.
Tenten bergegas pergi sebelum Sakura bisa protes. Sakura melirik krayon di tangannya.
"Makaroni," Sakura membaca label krayon. "Apa yang mereka lakukan untuk krayon ini?" gerutunya.
Sakura berbalik pada Sasuke. "Apa yang kau dapat?"
Sasuke mengangkat alisnya. "Apa kau peduli?"
"Tidak," jawab Sakura datar.
Sebuah suara melengking dari mikrofon membuat Sakura meringis dan seluruh penonton berbalik untuk melihat apa yang terjadi. Tenten tersenyum sambil melambaikan tangan pada kerumunan. "Oke semuanya! Semua krayon sudah ada di tangan kalian dan sekarang kalian harus menemukan pasangan yang cocok dengan krayonmu. Tidak ada penukaran atau apa pun dan kalian harus menari dengan siapa pun yang kalian dapat."
Orang-orang mulai bergerak karena mereka mencoba menemukan pasangan dansa mereka. Sakura mengerang. "Bagaimana orang akan menemukan yang mereka cari dengan seperti ini?"
Seseorang menepuk bahu Sakura dan ia berbalik dan menemukan Tenten tersenyum padanya. "Kau!" Sakura berteriak. Gadis cherry blossom itu meraih pergelangan tangan Tenten dan menyeretnya keluar dari kerumunan yang sempit.
"Oke, kau membuatku terlibat dalam kekacauan ini jadi kau harus mengeluarkanku dari ini sekarang."
Mata Tenten melebar. "Apa yang aku lakukan?" tanyanya polos.
Sakura mengangkat alis dan mengangkat krayon makaroni ke wajah Tenten. "Kau lihat ini? Kau memberiku ini!" Sakura berkata sambil melambaikan krayonnya. "Dan sekarang kau dapat mengambilnya kembali dan berpura-pura bahwa aku tidak pernah menyentuh krayon ini dalam hidupku sehingga aku bisa keluar dari sini bukannya menari dengan siapa pun yang kau atur."
Tenten meletakkan tangannya di pinggul dan mengerutkan kening. "Sekarang kenapa aku melakukan itu?"
Sakura mengangkat alisnya pada gadis itu. "Karena aku akan pergi sekarang."
Sakura mengulurkan krayon agar Tenten mengambilnya.
Sebelum Tenten bisa, sebuah suara memanggil nama Tenten. Kedua gadis itu menoleh dan melihat Sasuke berlari kecil. Mata Tenten cerah saat melihat Sasuke.
"Hei Tenten, permainan kecilmu ini membuatku gila. Aku bahkan tidak bisa menemukan gadis yang akan menari denganku," kata Sasuke.
Tenten tersenyum. "Itu karena.. dia ADA DI SINI!" Tenten berseru sambil menyeret Sasuke ke Sakura.
Sasuke dan Sakura saling memandang sampai mereka menunjukkan wajah kaget.
"Tidak!" seru mereka berdua.
"YA!" Tenten berkata dengan gembira. "Oke, bersenang-senanglah kalian berdua," kata Tenten sambil menghilang ke kerumunan.
Sakura menatap punggung Tenten dengan shock. Gadis berambut merah muda itu melihat ke Sasuke dengan shock.
"Dari semua orang," Sasuke menggerutu.
Sakura memelototinya. "Apa katamu?"
Sasuke mendengus. "Aku bilang, dari semua orang yang aku dapatkan justru GADIS JIDAT."
Gadis cherry blossom itu memelototi Sasuke. Sasuke mencibir sambil menunggu Sakura merespon. Ketika tidak ada respon yang muncul, Sasuke melambaikan tangan di depan wajah Sakura. Sakura menatap Sasuke dengan mata batu giok berwarna hijau miliknya dan Sasuke berhenti melambai sambil menjatuhkan tangannya.
Sakura berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Sasuke yang berdiri di sana menonton sosoknya dari belakang. Sasuke mendesah sambil mengikuti gadis cherry blossom itu.
Sakura berhenti berjalan saat ia sudah lebih jauh dari suara keras dan musik pesta. Sakura mendesah sambil menatap ombak pantai.
Apa yang aku dapat? Dia menghinaku dan membuatku begini.
Sakura tertawa kecil pada dirinya sendiri. Oh itu benar. Ibu dan Ayah akan selalu menggodaku dengan nama itu.
Gadis berambut kelopak bunga itu berlutut lalu meringkuk sambil menyaring pasir dengan tangannya. Ia melihat pasir jatuh di antara jari-jarinya. Sakura menggoyang-goyangkan kakinya. Angin sedikit menyapu lembut kulitnya dan membuatnya menggigil.
"Kau begitu bodoh," Sakura memarahi dirinya. "Marah tidak jelas."
Setelah semuanya, itu sudah begitu lama. Dan Sasuke bodoh sudah memanggilku dengan nama itu sebelumnya.
Sakura melemparkan segenggam pasir ke gelombang laut dengan frustrasi. Ia berpikir bahwa akan lebih mudah melupakan rasa sakit kematian orangtuanya dengan waktu tapi hari ini rasanya terlalu berat. Sulit untuk melupakan ketika segala sesuatu seperti mengingatkannya tentang mereka. Sakura mengangkat tangannya ke pipi dan terkejut merasakan basah air mata di wajahnya. Ia cepat-cepat menyeka air matanya dengan punggung tangan lalu mencengkeram kepalanya—mencoba menyingkirkan debaran suara di otaknya.
Sakura duduk di pasir dan hendak berbaring ketika sebuah objek menarik perhatiannya. Sakura mendongak dan melihat Sasuke menjulang di atasnya.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sakura jengkel.
Kau terlihat depresi jadi aku mengikutimu, pikir Sasuke. "Aku melihat apa yang babi kecil itu lakukan di sini dengan dirinya sendiri," katanya menanggapi.
Sakura menatap Sasuke dan memalingkan wajah. Sasuke duduk di samping Sakura. "Apa kau masih marah padaku karena aku memanggilmu gadis jidat?"
Tubuhnya menegang. "Tidak," jawab Sakura keras kepala. "Aku tidak marah," tambahnya dingin.
Sasuke tertawa. "Itu benar. Jika kau marah, kau akan berteriak padaku dan memanggilku babi dramatis."
Gadis cherry blossom itu berbalik dan menatap Sasuke. "Berhenti bertingkah seperti kau sangat mengenalku dengan baik."
Sasuke menatap laut dengan tenang. "Tapi bukannya itu benar? Kau tidak benar-benar sulit untuk ditebak."
Sakura menyilangkan lengannya. "Kau tidak tahu aku. Tidak ada yang benar-benar tahu tentangku."
"Baik, baik. Tidak ada yang tahu tentangmu. Bagaimana bisa ada yang mengerti seorang gadis miskin sepertimu?"
Sakura menahan diri untuk tidak memukul keras kepala Si Uchiha itu. "Hei!" Ia memperingatkan. "Jaga dirimu. Aku sudah berhenti marah pada kau jadi jangan coba membuatku marah lagi."
Sasuke mengangkat bahu. "Aku pikir kau tidak marah."
"Apa maksudmu aku tidak marah? Tentu saja aku marah! Kau—" Sakura berhenti. "Kau menipuku."
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Kau bilang sendiri," kata Sasuke membela diri. "Kau—"
Kata-katanya terputus saat percikan air dingin mengenai wajahnya. Sasuke perlahan menghapus air dari wajahnya lalu berdiri.
Sakura tertawa. Ia berdiri di pinggir air laut yang dingin. "Kau benar. Aku marah tapi sekarang aku merasa jauh lebih baik setelah melakukan itu."
Menggosok rambut basah di wajahnya, Sasuke melotot pada Sakura. "Oh, sekarang kau merasa begitu?" tanyanya setengah mengancam.
Sakura menelan ludah saat Sasuke mendekat padanya. Sakura melangkah mundur ke dalam air laut dingin saat Sasuke mendekati dirinya. Ia mengulurkan lengannya untuk menjauhkan diri dari Si Uchiha yang mendekat dan melambaikannya panik sambil menutup erat matanya.
"Jangan coba melakukan sesuatu atau aku akan menyakitimu!" Sakura mengancam.
Sakura bisa mendengar kekehan Sasuke. "Ya, aku ingin melihat kau mencoba."
Gadis enam belas tahun itu membuka matanya dan menatap Sasuke. "Apa? Kau tidak percaya bahwa aku bisa—"
Kalimat Sakura tidak pernah selesai karena ia mengambil langkah mundur terakhir dan mulai jatuh. Sasuke mengulurkan tangan untuk mencoba menangkap lengan Sakura tapi usahanya sia-sia karena ia memegang tangan Sakura dan jatuh ke air dingin dengannya. Sasuke menjulurkan kepalanya dari bawah air lalu terengah-engah menarik Sakura berdiri. Gadis itu meludahkan air dan terbatuk-batuk sambil menyeka air dari matanya.
Sasuke mengerang. "Man, ini baju baru," gerutunya.
Sakura bersin. "Kirim ke dry cleaning," ia menjawab monoton.
Uchiha itu tertawa sinis. Sakura bersin sekali lagi dan menggigil di air yang dingin. Rasa sakit berdenyut di kepalanya sekarang dan tiba-tiba ia merasa dingin di seluruh tubuh.
Sasuke menghela napas. "Ayo. Kita bisa pilek jika tetap di sini terlalu lama."
Sakura mengangguk tapi terlalu kaku untuk bergerak. Matanya mulai menutup perlahan-lahan dan kepalanya muncul keluar dari air. Sasuke meraih bahu dingin gadis itu dan menggoyangkannya pelan. Ketika Sakura tidak menunjukkan reaksi, Sasuke dengan cepat membawanya keluar dari air.
Sasuke meletakkan Sakura perlahan di permukaan pasir pantai. Sakura mengerang sambil berguling ke satu sisi. Uchiha bingung itu meletakkan tangannya di dahi Sakura.
"Kau panas."
Sakura hanya mengerang.
Sambil menghela napas, laki-laki berambut hitam itu menggendong gadis demam dalam pelukannya dan mulai berjalan ke jalan beraspal yang mengarah ke kota.
"Boy, kau memberi banyak masalah," gumam Sasuke sambil melirik wajah tidur Sakura. Dia tertawa kecil. "Tapi kau agak lucu ketika sedang tidur. Satu-satunya waktu ketika kau menutup mulutmu."
Sasuke mengangkat Sakura dan membawanya menaiki tangga berbatu yang menuju ke mobil. "Man, kau berat. Apa yang kau makan hari ini?"
—Song of a Cherry Blossom—
A/N:
Hey-yo semuanya!
Gomen, untuk chapter yang satu ini Yuki memang lama banget updatenya. Soalnya jadwal Yuki bener-bener padat dan mood Yuki lagi buruk banget:( Dan kemarin sebenernya Yuki udah update chapter ini, tapi pas Yuki liat ternyata ada bagian yang error.
Oh ya, Yuki mau cerita sedikit penyebab mood Yuki yang buruk.. Apa menurut kalian, Yuki salah kalau Yuki jatuh cinta sama orang yang nggak ganteng? Yuki bener-bener nggak ngerti sama semua orang di sekolah. Rasanya mereka anggap Yuki itu lelucon karna suka sama orang yang jelek banget. Mereka selalu nyindir Yuki. Temen-temen cowok sekelas Yuki juga suka nyindir Yuki. Padahal, sehabis putus dari orang itu, Yuki bener-bener terpuruk dan susah percaya sama orang. Yuki juga nggak mau jatuh cinta lagi. Rasanya Yuki terjebak di kegelapan. Dan disaat Yuki mau berubah dan mulai tertarik dengan salah satu temen cowok di kelas Yuki, dia justru malah nyindir Yuki juga. Bisa bayanginkah sakitnya kayak apa? Yuki merasa bodoh, jelek, dan nggak pantes suka sama orang lagi. Mood Yuki bener-bener buruk. Makanya, Yuki jadi lama banget updatenya:( Gomenasai ne, minna~
Oke, arigatou udah mau baca a/n abal-abal ini hehe. Arigatou gozaimasu juga buat yang udah mau r&r, dan add cerita ini ke list favorite/following^^ Jaa ne di chapter berikutnya~
(Psst, kata kunci buat chapter berikutnya: rumah, Sasuke)
