Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 9 — Frustrations
Sasuke menjatuhkan gadis kepala ceri itu di sofa ketika sampai di rumah. Sakura tidak bergerak dan berbaring di sana seperti sedang berada rumahnya sendiri. Sasuke mendesah lalu duduk di kursi terdekat. Dia mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk puti kemudian melemparnya ke lantai yang dilapisi karpet.
"Apa yang akan aku lakukan denganmu?" Sasuke bergumam.
Dia berdiri dan berjalan ke Sakura yang sedang tidur dengan tenang meskipun ia demam tinggi. Sasuke meletakkan tangannya sekali lagi di dahi Sakura. Dia sedikit lebih dingin tapi demamnya masih tinggi. Napas Sakura lambat dan ia menggigil meskipun memakai selimut. Sasuke berlutut dan mulai menyeka wajah Sakura dengan handuk basah. Gadis yang sedang demam itu bergerak sebentar tetapi tidak membuat tanda ia akan bangun. Sasuke melirik Sakura sambil bersandar di sofa.
Sekarang siapa yang akan mengganti pakaian basah yang kau pakai?
Sasuke menghela napas. "Ini akan menjadi malam yang panjang."
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura menguap sambil membuka matanya. Sinar matahari pagi datang melalui jendela dan menyentuh pipi Sakura. Sebuah langit-langit putih muncul dalam pandangannya dan itu membuat Sakura merasa nyaman. Gadis cherry blossom itu menutup matanya karena ia senang berada di kamarnya sendiri. Sakura bermimpi tadi malam ia berada di rumah Sasuke dan sekarang ia senang karena itu hanya mimpi buruk. Ia meringkuk lebih dalam ke selimut nyaman yang membuatnya merasa seperti sedang tidur di awan. Bahkan, itu pertama kalinya ia tidur dengan baik.
Pasti karena selimut sutra milikku. Selimut sut—Tunggu! Kapan aku pernah memiliki selimut yang terbuat dari sutra?!
"Hei, bangun!" sebuah suara memanggil.
Sakura mengerutkan kening. Darimana suara itu berasal? Kedengarannya seperti—
"Hei, kau babi! Berhenti tidur berlebihan."
Sakura mengeluarkan lengannya dari bawah selimut dan mengayunkannya pada sumber suara seolah-olah itu akan membuat suara tadi menjadi tenang. "Jam alarm penggangu," gumamnya dalam tidur.
"OW! Hidungku!" suara itu melengking kesakitan.
Aku perlu memperbaiki jam alarmnya. Aku pasti berhalusinasi kalau jamku bisa bicara dan—
Sakura berdiri tegak dari tempat tidur saat kembali ke alam sadarnya. Sasuke bangkit dari lantai sambil memegangi hidungnya. Sakura meraih bantal dan membantingnya ke bawah pada sosok yang bangun dari lantai.
Sakura berteriak padanya. "AHHHHHHHHHHHHHHHHHHH! MESUM!"
Sasuke meraih bantal dan melemparkannya ke seberang ruangan. "MESUM?! SIAPA YANG KAU PANGGIL MESUM? KAU MEMATAHKAN HIDUNGKU!"
"LALU APA YANG KAU LAKUKAN DI KAMARKU?!" Sakura berteriak padanya.
"KAMARMU? Perhatikan baik-baik sekelilingmu. Seperti kau mampu tinggal di sebuah ruangan seperti ini!"
Sakura berhenti berteriak dan memeriksa sekelilingnya. "Oh."
Sasuke melirik Sakura. "Oh? OH? Apa hanya itu yang bisa kau katakan? Kau mematahkan hidungku bahkan tanpa memastikan apa yang kau lakukan!"
Sakura memutar matanya. "Kau seperti bayi besar."
Sasuke mengangkat tangannya seolah-olah ia akan memukul gadis itu. Sakura menatapnya seolah menantangnya untuk memukulnya. Sasuke menggerutu beberapa kutukan pelan dan perlahan-lahan menurunkan lengannya. Dia berdiri sambil tetap menggosok "hidung yang patah" miliknya.
"Sarapan di bawah," gerutunya sambil berjalan ke pintu. "Meskipun kau tidak layak mendapatkannya," tambahnya sebelum menutup pintu.
Sakura menjulurkan lidah di belakang Sasuke untuk komentar terakhirnya. Ia menguap sambil menyisir sebentar rambutnya yang berantakan dengan jari. Ia melirik cermin dan mengerutkan kening. Ada sesuatu yang berbeda darinya. Sakura berbalik dan melirik cermin lagi. Tampaknya tidak ada yang berbeda di sana. Rambut berwarna cherry-nya berantakan seperti biasa, mata emerald hijaunya yang hijau seperti biasa, dan ia sudah memakai piyamanya seperti biasa..
Tunggu sebentar! Sejak kapan aku memakai piyama yang terbuat dari sutra?
Sakura menyentuh lengan baju dan kemudian menutup matanya sambil mencoba mengingat saat dia memakainya. Tapi pikirannya kosong.
Sakura menggeleng untuk membersihkan pikirannya dan duduk di tempat tidur sambil mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. "Bahkan mungkin itu akan menjelaskan bagaimana bisa aku ada di sini," gumam Sakura sambil menatap kamar tidur.
Tiba-tiba ia tersadar. Sakura tersentak sambil menutupi mulutnya yang terbuka dengan tangan, membiarkan semuanya tenggelam secara perlahan. "Tidaaaaakkk," keluhnya pelan sambil memikirkan sesuatu. "Tolong beritahu aku bahwa bukan dia yang mengganti bajuku," Sakura tersedak dan berbisik rendah. Gadis cherry blossom itu melirik pintu dimana di luar Uchiha Sasuke sedang memakan sarapannya. Sakura tertawa gugup pelan. "Tidak, dia tidak mungkin," kata Sakura meyakinkan dirinya sendiri. Ia pergi dan duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya lagi sementara terganggu oleh pikirannya.
"Dia tidak akan," kata Sakura sambil mengangguk bersama dirinya di cermin. Sakura mengerutkan kening. "Akankah dia?" Tanya Sakura lemah sambil membiarkan jari-jarinya terjatuh dan mengetuk meja. Merasa gelisah, ia membanting tangannya ke bawah meja. Sakura melompat dari kursinya dan bergegas keluar pintu dan berjalan ke lorong.
Aku membutuhkan beberapa jawaban atau aku akan menjadi gila karena tidak tahu.
Sakura berjalan ke ujung lorong dan menuruni tangga besar. Sakura terus berjalan sampai aroma yang menyenangkan tercium oleh hidungnya. Ia mengikuti aroma makanan dan tiba di sebuah pintu mahoni besar. Sakura membuka pintu dan hampir dibutakan oleh cahaya yang terang. Jendela berjajar di satu sisi dinding dan semua tirai terbuka dan membiarkan sinar matahari pagi yang cerah masuk.
Sasuke sedang duduk di ujung meja makan panjang dengan koran di tangannya. Sakura berjalan di sepanjang satu sisi meja dan berhenti di depan Sasuke sehingga ia menutupi cahaya yang datang melalui jendela. Sasuke mengerutkan dahi dalam ketika cahayanya terhalang oleh gadis berambut merah muda itu. Dia mendesah sambil melirik Sakura.
"Apa yang kau inginkan?" tanyanya kesal.
Sakura mengabaikan pertanyaannya. "Kau tahu apa yang aku inginkan. Aku ingin beberapa jawaban."
Sasuke menatap ke korannya kembali dan tetap memasang ekspresi datar kerennya. "Jawaban? Apa yang kau maksud?" Dia bertanya.
Sakura menuding Sasuke dan berseru, "Jangan berpikir aku akan memaafkanmu karena menyentuhku. Jika kau mencoba melakukan sesuatu, aku bersumpah aku akan menendangmu ke milenium berikutnya."
Laki-laki berambut hitam itu membalik halaman koran dan menyeringai. "Mencoba apa? Dan apa yang kau maksud dengan itu?"
Sakura memelototinya. "Apa yang kau maksud dengan itu?" Sakura menirukan kalimat Sasuke. "Kau tahu apa yang aku bicarakan jadi jangan bertingkah seperti kau tidak tahu."
Sasuke pura-pura menguap. "Tidak ada yang ingin melakukan sesuatu padamu... datar."
Mata Sakura mengejang. "KAU.." Ia mengulurkan tangan untuk mencoba mencekik Sasuke tapi Sasuke melompat dari kursinya sebelum Sakura bisa mencekiknya.
Sasuke menyeringai. "Tenang. Itu tidak seperti aku melihat pada tujuan."
Sakura menggeram rendah. "Kemarilah rambut ayam agar aku bisa menghancurkanmu menjadi potongan-potongan kecil." Sakura menunjukkan buku-buku jarinya sambil berjalan perlahan-lahan menuju Sasuke.
Sakura melemparkan tinjunya tapi Sasuke dengan cepat menahannya dengan satu tangan. "Jika kau membiarkan aku selesai.." Sakura melotot sambil mencoba menggunakan tinjunya yang lain tapi Sasuke menahannya juga dengan tangannya yang lain. "..Aku tidak mengganti pakaianmu." Sakura menggeliat di bawah cengkeraman Sasuke sambil berusaha menendang kakinya tapi gagal.
Sasuke tertawa pada upaya Sakura sebelum melepaskan nya dan menyebabkan Sakura jatuh ke depan. Sasuke menjulurkan jarinya dan menjentikkan dahi Sakura.
"Lain kali gadis jidat," kata Sasuke sambil berjalan pergi.
Sakura menyentuh tempat di dahinya yang Sasuke sentil dan menjerit frustrasi. "Uchiha Sasuke! KAU AKAN MEMBAYARNYA!"
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura menyusuri lorong dengan menghentakkan kakinya dan mencoba membiarkan semua kemarahannya hilang dalam setiap langkahnya. Ia memutuskan untuk mencari pakaiannya yang kemarin karena ja tidak tahu ke mana Sasuke pergi. Beberapa putaran dan sekali turun tangga membawanya ke lorong gelap yang panjang. Sebuah cahaya berada di ujung lorong dan Sakura diam-diam berjalan ke arah itu. Sandal di kaki Sakura nyaris membuat suara dan ketika ia mendekati ruangan yang terang, ia bisa mendengar suara-suara dari dalam ruangan yang terang benderang itu.
Sakura berhenti dan mengintip di kamar saat dia dengan hati-hati melindungi dirinya dalam bayang-bayang lorong gelap. Dua wanita paruh baya sedang memegang keranjang penuh cucian. Sakura bisa melihat pakaiannya yang tergeletak di atas keranjang.
Gadis cherry blossom itu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu tapi berhenti ketika mendengar namanya dalam obrolan mereka.
"Apa kau mendengar tentang Tuan Muda dan gadis Sakura itu?" Wanita yang lebih pendek dan gemuk dari mereka berseru.
Tuan Muda? Mereka tidak menyebut orang idiot itu bukan? Sakura bertanya-tanya. Ia tertawa sendiri pada saat itu karena nama konyol yang tidak sesuai sama sekali dengan Sasuke bodoh.
"Ya! Seluruh staf mendengar tentang bagaimana Tuan Muda membawa pulang seorang gadis kemarin malam," wanita yang lebih tinggi menjawab dengan penuh semangat. "Salah satu pelayan mengatakan bahwa Tuan Muda akan melamarnya tapi gadis itu pingsan karena senang jadi itu sebabnya Tuan Muda membawanya pulang."
Sakura berubah merah. Lamaran?! Dari orang KERAS KEPALA, BERHATI DINGIN, ES TANPA EMOSI itu?!
Pertama aku diseret ketika tidak sadar dan sekarang aku jadi bagian gosip oleh semua orang?! Kepala Sakura berteriak.
Kedua wanita di dalam melanjutkan obrolan mereka tanpa menyadari bahan obrolan mereka berada tepat di luar dan menjadi gila.
Wanita yang gemuk menyenggol wanita yang lebih tinggi dan kurus dan berbisik keras meskipun tidak ada seorang pun di ruangan yang mendengar mereka kecuali Sakura yang masih bersembunyi. "Aku dengar Tuan Muda berencana kawin lari dengannya karena dia tahu ayahnya tidak akan menyetujui."
"Kelihatannya dia bukan berasal dari keluarga kaya," wanita yang tinggi berkomentar. "Tuan Besar akan terkena serangan jantung jika dia mendengar Tuan Muda Sasuke menikahi orang miskin seperti Itachi-san menikah dengan gadis dari kelas yang lebih rendah."
Wanita gemuk mengangguk. "Lagipula, tidak ada yang cukup cocok untuk Uchiha dari seseorang kelas atas."
Sakura mendidih. Yah, maafkan aku jika aku tidak memenuhi harapan semua orang.
Gadis enam belas tahun itu memutuskan dia sudah cukup mendengar semuanya dan dia berdiri tepat di depan ruangan. Dua wanita yang sedang berbicara itu langsung berhenti ketika melihat gadis berkepala merah muda berjalan ke dalam ruangan. Sakura tersenyum manis. "Bolehkah aku mengambil pakaianku kembali, please?"
Wanita tinggi menunduk malu seperti tertangkap melakukan sesuatu yang salah saat ia menyerahkan Sakura pakaian miliknya. Sakura mengucapkan terima kasih dan melangkah pergi meninggalkan dua wanita yang saling berbisik tajam.
"Sekarang lihat apa yang kau lakukan!"
"Aku? Kau yang mulai! Sekarang, jika dia melaporkan kita maka kita mungkin akan dipecat!"
Sakura tertawa ketika ia meninggalkan dua wanita yang sedang bertengkar di dalam itu. Membawa pakaiannya, Sakura menemukan ruangan tempat ia tidur tadi. Tempat tidur sudah rapi, sepertinya tempat tidur itu dirapikan saat Sakura pergi tadi. Ia menutup pintu dan memastikan menguncinya sebelum berganti pakaian. Ia melemparkan piyama di tempat tidur dan akan pergi ketika melihat sebuah foto terselip di balik tempat sampah emas kecil. Sakura memungutnya dan merapikan kerutan foto itu.
Itu adalah foto seseorang yang tampak persis seperti Sasuke tapi beberapa tahun lebih tua. Pria jangkung dengan rambut panjang ekor kuda dan dia berpakaian santai. Lengannya memeluk seorang wanita muda yang mungkin pacar pria itu.
Aku ingin tahu siapa orang ini. Mungkinkah dia pria yang dua wanita tadi sebut saat di ruang cuci? Sakura bertanya-tanya. Itachi-san.. Aku yakin dia jauh lebih baik dari Sasuke bodoh.
Sakura meletakkan foto itu di atas meja rias dan memutuskan untuk tidak merenungkan benda itu lagi. Ia meninggalkan ruangan dan menutup pintu dengan pelan sebelum pergi ke lantai bawah dan mencari pintu depan. Sakura menuruni tangga berkarpet merah sambil bertanya-tanya bagaimana ia akan menemukan jalan keluar karena menemukan ruang makan hanya ketidak-sengajaan belaka. Sakura begitu tenggelam dalam pikirannya dan hampir menabrak Sasuke di bagian bawah tangga.
"Apa yang masih kau lakukan di sini?" Sasuke bertanya dengan senyum agak geli di wajahnya.
"Aku baru akan pergi," balas Sakura.
Sasuke menyeringai. "Kau tidak tersesat kan?"
"Tentu saja tidak!" Sakura memalingkan wajah. "Bahkan, aku tahu persis ke arah mana aku pergi," Sakura berbohong.
Sasuke menyeringai seakan tidak percaya. "Baiklah kalau begitu," katanya sambil berjalan menaiki tangga.
Sakura menutup matanya dan menahan keinginannya untuk meminta bantuan.
Sasuke berbalik dan berteriak, "Hei jidat!"
Gadis berkepala merah muda itu berbalik saat mendengar nama itu. "Apa?" tanyanya. Ia benar-benar lupa Sasuke memanggilnya "jidat". Sasuke melemparkan sesuatu ke bawah dan Sakura menangkapnya sebelum jatuh ke tanah. "Kau mungkin perlu ini," katanya sambil berlari menaiki tangga.
Sakura tampak tercengang dengan benda di tangannya. Itu semacam kertas. Ia memeriksa kertas itu dan hampir tersandung di langkah terakhir tangga saat melihat apa itu.
"Sebuah peta? Dia memberiku peta?!" Sakura berseru kaget.
Gadis berambut merah muda itu membuka potongan rapi lipatan kertas untuk membuka sebuah peta besar berwarna-warni. Kamar dan lorong-lorong ditandai dan diberi nomor juga legenda kecil dengan keterangan dicetak di sudut kanan bawah. Bahkan kompas kecil dicetak di bagian atas. Sakura menyipitkan mata pada secarik kertas itu. Ia bahkan nyaris tak bisa membedakan yang mana kamar dan di mana ia berada. "Bagaimana bisa seseorang menggunakan sepotong kertas bodoh ini," gumamnya.
Sakura menatap frustrasi peta itu sebelum meremasnya dan kemudian membukanya kembali. Sakura merosot di tangga. Ia mengerang sambil membiarkan peta besar menutupi wajahnya. "Aku tidak akan pernah menemukan jalan keluar dari sini."
—Song of a Cherry Blossom—
A/N:
Yuki mau berterima kasih sama pudding-tan, arigatou karena kata-katamu Yuki jadi agak lega^^ Arigatou gozaimasu!:)
O ya, arigatou juga buat semuanya yang udah mau read & review cerita ini^^ Yuki harap kalian puas dengan chapter ini;)
Mind to review this chapter?:)
