Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 11 — Punishment
Sakura memasuki ruangan yang besar dan luas. Ia tidak pernah mengerti kenapa banyak anak-anak yang takut dipanggil ke kantor kepala sekolah. Jika tidak ada kemungkinan tidak naik kelas atau membuat orang tua strict-mu menyadari nilai F minggu terakhirmu maka kantor kepala sekolah tidak akan memiliki banyak ancaman.
Kepala sekolah berdiri di depan jendela luas yang memperlihatkan halaman sekolah. Dia berbalik dan menunjuk ke kursi di depan mejanya. Sakura berjalan pelan menuju kursi itu. Sakura duduk sambil mencoba untuk tidak membayangkan berapa banyak murid yang duduk di kursi itu menunggu 'ajal' mereka. Sakura tertawa pada dirinya sendiri. Ia pasti terlalu sering bersama Naruto.
Kepala sekolah menaikkan alis saat Sakura tertawa sendiri. "Apa ada hal lucu yang ingin kau bagi denganku Nona Haruno-san?"
Sakura berhenti tertawa. "Tidak, tidak juga."
Kepala sekolah menghela napas sambil duduk di kursi sofanya. "Sekarang, Nona Haruno-san..."
"Please, panggil aku Sakura. Nona Haruno-san terlalu berlebihan untukku," potong Sakura.
Kepala sekolah mengangguk. "Sakura-san kalau begitu. Aku menganggap diriku adil jika memberikan murid kesempatan untuk menjelaskan hal yang terjadi. Keistimewaan itu juga berlaku untukmu."
Sakura menghela napas. "Begini..." Sakura berhenti sambil mencoba menemukan nama kepala sekolah yang akan mengubah nasibnya di menit mendatang. Mata hijau jade-nya mengamati meja di depannya dan menemukan papan nama emas bersinar. "Sarutobi-sensei aku bisa menjelaskan kenapa kita duduk mengobrol di sini hari ini tapi hal itu hanya akan membuang-buang napasku karena menjelaskan situasi di mana aku tahu kau hanya akan memberitahuku 'Kau seharusnya menjadi orang yang lebih sabar' dan kemudian itu akan menjadi alasan kita di sini sekarang, kan?"
Kepala sekolah mendesah. "Sakura-san, seperti yang bisa kau lihat, aku seorang pria tua. Upayamu—sengaja mencoba lolos dengan tidak menjelaskan apa yang terjadi— tidak membantu."
Sakura mengerjap dengan wajah polos. "Benarkah? Tapi kau tidak terlihat seperti berumur lima puluhan."
"Kau benar-benar melewatkan poinnya, Sakura-san."
Sakura menghela napas. "Baiklah, jadi kau benar-benar ingin tahu?"
Sarutobi mengangguk.
"Benarkah?" Tanya Sakura tidak percaya.
"Sakura-san," Sarutobi-sensei memberi peringatan.
Sakura mengangkat tangannya sebagai tanda kekalahan. "Baiklah, aku akan memberi tahu." Sakura mengepalkan tangannya. "That little conniving bratty..." Sakura berbicara dengan nada muak saat menggambarkan Aoi.
Sarutobi berdehem. Sakura berhenti berbicara dan melepaskan kepalan tinjunya. "Ah, maaf." Sakura melanjutkan sambil bersandar pada kursi, "She went out of line dan mengatakan suatu hal yang seharusnya tidak dia katakan dan aku membuang spaghetti di kepalanya," Sakura selesai berbicara untuk menyimpulkan hal yang terjadi.
"Kau membuang spaghetti di kepalanya karena itu?"
"Aku percaya itu hal yang aku katakan," ungkap Sakura.
Sarutobi menutup matanya dan menyilangkan lengan seakan dia sedang berpikir keras. "Kau seharusnya menjadi orang yang lebih sabar."
"Tahu kau akan berkata begitu."
"Aku takut aku masih tetap akan memberimu hukuman."
Sakura murung. "Meskipun aku sudah menjelaskan hal yang terjadi?"
Kepala sekolah mengangguk. "Ayah Aoi menyumbang banyak uang pada sekolah ini dan jika aku tidak memberimu hukuman yang pantas, maka sekolah akan kehilangan salah satu donaturnya. Seperti yang kau tahu, ayah Sasuke memiliki sekolah ini tapi sekolah ini merupakan salah satu tanggung jawabnya jadi meskipun kita mendapat donasi besar tahunan darinya, itu masih tidak cukup untuk membiayai program ekstra yang kita punya di sekolah ini."
Gadis cherry blossom itu tampak tidak terganggu soal hal itu. "Tipikal. Money controls everything, benar?"
"Aku tidak ingin menjadi seperti ini pula tapi bahkan aku tidak bisa memiliki kata terakhir. The school board is the one who controls everything."
Sakura berdiri. "Lupakan. Aku akan melakukan hukumanku. Aku tidak terlalu peduli."
"Kau harus membersihkan seluruh dapur."
"Baik," Sakura membalas acuh tak acuh sambil berbalik untuk pergi.
Kepala sekolah tersenyum. "Kau gadis yang kuat."
Sakura berbalik untuk melihat pada kepala sekolah. "Ini bukan tentang menjadi kuat. Aku membuat kesalahan dan sekarang aku membayarnya."
"Kesalahan, katamu? Dalam pandanganku, aku menghargaimu karena membela Nona Hyuuga-san. Tidak ada yang pernah berani membela seseorang pada sekelompok gadis itu sebelumnya."
"Kalau begitu aku pikir mereka memiliki tantangan pertama mereka." Setelah berkata begitu Sakura meninggalkan kata-katanya menggantung di udara sambil berjalan keluar pintu.
Sarutobi menutup matanya setelah melihat sebuah file di depannya. "Haruno Sakura" ditulis dengan cetak tebal di atas folder dengan sebuah foto sekolah dari gadis itu. "Pasti bukan suatu kesalahan membiarkanmu masuk ke sekolah ini."
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura bersandar pada pintu ruang kepala sekolah. "Seluruh dapur? Tidak mungkin aku lakukan sendiri. Kenapa aku menyetujui hal bodoh?" Sakura menggerutu sambil memarahi dirinya sendiri. Terkadang, Sakura bertanya-tanya bagaimana ia bisa hidup dengan dirinya sendiri beberapa waktu. "Aku pasti gila. Hanya orang gila yang akan menyetujui hal gila."
Sakura berjalan menuju kafetaria dengan lemas. Ia mungkin akan melewatkan seluruh sisa kelas siangnya meskipun ia sudah tidak sabar untuk kelas musik. Kurenai-sensei hanya perlu menunggu. Dia pasti akan mengerti. Mengerti bagaimana gilanya Sakura mengambil pekerjaan mengerikan—membersihkan seluruh dapur sendirian.
Sakura mendorong pintu kaferia dan melihat ruangan itu gelap. Itu akan menjadi menyeramkan jika saat itu bukan siang hari. Sakura menggulung lengan bajunya dan berjalan masuk ke dapur. Ia menyalakan lampu lalu memperhatikan sekelilingnya. Dapurnya sangat besar dan bahkan lebih besar dari kamar Sakura. Tidak, bahkan mungkin lebih besar dari seluruh ruangan apartemen Sakura.
Sakura melangkah masuk dengan ekspresi tekad di wajahnya. Ia tidak akan membiarkan pikiran bahwa ia harus membersihkan kekacauan apapun di sini menghentikannya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Ini sudah sangat bersih. Pasti tidak ada yang harus dibersihkan pula," Sakura berbicara pada dirinya sendiri.
Ia berbicara terlalu awal. Di bagian lain dari dapur terdapat tumpukan piring kotor, nampan dan peralatan makan. Kekacauan besar di depan Sakura membuat matanya melotot dan ia mencoba menghirup udara. "Ini tidak mungkin!" kata Sakura keras.
Sakura merosot ke lantai lalu mengerang keras. "Aku bahkan tidak mencuci piringku sendiri terkadang. Apalagi piring seluruh populasi sekolah."
Sebuah mesin pencuci piring besar tertangkap oleh mata Sakura. Ia segera bangkit berdiri dan berlari menuju mesin. Sakura meraba tombol pada mesin pencuci piring dan menatap ukuran teknologi tinggi di depannya dengan takjub. "Ini seperti sebuah gadget dari masa depan," katanya dengan suara bisikan bersemangat.
Sakura menatap tumpukan piring di sampingnya lalu menatap mesin pencuci piring. "Oke, waktunya mencuci piring, Mr. Dishwasher!" Sakura pergi dan mengambil beberapa piring kotor lalu membawanya ke mesin pencuci piring. Ia membukanya dan memasukkan tumpukan piring ke dalamnya. Setelah menutup mesin pencuci piringnya, ia melanjutkan untuk menekan tombol. Jarinya berhenti di udara dan ia menatap semua tombol di depannya. "Hmm, tombol mana yang harus aku tekan?"
"Mungkin kau harus menambahkan deterjen-air lebih dulu sebelum menekan apapun." Kata sebuah suara dari belakang Sakura.
Sakura berbalik. "Sasuke!" Ia menyipitkan mata. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sakura.
Sasuke berjalan menyusuri barisan sambil melirik kiri-kanan tumpukan piring di sekitar mereka. "Aku dengar kau mendapat tugas bersih-bersih sebagai hukuman dan bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan untuk menyaksikan ini?" Sasuke menyeringai pada Sakura. "Sungguh menakjubkan bagaimana kau bisa melewati hukuman membersihkan piring di sini tapi kau tidak bisa menggunakan mesin pencuci piring."
Sakura melotot pada Sasuke. "Oh, seperti kau bisa menggunakannya?"
Sasuke mengangguk. "Itu sangat mudah sehingga bahkan seorang dummy sepertimu bisa melakukannya."
Sakura menunjukkan buku-buku jarinya. "Aku akan berpura-pura tidak mendengarnya."
"Minggir, amatur," kata Sasuke sambil berdiri dari posisi bersandar pada pintu.
Gadis merah muda itu dengan enggan berpindah ke samping untuk membiarkan Sasuke lewat. Sakura menggertakkan gigi dan memelototi Sasuke saat dia lewat.
Sakura mencoba melihat apa yang Sasuke lakukan dan mengintip dari balik bahunya tapi Sasuke sudah menutup pintu. Sasuke menekan tombol dan Sakura bisa mendengar suara mesinnya mulai bekerja. Sakura tersenyum lega bahwa itu bekerja sampai ia mendengar suara tidak menyenangkan dari piring pecah.
Rahang Sakura jatuh saat suara piring pecah tertangkap oleh telinganya. Sakura berdiri tak bergerak di sana karena terlalu terkejut untuk melakukan sesuatu. Setelah suara mesin pencuci piring berhenti, Sakura berbalik dan menatap Sasuke.
"K-k-kau!" Sakura tergagap padanya saat melihat satu-satunya harapan miliknya dihancurkan oleh musuhnya pula.
Sasuke berbalik untuk lari tapi Sakura mengunci dirinya di atas Sasuke. "Jangan mencoba kabur! Kau menghancurkan satu-satunya harapanku untuk menyelesaikan tugasku mencuci semua piring-piring ini!"
Sasuke mencoba menyingkirkan Sakura tapi ia menahannya keras. "Jangan kabur dariku! Tetap di sini dan hadapi aku seperti seorang laki-laki!"
"Menyingkir dariku!"
"Tidak, tidak sampai kau setuju untuk membantuku!"
Sakura dan Sasuke terus berjuang sampai Sakura menjambak rambut Sasuke. "HEY! Not the hair!" Sasuke berteriak. Sakura menyeringai. "Apa kau menginginkan potongan rambut modis dariku?" tanya Sakura kejam.
"Oh oke, BAIKLAH!" Sasuke menyerah. Sakura melompat dari punggung Sasuke saat ia berbalik marah. "Aku akan membantumu jika kau tidak dekat-dekat lagi denganku."
Sakura tersenyum. "Deal."
Sasuke menggerutu pelan. "Wanita bodoh."
"Apa?" tanya Sakura.
"Tidak ada."
Sakura mengisi bak cuci piring dengan air dan memberi isyarat pada Sasuke untuk mendekat. Sasuke berjalan dengan enggan dan menatap Sakura tajam. "Apa?" tanyanya kesal.
"Gulung lengan bajumu dan mulai bantu aku." Sakura memberinya setumpuk piring dan Sasuke tersandung mundur saat mencoba menjaga keseimbangan dengan tumpukan besar di tangannya. Sakura tersenyum. "Lihat, kita sudah membuat kemajuan."
Sasuke melotot padanya lalu meletakkan piring di air hangat. "Apa aku sudah selesai di sini?" tanya Sasuke kesal. Sakura memutar matanya. "Kenapa kau tidak mencoba benar-benar mencuci piring dengan menggosoknya?" kata Sakura sinis sambil melemparkan handuk pada Uchiha itu. "Gunakan itu," perintah Sakura sebelum ia melanjutkan pekerjaan miliknya sendiri.
Handuknya mengenai wajah Sasuke lalu turun ke tangannya. Dia menggertakkan giginya ketika mencoba untuk tidak kehilangan ledakan amarahnya dan bertengkar sengit dengan gadis cherry blossom yang tampaknya tidak menyadari fakta bahwa ia membuat Sasuke kesal. Jika ia tahu maka ia menyembunyikannya dengan baik. Sasuke menyeringai sebelum menjatuhkan handuk ke lantai.
"Ini apa yang tidak aku sukai tentangmu jelata. Orang-orang sepertimu benar-benar tidak memiliki akal."
Sakura meliriknya tanpa mengubah ekspresi bergeming di wajahnya. "Apa kau berkata sesuatu?"
"Hanya perlu menekan satu tombol di ponselku dan semua pekerjaan ini akan diselesaikan untukku."
Sakura melanjutkan membersihkan saus spaghetti di piring. "Benarkah?"
"Kau tidak percaya kata-kataku?"
"Tidak, aku percaya. Aku percaya bahwa tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Uchiha Sasuke. Hanya memalukan bahwa kau berpikir tidak sepantasnya pada dirimu sendiri dan mempekerjakan orang lain untuk melakukan pekerjaan milikmu."
Sasuke mengerutkan kening. "Apa maksudnya itu?"
Gadis berambut bunga itu mengambil piring kotor lainnya dan mulai membersihkannya. "Tidak ada," balasnya acuh tak acuh.
Sasuke merengut. "Baiklah. Kau tidak berpikir aku bisa mencuci semua piring-piring ini?" Sasuke melepas jaket hitamnya dan melemparnya ke lantai. Dia menggulung lengan kemeja putihnya dan melonggarkan kerah bajunya. "Aku akan menunjukkan padamu terbuat dari apa seorang Uchiha," gumamnya sambil meraih sebuah piring dari tumpukan dan mulai menggosoknya keras seperti sedang menyerang seseorang.
Sakura bersiul rendah lalu mengembalikan konsentrasinya ke pekerjaan piringnya sendiri. Sebuah senyum lebar muncul di wajahnya saat ia bersenandung diam-diam pada dirinya sendiri. "Baka," bisiknya. Sakura melirik Sasuke melalui sudut matanya dan melihat dia mulai menggosok piring kotor lainnya dengan liar. Sakura tidak bisa membantu tapi terus memasang seringai bodoh yang sama di wajahnya. Ia menunduk sehingga Sasuke tidak akan melihatnya menahan tawa. Sungguh, orang akan bertindak begitu bodoh ketika kau mengatakan hal kecil pada mereka, Sakura merenung pada dirinya sendiri. Ah, yah semakin cepat aku membuatnya bekerja, maka semakin cepat aku bisa keluar dari sini.
Setelah piring yang —sepertinya— ke sepuluh ribu, Sakura perlahan melambatkan pergerakannya sambil mencoba menghilangkan kaku di bahunya. Sakura menatap Sasuke yang sudah bekerja dengan diam selama satu jam terakhir. Dapurnya hening mengerikan kecuali suara air yang berdesir dan piring yang berdentingan. Sakura berdeham—membuatnya mendapat tatapan stoic singkat dari Sasuke sebelum dia kembali berpaling. Sakura menatap Sasuke karena tatapan kasarnya sebelum berbalik pada tumpukan piring kotor yang tidak pernah berakhir miliknya.
Fling
Itu sebuah kecelakaan. Sakura bersumpah untuk itu. Ia tidak ingin itu terjadi tapi itu terjadi. Sakura tersenyum gugup sambil mencoba menghindari tatapan marah Sasuke. Sakura tidak bisa membantu tapi melirik wajah Sasuke dimana salah satu sisi pipinya benar-benar tertutup dengan busa.
"Ups?" kata Sakura gugup sambil tertawa kecil.
Sasuke mengelap busa di pipinya dengan punggung tangannya dan tampilan marah di wajahnya yang bahkan kau tidak akan bisa memberi tahu dia marah karena dia masih tampak seperti Uchiha datar yang sama yang sedang mencuci piring beberapa menit lalu. Tapi Sakura bisa merasakan aura buruk memancar dari Sasuke dan kilatan berbahaya di mata onyx-nya.
Sasuke melangkah menuju Sakura.
Sakura melangkah mundur. "A-apa yang kau lakukan?" Ia tergagap. Dengan cepat ia melirik sekelilingnya dan meraih benda terdekat darinya. Hanya keberuntungannya, ia kebetulan meraih sebuah piring kotor. Sakura membuat ekspresi sedikit jijik di wajahnya pada isi piring yang masih menempel lalu menahan piring itu di depannya sebagai tameng. Sasuke berhenti sejenak sebelum melirik piring kotor yang menjadi semacam senjata pertahanan itu. Dia mengangkat alis dan menyilangkan lengan.
"Kau tahu.. Kau harus membersihkan piring itu," kata Sasuke dengan suara bosan.
Sakura ragu sebelum menjawab. "K-kau benar," balasnya. "Itulah kenapa kau harus kembali ke tempatmu dan aku hanya akan tetap di sini dengan piring kotor ini."
Sasuke berpikir sejenak. "Atau.." ia berkata perlahan. "Aku bisa melakukan ini!" Sasuke meraih pipa semprot yang digunakan untuk membersihkan piring dan mengarahkannya pada Sakura.
Gadis berambut merah jambu itu tersentak. "Kau tidak akan berani."
Sasuke mengangkat alis. "Or would I?"
Sakura menyipitkan mata pada Sasuke. "Jika kau menekan tombol itu Uchiha, pertimbangkan dirimu sebagai pria mati."
Laki-laki berambut raven itu berpikir sejenak. "Aku rasa itu kesempatan yang harus diambil."
Dan dia menekannya. Air tersemprot dan mengenai wajah Sakura. Sakura melindungi wajahnya dengan lengan sambil melangkah maju. Sayangnya, Sakura kebetulan melangkah dalam genangan air dan menyebabkan kakinya terpleset. Sakura berteriak sambil melambaikan tangannya untuk keseimbangan. Sasuke secara naluriah mengulurkan tangan dan entah bagaimana melalui sepersekian detik, Sakura berhasil meraih sebuah objek untuk menghentikannya jatuh. Sayangnya, dia mampu menarik objek itu terjatuh dengannya.
Mereka berdua jatuh di lantai licin karena air terus menyemprot di dapur membuat semuanya benar-benar basah. Sakura duduk dengan air masih di matanya sambil meludahkan air yang ia sedak. Sasuke mengerang lalu duduk ketika semprotan air jet dingin mengenai wajahnya. Gadis cherry blossom terbatuk-batuk sambil meraba-raba semprotan yang tak terkendali.
"Sasuke.." kata Sakura sambil menggertakan gigi. Sasuke mendongak saat ia menyadari hujan di dapur berhenti. Seorang gadis merah muda yang sangat basah dan marah menjulang di atasnya dengan kilatan jahat terpantul di mata emerald-nya.
Sasuke mempersiapkan diri untuk itu. Marah, keras, dan mungkin telinga sakit adalah hal yang Sasuke duga datang untuknya. Tapi ketika keheningan menakutkan datang diikuti tawa, Sasuke tidak bisa membantu tapi membiarkan rahangnya jatuh terbuka lebar dan matanya melongo melihat gadis di depannya.
Sakura tertawa begitu keras hingga ia memegangi perutnya yang sakit. Ia ambruk berlutut di lantai dan bersandar di pintu. Beberapa cekikikan keluar saat Sakura mencoba menenangkan diri.
Sasuke mendekati gadis yang tertawa itu. "Hei," kata Sasuke setelah beberapa saat. Sakura tidak bisa merespon namun melambaikan tangan tanda ia mendengar Sasuke. Sasuke tidak bisa membantu tapi tertawa kecil. Itu hanya terjadi sepersekian detik namun Sakura menangkapnya. Sesuatu yang tidak menyerupai cemberut atau wajah suram, tetapi senyum. Itu semacam senyum miring tapi tetap saja itu sebuah senyum.
Tawa Sakura reda saat mata emerald-nya menatap mata Sasuke sendiri. Untuk beberapa saat, Sakura tidak merasa membenci laki-laki itu lebih dari yang seharusnya. Duduk di sana di dapur dengan kedua dari mereka basah kuyup dan Sakura tertawa seperti orang bodoh dan Sasuke memberikan sedikit senyum terasa hampir seperti damai dan tenang. Mungkin mereka berdua akan mampu mengatasi perbedaan masing-masing setelah semua...
"Aku keluar dari sini."
Atau tidak.
Sakura menyaksikan Sasuke bangkit berdiri dan menyibakkan air di rambut hitamnya itu. Dia meraih jaket hitam miliknya dan menyampirkannya di bahu. Sasuke melangkah menuju pintu sebelum menolehkan kepalanya. "Aku pikir kau bisa mengatasi semua itu," katanya dengan suara bosan sambil memberi isyarat pada tumpukan piring kotor.
Sakura tidak mengatakan apa-apa tapi mengangguk. Sasuke berbalik dan berjalan keluar tanpa menengok kembali. Sakura menatap punggung Sasuke dalam diam saat pintu tertutup sehingga ia tidak bisa melihatnya lagi.
Sakura melirik bak cuci piring di mana piring menumpuk. Tumpukan itu hampir selesai dibersihkan meskipun sebelumnya terlihat seperti tumpukan yang tidak akan pernah berakhir. Sakura berjalan menuju tumpukan piring lalu mengambil sebuah piring kotor dan mulai menggosoknya sambil melamun. Perasaan tak tenang menarik hatinya. Ia tidak mengerti kenapa tapi ia merasa seperti kesepian tanpa Sasuke berdiri di sampingnya dan mendengar gerutuannya selama lima menit pada setiap piring sambil mengatakan beberapa ucapan kasar seakan-akan setiap piring adalah musuhnya.
Kenapa aku tidak menghentikannya?
Pikiran itu muncul dalam benaknya dan menyentak Sakura keluar dari keadaan linglung. "Ini bodoh," gumam Sakura. "Kenapa aku harus peduli jika dia tetap di sini atau tidak? Dia tidak banyak membantu lagipula. Dan semua yang dia lakukan hanya mengeluh."
Sakura dengan marah menggosok piringnya hingga tangannya memerah karena menggenggam scrubber terlalu keras. "Idiot itu! Dan berpikir bahwa aku berpikir kita bisa berbaikan tapi tidak, dan dia harus menjadi kepribadian emotionless I-have-nothing-to-be-happy-about-in-this-life-so-I-will-just-sulk-about-it-and-make-everyone-around-me-miserable dan pergi dan meninggalkanku untuk menyelesaikan semua pekerjaan ini." Sakura menggosok dengan liar untuk meluapkan kemarahan luar biasanya pada Sasuke. "Benar-benar tampak mustahil untuk tidak marah padanya," gumam Sakura.
—Song of a Cherry Blossom—
Sasuke mangaduk-aduk kantong jaketnya untuk mencari jamnya. Dia akhirnya menemukannya dan menatap pada jamnya. Hampir jam enam. Sasuke terus berjalan ke bawah lorong kosong sekolah sampai ke pintu utama yang mengarah ke depan sekolah. Dia melirik ke luar dan melihat langit menjadi gelap, awan kelabu berkumpul membentuk kelompok.
Ini akan hujan, pikir Sasuke sambil mengeluarkan ponselnya. Dia menekan beberapa nomor sambil bersandar di dinding.
"Halo, Yashiro? Jemput aku di depan sekolah," perintah Sasuke. Uchiha itu menutup ponselnya dan berdiri menunggu sopirnya untuk menjemput. Yashiro segera tiba dengan sedan hitam lalu ia keluar menembus hujan lebat. Sasuke menyaksikan sebuah payung hitam menuju ke arahnya. Sasuke berjalan ke luar lalu mengambil payung hitam lain yang Yashiro pegang di tangannya yang lain. Tanpa sepatah kata selain anggukan untuk pergi yang tak kentara, Sasuke berjalan menuju mobil dan masuk. Yashiro mengikuti remaja stoic itu dan masuk ke kursi pemgemudi lalu menyalakan mesin.
Sasuke menatap ke luar jendela saat mobil begerak maju dan pemandangan sekolah menghilang di belakangnya.
Dia mungkin masih mencuci piring, pikir Sasuke sambil menyeringai. Pikiran dari gadis pink yang menjadi frustrasi lalu memecahkan satu atau dua piring muncul dalam benaknya dan Sasuke tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Oh, dia mungkin tidak membawa payung. Bukan berarti Sasuke peduli jika Sakura basah atau apa pun. Itu hanya di bawah keprihatinan bahwa gadis itu tidak menyadari hari ini bukan 'hari-nya'. Tapi dia bodoh kadang-kadang. Dia mungkin akan membuat dirinya sakit lagi seperti waktu lalu.
Sasuke mengernyit pada bayangannya di jendela mobil. Ia tidak menyukai pikiran-pikiran ini muncul di benaknya. Sasuke mulai merasa bersalah—jika itu sebutannya.
"Itu sepertinya bukan kesalahanku," gumam Sasuke.
"Apa Anda mengatakan sesuatu, Tuan Muda?" tanya Yashiro sambil menatap Sasuke melalui kaca spion depan.
Sasuke menatap Yashiro dengan tatapan yang biasa ia gunakan. Bagaimana pun, Yashiro sudah bersama keluarga Uchiha sebelum salah satu dari saudara Uchiha lahir. Menyaksikan kedua saudara Uchiha tumbuh, dia tahu seperti apa mereka.
"Tidak," balas Sasuke tajam. Yashiro menangkap sebuah ketidakpastian di mata Sasuke. "Uh," mulai Sasuke seakan-akan dalam keraguan. "Kembali ke sekolah. Aku baru ingat aku meninggalkan sesuatu di sana."
Yashiro mengangguk lalu memutar balik. Ketika mobil sampai di depan sekolah, Yashiro keluar mobil untuk membukakan pintu untuk Sasuke.
"Jangan mengganggu," kata Sasuke sambil meraih payungnya dan keluar dari mobil. Dengan cepat Sasuke berlari ke pintu yang menuju ke dalam sekolah lalu menendangnya hanya untuk menyadari bahwa itu dapat dibuka dengan cara lain.
"Pintu bodoh," gerutu Sasuke pelan. "Ingatkan aku untuk melakukan sesuatu tentang ini nanti."
Sasuke menutup payungnya lalu berlari lorong sekolah yang gelap dan sepi. Suara langkah kakinya bergema dan mengisi lorong sepi.
Sasuke mendorong pintu menuju dapur dan menemukan dalamnya kosong. Lampu dimatikan sehingga gelap dan tidak ada tanda-tanda gadis merah jambu.
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura menggigil sambil berjalan di tengah hujan yang dingin. Hujan turun deras dan rambut merah mudanya menempel di wajah. Sakura berjalan menuju halte bus yang berjalan satu blok dari sekolahnya. Gadis lelah itu berjongkok sambil menunggu bus tiba. Sakura membenamkan kepalanya di lengan sehingga wajahnya terlindung dari hujan.
Hujan begitu deras. Bagaimana jika...
Sakura mengguncang tubuhnya perlahan sambil menenangkan diri. Langit semakin gelap dan awan kelabu mulai membuat suara gemuruh.
"Tidak.." bisik Sakura sambil membenamkan kepalanya bahkan lebih dalam ke pangkuannya.
Kilat menyambar di langit diikuti suara gemuruh petir yang keras.
Tubuh Sakura menegang dan ia menutup matanya. "Buatlah itu berhenti. Ku mohon, buatlah itu berhenti," bisik Sakura.
Langkah kaki bergema di tengah hujan dan mendekati gadis yang kedinginan dan ketakutan itu. Sakura tidak berusaha bergerak atau bahkan melihat ke atas untuk melihat siapa yang datang. Ia hanya menutupi telinganya untuk meredam suara petir yang menggelegar di atas kepala dan menutup matanya untuk menghalangi cahaya kilat yang menerangi langit gelap.
Hujan berhenti mengalir pada Sakura saat sebuah payung hitam muncul di atas kepalanya. Sakura bisa mendengar suara berat hujan mengenai payung. Sakura membuka pejaman erat matanya perlahan untuk melihat siapa itu. Sebuah figur gelap menjulang di depannya namun hujan membuatnya sulit melihat.
"Sakura."
Pandangan Sakura memudar dan semuanya berubah menjadi hitam. Ia bisa merasakan lantai keras di bawahnya dan hujan membasahinya. mengalir ke bawah pada dirinya. Hal berikutnya yang ia rasakan sebelum kesadarannya hilang adalah seseorang mengangkatnya dan membawa ia pergi.
—Song of a Cherry Blossom—
A/N:
Uhm, halo, semua *smile nervously*
Okay, aku tau kalian semua gregetan pengen gebukin aku karna update yang lama banget-bangetan._. Dan aku minta maaf banget-bangetan karna hal itu. Kemarin-kemarin tugasku bener-bener banyakkk banget dan gak bisa ditunda karena deadline yang cepat. Ditambah persiapan UN yang bikin aku harus menjalani PM dan bikin aku pulang sore. Padahal aku gak bisa kalo gak tidur siang karena aku gak pernah cukup tidur;-; Terus kemarin-kemarin aku juga TO buat nentuin kelas PM so yeah I feel so stressed:"
Terus nanti aku usahain updatenya kalo ada waktu aja._.v *digebukin*
Dan yah, sekarang kayaknya aku bakal pake "aku" buat nyebut diri sendiri. Entah kenapa lebih nyaman gitu hehe:D I changed my username too^^ Terus beberapa kalimat/kata tetep aku pakein bahasa Inggris supaya fic ini gak terlalu kaku gitu hehe:)
Last but not least, arigatou banget banget buat semua yang udah baca, review, follow, favorite dan setia menunggu fanfic ini:") You guys are my spirit!^^
P.S: Maaf aku gak bisa balas review kalian satu-satu, mungkin bagi yang log in bakal aku usahain balas xx :)
