Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 12 — Another Beginning
Siapa yang menggendongku saat ini? Sangat protektif seakan-akan ia bisa menjatuhkanku kapan saja?
Sakura berbicara dalam tidurnya. Seseorang meletakkan tangannya pada kening Sakura. Sakura bisa merasakan kehangatan menyebar dari tangan orang itu. Atau tunggu, apa itu dari kepalanya sendiri? Tiba-tiba, kepalanya terasa dingin lagi saat sebuah handuk basah diletakkan di atas keningnya yang panas.
Naruto mendesah. Ia berjalan mundur dan duduk di kursi meja Sakura sambil memperhatikan gadis yang sedang tidur di hadapannya. Naruto menggenggam kedua tangannya sambil menatap ke luar jendela. Di luar masih hujan deras dan suara hujan yang jatuh di atas atap apartemen terdengar keras dan jelas. Awan masih berwarna kelabu dan gelap dan gemuruh petir sudah lama terlewat.
Naruto menggeser kursinya lebih dekat pada kasur sehingga ia bisa mengganti handuk yang ada di kening Sakura.
"Sakura-chan," bisiknya lembut. Sakura mulai berbicara dalam tidurnya sehingga Naruto cepat-cepat meletakkan handuk basah yang baru di kening Sakura.
"Aku takut," gumam Sakura dalam tidurnya.
Naruto mendongak terkejut. "Dari apa?" tanyanya lembut, tidak ingin membuat Sakura bangun.
"Please buat itu berhenti... Ibu..." bisik Sakura lemah sambil menggerakkan tubuhnya.
Dengan lembut Naruto menggenggam tangan Sakura yang terbaring di samping tubuhnya. "It's okay, Sakura-chan. Aku berada tepat di sampingmu."
"Petir... Sangat keras..."
Petir? pikir Naruto. Ia menatap ke luar namun suasananya masih sama seperti beberapa menit yang lalu. "Apa itu yang membuatmu takut sejak tadi?" gumam Naruto. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Sakura. "Jangan khawatir. Uzumaki Naruto akan selalu melindungimu. Selalu. It's a promise, Sakura-chan."
"Terima kasih," bisik Sakura lemah dalam tidurnya.
Naruto tersenyum saat melihat tangan Sakura menjadi lebih rileks dan tidak lagi tegang. "Tidur dengan tenang Sakura-chan."
Dengan hati-hati Naruto meletakkan lengan Sakura ke dalam selimut dan menambahkan selimut lebih yang ia temukan di bagian belakang lemari kecil Sakura. Ia mengganti handuk lembab yang ada di kening Sakura sekali lagi sebelum meletakkannya kembali di kening Sakura dengan lembut. Kemudian diam-diam, ia berjalan keluar dari kamar Sakura dan menutup pintu di belakangnya.
—Song of a Cherry Blossom—
"Selamat pagi Konoha! Aku harap kalian tidur nyenyak tadi malam meskipun hujan deras. Suhu hari ini-"
Sakura mengeluarkan tangannya dari selimutnya dan menekan tombol snooze pada alarm jam digitalnya. Ia mengerang sambil menarik selimut ke atas kepalanya dan mencoba kembali ke mimpinya yang diganggu oleh jam alarm.
"Ya, terima kasih semuanya atas penghargaannya," gumam Sakura dalam tidurnya sambil mempraktekkan sedang menerima penghargaan untuk Best New Artist. "Mmh-dan ya, aku akan menambahkan mentega pada roti bakar itu..."
Mimpi Sakura menyimpang dari roti bakar mentega lalu kembali lagi ke acara penghargaan.
Sakura tersenyum saat nominasi disebutkan. Senyum Sakura bahkan menjadi lebih lebar saat namanya disebut di antara tiga nominasi lainnya. Ia memperhatikan saat orang di atas panggung membuka amplop untuk menyebutkan pemenang penghargaan Best New Artist of the Year. Sakura menyilangkan jarinya dan menutup erat matanya sambil menunggu namanya disebut.
"And the winner is..." Laki-laki itu berteriak. "Sa—"
BEEP BEEP BEEP BEEP
Alarm berbunyi nyaring mengganggu apa yang seharusnya menjadi bagian terbaik dari mimpi Sakura. Sakura beranjak bangun dari kasurnya dengan selimut yang menutupi kepalanya. Sakura menyingkirkan selimutnya sambil mencari celah di selimut yang ada di kepalanya. Entah bagaimana ia menemukan celah udara dan menyembulkan kepalanya. Suara alarm yang menyebalkan terus berbunyi sampai tangan Sakura menekan keras tombol off. Sakura menghela napas sambil merosot pada kepala tempat tidurnya.
"Darn, dan mereka baru saja akan menyebut namaku," gerutu Sakura sambil menggaruk kepalanya.
Sakura menguap sambil menggosok matanya. Tangannya bersentuhan dengan sesuatu yang lembut—Sakura mengambilnya dan mengayunkan benda itu di depannya. Sakura menatap pada handuk lembab di depannya dan bertanya-tanya bagaimana bisa benda itu ada di kepalanya. Sakura memandang sekeliling kamarnya.
Sebenarnya, aku bertanya-tanya bagaimana bisa aku ada di sini, pikir Sakura.
Sakura menggaruk kepalanya. Ia yakin ia tidak memiliki ingatan berjalan pulang ke apartemennya. Atau ia melakukannya?
Oke, jadi aku mendapat detensi dan harus melakukan pekerjaan berat. Dan lalu hujan...
Sakura menatap keluar jendela kamarnya. Matahari bersinar terang seperti seharusnya dan langit berwarna biru cerah. Seekor burung merpati bertengger di luar jendela dan mengintip pada Sakura.
"Kau tahu apa yang terjadi kemarin, Tuan Merpati?"
Burung merpati itu mencicit dan terbang menjauh tapi tidak tanpa meninggalkan kejutan menyenangkan pada jendelanya. Sakura membuat ekspresi jijik di wajahnya pada cairan putih yang bercampur dengan warna putih jendelanya. "Gross," gerutu Sakura.
Ia mendesah dan merosot pada kasurnya sambil menatap langit-langit kamar. "Setidaknya aku tidak berakhir di rumah es balok itu." Sakura berbalik dan menatap jam.
"Astaga!" Sakura berteriak sambil melompat dari kasurnya dan meraih jam digital dari meja. Angka cahaya merah menghilang saat colokannya terlepas dari stop kontak dan kabelnya terayun di udara. "Oh crap," Sakura mengerang sambil menjatuhkan jamnya. Gadis cherry blossom itu melompat dari kasur dan berlari ke kamar mandi untuk bersiap-siap sekolah.
"Tiga menit untuk berpakaian, empat menit untuk menuju ke halte bus jika aku berlari, dan lima menit perjalanan dengan bus jika busnya tidak berhenti di setiap tanda stop," Sakura bergumam sambil menyebutkan rencana 'perang'nya. Dengan cepat ia mengikat rambutnya dengan ikat rambut scrunchie sebelum melirik cermin sekilas.
Sakura berlari keluar dari kamarnya dan menutup pintu. Memegang tas sekolah pada satu tangannya, ia menggunakan tangannya yang lain untuk mengambil roti bakarnya yang sedikit gosong dari panggangan. Ia menahan rotinya dengan mulutnya sambil mengambil kunci rumahnya dari pintu.
Memutar kuncinya pada jari telunjuk, Sakura menyeka sisa roti di mulutnya sambil berlari menyusuri lorong. Melewati setiap dua langkah saat menuruni tangga, Sakura dengan cepat sampai di lantai bawah. Sakura membuka pintu menuju ke luar dan mengedipkan matanya pada sinar matahari pagi.
"Pagi, Sakura dear."
Suara ceria dari pemilik apartemen Sakura terdengar keras dan jelas saat Sakura melambaikan tangannya. "Selamat pagi, Takimoto-san," teriak Sakura.
Nyonya Takimoto tersenyum lalu melanjutkan menyiram tanamannya. "Aku senang kau merasa baik hari ini. Setelah apa yang terjadi kemarin, aku pikir kau akan tetap di rumah hari ini."
"Yah, aku ta—" suara Sakura terputus. "Kemarin?"
Nyonya Takimoto mengangguk. "Ya, laki-laki baik itu membawamu pulang dan bahkan tetap tinggal sebentar denganmu. Tapi tentu saja kau tidur seperti log jadi aku harus membantu mengganti bajumu yang basah. Really Sakura, apa yang kau lakukan hingga sangat basah kuyup? Apa kau berjalan melewati hujan? Aku sangat khawatir saat melihat wajah pucatmu. Parahnya lagi, kau demam tinggi dan kami tidak memiliki obat sehingga anak laki-laki malang itu harus berlari ke toko obat dalam hujan deras untuk mendapatkan obat untukmu dan..."
Sakura tidak menyimak sisa dari pidato itu. Terima kasih Tuhan ia tidak mengganti pakaianku. Tunggu sebentar. Laki-laki? Laki-laki apa? Itu tidak mungkin...
"Takimoto-san! Seperti apa penampilan laki-laki itu?" tanya Sakura mendesak.
"Seperti apa penampilannya? Yah, dia tinggi dan..." kata Nyonya Takimoto dengan mata tertutup sambil mencoba mengingat.
Sakura mendesah. Seperti yang ia tahu, ia akan terlambat ke sekolah.
Sakura menatap jam tangannya. "Takimoto-san, maaf tapi aku akan terlambat. Beri tahu aku nanti ketika aku pulang, oke?" Sakura berteriak sambil berlari menuju pemberhentian busnya.
Empat menit hilang. I'm not going to make it.
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura menghembuskan napas saat ia berdiri di halaman sekolah. "I-m-made-it," ia terengah-engah. Sakura bersandar pada dinding sambil memegang kakinya yang berdenyut nyeri karena berlari. Beberapa murid berjalan melewati Sakura dan menatapnya dengan penuh keingintahuan. Yang lainnya berjalan dan memutar bola mata mereka. Sakura menghadapkan wajahnya pada mereka. Jelas sekali, mereka tidak akan tahu rasa sakit karena belari mengejar bus agar sampai ke sekolah tepat waktu.
Oh tidak, setelah semuanya, aku memiliki limo bagus bersinarku, pikir Sakura sarkastis.
"Orang-orang kaya. Aku benci mereka semua." Sakura berjalan dengan susah payah menaiki tangga dan mengetahui bahwa ia sudah terlambat. Itu tidak penting jika ia lebih terlambat daripada sebelumnya. Itu bukan berarti ia bisa ditandai dengan kelambanan. Sakura menghela napas sambil membuka pintu kelasnya. Tiga puluh pasang mata menatap padanya. Koreksi, dua puluh sembilan pasang mata minus matanya sendiri. Tapi mereka tidak menatap Sakura karena ia terlambat dan mengganggu waktu baik belajar mereka. Setelah menatapnya dan melihat bahwa gurunya masih belum datang, mereka kembali melakukan hal—apapun itu—yang mereka lakukan sebelumnya.
Sakura berbalik dengan setengah shock dan setengah ketidak-percayaan. "Aku pasti orang terbodoh di dunia. Guruku adalah Kakashi-sensei. Bagaimana bisa aku berharap aku lebih terlambat dari dia?" Sakura bisa hampir memukul dirinya sendiri karena sangat bodoh.
"Talking to herself, are we? Tapi sekali lagi, ini pasti menjadi satu-satunya caramu untuk menghibur diri sendiri."
Sakura meringis. Ia mengenali suara itu. Dan ini dia orang kaya yang paling aku benci.
Ia berbalik dan tersenyum manis pada Sasuke. "Well, what a pleasant surprise," kata Sakura sambil tersenyum. Tidak.
"Dimana kau kemarin?" tanya Sasuke.
Sakura tampak terkejut oleh pertanyaan itu. "Kenapa?" tanya Sakura dengan curiga.
Sasuke mengalihkan pandangannya. "Tidak ada alasan. Kau tidak ada di sana ketika aku kembali."
Gadis berambut merah jambu itu tersenyum. "Oh, jadi kau memiliki hati?"
"Jawab saja pertanyaannya."
Sakura menggigit bibirnya. Hmm, tampaknya bukan dia yang membawaku pulang. Jika bukan dia lalu siapa? pikir Sakura. Sakura menatap waspada pada Sasuke. "Aku langsung pulang ke rumah."
"Dalam keadaan hujan?"
Sakura menatap Sasuke, mata Sakura tidak pernah berkedip. "Ya, aku ingin berterima kasih padamu untuk itu. Baiknya dirimu karena meninggalkanku dan pergi dengan limo bagusmu sementara aku terjebak bersih-bersih dan harus pulang ke rumah tanpa payung," kata Sakura, suaranya dipenuhi sarkasme.
"Aku kembali lagi bukan?" gerutu Sasuke.
"Tapi sayangnya, there is something as being too late."
Keduanya menatap satu sama lain, mata mereka tidak pernah berpaling. Sakura menyipitkan matanya dan akhirnya Sasuke memalingkan tatapannya. Hah, like you could ever stare me down, Sakura menyeringai pada dirinya sendiri.
"Oke, anak muda. Mari hentikan hal berbau lovey-dovey ini di depan kelasku," sebuah suara ceria terdengar.
Sasuke dan Sakura berbalik lalu melihat Kakashi-sensei berdiri di belakang mereka. Kakashi-sensei tersenyum lalu mulai membuka pintu kelas untuk masuk.
"APA MAKSUDMU LOVEY-DOV—" kata-kata Sakura terputus saat Sasuke menutup mulutnya dengan tangan.
Sakura menyingkirkan tangan Sasuke dan melotot lalu mengikuti langkah kaki gurunya.
"Keras kepala," gerutu Sasuke sambil memasukkan tangannya ke kantong celana dan melangkah ke dalam kelas.
Sakura meletakkan tasnya pada kaki meja lalu duduk di kursinya. Sakura menggeledah tasnya untuk mencari buku catatan spiral merah miliknya. Tubuh Sakura menegang saat melihat sepasang kaki seseorang berjalan melewati deretan tempat duduk menuju ke arahnya.
Uchiha... pikir Sakura dengan muak.
Itu hampir seperti kakinya bisa mendengar pikiran Sakura karena tiba-tiba, satu kaki terulur dan menendang tas milik Sakura. Mata Sakura melebar lalu ia duduk kembali hanya untuk membuat matanya bertemu dengan sepasang mata obsidian gelap. Sasuke menyeringai sambil melewati Sakura yang menganga dan duduk di tempatnya—di belakang Sakura.
Sakura perlahan-lahan duduk tegak saat ketegangan naik di antara mereka berdua. Sakura menengokkan kepalanya ke Sasuke dan mereka berdua menatap satu sama lain. Tatapan Sakura dipenuhi ancaman saat Sasuke mengulum bibirnya dengan sedikit senyum pura-pura malu.
"Kau lebih baik berhati-hati, Uchiha," ancam Sakura dengan suara pelan.
"Atau apa? Kau akan membutakanku dengan rambut pink-mu?" ejek Sasuke.
"Kau akan menyesal jika itu benar-benar terjadi," Sakura memperingatkan.
Kakashi berdehem untuk menunjukkan bahwa kelas sudah dimulai. Sasuke menyeringai lalu bersandar pada kursinya dan memasang sepasang earphone di telinganya. Sakura menahan dorongan untuk menggigit Sasuke—atau melakukan sesuatu yang bisa membuatnya dalam masalah— lalu berbalik. Seketika ia menyadari ada sesuatu yang aneh pada kelasnya hari ini.
Dimana Naruto?
—Song of a Cherry Blossom—
Sakura menggantung tali selempang tasnya di atas bahu sambil menuruni tangga. Ia menyilangkan kedua lengannya agar tetap hangat saat angin menerpanya. Sakura melirik arlojinya. "Lebih baik aku datang lebih awal mengingat kemarin aku tidak hadir kemarin," katanya sambil berjalan terburu-buru menuju Icha Icha. Klub itu seperti memberi isyarat padanya sebagai tempat berlindung dari udara dingin dan Sakura buru-buru masuk. Ia mendorong pintu besar di depannya dan seketika kegelapan mengelilinginya.
"Seseorang lebih baik tidak mabuk lagi," gerutu Sakura.
"Sakura!" Sebuah suara terdengar terkejut dan bergema dalam kekosongan di klub malam.
"Tsunade-sama?" Suara Sakura bergema.
Gadis berambut pink itu tersandung kursi dan meja saat mencari saklar lampu. Ia tidak perlu, bagaimanapun, karena seberkas cahaya menyala tepat saat itu. Mata Sakura menyesuaikan cahayanya dan ia berkedip beberapa kali. Tsunade berdiri di depannya dengan wajah sedih.
"Ada apa?" tanya Sakura.
Tsunade menatap Sakura dan lalu menepuk sebuah bangku untuk mengisyaratkan Sakura untuk duduk. "Aku pikir kau perlu duduk untuk ini."
"Uh oh, aku pernah mendengar kalimat itu sebelumnya," canda Sakura.
Tsunade terpaksa memasang senyum lemah. "JIRAIYA!" Ia berteriak. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki berambut putih datang berjalan dengan wajah menunduk ke lantai.
Sakura mengerling pada Jiraiya. "Apa yang terjadi padanya?" Sakura berbisik pada Tsunade.
Tsunade tidak berkata apa-apa tapi menghela napas dan menggelengkan kepalanya. "Kau beritahu ia, Jiraiya."
"Beritahu aku apa?" tanya Sakura curiga sambil menatap Tsunade dan Jiraya bergantian.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat dan itu menimbulkan perasaan gelisah pada perut Sakura. "Jiraiya-sama, katakan padaku!"
"Yah, kau lihat, ada...uh... bagaimana aku harus mengatakan ini..?"
Sakura mengepalkan tangannya dan mata jade-nya menyengit bosan pada kepala Jiraiya yang tertunduk. Jiraiya pasti merasakannya karena ia menegang.
"Kau diharuskan untuk tampil di panggung," kata Tsunade membosankan.
"Aku pikir itu karena itu pekerjaanku."
"Dengan berduet." Tsunade menyelesaikan kalimatnya.
Rahang Sakura jatuh. "Apa katamu?" tanya Sakura tidak percaya.
"Aku tidak ingin memberitahumu tentang ini, tapi klub tidak berjalan dengan baik seperti yang kami harap."
Jiraiya mengangguk dengan ekspresi suram di wajahnya. "Kami sangat sibuk menghabiskan uang untuk furnitur baru dan iklan hingga kami tidak menyadari kami akan bangkrut."
"Bangkrut?" seru Sakura. "Bagaimana bisa? Klub sangat penuh minggu kemarin."
Jiraiya menggerutu, "Isi ulang gratis bodoh..."
"Ini sangat serius kalau begitu?" tanya Sakura.
Tsunade dan Jiraiya mengangguk.
"Jiraiya baru-baru ini berhubungan dengan seorang teman lama dan ia seorang manajer dari seorang laki-laki yang selalu menjadi model sampul majalah-majalah remaja itu," kata Tsunade. "Kami pikir memiliki penyanyi idola terkenal akan mendatangkan banyak pelanggan dan kami bekerja sama. Tentu saja, kami tidak bisa memperhitungkan itu akan terus mendatangkan pelanggan setiap hari tapi jika ia berduet denganmu, Sakura, maka itu akan menaikkan popularitasmu dan kami mungkin akan mendapat lebih banyak pelanggan."
"Ya Tuhan, aku tidak percaya ini terjadi," kata Sakura tidak percaya pada dirinya sendiri lalu berbalik dan menatap dinding. Ia mencubit dirinya sendiri dan menjerit kecil ketika merasakan nyeri pedas pada lengannya. "Crap, I'm not dreaming."
Sakura berputar menghadap Jiraiya dan Tsunade. "Apa kau bercanda?" teriak Sakura. "Tampil di atas panggung dengan orang bodoh?"
"Hei dia mungkin bukan orang bodoh—" potong Jiraiya.
Sakura memotongnya, "Tidak, ia mungkin hanya orang tampan yang bisa bernyanyi beberapa kalimat dan menghasilkan jutaan uang dari itu. Aku tidak perlu tampil dengan seseorang yang tidak serius dalam musik dan hanya melakukan itu untuk menjadi kaya. Jika aku ingin bernyanyi dengan seorang plastik, aku akan membawa boneka Barbie bersamaku."
"Sakura," Tsunade memohon.
"Tidak, aku menolak. Temukan orang lain karena aku tidak akan menyerahkan diriku pada orang semacam itu. Aku tidak butuh laki-laki kaya dan sombong manapun untuk memberi tahuku apa yang harus ku lakukan." Setelah berkata begitu, Sakura pergi melewati mereka menuju area backstage ke ruang belakang. Di sana ia menutup pintu dan bersandar pada pintu kayu mahogani.
Sakura menghela napas sambil menatap dinding yang ada di depannya dengan jemu. "Meskipun aku berkata begitu, aku tidak akan sanggup melewati itu, kan?" tanya Sakura pelan. "Who am I kidding? Aku tidak akan sanggup membiarkan mereka muram. Aku tidak bisa membiarkan mereka kehilangan bisnis mereka setelah semua yang mereka lakukan untukku. Tapi aku tidak bisa melaluinya tanpa pendapat."
Sakura menghela napas lagi sambil berjalan mengelilingi ruangan. Itu merupakan sebuah ruangan kecil dimana Sakura biasa berlatih sendiri karena tidak ada yang menggunakan ruang belakang itu. Sakura menatap sekitarnya dan melihat keyboard Dosu terletak di pojok ruangan. Di atas keyboard tergeletak wig pirang oh-sangat-familiar yang biasa ia gunakan untuk menyembunyikan rambut pink-nya. Sakura mengambilnya dan tidak berhati-hati sehingga beberapa kertas di bawah wig jatuh ke lantai. Ia berjongkok dan memungut kertas yang bertebaran sambil menyortirnya satu persatu.
"Lembaran musik.." gumam Sakura. Sakura mengatur kertas-kertas itu dan meletakkannya dalam urutan yang benar sambil meneliti lirik-liriknya dengan cepat. Ia menahan napas sambil membaca ulang kertasnya sekali lagi, kali ini lebih perlahan.
Sakura duduk sambil meletakkan kertasnya di stand piano. Ia mengambil wig pirang dan menyentuh ikal pirang dari wig-nya. Sakura menatap cermin saat bayangannya berubah dari Sakura menjadi Saki. Ia mengeluarkan contact lens biru dan mengamati cahaya redup dari emerald di matanya berubah menjadi warna biru laut.
"Sangat sulit untuk percaya bahwa itu aku," gumam Sakura pada pantulan bayangannya. Sakura mengalihkan pandangannya pada tuts piano. Ia menjalankan jarinya di atas permukaan halus dari warna putih mutiara cemerlang dari tuts piano. Sakura memainkan nada pertama dari lembaran musik. Dimulai dengan senandung, Sakura perlahan memasukkan lagunya sambil mengalirkan lirik-lirik dari mulutnya.
We were strangers
Starting out on a journey
Never dreaming what we'd have to go through
Now here we are
And I'm suddenly standing
At the beginning with you
Sakura menatap pada lembaran musik. "Laki-laki," matanya membaca sambil meneliti beberapa kalimat berikutnya dari lagu.
No one told me I was going to find you
Unexpected, what you did to my heart
Sakura membeku kaku saat tangannya melanjutkan bermain piano namun kata-kata yang dinyanyikan barusan bukan berasal dari mulutnya. Telinganya mendengarkan dengan tajam pada suara laki-laki yang dalam bernyanyi di belakangnya. Mata Sakura meneliti liriknya saat suara itu mengikuti setiap kata.
When I lost hope
You were there to remind me
This is the start
Sakura berhenti bermain saat jeda nada di pertengahan. Sakura perlahan berbalik dan matanya bertemu dengan dia. Sakura hampir terjatuh dari kursi saat melihatnya. Mata sehitam batu bara dan kulit seputih salju. Sakura mencoba mengingat kembali dengan siapa orang ini mengingatkannya. "Snow white.." gerutu Sakura.
Laki-laki muda itu menyeringai. "Ya boneka Barbie?" tanyanya menunjuk pada rambut pirang dan mata biru.
Mata Sakura melotot tajam padanya. "Menilai dari wajah pretty boy-mu, aku menebak kau Sai, sensasi pop ol' terkenal yang membuatku terjebak menyanyi denganmu," kata Sakura, suaranya dipenuhi sarkasme.
"Baik untuk mengetahui aku akan bekerja dengan salah satu fans," katanya.
Sakura berdiri dan menyilangkan lengannya. "Kenapa kau di sini omong-omong? Tidakkah kau lihat tanda 'Dilarang Masuk atau Lainnya' di pintu?"
Sai berpikir sejenak. "Maksudmu tanda di bawah 'Penyusup akan diperlakukan untuk hukuman kejam dan tidak biasa'? Yeah, tidak berpikir banyak tentang itu ketika aku masuk."
"Alasan lain kenapa kesan pertamamu padaku semakin buruk," Sakura memperhitungkan. "Dengar, pretty boy, aku tidak berencana untuk melakukan duet apapun kapanpun dimanapun denganmu di panggung jadi kau bisa lupakan tentang berbuat baik padaku," ungkap Sakura dalam satu napas.
"Jadi kau pikir aku pretty?" renungnya.
Mata hijau Sakura meredup. "Benar-bener melewatkan poinnya," kata Sakura melalui gigi yang menggertak.
Sai bersandar pada kusen pintu dan melihat ke lorong gelap yang berada di luar ruangan. "Hei, kalau begitu itu panggilanmu. Aku tidak meminta untuk tampil denganmu. Aku lebih baik solo lagipula. Seseorang dengan kepribadian buruk sepertimu hanya bisa menodai citra emasku." Sakura memasang wajah ingin muntah. Sai melanjutkan, "Tapi aku dengar klub ini tidak berjalan baik dan mungkin ini hanya satu-satunya kesempatanmu untuk menyelamatkannya."
"Dengar, aku akan menyelamatkan klub. Aku hanya tidak melihat kenapa kau dibutuhkan," jawab Sakura ketus.
"Karena kualitas star-studded ku bisa membantumu mendapat perhatian yang mana akan meningkatkan popularitasmu sebagai penentu di klub ini sebagai penyanyi utama yang berarti lebih banyak uang dan itu berarti bahagia selamanya bagi teman pekerjamu dan klub ini."
Sakura mengejek, "Yah..."
"Kehilangan kata-kata? Oke, sampai bertemu lagi di panggung."
Sai pergi dan ruangan kembali hening. "Oh kita akan lihat siapa yang akan bertemu siapa di panggung," Sakura memberitahu di balik pintu.
—Song of a Cherry Blossom—
"SAKUR—maksudku Saki! Sudah hampir waktunya!"
"Ya ampun, begitu banyak kru baru di luar."
"Lihat rambutku! Apa kau pikir ini bagus untuk kamera?"
Sakura menghela napas saat semua orang di sekitarnya berlari dengan gelisah, mencoba menyiapkan semuanya sebelum mereka membuka klub. Ia menatap sekelilingnya sambil mulai menuju belakang panggung. Idate berada di bar menyiapkan minum bersama dengan bartender lainnya. Para pelayan terpencar dimana-mana, lebih sibuk dengan rambut dan make up mereka daripada nampan yang mereka bawa. Tsunade mengetuk-ketukkan heels-nya sambil mengintip melalui tirai dan memperhatikan ke luar pada wartawan dan media massa. Jiraiya, yang hampir menyebut nama Sakura tadi, berdiri di atas panggung mengatur mikrofon sambil melangkah bolak-balik di panggung. Dan untuk bintang popnya sendiri, Sakura tidak peduli dimana dia sekarang. Sakura akan lebih menyukai dia menghilang jadi ia bisa menyanyi sendiri.
"Ya, itu akan menjadi yang terbaik.." gerutu Sakura.
—Song of a Cherry Blossom—
"SAI! SAI! SAI! SAI! SAI!"
Teriakan terdengar di sekitar klub saat lampu di panggung dikecilkan. Perempuan segala umur dari remaja sampai wanita berumur pertengahan berteriak sambil melambaikan poster dan memorabilia Sai.
Sakura memasang wajah ingin muntah saat melihat kepala kecil Sai di tongkat terangkat di sekitar dari balik tirai.
"Oh, berikan aku jeda," kata Sakura jijik.
"Apa?" tanya sebuah suara dari belakangnya. Sakura melompat kecil saat ia merasa jantungnya berdetak sedikit terlalu cepat. Ia berbalik hanya untuk melihat versi besar dari semua poster. "Tidak ada," kata Sakura manis dengan senyum palsu.
"Kau wanita tua jelek dengan senyum palsu milikmu," Sai menyeringai.
Sakura terus tersenyum sambil memperhatikan Sai berjalan menjauh. "Aku membencimu," bisiknya melalui gigi yang menggertak. "Sangat sangat."
"Apa kau mengatakan sesuatu yang memyemprot?"
Sakura melompat lagi lalu berbalik untuk melihat siapa itu kali ini. Anko menatapnya sambil menggigit dango dari tusukannya.
"You're up shortcakes and with that other kid."
"Kau bercanda?" tanya Sakura kosong.
Anko tersenyum. "3.. 2.. dan 1!" Ia menghilang ke kegelapan saat Sakura mendengar suara Jiraiya memenuhi speaker.
"Dan sekarang momen yang kalian semua tunggu. Kami sangat senang untuk memberi kalian penampilan spesial dari Best New Male Artist tahun ini. Ia akan tampil duet dengan wanita muda berbakat yang menyanyi di sini setiap akhir pekan. Beri tepuk tangan untuk Sai dan Saki!"
Teriakan memenuhi ruangan saat tepuk tangan bergemuruh. Siulan datang dari seberang ruangan saat energi meledak di sekeliling orang-orang. Lampu mulai meredup sampai nyaris gelap. Satu-satunya lampu memancar redup di atas panggung nyaris memudar. Hening melanda ketika suara piano terdengar.
Seketika, suara Sakura memenuhi panggung. Lembut dan berirama, suaranya terdengar jelas dan lampu mulai bersinar di sekeliling panggung sambil berganti warna. Suara Sai lalu mengikuti setelahnya dan mereka berpadu dalam chorus.
Panggung semakin terang saat keduanya muncul di panggung dari sisi yang berlawanan.
Sakura bersinar di bawah lampu dalam dress putih strap-nya saat ia berdiri di samping Sai yang mengenakan kaus putih berkerah longgar dan jeans denim hitam.
Life is a road
And I want to keep going
Love is a river
I wanna keep flowing
Life is a road
Now and forever
Wonderful journey
I'll be there
When the world stops turning
I'll be there
When the storm is through
In the end I wanna be standing
At the beginning with you
Sai mengulurkan tangannya ke depan Sakura dengan isyarat seringainya dan Sakura ragu. Namun di bawah cahaya dan keramaian yang menonton, ia menerima uluran tangan Sai dengan enggan.
We were strangers
On a crazy adventure
Sai menarik Sakura mendekat sambil mengangkat mikrofonnya ke bibir.
Never dreaming
How our dreams would come true
Kamera berkelap-kelip.
Now here we stand
Unafraid of the future
At the beginning with you
Sai melepas genggamannya pada Sakura. Musik terus dilanjutkan dengan suara mereka yang masih menyanyi dan mereka bergerak berlawanan di sisi panggung. Saat ending datang, musik mulai memudar. Sakura mengangkat mikrofonnya lebih dekat ke bibirnya sambil menatap penonton. Matanya menari-nari dengan kegembiraan seperti ia belum pernah melakukan ini sebelumnya.
In the end I wanna be standing at the beginning…
Sakura melihat ke kerumunan dan matanya menari-nari dengan kegembiraan. Ia menutup mata saat lagu berakhir dengan suaranya yang memudar.
With you…
Hening untuk beberapa waktu saat Sakura menurunkan mikrofonnya. Ia membuka mata dan terkejut menyadari Sai masih berada di sampingnya. Lampu panggung sekarang terpusat langsung pada mereka dan tepuk tangan meledak. Kamera tidak berhenti berkelip dan suara klik menjadi lebih cepat. Sai melambai pada kerumunan dan Sakura dengan ragu melakukannya juga.
Sai berbisik padanya, "Aku terkesan. Kau tidak seburuk itu."
Sakura menatap Sai, terpukau karena Sai memujinya. "T-Thanks," gumam Sakura. "Kau tidak seburuk itu," balas Sakura. "Untuk seorang pretty boy," ia tidak dapat membantu tapi menambahkan.
Sai menyeringai dan tersenyum pada kerumunan.
—Song of a Cherry Blossom—
"Apa Anda ingin kembali ke hotel sekarang?" tanya sopir sambil menatap spion depan.
Sai menatap keluar jendela limo sambil memperhatikan mobil lewat. "Tidak, sebenarnya aku memiliki ide yang lebih baik."
Ia mengeluarkan selembar kertas dan menulis sebuah alamat dengan tergesa-gesa sebelum menyerahkannya pada sopir.
"Bawa aku ke sana," perintahnya.
"Seperti yang Anda inginkan," kata sopir sambil menyalakan mesin.
Sai kembali merosot pada sandaran kursi mobilnya sambil memperhatikan pemandangan di luar melewatinya.
"Tebak aku akan tinggal di kota ini untuk sebentar," katanya dengan seringaian saat lampu jalan bersinar melewatinya.
—Song of a Cherry Blossom—
A/N:
Oke, aku gak bakal banyak basa basi karena I'm running out of time. Aku ganti username lagi karena ternyata username lama itu lebih nyaman._. Terus aku memang niat banget update nyaris tengah malam gini karena minggu besok dan depan bakal sibuk; TO dan UAS berturut-turut:( Dan maaf banget buat yang review nya belum aku balas, karena aku ngejar buat update chapter ini dan nanti kalau ada waktu mudah-mudahan aku balas:)
Sekali lagi, makasih buat yang udah mau baca fanfic ini, review, dan juga follow/favorite fanfic ini xx
Note: lagu yang ada di chapter ini berjudul "At the Beginning" dari Donna Lewis dan Richard Marx. Lagu ini dari film 1997, Anastasia, yang merupakan film favorit dari author asli—Diana-san.
