Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 13 — Invitation
Sakura menutupi kepalanya dengan buku Matematika dan menutup matanya untuk tidur siang sebentar. Suara Kakashi terus berdengung saat dia melanjutkan membaca buku pelajaran. Hari ini tidak biasanya damai dan tidak ada gangguan untuk Sakura. Sakura menyingkirkan buku pelajaran dari wajahnya lalu menatap ke kursi kosong belakangnya.
Si Es Balok absen hari ini.
Sakura mengalihkan pandangannya ke depan. Kursi tempat Naruto duduk juga kosong.
Naruto juga absen hari ini.
Sakura mendongak dan menangkap mata Hinata yang menengok ke belakang untuk melihat kursi kosong Naruto. Pipi Hinata memerah seakan-akan seperti seorang anak kecil tertangkap dengan setoples cookies dan ia buru-buru berbalik.
"Menarik," Sakura merenung dan suara Kakashi masih terus berbicara tentang kekaguman dari figur geometris. Untuk sebentar masih damai dan Sakura melanjutkan tidur siangnya. Ia tidak yakin tapi keributan membuatnya terbangun. Sakura mendongak dengan mata setengah terbuka saat ia dan murid lainnya memperhatikan pintu kelas dibuka.
"Oh, itu hanya Naruto," gumam Sakura sambil memperhatikan laki-laki pirang itu masuk dengan cengiran di wajahnya. Sakura baru saja akan melanjutkan tidurnya ketika ia melihat Sasuke masuk setelah Naruto. Ia mendesah. "Tepat ketika aku pikir aku bisa memperoleh kedamaian," gerutu Sakura. Saat Sakura mulai menutup mata, tubuhnya membeku ketika ia melihat orang terakhir datang melalui pintu. "Tidak mungkin!" Ia terengah sambil mengangkat kepalanya dari meja. Berjalan melewati pintu merupakan tidak lain adalah Sang Bintang Idola. "Sai.." bisik Sakura pelan. Seketika, tenggorokannya terasa kering. Astaga. Kenapa ia di sini? Sakura panik. Ia tahu! Ia tahu aku Saki dan ia di sini untuk menangkap basah aku!
Pikiran Sakura kalut. Ia pasti tahu! Itu mengapa ia di sini. Apa alasan lain yang memungkinkan? Ya Tuhan. Apa dia mengetahuinya dari Naruto? Aku akan membunuhnya jika ia mengatakan sesuatu.
Sakura melotot pada Naruto, matanya dipenuhi pisau belati dan mungkin nyala api dari neraka. Naruto berkedip saat ia menatap Sakura yang memberikannya tatapan yang sangat gelap dan menakutkan. Ia gemetar. Itu hampir seperti tatapan kematian. Aku harap tatapan itu terarah ke Sasuke, pikir Naruto sambil menarik kerah bajunya dengan gugup.
Kakashi berdeham. "Yah, sepertinya kita kedatangan beberapa orang yang terlambat."
Kelas yang tadinya hening tidak biasa dan masih sampai gangguan datang seketika meledak saat kekacauan terjadi. Para gadis yang mungkin menahan kegembiraan mereka mulai melompat dari kursi dan kerumunan di depan kelas terbentuk mungkin untuk mendekati idola mereka Sai.
Jeritan meledak dari semua penjuru kelas.
"SAI! OMG! KAU DI SINI!"
"AKU MENCINTAIMU! AKU MENONTON SEMUA KONSERMU!"
"NIKAHI AKU!"
"KYAA! KYAA!"
Sakura meringis sambil menutupi salah satu telinganya. Jeritan yang melengking dan teriakannya cukup membuatmu ingin menggores papan tulis kapur dengan kuku. Sama beratnya dengan keadaan ini mengenai krisis identitas sosial Sakura sendiri, ia merasa seperti sedikit tersedak pada kebodohan semata beberapa gadis di kelasnya.
Sai memberikan senyum palsu pada fans nya. "Aku akan senang jika setiap dari kalian menjauh kira-kira sepuluh kaki dariku."
Kelihatannya tidak ada yang mendengarnya dan kerumunan semakin mendekat. Sasuke memberikan tatapan jengkel pada mereka sementara Naruto mundur mendekat ke Kakashi.
Kakashi tersenyum sambil meletakkan buku gurunya. "Anak-anak, akan lebih baik jika kita semua duduk di tempat masing-masing," katanya tenang dengan senyum yang sama di wajahnya. Kerumunan gadis-gadis masih terus menunggu di dekat Sai. Kakashi berjalan ke belakang kumpulan gadis-gadis itu sambil menurunkan kepalanya sesuai tinggi mereka. Para fangirls berbalik untuk melihat guru mereka menjulang di depan mereka dengan wajah mengerikan dan penuh kegelapan. "ATAU AKU AKAN MENGAMBIL TINDAKAN TEGAS." Semua orang menelan ludah. Dengan segera seluruh kelas kembali ke kursi mereka, tidak ingin mengambil kesempatan dengan Kakashi.
Saat semua orang duduk di tempat masing-masing, Kakashi tersenyum dan berdeham. Sasuke melangkah dan menyerahkan map kuning polos kepada Kakashi. Sensei berambut perak itu mengambil map itu dan membukanya sambil melihat isinya.
"Hmm.. Sangat menarik." Kakashi menutup map itu dan menyelipkannya di bawah satu lengan.
"Yah, anak-anak, aku yakin kalian bertanya-tanya apa yang terjadi hari ini. Kita memiliki murid baru yang akan tinggal di kelas kita untuk beberapa minggu. Aku harap kalian akan menyambutnya dengan hangat dan memperlakukan ia dengan baik."
Banyak gadis di kelas bergumam di antara diri mereka sendiri saat kehebohan tumbuh di udara. "TENTU SAJA, KAKASHI-SENSEI!" mereka menjawab serempak.
Sakura hanya bisa mengedipkan mata dan menganga terkejut sambil mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Kakashi menatap sekeliling ruangan. "Hm, apa kau ingin memperkenalkan dirimu Sai?"
Sai tersenyum lalu berbalik menatap para siswa. "Halo semuanya. Namaku Sai dan aku di sini untuk mengamati seperti apa rasanya menjadi murid SMA jadi aku harap kalian akan memperlakukanku sama seperti yang lain di sini."
Kakashi mengangguk. "Uh, mari kita lihat.. dimana tempat dudukmu.." Kakashi terdiam.
Beberapa gadis di bagian belakang melompat.
"Ia bisa duduk denganku, Kakashi-sensei!" salah satu dari mereka memekik sambil menunjuk bangku di sebelahnya.
"Kau bodoh. Aku duduk di sini." Suara datang dari Shikamaru yang tidur selama fiasco terjadi.
Gadis yang tadi berteriak memberengut pada Shikamaru. "Itu tidak seperti kau melakukan sesuatu di kelas. Kami mungkin juga memberikan kursi kepada seseorang yang lebih layak dan menarik dan..." Perempuan itu mulai memekik sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
"Merepotkan," gerutu Shikamaru.
Kakashi mengerutkan dahi. "Hmm..." Ia mengamati seluruh ruangan dan menyadari sebuah kursi kosong di dekat jendela. "Kau bisa duduk di sana Sai. Tepat di sebelah Sakura."
Mulut Sakura menurun terbuka. "Say WHAT?" Ia berseru sambil berdiri dan menggebrak meja dengan keras.
Kakashi tersenyum. "Terima kasih Sakura untuk memberitahu lokasimu di kelas ini pada Sai." Kakashi memberi isyarat pada Sai yang mulai berjalan menuju tempat duduknya. Sasuke dan Naruto mengikuti di belakang menuju tempat duduk mereka masing-masing.
Sakura menengokkan kepalanya untuk melihat tempat duduk kosong di sebelahnya sambil menatap kosong pada kursi kosong itu. Kau pasti bercanda. Kalimat itu terulang lagi dan lagi dalam kepala Sakura sementara ia tenggelam dalam suara Kakashi. Sakura merosot pada kursi dengan terbungkuk.
"Hei, kau." Kepala Sakura tersentak saat suara Sai memanggilnya. Sakura membeku di tempat, lengannya berkedut dan ia mecoba untuk menghindari tatapan Sai.
"Apa kau mendengarkanku?" tanya Sai lagi dengan nada jengkel.
Sakura sedikit menengokkan kepala. "Ya?" bisikan nyaris tak terdengar keluar dari bibirnya.
"Bisakah kau berhenti menganga pada kursiku? Aku tidak bisa duduk jika aku tahu kau akan memandangiku setiap saat."
Alis Sakura bertaut. Tapi sebelum Sakura bisa menjawab, ia ragu dan mengalihkan wajahnya untuk melihat jendela. Lebih baik untuk tidak berkata apa pun. Tidak sampai aku tahu apakah dia mengetahui identitasku.
Sakura menatap laki-laki yang duduk di depannya. Ia menyipitkan mata pada Naruto. Naruto pasti merasakan tatapan membunuh Sakura karena tubuhnya menegang sementara getaran menjalari punggungnya.
—Song of a Cherry Blossom—
Bel berbunyi menandakan kelas berakhir dan waktu makan siang tiba. Sakura berdiri tiba-tiba dan menarik kerah Naruto sebelum menyeretnya keluar kelas.
Di luar halaman, Sakura menyeret Naruto ke daerah berumput yang dikelilingi pohon. "Oke Naruto. Luapkan. Apa yang Sai lakukan di sini?"
"S-Sakura-chan—" kata Naruto gugup.
Mata Sakura berkilat jahat. "Kau dilarang memanggilku dengan nama itu sampai kau memberitahuku kenapa Sai ada ada di sini—di sekolah kita."
Naruto duduk menyilangkan kaki sambil menyilangkan lengannya. "Itu sebuah pertanyaan yang bagus ..."
"DAN?"
"...tapi aku tidak tahu kenapa," lanjut Naruto.
Sakura mengerang.
"Ia di sini untuk belajar. Apa kau memiliki masalah dengan itu?" Sebuah suara datang dari belakang Sakura.
Sakura membeku. Ia berbalik lalu melihat Sasuke dan Sai berdiri di depannya. Angin berhembus pada rambut Sakura dan ia melotot pada mereka berdua. "Menguping itu tidak sopan."
"Membicarakan orang di belakang bahkan lebih tidak sopan," balas Sasuke.
"Kalau begitu kau harus memaafkanku lain kali ketika aku berbicara tentangmu di belakangmu," balas Sakura.
Sasuke dan Sakura melotot pada satu sama lain.
Sai tersenyum. "Lidah tajam di sana," komentar Sai. Ia berjalan menuju Sakura. "Tapi aku tidak tahu kenapa kau terlihat tidak menyukaiku meskipun kita tidak pernah bertemu."
Sakura berkedip. "Tidak pernah bertemu?"
"Pernahkah?" tanya Sai.
Ia tidak mengenalku! Ia bahkan tidak tahu siapa aku!
"T-tentu saja tidak!" Sakura terbata saat mencoba menyembunyikan kegembiraannya.
"Sekarang aku berpikir tentang itu.. Kau seperti mengingatkanku pada..."
Sakura menutup mulut Sai dengan tangannya. "Kita tidak pernah bertemu. Titik." Sakura menampilkan senyum lebar pada wajahnya, berharap itu cukup untuk meyakinkan Sai. "Yah, hari ini adalah hari yang baik. Ayo Naruto," kata Sakura riang gembira sambil berjalan melarikan diri.
"Tunggu... sebentar," kata Sai. Ia berlari menuju Sakura dan mengamati wajahnya. "Kau tahu.. Wajah itu, suara itu, dan kelakuan mengerikan itu terlihat sangat familier."
Sakura menggertakkan giginya. "Excuse me..?"
Sai menepuk kedua tangannya sebagai tanda ia sudah tersadar. "Ah, wanita tua yang sangat jelek dan buruk hati dalam film dengan kepala besar dan—"
"WANITA TUA JELEK DAN BURUK?" Sakura menarik kerah baju Sai dengan kedua tangannya. "AKU AKAN MENUNJUKKANMU SEBUAH KELAKUAN BURUK—"
Tapi sebelum Sakura bisa melakukan sesuatu, Sai memajukan tubuhnya dan mencium pipi Sakura. Sai tersenyum saat merasakan kebengisan Sakura bergetar menjadi tertegun. Mulut Sakura terbuka dan ia melepas kerah baju Sai. Mata Naruto terbelalak dan rahangnya terjatuh. Sasuke tetap diam namun tatapan jengkel terlihat di matanya.
"Ini," kata Sai sambil mengeluarkan undangan dari jaketnya lalu menyerahkannya pada Sakura. "Jumat ini, aku mengadakan sebuah pesta di rumah sepupuku. Kau diundang untuk datang."
Setelah berkata begitu, Sai tersenyum dan menepuk kepala Sakura. "Aku akan senang untuk melihat pakaian seperti apa yang akan dipakai ke pesta oleh orang mengerikan sepertimu. Sampai jumpa, kalau begitu."
Sakura memegang undangannya sambil menatap punggung Sai dengan linglung. "Sepupu?" ulangnya. "Pesta? EHH?"
Naruto melompat. "SASUKE! BERANINYA SEPUPU BASTARD-MU MENYENTUH SAKURA-CHAN DENGAN BIBIRNYA YANG KOTOR ITU!"
Sakura memutar badannya. "Sasuke?" tanyanya pelan.
Sasuke menatap gadis berambut pink itu dengan tatapan bosan. "Apa?"
"LAKI-LAKI PENYAMBAR CIUMAN ITU ADALAH SEPUPUMU?"
"Kurang lebih," balas Sasuke.
"Itukah alasan kenapa dia mendaftar di sini—di sekolah ini?"
"Mungkin."
Jadi sepertinya Sai tidak tahu kalau aku adalah Saki, pikir Sakura. Seketika, bayangan Sai mencium pipinya barusan terlintas di kepalanya. "AHH! Aku sangat marah! Kenapa dia memperkosa wajahku?"
Naruto berlari menuju Sakura. "Tidak apa-apa, Sakura-chan. Aku bisa menciumnya dengan lebih baik," tawarnya senang.
Sakura mendorong wajah Naruto. "Dan siapa bilang aku akan membiarkanmu menciumku?"
Sasuke berjalan melewati mereka berdua. "Tunggu," panggil Sakura. Sasuke berhenti. "Um, tentang pestanya ..."
Sasuke berbalik lalu menatap undangan di tangan Sakura. Ia berjalan menuju Sakura dan mengambil undangan di tangan Sakura. Lalu dengan cepat, Sasuke merobek undangannya menjadi dua lalu membiarkannya jatuh ke tanah.
Sakura menatap terkejut saat ia menyaksikan undangan yang sudah dirobek jatuh di depannya.
"Kau tidak perlu datang sekarang," kata Sasuke dingin sambil berbalik untuk berjalan menjauh.
Gadis berambut merah muda itu menatap ke bawah, masih terkejut. Lalu ia mendongak dengan marah. "Apa kau seharusnya berhak merobek undanganku?"
Sasuke berhenti berjalan. "Jangan berpikir bahwa undangan itu diberikan padamu karena Sai suka padamu. Aku tidak tahu kenapa ia mengundangmu tapi lebih baik jika kau tidak datang untuk menyelamatkan dirimu dari keadaan yang mempermalukan dirimu sendiri."
Sakura tidak percaya apa yang ia dengar. Ia dicela. "Aku tidak peduli apakah dia menyukaiku atau tidak. Aku bahkan tidak berencana untuk datang awalnya. Tapi itu bukan berarti kau berhak membuat keputusan untukku."
"Kalau begitu apa yang baru saja terjadi seharusnya tidak membuat perbedaan."
Sakura menggertakkan giginya. "Berengsek," kata Sakura melalui giginya yang digertakkan sambil menatap Sasuke yang berjalan kembali ke kelas.
"Sakura-chan... apa kau benar-benar ingin pergi ke pesta?" tanya Naruto.
Sakura masih tetap berdiri dengan tangan terkepal di sisinya.
"Aku akan pergi makan siang sekarang," kata Sakura menghindari pertanyaan Naruto.
"Ahh, tunggu aku Sakura-chan!"
—Song of a Cherry Blossom—
Jumat siang
"S-S-Sakura-san!"
Sakura menengok ke arah suara yang memanggilnya. Di tengah kerumunan siswa yang keluar dari kelas terakhir hari ini, Sakura berhasil menemukan Hinata yang berdiri di dekat air mancur dengan wajah sabar. Ia melewati kerumunan menuju Hinata.
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi?" tanya Sakura sambil menunduk untuk memerhatikan wajah Hinata. Hinata sedikit merona dan segera mengalihkan pandangannya.
"Um... Aku bertanya-bertanya... Um... Apakah... Yah kau tahu... Malam ini... Ada... Um... Yah... Bisakah kau membantuku..."
Sakura mendesah. "Hinata, aku akan merayakan ulang tahunku yang ke 100 sebelum aku tahu apa yang ingin kau tanyakan padaku."
Hinata memejamkan matanya erat. "Ku mohon bantu aku mengajak Naruto pergi!" seru Hinata sambil menundukkan kepalanya.
Sakura berkedip. "Yah, ini... tidak terduga."
Hinata mengalihkan pandangannya dari lantai dan menatap penuh harap pada Sakura. "Apa itu sebuah penolakan?" Pertanyaan yang keluar nyaris seperti bisikan. Sakura menggaruk kepalanya sambil menutup mata dengan ekspresi seperti berpikir keras di wajahnya. "Sulit untuk berbicara... Maksudku, itu Naruto bagaimanapun juga. Mungkin orang terbodoh di muka bumi." Sakura membuka matanya lalu memegang dagunya sambil berpikir. "Aku pikir aku bisa menggunakan waktu luangku untuk membantumu."
Sesaat setelah Sakura menyelesaikan kalimatnya, kekhawatiran di wajah Hinata berganti dengan sebuah senyum cerah. Hinata mengambil tangan Sakura lalu menggenggamnya sambil melompat-lompat gembira.
"Terima kasih, terima kasih Sakura-san!"
"Hei, tidak ada 'Sakura-san'. Hanya 'Sakura', ingat?"
Hinata tersenyum. "Ya. Sakura."
Gadis cherry blossom itu menyengir. "Jadi, bagaimana kau merencanakan ini?"
"Malam ini. Di pesta."
"Di pesta," ulang Sakura. Ia menaikkan alis. "Pesta ini diadakan di rumah Sasuke, bukan?"
Hinata mengangguk. "Ya, orang tuaku akan ada di sana juga sehingga memperparah keadaanku yang sudah gugup tapi aku harap itu tidak akan terlihat selama pesta karena aku mungkin membuat diriku terlihat bodoh di depan Naruto-kun dan lalu dia akan berpikir aku canggung atau aneh atau sesuatu seperti—"
"Hinata!" Sakura menggosok-gosok keningnya. "Kau berbicara tidak teratur."
"Ya, aku cenderung melakukannya ketika gugup tapi aku tidak tahu kenapa harus gugup sejak semuanya akan baik-baik saja karena kau akan membantuku.." Hinata berhenti. "Benar?"
Sakura menghela napas. "Yeah, tidak masalah." Sakura mengangkat kepalanya dan memaksakan senyum. "Aku akan memastikan menarik Naruto di sampingmu sehingga kau akan memiliki waktu berdua dengannya."
"Terima kasih!" Hinata melompat dan memeluk Sakura erat.
"Ow!" Sakura berseru. Hinata melangkah mundur sambil menahan napas. "Oh, aku sangat minta maaf Sakura-san! Apa kau baik-baik saja?"
Sakura mengangguk sambil menggosok-gosok punggungnya. "Yeah, aku baik-baik saja. Aku sebenarnya memiliki kejang di punggungku tapi sekarang... yah aku pikir sudah hilang. Mengagumkan."
Hinata tersenyum. "Kalau begitu aku akan menjemputmu jam lima."
Sakura mengangguk dengan senyum lemah sambil melambaikan tangan pada Hinata yang sudah memasuki limonya.
Kepala Hinata muncul saat ia melambaikan tangan pada Sakura. "Oh, dan pestanya formal jadi pastikan kau memakai sesuatu yang bagus," panggil gadis berambut violet itu. "Sampai jumpa nanti, Sakura-san."
Gadis berambut pink itu berkedip sementara tangannya terkulai ke bawah. "...formal?"
EH?
—Song of a Cherry Blossom—
"Jeans, jeans, jeans…. ooh, sesuatu di sini… bukan, masih jeans…"
Sakura mendesah sambil menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang sudah dipenuhi dengan tumpukan pakaian dari lemarinya.
"Aku harap aku tidak menyumbangkan seluruh dress yang Nenek berikan padaku," gumam Sakura. Ia membalikkan posisinya di kasur dan menyebabkan longsor kecil dari pakaiannya sehingga roboh dan mengenai wajahnya. Sakura menghela napas di balik tumpukan pakaian sambil mencari celah keluar.
Sakura duduk lalu menyisir rambutnya frustrasi. Ia menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja berlaci. Ia menatap murung ponselnya sambil berpikir untuk menelepon Hinata dan berkata ia tidak merasa baik atau lainnya. Tidak, aku tidak bisa. Aku berjanji akan pergi.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi dan mulai bergetar di atas meja. Sakura buru-buru menangkapnya sebelum jatuh ke lantai. Tapi jika Hinata memutuskan untuk membatalkannya, tidak ada yang bisa aku lakukan tentang itu, 'kan?
Sakura membuka ponsel flip-nya. "Halo?"
"SAKURA!"
Sakura meringis sambil menjauhkan ponselnya dengan jarak selengan. Ia menghela napas lalu kembali menempelkan ponselnya di telinga. "Tsunade-sama, aku tahu kita terpisah oleh jarak yang jauh tapi aku bisa mendengarmu dengan baik jika kau berbicara lebih tenang."
"Lupakan itu!" jawab Tsunade. "Tentang malam ini..."
"Oh benar, malam ini aku akan tampil..." Sakura berhenti di tengah kalimat saat menyadari malam apa ini.
"Salah! Bagaimana bisa kau tidak memberitahuku tentang ini, Sakura? Setelah semua yang kita lalui, aku pikir kau akan datang padaku dengan apapun yang ada di pikiranmu."
"Kau benar. Maafkan aku." Sakura memutar otaknya untuk mencari tahu untuk apa ia meminta maaf. "Dan ini tentang apa lagi?"
"Pestanya! Naruto baru saja mampir dan bertanya apakah aku akan membiarkanmu pergi. Bagaimana aku bisa meresponnya jika aku tidak tahu kalau ada pesta yang akan dimulai? Apakah itu karena kau takut Jiraiya mungkin akan berkata tidak karen biarkan aku memberitahumu sesuatu—"
"Tidak, ini baik sebenarnya karena..." Sakura menyela.
"Haruno Sakura. Kau akan pergi ke pesta itu. Aku tidak ingin melihatmu sama sekali dimana pun di dekat klub malam ini. Kau resmi dipecat untik hari ini. Kembali besok dan berikan aku penjelasan detail tentang apa yang terjadi. Bersenang-senanglah." Dengan berkata begitu, suara klik datang di akhir kalimat saat Tsunade memutuskan sambungan, meninggalkan Sakura yang terdiam di kasur.
"Tapi, aku tidak ingin pergi.."
—Song of a Cherry Blossom—
"Kau terlihat baik Hinata," kata Sakura untuk yang kesekian kalinya saat mereka berjalan melewati jalan kecil panjang menuju mansion Uchiha. "Aku yakin Naruto akan menjatuhkan kepalanya di tumit ketika melihatmu seperti ini."
Wajah Hinata berubah menjadi pucat pasi. "A-aku harus kembali dan berganti. Aku tidak ingin Naruto melukai kepalanya." Ia berbalik untuk kembali ke mobil.
"Itu sebuah ungkapan, Hinata," kata Sakura sambil menuntun gadis gugup itu kembali ke pintu depan. "Dan kau tidak seharusnya pergi. Jika ada seseorang yang harus pergi, itu pasti aku."
Hinata menatap kembali pada Sakura yang mengikutinya perlahan di belakang. "Apa sesuatu terjadi di antara kau dan Sasuke-kun?"
"Tidak," balas Sakura datar. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?" tanya Sakura tajam.
Hinata tersenyum gugup. "T-tidak ada."
Sakura mengerutkan dahi sambil menatap jamnya dan melihat jarum menit berada di angka tiga. "Lima lewat lima belas. Setidaknya kita tiba lebih awal."
"Sedikit lebih awal, bukan? Aku tidak berencana untuk tiba sampai jam enam sejak pestanya dimulai jam tujuh."
Mata Sakura menatap pintu dengan tajam. "Lebih awal berarti kau tepat waktu, tepat waktu berarti kau terlambat."
"Aku bisa melihat kau dan Sasuke-kun bertengkar," gumam Hinata.
Telinga Sakura bergerak. "Kau bilang sesuatu, Hinata?"
"T-tidak ada."
Hinata menghela napas lega ketika Sakura mengangguk dan menyilangkan kedua lengannya. Gadis berambut violet itu berjalan ke pintu dan menekan bel. Secara insting, Sakura berlindung di belakang tubuh Hinata. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan seorang maid memerhatikan mereka. Hinata tersenyum ketika mendengar helaan napas lega dari belakangnya. Dengan segera pintunya dibuka lebar dan maid itu memberi isyarat agar mereka masuk.
"N-Nona Hyuuga-sama," kata maid itu hormat sambil membungkukkan badan. "Dan... tamu Anda?"
"Ya, ini Sak—" Sisa kalimat Hinata ditutupi oleh tangan Sakura.
"Tamu saja tidak apa-apa," balas Sakura dingin. "Tidak perlu memberitahukan kehadiranku." Matanya melesat dari sisi ke sisi. "Ayo masuk."
Hinata tertawa gugup saat melihat maid itu terkejut ketika Sakura melesat masuk dan meringkuk di belakang sebuah vas. Maid muda itu berbalik pada Hinata dengan pertanyaan di wajahnya, 'Apa ia benar-benar tamu di sini?' Hinata tersenyum gugup lalu buru-buru berjalan ke belakang Sakura.
"Sakura-san, aku pikir ini sedikit berlebihan, bukan?" bisik Hinata ketika maid tadi pergi untuk menutup pintu di belakang mereka.
Sakura mendongak dari posisinya di belakang alas. Ia berdeham lalu buru-buru berdiri. "Maaf," ia menundukkan kepala.
Hinata mengulurkan tangannya untuk memberi isyarat pada Sakura. "Sakura-san, kalau begitu sebaiknya ayo bersiap-siap, bukan?"
Sakura mengangguk menurut lalu memeluk tas belanja yang berisi pakaiannya di dekat dada. Ia perlahan mengikuti di belakang Hinata yang menaiki tangga utama lalu ke sebuah lorong. Gadis heiress itu berhenti di depan sebuah ruangan dan mengeluarkan kunci dari sakunya. Sakura memperhatikan Hinata membuka pintu dan masuk ke dalam. Ia mengikuti di belakang dan berkedip di kegelapan ruangan. "Gelap," komentarnya. Sakura seketika merasa ingin menampar dirinya sendiri karena mengomentari hal yang sudah jelas.
Hinata mengangguk di kegelapan atau setidaknya Sakura berpikir itu anggukan sejak ia tidak bisa melihat apa pun. Seketika ruangan menjadi lebih terang dan Sakura mengedipkan mata pada sinar matahari yang masuk. Hinata berdiri di samping jendela sambil memegang tirai.
"Sebentar lagi akan gelap. Sakura-san, tolong nyalakan saklar lampu di dekatmu."
Sakura mengangguk lalu berbalik untuk menyalakan saklar. "Kenapa kita tidak melakukan ini lebih awal?" gerutunya.
Hinata berjalan ke belakang Sakura. "Ini ruanganku saat Neji nii-sama dan aku ke sini untuk bermain ketika kami kecil."
"Kau dulu bermain dengan Sasuke?" tanya Sakura terkejut.
"Ah, hanya sebentar sebelum ayahku memutuskan untuk membuatku tetap di rumah untuk belajar menyusun bunga."
"Oh.." hanya itu yang bisa Sakura katakan.
"Aku akan berganti di ruang ganti pakaian jadi kau bebas untuk menggunakan kamar mandi atau di sini jika kau mau."
Sakura menggenggam tasnya di tangan. "Di sini saja," cicitnya.
Hinata tersenyum lalu berjalan menuju bagian lain dari ruangan yang menjadi walk in closet besar. Pintunya ditutup dan Sakura berjalan menuju tempat tidur. Ia menjatuhkan tasnya di atas kasur lalu menjatuhkan diri di sebelahnya sambil mendesah. Dengan tangannya di kepala, ia menatap tasnya dan lipatan di keningnya bertambah.
—Song of a Cherry Blossom—
"Sakura-san, kau sudah siap?" Suara Hinata terdengar dari dalam ruang pakaian.
"Mhm, yea," gumam Sakura sambil berusaha memakai baju hitamnya. Dengan cepat ia memakai blazer hitam sambil mengenakan sepasang heels setinggi satu inci.
Sakura berjalan susah payah menuju cermin lalu menatap pantulan dirinya. Keraguan terlintas di wajahnya saat ia sedikit menyamping.
"Apa ada sesuatu yang salah?" Hinata keluar dari ruang pakaian dan berjalan menuju Sakura.
Gadis cherry blossom itu berbalik dan menatap Hinata dengan kosong. "Aku terlihat seperti menghadiri pemakaman," jawab Sakura bodoh. Ia memperhatikan dress malam Hinata yang berwarna lavender jatuh ke bawah kakinya.
Hinata memiringkan kepalanya. "I-itu... tidak terlihat buruk."
Sakura menghela napas. "Ini satu-satunya rok bagus yang bisa aku temukan."
"Dan itu... bagus."
Sakura menatap cermin kembali. "Untukku yang mengenakan ini di sini, kau dan Naruto lebih baik menikah atau lainnya," gerutunya.
"Apa kau bilang sesuatu, Sakura-san?"
"T-tidak ada."
—Song of a Cherry Blossom—
"Psst—Naruto!" bisik Sakura di balik sebuah tirai. Ia berdiri di dekat jendela di ballroom utama berdekatan dengan pintu pekarangan yang terbuka menuju halaman yang indah. Sakura mulai meremas tirai dengan frustrasi sambil mencoba mendapat perhatian Naruto. Ia mempertimbangkan untuk keluar di cahaya terang dan menampakkan pakaian hitam sial-nya sambil terus melambai gelisah pada Naruto. Seorang pelayan berjalan membawa piring besar berisi makanan kudapan dalam satu tangan. Dengan segera Sakura meraih dan menarik pelayan itu ke arahnya. Pelayan yang terkejut itu nyaris menjatuhkan nampannya tapi Sakura menangkapnya lalu menyerahkannya kembali.
"Hei, bantu aku dan panggilkan laki-laki berkepala pirang dengan cengiran bodoh di wajahnya." Sakura menambahkan senyum yang dipaksakan tapi pelayan itu jelas tidak puas karena ia berjalan ke Naruto dengan gusar.
Sakura menarik napas sambil memasukkan telur bumbu yang ia ambil dari nampan tadi ke mulutnya. Mengetuk-ketukkan kakinya ke lantai, ia menunggu dengan tak sabar sambil memperhatikan dari kejauhan pada pelayan yang menunjuknya dan Naruto menggaruk kepalanya. Akhirnya, setelah sekian lama, Naruto berjalan menuju balkon.
"Sakura-chan! Aku senang kau dat—" Naruto berhenti di tengah kalimatnya saat melihat tatapan kematian dari bawah ikal rambut pink cherry Sakura. Naruto tertawa gugup sambil mundur ke belakang. "S-Sakura-chan, kau terlihat... menyeramkan.." Segera, Si Pirang menyesal mengucapkan kata-kata itu karena ia merasa dinginnya aura gelap mematikan terpancar dari gadis di depannya.
"Do I now?" kata Sakura dengan senyum iblis. Naruto meneguk ludahnya sambil menarik kerah bajunya.
Sakura memerhatikan objek yang ada di tangan Naruto. "Apa kau akan memakan itu?"
Naruto menatap quiche yang ia pegang lalu menatap Sakura kembali. "Here you go, Sakura-chan."
Seperti penjinakan anjing liar kembali ke anjing yang dicintai, Sakura kembali normal sambil mengambil quiche dalam tangannya. Gadis berambut pink itu mengunyah galak sambil berbicara. "Naruto," mulai Sakura sambil memperhatikan keramaian yang dipenuhi orang-orang, "apa yang kau pikirkan tentang Hinata?"
Tatapan kosong muncul di wajah Naruto. "Siapa?"
"Hinata. Kau tahu? Hyuuga Hinata sepupu Hyuuga Neji yang berkencan dengan Tenten yang berteman dengan Si Bastard Sasuke yang berteman denganmu. Apa aku masuk akal?"
Naruto menutup matanya untuk berkonsentrasi. Sebuah bola lampu tampaknya muncul karena dia dengan cepat menjentikkan jarinya setelah tersadar. "Gadis yang duduk di depanku dan tidak pernah bicara!"
Sakura memiringkan kepalanya. "Aku rasa kita bisa menganggapnya begitu."
Naruto menggaruk kepalanya. "Yah, apa yang bisa ku katakan? Dia bahkan tidak pernah menatapku atau bicara padaku. Aku nyaris tidak mengenalnya. Bahkan ketika aku mengunjungi Neji, dia selalu kabur ketika melihatku. Aku pikir dia takut padaku atau semacamnya."
Sakura mendesah. "Ini akan menjadi sulit."
"Apa?"
"Naruto, pergi menari dengan Hinata."
"Tapi," Naruto protes, "ia membenciku!"
"Percaya padaku. Kapan aku pernah salah?"
Naruto ragu. "Kau pun tidak pernah benar."
"Apa kau bilang?" Sakura melotot.
"Oke, oke aku akan bicara padanya."
Sakura memperhatikan saat Naruto berjalan pergi untuk mencari Hinata. Sakura menutup matanya sambil berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar.
Menyelinap melirik ke kiri dan kanan, Sakura melesat keluar dari jubah gelap bayangan tirai dan bergegas ke sebuah meja buffet panjang di mana hanya ada sedikit orang yang berkumpul. Meraih piring, dia mengambil persediaan dengan harga yang tampak setara dengan gajinya. Ketika Sakura puas dengan dua piring makanannya, ia berjalan kembali menuju pintu pekarangan yang terbuka menuju halaman. Menemukan tempat yang lebih sepi di samping air mancur dekat kolam, Sakura duduk untuk makan.
Bersenandung senang sembari mulai memakan makanan di piring kedua, ia tidak menyadari ketika seseorang berjalan ke arahnya.
"Lihat siapa yang kita dapat di sini."
—Song of a Cherry Blossom—
A/N:
Fyuh, aku pusing banget sejujurnya nge translate chapter ini. Aku nyaris ga berhenti ngetik sampe jam 11 malem karena ngebut update. Gimana nggak mabok?
Dan setelah diliat-liat dari chapter sebelumnya, tulisanku udah mulai lebih bener. Bahkan di chapter ini sejujurnya aku bener-bener merhatiin pilihan kata sama struktur kalimatnya. Itu karena aku memang kepengin tulisanku jadi lebih bagus dan enak dibaca. Bisa dibilang, aku kepengin jadi penulis yang 'berbobot' gitu hehe XD Tapi kalau masih ada yang salah, kasih tau ya;)
Oh ya aku juga lagi sering baca Wattpad dan jadi gatel kepengin nulis cerita juga nih. Kalian ada yang punya Wattpad? Yuk, ngobrol atau follow for follow sama aku^^ Usernamenya heartbreaksgirl. (promote terselubung hehe :D)
Oke, segitu dulu author note nya. See you later xx
Yuki
