Naruto © Masashi Kishimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 14 — Friends
Garpu berhenti di depan mulut Sakura saat ia menatap ke atas. Seperti yang ia duga dengan tepat dari suara penuh benci yang barusan ia dengar, itu adalah Aoi. Berdiri dengan kelompoknya, Aoi berjalan menuju meja Sakura dengan heels-nya yang berbunyi di setiap langkahnya. Sakura tidak bisa membantu tapi menyadari betapa terangnya dress merah Aoi yang dijahit ketat di bagian-bagian yang salah. Itu nyaris memuakkan dan membuat perut Sakura sedikit terkocok.
"Menyenangkan darimu untuk bergabung dengan kami," kata Aoi, nada bicaranya jelas berlawanan dengan apa yang ia katakan. Aoi tersenyum manis sambil menyilangkan kedua lengannya.
Sakura menampilkan salah satu senyum palsunya pada Aoi. "Sebuah kesenangan untuk datang ke sini. Aku tidak tahu kita akan menampilkan pertunjukan anjing hari ini. Pakaianmu sungguh cocok. Aku yakin kau akan memenangkan hadiah pertama di bagian bakat. Gonggonganmu pasti lebih buruk dari gigitanmu," kata Sakura membalas sambil menyesap cider-nya. Ia menampilkan senyum manis lainnya pada Aoi sambil perlahan bersuka ria dalam kesenangan. Sakura tahu bahwa kata-katanya perlahan menjalar ke bawah kulit Aoi dan mencapai titik mendidih di dalamnya.
Tangan Aoi bergerak-gerak tapi ia menegakkan kembali ketenangannya. "Yah, setidaknya aku mengenakan pakaian yang cukup pantas untuk bahkan dianggap di pertunjukan." Aoi menatap pakaian Sakura dari atas ke bawah. "Jelas lebih baik dibanding menjadi anjing terlantar yang mengenakan rag."
Sakura menjatuhkan garpunya di atas piring, tahu bahwa perang ini tidak akan berakhir dengan mudah. "Bahkan Cinderella awalnya mengenakan rag. Aku senang kau memberiku sebuah kehormatan. Jika kau adalah kakak tiri jahatnya, biarkan aku memberi petunjuk padamu. Pada akhirnya, aku selalu menang." Ia mengambil garpunya lagi dan menusuk steak di piringnya dan mulai menggigitnya.
Aoi menghentakkan kakinya. "Kau pikir kau sangat pintar dengan sedikit komentarmu, bukan?" Suara Aoi memuncak tinggi saat ia menghentakkan kaki mendekati meja Sakura. Aoi menggebrak meja menyebabkan piring dan gelas champagne di atas meja berdentingan.
"Geez, bisakah kau tenang?" seru Sakura sambil menggeser kursinya. Bau parfum Aoi membuat Sakura ingin muntah.
"TENANG? Kau ingin tenang? Kau menuang spaghetti di atasku!"
"Kau masih dendam padaku karena itu? Itu terjadi seperti sekian lama yang lalu."
"Itu dua hari yang lalu!"
Sakura mendesah. "Jadi kau ingin aku melakukan apa? Minta maaf?"
Aoi menyilangkan kedua lengannya lagi. "Minta maaf? Apa yang akan menjadi baik? Kata-katamu seharga dengan lint di lemariku."
"Itu bagus karena aku tidak berencana untuk minta maaf atas apa yang tidak ku mulai. Melihatmu tertutup spaghetti adalah highlight dari seluruh mingguku. Aku akan melakukannya lagi jika diberi kesempatan." Sakura berdiri saat mengucapkan kata terakhir. "Now if you excuse me.."
Sakura berjalan melewati Aoi tapi Aoi mengulurkan tangannya yang seperti cakar dan menahan bahu kanan Sakura dari belakang.
"Kau pikir kau akan kemana? Aku belum selesai berbicara denganmu," geram Aoi.
Sakura mengangkat bahu untuk menyingkirkan tangan Aoi dan berbalik untuk menghadapnya. Sakura menjulang tinggi di depan gadis kecil mungil yang heels-nya bahkan hanya mampu membuatnya setinggi hidung Sakura itu. Sakura tahu ia mampu melawannya jika ia ingin. Tapi ini bukan tempat atau pun waktu yang tepat. Sakura tahu ia tidak seharusnya menarik perhatian lagi untuk dirinya sendiri. Sebuah kerumunan kecil mulai terbentuk dan mengetahui emosinya sama dengan Aoi, semuanya bisa menjadi lebih buruk dengan cepat.
"Aku sudah selesai bicara padamu. Jadi aku pikir aku akan pergi sekarang," kata Sakura tenang lalu mulai berjalan menjauh dari tempat itu.
"Sejak kapan babu bisa membantah perintah tuannya?"
Satu kalimat itu menghentikan langkah Sakura. Ia berbalik perlahan. "Apa kau bilang?" tanya Sakura, menantang Aoi untuk mengulangnya sekali lagi. Mata emerald-nya menatap dalam mata cokelat gelap Aoi. Sakura tahu tatapan matanya sekarang berbahaya dan penuh ancaman pada Aoi karena gadis kecil mungil di depannya itu perlahan sedikit melangkah mundur. Tapi mengetahui ada kerumunan mengelilingi mereka, Aoi tidak bisa menunjukkan ketakutannya.
Aoi berdiri tegak. "K-kau mendengarku. Seorang babu. Rakyat jelata. Bukan siapa-siapa. Berpakaian seperti kau menghadiri pemakamanmu sendiri, bukan? Tempatmu bukan di sini. Jadi pergilah dan menjauh. Kembali ke kehidupanmu yang menyedihkan." Dengan kata-kata itu melekat di udara, Aoi mengangkat sebuah gelas dan menyesapnya seakan-akan itu membuat perbedaan status mereka terlihat.
Sakura menggeram pelan. Lalu ia melakukan sesuatu yang ia pikir tak akan pernah ia lakukan dalam hidupnya.
Ia menerjang.
Seperti singa yang menyerang mangsanya, Sakura melempar tubuhnya pada Aoi. Ia mengulurkan lengannya untuk menahan bahu Aoi dan mendorongnya ke lantai. Mereka berdua meronta-ronta sementara kerumunan menyaksikan mereka dengan terkejut dan mulut yang menganga terbuka. Jeritan Aoi memenuhi udara ketika Sakura menarik-narik rambut brunette keriting Aoi dan berhasil merusak entah berapa jam yang Aoi investasikan untuk menatanya. Aoi menjerit lagi tapi mengulurkan cakarnya untuk mencarik-carik blazer Sakura dan menarik salah satu kancing Sakura dan melepaskan benangnya. Aoi menggigit pergelangan tangan Sakura dan Sakura memekik kesakitan sambil melompat dari Aoi dan malah mengusap ruam kemerahan yang terbentuk di pergelangan tangan kirinya.
Menggunakan kesempatan ini, Aoi mendorong Sakura lalu meludah pada wajahnya.
Sakura berkedip seakan tersadar dari ilusinya. Cairan lengket itu menuruni wajahnya, dari pipi menuju dagunya. Sakura mengulurkan tangan ke atas untuk menyentuh wajahnya dan menangkap bau dari cider apel di ujung jarinya. Aoi berdiri sejauh satu kaki darinya dengan sebuah gelas kosong di tangan kirinya dan seringai puas di wajahnya.
Rambut Aoi sepenuhnya berada di tempat sebelumnya tanpa kehilangan sehelai rambut pun. Sakura menatap ke bawah dan melihat blazer-nya masih sama seperti blazer pudar lima menit yang lalu, dengan semua kancing utuh dan benang yang menjuntai keluar dari tempatnya. Sakura berdiri tercengang, menyadari ia hanya membayangkan seluruh skenarionya dan terlihat bodoh sementara Aoi mengambil keuntungan situasi dengan membuang cider apel padanya.
"Kau terlihat tidak percaya, bukan?" balas Aoi sambil meletakkan gelasnya di atas meja. "Kau seharusnya benar-benar memperhatikan lain kali karena kelihatannya pakaianmu ingin dibebaskan dari kesengsaraan dan diletakkan di tempat sampah. Sekarang aku pikir pakaianmu mendapatkannya."
Aoi tertawa dan kelompoknya ikut tertawa dan menunjuk Sakura dengan suara bisikan memenuhi udara. Kerumunan menjadi lebih besar dan semua orang memandangi dua gadis yang berada di tengah dan keheningan pecah saat orang-orang mulai berbisik satu sama lain tentang apa yang terjadi.
Sementara Sakura membayangkan pertengkaran ganasnya dengan Aoi, gadis brunette itu mengambil kesempatan untuk menuang cider apel dari gelasnya pada Sakura. Bukti dari aksi Aoi menetes dari helai rambut pink Sakura sementara Sakura menggertakkan giginya, marah pada dirinya sendiri karena membiarkan Aoi menang.
Suara dari kerumunan semakin keras saat bisikan bukan lagi berupa bisikan tapi cemoohan dan gelak tawa.
"Pergi dari sini!"
"Tempatmu bukan di sini!"
Sakura menggigit bibirnya. Ia terlalu kuat untuk membiarkan kata-kata itu mengusiknya. Ia tidak akan menangis, ia tidak akan membiarkan mereka melihat sedikit pun kelemahan dalam langkahnya ketika ia berbalik untuk berjalan menuju pintu untuk keluar dari sana.
Tapi sebelum Sakura melangkah, matanya menatap ke atas dan bertemu dengan sepasang mata onyx yang menatapnya kembali. Napasnya berhenti ketika menyadari siapa itu. Sasuke berdiri lima belas kaki darinya. Ia tidak tahu kenapa tapi saat itu, ia ingin menyusut dan merayap ke dalam sebuah lubang. Berdiri di depan Sasuke dalam keadaan kotor dan berantakan dengan kerumunan menertawainya di pesta yang Sasuke robek undangannya rasanya seperti menimbun pisau belati di hati Sakura. Jika ada yang lebih rendah dari rendah, Sakura yakin ia sudah mencapainya.
Sakura dengan ragu mengambil langkah pertamanya karena berjalan dengan terhina terasa lebih sulit sepuluh kali lipat sekarang karena ia harus berjalan melewati Sasuke ketika ia berusaha menghindarinya sepanjang waktu. Karena itu semua orang yang ada di ballroom sadar akan keributan yang berasal dari halaman. Orang-orang buru-buru menyingkir dari jalan di antara Sasuke dan Sakura seakan-akan tidak ingin tertangkap dalam perang yang mungkin terjadi nanti.
Gadis cherry blossom itu mengangkat kepalanya tinggi dan mengambil langkah pertamanya ketika jalannya seketika kosong. Dengan matanya tidak pernah berpaling dari mata Sasuke, Sakura dengan berani berjalan maju dan perlahan menuju pintu. Tapi bahkan sebelum ia mencapai setengah jalan, seseorang muncul dari kerumunan dan berdiri di tengah jalannya.
"Haruno Sakura. Kau pikir apa yang kau lakukan—mengenakan pakaian itu ke pesta ini?"
Mata Sakura dipenuhi kebingungan saat ia memandang Tenten yang berdiri menjadi penghalang dirinya dan pintu. Tenten mengerutkan bibirnya dan meletakkan tangannya di pinggang sambil menunggu jawaban Sakura.
Sakura terdiam beberapa saat. Akhirnya setelah momen menyiksa yang panjang, Sakura merespon. "Uh, aku minta maaf?"
Tenten mengangguk seakan-akan kecewa.
Aoi melangkah dari belakang Sakura. "Jangan khawatir Tenten. Hal ini baru saja akan keluar dan membuang dirinya sendiri di tempat lain. Kami hanya membersihkan kekacauan ini untukmu."
Tenten tersenyum manis pada Aoi. "You're such a sweetheart to help out. Tapi aku takut kau melewatkan sesuatu. Faktanya, kau melewatkan sesuatu yang besar." Dengan berkata begitu, Tenten mengangkat ekor gaun hijau jade gelapnya dan berjalan ke depan, melewati Sakura dan Aoi menuju selang air di air mancur halaman belakang. Beberapa detik setelahnya, selang air menyala dan Tenten mengarahkannya dengan kekuatan air yang keras pada arah Sakura. Sakura segera menutup matanya dan bersiap melindungi dirinya dengan lengannya. Tapi serangan itu tidak pernah datang. Sakura menurunkan lengannya dan membuka matanya perlahan. Ia menahan napas pada pemandangan di depannya.
Tenten, faktanya, menyerang Aoi dan kelompoknya. Para gadis itu memekik saat air membasahi mereka dan gaun mereka dari kepala sampai kaki. Tenten menyeringai sambil mematikan selang air. "Itu caranya untuk membersihkan sampah."
Sakura melongo pada Tenten dengan mulut terbuka. Tenten baru saja melakukan hal yang hanya dapat Sakura bayangkan. Sebelum Sakura bisa berkata sesuatu, Tenten menghampirinya dan menarik pergelangan tangannya. "Ayo, ganti pakaianmu. Aku tidak percaya kau tidak memberitahuku kau datang. Jika kau membutuhkan dress, aku pasti akan memberikannya padamu."
Sebelum Sakura protes, Tenten menariknya keluar halaman dari tengah-tengah kerumunan dengan mata yang membelalak dan mulut menganga. Segalanya menjadi buram bagi Sakura ketika ia mengingat samar-samar saat melewati kerumunan dan menaiki tangga, berbelok-belok melewati koridor identik. Tenten membawanya ke depan sebuah ruangan besar dengan dua pintu dan tanpa berpikir dua kali, gadis brunette itu mendorong pintunya dan menyalakan lampu.
Ruangan yang gelap menjadi terang dan menampakkan kehadiran dua wanita. Saat mereka melangkah masuk, lampu menyala di ruangan yang lebih dalam lagi yang Sakura tebak adalah kamar mandi. Ia nyaris berteriak kencang, bagaimanapun, ketika pintu lemari di dekatnya mulai bergerak. Tenten tertawa sambil menekan beberapa tombol pada remote yang baru saja ia ambil entah darimana dan pintu mulai terbuka di dalam ruangan.
Sakura menatap kagum pada pintu lemari dan pintu ruangan kecil terpisah yang terbuka saat ia berjalan, menampilkan gaun-gaun indah dan berbagai aksesoris. Display light untuk lemari sepatu menyala dan lemari kaca yang sangat banyak dan barisan tak terbatas dari sepatu designer tersusun dengan rapi pada tempatnya.
"Uhh, Tenten?" Suara Sakura bergema di dalam ruangan.
"Hmm, ada apa Sakura?" tanya Tenten muncul dari rak dress.
"Ruangan milik siapa ini? Please jangan beritahu aku kalau terkadang Sasuke diam-diam suka berpakaian sebagai wanita."
"Tidak tahu kah kau? Dia memiliki obsesi aneh dengan pakaian wanita sejak kecil."
Sakura menganga pada Tenten yang tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia bercanda.
"Haha, aku hanya bercanda. Wow, kau benar-benar percaya, ya?" kata Tenten sambil tertawa. Sakura ikut tertawa lemah. "Tapi jangan khawatir. Ruangan ini milik saudari ipar Sasuke. Setidaknya, seharusnya begitu. Oh ya, ruangan ini dirahasiakan dari sebagian besar staff dan terutama orang tua Sasuke. Hanya Nenek Sasuke dan staff maid-nya yang mengetahui tentang itu. Mereka yang menangani ruangan ini setiap hari. Dan tentu saja, sekarang kau mengetahui itu."
Sebelum Sakura bisa menanyakan sesuatu, Tenten mengeluarkan jubah mandi dan dua handuk putih dari lemari linen. "Ini, pergi mandi di dalam dan kau akan segar ketika keluar." Sakura mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata saat Tenten memberinya jubah mandi dan handuk. "Shampoo dan segala sesuatu yang kau butuhkan ada di dalam kamar mandi. Teriak saja padaku kalau kau membutuhkan sesuatu yang lain," kata Tenten sambil menuntun Sakura menuju kamar mandi.
Dengan berkata begitu, pintu di belakang Sakura tertutup. Sendirian di dalam, Sakura menatap refleksinya di cermin. Cider apel sedikit menetes menuruni rambutnya dan ketika ia menyentuh singkat helaian rambut pink-nya, itu meninggalkan rasa lengket pada ujung jarinya. Blazer-nya melekat pada kulit dan Sakura melihat betapa mengerikannya pakaiannya malam ini dibanding yang lainnya di pesta. Sakura meringis. Ia tidak bisa tidak peduli pada apa yang Aoi pikirkan, tapi kata-katanya masih mengandung beberapa kebenaran. Blazer-nya kendur seakan-akan seseorang yang melakukannya baru saja mati. Roknya timpang dan pudar seperti tak terawat. Kebenaran terungkap, Sakura mungkin menghadiri pemakamannya sendiri dengan datang ke rumah ini.
Ia membuka baju dan segera melompat di bawah shower sementara air panas menuruni punggungnya dan meringankan rasa sakit pada bahunya. Sakura mendesah. Ia tak sabar menunggu untuk keluar dari sini dan merangkak ke atas kasurnya dan melupakan seluruh malam ini juga fakta bahwa seluruh sekolah besok akan bergosip tentangnya. Seketika, wajah Sasuke muncul di kepalanya dan tampilan di matanya. Gelap dan muram, Sakura tidak bisa memberitahu apakah dia marah atau sedih. Pfft. Sedih. Mana mungkin. Dia pasti marah tentang bagaimana aku mempermalukannya dengan muncul di rumahnya.
"Pasti marah," gumam Sakura pada dirinya sendiri sementara suara air menghanyutkan kata-katanya.
Sakura melangkah keluar dari shower dan mengenakan jubah mandinya juga membungkus rambut pink-nya ke atas dengan handuk turban. Ia memercikan air dingin ke wajahnya dan lalu mengeringkan wajahnya. Melepas handuk di kepalanya, ia segera menyisir rambutnya sebelum mengeringkan helaian rambut pink-nya dengan hair dryer. Merasa segar dan baru, ia mengumpulkan pakaian kotornya dan keluar dari kamar mandi.
"Hei Tenten, apa kau punya baju dan jeans yang bisa ku pinjam? Aku akan mengembalikannya di sekolah atau bahkan besok..." suara Sakura terputus saat melihat Tenten mengeluarkan sebuah dress dari lemari.
"... jika kau mau," gumam Sakura saat Tenten memegang white pristine dress pada Sakura dan merenung sejenak. Sakura sedikit melangkah mundur ketika barisan bulu putih dress mengenai pergelangan tangannya. Bulu putih palsu melingkari bagian atas dan bawah dress yang tidak memiliki tali bahu itu. Dress satin itu dilengkapi mawar lembut yang menempel di bagian pinggang. Tenten mengeluarkan barang lainnya dari lemari. Kali ini, cape berbulu putih yang berkilauan di bawah lampu membuat itu terlihat seperti winter wonderland di jari Tenten.
Sakura menahan napasnya perlahan pada pemandangan di depannya. Tenten menyeringai. "Kau menyukainya? Kalau begitu beres sekarang," kata Tenten sambil memberikan dua barang itu pada Sakura.
"Tunggu—beres? Apa yang beres? Kau tidak mengharapkanku berganti pakaian dengan ini, bukan?" tanya Sakura bingung sambil memegang dress dan cape di kedua tangannya.
"Yah, tentu saja. Apa kau ingin berdansa dengan jubah mandi?"
"Berdansa? Kau berharap aku pergi lagi ke luar sana setelah apa yang terjadi?" Sakura menggelengkan kepalanya sambil mencoba mengembalikan pakaian tadi pada Tenten.
Tenten melipat lengannya. "Honey, jika kau tidak kembali ke luar lagi, kau akan menjadi apa? Kau tidak akan bisa menghadapi vulture jahat itu dengan kepalamu terangkat tinggi ketika kau kembali ke sekolah."
"Dan kau pikir aku bisa menghadapi mereka sekarang?"
Tenten mengangkat bahu. "Maka cobalah. Dengar, Sakura. Aku tidak memilihmu dari gadis lainnya di sekolah karena aku menyukaimu." Sakura mulai protes tapi Tenten mengangkat tangannya untuk membuat Sakura diam. "Oke, mungkin aku melakukannya karena aku menyukaimu. TAPI itu karena aku melihat sesuatu di dalam dirimu yang tidak aku lihat pada yang lain sebelumnya."
"Dan apa itu?"
"Aku belum mengetahuinya sebenarnya. Hanya semangat yang berbeda. Tidak ada omong kosong, tidak ada senyum palsu. Hanya dirimu sendiri yang sebenarnya bersinar. Aku tahu kau akan menjadi kekuatan cukup yang harus diperhitungkan. Dan aku benar melihat bagaimana Sasuke kesal menyebutmu."
Sakura hanya bisa tersenyum masam pada gambaran itu.
"Sekarang cukup pembicaraan kecilnya dan angkat bokongmu ke ruang ganti dan pakai pakaian yang aku pilihkan untukmu."
Sakura mendesah. Sepertinya tidak ada jalan keluar. Tenten bahkan lebih keras kepala dari Sakura dan tidak akan ada pilihan untuknya sekarang. Tenten membuka tirai untuk memperlihatkan ruang ganti pakaian yang luas dengan tiga cermin besar yang dikelilingi lampu besar. Kursi bantal merah ada di dekat sisi cermin.
"Oke, tapi aku hanya melakukannya untukmu. Dan kau lebih baik bahkan skor dengan Sasuke. Aku mengharapkan kemenangan ke-109 itu," ungkap Sakura.
Tenten menyeringai. "Please, ketika aku menang, dimana tentu aku akan, itu jelas akan lebih dari satu poin unggul," katanya dengan ejekan. "Sasuke akan menangis seperti bayi ketika aku melampauinya."
Sakura tertawa. "Aku pikir ketika itu terjadi, aku akan melakukan apapun yang kau ingin aku lakukan. Bahkan mengenakan dress ternorak yang bisa kau temukan."
"Ooh, aku akan menahanmu untuk itu! Jangan meremehkan kemampuanku dalam menemukan pakaian paling aneh yang pernah ada untukmu."
Sakura memutar matanya sebelum Tenten mendorongnya ke dalam ruang ganti. "C'mon, aku tidak mempunyai waktu sepanjang malam, aku harus berdansa dan makan dan bergaul dan tertawa untuk dilakukan," seru Tenten.
Dengan berkata begitu, tirai di belakang Sakura tertutup dan ia dihadapkan pada tiga versi refleksi dirinya di cermin. Sakura meletakkan pakaian hitamnya di sisi lain sambil memegang dress putihnya di tangan satunya dengan sangat hati-hati. Takut merusaknya atau mengotorinya, ia dengan hati-hati menggantung cape-nya pada pengait baju di sampingnya. "Ini pasti mahal," gumam Sakura pelan.
—Song of a Cherry Blossom—
Tenten menahan napas saat Sakura melangkah keluar dari ruang ganti. "Kau terlihat sangat cantik," sembur Tenten sambil buru-buru memghampiri Sakura. "Man, aku mengagumkan atau apa? Aku harus pergi ke retail atau sesuatu."
Sakura tertawa pelan sambil berbalik berputar untuk Tenten. Satin lembut mengenai kulitnya dan bulu di bawahnya sedikit menggelitik kaki Sakura. Tenten berlari ke ruang ganti dan mengambil cape bulu yang tergantung dan mengenakannya pada bahu Sakura. "Dan sekarang, pakaiannya sudah lengkap. Oh tunggu! Sepatu!" seru Tenten bersemangat. Tenten memberikan Sakura sepasang sepatu silver yang dihiasi berlian bertahtakan pita di setiap sepatu. Mata Sakura melebar.
"Itu bukan berlian asli, kan?" tanya Sakura.
"Tentu saja bukan, aneh. Uh, tapi kau mungkin harus berhati-hati dengan itu. Aku tidak bisa benar-benar tahu yang mana pasangan palsu dan yang asli."
Sakura menatap Tenten tidak percaya. "Kau bercanda, benar?"
Tenten menyeringai. "Siapa tahu? Tetapi dalam hal apapun, itu bukan urusanmu."
Sementara Sakura memakai sepatu, Tenten membawa kalung berlian yang berkilauan di bawah cahaya. "Woah, aku akan menghentikanmu sampai di sana, Tenten," kata Sakura sambil mengulurkan tangan untuk menghentikan Tenten. Sakura menunjuk kalung miliknya yang tergantung di leher. "Aku punya satu dan ini lebih istimewa untukku dibanding berlian apapun."
Tenten mengangguk, "Aku pikir ini sedikit berlebihan. Aku akan mengembalikan ini."
Gadis berambut gelap cepol itu kembali dengan tangan kosong dan senyum lebar di wajahnya. "Siap?"
Sakura memberengut. "Tidak sepenuhnya tapi sepertinya aku tidak memiliki kesempatan denganmu di sini."
"Itu dia semangatnya. Let's go dazzle!" kata Tenten gembira sambil mendorong Sakura menuju pintu.
Dengan menarik napas dalam, Sakura keluar bersama Tenten dengan bergandengan tangan sementara mereka menyusuri lorong dan sampai di atas tangga utama.
"Kau terlihat menakjubkan dan selama kau tetap mengangkat kepalamu tinggi, apa yang orang-orang pikirkan itu tidak penting," bisik Tenten di telinga Sakura.
Sakura mengangguk sambil menuruni tangga dengan hati-hati dan memegang pegangan tangga dengan cengkraman sementara pergelangan kakinya gemetar gugup dalam sepatu silver dengan Tenten mengikuti di belakangnya. Tangganya berbelok menurun dan secepat mungkin ketika Sakura terlihat oleh kerumunan di bawah, seketika obrolan berisik menjadi hening dengan cepat. Sekarang yang ia bisa dengar hanya suara batuk gugup dan canggung dan dehaman orang-orang di bawah juga banyak mata yang memandangnya. Sepatunya bahkan tidak membuat suara karena teredam oleh karpet.
Menelan ludah, ia memaksa mengangkat kepalanya tinggi dan melanjutkan langkahnya ke bawah. Sementara itu, pikirannya berkecamuk sambil mencari mata di keramaian dan menatap gelisah untuk sepasang mata familiar yang hangan dan ramah dan semoga akan menyelamatkannya dari perasaan gelisah karena menjadi pusat perhatian. Ia menutup mata sambil menuruni anak tangga terakhir dan ketika ia membukanya lagi, ia bertemu muka ke muka dengan sepasang mata obsidian gelap. Dengan sedikit terengah, melangkah mundur dengan terkejut namun hanya bertemu dengan anak tangga di belakangnya dan ia sedikit terpeleset ke belakang sebelum lengan dari sang pemilik mata menangkapnya dan menariknya mendekat.
"A-apa yang kau inginkan?" Sakura tegagap.
"Tidak ada," katanya dengan seulas senyum. "Mungkin sebuah dansa?" Ia tersenyum lagi, kali ini lebih seperti malu-malu dan jahat.
"Dengar Sai, aku tidak punya waktu untuk menghadapimu sekarang. Seseorang sudah mengalahkanmu untuk itu hari ini," kata Sakura sambil mencoba mendorong Sai.
"Jika kau berada di sampingku malam ini, kau bisa mengabaikan segala tatapan canggung dan bisikan-bisikan di sekolah hari Senin. Mereka mungkin akan memiliki sesuatu yang lebih baik untuk dibicarakan dibanding kekehan dan tertawaan."
Sakura menatap mata Sai. "Oh bagus, sebuah tawaran untuk menjadi pusat gosip rumor dibanding objek hinaan dan sebutan nama. Pilihan bagus diantara dua itu," kata Sakura sarkastik.
Sai mengangkat bahu. "Kau akan menjadi pusat salah satu dari keduanya pun. Tapi sepertinya lebih baik disebut pacar rahasiaku dibanding hag jelek seperti kenyataan, bukan?" ia tersenyum.
Sakura menggeram di bawah tenggorokannya. "Kau pasti memiliki kemampuan menyenangkan dan baik pada orang-orang," gerutunya.
Sai tersenyum sambil melangkah mundur dari tangga dan mengulurkan tangannya. "Sebuah dansa, fair lady?"
Sakura menampilkan senyum palsu untuk meniru Sai sebelum menerima uluran tangan Sai dan meremasnya kencang. Sedikit terlalu kencang jika boleh ia tambahkan. Sai memberi senyum lebih lebar seakan-akan tidak menaruh perhatian pada remasan maut pada tangannya.
"Jangan keberatan jika aku melakukannya," kata Sakura dengan manis sambil tetap meremas tangan Sai dengan kencang.
"Kau hag," kata Sai melalui giginya. Ia menuntun Sakura menuju lantai dansa di tengah-tengah semua tatapan dan bisikan. Band-nya mengambil isyarat dan mulai bermain musik dan seketika lantai dansa berisik lagi sementara orang-orang mulai melanjutkan obrolan normal mereka dan berdansa. Sayangnya untuk Sakura, musiknya adalah lagu lambat dan mereka berdua dengan canggung menahan tubuh satu sama lain untuk bergoyang mengikuti musik atau setidaknya membuat mereka terlihat bergerak seirama musik atau satu sama lain.
"Thanks," kata Sakura pelan.
"Untuk apa?" tanya Sai.
"Tidak ada. Hanya ingin mengucapkannya. Jadi kenapa tertarik untuk bahkan menolongku?"
"Aku tidak memiliki ketertarikan apapun. Aku mengundangmu dan meminta untuk melihat pakaian mengerikan seperti apa yang kau pakai untuk mengejutkanku dan kau benar-benar datang jadi aku datang untuk mengatakan kerja yang bagus."
Sakura berhenti berdansa. "Hei, ini adalah pakaian yang Tenten pilihkan," jawab Sakura.
"Ya, dan itu terlihat sangat mengerikan padamu."
Sakura mengernyitkan alis padanya. "Kenapa kau berbicara? Kau jelas tidak tahu cara untuk berbicara dan membuat nyaman hati seorang gadis."
"Aku sedang tidak mencoba untuk membuatmu nyaman sama sekali," balas Sai.
Sai berhenti berdansa. Untuk beberapa saat, keheningan terjadi di antara mereka berdua. "Kau terlihat..."
Sakura menunggu Sai menyelesaikan kalimatnya.
"... mengerikan."
Sakura menginjak kakinya.
Sai memekik pelan sambil melompat dengan satu kaki. "Hei, itu benar! Lihat dirimu, terbalut dalam dress indah dan sepatu dan wajahmu masih marah dan kesal terlihat seperti kau tidak ingin berada di sini sama sekali."
Sakura melipat lengannya. "Yah aku tidak. Tidak bahkan untuk sedikit pun aku ingin berada di sini. Pesta ini menyebalkan dan semua orang di sini sombong dan bahkan tidak akan bergaul denganku jadi apa poinnya? Untuk menambah itu semua, aku terjebak denganmu yang tidak melakukan apapun selain menhinaku sejak pertama kali bertemu. Aku SUDAH tersenyum sebelum kau pergi dan membuka mulut besarmu."
"Ah, tapi apa kau tersenyum karena senang atau tersenyum palsu untuk menyembunyikan segala kemarahanmu?" catat Sai.
"Kenapa itu penting? Senyum mana saja yang aku tunjukkan, kau akan tetap memanggilku hag jelek."
Sai tersenyum. "Kau tidak tahu bahwa," ia berbisik di telinga Sakura.
Sakura menjatuhkan lengannya di samping tubuhnya. "Kau terlihat mengerikan. Cantik mengerikan," kata Sai lembut sementara kata-katanya tergantung di udara. Sakura melangkah mundur dan menatap Sai. Sai berdiri dengan senyum di wajahnya dan memiringkan kepala.
"Ayo jalan-jalan?" tawar Sai ketika tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Sakura. Ia menarik lengan Sakura dan tanpa suara, mereka meninggalkan lantai dansa dan pergi ke meja panjang berisi makanan pembuka dan minuman.
"Lapar?" tanya Sai.
Sakura menggeleng, masih tidak percaya dengan kata-kata Sai.
"Kucing mengambil lidahmu?"
Sakura menatap Sai. "Tidak," katanya dingin. "Hanya tepatnya kenapa kau menaruh perhatian padaku?"
"Ada birdie kecil memberitahuku kau adalah gadis jidat menyebalkan yang selalu membuat masalah untuk dirinya sendiri. Aku berpikir pada diriku sendiri bahwa aku akan senang untuk bertemu dengan orang seperti itu."
"Sasuke," geram Sakura.
"Yes, my dear cousin. Apa kalian berdua pasangan?" tanya Sai.
"Aku? Pasangan? DENGAN DIA?" seru Sakura.
Beberapa orang di dekat mereka menengok untuk menatap pada ledakan Sakura. Ia segera menyeret Sakura pergi ke sudut dan merendahkan suaranya. "Tidak, tidak dalam jutaan tahun. Tidak bahkan jika ia adalah laku-laki terakhir di bumi," sumpahnya.
"Oh, lalu bagaimana denganku?" tanya Sai.
"Bagaimana denganmu?"
"Apa yang kau pikirkan tentang aku dan kau?" tanya Sai sambil tersenyum.
Sakura menganga tidak percaya pada Sai. "Apa kau bercanda atau hanya sedang bermain-main denganku?"
Sai tersenyum lagi. Kali ini, mungkin lebih tulus dibanding senyum artis yang sering ia tampilkan sebelumnya. "Hm, aku tidak tahu. Aku pikir aku hanya menguji air denganmu terlebih dahulu sebelum aku bertanya pada orang lain."
"Gee, terima kasih untuk membuatku menjadi guinea pig," Sakura berbicara sarkastik.
"Apa pendapatmu tentang lukisan ini?" tanya Sai tiba-tiba.
Sakura menatap ke atas dan menyadari poster besar yang tergantung di depan mereka. "Cara untuk mengubah pembicaraan," gerutu Sakura.
Sakura menatap potret itu sebelum memperhatikan detail gambarnya. Tiga orang berdiri di samping pohon tinggi dengan orang keempat melompat turun seakan-akan ia terlambat dan pergi untuk menyapa tiga orang lainnya. Wajah mereka terlalu kecil untuk membedakan dengan jelas siapa mereka tapi setiap wajah tersenyum. Di belakang pohonnya adalah background mempesona dari perkotaan yang indah dan burung-burung terbang di langit biru.
"Itu indah," gumam Sakura pelan. "Apa nama lukisannya?"
Sai mengangguk dan mengangkat bahu. "Seorang seniman tidak pernah memberi nama lukisannya. Selalu tanpa nama."
"Itu memalukan," komentar Sakura.
"Kau akan menyebutnya apa?" tanya Sai sambil menatap Sakura.
Sakura mengelus alisnya dalam konsentrasi penuh. "Hm, meskipun orang-orang yang ada di lukisan berdiri terpisah, kau bisa memberitahu bahwa mereka terlihat dekat satu sama lain. Dapat diandalkan dan ada untukmu. Tentu, mereka bukan orang asing. Mereka... teman."
"Teman?" ulang Sai.
"Yeah, teman baik. Yang tidak akan pernah meninggalkanmu," kata Sakura lembut.
"Menarik."
Mereka berdua berdiri dalam diam, hanyut dalam pikiran masing-masing, sambil tetap mengamati lukisan di depan mereka dengan suara berisik pesta menjadi background di belakang mereka.
"Sakura..."
"Hm?" Sakura menoleh. Hal selanjutnya yang ia tahu, Sai bersandar maju ke arahnya. Lebih dekat dan lebih dekat, wajahnya perlahan mendekati wajah Sakura. Dan lalu, Sai menciumnya.
—Song of a Cherry Blossom—
A/N:
Hai semuanya!
First, I wanna say happy new year to you all—meskipun udah lewat :D I hope this year will be a good year to you guys.
Well I hope you enjoy this chapter—walaupun Sasuke masih belum beraksi haha.
Yah, I have nothing to say anymore. See you next chapter^^
