Naruto © Masashi Kisimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 15 — Stroke of Midnight
Sakura berkedip dua kali sambil mencoba mencatat di otaknya apa yang sedang terjadi. Bibir yang tertanam di bibirnya tak lain adalah bibir Sai. Sakura mendorong paksa Sai menjauh dengan kebingungan dan amarah dalam dirinya.
"A-apa itu?!" Sakura tergagap.
"Sebuah ciuman?" jawab Sai seakan bingung mengapa ada pertanyaan seperti itu.
Sakura menatap Sai dengan kosong. "Yeah aku tahu itu, Tuan Tahu-Segalanya." Sakura mengeluarkan geraman frustrasi. "KENAPA!" katanya lebih seperti tuntutan dibanding pertanyaan.
"Kau tahu, kau dan sepupumu mirip," lanjut Sakura tanpa menunggu jawaban Sai. "Pergi mencium gadis-gadis seperti itu tidak—"
Sakura berhenti pada tengah kalimat dengan horror.
"Seperti itu tidak apa?" dorong Sai. "Apa Sasuke sudah mencium mu akhir-akhir ini?"
"T-tidak. Tidak, tentu saja tidak. Maksudku aku bertaruh dia pasti memiliki kesamaan denganmu," kata Sakura sambil mengalihkan pandangan dari Sai.
"Hm, kau benar. Dia sepertinya tidak akan mencium mu. Tidak ketika pikirannya terpusat pada gadis lain itu. Oh ya, siapa namanya?" kata Sai sambil meletakkan jarinya di dagu seakan-akan sedang berpikir keras.
"Siapa, Ino? Sepertinya, Ino adalah pacar Sasuke atau semacamnya."
Sai tersenyum. "Oh benar, Saki."
Sakura membeku pada nama itu. Dia tidak tahu. Jangan panik. Dia tidak tahu sama sekali itu kau.
"O-oh, jadi Sasuke menyukai penyanyi klub itu?" Sakura tergagap.
"Kau pasti mengenalnya kan? Kalian bekerja di tempat yang sama."
"Y-yeah, tentu saja. Kami bekerja bersama," kata Sakura dengan mata yang fokus pada hal apapun selain Sai.
"Kalau begitu kau pasti tahu identitas aslinya."
Sakura menatap Sai. "Kenapa kau menganggap dia memiliki identitas palsu?"
Sai mengangkat bahu. "Aku hanya bingung kenapa dia rela melalui banyak masalah hanya untuk menyembunyikan dirinya." Sai menatap Sakura lekat sambil membungkuk padanya. "Maksudku, apa kau akan bersembunyi jika kau menjadi dia?" Sai berbisik pada kuping Sakura.
"A-aku-aku tidak tahu. Mungkin dia tidak ingin orang-orang menanyakannya seperti ini," kata Sakura pelan.
Sai menegakkan tubuhnya. "I supposed. Aku pikir aku harus menyimpan semua kesenangan itu untuk diriku sendiri kalau begitu," kata Sai sambil menyeringai.
Ya Tuhan. Dia tahu.
Itu adalah satu pikiran yang berlarian melalui benak Sakura ketika ia menatap Sai yang berjalan menjauh darinya. Ia harus pergi dari sana. Sebelum orang lain mulai curiga padanya. Sakura memacu langkah dengan kalut sambil memikirkan solusi untuk situasi itu.
Aku harus bicara padanya. Aku harus tahu jika dia benar-benar mengetahuinya.
Dengan kumpulan pemikiran itu, Sakura mulai pergi menyusul Sai. Ketika ia berhasil mencapai beberapa langkah di belakang Sai, Sakura mengulurkan tangannya untuk menepuk bahu Sai. Tetapi, di tengah udara, Sakura berhenti ketika mempertimbangkan konsekuensi jika ia bertanya atau bahkan memata-matai isi kepala Sai jika Sai benar-benar tidak tahu. Pemikiran itu tersangkut di belakang kepala Sakura sementara ia berdiri membeku.
Sakura menurunkan lengannya dan berbalik menjauh sementara menabrak orang lain.
"Oh, maaf. Aku tidak—" mulai Sakura sambil mendongak.
Mata onyx dingin menunduk menatapnya. "...melihat," kata Sakura pelan.
"Hn," adalah respon dingin yang ia dapat kembali.
Sasuke terus berjalan lurus mendahului dan melewati Sakura. Respon dingin itu mengusik Sakura terutama setelah Sasuke merobek undangannya di depan wajah Sakura. Sakura mengepalkan tangannya sambil merasakan kemarahan mendidih dalam dirinya.
Tidak tahu apa yang merasukinya, Sakura mulai berjalan menyusul Sasuke dan berdiri di depannya.
"Apa itu?" Sakura menuntut penjelasan.
Sasuke berkedip dua kali. "Apa?" tanyanya.
"Bahu dingin itu!"
"Sejak kapan kau peduli bagaimana aku memperlakukanmu?"
Sakura menggigit bibirnya. Dia benar. Sakura seharusnya tidak peduli tapi itu menganggunya lebih dari yang seharusnya. "Aku tidak tahu," ia menggerutu. "Kenapa kau sangat sulit untuk diajak bersama?"
"Aku tidak seramah sepupuku Sai," kata Sasuke. "Maupun mencium orang yang hampir tidak ku kenal."
Sakura mendengus. "What a great liar you are."
Sasuke menyipitkan mata. "A liar? Jadi kau tidak melemparkan dirimu pada laki-laki yang pertama berbicara padamu hanya karena kau sedikit berdandan?" tanyanya dengan nada mencibir.
"For your information, dia menciumku. Bukan yang lainnya."
Sasuke tertawa. "Benar, karena dari semua gadis yang akan ia cium, itu adalah kau."
Sakura membuka mulut untuk membalas tetapi Sasuke mengangkat tangannya untuk membungkam Sakura. "Lupakan, lakukan apa yang ingin kau lakukan." Dengan berkata begitu, Sasuke berbalik untuk menaiki tangga.
Gadis cherry blossom itu melotot pada punggung Sasuke. Sasuke salah jika dia berpikir kata-kata terakhirnya berhasil membuat Sakura diam. Sakura berlari menaiki tangga sambil menyaksikan Sasuke berbelok.
Sakura kembali berada di lorong yang sama yang baru saja ia langkahi. Di depannya, Sasuke masuk ke dalam sebuah ruangan di bawah lorong.
Sakura mengambil sebuah langkah kecil sebelum ia berjalan dengan percaya diri menuruni lorong menuju pintu yang baru saja Sasuke lalui. Ia menatap kenop pintu dengan sedikit keraguan sambil perlahan menyentuh kuningan kenop pintu itu.
Ia menatap pintu sambil bertanya-tanya apa yang akan ia katakan jika ia masuk. Keheningan di lorong menjalar di sekelilingnya tetapi pikirannya bising dan berkecamuk seperti petir. Tangannya yang lain menyentuh bibir bawahnya sambil mengingat ciuman-ciuman yang sudah ia terima sebelumnya.
Tangannya sedikit bergetar ketika mengingat bagaimana Sasuke menciumnya sebagai Saki. "Melempar diriku pada laki-laki yang pertama ku lihat..?" Sakura menggerutu dengan marah. "Dasar rambut bokong ayam..." suaranya semakin keras pada setiap suku kata.
Sakura mendongak dengan api berkobar di matanya sambil memutar kenop pintu. Sebelum ia bisa membuka pintu, pintunya terbuka sementara Sasuke berdiri dengan ekpresi stoic di wajahnya.
Tertangkap basah, Sakura menganga terkejut sambil mengumpulkan kata-kata.
"B-bagaimana kau tahu aku ada di luar?" ia mulai berbicara tergagap.
"Aku bisa mendengarmu bernapas seperti kambing marah melalui dinding kedap suara ini."
Sakura menyipitkan mata pada ejekannya. "Pembohong! Kau tahu aku mengikutimu ke sini."
"Dan kenapa jika aku tahu? Kenapa kau ada di sini?" tanya Sasuke sambil melipat lengan.
Sakura meletakkan tangannya di pinggul sambil melewati Sasuke dan masuk ke dalam ruangan. "Aku pikir kita harus membuat jelas sesuatu di antara kita. Kelakuan childish-mu terhadapku adalah sebuah gangguan."
"Maaf aku tidak sedewasa sepupu tuaku Sai. Mungkin harusnya kau bersama dengannya," kata Sasuke.
Sakura memutar mata. "Ada apa denganmu dan Sai? Kenapa kau harus membawanya ketika ini tentang kau dan aku?"
"Tidak ada apa-apa di antara kau dan aku. Kau tidak tahu apa-apa tentangku," jawab Sasuke ketus.
Gadis cherry blossom itu tertawa mengejek. "Biarkan aku memberi analisis cepat tentangmu. Kau dibesarkan dengan semua hal yang kau inginkan di dunia ini. Setidaknya, begitu lah pikiranmu. Kekayaan, martabat, seluruh perusahaan. Kau tidak pernah bekerja satu hari pun dalam hidupmu dan kau pikir kau bisa mendapat apa yang kau inginkan hanya dengan satu jentikkan jari. Kepercayaan seperti itu yang telah membuatmu menjadi angkuh, memandang rendah orang yang ada di bawahmu dalam status, kekayaan, dan pada dasarnya segalanya. Kau mungkin memiliki banyak teman dan jaringan sosial yang luas tapi kau masih merasa kesepian di dunia ini karena kau bahkan tidak tahu siapa dari teman-temanmu yang bisa kau percaya. Itu mengapa kau terjebak dan kau mendorong jauh orang lain yang mencoba dekat denganmu karena kau curiga pada orang lain dan bahwa mereka hanya memanfaatkanmu."
Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura. "Kau tidak tahu aku," geramnya.
Sakura menahan napas namun dengan cepat memperoleh ketenangannya kembali. "Kau benar. Aku memang tidak mengenalmu sama sekali. But I must know enough to hit a nerve inside of you."
Sasuke menatap tajam mata Sakura. Tapi Sakura menahan pandangannya dan tidak terguncang.
Sasuke akhirnya mengalihkan pandangannya, tidak dapat menatap mata Sakura. "Kau itu apa? Seorang psikiater?" Ia memberengut.
"Tidak, aku hanya menonton banyak drama dan kau jatuh pada tipikal dilema anak laki-laki kaya," Sakura menyatakan fakta.
Sasuke mendengus. "Jadi apa? Kau pikir kau akan menjadi pahlawan dari pertunjukan ini untuk menyelamatkanku? Tebak lagi. Kau dan aku tidak sebanding sama sekali," Sasuke berkata perlahan-lahan sementara implisit tergambar di kalimat terakhirnya.
Sakura tertawa seakan-akan tidak percaya apa yang barusan ia dengar. "Oh, aku tentu saja tahu kita tidak sebanding. I wouldn't in a million years put us together. Jika yang lain, aku akan memilih Naruto sepenuh hati dibanding dirimu. Aku hanya mencoba menolongmu karena kelihatannya kau membutuhkannya."
Alis Sasuke bertaut. Sesuatu dalam kata-kata Sakura membuat bulu romanya berdiri dengan kemarahan. "Aku tidak butuh pertolonganmu," gertak Sasuke. "Dan si bodoh itu dibanding aku? Please, bahkan dia tidak akan memilihmu bahkan jika kau memohon padanya. Your attractive value is below zero."
Sakura melompat dalam tantangan. "Hei! Hanya karena aku tidak memamerkan tubuh seperti pacarmu atau semua gadis yang ada di dekatmu bukan berarti aku tidak bisa menarik perhatian laki-laki." Sakura melotot padanya. "Aku bertaruh aku bahkan bisa membuatmu jatuh cinta padaku tanpa kau sadari."
Sasuke mengejek. "Berhenti memuji dirimu sendiri, wanita. Itu akan hanya menyakiti dirimu sendiri pada akhirnya."
Tanpa mengetahui itu, Sakura menginjak kaki Sasuke dengan ujung heels berliannya. Sasuke dengan segera memekik dan membungkuk untuk memegang kakinya.
Dengan seringai Sakura berkata, "Aku baru saja membuatmu mengakui aku ini wanita DAN mendapatimu membungkuk padaku dalam 30 detik. How's that for flattery?" balasnya.
Sasuke mendongak sambil meringis dalam kesakitan dari kakinya yang bengkak. "Kau memiliki kaki monster raksasa." Sasuke terjatuh ke lantai dengan kakinya dalam genggaman tangannya dan kepalanya terkulai ke bawah.
Seketika rasa bersalah menerpa Sakura dan dengan cepat ia berlutut di samping Sasuke. "K-ka-kau baik-baik saja? Aku tidak bermaksud menginjak terlalu keras. Aku hanya ingin membuktikan. Maksudku, kau memiliki ego yang besar.. Aku hanya ingin membuat itu setimpal. Siapa yang tahu kau seperti bayi besar? Maksudku, apa yang aku coba katakan adalah...aku tidak tahu. Apa kau butuh es? Oke, kau benar. Aku mungkin tidak bisa memikat laki-laki. I am terrible with guys. Aku kira itu karena aku terlalu keras kepala dan sarkastik. Tapi kau tidak bisa menyebutku tidak menarik sama sekali. Maksudku, aku seorang gadis. Apa kau tahu betapa menyakitkan mendengar itu dari seorang laki-laki? Bukan berarti segala yang kau katakan bisa menyakitiku karena kau memiliki tulang punggung dari es balok. Apa yang coba aku katakan adalah aku puas menginjak kakimu karena kau pantas mendapatkannya. Dan jika kau adalah pria sejati, kau akan menerimanya...dibanding...dibanding..."
Sasuke menarik dagu Sakura dan menciumnya. Dengan paksa dan keras pada awalnya dan Sakura menahan napas terkejut sementara matanya membesar shock. Sakura mengangkat kepalan tangannya pada dada Sasuke untuk mendorong Sasuke namun Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura dengan tangannya yang bebas. Cengkraman Sasuke menahan Sakura, tidak dengan penuh ancaman tapi tegas hampir dalam cara yang gentle tapi ditandai dengan tingkat kekasaran tertentu. Ciuman Sasuke semakin dalam dan ditandai dengan passion kali ini dibandingkan kekasaran. Napas Sakura tertahan di belakang tenggorokannya sementara pikirannya berteriak padanya. Pikirannya memberitahunya untuk bergerak, untuk menahan, untuk mundur ke belakang dengan cepat, apapun tapi balas mencium.
Tapi lalu bahkan suara terkecil di balik suara pertama memberitahunya untuk melakukan itu. Untuk membalas ciumannya. Dan ia melakukannya.
Pikirannya dipenuhi pertanyaan sementara bibir Sasuke terkunci dengan bibirnya. Kenapa Sasuke melakukan ini? Kenapa ia membiarkannya? Kenapa ia menikmatinya?
Sakura berada dalam kebingungan tapi ditengah-tengah itu semua adalah kesenangan dan kepuasan. Cengkraman Sasuke pada pergelangan tangan Sakura mengendur sementara dia melepaskannya dan Sakura menjatuhkan lengannya untuk menyandarkannya di atas paha Sasuke. Sasuke mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Sakura dan mengelusnya dengan lembut.
Di kejauhan, denting dari menara jam bergema di seluruh ruangan. Dua belas denting untuk menandai tengah malam. Akan tetapi, untuk mereka bedua yang ada di ruangan besar itu, waktu seperti berhenti. Mereka berciuman untuk apa yang menjadi seperti keabadian, masing-masing tidak menarik napas agar tidak ada yang berhenti. Akhirnya, Sasuke menarik tubuhnya mundur dan keheningan menyapa mereka sementara mereka menatap satu sama lain.
—Song of a Cherry Blossom—
A/N:
Hello, it's me~
Hayo, siapa yang bacanya sambil nyanyi? Hehehe. Akhirnya setelah sebulanan, aku baru bisa update fanfic ini. Harap maklum, bulan kemarin hp-ku rusak dan kemarin-kemarin emang lagi padat jadwal. Bayangin, setelah UCUN II, seminggu kemudiannya aku langsung UAS. Hari terakhir UAS, besoknya ujian praktik. Dan habis ujian praktik, cuma ada libur empat hari terus langsung US. Ya Tuhan, otak rasanya sariawan.. Belum mikirin nilai hasilnya hiks T.T
Yah, jadi kemungkinan update buat fanfic ini masih bakal lama juga, karena aku bakal ngehadepin les dan PM habis-habisan buat persiapan UN yang cuma 1 bulan kurang lagi. Tenang, kalo udah selesai UN pasti langsung bebas sebebas-bebasnya. Mau jungkir balik kek, tidur seharian kek pokoknya merdeka! Yah, paling cuma stres mikirin NEM nanti he..
Oke, sekian dulu curcolnya. Sampai jumpa lagi di chapter depan~
