Naruto © Masashi Kisimoto

Song of a Cherry Blossom © Diana-san

Indonesian Ver. © Yuki Kanashii

Chapter 16 — Sai's Revelation

Sinar bulan menembus masuk melalui jendela yang terbuka sementara keheningan memenuhi malam. Angin sedikit berhembus dari luar membuat tirai putih bergoyang dengan perlahan.

Tidak sekali pun pandangan mata mereka terputus sementara keheningan menyesakkan mereka. Udara menjadi tebal sehingga Sakura tidak dapat membantu selain berkedip dua kali dengan cepat. Ia mencoba memahami kata-kata yang ada di otaknya tentang apa yang baru saja terjadi. Ia menelan ludah namun bisa merasakan kerongkongannya kering seperti batu dan tangannya berkeringat.

Sakura bertanya-tanya apakah ia yang harus berbicara pertama kali atau ia harus menunggu sedikit lebih lama dengan harapan laki-laki di depannya yang berbicara pertama kali untuk menghilangkan keheningan yang canggung di antara mereka.

Sasuke pasti merasakan Sakura menunggunya karena ia mulai membuka mulut untuk mengatakan sesuatu.

"Aku—"

Sebelum Sasuke melanjutkan, suara berdering yang teredam menginterupsi kata-katanya. Keduanya berkedip pada satu sama lain dengan bingung seakan-akan bunyi itu hanya ilusi.

Saat Sakura berkedip dengan bingung, Sasuke memutuskan untuk merogoh kantong jaketnya untuk mengeluarkan ponsel yang berbunyi.

"Maaf," gumam Sasuke pada Sakura lalu menjawab teleponnya.

"I-Ino..." ucap Sasuke dengan suara terkejut ketika mendengar suara pacarnya yang familiar di telepon. Ia menatap Sakura yang mengalihkan pandangan. "Y-ya, aku di atas. Kau pergi sekarang? Aku agak sibuk sekarang, aku telepon lagi nanti."

Sasuke segera memutuskan teleponnya namun Sakura sudah berdiri.

"A-aku harus pergi," kata Sakura buru-buru sebelum Sasuke berbicara satu kata pun.

Sakura berbalik dan buru-buru keluar, jantungnya berdebar kencang sementara ia mengangkat kedua sisi gaunnya untuk menahannya dan berlari turun. Tidak sekalipun Sakura berbalik dengan rasa takut bahwa ia mungkin saja melihat Sasuke mengejarnya. Atau yang terburuk, bahwa mungkin Sasuke tidak mengejarnya sama sekali. Benaknya berlarian dengan penuh pemikiran, semuanya mencoba berteriak padanya secara bersamaan.

Apa yang aku pikirkan? Ia memiliki pacar! Bagaimana bisa kau membiarkan ia mencium mu? Kenapa kau balik menciumnya?

Namun dibalik semua pemikiran itu satu pikiran terus menggerogoti benak Sakura. Ia menahan air mata ketika sadar bahwa mungkin, mungkin saja, ia jatuh cinta pada Uchiha Sasuke. Dan mungkin, mungkin saja, ia patah hati karena Sasuke pada waktu yang bersamaan.

It was never meant to be.

Sakura berlari menuruni tangga menuju pintu keluar terdekat yang bisa ia temukan. Berkedip untuk menahan air matanya, semua yang ada di depan Sakura terlihat berkabut sementara penglihatannya melalui keramaian dan cahaya menjadi kabur. Suara obrolan dan musik tidak terdengar lagi oleh telinganya dan lebih dari apapun, Sakura berharap ada di mana pun kecuali di sini sekarang.

"Sakura?"

Suara yang memanggil nama Sakura membuatnya terkejut dan ia sedikit melompat sebelum berbalik perlahan. Itu bukan Sasuke namun Sakura menahan napas leganya. Itu adalah Sai.

Sai menatap Sakura dengan sedikit bingung terlihat di wajahnya namun ekspresi itu kemudian berubah saat ia kembali menjadi stoic. "Ada apa?" tanyanya, terlihat prihatin.

"N-nothing," Sakura tergagap. Ia tidak ingin mengatakan apapun lagi karena takut ia mungkin saja tiba-tiba terjatuh dan menangis di tengah lantai dansa. Ia berbalik untuk pergi namun Sai menahan pergelangan tangannya.

"Biarkan aku mengantarmu pulang kalau begitu," tawar Sai.

"It's fine. Aku bisa pulang sendiri," kata Sakura pelan.

"Kau tidak akan bisa mendapat taksi di sini dalam 30 menit," kata Sai.

Sial. Sakura berbalik dengan ragu. Aku tidak bisa berada di sini lebih lama lagi.

"Baiklah."

Sakura mengikuti Sai keluar pintu dan lega merasakan udara dingin menyentuh kulitnya. Itu seperti memiliki efek menyembuhkan untuknya sementara ia mencoba meredakan detak jantungnya. Sai melambaikan tangan pada seorang pria yang muncul sebagai sopirnya.

Sakura berjalan mengikuti Sai. Ia bertanya-tanya apakah ia lebih baik kembali untuk mencari Naruto.

Tidak.. Naruto pasti akan bertanya macam-macam kenapa aku pulang lebih awal. Setidaknya dengan Sai, ia mungkin tidak akan berkata satu kata pun padaku.

Boy, was she wrong.

Mereka berjalan menuju sedan hitam dan sopir membukakan pintu untuk mereka berdua. Sakura masuk terlebih dahulu dan Sai mengikuti setelahnya.

Sai memajukan tubuhnya menuju kursi pengemudi untuk memberikan selembar kertas pada sopir melalui celah kursi sebelum kembali duduk ke kursinya.

"Ke lokasi itu please."

Sopir mengangguk dan menyalakan mesin.

Sakura menengok pada Sai. "Kemana kita akan pergi? Aku ingin pulang."

"Ke klub," kata Sai pelan sementara mobil mulai berjalan.

"Klub? Kenapa?"

"You'll see," kata Sai merespons. Ia menengok menghadap Sakura. "Kau terlihat kacau. Apa Sasuke kesayangan kita melakukan sesuatu untuk mengganggumu lagi?"

Kata-kata yang diucapkan Sai terdengar prihatin namun wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun.

Sakura menggigit bibir bawahnya sambil berpikir untuk merespons. Pikirannya kosong. Ia tidak tahu harus berkata apa atau bahkan berpikir apa. Malam ini begitu luar biasa untuknya sehingga ia bahkan tidak yakin apa itu terjadi atau tidak.

Tetapi, itu betul-betul terjadi dan memori bibir hangat Sasuke menekan bibirnya muncul di benak Sakura. Secara insting, tangan Sakura meraih bibirnya seakan-akan ia hampir masih bisa merasakan ciuman itu di bibirnya. Sakura merasakan dirinya merona ketika menyadari apa yang sudah ia lakukan dan bersyukur kegelapan malam menyembunyikan warna di pipinya. Bagaimana pun, gerakan kecil Sakura tidak lepas dari pandangan Sai yang menatap setiap gerakannya.

"Kau mengingat ciuman terakhir kita?" kata Sai menggoda Sakura.

"TIDAK!" gertak Sakura.

Sai tersenyum. "Tentu saja tidak, kalau begitu pasti ada orang lain yang sudah mencium mu," sindir Sai. "Dan orang yang penuh passion pada hal itu," tambahnya.

"Kenapa kau peduli?" gerutu Sakura.

"Aku penasaran Sakura. Apa kau sudah mendengar banyak tentang keluarga kami?"

Sakura menatap Sai dengan bingung. "Bagaimana keluargamu? Selain memiliki banyak pencuri ciuman."

"Apa kau tahu saudara tertua Sasuke, Uchiha Itachi?"

Nama itu tidak terasa asing dalam memori Sakura. Seketika, ia teringat dengan foto yang ia temukan di rumah Sasuke. Kusut dan tersembunyi di balik tempat sampah. Laki-laki tinggi yang mirip dengan Sasuke hanya saja sedikit lebih tua dan dengan rambut yang lebih panjang. Sakura kembali teringat percakapan yang ia dengar waktu itu. Dari bagaimana saudara Sasuke pergi dan menikah dengan orang biasa.

"Dia menikah dengan seseorang dari status yang lebih rendah," kata Sakura pelan. Ia memikirkan kembali orang tuanya dan ironi dari cerita yang mirip.

Sai menatap keluar jendela. "Itachi adalah kebanggaan keluarga. Sasuke sangat menghormati saudara tertuanya dan ayahnya. Meskipun pamanku Fugaku tidak pernah memberi Sasuke perhatian dan cinta yang ia butuhkan, Itachi selalu ada untuk adiknya. Tapi ketika Itachi kawin lari dengan pacarnya, Sasuke tidak pernah memaafkannya karena pergi. Aku pikir satu-satunya yang ia dapat ketika kehilangan saudaranya adalah perhatian ayahnya untuk pertama kalinya. Sasuke menjadi pewaris tunggal perusahaan dan Paman Fugaku tidak pernah sekali pun membiarkan Sasuke lupa akan hal itu."

"Kenapa itu begitu penting bahwa Itachi menikahi gadis yang hanya orang biasa? Bukankah itu lebih baik bahwa dia menikahi gadis yang dia cintai?"

"Kau pikir jatuh cinta itu mudah karena kau tidak mendapat tekanan oleh tanggung jawab bagi jutaan nyawa."

Sakura terdiam sesaat. "Apa maksudmu?"

"Meskipun mungkin apa yang Paman Fugaku lakukan terlihat kejam dengan menghapus Itachi dari posisinya, dia punya alasan tersendiri. Dunia corporate adalah dunia yang kejam. Bahkan mungkin lebih buruk dari dunia entertainment. Seorang CEO mungkin terlihat hebat dan powerful tapi itu terkadang hanya untuk diperlihatkan. Sebuah kepala hanya akan kuat jika sebuah tubuh juga kuat dan menyokongnya. Jika tubuh hilang, maka kepala juga akan ambruk."

"Aku tahu kau menyukai analogi dalam mu dan segalanya tapi aku tidak terlalu mengikuti."

"Itu sama dengan para dewan pengurus yang menyokong CEO juga memiliki kekuatan hebat dan bisa dengan mudah mengambil alih kekuasaan Sasuke jika mereka bersatu. Fugaku tahu itu. Itu apa yang terjadi dengan Itachi ketika Fugaku menyerahkan posisi itu kepadanya. Ketika berita kawin lari Itachi tersebar, Fugaku hampir kehilangan kontrol perusahaan. Para dewan pengurus tidak mempercayai kepemimpinan Itachi. Tadinya dia bertunangan dengan seorang putri pemimpin bank. Tanpa bantuan keuangan itu, perusahaan hampir bangkrut."

Sai berhenti seakan membiarkan kata-katanya tenggelam sebelum lanjut berbicara. "Semua hal tentang dunia corporate adalah persekutuan, ikatan, dan hubungan yang kau punya. Hampir seperti semuanya dalam masyarakat ini. Siapa yang kau kenal memiliki peran dalam kesuksesanmu. Siapa yang kau nikahi bahkan memiliki peran yang lebih hebat lagi. Fugaku mampu mengambil kembali posisinya tapi untuk mempercayakannya pada Sasuke nanti, jelas bahwa Sasuke harus menguatkan kedudukannya dengan menikahi seseorang yang bisa menyokongnya. Dengan begitu para dewan pengurus akan mempercayai kemampuan Sasuke dalam memimpin perusahaan."

Sakura menatap keluar jendela sambil memperhatikan lampu-lampu kota menjadi kabur. "Aku selalu berpikir bahwa orang kaya tidak memiliki kekhawatiran apa pun. Mereka terlihat seperti selalu mendapat apapun yang mereka mau." Ia tertawa pahit. "Aku tidak pernah berpikir tentang berapa banyak kesakitan dan tanggung jawab yang mereka pikul."

Sai tersenyum pada Sakura. "Aku memberitahumu semua ini karena satu alasan. Sasuke adalah sepupuku. Dia satu-satunya keluarga yang ku punya sejak kakakku meninggal."

"Dan alasan apa itu?"

"Sasuke itu keras kepala. Dia tidak menyadarinya tapi aku sadar. Sasuke menyukaimu. Dia tidak akan mengakuinya tapi itu benar. Dan mungkin dia tidak akan pernah mengakuinya karena alasan yang baru saja aku jelaskan tadi. Sasuke memiliki tanggung jawab sebagai seorang Uchiha."

"Jadi apa yang kau ingin aku lakukan tentang itu? Menjauhi Sasuke?"

"Tidak, justru sebaliknya. Aku tidak ingin dia sengsara karena terpaksa menikah."

Sakura menyela. "Dengar, mengira jika Sasuke bahkan memiliki perasaan untukku... itu bukan berarti ini semacam cinta sejati atau aku merasakan hal yang sama padanya atau kami berdua akan menikah dan hidup bahagia selamanya."

"Aku tahu... tapi itu tidak akan melukai hati untuk percaya. Aku tidak memberitahumu untuk menjauhinya karena dia sendiri akan menjauhimu."

"Aku ragu dia menyukaiku seperti itu. Dia mempunyai pacar." Sakura ingat ketika Sasuke mencium Saki. "Dan dia punya gadis lain yang membuatnya tertarik. Sepertinya dia punya banyak gadis."

"Jangan merasa buruk. Dia tidak pernah mempunyai hubungan yang sungguh-sungguh karena status playboy-nya."

"Apa yang membuatmu berpikir dia tidak bermain-main denganku?"

Sai menengok pada Sakura. Pandangannya melunak saat menatapnya. "Karena pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Sasuke kehilangan cool-nya kapan pun kau ada di sekitar."

Sakura tetap diam sambil menatap ke luar jendela.

Mobil sampai di Icha-Icha. "Kenapa kita di sini?" tanya Sakura.

"Sejak aku memberitahumu sebuah rahasia, aku rasa sekarang giliranmu untuk membagikan rahasiamu padaku."

"Ra-rahasia apa?"

"Jiraiya benar-benar tidak tahu cara menjaga rahasia ketika sedang mabuk," sindir Sai.

Sakura menutup matanya sambil mengusap pelipisnya. Malam ini sepertinya akan menjadi lebih rumit.

"Tapi dia juga salah satu alasan aku ada di sini. Rahasiamu adalah alasan aku bahkan ada di sini."

Sakura mendongak pada Sai. "Apa maksudmu?"

"Kau bisa bilang bahwa alasanku ada di Konoha karena dua hal. Satu adalah untuk mengamati kehidupan di sekolah menengah untuk peranku dalam film yang akan datang. Alasan lainnya adalah untuk mengamatimu."

"Aku?" Sakura nyaris menjerit.

"Rasanya ironi ketika aku mendengar tentangmu. Seorang gadis menjalani dua kehidupan. Itu secara aneh mirip dengan peranku di film. Seorang laki-laki yang menjalani hidup sebagai penyanyi terkenal dengan menyamar sementara menjadi murid sekolah menengah yang normal. Aku pikir menarik untuk memperhatikanmu dan melihat apakah aku bisa mendapat perasaan yang lebih baik untuk karakterku."

Sakura melongo padanya. Aku tidak percaya aku menghabiskan banyak waktu karena khawatir keceplosan sementara dia mengetahui semuanya.

"Dan kau mengatakan ini semua kenapa? Bukankah lebih baik mengamatiku tanpa aku ketahui?"

Sai tersenyum. "Itu bagiku untuk tahu dan kau untuk mencari tahu Nona Saki."

Sakura memberengut padanya. "Sepertinya kau mengetahui segala sesuatu tentang semua orang tapi kami tidak tahu apa-apa tentangmu."

"Itu yang aku inginkan. Sepertinya sudah saatnya mengucapkan selamat malam."

Sai keluar mobil dan membukakan pintu untuk Sakura.

Sakura menatap Sai sambil melangkah keluar dari mobil. "Melihatmu menjadi gentlemen bahkan membuatku lebih waspada padamu."

Sai tersenyum. "Kau sangat perhatian. Tapi masih ada rahasia yang tidak akan kau ketahui sampai nanti."

"Kau tidak akan berkata apapun tentang ini bukan?" tanya Sakura.

"Aku tidak punya alasan untuk melakukannya. Aku lebih memilih menyimpan alasanku ada di sini juga," jawab Sai dengan tenang.

Sai melepas coat-nya dan meletakannya di sekitar Sakura. "Malam ini dingin."

Sakura menatapnya dari sudut mata. Untuk beberapa alasan, semua hal kecil yang kau lakukan seperti memiliki tujuan tersembunyi. Aku tidak bisa membantu tapi merasa ada sesuatu lebih dari ini.

"Terima kasih," balas Sakura kaku. Ia mulai berjalan namun Sai menarik pergelangan tangannya dan memutar tubuhnya. Sai memajukan tubuhnya sambil menatap mata Sakura. Sakura menelan ludah. Oh Tuhan, ia tidak akan menciumku lagi kan?

Sai sedikit berhenti ketika bibirnya dekat dengan bibir Sakura. Lalu ia bergerak menuju telinga Sakura sambil berbisik, "Sampai jumpa di sekolah hari Senin."

Sakura mendorong Sai dengan marah karena candaannya. "Stop messing with me!"

Sai tersenyum sambil melambaikan tangan namun Sakura sudah berbalik dan melangkah masuk ke dalam klub. Sai berbalik lalu meletakkan tangannya di gagang pintu mobil. Ia mendongak dan seringai tipis muncul di bibirnya sementara sinar bulan menyinari wajahnya.

"Semuanya akan menjadi menarik," gumamnya pada diri sendiri.

Di kejauhan, terhalang oleh bayangan dari toko terdekat, terdengar suara kamera yang di-klik.