Naruto © Masashi Kisimoto

Song of a Cherry Blossom © Diana-san

Indonesian Ver. © Yuki Kanashii

Chapter 17 — The Will to Fight


Sakura menggerutu sambil berjalan menuju pintu Icha Icha. Ada apa dengannya? Pertama, dia menyuruhku tetap dekat dengan Sasuke dan lalu dia melakukan hal aneh seperti meletakkan wajahnya ke wajahku.

Sakura memeluk jaketnya sambil melangkah masuk ke klub dan mencoba agar tidak membuat kontak mata dengan para pelanggan yang ada malam itu. Ia merasa malu karena tahu pakaiannya membuat ia terlihat mencolok di antara kerumunan.

Idate terlihat terkejut ketika melihat Sakura lalu melambaikan tangan padanya dari balik meja bar. Sakura segera balas melambaikan tangan sambil buru-buru pergi ke bagian belakang klub.

"Sakura!"

Gadis cherry blossom itu berbalik dan melihat Tsunade keluar dari ruang penyimpanan dengan sekotak botol.

"Tsunade-sama!" Sakura memanggil dengan terengah-engah.

"Apa yang kau lakukan di sini? Aku pikir kami memberikan night off untukmu! Bukannya seharusnya kau ada di pesta mewah? Aku pikir aku memecatmu untuk hari ini!" bentak Tsunade.

"Tenanglah Tsunade-sama! Jika kau membiarkan aku berbicara sepatah kata, maka mungkin aku akan memberitahumu kenapa aku di sini," seru Sakura.

Tsunade meletakkan kotak yang ia bawa ke lantai lalu menatap pakaian Sakura. "Apa kau Cinderella yang kabur dari pesta dansa?"

"Semacam itu. Dimana Jiraiya-sama?"

"Dia ada di ruang break dengan Anko. Aku rasa mereka bermain kartu," jawab Tsunade sambil menghela napas.

Sakura menarik pergelangan tangan Tsunade lalu menyeretnya ke ruang belakang. "Aku harus memberitahu kalian sesuatu."

Sakura membuka pintu dan menemukan Jiraiya dan Anko sedang beragumen tentang peraturan permainan. Mereka menengok ketika Sakura dan Jiraiya masuk ke ruangan.

"Sakura! Apa yang kau lakukan di sini?!" seru mereka berdua.

Gadis berambut pink itu melipat lengannya. "Well, aku telah sadar malam ini bahwa Sai mengetahui rahasiaku yang tidak terlalu rahasia."

Tsunade dan Anko saling bertatapan dengan bingung sementara Jiraiya mulai batuk-batuk. Anko segera berdiri dari duduknya dan mengambil pitcher berisi air untuk menuang air untuk Jiraiya. Sementara Jiraiya menerima segelas air itu dan meminumnya, Tsunade berjalan ke arah Jiraiya dengan pandangan penuh ancaman. Tsunade merendahkan posisinya sehingga matanya setara dengan mata Jiraiya. "Apa kau melakukan sesuatu yang tidak seharusnya kau lakukan?" kata Tsunade dengan nada menuduh.

Jiraiya tersenyum malu. "Well...kau tahu..."

"JIRAIYA!" Nada Tsunade naik menjadi raungan. Tsunade menaikkan lengannya dengan posisi siap untuk menerkam dan mencekik Jiraiya namun Sakura menahannya.

"Tenang Tsunade-sama! Aku tidak marah!"

Semuanya menengok dan menatap Sakura. "Kau tidak marah?" kata mereka serempak.

Sakura menggelengkan kepalanya. "Maksudku awalnya aku jengkel saat tahu dia tahu dan berpura-pura sepanjang waktu." Ia melipat kedua lengannya. "Itu tidak membantu sejak dia adalah alasan klub menjadi lebih baik sekarang."

Jiraiya melompat dari kursinya dan memeluk Sakura. "Aku benar-benar minta maaf, Sakura! Aku tidak akan pernah minum-minum berlebihan lagi dan membocorkan rahasiamu pada orang lain!"

Tsunade menarik rambut Jiraiya sambil menyeretnya mundur dari Sakura. "Berhenti menempel padanya!"

Anko duduk kembali di kursinya. "Bagaimana Sai mengetahui identitas lain Sakura?" tanyanya.

Ruangan menjadi hening sejenak sementara Jiraiya menyeringai malu. "Aku rasa alkohol mungkin menjadi kelemahanku..."

"KAU PIKIR?" seru ketiga perempuan itu serempak.


Dua minggu yang lalu

Jiraiya menyeringai sambil duduk di belakang bar dengan beberapa botol sake di depannya. Ia berdiri ketika melihat temannya memasuki bar dan segera melambai padanya. Danzo Shimura menghela napas lalu duduk dengan temannya, Jiraiya. "Apa? Kau sudah minum-minum tanpa aku?"

"Hanya sedikit," kata Jiraiya sambil menyeringai.

Danzo melepas coat-nya lalu memesan beberapa minuman lainnya. "Jadi untuk apa kau memanggilku kemari? Ini jelas aneh untuk mendengarmu setelah sekian lama."

Seorang pelayan datang dan meletakkan gelas ekstra dan dua botol sake di meja. Jiraiya melambaikan tangan untuk menyuruhnya segera pergi.

"Aku akan langsung ke intinya Danzo. Kau harus menolongku. Icha Icha butuh kebangkitan kembali!" Jiraiya melambaikan jarinya pada Danzo. "Kau mengurus bintang remaja pop Sai itu kan? Biarkan dia datang untuk tampil di klub dengan Saki," ujar Jiraiya sambil berdiri dan memukul meja.

Danzo terlihat tak terganggu. "Tenang Jiraiya. Kau minum agak terlalu banyak. Bahkan jika aku ingin membantumu, Sai adalah orang yang benar-benar pemilih. Dia tidak akan setuju hanya karena aku memintanya," kata Danzo sambil minum.

"Ayolah, pasti ada cara untuk meyakinnya."

"Dan aku bukan hanya manajernya. Aku presiden dari label rekamannya, ANBU ROOT. Lagipula, Sai terlalu sibuk mempersiapkan perannya dalam film yang akan datang. Aku tidak berpikir dia punya waktu."

Jiraiya mengepalkan tangannya sambil mencoba berpikir sesuatu untuk ia katakan. Jiraiya mengambil botol sake dan meneguknya. "Film hanyalah film! Biarkan aku memberitahumu sesuatu, kehidupan nyata lebih menarik. Apa kau tahu Saki dan Sakura adalah orang yang sama? Bagaimana dengan itu untuk film plot twist?!"

Telinga Danzo menjadi ceria dan dia mendongak dari gelasnya. "Sakura? Pelayan yang kau pekerjakan beberapa waktu lalu yang selalu kau bicarakan itu?"

"Aku beritahu. Kau harus merekrutnya segera setelah dia lulus. Dia akan menjadi terkenalll! Dan terima kasih itu pasti berkat kau!" Jiraiya menyeringai lebar sambil meletakkan sake terakhir di depannya.

"Aku bertaruh Tsunade meminta pendapat yang berbeda," balas Danzo dengan tenang.

Jiraiya membanting botol ke meja dan botolnya bergoyang sebelum tergeletak jatuh, isinya sudah kosong. "Ahhh Tsunade! Dimana dia? Aku merindukannya!" Jiraiya tersedu lalu membenamkan kepalanya di lengan.

Danzo menghela napas. "Aku rasa aku akan mengantarmu pulang malam ini."

Tidak ada respons karena Jiraiya sudah tertidur dan bermimpi dengan damai. Danzo menghela napas lagi. "Yah, aku akan memberitahu ini pada Sai. Namun aku tidak bisa menjanjikan apapun."

Danzo melambaikan tangan untuk meminta cek. Pelayan yang sama sebelumnya datang dengan cek lalu mulai membersihkan meja. Danzo mengeluarkan kartunya dan pelayan itu mengambilnya lalu berjalan cepat menuju kasir di depan.

"Aku tidak akan pernah minum denganmu lagi," gerutu Danzo sambil menatap cek di tangannya.


Tsunade menutup matanya dengan frustrasi. "Kau meminta Danzo untuk melakukan sesuatu dan membiarkannya membayar ceknya?"

"Maaf! Aku pingsan malam itu!" Jiraiya meminta maaf sambil mengangkat tangannya untuk menenangkan Tsunade.

Sakura menghela napas. "Well, tidak ada yang bisa lakukan sekarang. Sai tidak sepenuhnya memegang rahasia yang ada di kepalaku tapi aku tidak yakin apa seluruh tujuannya. Sepertinya ada alasan lain kenapa dia datang ke sini."

Dengan menatap Sakura sekilas, Tsunade melipat lengannya sambil memperhatikan gadis itu. Itu terjadi dengan cepat namun Tsunade menangkap ekspresi menderita di wajah Sakura. "Sepertinya itu bukan satu-satunya hal yang ada di pikiranmu, Sakura," komentar Tsunade.

Sakura menggigit bibirnya. Tsunade selalu perspektif dari perasaannya. "Aku hanya butuh menjernihkan pikiranku dari beberapa hal," jelas Sakura. Tidak ingin berkata apapun lagi, Sakura permisi lalu meninggalkan ruang break menuju ke ruang belakang.

Jiraiya menatap Tsunade. "Apa kau pikir dia berbohong soal dia tidak marah?"

Tsunade tidak berkata apapun namun ada kekhawatiran di matanya. "Tidak," gumamnya. "Kelihatannya Sai satu-satunya kekhawatirannya saat ini."

Sakura menyalakan lampu lalu berjalan dalam ruang belakang. Sebuah piano terlihat di depannya dan ia roboh di atas bangku piano dengan lelah. Sakura menghela napas frustrasi sambil membenamkan kepalanya di lutut.

"Banyak hal yang terjadi hari ini," gumam Sakura. Ia menutup mata sambil memikirkan kembali ciumannya dengan Sasuke dan lalu kembali ke kata-kata Sai.

"Beraninya kau," gerutu Sakura. "Membuatku jatuh cinta padamu seperti ini."


Keesokan harinya, suara keras cicitan burung yang menandakan pagi hari membangunkan Sakura. Ia mengedipkan mata selagi mengangkat kepalanya. Sakura mengusap jidatnya dan merasakan cap bekas pinggir piano ada di sisi kiri wajahnya.

Sakura menatap ke sekelilingnya. Aku pasti ketiduran, pikirnya. Menahan untuk menguap, Sakura mengedipkan dan menggosok matanya. Ekspresi kelelahan tampak di wajahnya. Meskipun ia ketiduran sepanjang malam, ia merasa seakan-akan tidak tidur sedetik pun.

Sakura bangkit untuk merenggangkan tubuhnya dan menyadari ia masih memakai pakaian tadi malam. Berjalan keluar dari ruang belakang, ia berjalan menuju ruangan pakaiannya untuk menemukan pakaian yang lebih nyaman. Sakura mengganti pakaian dengan seragam pelayan dan menggantung dress putihnya dengan hati-hati. Mengingat saat itu hari Sabtu, masih ada beberapa jam sampai shift-nya tiba. Menghela napas panjang, Sakura duduk di sofa kecil yang ada di belakangnya.

Sisa hari itu berjalan lambat sementara Sakura menjalani shift-nya dan menyaksikan pelanggan keluar masuk klub sepanjang hari. Hal paling seru yang terjadi mungkin adalah ketika Anko meminta Sakura untuk mengambil dango dari kotak makan Jiraiya secara diam-diam. Siang berganti malam, Sakura menatap jam untuk menyaksikan jarum menit jam berdetak. Malam ini jadwalnya untuk tampil di atas panggung lagi. Sakura pergi menuju ruangan pakaian lalu mengganti pakaiannya untuk malam ini. Ketika ia sedang mengenakan wig pirangnya, suara ketukan pintu terdengar.

Sakura melirik jam. Belum waktunya ia tampil untuk dua jam lainnya. Sakura berdiri lalu berjalan menuju pintu. "Anko, aku tidak akan mengambilkan dango untukmu lagi—"

Sakura membeku ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu. "Sasuke!" Di sana, di depannya berdiri Uchiha Sasuke. Sasuke tersenyum sambil bersandar pada kusen pintu. Saat Sasuke mencoba berdiri tegak, dia sedikit tersandung dan jatuh ke dalam pelukan Sakura. Sakura mengerang ketika berat badan Sasuke mendarat di tubuhnya yang kecil. Bau alkohol tertangkap oleh indera penciuman Sakura saat rambut Sasuke menyentuh kulitnya.

"Sasuke! Kau mabuk?!" tanya Sakura panik.

Sasuke mengangkat kepalanya lalu menatap Sakura. "Kau tahu namaku?"

Tubuh Sakura menegang. Pikirannya berpacu untuk mencoba mencari jawaban yang tepat. Sial, apa aku membongkar identitasku? Sakura mendongak dan melihat bayangannya di cermin meja rias. Rambutnya pirang dan matanya biru.

"Ahh, Sakura pasti memberitahumu tentang aku. Apa dia sering membicarakanku?"

Sakura menatap Sasuke tajam. "You wish!" Ia menggerutu sambil mendorog Sasuke menjauh. Sakura sadar ia sedikit kasar karena Sasuke nyaris tidak bisa berdiri sendiri namun ia tidak bisa mengelak dan merasa sedikit jengkel. Apa dia ke sini untuk mencari Saki atau Sakura?

Sasuke terjatuh ke lantai namun berhasil duduk setelah beberapa kali mencoba.

"Bagaimana bisa kau tetap selalu menerobos masuk ke ruangan pakaianku?" tanya Sakura jengkel.

"Kau selalu membiarkanku masuk," Sasuke menjelaskan faktanya.

Sakura melotot padanya. "Tolong pergi."

Dengan cepat, Sasuke berdiri dan menarik pergelangan tangan Sakura. "Saki," ucap Sasuke dengan suara berat. Bau busuk minuman keras tercium oleh Sakura lalu ia berbalik dengan jijik.

"Bagaimana bisa kau sangat mabuk? Kau bahkan belum cukup umur!"

"I have my ways." Cara Sasuke mengatakannya, Sakura tidak tahu apakah dia menyombongkan diri atau hanya mengatakan fakta sederhana.

Sakura mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Sasuke namun justru dia menggenggamnya lebih erat. "Apa yang kau lakukan?" Sakura menuntut ingin tahu sambil terus mencoba melepaskan diri dari genggaman Sasuke.

Sasuke melepas pergelangan tangannya lalu menangkup wajah Sakura dalam tangannya dan menariknya mendekat. Dengan seringaian, bibirnya datang menabrak bibir Sakura. Sasuke menciumnya dengan paksa tanpa sedikit pun ketulusan dalam ciumannya. Pikiran Sakura berpacu kembali ke ciuman di malam sebelumnya. Jika dibandingkan, dua ciuman itu berbeda seperti siang dan malam.

Sakura berdiri kaku, dan genggaman Sasuke padanya mengendur sementara Sasuke melepaskan diri. Sasuke melepaskan Sakura dan melangkah mundur seakan-akan terkejut karena Sakura tidak bereaksi.

"Apa kau tidak menyukainya?" tanya Sasuke sambil mengerutkan alisnya.

Sakura tidak tahu harus berkata apa sambil menatap laki-laki di depannya. Terlihat bingung dan tidak pada pikirannya. Tanpa sadar tangan Sakura mencengkeram dadanya dan ia merasakan liontin sakura miliknya menggantung di leher. Sakura memainkannya sambil menutup mata dengan frustrasi.

Sakura membuka matanya kembali lalu menatap balik Sasuke. "Apa kau suka bermain-main dengan perasaan orang lain?" ucap Sakura pelan. "Kau punya pacar, bukan?" kata Sakura emosi sambil mengepalkan tangan dengan marah.

Sasuke menyeringai sambil memperhatikan Sakura memainkan kalungnya lalu berteriak padanya. "Jika itu masalahnya, itu bukan apa-apa. Ino dan aku tidak serius tentang hubungan kami," jelas Sasuke arogan. Wajahnya meredup saat ia dengan ragu menambahkan, "Dia tidak bermanfaat bagiku."

Kepalan tangan Sakura mengendur saat ia seketika menyadari maksud dalam jawabannya. Manfaat, huh?

Itu benar. Pada akhirnya, bagi seorang Uchiha, gadis-gadis yang dia kencani tidak memiliki manfaat moneter untuknya. Mereka hanya sekadar ikan-ikan kecil dalam kolam besar.

"Siapa yang kau kenal memiliki peran dalam kesuksesanmu. Siapa yang kau nikahi bahkan memiliki peran yang lebih hebat lagi." Kata-kata Sai muncul di benaknya sementara ia sadar bahwa meskipun Sasuke ada di dekatnya, ada jarak bermil-mil jauhnya jika itu tentang urutan kedudukan sosial mereka.

Sakura berdiri dengan terdiam. Ino, Sakura, Saki, hanyalah nama-nama dalam daftar baginya.

Sakura berkedip ketika menyadari air mata tergenang di matanya. Namun saat ia berpaling dari Sasuke, suara comel yang sama sebelumnya menggerogoti benaknya. "Dia menyukaimu. Dia tidak akan mengakuinya tapi itu benar." Suara Sai bergema dalam benaknya.

"Sakuuuuuraaa!" datang suara nyanyian bertepatan dengan munculnya Jiraiya dari pintu. Jiraiya berhenti ketika melihat pemandangan di depannya. "M-maksudku, Saki!" Jiraiya menelan ludah. "Uh, Sakura-chan? Apa kau melihat Sakura-chan?" Jiraiya memutuskan untuk berseru untuk menutupi kesalahannya barusan.

Sakura mulai membuka mulut namun ia berhenti ketika melihat Sasuke segera membungkuk di balik pintu untuk mencoba bersembunyi.

"U-uh, Sakura tidak ada di dekat sini kan?" tanya Sasuke dengan bisikan panik yang keras.

Sakura dan Jiraiya saling bertatapan.

"Apa mungkin, kau bersembunyi dari Sakura?" tanya Sakura, hampir melongo karena tindakan Sasuke.

Rona tipis muncul di wajah Sasuke. Entah karena pertanyaan Sakura atau efek alkohol dalam tubuhnya.

Jiraiya mengendus di sekitar Sasuke. "Nak, kau minum alkohol!"

Sasuke memalingkan wajahnya dengan rasa bersalah saat Jiraiya menyeretnya keluar dari balik pintu.

"Kau ingin aku melakukan apa padanya Saku—maksudku Saki-chan?"

Sakura berdeham sambil melambaikan tangan pada Jiraiya agar menurunkan Sasuke di sofa. "Aku akan mengurusnya. Tinggalkan saja kami berdua."

"Apa kau yakin?" Jiraiya melotot pada laki-laki di sofa itu. Pria berambut putih itu mendekat pada Sakura dan berbisik, "Kau tahu laki-laki itu serigala. Kau tidak akan tahu kapan dia akan melompat dan menyerang."

"Aku akan baik-baik saja Jiraiya-sama!" balas Sakura berbisik.

Jiraiya mengangguk namun meninggalkan ekspresi enggan di wajahnya ketika menutup pintu. Sakura berbalik menghadap Sasuke yang duduk terdiam sambil memainkan jarinya dengan gugup.

"Apa kau menyukai Sakura?"

Sasuke mendongak pada Sakura dengan terkejut. "T-tidak!" Sasuke menunduk menatap tangannya. "A-aku menyukaimu," kata Sasuke setelah beberapa detik. "Bukan dia," gerutunya. "Bukan sama sekali," katanya pada diri sendiri.

Sakura melipat lengannya. Ia bisa merasakan keraguan dalam jawaban Sasuke dan caranya berbicara pada diri sendiri untuk meyakinkan diri. Tidak sulit melihat sandiwaranya ketika dia bahkan belum begitu mabuk untuk menyadari betapa buruknya dia dalam berbohong. "Ciumanmu tentu saja tidak terlihat seperti itu," kata Sakura dengan tajam.

Sakura membungkuk sehingga matanya setara dengan mata Sasuke. "Faktanya, Sakura memberitahuku tentang bagaimana kalian berciuman."

Telinga Sasuke memerah. "I-itu karena..."

"Jika kau mencoba memperalatku agar Sakura membencimu, itu tidak akan berhasil."

Sasuke mendongak pada Sakura. "Tidak akan?" ulangnya.

"Dia memang sudah membencimu."

Wajah Sasuke tertunduk. "Oh," hanya itu yang keluar dari mulutnya.

Sakura tersenyum tipis saat melihat bahu Sasuke menurun karena kecewa sementara matanya menatap ke lantai. Sasuke menutup matanya karena efek dari alkohol mulai mengambil kontrol tubuhnya dan membuatnya lemah dengan tidur.

Sakura kembali memikirkan perkataan Sai padanya kemarin malam. Ia menggigit bibir ketika ingat percakapan mirip yang ia dengar ketika ia bangun di rumah Sasuke.

"Tuan Besar pasti akan terkena serangan jantung jika dia mendengar Tuan Muda Sasuke menikahi orang miskin sama seperti Itachi-san menikahi gadis dari kelas bawah itu." Kata-kata itu bergema jelas di benaknya seakan-akan baru kemarin ia mendengarnya.

Sasuke mengetahui ini dengan jelas sama seperti aku sekarang. Kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Kita tidak bisa bersama.

"Sasuke," bisik Sakura.

Sasuke tidak bergerak dan tetap merosot dalam posisinya dengan matanya berat karena tidur.

Sakura menutup matanya dan orang tuanya muncul di benaknya. Sesuatu yang pernah ibunya beritahu padanya di masa lalu sekarang bergema dalam dirinya dan membuat arti yang jelas sekarang ketika ia sudah lebih tua.


Sakura muda berderap dengan marah melalui ruang tengah setelah membanting pintu depan ketika ia pulang. Ibunya memperhatikan dengan sabar ketika Sakura merosot di sofa ruang tengah dengan ekspresi memberengut di wajahnya yang biasanya ceria.

"Ada apa Sakura? Apa kau bertengkar dengan temanmu?" tanya ibunya.

"Tidak," jawab Sakura dengan pahit. "Karena kami bukan teman lagi jadi itu tidak termasuk bertengkar."

"Apa dia masih mengabaikanmu?"

"Itu tidak penting lagi karena kami bukan teman, Bu." Dengan berkata begitu, Sakura melipat lengannya dan melotot pada lantai.

"Sayang, apa yang Ibu beritahu padamu tentang menyerah?"

"Jangan menyerah untuk memperjuangkan apa yang kau cintai," ungkap Sakura sambil menghela napas dan mengendurkan lipatan tangannya. Itu adalah sesuatu yang ibunya katakan berulang-ulang ketika Sakura merasa menyerah.

"Ya, tepat, jadi kenapa kita menyerah sekarang?"

"Tapi Ibuuuu..." rengek Sakura.

Ibu Sakura membungkuk di sampingnya lalu mengeluarkan cermin tempat bedak dari tas dompetnya. "Lihat, Sakura, apa yang kau lihat di sini?"

"Itu cermin dari tas dompetmu, Bu."

"Ya, tapi apa yang kau lihat di cermin?"

Sakura mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Ada aku?"

"Itu benar, Sakura. Dan apa kau tahu kenapa kau melihat dirimu sendiri?"

Sakura menatap ibunya dengan kosong. Ia tidak yakin apa pertanyaan ini adalah sebuah trik atau ibunya akhirnya kehilangan marbles miliknya.

"Karena kau adalah bukti hidup dari pantang menyerah demi cinta. Ayahmu dan Ibu tidak akan memilikimu jika kami sama-sama menyerah ketika kami menghadapi masalah terburuk. Tapi Ayah berjuang demi Ibu dan Ibu berjuang demi Ayah dan Ibu senang kami melakukannya karena kami mendapat gadis kecil yang cantik bernama Sakura."

Sakura menghela napas. Ia tidak tahu kemana arah pembicaraan ini. Itu tidak seperti ia mencintai sahabatnya seperti ibunya mencintai ayahnya. Sakura menggigit bibirnya dan merespons dengan jawaban yang ia harap akan menyenangkan ibunya. "Baiklah, aku akan bicara dengan Ino-pig besok." Tapi itu adalah kebohongan dalam hatinya. Ia tidak akan bersahabat dengan temannya lagi. Sakura tidak peduli dengan perkataan ibunya tentang menyerah karena bukan ia yang melakukannya pertama kali.

Ino menyerah padaku lebih dulu, pikir Sakura.


Untuk pertama kalinya, jantung Sakura berdebar karena ia merasa seakan-akan ia mengerti Sasuke sekarang. Mereka tidak hidup di dunia yang berbeda. Mereka hanya terlalu cepat memilih untuk menyerah.

Jangan menyerah untuk memperjuangkan apa yang kau cintai, ucap Sakura dalam kepalanya sekali lagi.

Dengan gerakan pelan, Sakura membungkuk dan mencium Sasuke. Dengan intensitas yang sama seperti malam sebelumnya namun tidak lagi dengan pertanyaan atau keraguan kenapa ia melakukan ini. Hanya karena ia ingin berjuang kali ini.

"Sakura?" Sasuke terengah ketika Sakura melepas ciumannya. Mata Sasuke perlahan terbuka dan kebingungan muncul di wajah mabuknya ketika dia dengan putus asa mencoba tetap terjaga. Sakura tersenyum lalu memeluknya. Keadaan hening dan Sakura masih tetap dalam posisinya, menghirup aroma tubuh Sasuke. Ketika Sakura melepaskan pelukannya, Sasuke tidur dengan damai di sofa. Alkohol akhirnya mengambil alih laki-laki itu.

Sakura berlutut di lantai sambil menatap Sasuke. Ia menyeka helaian rambut dari wajah Sasuke. "Aku tidak tahu harus melakukan apa," bisik Sakura. "Aku tidak ingin kita berdua terluka."

Aku akan berjuang untuk kita. Setidaknya, akan ku coba kali ini.

Sakura berdiri lalu menyelimuti Sasuke. Ia meratakan kerutan di dress-nya dan membetulkan penampilannya di cermin. Suara jarum jam bergema di dalam ruangan.

Suara ketukan pintu terdengar. "Mereka sudah siap untukmu," suara Anko muncul dari balik pintu.

Sakura hanya membuka pintu sedikit agar Anko tidak melihat keberadaan Sasuke. Ia menyelip melalui pintu dan Anko memberikan mikrofon padanya.

"Ready?" tanya Anko.

Sakura mengangguk lalu mengambil napas panjang dan berjalan menuju panggung. Cahayanya terasa sedikit lebih terang dan suara keramaian tak terdengar oleh telinganya. Ketika ia sedang menaiki panggung, satu pemikiran bergema dengan jelas di benaknya.

Aku akan berjuang. Untuk mimpiku. Untuk cita-citaku. Untukmu.


A/N:

Halo, semuanya!

Pertama-tama, aku mau mengucapkan selamat puasa buat kalian yang menjalaninya dan juga selamat liburan^^

Gomen aku update-nya super lama padahal udah kelar UN._.v Soalnya tepat abis UN kesehatanku justru malah kurang baik dan akhirnya sakit.-.

Selain itu, aku sendiri juga sibuk karena ada lumayan banyak acara juga harus ngurus ini itu T_T aku juga harus daftar sekolah, dan seperti yang kalian liat di berita (kalo kalian nonton berita sih) ada masalah sama PPDB tahun ini dan PPDB tahap awalnya diulang dan diperpanjang hiks:"

Makanya aku harap kalian puas sama chapter ini ya hehe:3 Kalo menurutku sih, chapter ini overwhelm dan cute gitu:3 Sasuke pas mabuk dan malu jadi cute karena innocent gimana gitu kyaw

Oh ya hampir lupa, just in case kalian gak tau atau lupa arti dari "You wish" yang diucapin sama Saku, itu artinya sama kayak "Pengen banget?" atau "Penbat?" gitu._. Aku nggak translate ke bahasa karena bingung nulisnya harus kayak gimana.-.

Aku juga mau ngucapin makasih banyaaak banget buat kalian yang udah ngasih review:3 Karena kalian, kalo tiba-tiba aku kehilangan mood nulis begitu liat reviews jadi semangat lagi^_^)9 Maaf ya aku nggak bisa balas semua review, tapi serius terima kasih banyak loh^^

Dan di khusus chapter ini aku mau nulis Q and A (yah walaupun nggak semuanya bersifat question sih._.) karena ada beberapa pertanyaan atau review sejenis yang belum aku jawab^^

Oke, sampai sini dulu ocehannya. Maaf kalo aku bawel ya._.

#Q n A#

1. "Kenapa lama update?"

A: Udah aku jelasin ya di atas._.

2. "Kapan Sasu tau Saku itu Saki?"

A: ... Ya aku nggak bisa kasih tau kapan karena nanti jadi nggak surprise hehe._.v Sabar aja ya tunggu tanggal mainnya;)

3. "Alurnya kelambatan, ngebosenin etc."

A: Maaf ya tapi lebih baik kelambatan kan daripada kecepetan #plakk. Hehe bercanda._. Kalau soal alur, tema dan isi cerita itu aku nggak bisa ngelakuin apa-apa karena emang itu udah dari sananya, emang author aslinya aka Diana-san yang buatnya begitu.-. Kalo emang kalian bosen kalian bisa ninggalin cerita ini, aku udah biasa ditinggalin kok.. :') #baper

4. "Apa peran Sai jahat?"

A: Jeng jeng. Aku sendiri pas baca fanfic ini awal-awal juga bertanya-tanya kayak gitu. Tapi aku gamau jawab ah, biar kalian penasaran dan tebak-tebak sendiri hoho: *ditabok*

Nah itu dia ya jawaban-jawaban dari aku. Thank you so much buat kalian semua yang udah baca, review, dan jadiin fanfic ini favorite kalian:") You guys cool af:3 See you next chapter^^

P.S: kalo kalian mau ngobrol sama aku boleh kok, aku nggak nge gigit:3 Nggak usah takut sksd ok;)