Naruto © Masashi Kisimoto
Song of a Cherry Blossom © Diana-san
Indonesian Ver. © Yuki Kanashii
Chapter 18 — Like an Uchiha
"Hei, bangun!"
Sasuke terbangun ketika guncangan keras menyentaknya dari tidur. Ia menatap ke atas dan melihat Jiraiya memandangnya dengan tajam. Sasuke menutup matanya lagi. Itu bukan wajah yang ingin ia lihat ketika terbangun.
"Kami akan tutup jadi kau tidak bisa tidur di sini," Jiraiya memberitahu.
Sasuke menatap sekelilingnya. Ia menatap jam dan melihat bahwa saat itu sudah lewat tengah malam. "Dimana Saki?"
"Dia sudah pergi beberapa jam yang lalu, memberitahu ku untuk membangunkanmu dan mengirim mu pulang dengan taksi." Jiraiya menghela napas frustrasi. Mengurus remaja hormonal jelas-jelas tidak ada di list paling atas yang ingin ia lakukan malam itu. "Aku memanggil taksi jadi taksi itu menunggu di luar."
Sasuke mengangguk. Rasanya sedikit memalukan tertangkap basah tidur di ruang pakaian seorang gadis yang hampir tidak ia kenal tapi Sasuke tidak akan membiarkan pria tua di depannya tahu. Jadi ia tidak memgatakan apapun. Jiraiya melipat lengannya. "Aku tidak tahu tujuanmu apa Nak tapi jika kau menyakitinya..." Jiraiya merendahkan tubuhnya sehingga wajahnya sejajar dengan wajah Sasuke. "Aku akan menyakitimu," Jiraiya memperingati dengan suara rendah.
Suasana hening sementara Jiraiya membiarkan kata-katanya tenggelam. Sasuke memberikan padangan rasa bersalah lalu membuang wajahnya. Ia tidak berpikir bahwa Jiraiya serius tentang menyakitinya sampai ia tiba-tiba merasakan aura dingin menyebar ke seluruh tubuhnya.
Jiraiya tiba-tiba memekik keras lalu berdiri dan menyadari sesuatu dari sudut matanya. Suasana serius tadi tiba-tiba memudar saat Jiraiya panik di depan lemari pakaian. "AH! Kenapa dia selalu membiarkan pintu lemari nya terbuka?! Debu akan merusak pakaiannya!" seru Jiraiya. "Huh? Dress putih apa ini? Ini bukan milik kami," katanya sambil menarik keluar dress yang Sakura pakai malam sebelumnya.
Sasuke mendongak lalu memperhatikan Jiraiya memegang gaun itu. Wajahnya berubah masam ketika mengenali dress putih yang familier itu.
Jiraiya membeku ketika teringat tentang dress itu. "Kemarin malam, ketika Sakura—ah!" Jiraiya segera berbalik dan meletakkan kembali dress itu ke gantungannya lalu menutup rapat pintu lemari pakaian. "Lupakan, mungkin saja bukan apa-apa!"
Sasuke berdiri. "Aku akan pergi sekarang," katanya sambil permisi. Ia akan pergi namun pikirannya tentang dress itu tetap tersangkut di kepalanya. Sasuke menggertakkan giginya. Kepalanya mulai terasa sakit saat ia mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi. Ia ingat bahwa ia sedang mencari Saki dan menciumnya lalu mereka sedikit mengobrol. Namun segala sesuatu setelahnya menjadi buram di memori Sasuke. Ia kembali memikirkan dress itu. "Sakura..."
Sasuke menyentuh bibirnya dan seketika ia mengingat ciuman mereka berdua. Dia pasti pergi ke sini tadi malam daripada pulang ke rumah.
Dalam memori Sasuke, ciuman yang ia bagi dengan Sakura di pesta masih membakar pikirannya. Ia masih mencoba menerka apa yang membuatnya melakukan hal seperti itu. Sebagian besar, Sasuke hanya ingin Sakura diam ketika dia terus mengoceh lagi dan lagi. Sakura selalu sangat menyebalkan. Cara dia melihat seperti dia mengetahui semuanya. Cara dia bertindak tidak terpengaruh oleh kehadiran Sasuke.
Kebanyakan gadis akan berkumpul mendekati Sasuke seperti kumpulan ngengat pada api. Sasuke tidak memperdulikan mereka karena mereka menyukainya untuk sesuatu yang tampak dari luar. Itu tidak penting bagi Sasuke bahwa mereka menggunakannya untuk kekayaannya atau status atau bahkan ketampanannya. Sasuke juga menggunakan mereka. Ia adalah seorang Uchiha dan satu-satunya pewaris perusahaan ayahnya. Tidak ada seorang pun di sekolah yang cocok menjadi pasangan potensial untuknya. Jadi itu semua menyenangkan dan game untuk berkencan sehingga Sasuke bisa melihat seberapa jauh ia bisa bermain selagi menghabiskan hari-harinya di SMA—menunggu untuk lulus.
Itu sampai dia datang. Dengan rambut pink terangnya dan pandangan meremehkan untuk Sasuke di kilatan mata hijau emerald-nya. Sasuke tidak tahu kenapa Sakura sangat tidak menyukainya sejak awal. Mungkin, Sasuke sedikit kejam padanya saat ia melempar Sakura dengan bola basket. Sasuke selalu menjadi pribadi menyendiri dan dingin terhadap semua gadis di kelasnya. Meski begitu mereka tampaknya tetap mendekati Sasuke. Kecuali Sakura.
Pertama kali dalam hidupnya, Sasuke bertemu dengan sebuah tantangan. Ia terkejut karena bisa melihat banyak perbedaan ekspresi pada wajah seorang gadis. Ekspresi marah di wajah Sakura ketika Sasuke merobek undangannya untuk pesta Sai. Bagaimana matanya dipenuhi rasa kesal setiap Sakura melihat Sasuke seperti waktu mereka berlari menuju satu sama lain di pesta pantai. Ekspresi sedih di wajah Sakura ketika dia duduk di dekat air dan menghapus air mata yang dia pikir tidak ada yang menyadarinya. Ledakan tawa Sakura yang keluar dengan suara cekikikan ketika dia berdiri di dapur dengan rambut basah meskipun dia dihukum mencuci piring.
Lalu ada satu waktu itu. Ekspresi khawatir di wajah Sakura setelah dia menginjak kaki Sasuke. Ekspresi yang membuat Sasuke berpikir bahwa Sakura tidak membencinya. Bahwa Sakura hanya sedikit peduli padanya. Lebih dari gadis lain yang pernah Sasuke kencani. Bahwa Sakura khawatir pada Sasuke meskipun membencinya sebelumnya. Banyaknya ekspresi wajah Sakura benar-benar tulus dan berbeda setiap kali Sasuke lihat. Sasuke bertanya-tanya apa yang akan Sakura lakukan jika ia menciumnya saat itu. Tepatnya ekpresi lain apa yang akan terus ia lihat pada Sakura? Sasuke penasaran apakah ia bisa melihat seseorang yang mencintai dirinya?
Sasuke benci itu. Bagaimana efek yang Sakura berikan padanya. Membuat Sasuke mempertanyakan perasaannya sendiri. Sasuke tidak bisa jatuh cinta padanya. Ia tidak ingin berakhir seperti kakaknya. Mencintai seseorang akan membuat Sasuke lemah. Apa yang Sasuke butuhkan adalah kekuatan. Kekuatan untuk bisa berdiri dengan bangga di samping ayahnya sebagai penerus perusahaan. Cinta yang membuat Itachi lemah. Itu kenapa Sasuke tidak bisa jatuh cinta pada Sakura.
"Benar-benar sangat menyebalkan," gerutu Sasuke.
Sasuke menatap ke langit sambil berjalan keluar dari klub dan menuju dinginnya malam. Sebuah taksi menunggu Sasuke di depan klub, persis seperti yang Jiraiya katakan. Sasuke berjalan menuju taksi dan masuk ke dalamnya. Memperhatikan pemandangan yang berganti ketika taksi berjalan mengantarnya pulang, Sasuke menyadari satu hal.
Bahwa mungkin Sasuke benar-benar sama seperti kakaknya.
Ketika hari Senin tiba, Sakura pergi ke sekolah dengan berat hati. Ia menguap lebar. Sakura tidak tidur satu pejaman mata sekali pun karena ia terus memikirkan semua hal yang terjadi di malam sebelumnya. Ia ingin bolos hari ini. Jika ada satu hal yang ingin Sakura hindari hari ini, hal itu adalah menghadapi Sasuke. Ia menggigit bibirnya sambil berjalan menuju sekolah. Apa yang akan Sakura katakan pada Sasuke? Apa yang akan Sasuke katakan?
Langkah kaki Sakura melambat ketika ia melihat sekolah mulai terlihat di di depannya. Langkah kakinya terasa lemah selagi Sakura menyeret kedua kakinya sepanjang melewati trotoar. Namun Sakura benar-benar berhenti ketika melihat kerumunan besar menunggu di luar gerbang sekolah. Itu terlihat seperti kumpulan besar yang terdiri dari para fotografer dan reporter. Sakura mengambil beberapa langkah kaki dengan perlahan sambil menatap kerumunan.
Kenapa ada banyak reporter di sini?
Sakura masih memperhatikan ketika sebuah mobil muncul dan Sai melangkah keluar. Kerumunan mulai berteriak lalu mereka berbalik dan berkerumun di sekitar Sai, mendesaknya dan mendorongnya kasar selagi mereka mencoba mengambil fotonya dan mewawancarainya. Tiga orang pengawal melangkah keluar lalu mulai membentuk sebuah barikade di sekitar Sai dan memberikan jalan untuknya agar bisa masuk ke sekolah.
"Sai! Apakah itu benar?"
"Apa alasanmu yang sesungguhnya untuk datang ke sini?"
"Apakah itu karena dia? Sudah berapa lama kalian bersama?"
Pertanyaan terus menghujani Sai sementara para reporter terus mendorongnya kasar untuk menerobos barikade. Sai tidak berkata apa-apa selain tersenyum sambil berjalan dengan tenang menuju pintu masuk sekolah.
Sakura menggaruk kepalanya. Ia tidak yakin dengan apa yang sedang terjadi pada Sai namun ia tidak tahu bagaimana cara melewati gerbang sekolah tanpa terinjak-injak di tengah jalan.
Seketika, seorang reporter menyadari kehadiran Sakura dan mulai menujuknya.
"Hei! Bukan kah itu dia? Dia mempunyai rambut pink yang sama!" Reporter itu berteriak.
"Huh? Rambut pink?" gumam Sakura sambil menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. Itu merupakan sebuah permulaan bahwa Sakura tidak seharusnya mengatakan sesuatu karena kerumunan itu seketika berbalik menuju dirinya dan mulai mengerjarnya. Sakura menelan ludah dan mulai melangkah mundur.
Secepat kilat, ia merasakan pergelangan tangannya ditarik dari belakang dan seseorang menariknya lalu mulai berlari. Sakura merasakan dirinya ikut berlari dengan orang itu selagi mereka mencoba untuk melarikan diri dari kerumunan. "Sai!" seru Sakura ketika menyadari siapa orang itu.
"Bagaimana kau—" Sakura mulai bertanya.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan! Cepatlah!" seru Sai sambil berbelok dan terus berlari.
"Ah! Pintu masuk sebelah!" Ingat Sakura.
"Apa?" teriak Sai.
Sakura mulai berlari cepat lalu berada di depan Sai dan mulai menyeretnya juga. "Aku tahu jalan agar kita bisa masuk ke dalam sekolah."
Mereka melewati belokan lain dan Sakura melihat dinding halaman sekolah. Ia mulai memanjat tanaman rambat lalu merayap naik ke atas dinding. "Ayo," kata Sakura sambil mengulurkan tangan pada Sai.
"Apa kau gila? Aku tidak akan memanjatnya!" protes Sai.
"Apa kau lebih suka dimakan hidup-hidup oleh para reporter itu?"
Sai meringis sambil memikirkan perkataan Sakura sebelum akhirnya ia mengulurkan tangannya untuk menarik tanaman rambat dan tangan Sakura.
Sementara Sai memanjat, Sakura cepat-cepat turun dengan kedua kakinya. Sai mengikuti sesudahnya dan terengah-engah dengan lelah. "Bagaimana kau mempelajari tentang ini?"
"Naruto mengajariku. Dia biasanya melewati jalan ini untuk menghindari para guru yang mencoba menghukum murid yang terlambat."
"Si Bodoh itu sepertinya hanya mengetahui banyak trik."
Sakura tersenyum. "Tapi itu berguna, bukan?"
Sai tertawa. "I guess."
Sakura mengernyitkan dahi. "Kenapa para reporter itu ada dimana-mana? Dan apa yang mereka inginkan dariku pula?"
Sai menatap ke bawah kakinya. "Ah, aku rasa kau tidak benar-benar membaca majalah?"
"Majalah?" ulang Sakura.
"SAKURAAAA-CHANNNN!"
Sebuah suara keras datang dari satu arah dan Sakura juga Sai berbalik lalu melihat Naruto berlari menuju ke arah mereka dengan kekhawatiran dalam nada suaranya.
"Naruto? Ada apa?" tanya Sakura.
"Sakura-chan! K-kenapa?! Kenapa kau ada di sini?!"
Naruto melambaikan majalah dengan liar di depan Sakura sementara satu tangannya menarik rambutnya.
"Diam Naruto! Aku tidak bisa melihat!" geram Sakura sambil menarik pergelangan tangan Naruto sehingga ia bisa melihat sampul majalah itu. Wajah Sakura berubah menjadi putih pucat ketika melihat halaman depan majalah.
Sebuah foto dirinya dan Sai berdiri di depan Icha Icha terpampang di seluruh sampul depan sementara tulisan besar dan tebal terbentang di situ: SAI TERTANGKAP BASAH MENCIUM GADIS DI DEPAN KLUB. Tulisan tambahan yang ada berkata, "Apakah idola remaja kita menjelajahi dunia malam yang berbahaya? Detail di halaman 25."
"WHAAAAAAAAT!" teriak Sakura sambil menarik majalah itu, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Itu jelas-jelas foto dari Jumat malam karena Sakura mengenali dress putih yang ia pakai di foto. Cahaya dari lampu jalanan juga membuat rambut pink-nya kelihatan jelas. Yang membuat darah Sakura mendidih adalah sudut pengambilan foto membuat mereka berdua tampak seperti sedang berciuman.
"Ini buruk. Ini buruk. Ini benaaaar-benar buruk," ulang Sakura terus menerus, dalam setengah terkejut dan setengah keadaan yang tidak dapat ia jelaskan.
Sai menggaruk kepalanya. "Itu tidak terlalu buruk. Itu hanya majalah," renung Sai mencoba meringankan situasi.
Sakura melotot padanya. "Hanya majalah?! Hidupku kini ditonton oleh publik! Lihat apa yang dikatakan pada halaman 25!"
Sai mengedikkan bahu. "Mereka akan melupakannya ketika menemukan hal baru untuk ditulis."
"Mereka pikir aku adalah seorang pekerja prostitusi!"
Naruto menarik kerah baju Sai. "Dammit Sai! Jika aku tahu kau akan membawa banyak masalah, aku tidak akan pernah setuju kau datang ke sini!"
"Keputusanmu tidak berpengaruh apa pun Naruto," kata Sai dengan tenang sambil menyingkirkan tangan Naruto dari kerah bajunya.
Sakura mengerang. "Just great! Bagaimana jika mencariku dan menggali kehidupan pribadiku?"
"Gee, pekerja prostitusi? Apakah itu tidak sedikit berlebihan untuk anak SMA?" kata Sai.
Suara langkah kaki terdengar dan mereka bertiga melihat para pengawal Sai juga Kakashi belari menuju mereka.
"Kami menemukanmu!" seru salah satu pengawal sambil meraih kantong jaketnya dan mengeluarkan sebuah ponsel.
"Danzo ingin berbicara denganmu."
Sai mengambil ponsel itu dan mendengarkan suara di telepon itu.
"Kakashi-sensei," seru Sakura malu sambil menggulung majalah dengan satu tangannya dan berusaha menyembunyikannya di balik badan.
"Sakura, sepertinya sekolah sedang gempar hari ini karena rumor tentangmu dan Sai," jelas Kakashi.
"Itu bukan salah Sakura!" Naruto melompat untuk membela Sakura.
Kakashi menghela napas. "Aku tahu itu adalah rumor tanpa dasar namun sampai hal itu menjadi jelas, lebih baik untukmu tidak ada di kelas hari ini," saran Kakashi.
"Apa?! Jika Sakura tidak pergi ke kelas maka itu seperti memberitahu semua orang bahwa rumor itu benar!" seru Naruto.
"Hanya untuk hari ini Naruto. Para reporter tidak bisa memasuki wilayah sekolah sehingga mereka hanya diizinkan sampai di gerbang sekolah. Namun semua murid sudah melihat kekacauannya dan aku tidak ingin mereka menyebarkan rumor lainnya jika melihatmu, Sakura. Khususnya para gadis yang sudah terganggu dan sepertinya bertekad untuk menyerangmu jadi aku datang kemari untuk mencarimu sebelum mereka menemukanmu."
"Aku mengerti," kata Sakura pelan.
"Kurenai-sensei akan menjagamu sepanjang hari ini. Aku menyerahkannya tugas untukmu hari jadi dia mendapat jam pelajaran ekstra untukmu karena kau mempunyai jam pelajaran privat dengannya."
Sakura mengangguk. Mereka semua menatap Sai yang baru saja menutup telepon tanpa berkata apa pun. Sai menatap mereka kembali tanpa ekspresi tentang pembicaraan di telepon.
"Kelas akan dimulai beberapa menit lagi jadi Naruto dan Sai, kalian lebih baik berlari sekarang," lanjut Kakashi.
"Bagaimana bisa Sai pergi ke kelas?" Naruto mengeluh.
"Itu lebih baik dilakukan agar Sai pergi menenangkan fans-nya dan mencoba menghilangkan rumor itu. Aku pikir mereka akan lebih mempercayai kata-kata Sai dibanding Sakura pada masalah ini."
"Para gadis bisa menjadi cukup kejam, huh, Kakashi-sensei?" tanya Naruto.
"Well, pada umur saat ini. Aku kira hormon mereka tidak terkendali," jelas Kakashi sambil mengeluarkan buku Icha Icha Paradise miliknya. "Ini hampir sama seperti di chapter 9 Icha Icha," komentarnya.
Bel berbunyi menandakan dimulainya sekolah dan Sakura berpisah dari yang lainnya lalu pergi menuju ruangan kelas musiknya.
Naruto dan Sai berjalan dalam diam sambil mengikuti di belakang Kakashi. Tiga pengawal mengikuti di belakang mereka lalu berdiri berjaga di luar pintu.
"Apakah tiga-tiganya dibutuhkan di sini?" tanya Kakashi sambil membuka pintu untuk Sai dan Naruto.
Sai menatap kembali Kakashi. "Tidak apa-apa. Dua di antara mereka akan pergi ke gerbang sekolah."
Kakashi mengangguk dan dua pengawal membungkuk lalu pergi.
Ketika mereka berjalan melewati pintu kelas, para murid segera mengubah pembicaraan mereka yang teredam menjadi keras dan berisik sambil menuntut perhatian Sai.
"SAI! APAKAH ITU BENAR?!"
"Kau dan gadis itu?"
"Apa kalian berdua tidur bersama?"
Pertanyaan terus datang berturut-turut dan Naruto berteriak pada mereka semua dengan marah, "Diam! Kalian semua tidak tahu apa pun tentang Sakura-chan! Dia tidak akan pernah melakukan hal seperti itu!"
Kelas menjadi semakin berisik dan mereka terus bertanya lalu mulai melompat dari kursi mereka untuk mendekati Sai.
Bunyi pukulan keras terdengar lalu para murid mendongak dan melihat Kakashi membanting kayu meteran di papan tulis. Mata Kakashi menatap mereka tajam sementara ia berjalan ke depan.
"Jika kalian tidak kembali ke kursi masing-masing dalam hitungan ke tiga, akan ada banyak kedisplinan yang terlibat," kata Kakashi dengan suara tajam. Ia tidak menaikkan suaranya namun semuanya bisa mendengar kekejaman pada kata-kata terakhirnya.
Kelas menjadi diam sementara suara meneguk ludah terdengar dari belakang kerongkongan para murid. Ada perasaan mencekam di udara dan ketakutan bisa dirasakan di punggung mereka. Itu tidak biasa melihat Kakashi marah. Namun rumor mengatakan bahwa murid yang terakhir kali membuat Kakashi marah dikeluarkan dari sekolah.
Sasuke duduk diam di kursinya sambil memperhatikan Sai berjalan menuju baris keempat untuk duduk di kursinya. Sai tersenyum sekilas pada Sasuke sebelum menghadap ke depan. Sasuke merasakan sedikit kejengkelan pada ketenangan Sai. Ia juga tekejut sama seperti yang lainnya ketika mengetahui tentang berita itu pagi ini. Faktanya, Sasuke sedikit merasa lebih dari sekedar jengkel.
Sasuke menatap kursi kosong di depannya lalu memperhatikan Naruto duduk di kursi depan meja Sakura.
Dimana dia?
Sasuke menatap tajam punggung Sai. Dan kenapa mereka berduaan malam itu?
Pagi hari terus berlanjut sementara pelajaran tetap berlangsung tanpa interupsi. Namun semua orang bisa merasakan kegelisahan di udara sementara mereka tak sabar menunggu waktu istirahat tiba. Sementara para murid membungkuk pada guru mereka Kakashi, ia meninggalkan kelas dengan tatapan tegang di matanya. Kakashi tidak bisa melakukan apa pun untuk menghalangi mereka dari bergosip sehingga ia hanya bisa berharap Sai mengatasi keadaan di bawah kendali.
Setelah Kakashi keluar pintu, ruangan meledak dipenuhi suara berisik penuh tuntutan dan semua orang segera berkerumun di sekitar Sai dengan harapan bahwa ia akan menceritakan mereka kejadian sebenarnya.
"Jadi beritahu kami Sai," seorang murid laki-laki terkekeh. "Apakah dia lumayan?"
"Bastard!" teriak Naruto sambil melompat dari kursinya dan memukul meja. "Jika kau mengatakan hal buruk lainnya tentang Sakura-chan, aku akan merobek mulutmu."
Sai tidak berkata apa-apa sementara anak laki-laki lainnya di ruangan terus bertanya padanya.
"C'mon Sai! Kau tidak serius tertarik padanya kan?"
"Kalau begitu, palingan dia melakukannya untuk mendapat perhatian."
"Dia anak yatim piatu, bukan?"
"Mungkin dia hanya ingin menjadi orang kelas atas."
"Dia palingan hanya melakukannya untuk uang."
Tawaan mengejek datang dari ruang kelas. Aoi tersenyum sinis sambil berdiri dari kursinya. "Ayolah, kenapa mereka tertangkap berciuman di depan sebuah klub? Kecuali kalau mereka berkencan, yang tentu saja tidak, dia pasti seorang pelacur." Aoi tersenyum meremehkan sambil kembali duduk di kursinya. "Tidak mungkin pekerjaannya sebagai pelayan mampu membiayai semuanya. Dia pasti mempunyai pekerjaan sampingan."
"HENTIKAN!"
Ruangan menjadi hening dan mereka berbalik menuju suara yang baru saja berteriak. Seluruh orang di kelas terkejut karena bukan si berisik, liar Naruto yang mengatakannya kali ini. Itu adalah Hinata.
Gadis pendiam itu berdiri dengan marah sementara pipinya merah padam."H-hentikan!" ia tergagap lagi. "Just stop it!" tuntut Hinata, kali ini menemukan suara dan keberaniannya. "Sakura-san bukanlah gadis seperti itu."
Naruto memperhatikan dengan kagum. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Hinata angkat bicara seperti itu. Hinata biasanya pendiam dan bersifat lembut. Naruto menyeringai sambil berjalan menuju Hinata dan berdiri di sampingnya.
"Hinata benar! Sakura-chan tidak seperti yang kalian bicarakan!" Ia melotot pada mereka semua. "Jika kalian tetap melanjutkan pembicaraan ini, aku akan mengatasi masalah ini dengan tanganku sendiri." Naruto mengepalkan tangannya.
Sasuke menggerutu sambil memperhatikan kejadian di depannya terbentang. Benar-benar menyebalkan harus duduk melewati semua ini. Ia tidak pernah tahu betapa menyebalkannya teman-teman sekelasnya hingga hari ini. Sasuke menendang mejanya lalu berdiri dari kursinya dan mulai berjalan menuju pintu.
"Sasuke-kun," panggil Ino.
"Benar-benar menyebalkan," gerutu Sasuke sementara para murid berbalik untuk memperhatikannya berjalan melewati mereka.
Sai mendongak dari mejanya perlahan lalu menutup notebook yang ada di depannya. "Sakura adalah pacarku." Sai memberikan pernyataan dengan ekspresi tenang di wajahnya. "Tolong jangan berbicara buruk tentang dia," tambahnya.
Seluruh penjuru kelas terdiam takut sambil mencoba memahami perkataan Sai. Sasuke berhenti di depan pintu sementara tubuhnya membeku. Ia menatap tajam pada pintu sebelum menggesernya dan melangkah keluar kelas.
"Kau bercanda kan Sai?" Aoi mendesis. "Kenapa kau mau berkencan dengan gadis seperti dia?"
"Apa kau ingin aku memilih gadis egois, pencari perhatian seperti dirimu?" respons Sai dingin. "Jika kau izinkan, aku permisi. Aku mempunyai beberapa hal yang perlu dikerjakan." Sai berdiri lalu mengambil ponselnya dan berjalan keluar kelas, meninggalkan Aoi berdiri bisu di sana.
Mata Sai bertemu dengan mata Sasuke ketika ia keluar dari kelas. "Sasuke-kun," kata Sai sambil tersenyum.
"Apa kau mengatakan yang sebenarnya, Sai?" tanya Sasuke mengabaikan sapaan hangat Sai.
"Apa? Tentang Sakura-san?" tanya Sai pura-pura malu. "Bagaimana dengannya?"
"Tch," respons Sasuke. "Lupakan." Ia berbalik dan berjalan melewati lorong, memasukkan tangannya ke dalam kantong celana.
Sai tersenyum. "Maaf Sasuke-kun," gumam Sai sambil berbalik dan berjalan menuju arah lain sementara pengawalnya mengikuti di belakang.
Sasuke merasa jengkel lebih daripada merasa lega. Ia perlu pergi ke suatu tempat untuk mendinginkan kepalanya. Mungkin jika Sakura ada di sini, dia mampu membela dirinya sendiri dan mengelak semua rumor itu. Wajah Sasuke berubah masam. Itu semua rumor... bukan?
Sasuke berteriak frustrasi dan meninju tembok. Ia berbelok dan berjalan menaiki beberapa sebuah tangga. Kepalanya sakit memikirkan semua ini. Ia tidak seharusnya peduli. Apa pentingnya ini untuk Sasuke?
Tentu saja, mereka berbagi ciuman. Sebuah ciuman passionate dan heated. Namun Sasuke hanya terbawa suasana saat itu. Sakura sangat menyebalkan dengan ocehannya dan Sasuke hanya ingin membuatnya diam. Itu adalah hal yang selalu ia katakan pada dirinya sendiri. Meskipun begitu, hal itu masih mengganggunya. Bagaimana bisa Sakura tertangkap basah mencium laki-laki lain setelah mencium Sasuke? Dan dengan sepupunya Sai pula. Itu hampir membuatnya marah.
"Sasuke-kun," sebuah suara memanggil namanya dari belakang.
Sasuke berbalik dan melihat gurunya muncul di belakang dengan senyum di wajahnya. Kakashi memegang buku di satu tangannya dan tumpukan kertas di tangan satunya lagi.
"Apa?" gerutu Sasuke.
"Kau tampak terganggu dan kacau hari ini selama pelajaran pagi tadi," komentar Kakashi sambil menutup bukunya dan meletakkannya di atas tumpukan kertas.
"Aku selalu terganggu," respons Sasuke datar.
"Ya, khususnya lebih dari biasanya hari ini," kata Kakashi. "Itu bukan karena tidak hadirnya murid perempuan tertentu hari ini bukan?"
"..." Sasuke berbalik. "You're just seeing things. Mungkin karena kau setengah tertidur sepanjang waktu," gerutu Sasuke.
"Mm, mungkin kau benar. Aku bisa bersumpah dengan tatapan intens darimu, kau bisa membakar sebuah lubang lurus melewati Naruto jika kau sedikit menggerakanmu kepalamu."
Kakashi tersenyum lagi. "Sepertinya itu kesalahanku." Ia melambaikan tangan lalu berjalan menjauh meninggalkan Sasuke yang mendidih.
"Aku tidak menatap dengan intens," geram Sasuke. Ia menarik kerah bajunya dan membuka satu kancing bajunya. Lorong tangga tampak sesak dengan tiba-tiba sehingga Sasuke berjalan cepat menaiki tangga. Ia membutuhkan udara segar.
"Sangat menyebalkan," gerutu Sasuke sambil menaiki tangga lainnya menuju rooftop dengan segera. Pemikiran tentang Sakura terus mengganggu dirinya ketika ia menatap halaman sekolah dari atas rooftop.
Itu adalah hal yang sama seperti yang ia takutkan. Jatuh cinta pada seseorang dari kalangan bawah. Ia menjadi sama seperti kakaknya.
A/N:
Hai semuanya^3^
Yak, I never knew that being a high school student could be this hard..
Aku pikir selama hari-hari sekolah bakal masih bisa sambil ngetik fanfic.. Tapi ternyata salah besar. Ternyata jadi anak SMA itu sibuk banget, bahkan waktu minggu pertama kali masuk sekolah pun udah sibuk. Udah langsung ada PR, hell:( Belum ekskul, persiapan jadi OSIS dan lain-lain..
Ok, maaf yha aku jadi curhat..
Oh ya, buat review dari DaunIlalangKuning bakal aku jawab di sini yaa.
DaunIlalang Kuning: Apa Sasu bener-bener cinta sama Saki?
Yah, kayaknya nggak perlu aku jawab ya karena udah ada jawabannya di chapter ini ^-^)v
Well, review lain bakal aku bales di PM ya;)
Kayaknya sekian ya buat AN kali ini xD Arigatou, kisu & hug buat kalian semua xoxo
