Naruto © Masashi Kisimoto

Song of a Cherry Blossom © Diana-san

Indonesian Ver. © Yuki Kanashii

Chapter 19 — Sakura and Ino


Sakura mengerang sambil menatap kosong selembar kertas di depannya. Ia tidak menyangka akan pergi ke kelas musik lebih awal hari ini dan ia belum menyelesaikan PR-nya dari minggu lalu. Tidak biasanya Sakura melupakan PR-nya begitu saja, namun setelah beberapa kejadian di malam sebelumnya PR merupakan satu hal terakhir yang ada di pikirannya. Ia berharap bisa mengerjakan PR-nya saat jam pelajaran tapi sepertinya rencana Sakura tidak ada dalam pilihan sekarang.

Kurenai berjalan memasuki kelas dan Sakura menjadi kaku. Ia segera memasukkan kembali kertasnya ke dalam map.

"Baiklah, Sakura, pelajaran hari ini akan sedikit berbeda karena...uh, keadaanmu," kata Kurenai sambil duduk di kursi sebelah Sakura. "Kau menulis sendiri lagumu, benar kan?" tanya Kurenai.

Sakura mengangguk.

Kurenai mencari sesuatu dalam map di pangkuannya lalu memberikan Sakura sebuah brosur. "Ini adalah brosur kompetisi akhir tahun. Setiap tahun, seluruh sekolah berpartisipasi dengan mengirim murid terbaik mereka untuk kompetisi ini. Ada beberapa kategori untuk segalanya termasuk songwriting dan pertunjukan vokal. Sekolah kita mendapat juara pertama dalam setiap kategori kecuali seni."

Sakura menelan ludah. "Apa kau mengharapkanku menjadi juara pertama?"

"Yah, itu adalah permintaan yang banyak namun kau ada dalam program beasiswa penuh di sekolah ini." Kurenai tersenyum. "Aku mengharapkan banyak kerja keras dari mu. Ayo kita mulai pelajaran untuk hari ini."

Gadis cherry blossom itu mengangguk namun merasakan tekanan besar pada kedua bahunya. Sakura bertanya-tanya apakah kemenangan atau kekalahannya akan menentukan kedudukannya di sekolah ini.

Kurenai membalik beberapa kertas dalam mapnya. "Aku menyadari sebagian besar lagumu tidak memiliki daya tarik tertentu." Kurenai menatap Sakura sekilas sebelum melanjutkan, "Kau lihat, sebagian besar lagu ditulis berdasarkan pengalaman pribadi. Dan sementara komposisi dan melodi dari lagumu sangat indah, liriknya tampak kurang bermakna."

Sakura berkedip dua kali. "Apa maksudmu?" tanya Sakura, tidak yakin dengan arah pembicaraan ini.

Kurenai mengerutkan bibirnya sambil memiringkan kepalanya. "Aku tidak bisa melihat jauh di dalam lagunya. Apa yang kau coba katakan padaku. Aku tidak bisa merasakan emosinya. Apa yang kau tulis hanyalah hal-hal di permukaan. Itu sangat berbeda dengan apa yang aku dengar di rekaman audisi. Lagu di rekaman itu memiliki emosi. Aku bisa merasakan derita dan kesakitan yang kau rasakan di lagu itu. Kau pasti mengambilnya dari pengalaman pribadi mendalam yang sangat mempengaruhimu."

Sakura menatap tangannya di bawah. "Aku menulis lagu itu setelah orang tuaku meninggal."

Kurenai mengangguk. "Aku ingin kau menjelajahi dirimu sendiri dengan lebih dalam lagi dan menulis sesuatu yang sangat mengikat hatimu. Ini dapat menjadi sesuatu yang menjadikanmu juara atau menghancurkanmu dalam kategori songwriting."

"Bagaimana aku bisa melakukan itu? Lirik di lagu itu datang begitu saja padaku," seru Sakura.

"Ketika kau menemukan sesuatu yang benar-benar berharga untukmu, inspirasi akan datang begitu saja padamu."

"Sesuatu yang berharga?" ulang Sakura.

"Apa kau pernah jatuh cinta, Sakura?" tanya Kurenai lembut.

Sebuah rona merah tua muncul di wajah Sakura."A-aku pikir tidak. Maksudku, aku belum pernah punya pacar sebelumnya," jawab Sakura.

Kurenai tersenyum. "Kau tidak harus punya pacar untuk memiliki pengalaman tentang cinta. Meskipun memiliki pacar lebih membantu daripada tidak."Kurenai berdeham lalu mengalihkan pandangannya dari Sakura. "Dan, aku tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi siswa, tapi tentang Sai…"

Suara Kurenai menghilang dan dia menengok untuk melihat reaksi Sakura.

"Sensei, apakah kau membaca majalah itu?" tanya Sakura pelan.

"Yah," kata Kurenai dengan senyum malu. "Aku mencoba tidak ketinggalan berita apa pun meski itu semua hanya gosip majalah!"

"Semua rumor itu tidak benar, kau tahu itu kan?" tanya Sakura. Gadis cherry blossom itu menatap Kurenai dengan mata memohon.

"Tentu saja," balas Kurenai lembut. "Aku tahu sebagian besar itu semua tidak benar. Tapi gambar berbicara lebih keras daripada kata-kata bagi beberapa orang. Itu alasan mengapa aku khawatir padamu." Kurenai menggenggam tangan Sakura dengan lembut.

"Kau adalah muridku yang berharga jadi aku tidak ingin kau terluka. Meski begitu, mungkin sisi baik dari semua ini… mungkin kau bisa menemukan hal positif dari kekacauan ini dan menyalurkan perasaanmu melalui musik."

Sakura mengangguk. "Terima kasih, Kurenai-sensei."

Kurenai tersenyum namun dia merasa gelisah dalam hati. Dia sudah membaca bagian adil dari skandal dan gosip di majalah. Entah mengapa, dia merasa aneh bahwa bintang papan atas remaja seperti Sai bisa dengan mudah tertangkap basah oleh paparazzi. Kurenai mengernyitkan dahi sambil menatap muridnya itu. Sakura, aku tidak percaya pada bocah Sai itu. Kumohon berhati-hatilah.


Sai sedang berbelok ketika ia merasakan seseorang mengikutinya. Ia menyipitkan mata dan menyadari bahwa bukan hanya pengawalnya yang ada di belakangnya. Sai berbalik dan menyuruh pengawalnya pergi.

"Ino-san¸ kesenangan apa yang aku tawarkan sehingga kau ada di hadapanku sekarang?" tanya Sai sambil tersenyum sementara mereka berdua berdiri di sudut lorong.

Ino langsung berbicara to the point dan bertanya pada Sai. "Sasuke bertingkah sedikit aneh akhir-akhir ini dan aku menyadari tampaknya ada sedikit ketegangan di antara kalian berdua."

"Oh, ada kah? Aku tidak menyadarinya. Meskipun Sasuke memang selalu bertingkah aneh," pikir Sai. "Aku selalu berpikir bahwa Sasuke hanya anak yang suka berubah-ubah."

Ino tertawa setengah hati pada lelucon Sai. "Apa kau dan Sakura benar-benar pacaran?" tanya Ino pelan selagi mengganti topik pembicaraan.

Sai menatap Ino seakan-akan mencoba membaca pikirannya. "Apa itu penting bagimu?" tanya Sai setelah beberapa saat.

"Tidak… Tapi itu penting bagi para penggemarmu."

"Dan kenapa aku harus mengkhawatirkan hal itu?" tanya Sai dingin.

"Para penggemarmu tidak akan menyerangmu tapi justru menyerang Sakura. Kau tahu itu 'kan?"

Sai tersenyum. "Ino-san, tampaknya kau mempunyai kepedulian terhadap Sakura.

"A-as if! Aku hanya memberitahumu jika kau peduli pada pacarmu itu."

Ino pergi dengan jengkel seakan-akan marah dengan respons Sai.

"Kau bukan seorang perempuan jalang seperti yang murid lain takutkan." kata Sai padanya.

Ino berhenti berjalan dan tertawa. "Oh jangan khawatir. Aku menjadi jalang dengan baik," kata Ino pelan.


Ino muda menghela napas lalu masuk ke kelasnya. Hari itu adalah hari pertama sekolah tahun ajaran baru dan tahun ini, ia dan sahabatnya Sakura, ditempatkan di kelas yang berbeda. Ino berjalan memasuki kelasnya dengan waspada sambil menatap murid lainnya yang ada di kelas barunya. Ia mengenali beberapa wajah yang familiar namun kebanyakan dari mereka tidak familiar bagi Ino. Seorang gadis tertentu dengan rambut ikal cokelat gelap dan bahkan mata cokelat yang dalam berdiri pada Ino. Duduk di tengah ruang kelas, jelas bahwa dia yang menguasai kelas itu.

Ino menggigit bibirnya. Akan sulit baginya untuk beradaptasi jika ia terlalu sering berdiri. Urutan bangku kelas tampaknya sudah diatur dan Ino menatap pada kerumunan gadis-gadis di sekitar gadis berambut cokelat itu.

"Yo, kau yang memakai baju berwarna jingga," tiba-tiba gadis berambut cokelat itu memanggil.

Ruangan menjadi hening sementara para murid berbalik dan menatap tepat ke arah Ino. Ino berkedip. 'Apa maksud mereka itu aku?' Ino bertanya-tanya. Ino menatap ke bawah dan melihat bajunya. Bajunya berwarna jingga.

Di hari pertama masuk kelas, sekelompok gadis tanpa belas kasihan terus menindas Ino. Ino berusaha mengabaikannya dan mencoba fokus pada tugas membacanya. Seorang gadis menarik rambut pirangnya dari belakang sementara gadis lain berjalan melewatinya dan menjatuhkan sampah ke mejanya. Ino menggertakkan giginya selagi mencoba menahan amarahnya. Ia mendongak dan menatap tajam gadis berambut cokelat yang duduk tanpa dosa di tengah-tengah. Satu hal yang Ino ketahui pasti, para gadis yang lain tidaklah penting karena mereka hanya mengikuti perintah pemimpin mereka. 'Aoi!' batin Ino berteriak sambil melotot pada punggung Aoi.

Ino tidak mengerti mengapa mereka memilih untuk menjadikannya target. Seketika, Aoi berbalik untuk melihat Ino dan pandangan mereka bertemu beberapa saat. Itu adalah saat Ino tahu kenapa mereka menjadikannya target. Itu terjadi sangat cepat namun Ino melihatnya. Perasaan cemburu tercermin di mata cokelat gelap Aoi. Saat Ino duduk di toilet selama istirahat, ia mendengar alasan mengapa Aoi memilih untuk menjadikannya target. Ino menggigit bibirnya selagi mendengarkan percakapan kedua gadis teman sekelasnya.

"Kenapa Ino?" sebuah suara bertanya. Itu adalah gadis yang menarik rambutnya hari ini.

"Oh, kau tahu Aoi. Dia selalu menargetkan seseorang yang kuat. Mungkin karena dia melihat Ino sebagai rival yang bisa mengambil alih posisinya," terdengar suara gadis lainnya. Itu adalah gadis yang menjatuhkan sampah ke meja Ino.

"Aku sebenarnya berpikir Ino cukup keren, sih."

"Yeah, tapi jika kita memilih pihak yang salah… Aoi mungkin akan menargetkan kita. Lebih baik jika kita mengikuti Aoi."

"Oke, kau benar."

Bahu Ino terkulai ke bawah ketika pembicaraan itu berakhir. 'Jadi itu alasannya,' pikir Ino sedih.

Saat makan siang, Ino melihat Sakura belari menuju ke arahnya. Sebuah senyuman cerah tampak di wajah Sakura. Ino menggigit bibirnya sambil menahan air matanya namun tampak sulit karena ia tahu mengapa ia ditindas. Ino berbalik untuk berlari ke arah lain dan menuju ke kamar mandi. Tidak akan pernah ia ingin menunjukkan air matanya pada Sakura. Ino tidak bisa menunjukkan sisi lemahnya pada Sakura. Bagaimana pun, Ino adalah satu-satunya yang selalu melindungi Sakura dari penindasan. Yang ada, Sakuara adalah satu-satunya yang menengadah pada Ino.

Sakura menatap, kebingungan melihat temannya memunggunginya. Mereka telah terpisah sepanjang pagi dan tepat ketika mereka memilki kesempatan untuk bicara, Ino justru berlari menjauh entah kemana. Sakura menatap ke bawah kotak makannya dengan sedih. Ia bertanya-tanya apakah ia melakukan kesalahan yang membuat Ino terganggu.

Ino berlari masuk ke dalam bilik kamar mandi dan menyeka air matanya sambil bersembunyi dengan berjongkok di atas toilet. Itu menjadi kejadian yang terus berulang bagi Ino. Mengunci dirinya di bilik kamar mandi seperti pengecut. Ia mengepalkan tangannya dan membuat sumpah. 'Aku akan menjadi kuat dan melampaui Aoi jika itu hal terakhir yang aku lakukan. Aku tidak akan membiarkannya menang.'

Ino meninggalkan kamar mandi dan berjalan menuju lorong dengan tekad baru di pikirannya. Ia mendongak dan terkejut ketika melihat Sakura berlari mencari-cari dirinya.

"Ino, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Sakura, hampir ketakutan akan balaan yang akan ia dengar.

Sebelum Ino bisa membalas, Aoi dan sekelompok teman perempuannya berjalan menyusuri lorong. Mereka melihat Ino dan Sakura lalu berjalan perlahan untuk mengerumuni keduanya.

"Siapa ini?" tanya Aoi, sementara beberapa gadis terus mendekat pada Sakura. Aoi berbalik pada Ino. "Apa dia temanmu?"

Ino tidak tahu harus berkata apa. Ia menatap Sakura, yang terlihat sangat ketakutan sementara kelompok itu terus mengerumuninya. Ino mengingat ekspresi itu dengan terlalu baik. Itu ekspresi yang sama kapan pun Sakura ditindas karena rambut merah mudanya yang tidak biasa atau jidatnya yang terlihat besar.

"Bukan, dia bukan temanku," jawab Ino dingin. Para gadis menatap Ino sementara Sakura berkedip kebingungan.

Aoi menyeringai. "Hm, baiklah kalau begitu. Ino, ayo kita makan siang bersama."

Ino mengangguk lalu mengikuti di belakang Aoi dan grup perempuannya. Ino tidak berani berbalik untuk menatap Sakura dan ia menahan air matanya. Ino tahu jika ia mengakui Sakura sebagai temannya, Aoi akan menindas Sakura tanpa belas kasihan. Ino tidak peduli jika mereka menindasnya tapi ia tidak tahan membayangkan mereka akan mengejar Sakura. Untuk sekarang, Ino hanyalah seekor ikan kecil di kolam yang besar. Ino mengepalkan tangannya. 'Segera, aku akan menjadi kuat segera,' pikirnya.


Ino menatap ponselnya dan melihat pesan balasan dari Sasuke. Sebelumnya, Ino mengirim pesan padanya untuk bertemu. Sasuke memberi respons sepatah kata singkat ketika Ino bertanya dimana dia. "Atap" katanya. Ino tersenyum. Tidak biasanya Sasuke membalas pesan. Biasanya dibutuhkan lebih dari sepuluh pesan agar Sasuke memberi balasan singkat.

Selagi berjalan menuju atap, hati Ino terasa berat mengingat apa yang akan ia katakan pada Sasuke. Ia melihat Sasuke berbaring di lantai dekat pinggir atap. Sasuke tampak seperti sedang tidur namun Ino tahu yang sebenarnya.

"Sasuke-kun," panggil Ino. Ino berjalan menuju Sasuke dan menunduk menatap wajah tidur Sasuke. Bayangan Ino menutupi Sasuke. "Ayo kita putus."

Keheningan terjadi untuk beberapa saat dan angin bertiup. Sasuke membuka satu matanya dan menatap Ino. Ia tidak menunjukkan emosi apa pun sambil berkata, "Ini tidak terduga."

"Kau bisa bilang ke orang-orang bahwa kita putus, kalau kau mau," kata Ino.

"Kenapa mendadak?" tanya Sasuke sambil duduk.

"Aku hanya lelah menjaga image ini. Sejujurnya, ini bukanlah diriku sama sekali. Aku memacarimu hanya untuk meningkatkan popularitasku dan sekarang, itu semua tidak berarti lagi." Ino menahan tangis sambil mengepalkan tangannya.

Sasuke tetap diam lalu berbalik menghadap Ino. Ia benci ketika ada gadis yang menangis karena ia tidak tahu harus bilang apa.

"Sakura tadinya adalah sahabatku," kata Ino pelan.

Ini adalah hal yang baru Sasuke ketahui. Ia menatap Ino.

"Tadinya?"

"Kami berteman di sekolah dasar namun terpisah karena berbeda kelas. Seperti yang kau tahu, Aoi dan aku saling kenal sebelum SMA. Aku mencoba melindungi Sakura dari Aoi tapi aku melakukannya dengan tidak benar. Dengan mengabaikan Sakura, aku mengacaukan pertemanan kami dan sebelum aku punya kesempatan untuk minta maaf, Sakura pindah dan masuk ke sekolah lain."

"Kenapa kau menjelaskan semua ini padaku?"

"Aku menggunakan Aoi untuk meraih popularitas sama seperti aku menggunakanmu. Aku tidak menginginkan itu lagi. Satu-satunya alasan aku ingin menjadi populer adalah untuk melindungi Sakura ketika kami masih anak-anak. Sekarang dengan munculnya skandal dengan Sai, aku sadar betapa sedikit yang bisa aku lakukan."

"Apa kalian saling mengenali?"

"Aku tidak mengenali Sakura awalnya. Sakura selalu menjadi pemalu. Itu lah mengapa ia mudah ditindas. Gadis yang aku lihat di sekolah dan gadis di klub sangat berbeda dengan gadis yang ku kenal. Sakura memiliki keberanian untuk berbicara balik padamu dan Aoi. Aku mengenalinya ketika menemukan ini." Ino mengeluarkan sebuah foto dari sakunya. "Itu adalah fotoku dan Sakura sewaktu kecil. Kami menulis nama kami di belakang foto sebagai janji bahwa kami akan selalu berteman."

Ino mengulurkan foto itu pada Sasuke dan Sasuke mengambilnya. Di foto itu terdapat dua orang gadis dengan lengan yang saling bertautan dan tersenyum. Salah seorang gadis memiliki rambut pirang dengan poni yang dijepit ke samping dan sebuah senyum percaya diri di wajahnya. Gadis yang lainnya memiliki rambut pink dengan sebuah pita merah besar dan sebuah senyum malu-malu di wajahnya dengan mata menatap kamera.

Sasuke membalikkan foto itu dan melihat nama Haruno Sakura dan Suzuki Ino.

"Suzuki? Bukannya nama belakangmu Yamanaka?"

"Secara legal, aku adalah Yamanaka Ino. Tapi keluargaku memiliki masalah finansial ketika aku masih kecil. Mereka ingin aku menggunakan marga dari nama belakang ibuku untuk melindungiku agar tidak dicari oleh penagih utang. Tentu saja, segalanya baik-baik saja sekarang. Tapi aku berasumsi bahwa Sakura tidak tahu bahwa aku Ino yang sama dari masa kecilnya."

Sasuke memberikan kembali foto itu pada Ino. "Aku masih tidak tahu kenapa kau memberitahukan semua ini," katanya. "Tentang Sakura, tepatnya," tambah Sasuke.

"Aku tidak tahu tujuan Sai pada Sakura tapi aku tidak percaya bahwa mereka berpacaran. Aku khawatir pada Sakura dan aku tahu bahwa kau sepupu Sai dan mungkin orang yang terdekat dengannya. Maukah kau melindungi Sakura?"

"Melindungi Sakura? Kenapa tidak kau saja?"

"Aku belum memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan jati diriku pada Sakura dan menghadapinya. Aku tahu ini adalah permintaan yang banyak karena kau tidak memiliki alasan melakukannya untukku." Ino menunduk ke bawah. "Tapi kumohon." Ino memohon. "Kumohon setidaknya bicaralah pada Sai untukku. Aku sudah mencoba bicara pada Sai sebelumnya tapi aku tidak tahu berapa banyak yang bisa aku katakan padanya tanpa membongkar hubunganku dengan Sakura. Aku tidak percaya pada Sai tapi aku percaya padamu Sasuke. Setidaknya, setelah semua waktu yang aku habiskan sebagai pacarmu. Aku harap kau tidak sekejam yang terlihat."

"Baiklah."

Ino mendongak dengan terkejut. "Baiklah?"

"Aku akan bicara pada Sai. Tapi aku tidak bisa menjamin semuanya akan berakhir seperti yang kau inginkan."

Ino tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku hanya bisa berharap yang terbaik."

Sasuke memasukkan tangannya ke kantong. "K-kau adalah teman yang baik untuk Sakura."

"Ini satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk memperbaiki semuanya," kata Ino pelan. Ia berbalik. "Kita harus kembali secepat mungkin. Waktu istirahat hampir habis."

Sasuke hanya diam lalu mengikuti Ino di belakang. Tapi di pikirannya, Sasuke bertanya-tanya apa yang bisa ia lakukan lebih.


Sakura berjalan keluar dari kelasnya ketika jam istirahat. Meskipun sangat menyukai kelas musik, ia perlu menunggu berjam-jam untuk keluar dari ruangan lama yang lembab itu.

Saat berjalan menyusuri koridor sekolah, Sakura menyadari banyak yang menatapnya. Ia menghela napas lalu berbelok. Sakura berasumsi bahwa semua orang sudah mengetahui berita tentangnya. Mungkin seharusnya aku tetap di dalam kelas musik saja.

"Psst, hei, itu dia."

"Tidak mungkin, itu pacar Sai?"

Telinga Sakura menangkap bisikan-bisikan yang terdengar di sepanjang koridor dan ia mendengar rumor baru tentang hubungannya dan Sai.

"Sai mengkonfirmasi hal itu beberapa saat yang lalu. Temanku sekelas dengannya dan mengirimiku pesan."

"Aku tidak percaya mereka benar-benar berkencan."

Sekarang, bisikan nyaris tidak dianggap sebagai bisikan karena sekelompok murid asyik dengan percakapan mereka dan tidak menyadari gadis berambut pink.

Berkencan? Pikir Sakura panik. Ia mengepalkan tangannya dan merasakan darahnya mendidih. Apa arti dari "menghilangkan rumor" yang Sai pikir?

Sakura berderap menyusuri koridor dengan langkah besar sambil menghiraukan pandangan aneh yang ia dapat. Ia pikir ia merasa marah ketika melihat majalah itu namun sekarang ia sangat marah.

Sakura berhenti ketika melihat orang yang ia cari. Sai sedang berdiri di depan mesin penjual otomatis dengan ekspresi acuh tak acuh di wajahnya sambil mengambil sekantong keripik. "SAI!" teriak Sakura lalu menjewer kuping Sai sambil menyeretnya ke dalam kelas yang kosong.

Sai meringis namun tetap membiarkan dirinya diseret oleh Sakura. Sakura menarik kerah baju Sai. "KENAPA ORANG-ORANG MENGATAKAN BAHWA KITA BERKENCAN?" teriak Sakura.

Sai menjauhkan diri sambil memegang telinganya. "Uh, aku mungkin mengatakan sesuatu dengan kalimat itu."

"Sai," kata Sakura sambil menunduk untuk menenangkan dirinya. "Apa bagian dari kalimat "menghilangkan rumor" dari ucapan Kakashi-sensei yang kau tidak paham?" Ia menatap mata Sai dengan tatapan tajam. "Karena," lanjut Sakura tenang. "KAU TIDAK MELAKUKANNYA DENGAN BENAR!'

"Maaf, maaf!" kata Sai sambil mengangkat tangannya untuk meminta maaf. "Beberapa hal berubah tiba-tiba. Kau tahu, image-ku dipertaruhkan dan manajerku bilang jika kau tidak terlihat sebagai pacarku, itu akan membuatku tampak buruk. Maksudku, sejujurnya, aku berada di klub dengan gadis random. Apa yang akan media katakan?" Sai tidak menunggu jawaban dan mengacungkan jarinya pada Sakura. "Ditambah, kau akan memiliki image yang lebih baik jika sebagai pacarku dibanding sebagai seorang pekerja prostitusi." Sai tersenyum. "Keripik?' kata Sai sambil menawarkan sekantong keripik dengan tangan satunya.

Sakura melepas cengkeramannya pada kerah baju Sai. Ia jatuh ke lantai dengan wajah penuh kekalahan. "Apa kau bercanda?"

Sai meluruskan kerah bajunya sambil merapikan kerutan di seragamnya. "Selain itu, Sasuke-kun sepertinya cemburu dengan kita," kata Sai sambil tersenyum.

Sakura melotot padanya. "Itu hal yang paling sedikit kukhawatirkan. Yang aku inginkan hanyalah menjalani hidup normal yang tenang dan lulus dari sekolah ini tanpa disadari orang lain."

"Tampaknya rencana itu sudah gagal," komentar Sai.

"Lupakan," gerutu Sakura sambil berdiri. Ia membuka pintu kelas dan berjalan keluar. Ia perlu mendinginkan kepala di suatu tempat. Sambil berjalan menghiruakan pandangan penuh tanya dari beberapa teman sekolahnya, Sakura berpikir, Tentu saja tempat yang lebih terisolasi.

Ia pergi ke atap dan nyaris berlari menuju pagar yang mengelilingi atap ketika melihat dua figur yang familiar berdiri di dekat pinggir atap.

Sial, pikir Sakura sambil buru-buru berbalik dan bersembunyi. Ia mengintip dengan perlahan lalu menatap dua orang yang ada di depannya itu.

Itu adalah Ino dan Sasuke. Sakura menggigit bibirnya sambil menyaksikan kedua orang itu berbicara. Ia tidak bisa mendengar pembicaraan mereka karena jarak yang cukup jauh namun menurut situasinya, percakapan mereka tampak cukup serius.

Apa yang mereka bicarakan? Sakura seketika merasa sedikit menyesal. Hal yang mereka bicarakan tidaklah penting. Mereka adalah sepasang kekasih. Bagian yang paling buruk adalah Sakura telah mencium Sasuke ketika Sasuke masih berpacaran dengan Ino. Bahkan meskipun Sasuke telah mengatakan pada Sakura bahwa hubungannya dengan Ino tidaklah serius. Tetap saja, itu tidak adil untuk Ino. Aku tidak ingin menjadi orang ketiga.

Sakura perlahan berjalan menuruni tangga kembali dengan awan muram yang lebih gelap menggantung diatas bahuya. Hari ini tampak tidak lebih baik dari sebelumnya.


Setelah istirahat, pelajaran kembali dilanjutkan dan Sakura menunggu waktu makan siang tiba. Ia berpikir mungkin ia bisa bertemu dengan Naruto atau Hinata untuk berbicara. Sakura belum bertemu dengan mereka seharian ini dan ia merasa lelah memikirkan ketidakberuntungannya yang terakhir.

Saat Sakura membungkuk untuk mengucapkan selamat tinggal pada Kurenai, pintu kelas musik terbuka dan Kakashi muncul sambil melambaikan tangan.

"Sensei!" seru Sakura terkejut sambil berdiri.

"Yo," balas Kakashi. Ia mengangguk pada Kurenai yang akan berjalan pergi keluar kelas.

"Ada apa?" tanya Sakura, nyaris ketakutan untuk mendengar jawaban dari Kakashi. Bisa jadi itu adalah kabar buruk. Mungkin para siswi di kelasnya melakukan kudeta dan berteriak sambil membawa garpu rumput. Sebenarnya, Sakura tidak akan terlalu terkejut. Ia bahkan tahu siapa yang mungkin memimpin kudeta itu sambil memikirkan Aoi.

"Jangan khawatir. Aku tidak datang membawa kabar buruk jika itu apa yang kau pikirkan."

Sakura tersenyum penuh ironi. Itu adalah hal yang ia pikirkan.

"Tampaknya Sai sudah mengatakan sesuatu hal yang membuat semua orang menjadi tenang." Kakashi melanjutkan, "Aku tidak tahu tepatnya apa yang dia katakan namun para murid menjadi lebih diam sekarang sejak selesai istirahat."

Sakura melipat tangannya. Itu sangat sulit dipercaya. Tentunya, berita Sakura sebagai pacar Sai akan memperoleh beberapa respons dari penggemar gila.

"Sakura," kata Kakashi lembut. "Kau harus pulang hari ini."

"Kenapa? Sekarang baru jam makan siang. Masih ada beberapa jam pelajaran lagi."

"Para dewan sekolah tidak terlalu senang dengan perhatian yang mereka dapatkan dari skandal itu. Itu membuat mereka tampak negatif ketimbang positif. Aku sudah bicara pada kepala sekolah dan dia bilang lebih baik jika kau dan Sai pulang ke rumah sekarang."

"Tapi…"

"Tidak ada tapi-tapian, Sakura," kata Kakashi dengan tegas. Ia menepuk kepala Sakura. "Lebih baik jika paparazzi di luar pergi lebih awal. Jadi kau bisa kembali ketika mereka sudah pergi."

Sakura mendongak pada gurunya. "Maaf," gerutunya sambil kembali menunduk. Ia tidak melakukan sesuatu yang salah namun ia merasa bersalah karena membawa masalah pada gurunya

"Untuk apa minta maaf? Aku gurumu dan aku akan selalu melakukan yang terbaik untukmu." Kakashi membungkuk sehingga tingginya dan Sakura sama. "Bersemangatlah!" kata Kakashi sambil tersenyum.

Sakura menghela napas. Andaikan ia bisa.

Ketika mereka berjalan keluar kelas, Sai sedang berdiri dan menunggu di luar kelas. Pengawalnya tidak terlihat.

"Baiklah kalian berdua," ujar Kakashi. "Karena saat ini sedang jam makan siang, akan lebih mudah bagi kalian untuk meninggalkan sekolah tanpa disadari yang lainnya. Cobalah untuk bijaksana dan jangan menarik perhatian, oke?"

Sai dan Sakura mengangguk. Mereka menyusuri jalan pendek menuju tangga. Sakura dengan cepat menuruni tangga lalu berjalan keluar menuju halaman. Ia bisa melihat para reporter dari kejauhan dan memutuskan jalan terbaik untuk melarikan diri tanpa diketahui adalah dengan melalui jalan yang sama seperti pagi tadi.

Namun sebelum Sakura bisa melangkah, sebuah tangan menarik pergelangan tangganya dan menyeret Sakura menuju pintu depan sekolah.

"Hei!" Sakura memekik sambil meringis karena cengkeraman tajam di tangannya. Ia mendongak dan terkejut ketika melihat siapa yang menariknya.

"Sasuke!" seru Sakura penuh kebingungan. Apa yang ia lakukan? Kenapa ia menariknya? Kemana ia membawanya? Kenapa mereka berjalan menuju para reporter?

Semua pikiran itu melintas di kepala Sakura sementara ia mencoba menemukan jawaban pertanyaannya.

Sasuke tiba-tiba berhenti dan mereka berdiri beberapa meter dari para reporter di luar sekolah. Sasuke berbalik dan melepas lengan Sakura. "Apa kau benar-benar berkencan dengan Sai?" tanya Sasuke.

Sakura berkedip dua kali. "Kau berkencan dengan Ino," adalah satu-satunya respons Sakura.

"Kami… putus," aku Sasuke. Sasuke menatap mata Sakura dengan ekspresi lembut dan kembali bertanya, "Apa kau berkencan dengan Sai?"

Sakura tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih memproses perkataan Sasuke bahwa ia putus dengan Ino. Jadi itu yang mereka bicarakan di atap. Lalu hal berikutnya yang ia pikiran adalah jawaban dari pertanyaan Sasuke.

Hal pertama yang muncul di pikiran Sakura adalah 'tidak'. Karena tidak, Sakura tidak berkencan dengan Sai. Namun ia merasa sedikit bersalah mengingat perkataan Sai sebelumnya. Ia bisa saja tidak peduli tentang image Sai. Bagaimana pun, Sai tidak memiliki ketulusan sedikit pun dalam meminta Sakura untuk berpura-pura di depan pers. Lagipula, memberitahu Sasuke yang sebenarnya bukanlah hal yang buruk. Sasuke tidak akan membeberkan rahasia sepupunya pada media.

Tapi, entah kenapa Sakura tidak bisa menjawab dan kata-katanya tersangkut dalam tenggorokannya. Untuk sesaat, ia melihat sedikit kejelasan. Sakura diberi posisi yang baik untuk menentukan hubungannya dengan laki-laki di depannya. Jika Sakura berkata iya, mungkin Sasuke akan menyerah pada Sakura. Sakura menunduk. Rumor yang menyebar membuat Sakura tidak percaya diri untuk memperbaiki image-nya. Sakura jelas-jelas tidak ingin menyeret Sasuke ke dalam masalahnya. Bagaimana jika Sasuke menjadi terlibat atau yang lebih buruk, bagaimana jika orang tua Sasuke mengetahuinya?

Sepertinya Sasuke merasakan konflik batin dalam diri Sakura karena ia memutuskan untuk menjawabnya sendiri. "Kau tidak bisa berkencan dengan Sai," ujar Sasuke.

Sakura mendongak dengan bingung. "K-kenapa tidak?"

Mata Sasuke menatap kerumunan reporter di depan gerbang. "Kau tahu apa yang lebih buruk daripada membuat seluruh dunia menyaksikan seluruh gerakanmu?" tanya Sasuke. Ia mengulurkan tangan dan meletakkannya di pinggang Sakura sambil menariknya.

Napas Sakura berhenti dan wajahnya berhadapan dengan wajah Sasuke, mata Sasuke menatap mata hijau Sakura sementara bibir Sasuke hanya berjarak beberapa inci dari bibirnya.

"Mendengar bahwa sepupumu sendiri mencoba mengambil gadis yang kau suka."

Mata Sakura membelalak lalu menutup ketika bibir Sasuke menekan bibirnya. Ciuman kali ini berbeda. Dipenuhi rasa posesif namun manis di saat yang sama seakan-akan hanya ada mereka berdua di sana. Selembut angin yang bertiup, Sasuke menarik dirinya kembali.

Sakura membuka matanya. Cahaya kamera berkilatan di belakang mereka dan semua orang mencoba mendapat foto dari apa yang baru saja terjadi. Sakura dalam keadaan linglung sebelum menyadari apa yang baru saja terjadi. Ia tampak secara tidak sengaja melompat dari skandal yang satu ke yang skandal berikutnya.

Sasuke menghela napas lalu menggenggam tangan Sakura. "Lari," ujar Sasuke sambil berlari menuju pintu gerbang dan melalui kerumunan bergandengan dengan Sakura.


A/N:

Ehm, ehm..

Halo semuanya!

Oke, aku tau kalian semua pasti mau gantung aku karena keterlambatan update yang super lama..

Gomenasai, karena seperti biasa aku disibukkan sama kegiatan sekolah + les yang segudang =w=

Karena nyatanya SMA tidak seindah dan sesantai di drama =w=

Aku juga baru aja selesai UAS dan lagi dikejar-kejar sama utang tugas dan remedial, jadi maaf banget ya kalo update nya ngaret parah :')

Aku pun juga lagi sibuk banget ngejar nilai bagus supaya dapet undangan PTN (walau kayaknya mustahil) dan lagi sibuk les bahasa di luar sekolah juga =3=

Tapi karena UAS sudah selesai (walaupun masih ada Evaluasi di tempat les) aku bakal berusaha update lebih cepet lagi :D

Terima kasih banyak buat semua readers yang setia nunggu dan baca fanfic ini^^